← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Twenty Seven

Separuh Lauk

POV: Ayasha


Pesan pertama dari Bu Darsih masuk Rabu pagi jam enam lewat dua menit.

Aku tidak tahu Bu Darsih punya nomorku. Belakangan aku tahu dia meminta nomorku ke Rizal, Rizal meminta ke Mas Andre, dan Mas Andre mendapatkannya dari daftar tamu yang dia tulis diam-diam malam aku datang memakai hoodie, karena katanya “buat jaga-jaga kalau ada apa-apa sama Bang Esa”.

Bu Darsih Kos: Nak Ayasha. Ini Bu Darsih. Ibu kosnya Esa.

Bu Darsih Kos: LAPORAN MALAM PERTAMA.

Bu Darsih Kos: Kotak diambil jam 21.10. Esa pulang dari warung si gendut. Liat kotak di keset. Jongkok. Lama. Ibu liat dari jendela.

Bu Darsih Kos: Terus dia duduk di lantai teras. Buka kotaknya. Baca kertasnya. Lama lagi.

Bu Darsih Kos: Terus dia makan. Di teras. Nggak masuk kamar.

Bu Darsih Kos: HABIS.

Bu Darsih Kos: Nggak disisain sama sekali, Nak. Biasanya dia nyisain buat Pak Lurah. Ini nggak. Pak Lurah sampe protes ngeong-ngeong di jendela.

Bu Darsih Kos: Terus kotaknya dia cuci. Pake sabun. Lama banget nyucinya. Terus ditaruh lagi di keset.

Bu Darsih Kos: Ada kertas di dalemnya. Ibu nggak baca. Ibu nggak sopan. Tapi Ibu liat dikit, tulisannya pendek.

Bu Darsih Kos: Ibu taruh kotaknya di depan pagar ya. Nanti Nak Ayasha ambil.

Aku membaca pesan-pesan itu sambil berdiri di depan kompor dapur Warung Dodoy, dengan penggorengan berisi tempe yang mulai gosong.

Nggak disisain sama sekali.

Aku mematikan kompor. Lalu aku berjongkok di lantai dapur Mas Dodoy, di samping karung beras, dan menangis lagi. Kali ini bukan karena sedih.

Mas Dodoy, yang sedang mengupas bawang di meja sebelah, berhenti mengupas. Dia menatapku. Lalu dia menatap tempe gosong di penggorengan.

“Mbak,” katanya pelan. “Tempenya.”

“Biarin, Mas.”

“Gosong.”

“Dia makan semuanya, Mas.” Aku mengusap mata dengan lengan hoodie. “Dia nggak nyisain buat Pak Lurah.”

Mas Dodoy menatapku. Lalu dia meletakkan pisau, berjalan ke arahku, dan berjongkok di depanku. Dia menepuk kepalaku dua kali. Tangannya bau bawang merah.

“Bagus,” katanya. “Itu bagus, Mbak.”

Lalu dia mengambil penggorengan berisi tempe gosong, membuangnya, dan menyalakan kompor lagi.

“Saya yang goreng tempe,” katanya. “Mbak bikin sambel aja. Sambel Mbak lebih enak dari sambel saya. Jangan bilang siapa-siapa.”


Kotak biru itu sudah ada di depan pagar kos waktu aku mampir jam tujuh pagi dalam perjalanan ke kantor.

Bersih. Kering. Tutupnya rapat.

Aku membukanya di trotoar. Di dalamnya ada secarik kertas sobekan buku tulis, dilipat dua.

Tulisan tangan miring. Terburu-buru.

Enak. — E

Satu kata. Satu huruf.

Aku menatap kertas itu selama lima menit penuh di trotoar gang Tebet, sampai Mak Ijah dari warung nasi uduk berteriak menanyakan apakah aku mau sarapan, dan aku bilang tidak, dan Mak Ijah bilang aku pacarnya Esa yang cantik itu kan, dan aku bilang iya, dan Mak Ijah bilang kalau gitu harus sarapan, dan memaksaku duduk di bangku kayu dan makan nasi uduk dengan telur balado.

Aku makan nasi uduk itu sambil memegang kertas bertuliskan Enak di tangan kiri.


Malam kedua, aku memasak sop iga.

Sop iga yang sama dengan hari pertama dulu, waktu aku menyuruhnya mengikat tali celemek dan menangkapnya menatap bibirku. Aku memasaknya di dapur Mas Dodoy dari jam empat sore, setelah pulang kantor lebih cepat dengan alasan sakit kepala. Kak Dewi mengizinkan tanpa bertanya, karena wajahku memang terlihat seperti orang sakit kepala.

Separuh iga. Separuh kentang. Separuh perkedel. Separuh nasi.

Kertas di atas tutup kotak:

Sop iga. Yang pertama dulu kurang garam. Ini udah pas. Kayaknya. — A

Aku meletakkan kotak itu di keset depan pintu kamarnya jam delapan malam. Lampu kamarnya mati. Dia belum pulang.

Aku tidak menunggu.

Itu aturanku sendiri. Aku tidak akan menunggu di depan pintunya. Aku tidak akan mengetuk. Aku tidak akan mengirim pesan memohon. Aku akan meletakkan kotak itu, lalu pergi. Supaya dia tahu dia boleh tidak memakannya. Supaya dia tahu dia boleh tidak membuka pintu. Supaya dia tahu aku tidak sedang menagih.

Aku hanya menyisihkan.

Bu Darsih Kos: LAPORAN MALAM KEDUA.

Bu Darsih Kos: Pulang jam 21.40. Kotak diambil. Dibawa masuk kamar kali ini. Pintu ditutup. Ibu nggak bisa liat.

Bu Darsih Kos: Tapi Ibu denger. Dari dinding.

Bu Darsih Kos: Kayak orang ketawa pelan. Terus kayak orang nangis pelan. Terus ketawa lagi.

Bu Darsih Kos: Ibu nggak tau Nak Ayasha masak apa. Tapi itu masakan yang bikin orang ketawa sambil nangis.

Pagi berikutnya, kotak biru di depan pagar.

Iya. Dulu kurang garam. Aku bohong waktu bilang pas. — E

Aku tertawa di trotoar sampai Mak Ijah keluar dari warung nasi uduk lagi dan bertanya apakah aku sudah gila.


Malam ketiga, perkedel kentang dengan tempe orek.

Perkedelnya kuisi kornet. Dulu di panti nggak pernah ada kornet. — A

Pagi berikutnya:

Perkedelnya keasinan dikit. Tetep habis. — E

Malam keempat, aku tidak memasak di dapur Mas Dodoy. Aku memasak di dapur Panti Rumah Pulang.

Aku datang ke sana Jumat siang, setelah izin setengah hari, naik KRL dan angkot. Bu Ratna sedang menjemur seprai di halaman belakang. Dia melihatku masuk lewat pintu dapur, dan seprai di tangannya jatuh ke tanah.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya berjalan ke arahku, pelan, dengan punggung bungkuk dan celemek bermotif ayam, lalu memelukku. Lama. Sangat lama. Sampai Ucup keluar dari kamar mandi dan berteriak “BU RATNA MELUK KAK AYA LAGI!”

“Maafin Ibu, Nak,” bisik Bu Ratna di bahuku. “Maafin Ibu. Ibu yang keceplosan.”

“Bukan salah Ibu.”

“Kalau Ibu nggak keceplosan, kamu nggak bakal tau. Kamu nggak bakal dateng ke reuni. Kamu nggak bakal...”

“Bu.” Aku melepaskan pelukan dan memegang kedua tangan Bu Ratna. Tangan kecil yang keriput. Tangan yang dulu menyuapiku waktu aku demam. “Kalau Ibu nggak keceplosan, aku nggak bakal ketemu dia lagi. Aku nggak bakal tau dia masih nyisain separuh lauk. Aku nggak bakal...”

Aku tidak bisa melanjutkan.

Bu Ratna menatapku. Matanya berkaca-kaca di balik kacamata.

“Kamu sayang dia ya, Nak,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya, Bu.”

“Bukan karena beasiswa?”

Aku menggeleng. “Awalnya, iya. Tapi sekarang...” Aku mengeluarkan buku catatan dari tas. Membukanya di halaman kedua. Empat puluh tujuh nomor. Aku menyodorkannya ke Bu Ratna.

Bu Ratna membaca. Pelan. Dengan kacamata diturunkan ke ujung hidung. Di nomor tujuh (karena dia nggak bisa goreng telur, cangkangnya ikut masuk), dia tertawa sampai batuk.

Waktu dia selesai, dia menutup buku itu dan menatapku.

“Nak,” katanya. “Ibu mau cerita satu hal. Ibu belum pernah cerita ke siapa-siapa.”

Aku menunggu.

“Tujuh tahun lalu,” kata Bu Ratna, “Mas Esa telepon Ibu. Katanya dia mau bayarin kuliah satu anak panti. Siapa aja yang paling butuh. Ibu yang milih.” Dia menatapku. “Kamu tau kenapa Ibu milih kamu?”

“Karena nilaiku paling bagus?”

“Itu salah satunya.” Bu Ratna tersenyum kecil. “Tapi bukan itu alasan utamanya.”

Dia menepuk tanganku.

“Ibu milih kamu karena kamu yang paling sering kalah cepet di meja makan,” katanya pelan. “Dan Ibu tau, selama delapan tahun, piring kecil Mas Esa paling sering dikasih ke kamu. Ibu pikir, kalau ada satu anak di dunia ini yang Mas Esa pengin liat berhasil, pasti anak yang paling sering dia sisain lauk.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Dia nggak tau Ibu milih kamu,” lanjut Bu Ratna. “Dia nggak pernah nanya. Dia nggak mau tau. Tapi Ibu tau.” Bu Ratna mengusap pipiku dengan ibu jarinya yang kasar. “Dia nyisain separuh buat kamu dua kali, Nak. Sekali di meja makan. Sekali lewat beasiswa. Dia aja yang nggak tau.”


Sore itu, aku memasak di dapur panti bersama Bu Ratna dan anak-anak. Ucup memotong wortel dengan ukuran yang sangat tidak beraturan. Lala mencatat resep di buku tulisnya dengan kacamata melorot. Bimo, yang katanya terlalu dewasa untuk membantu masak, berdiri di ambang pintu dapur selama dua jam dan sesekali menyerahkan bawang tanpa diminta.

Kami memasak sayur sop, tempe goreng, dan telur dadar. Masakan meja makan panti. Persis seperti dua puluh tahun lalu.

Aku memotong telur dadar jadi dua. Separuh untuk kotak biru.

Kertas di atas tutup kotak malam keempat:

Dimasak di dapur panti. Sama Bu Ratna sama anak-anak. Ucup yang motong wortel. Maaf bentuknya aneh. Telurnya separuh. Kayak dulu. — A (yang kecil)

Bu Darsih Kos: LAPORAN MALAM KEEMPAT.

Bu Darsih Kos: Nak. Ibu harus jujur. Ibu ngintip kertasnya. Ibu minta maaf.

Bu Darsih Kos: Dia baca kertasnya di teras. Terus dia diem lama banget. Terus dia buka kotaknya. Terus dia liat telurnya.

Bu Darsih Kos: Terus dia nangis, Nak.

Bu Darsih Kos: Ibu udah enam puluh tiga tahun. Ibu nggak pernah liat laki-laki nangis sambil makan telur dadar.

Bu Darsih Kos: Ibu juga ikut nangis. Pak Lurah juga kayaknya. Pak Lurah diem aja dari tadi.

Pagi berikutnya, kotak biru di depan pagar. Kertasnya lebih panjang dari biasanya.

Wortelnya bentuk bintang. Bilang ke Ucup, makasih. Telurnya sama kayak dulu. Aku inget. — E

Aku membaca kertas itu sepuluh kali di trotoar.

Aku inget.


Malam kelima, hari Sabtu, Bram meneleponku. Pertama kalinya dia menelepon tanpa alasan kopi atau tumpangan pulang.

“Sha,” katanya. “Lo udah denger?”

“Denger apa?”

“Launching Seri C. Dua minggu lagi. Di ballroom hotel di Sudirman. Kak Hendra baru umumin di grup manajer.” Suara Bram terdengar bersemangat. “Katanya founder bakal dateng.”

Aku berhenti mengaduk sambal di dapur Mas Dodoy.

“Founder?”

“Founder. Pak E. Pertama kalinya tampil di depan umum. Investor yang minta.” Bram tertawa tak percaya. “Empat tahun, Sha. Empat tahun nggak ada yang liat mukanya. Dan sekarang dia mau naik panggung.”

“Kenapa sekarang?”

“Investor Singapura, Mr. Lim, minta founder hadir. Kalau nggak, Seri C-nya nggak cair.” Aku bisa mendengar Bram tersenyum. “Dan Mr. Lim juga minta ketemu lo. Langsung. Soal kampanye lo. Kak Hendra yang bilang.”

Aku menatap panci sambal.

Dua minggu lagi. Ballroom hotel. Pak E. Laki-laki yang menulis kalimat yang membuatku melamar ke sini. Laki-laki yang menulis tidak ada yang boleh berhenti hidup tenang di email yang membuat Bram menangis.

Aku akan bertemu dengannya.

Aku akan bisa bilang makasih.

Dadaku hangat, sebentar. Lalu dingin lagi. Karena satu-satunya orang yang ingin kuajak ke acara itu, satu-satunya orang yang ingin kuceritakan berita itu, adalah laki-laki yang belum membuka pintunya untukku selama lima hari.

Ayam goreng kremes. Bram bilang founder kantorku mau muncul pertama kali dua minggu lagi. Aku seneng. Pengin cerita ke kamu. Tapi nanti aja. Kalau kamu udah mau denger. — A

Pagi berikutnya:

Aku mau denger. — E


Malam keenam, aku tidak menulis tentang diriku. Aku menulis tentang Mas Dodoy dan Gendis.

Mas Dodoy dateng ke pentas sekolah Gendis kemarin. Pake kemeja yang dikancing sampai leher. Kancing perutnya lepas pas dia tepuk tangan. Gendis yang ngejahit di backstage. Pake jarum dari tas anyamannya. Anak-anak kelas tiga teriak “MISTER DODOY! MISTER DODOY!” Mas Dodoy nangis. Gendis bilang ke aku, suratnya udah dia bakar. Semalem. Di halaman rumahnya. Sambil makan puding sambel bawang. Katanya dia udah nggak butuh surat itu lagi. — A

Pagi berikutnya, kertas di dalam kotak biru adalah kertas paling panjang yang pernah dia tulis.

Aku seneng buat Gendis. Aku seneng buat Dodoy. Kemarin Dodoy nyuruh aku bayar makan. Terus dia sobek daftar harganya. Terus dia bilang aku adeknya. Aku nggak tau harus jawab apa. Aku lagi belajar. — E


Malam ketujuh.

Aku memasak nasi goreng kampung dengan telur ceplok setengah matang. Masakan pertama yang kumasak untuknya di apartemenku, malam hujan itu, sebelum listrik padam. Sebelum lilin. Sebelum kami saling menyuapi separuh dari separuh dari separuh.

Separuh nasi goreng. Separuh telur ceplok, dengan pinggiran renyah dan taburan lada.

Aku menulis kertas terakhir di atas meja dapur Mas Dodoy dengan tangan gemetar.

Lalu aku memasukkan separuh yang lain ke kotak kedua. Kotak merah muda. Milikku.

Aku naik ojek ke kos Esa jam delapan malam.

Lampu kamarnya menyala. Dia ada di dalam.

Aku meletakkan kotak biru di keset depan pintunya. Kertasnya di atas tutup:

Masih boleh masakin kamu? Separuhnya aku makan di sini. Di depan pintumu. — A

Lalu aku duduk.

Di anak tangga teras. Di depan pintu kamarnya yang tertutup. Dengan kotak merah muda di pangkuan, berisi separuh nasi goreng dan separuh telur ceplok.

Aku membuka tutupnya. Mengambil sendok. Mulai makan.

Pelan. Sendirian. Di bawah lampu neon yang dikerubungi laron.

Pintu rumah induk terbuka. Bu Darsih keluar, memakai daster batik dan rol rambut. Dia tidak berkata apa-apa. Dia menyeret kursi plastik dari pojok teras dan meletakkannya di sampingku. Lalu dia kembali ke dalam, dan keluar lagi membawa segelas teh manis panas, dan meletakkannya di kursi plastik itu.

“Minum, Nak,” bisiknya. “Biar nggak keselek.”

Lalu dia masuk lagi dan menutup pintu.

Pak Lurah tidak ikut masuk. Kucing oranye gendut itu berjalan pelan ke arahku, mengendus kotak nasi gorengku, lalu duduk di anak tangga di sebelahku. Dia menatap pintu kamar Esa bersamaku. Seperti teman yang ikut menunggu.

Aku makan nasi goreng.

Satu sendok. Dua sendok.

Di balik pintu, aku mendengar sesuatu bergerak. Langkah kaki. Lalu diam.

Tiga sendok.

Laron berjatuhan di sekitarku. Teh manis di kursi plastik mengepul.

Empat sendok.

Aku tidak menoleh ke pintu. Aku tidak mengetuk. Aku tidak memanggil namanya. Aku hanya makan, pelan, separuhku, di depan pintunya.

Kalau dia tidak membuka pintu malam ini, aku akan kembali besok.

Dan lusa.

Dan minggu depan.

Bukan karena aku berutang. Karena aku memilih.

Lima sendok.

Lalu terdengar bunyi kunci diputar.

Pintu kamar terbuka.

Aku tidak langsung menoleh. Aku tidak berani. Aku menatap nasi goreng di kotak merah muda di pangkuanku, dengan sendok berhenti di udara, dan jantungku berdetak sangat keras sampai aku yakin Pak Lurah bisa mendengarnya.

Langkah kaki. Satu. Dua. Berhenti tepat di belakangku.

Lalu dia duduk.

Di anak tangga yang sama. Di sebelahku. Di sisi yang lain dari Pak Lurah.

Aku menoleh.

Esa duduk di sebelahku dengan kaos oblong abu-abu yang melar, rambut berantakan, mata merah. Dia memegang kotak biru di pangkuannya. Kotak yang tadi kuletakkan di keset. Tutupnya sudah terbuka. Separuh nasi goreng dan separuh telur ceplok di dalamnya belum tersentuh.

Lalu dia mengulurkan tangan kirinya ke arahku.

Di telapak tangannya ada piring kecil. Piring kecil plastik warna hijau, yang biasanya dipakai untuk makanan Pak Lurah.

Di atas piring kecil itu ada separuh martabak telur.

“Aku juga nyisain,” katanya pelan. Suaranya serak. “Dari tadi sore. Nunggu kamu.”

Aku menatap piring kecil itu.

Lalu aku menatap wajahnya. Matanya yang merah. Bibirnya yang gemetar sedikit.

“Udah dingin,” kataku. Suaraku pecah.

“Iya. Aku nunggu lama.”

“Kamu bisa buka pintunya dari tadi.”

“Aku tau.” Dia menunduk. “Aku takut.”

“Takut apa?”

Esa menatap separuh martabak di piring kecil hijau Pak Lurah.

“Takut kalau aku buka pintu,” katanya, “kamu nggak ada.”

Aku meletakkan sendok. Mengambil separuh martabak dingin dari piring kecil itu. Menggigitnya. Mengunyah pelan.

Lalu aku menangis sambil tertawa, dengan mulut penuh martabak telur yang dingin, di anak tangga teras kos, di antara laki-laki yang kucintai dan kucing yang sedang diet.

“Aku ada,” kataku. “Aku dari tadi di sini.”

Esa menatapku.

“Aku tau,” bisiknya. “Aku denger kamu makan. Lima sendok.”

“Kamu ngitung?”

“Iya.” Dia tersenyum kecil. Pertama kali dalam seminggu. “Kebiasaan.”

Di belakang kami, tirai jendela rumah induk bergerak. Aku mendengar isakan pelan. Bu Darsih.

Pak Lurah mengeong sekali, lalu berjalan dari sebelahku, melewati kakiku, melewati kotak biru, dan naik ke pangkuan Esa. Dia duduk di sana dan mulai mendengkur.

Esa menatap Pak Lurah di pangkuannya.

Lalu dia menatapku.

“Sha,” katanya. “Aku harus cerita sesuatu.”

“Cerita apa?”

Dia menarik napas panjang.

“Kenapa aku takut nerima,” katanya.