← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Thirty One

Viral

POV: Esa


Aku tidak ingat bagaimana aku pulang dari Hotel Grand Sudirman malam itu.

Aku ingat sepasang sepatu hak di anak tangga darurat lantai dua. Aku ingat memungutnya. Aku ingat Hendra menemukanku di sana, duduk di anak tangga dengan sepatu itu di pangkuan, dan dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya duduk di sebelahku, dengan jas Italia yang tidak kupakai, dan kami duduk di sana sampai suara di ballroom berubah jadi musik penutup.

Aku ingat Mr. Lim mencariku di backstage. Dia menepuk bahuku dan bilang, Best founder speech I’ve heard in twenty years. Short. Honest. A little bit sad. Lalu dia menatap sepatu hak di tanganku dan tidak bertanya apa-apa.

Aku ingat naik Bubur dari parkiran motor hotel, di antara Vespa-Vespa milik kru katering. Aku ingat menyetir pelan di Sudirman jam sebelas malam. Aku ingat sepatu hak itu kugantungkan di spion yang miring.

Aku sampai di kos jam dua pagi. Bu Darsih tidak keluar. Tapi lampu rumah induk menyala sampai subuh.


Jam enam pagi, aku terbangun karena suara.

Bukan suara Bu Darsih menggedor pintu. Suara yang lebih banyak. Lebih ramai. Suara mesin mobil, suara orang mengobrol, suara klik-klik-klik kamera.

Aku membuka pintu kamar.

Gang di depan kos Bu Darsih, gang sempit yang biasanya hanya dilewati tukang sayur, ojek, dan Mak Ijah yang mendorong gerobak nasi uduk, penuh orang.

Dua mobil van dengan logo stasiun televisi terparkir di mulut gang. Lima atau enam orang dengan kamera dan mikrofon berdiri di depan pagar kos. Tetangga-tetangga keluar dari rumah masing-masing, memakai daster dan sarung, menonton dengan gelas kopi di tangan. Anak-anak kecil berlarian di antara kaki para wartawan.

Dan di tengah semua itu, Bubur.

Bubur dikerubungi empat orang yang sedang memotretnya dari segala sudut. Seorang perempuan dengan kemeja rapi sedang berdiri di samping Bubur, bicara ke kamera dengan nada serius: “...dan inilah motor yang setiap hari dikendarai oleh founder startup bernilai satu koma empat triliun rupiah. Scoopy tahun 2017, dengan jok yang ditambal lakban hitam...”

Aku menutup pintu kamar.

Aku bersandar di balik pintu dan menatap peta Kalimantan di langit-langit.

Ponselku bergetar tanpa henti di atas kasur. Aku mengambilnya.

Empat ratus tiga puluh dua notifikasi.

Grup alumni Tunas Bangsa: ESA LO FOUNDER BEKAL????? Ya Allah gue pernah nawarin dia tisu pas reuni Bram gimana kabarnya wkwkwk Sa traktir dong Sa gue ada ide startup Sa inget gue nggak, yang dulu duduk di belakang lo Sa bayarin reuni berikutnya ya

Hendra: Pak. Trending nomor satu. Pak tolong jangan keluar rumah dulu.

Dodoy: dua puluh tujuh panggilan tak terjawab. Satu pesan: LO.

Tidak ada pesan dari Ayasha.

Aku membuka media sosial. Tidak perlu mencari. Video pidatoku ada di mana-mana. Di setiap potongan, kamera menyorot laki-laki berhoodie di tengah panggung, lalu bergeser ke MC bergaun biru tua yang membeku dengan mikrofon di tangan, lalu kembali ke laki-laki berhoodie yang telinganya memerah.

Judul-judulnya:

FOUNDER STARTUP RP1,4 T NGEKOS RP900 RIBU DAN NAIK SCOOPY

“Saya Nulis di Kamar Kos Tiga Kali Tiga Meter”: Pidato Founder Bekal Bikin Netizen Nangis

Siapa Sebenarnya Founder “E”? Ini Fakta-Faktanya

Hoodie Founder Bekal Jadi Tren, Toko Online Kebanjiran Pesanan

Komentar-komentarnya:

Ini definisi orang kaya beneran. Nggak perlu pamer.

Jok motornya dilakban ya Allah gue nangis

KAMAR KOS TIGA KALI TIGA METER. Dan gue ngeluh apartemen gue sempit.

Tapi MC-nya kenapa kayak shock gitu? Terus langsung pergi?

Di akhir dia bilang “dia udah bilang makasih tujuh kali.” Siapa “dia”? MC-nya?

Kayaknya ada cerita di balik ini…

Aku mematikan ponsel.


Bu Darsih masuk TV jam delapan pagi.

Aku tahu karena Rizal mengetuk pintu kamarku, menyodorkan ponselnya dengan livestream sebuah stasiun televisi berita, lalu kabur.

Di layar, Bu Darsih berdiri di depan pagar kos dengan daster batik terbaiknya (yang motif bunga sepatu, bukan yang motif kawung), rol rambut sudah dilepas, dan Pak Lurah di gendongan. Seorang reporter perempuan menyodorkan mikrofon ke wajahnya.

“Ibu, sebagai pemilik kos, apa Ibu tahu bahwa Mas Esa adalah founder startup besar?”

“Nggak tau!” Bu Darsih menjawab dengan volume penuh. Reporter itu mundur setengah langkah. “Tujuh tahun dia ngekos di sini! Bajunya itu-itu aja! Hoodie! Hoodie! Hoodie terus! Makannya cuma nasi uduk Mak Ijah sama makanan gratis dari warung si gendut!”

“Apakah Mas Esa penghuni yang baik, Bu?”

Bu Darsih berhenti sebentar. Wajahnya berubah. Lebih lembut.

“Baik,” katanya. “Baik banget. Nggak pernah berisik. Nggak pernah bawa cewek, sampai baru-baru ini. Suka bantuin ganti galon tetangga. Suka ngasih makan Pak Lurah padahal Pak Lurah lagi diet.”

Kamera menyorot Pak Lurah. Pak Lurah menatap kamera dengan mata kuning yang menghakimi.

“Tapi,” Bu Darsih tiba-tiba menegakkan punggung, dan suaranya kembali ke volume penuh, “TELAT BAYAR TERUS DIA! Tiap bulan! Empat hari! Enam hari! Bulan lalu sembilan hari! Orang kaya kok pelupa!”

Reporter itu tertawa. Kameramennya juga tertawa, sampai kameranya goyang.

“Ibu ada pesan untuk Mas Esa?”

Bu Darsih menatap kamera. Lurus. Seperti menatap mataku langsung lewat layar ponsel Rizal.

“Sa,” katanya. “Kalau kamu nonton. Bayar kos tanggal satu. Dan jangan bikin Nak Ayasha nangis lagi. Ibu liat di TV dia kabur dari panggung. Ibu tau kamu yang salah.”

Lalu dia berbalik, masuk ke rumah induk, dan membanting pintu di depan kamera televisi nasional.

Rizal, di depan pintu kamarku, menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Bang,” katanya. “Bu Darsih keren banget.”


Mak Ijah juga masuk TV.

Dia memasang spanduk dadakan di depan gerobaknya. Kain putih yang ditulis dengan cat merah, hurufnya masih basah dan menetes:

NASI UDUK LANGGANAN FOUNDER — RP8.000 (HARGA TETAP, NGGAK NAIK)

Antreannya sampai ke ujung gang.

Waktu seorang wartawan bertanya apa menu favoritku, Mak Ijah menjawab, “Pake bihun, telur balado, kerupuk. Sama teh manis yang nggak dipesen tapi saya kasih gratis karena mukanya kayak orang butuh.” Lalu dia menambahkan, “Jangan ditulis gratisnya. Nanti semua orang minta gratis.”

Video Mak Ijah mendapat dua juta penonton dalam tiga jam.


Dodoy datang jam sepuluh.

Aku mendengarnya sebelum melihatnya. Suara langkah berat di gang, suara wartawan yang terdorong ke samping, suara Ipul yang berteriak Mas, Mas, sabar, Mas.

Lalu pintu kamarku digedor.

Bukan digedor. Dihantam.

“ESA! BUKA! GUE TAU LO DI DALEM!”

Aku membuka pintu.

Dodoy berdiri di ambang pintu dengan celemek kotor, wajah merah padam, mata merah, dan spatula di tangan kanan. Di belakangnya, Gendis memegang lengan kirinya dengan dua tangan, seperti memegang tali anjing besar. Di belakang Gendis, Ipul memegang lengan Gendis.

“Doy...”

“LO KAYA?!”

“Doy, tenang...”

“TUJUH TAHUN!” Dodoy mengayunkan spatula ke udara. Gendis menariknya mundur. “TUJUH TAHUN GUE NGASIH LO MAKAN GRATIS! GUE BAGI BEKAL NASI KOTAK GUE DI SEMESTER SATU! GUE PIKIR LO KELAPERAN! GUE PIKIR LO MISKIN!”

“Aku memang miskin. Dulu.”

“DULU KAPAN?!”

“Semester satu sampai empat.”

“TERUS SEMESTER LIMA?!”

“...Mulai dapet proyek.”

“DAN LO TETEP MAKAN GRATIS DI WARUNG GUE?!”

“Kamu yang nawarin.”

Dodoy membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Wajahnya berubah dari merah jadi ungu.

“Mas,” bisik Gendis. “Napas. Tarik napas.”

Dodoy menarik napas. Panjang. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dari saku celemek, menggeser layarnya dengan jari gemetar, dan menyodorkannya ke depan wajahku.

Itu foto. Foto surat resmi berkop Program Bantuan Revitalisasi UMKM Kuliner — Kementerian Koperasi. Surat yang menyatakan bahwa Warung Dodoy terpilih sebagai penerima bantuan pelunasan tunggakan sewa ruko selama dua tahun.

Surat yang kutulis sendiri. Dengan kop yang kudesain sendiri. Dua tahun lalu.

“Gue cek,” kata Dodoy. Suaranya turun. Bergetar. “Tadi pagi. Abis liat lo di TV. Gue tiba-tiba inget surat ini. Gue telepon Kementerian Koperasi. Gue tanya soal program ini.”

Aku diam.

“Nggak ada, Sa,” kata Dodoy. “Programnya nggak ada. Nggak pernah ada. Mereka bilang surat itu bukan dari mereka. Mereka nanya gue dapet dari mana.”

“Doy...”

“Terus gue telepon pemilik ruko. Gue tanya siapa yang bayar tunggakan gue dua tahun lalu. Dia bilang transfer dari rekening atas nama...” Dodoy berhenti. Matanya penuh air. “Atas nama Esa Pradana.”

Gendis menutup mulutnya dengan tangan. Ipul berhenti memegang lengan siapa pun.

“Lo yang bayar,” kata Dodoy. “Lo yang bikin surat palsu. Lo yang bikin gue mikir gue menang undian dari pemerintah. Gue pamer ke semua orang, Sa. Gue pasang suratnya di dinding warung. Gue bilang ke nyokap gue, Mak, usaha Dodoy diakui negara.”

Air matanya jatuh.

“Kenapa?” bisiknya. “Kenapa lo nggak bilang aja?”

Aku menatap Dodoy. Sahabatku. Kakakku. Laki-laki yang menyobek daftar harga dan berteriak gratis seumur hidup ke dapur.

“Karena kalau aku bilang,” kataku pelan, “kamu bakal ngerasa utang.”

Dodoy membeku.

“Kamu bakal nolak,” lanjutku. “Atau kamu terima, terus kamu ngerasa harus bales. Terus kamu jadi nggak enak sama aku. Terus kita bukan...” aku berhenti. “Terus kita bukan kita lagi.”

Dodoy menatapku sangat lama.

Lalu dia menurunkan spatulanya. Pelan.

Lalu dia memukul kepalaku dengan spatula itu.

Tidak keras. Bunyinya tuk. Seperti mengetuk semangka.

“Bego,” katanya.

“Aduh.”

Tuk. Sekali lagi.

“Bego banget lo, Sa.”

“Iya.”

Tuk.

“Tujuh tahun gue sahabatan sama orang paling bego di Jakarta.”

Lalu dia menjatuhkan spatula ke lantai, menarikku ke depan, dan memelukku. Dengan kekuatan beruang. Di ambang pintu kamar kos, di depan Gendis, Ipul, empat wartawan yang mengintip dari balik pagar, dan Pak Lurah yang duduk di atas lemari sepatu.

“Lo tetep adek gue,” katanya di bahuku, sambil menangis. “Mau lo punya satu triliun, mau lo punya satu juta triliun. Lo tetep adek gue yang bego. Dan lo tetep makan gratis di warung gue. Dan gue bakal tetep nyendokin nasi tambahan ke piring lo. Dan lo nggak boleh bayar. Nggak boleh. Kalau lo bayar, gue sobek duitnya.”

Aku memeluknya balik.

“Oke, Bang.”

“Dan lo,” Dodoy melepaskan pelukannya, memegang bahuku, mengguncangnya, “harus balikin duit sewa ruko itu ke rekening gue biar gue bisa bayar lo balik. Nggak, tunggu. Itu kebalik. Gue yang balikin ke lo. Nggak, tunggu. Kalau gue balikin, berarti gue bayar utang. Tapi gue nggak mau bayar utang ke adek gue. Tapi gue juga nggak mau...”

Dia berhenti. Wajahnya bingung. Lalu dia menoleh ke Gendis dengan wajah putus asa.

“Mbak, ini gimana?”

Gendis tersenyum. Dia mengambil spatula dari lantai, menyerahkannya kembali ke Dodoy, lalu menepuk pipinya.

“Mas,” katanya lembut. “Nggak usah dibalikin. Anggap aja Esa bayar makan tujuh tahun. Sekaligus. Di muka.”

Dodoy menatap Gendis. Lalu menatapku. Lalu menatap spatula di tangannya.

“...Bisa gitu?”

“Bisa, Mas.”

Dodoy menatapku dengan mata menyipit. “Tapi lo tetep makan gratis.”

“Iya, Bang.”

“Dan lo tetep nggak boleh bayar.”

“Iya.”

“Oke.” Dodoy mengangguk dengan serius. Lalu dia berbalik ke arah wartawan di balik pagar. “DAN KALIAN! KALAU MAU NULIS SOAL INI, TULIS NAMA WARUNG GUE YANG BENER! WARUNG DODOY! D-O-D-O-Y! JALAN TEBET TIMUR DALEM!”


Gendis tinggal setelah Dodoy dan Ipul pulang untuk menghadapi antrean pelanggan yang tiba-tiba membludak di Warung Dodoy (karena video Mak Ijah menyebut makanan gratis dari warung si gendut).

Dia duduk di kursi plastik di teras. Aku duduk di anak tangga. Di tempat Ayasha duduk seminggu lalu, makan lima sendok nasi goreng.

“Ayasha di panti,” kata Gendis.

Aku mengangkat kepala.

“Dia telepon aku semalem. Jam satu pagi.” Gendis menatap gang yang masih ramai wartawan. “Dia minta aku nggak bilang ke kamu. Tapi aku pikir kamu harus tau dia aman.”

“Dia nggak apa-apa?”

“Nggak.” Gendis menggeleng. “Dia nggak apa-apa secara fisik. Tapi dia nggak baik-baik aja.”

Aku menunduk.

“Esa,” kata Gendis pelan. “Kamu tau apa yang paling bikin dia sakit?”

“Aku bohong.”

“Itu salah satunya.” Gendis menatapku. Matanya yang cokelat terang serius sekali. “Tapi yang paling bikin dia sakit adalah dia nggak tau lagi apa yang beneran punyanya. Kerjaannya. Jabatannya. Semua yang dia banggain. Dia pikir dia sampai di sana sendiri. Sekarang dia nggak yakin.”

“Aku nggak pernah bantu dia naik jabatan.”

“Aku tau. Aku percaya.” Gendis tersenyum kecil. “Tapi dia nggak bisa percaya itu sekarang. Sama kayak kamu nggak bisa percaya dia sayang kamu waktu kamu tau dia Nomor 001.”

Aku menatap Gendis.

Dia benar.

Sama persis.

Aku memintanya membuktikan bahwa cintanya bukan utang. Sekarang dia memintaku membuktikan bahwa kariernya bukan pemberian.

Dan aku tidak tahu caranya.


Bu Ratna menelepon jam tiga sore.

“Mas Esa.” Suaranya pelan, seperti berbisik dari dalam lemari. “Mbak Ayasha di sini. Tidur. Di kamar anak-anak kecil. Di kasur yang dulu dia pake waktu kecil.”

Dadaku sakit.

“Dia dateng semalem jam dua belas,” lanjut Bu Ratna. “Pake gaun biru, nggak pake sepatu. Kakinya kotor. Dia nggak ngomong apa-apa. Dia cuma meluk Ibu, terus masuk kamar anak-anak kecil, terus tidur di samping Sari.”

“Bu...”

“Dia minta Mas jangan ke sini dulu.” Bu Ratna diam sebentar. “Ibu nggak bisa ngelarang Mas. Ini rumah Mas juga. Tapi Ibu minta. Jangan dulu.”

Aku menutup mataku.

“Iya, Bu.”

“Mas.”

“Iya?”

“Ibu liat pidatonya. Di TV. Ibu nangis.” Suara Bu Ratna bergetar. “Ibu bangga, Mas. Ibu bangga banget. Ibu cuma pengin Mas tau itu.”

Telepon ditutup.

Lima menit kemudian, ponselku bergetar. Satu pesan.

Ayasha 🩶: Aku aman. Di panti.

Ayasha 🩶: Aku butuh waktu. Kayak kamu kemarin.

Aku menatap pesan itu.

Kayak kamu kemarin.

Dua minggu lalu, di tenda Cak Man, aku bilang aku cuma butuh tau mana yang beneran. Lalu aku tidak membalas pesannya tujuh hari. Lalu dia meletakkan separuh lauk di depan pintuku tujuh malam berturut-turut.

Sekarang dia membutuhkan waktu.

Dan aku harus memberikannya.

Aku: Iya. Aku tunggu.

Lalu, setelah ragu lama, aku mengetik satu pesan lagi.

Aku: Sepatumu di aku. Aku jaga.

Centang dua. Biru.

Tidak ada balasan.


Malam itu aku tidak tidur lagi.

Jam setengah lima pagi, ponselku berdering. Hendra.

Aku mengangkat. Aku tahu sebelum dia bicara bahwa sesuatu yang buruk terjadi. Hendra tidak pernah menelepon jam setengah lima pagi. Dia mengirim pesan dengan huruf kapital jam setengah lima pagi, tapi tidak menelepon.

“Pak,” katanya. Suaranya tidak panik. Itu yang menakutkan. Hendra tidak panik. Hendra tenang, datar, seperti orang yang sudah melewati batas panik dan sampai di sisi lain. “Bapak udah liat?”

“Liat apa?”

“Saya kirim link.”

Aku membuka link itu.

Sebuah akun gosip dengan dua juta pengikut. Unggahan karusel, diunggah jam tiga pagi. Sudah dibagikan tiga puluh ribu kali.

Slide pertama: foto. Diambil di lobi gedung kantor Bekal, dari kejauhan, sedikit buram. Laki-laki berhoodie memeluk perempuan berblazer krem. Tanggal di pojok bawah: tiga minggu lalu.

Slide kedua: tangkapan layar unggahan Instagram Yayasan Rumah Pulang, setahun lalu. Foto Ayasha dengan Bu Ratna di dapur panti, memegang dua kotak martabak. Takarir: Selamat untuk alumni kami, penerima Beasiswa Rumah Pulang No. 001, Ayasha Pramesti, yang baru diangkat menjadi Brand Manager di Bekal! Kami bangga!

Slide ketiga: tangkapan layar dokumen internal. Kop surat Bekal. Judulnya: Daftar Rasionalisasi Karyawan — Q3, Dua Tahun Lalu. Empat puluh nama. Satu nama dicoret dengan tinta merah. Ayasha Pramesti — Staf Marketing Junior. Di sampingnya, catatan tangan: Dicoret atas permintaan Pak E.

Slide keempat: teks putih di latar hitam.

TERBONGKAR: Founder Bekal “E” ternyata donatur pribadi beasiswa Brand Manager-nya sendiri. Dua tahun lalu, namanya dicoret dari daftar PHK atas perintah langsung founder. Setahun kemudian, naik jabatan jadi Brand Manager. Sekarang terlihat berpelukan mesra di lobi kantor. Kebetulan? Atau “jalur khusus”? 👀

Karyawan lain yang di-PHK waktu itu: 39 orang. Mereka nggak punya founder yang “nyisain separuh”.

Aku membaca kalimat terakhir itu dua kali.

Nyisain separuh.

Itu dari pidatoku. Dari kalimat anak yang selalu kalah cepat di meja makan. Seseorang mengambil kalimat itu dan memutarnya jadi pisau.

Aku membuka komentar.

Udah gue duga. Mana ada orang naik jabatan secepet itu tanpa orang dalem.

Kasian 39 orang yang di-PHK. Mereka nggak cukup cantik buat dicoret.

Jadi kampanye “Bekal untuk Semua” itu bikinan pacarnya founder? Pantes disebut investor.

Dia MC di launching. Ngomong “saya dulu salah satu anak itu”. Pinter juga ya aktingnya.

Ini namanya simpanan berkedok beasiswa.

Aku berhenti membaca.

Tanganku gemetar sampai ponselku hampir jatuh.

“Pak,” kata Hendra di telepon. “Bapak masih di sana?”

“Dokumen PHK itu,” kataku. Suaraku keluar asing di telingaku sendiri. “Dari mana?”

“Dari sistem HR, Pak. Folder arsip rasionalisasi. Cuma bisa diakses level manajer ke atas.”

“Catatan tangan itu...”

“Itu catatan saya, Pak. Dua tahun lalu. Waktu Bapak telepon saya jam sebelas malem, bilang ‘coret yang dari Rumah Pulang’.” Hendra diam sebentar. “Bapak nggak nyebut nama. Bapak cuma bilang ‘yang di CV-nya ada Beasiswa Rumah Pulang, jangan’. Saya yang nyari namanya. Saya yang coret. Saya yang nulis catatan itu buat arsip.”

Aku menutup mataku.

Aku ingat malam itu. Dua tahun lalu. Bekal sedang krisis. Kami harus mengurangi empat puluh orang. Hendra mengirim daftar CV untuk persetujuan akhir. Aku tidak membaca nama-namanya. Aku tidak pernah membaca nama. Aku hanya menggulir. Lalu aku melihat satu baris di satu CV, di bagian pendidikan: Penerima Beasiswa Rumah Pulang, 4 tahun penuh.

Aku tidak tahu itu Nomor 001. Aku tidak tahu itu Ayasha. Aku tidak tahu itu anak yang kalah cepat di meja makan. Aku hanya tahu satu hal: ada anak dari panti yang membesarkanku, yang kuliahnya dibiayai beasiswa yang kubuat, dan aku tidak mau dia kehilangan pekerjaan pertamanya.

Aku menelepon Hendra jam sebelas malam dan bilang jangan yang itu.

Satu kali. Sekali saja. Tanpa melihat nama.

Dan sekarang, satu kali itu menjadi pisau yang ditancapkan ke dadanya. Di depan dua juta orang.

“Pak,” kata Hendra. Suaranya hati-hati. “Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Saya cek log akses sistem HR. Dokumen itu diunduh semalem. Jam dua pagi. Tiga jam sebelum unggahan itu muncul.”

“Siapa?”

Hendra diam.

Lama sekali.

“Hendra. Siapa?”

“Akunnya...” Hendra menarik napas. “Akun Bram Wicaksono, Pak.”

Ponsel di tanganku terasa sangat dingin.

Di luar jendela kamar kos, langit Tebet masih gelap. Gang di depan pagar sudah sepi. Wartawan-wartawan sudah pulang. Hanya ada Bubur, terparkir di bawah lampu jalan yang berkedip, dengan sepasang sepatu hak pinjaman tergantung di spionnya yang miring.

Dan di Depok, di ujung gang sempit di antara kebun singkong dan bengkel las, di kasur kecil di kamar anak-anak panti, seorang perempuan sedang tidur di samping anak tujuh tahun bernama Sari.

Dia belum tahu.

Dia akan bangun dalam satu jam, dan dia akan membuka ponselnya.

Dan semua yang dia takutkan di tangga darurat hotel tadi malam, semua yang dia tanyakan, mana yang beneran punyaku, mana yang kamu kasih tanpa aku tau, akan menjawab dirinya sendiri di depan dua juta orang asing.

Dengan jawaban yang salah.