Chapter Twenty Nine
Seri C Butuh Wajah
POV: Esa
Hendra datang ke kos Bu Darsih hari Senin pagi, membawa dua jas, tiga kemeja, satu dasi, dan wajah orang yang belum tidur sejak Jumat.
Itu pertama kalinya Hendra datang ke kos. Selama empat tahun, kami hanya bertemu lewat telepon, email, dan dua kali di kafe hotel yang sepi waktu tanda tangan dokumen investasi. Dia tidak pernah tahu aku tinggal di mana. Dia mengira aku tinggal di rumah Pondok Indah, karena alamat itu yang tercantum di dokumen perusahaan.
Pagi itu dia berdiri di depan pagar kos dengan kemeja biru muda yang kusut, kantong mata sebesar biji salak, dan tiga gantungan baju di tangan. Dia menatap gang sempit, warung nasi uduk Mak Ijah, Bubur yang terparkir dengan spion miring, dan karton kuning berlaminasi berisi tujuh aturan kos di dinding dekat tangga.
Lalu dia menatapku. Aku berdiri di ambang pintu kamar dengan hoodie lebih belel (yang ternyata kembali ke tanganku karena Ayasha mencucinya dan lupa membawanya pulang), celana training, dan sikat gigi di mulut.
“Pak,” katanya pelan.
“Hendra.”
“Bapak... tinggal di sini?”
“Iya.”
“Selama ini?”
“Tujuh tahun.”
Hendra menatap kamarku lewat pintu yang terbuka. Kasur di lantai. Kipas angin batuk. Peta Kalimantan di langit-langit.
Dia memejamkan mata. Menarik napas panjang.
“Pak,” katanya, “saya gaji saya delapan puluh juta sebulan. Saya tinggal di apartemen di Kuningan. Mobil saya dua.” Suaranya bergetar. “Dan bos saya tinggal di kos sembilan ratus ribu.”
“Sembilan ratus lima puluh. Uang telat.”
“PAK.”
Bu Darsih keluar dari rumah induk dengan Pak Lurah di gendongan. Dia menatap Hendra dari atas sampai bawah.
“Sa, ini siapa?”
“Temen, Bu.”
“Temen?” Bu Darsih menyipitkan mata ke arah jas-jas di tangan Hendra. “Tukang jahit?”
Hendra menatap Bu Darsih. Lalu menatapku. Aku menatapnya dengan pandangan memohon yang sudah kupakai pada Pak Ujang dua kali.
“...Iya, Bu,” kata Hendra, dengan wajah orang yang menelan seluruh harga dirinya dalam satu tegukan. “Tukang jahit.”
Jasnya tidak muat.
Bukan karena ukurannya salah. Ukurannya pas. Hendra sudah mencari tahu ukuranku dari tukang jahit langganan Bekal, yang mendapatkannya dari data seragam kantor yang tidak pernah kupakai. Jasnya pas di bahu, pas di pinggang, pas di lengan.
Tapi waktu aku memakainya dan berdiri di depan cermin kecil di balik pintu kamar, aku terlihat seperti orang lain. Orang di foto halaman tiga deck investor. Orang yang bukan aku.
“Nggak,” kataku.
“Pak, ini jas Italia.”
“Nggak, Hendra.”
“Pak, investor Singapura semua pake jas. Mr. Lim pake jas. Menteri yang dateng pake jas.”
“Aku pake hoodie.”
Hendra menatapku seolah aku baru bilang akan naik panggung telanjang.
“Pak,” katanya, sangat pelan, sangat hati-hati, seperti orang yang menjinakkan bom. “Ini launching Seri C. Valuasi kita mau naik jadi satu koma empat triliun. Ada enam ratus tamu. Ada media. Ada livestream. Ini pertama kalinya publik liat muka founder Bekal. Bapak nggak bisa pake... itu.”
Dia menunjuk hoodie lebih belel di kasur dengan jari gemetar.
“Kenapa nggak?”
“Karena itu hoodie, Pak!”
“Founder Bekal pake hoodie,” kataku. “Itu yang beneran. Kalau aku pake jas, itu bohong.”
Hendra membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Lalu dia duduk di lantai kamarku, di samping kipas angin, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Saya telepon Mr. Lim,” katanya dari balik tangan.
Dia menelepon Mr. Lim. Dengan loudspeaker, karena katanya dia butuh saksi.
“Mr. Lim, sorry to bother you. Mr. E wants to wear a hoodie on stage.”
Hening di seberang. Lalu tawa. Tawa yang dalam dan hangat, sama seperti waktu Bu Darsih berteriak dari pacarmu di tengah call investor.
“A hoodie?” kata Mr. Lim. “Hendra, do you know how many founders in Silicon Valley wear hoodies?”
“Many, sir.”
“Exactly. Let him wear the hoodie. It’s authentic. Investors love authentic.” Jeda. “But Hendra?”
“Yes, sir?”
“Make sure it’s a clean hoodie.”
Hendra menutup telepon. Menatapku. Lalu menatap hoodie lebih belel di kasur yang lengannya sudah berbulu dan talinya tinggal satu.
“Pak,” katanya. “Hoodie yang bersih.”
“Ini bersih.”
“Itu bersih, tapi butut, Pak.”
Aku menatap hoodie di kasur. Dia benar.
“Nanti aku cari,” kataku.
Aku tidak perlu mencari.
Hari Rabu, Ayasha datang ke Warung Dodoy jam tujuh malam membawa kantong kertas cokelat. Dia meletakkannya di meja nomor empat, di depanku, dan duduk di kursi sebelahku.
“Buka,” katanya.
Aku membuka kantong itu. Di dalamnya ada hoodie. Abu-abu. Baru. Kainnya tebal dan lembut, warnanya persis sama dengan hoodie lamaku, abu-abu muda yang hampir perak. Talinya dua. Ujungnya ada plastik. Di bagian dalam kerah, ada label kecil yang dijahit tangan dengan benang hitam:
Punya E. Jangan dikasih ke siapa-siapa.
Aku menatap label itu.
“Kamu bilang ‘Oke, beliin’,” kata Ayasha. Suaranya pelan, sedikit gugup. “Di depan pintu apartemenku. Pagi itu.”
“Iya.”
“Kamu masih inget?”
“Inget.”
“Masih berlaku?”
Aku menatap hoodie baru di tanganku. Lalu menatapnya. Dia menatapku dengan mata yang menunggu. Mata yang siap kecewa kalau aku menolak. Mata yang tujuh malam berturut-turut meletakkan separuh lauk di keset depan pintuku tanpa menunggu balasan.
Aku melepas hoodie lebih belel yang sedang kupakai. Melipatnya. Lalu memakai hoodie baru itu.
Pas. Sangat pas. Seperti dia mengukurnya dengan tangan.
Dia memang mengukurnya dengan tangan. Di atas Bubur. Dua kali.
“Makasih,” kataku.
Ayasha menatapku. Lama. Matanya berkaca-kaca.
“Kamu bilang makasih,” bisiknya.
“Iya.”
“Kamu nerima.”
“Iya, Sha.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan. Lalu dia tertawa, basah, dan memukul lenganku pelan. “Jangan bikin aku nangis di warung Mas Dodoy lagi. Udah tiga kali minggu ini.”
“Empat,” kata Dodoy dari balik meja kasir. “Saya ngitung.”
Ayasha melempar kerupuk ke arahnya. Dodoy menangkapnya dengan mulut. Gendis, yang sedang duduk di kursi kasir di sebelah Dodoy (Gendis sekarang sering duduk di kursi kasir di sebelah Dodoy), bertepuk tangan.
Lalu Ayasha mencondongkan badan ke arahku. Dekat. Sangat dekat. Bibirnya di dekat telingaku.
“Esa,” bisiknya.
“Hm?”
“Kamu udah percaya belum?”
Aku menoleh. Wajahnya sejengkal dari wajahku.
“Belum sepenuhnya,” kataku jujur.
“Oke.” Dia mengangguk. Tidak kecewa. Matanya turun ke bibirku, lalu naik lagi. Senyum kecil yang kukenal muncul di sudut kirinya. Senyum yang sudah dua minggu tidak kulihat. “Terus aku boleh nyium kamu lagi? Atau masih masa percobaan?”
“Masa percobaan.”
“Ciuman masa percobaan boleh, kan?”
“Itu bukan istilah yang beneran.”
“Sekarang beneran.” Dia mendekat sedikit lagi. “Kayak probation di kantor. Boleh kerja, tapi masih dievaluasi.”
Aku menatapnya. Bibir merah muda yang sedikit terbuka. Mata yang berkilat nakal untuk pertama kalinya setelah tenda Cak Man.
“Kamu bakal dievaluasi,” kataku.
“Silakan,” bisiknya. “Evaluasi yang ketat.”
Aku menciumnya. Di meja nomor empat. Pelan. Singkat. Lalu tidak terlalu singkat.
Dodoy menutup mata Ipul. Gendis menutup mata Dodoy. Ipul mengeluh bahwa dia sudah dua puluh lima tahun dan tidak ada yang menghormatinya.
Waktu aku melepaskan ciuman itu, Ayasha menatapku dengan pipi merah.
“Gimana evaluasinya?” bisiknya.
“Masih perlu data tambahan.”
Dia tertawa. Keras. Dan aku tertawa juga.
Dan di tengah tawa itu, aku ingat bahwa aku belum memberitahunya.
Aku mencoba tiga kali.
Percobaan pertama: malam itu juga, di Warung Dodoy, setelah tawa reda.
“Sha,” kataku. “Soal yang aku bilang malem itu. Yang satu lagi.”
Ayasha menoleh. “Yang habis launching?”
“Aku mau bilang sekarang.”
Ayasha membuka mulut. Tapi sebelum dia sempat menjawab, Dodoy berdiri dari kursi kasir dan mengetuk gelas teh dengan sendok.
“Semuanya! Mohon perhatian!”
Warung itu cuma berisi enam orang: aku, Ayasha, Ipul, dua pelanggan tetap yang sedang makan sayur asem, dan Gendis. Mereka semua menoleh.
Dodoy menarik napas. Wajahnya merah. Dia menggenggam tangan Gendis. Gendis berdiri di sebelahnya, tersenyum malu, dengan seragam guru dan papan nama Ms. Gendis.
“Saya mau mengumumkan,” kata Dodoy, suaranya bergetar, “bahwa mulai hari ini, saya dan Ms. Gendis... resmi.”
Hening.
“Resmi apa, Mas?” tanya salah satu pelanggan tetap.
“Resmi PACARAN!”
Dua pelanggan tetap bertepuk tangan. Ipul menangis lagi. Ayasha menjerit kecil dan berlari memeluk Gendis. Gendis memeluknya balik, sambil tertawa dan menangis sekaligus.
Aku berdiri di samping meja nomor empat dan menatap Dodoy. Sahabatku. Laki-laki yang memberiku makan tujuh tahun. Yang menyeretku ke reuni. Yang menyobek daftar harga. Dia berdiri di depan meja kasir dengan wajah merah padam, memegang tangan perempuan yang dulu memakan tiga puding sambal terasinya.
Dia menatapku.
“Lo nggak bilang apa-apa?” tanyanya.
Aku berjalan ke arahnya. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku memeluk Dodoy duluan.
Dodoy membeku. Lalu dia memelukku balik dengan kekuatan beruang. Tulang rusukku berbunyi.
“Selamat, Bang,” kataku di bahunya.
Dodoy berhenti bernapas.
“...Bang?”
“Iya.”
“Lo manggil gue Bang?”
“Kamu bilang aku adekmu.”
Dodoy menangis. Keras. Di bahuku. Dengan celemek kotor dan noda kecap di pipi.
Malam itu bukan malam untuk memberi tahu Ayasha bahwa aku pemilik kantornya.
Percobaan kedua: Kamis sore, di Panti Rumah Pulang.
Aku mengajak Ayasha ke panti untuk mengantarkan sembako mingguan. Bu Ratna menyambut kami di depan pagar dengan pelukan bergantian, lalu menangis, lalu menyuruh kami makan, lalu menangis lagi.
Setelah makan, aku menemukan Ayasha di halaman belakang, duduk di ayunan tua yang rantainya berkarat, menatap langit sore.
Aku duduk di ayunan sebelahnya.
“Sha.”
“Hm?”
“Soal yang satu lagi.”
Ayasha menoleh. Tapi sebelum aku sempat melanjutkan, Lala muncul dari balik jemuran dengan buku tulis di tangan dan kacamata melorot.
“Kak Esa! Kak Aya! Lala mau tanya!”
“Tanya apa, La?”
Lala membuka buku tulisnya. Di halaman pertama ada tulisan besar dengan krayon: TUGAS SEKOLAH: CITA-CITAKU.
“Bu Guru suruh nulis cita-cita,” kata Lala serius. “Lala bingung. Lala mau jadi Kak Aya atau Kak Esa.”
Ayasha tertawa. “Kenapa kami?”
“Soalnya Kak Aya kerja di kantor bagus, bikin iklan buat anak-anak yang nggak bisa sekolah. Bu Ratna bilang gitu.” Lala menunjukku dengan pensil. “Terus Kak Esa...”
Lala berhenti. Mengerutkan kening.
“Kak Esa kerja apa, sih?”
Aku menatap Lala. Ayasha menatapku.
“Ngetik,” kataku.
Lala menatapku dengan wajah tidak puas. “Ngetik apa?”
“Macem-macem.”
“Bu Ratna bilang Kak Esa yang bayarin sekolah Lala.” Lala menunduk ke buku tulisnya. “Kalau Lala jadi tukang ketik, Lala bisa bayarin sekolah anak lain juga?”
Hening.
Ayasha menatapku dari ayunan sebelahnya. Matanya basah.
“Bisa, La,” kataku pelan. “Kalau ngetiknya bener.”
Lala mengangguk serius, lalu menulis besar-besar di bukunya dengan krayon merah: CITA-CITAKU: TUKANG KETIK YANG BAYARIN SEKOLAH ANAK LAIN.
Lalu dia berlari kembali ke dalam panti sambil berteriak ke Ucup bahwa cita-citanya lebih keren dari cita-cita Ucup yang ingin jadi kucing.
Ayasha menatapku dari ayunan.
“Tadi kamu mau bilang apa?” tanyanya lembut.
Aku menatap Lala yang berlari. Aku menatap buku tulis bertuliskan krayon merah yang tertinggal di rumput.
Tukang ketik yang bayarin sekolah anak lain.
Kalau aku bilang sekarang bahwa aku pendiri Bekal, apakah Ayasha akan melihatku seperti Lala melihatku? Atau seperti Hendra melihatku di depan pagar kos? Atau seperti Bram melihat Pak Haryono di foto kapal pesiar?
“Nanti,” kataku. “Habis launching.”
Ayasha mengangguk. Dia tidak mendesak. Dia bilang dia tidak akan mendesak, dan dia menepati janjinya.
Itu yang membuatnya lebih sulit.
Percobaan ketiga: Jumat malam. Malam sebelum launching.
Ayasha meneleponku jam sepuluh malam. Panggilan video. Dia sedang di apartemennya, duduk di lantai ruang tamu dengan rambut dicepol asal, kacamata baca yang belum pernah kulihat, dan setumpuk kertas naskah di pangkuan.
“Aku gugup,” katanya tanpa basa-basi.
“Kenapa?”
“Besok aku MC pembuka. Di depan enam ratus orang. Ada menteri. Ada investor Singapura. Ada media.” Dia mengangkat kertas naskah ke kamera. “Kak Hendra kasih naskah ini jam lima sore tadi. Lima halaman. Aku udah hafalin tiga kali. Masih salah di bagian sambutan Pak Menteri.”
“Kamu bakal bagus.”
“Kamu nggak tau itu.”
“Aku tau.”
Dia menatapku lewat layar. Lalu tersenyum kecil.
“Kamu nonton livestream-nya besok?”
“...Iya.”
“Dari mana?”
Aku diam sebentar. “Dari tempat yang kelihatan.”
“Warung Mas Dodoy? Mas Dodoy bilang mau bikin nobar. Gendis bawa proyektor dari sekolah.”
“Mungkin.”
Ayasha menatap naskahnya lagi. Membalik ke halaman terakhir.
“Esa,” katanya. “Di halaman lima, ada bagian aku manggil founder naik panggung. Kak Hendra nulis: [MC memanggil founder — nama akan diberikan di kartu terpisah saat acara].” Dia tertawa kecil, gugup. “Bahkan aku nggak dikasih tau namanya. Aku cuma bakal baca kartu.”
Aku tidak bernapas.
“Aku udah latihan,” lanjutnya, pelan, menatap kertas itu. “Bukan cuma naskahnya. Aku udah latihan buat bilang makasih ke dia. Sebelum dia naik panggung. Di backstage, kalau bisa. Sebentar aja. Kayak waktu reuni.” Dia tersenyum ke kamera. “Kali ini aku nggak latihan empat puluh tujuh kali. Cuma sebelas.”
“Sha...”
“Kamu tau nggak,” potongnya, matanya berbinar, “rasanya kayak lingkaran. Dulu aku latihan buat bilang makasih ke kamu, terus gagal. Sekarang aku latihan buat bilang makasih ke founder-ku. Orang yang tipenya sama kayak kamu.” Dia memeluk naskah itu ke dadanya. “Kali ini aku pasti bisa. Karena kamu udah ngajarin aku. Kamu ngajarin aku bahwa orang kayak gitu juga butuh diucapin makasih. Walaupun mereka nggak mau.”
Aku menatapnya lewat layar.
Perempuan yang memeluk naskah MC di dadanya, dengan kacamata baca dan rambut dicepol asal, mata berbinar karena besok dia akan berterima kasih kepada orang yang tidak dia kenal.
Orang yang sedang menatapnya lewat layar ponsel.
Bilang sekarang, kata suara di kepalaku. Bilang sekarang. Sebelum besok. Sebelum dia baca kartu itu di depan enam ratus orang.
Aku membuka mulut.
“Sha. Founder-mu itu...”
“Jangan.” Dia mengangkat tangan ke layar, seolah bisa menutup mulutku dari Pancoran. “Jangan bikin aku tambah gugup. Kamu mau bilang dia pasti orang baik, kan? Aku tau. Aku udah tau.” Dia tersenyum. “Besok aja ceritanya. Habis launching. Kamu janji, kan? Satu-satu.”
Satu-satu.
Aku sendiri yang menyetujuinya. Di depan pagar kos. Habis launching kantormu.
Aku menutup mulutku.
“Iya,” kataku. “Habis launching.”
“Doain aku, ya.”
“Iya.”
“Esa.”
“Hm?”
“Aku sayang kamu,” katanya. Pelan. Tanpa embel-embel. Tanpa Sayang di akhir. Kalimat utuh yang belum pernah dia ucapkan dalam satu kalimat sebelumnya. “Bukan karena utang. Bukan karena apa-apa. Cuma sayang.”
Lalu dia menutup telepon sebelum aku sempat menjawab.
Aku duduk di kasur di bawah peta Kalimantan dengan ponsel di tangan dan hoodie baru di tubuhku, dengan label Punya E. Jangan dikasih ke siapa-siapa. di kerahnya.
Aku menatap layar ponsel yang gelap.
Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus meneleponnya balik. Sekarang. Aku harus bilang: Sha, founder-mu itu aku. Kartu besok itu namaku. Kamu nggak perlu latihan sebelas kali. Kamu udah bilang makasih ke dia. Tujuh kali. Dalam tujuh amplop.
Jempolku melayang di atas tombol panggil.
Lalu aku membayangkan wajahnya. Wajah yang berbinar memeluk naskah. Wajah yang bilang kali ini aku pasti bisa. Wajah yang malam ini, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, terlihat ringan. Tanpa batu.
Kalau aku menelepon sekarang, malam sebelum acara terbesar dalam kariernya, aku akan menghancurkan wajah itu.
Aku meletakkan ponsel.
Besok, kataku pada diriku sendiri. Besok pagi. Sebelum acara. Aku jemput dia. Aku bilang di jalan. Dia masih punya waktu buat siap.
Itu argumen yang sangat buruk. Aku tahu itu argumen yang sangat buruk.
Aku tahu persis, karena dua minggu lalu aku duduk di tenda Cak Man dan menghukum seseorang karena argumen yang sama.
Sabtu pagi, aku tidak menjemputnya.
Hendra meneleponku jam enam pagi. Mr. Lim ingin rapat dengan founder sebelum acara. Jam sembilan. Di hotel. Lalu gladi resik. Lalu sesi foto untuk media. Lalu briefing keamanan. Lalu makan siang dengan perwakilan kementerian. Lalu rapat lagi.
Aku mengirim pesan ke Ayasha jam tujuh pagi:
Aku: Sha. Aku mau ketemu sebelum acara. Ada yang harus aku bilang. Penting. Kamu di mana?
Balasannya datang jam tujuh lewat dua puluh.
Ayasha 🩶: Aku udah di hotel dari subuh! Kak Dewi nyuruh MC dateng jam 5 buat gladi + makeup. Hari ini gila banget. HP-ku mau kusita sendiri biar nggak ke-distract.
Ayasha 🩶: Nanti malem aja ya ceritanya. Habis acara. Aku traktir pecel lele Cak Man.
Ayasha 🩶: Doain aku 🩶
Lalu dia offline.
Aku mencarinya di hotel. Seharian. Di antara rapat dan gladi resik dan sesi foto. Tapi hotel itu besar, dan acara itu besar, dan setiap kali aku sampai di ruang MC di lantai dua, dia sedang di ballroom di lantai satu. Setiap kali aku sampai di ballroom, dia sedang di ruang rias. Setiap kali aku sampai di ruang rias, dia sedang briefing dengan tim teknis.
Hendra mengikutiku ke mana-mana dengan wajah pucat dan clipboard.
“Pak,” katanya jam enam sore, waktu aku berdiri di depan pintu ruang MC yang terkunci. “Dia di ballroom. Udah standby. Lima belas menit lagi mulai.”
“Aku harus ketemu dia.”
“Pak, nggak bisa. Dia udah di belakang panggung. Ada kru, ada kamera, ada...”
“Hendra.”
Hendra menatapku. Lalu dia melihat sesuatu di wajahku, dan dia berhenti bicara.
“Kartu namanya,” kataku. “Kartu yang bakal dia baca. Buat manggil aku.”
“Udah dicetak, Pak. Udah di podium.”
“Ganti.”
“Pak?”
“Tulis ‘Founder: E.’ aja. Jangan nama lengkap.”
Hendra menatapku lama. “Pak. Itu nggak bakal ngubah apa-apa. Dia tetep bakal liat Bapak naik panggung.”
“Aku tau.”
“Terus kenapa?”
Aku tidak tahu jawabannya. Mungkin karena aku ingin dia melihatku dulu, sebelum membaca namaku. Mungkin karena aku ingin ada satu detik, satu detik saja, di mana dia melihat laki-laki berhoodie naik panggung dan mengenaliku sebagai aku, bukan sebagai nama di kartu.
Mungkin karena aku pengecut.
Hendra menghela napas. Lalu mengangguk.
“Saya ganti, Pak.”
Dia berlari ke arah ballroom.
Aku berdiri di lorong hotel lantai dua, sendirian, dengan hoodie abu-abu baru yang labelnya bertuliskan Punya E.
Dari bawah, dari ballroom, aku mendengar suara musik pembuka dimulai.
Lalu suara mikrofon dinyalakan.
Lalu suaranya.
“Selamat malam, Bapak-Ibu sekalian. Selamat datang di malam peluncuran Bekal Seri C...”
Suara yang jernih, tenang, profesional. Tidak gemetar sedikit pun.
Dia memang bagus.
Aku tahu dia bakal bagus.
Aku berjalan ke arah tangga.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah reading
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali