← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Twenty

Resmi, Tanpa Kontrak

POV: Esa


Pesan Hendra masuk jam tujuh lewat dua puluh tiga malam, waktu aku masih di jalan pulang dari Pancoran. Aku membacanya di lampu merah Pancoran, dengan Bubur yang mesinnya batuk-batuk menunggu lampu hijau.

Hendra Kusuma: PAK.

Hendra Kusuma: PAK ITU TADI.

Hendra Kusuma: ITU TADI BAPAK DI LOBI KANTOR.

Hendra Kusuma: PELUKAN SAMA BRAND MANAGER KITA.

Hendra Kusuma: DI LOBI.

Hendra Kusuma: DI DEPAN SATPAM.

Hendra Kusuma: TUMBLER SAYA PECAH PAK. ITU TUMBLER DARI ISTRI SAYA. HADIAH ANNIVERSARY.

Lampu hijau. Aku menepi di depan minimarket dan membalas.

Aku: Maaf soal tumblernya. Nanti saya ganti.

Hendra Kusuma: BUKAN ITU INTINYA PAK.

Hendra Kusuma: Dia belum tau?

Aku: Belum.

Hendra Kusuma: Pak, dia tadi nanya ke saya “Kak Hendra, kenal pacar saya?” pas saya kabur ke lift. Untung pintu lift udah ketutup.

Hendra Kusuma: Besok ada rapat divisi Marketing. Saya harus duduk di depan dia selama dua jam. Saya nggak bisa liat mukanya tanpa keringetan Pak.

Aku: Pake AC.

Hendra Kusuma: AC-nya udah 18 derajat Pak. Saya tetep keringetan. Saya keringetan dari tadi.

Hendra Kusuma: Pak. Serius. Kapan Bapak mau bilang?

Aku menatap pesan itu.

Kapan?

Aku tidak tahu. Setiap kali aku memikirkannya, aku membayangkan wajah Ayasha berubah. Senyum yang menggoda berubah jadi sopan. Panggilan Sayang berubah jadi Pak. Pelukan di lobi berubah jadi anggukan hormat di lorong. Jarak yang sekarang tinggal nol senti berubah jadi satu meter, dua meter, satu meja rapat.

Kalau dia tahu aku bosnya, dia akan berubah.

Aku sudah memutuskan ini di kamar kos malam itu, jam tiga pagi, setelah membaca ulang dokumen visi.

Aku: Nanti.

Hendra Kusuma: Pak.

Aku: Hendra. Besok aku mau nembak dia.

Tiga titik muncul dan menghilang delapan kali.

Hendra Kusuma: ...Nembak?

Aku: Iya.

Hendra Kusuma: Pak E. Founder Bekal. Pemegang saham individu terbesar. Valuasi hampir satu triliun. Mau nembak Brand Manager.

Aku: Iya.

Hendra Kusuma: Pakai apa Pak? Cincin? Mobil? Saya bisa bantu cari florist.

Aku: Pakai separuh lauk.

Hening sangat lama.

Hendra Kusuma: Saya nggak ngerti Pak.

Hendra Kusuma: Tapi saya doain.


Aku tidak memberi tahu Dodoy.

Itu kesalahan pertamaku.

Kesalahan keduaku adalah datang ke Warung Dodoy jam empat sore keesokan harinya, tiga jam sebelum waktu yang kujanjikan, untuk meminta izin memakai meja nomor empat dari jam tujuh sampai selesai.

“Meja nomor empat?” Dodoy menatapku dari balik meja kasir. “Kenapa meja nomor empat?”

“Biar aja.”

“Mau ngapain?”

“Makan.”

“Lo makan di sini tiap hari. Lo nggak pernah minta izin meja.”

“Hari ini aku minta izin.”

Dodoy menyipitkan mata. Dia menatapku dari atas sampai bawah. Lalu matanya berhenti di tanganku, yang sedang memegang secarik kertas sobekan buku tulis yang kulipat dua kali.

“Itu apa?”

“Nggak ada.”

“Itu kertas.”

“Iya. Kertas. Biasa.”

Dodoy keluar dari balik meja kasir. Pelan. Seperti macan yang mencium bau rusa. Dia mendekat. Aku mundur. Dia mendekat lagi. Punggungku menempel di etalase lauk.

“Sa,” katanya. “Jam tujuh. Meja nomor empat. Kertas dilipat. Muka lo kayak orang mau ujian skripsi.”

“Doy.”

“Lo mau nembak Ayasha.”

Aku tidak menjawab.

Dodoy berhenti. Matanya membesar. Mulutnya terbuka. Lalu dia menutup mulutnya dengan dua tangan, dan matanya mulai berkaca-kaca.

“Ya Allah,” bisiknya dari balik tangan. “Ya Allah. Ya Allah, Sa.”

“Doy, jangan...”

“IPUL!”

Ipul muncul dari dapur dengan pisau di tangan. “Apa, Mas?”

“TUTUP WARUNG JAM ENAM!”

“Kenapa, Mas?”

“ESA MAU NEMBAK CEWEK!”

Ipul menjatuhkan pisaunya.


Dalam dua jam, Dodoy berhasil melakukan hal-hal berikut:

Menutup Warung Dodoy untuk umum jam enam sore, dengan papan bertuliskan TUTUP — ADA ACARA KELUARGA YANG SANGAT PENTING DAN BERSEJARAH.

Memasak nasi tumpeng kuning setinggi empat puluh senti, lengkap dengan ayam ingkung, telur balado, urap, perkedel, tempe orek, dan sambal goreng ati, yang menurut Dodoy “standar minimal untuk momen sakral seperti ini”.

Menelepon Gendis.

Gendis datang jam enam lewat tiga puluh, masih memakai seragam guru dengan papan nama Ms. Gendis di dada. Dia membawa sekotak lilin kecil dan rangkaian bunga sedap malam yang dia beli di pinggir jalan.

“Mas Dodoy bilang darurat,” katanya padaku, terengah. “Aku kira ada yang meninggal.”

“Nggak ada yang meninggal.”

“Ada yang mau nembak.” Gendis tersenyum. Senyum yang tenang, tulus, dan sedikit sedih di sudutnya. Lalu dia menepuk lenganku. “Bagus, Esa. Akhirnya.”

Dia berjalan ke dapur untuk membantu Dodoy menata tumpeng. Aku mendengar Dodoy berkata, “Mbak Gendis, bisa minta tolong taruh lilin di sana? Tapi jangan deket tumpeng, nanti terbakar,” dan Gendis menjawab, “Mas, lilinnya cuma lilin ulang tahun, nggak bakal bakar tumpeng,” dan Dodoy menjawab, “Kita nggak bisa ambil risiko, Mbak, ini momen sakral,” dan Gendis tertawa, dan Dodoy terdiam karena tawa Gendis, dan aku harus keluar dapur karena tidak tahan melihat wajah Dodoy.

Aku duduk di meja nomor empat. Meja yang sama. Pojok. Dekat dapur. Biar gampang nambah.

Aku mengeluarkan kertas sobekan buku tulis dari saku hoodie. Membukanya. Membaca tulisan tanganku sendiri yang miring dan terburu-buru.

Lalu aku melipatnya lagi.

Aku mengeluarkan ponsel. Di aplikasi catatan, masih ada satu baris yang kuketik di depan gerbang Pondok Indah:

Cari tau: kenapa 0107.

Aku menatap baris itu. Aku memikirkannya. Satu Juli. Ada sesuatu di ujung ingatanku. Sesuatu yang penting.

Lalu bel pintu warung berdenting, dan aku menutup aplikasi catatan tanpa berpikir lagi.


Ayasha berdiri di ambang pintu.

Dia memakai gaun selutut warna kuning pucat dengan motif bunga putih kecil, kardigan putih tipis, dan sepatu flat. Rambutnya digerai, dijepit sedikit di satu sisi dengan jepit rambut mutiara. Riasannya tipis. Bibirnya merah muda.

Dia terlihat berbeda dari malam reuni. Tidak seperti pemeran utama film yang masuk ke adegan untuk menyelamatkan seseorang. Dia terlihat seperti perempuan yang datang untuk diselamatkan. Gugup. Rapuh. Matanya sedikit sembap, seperti orang yang kurang tidur.

Dia melihat warung yang kosong. Lampu-lampu bohlam kuning yang masih tergantung zig-zag dari malam reuni, karena Dodoy terlalu malas melepasnya. Lilin-lilin kecil di setiap meja. Rangkaian bunga sedap malam. Dan tumpeng kuning setinggi empat puluh senti di tengah meja nomor empat, dengan ayam ingkung yang menatap pintu dengan mata kosong.

Lalu dia melihatku.

“Esa,” katanya. “Ini... apa?”

“Dodoy,” kataku.

“Mas Dodoy?”

Dodoy menyembulkan kepala dari pintu dapur. Gendis menyembulkan kepala di bawahnya. Ipul menyembulkan kepala di bawah Gendis. Tiga kepala bertumpuk seperti boneka susun.

“Selamat malam, Mbak Ayasha!” kata Dodoy. “Silakan duduk! Anggap kami nggak ada!”

“Kalian ada,” kata Ayasha.

“Kami konsisten,” kata Dodoy, lalu menarik kepalanya kembali ke dapur. Gendis dan Ipul tetap di tempat.

Ayasha menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, dia tertawa. Pelan. Gugup. Tapi tertawa.

Dia berjalan ke meja nomor empat dan duduk di kursi di sebelahku. Kursi yang sama dengan malam reuni.

“Kamu bikin tumpeng?” bisiknya.

“Dodoy yang bikin. Aku cuma minta meja.”

“Ayamnya ngeliatin aku.”

“Ayamnya juga deg-degan.”

Dia tertawa lagi. Lebih lepas sekarang.


Aku tidak tahu cara menembak perempuan.

Aku sudah mencari di internet tadi malam. Hasilnya: bunga, cincin, makan malam romantis di restoran mahal, flash mob, pesawat yang menulis di langit. Aku bisa melakukan semua itu. Aku bisa menyewa pesawat. Aku bisa membeli cincin berlian sebesar biji kacang. Aku bisa memesan seluruh restoran di puncak gedung tertinggi di Jakarta.

Tapi kalau aku melakukannya, dia akan tahu. Dan aku tidak mau dia tahu dulu. Belum. Bukan malam ini.

Dan lagi, aku tidak mau menembaknya dengan sesuatu yang bisa dibeli.

Aku mengambil piring nasi di depanku, piring yang sudah diisi Dodoy dengan nasi kuning dari tumpeng, sepotong ayam ingkung, telur balado, perkedel, dan tempe orek. Aku mengambil piring kecil kosong dari tengah meja.

Lalu, pelan, dengan tangan yang sedikit gemetar, aku memindahkan separuh lauk dari piringku ke piring kecil.

Separuh ayam. Separuh telur. Separuh perkedel. Separuh tempe.

Aku mendorong piring kecil itu ke depannya.

Ayasha menatap piring kecil itu. Matanya membesar. Bibirnya terbuka.

Lalu aku mengeluarkan kertas sobekan buku tulis dari saku hoodie, membuka lipatannya, dan meletakkannya di samping piring kecil itu.

Tulisan tangan miring. Terburu-buru. Seperti catatan di pintu kulkas.

Mau jadi pacarku? Yang beneran. Yang nggak pakai kontrak. Yang tiap hari aku sisain separuh. — E


Ayasha menatap kertas itu.

Dia tidak bergerak. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap tulisan tanganku, terutama huruf E di bagian bawah dengan garis miring yang terburu-buru.

Lalu air matanya jatuh.

Bukan menetes pelan seperti di meja makan panti. Jatuh. Deras. Seperti hujan di Jalan Pakubuwono yang turun tanpa gerimis sebagai pemanasan. Dia menutup mulutnya dengan dua tangan. Bahunya berguncang. Suara isakan keluar dari balik tangannya, keras, tidak tertahan.

Aku panik.

“Sha—”

Dia menggeleng. Masih menangis. Masih menutup mulut.

“Sha, kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa, aku...”

“SA!”

Dodoy keluar dari dapur dengan spatula di tangan dan wajah merah padam.

“SA! LO DITOLAK?!”

“Doy, belum...”

“MBAK AYASHA!” Dodoy berbalik ke Ayasha, menunjuknya dengan spatula. “TEGA! TEGA BANGET! DIA UDAH BELAJAR NULIS SURAT SEMALEMAN! GUE LIAT DI TONG SAMPAH ADA SEMBILAN KERTAS YANG DIBUANG!”

“Doy, itu rahasia...”

“NGGAK ADA RAHASIA DI MOMEN SAKRAL!”

“Mas Dodoy.” Gendis keluar dari dapur, meraih lengan Dodoy, dan menariknya pelan. “Mas. Dia nggak nolak.”

“Dia nangis, Mbak!”

“Dia nangis karena seneng.”

“Orang seneng nggak nangis kayak gitu, Mbak! Itu nangis kayak orang ditinggal mati!”

Gendis menatap Dodoy. Lalu, dengan suara lembut dan sangat sabar, seperti guru yang menjelaskan sesuatu kepada murid kelas tiga:

“Mas, aku nangis waktu pertama makan puding sambal Mas.”

Dodoy membeku.

“Itu nangis seneng,” kata Gendis. “Atau kepedesan. Tapi sebagian besar seneng.”

Dodoy menatap Gendis. Spatula di tangannya turun pelan-pelan. Wajahnya yang merah padam berubah jadi merah dengan warna yang berbeda. Merah yang lebih lembut. Merah orang yang baru diberi tahu sesuatu yang membuatnya ingin pingsan.

“...Oh,” katanya.

“Iya,” kata Gendis. “Oh.”

Ipul, di ambang pintu dapur, menutup matanya dengan dua tangan. “Ya Allah, ada dua lagi,” gumamnya.


Ayasha menurunkan tangannya dari mulut.

Wajahnya basah. Maskaranya luntur lagi. Hidungnya merah. Dia terlihat berantakan, cengeng, dan lebih cantik dari kapan pun aku pernah melihatnya.

Dia menatapku. Matanya merah dan basah dan bercahaya.

“Kamu tau nggak,” katanya, suaranya serak dan tersedak, “kamu nyisain separuh lauk buat aku dari pertama kali kita ketemu.”

“Di reuni.”

Dia menatapku sangat lama setelah aku mengatakannya. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang muncul sebentar, lalu hilang. Sesuatu yang sedih. Sesuatu yang ingin dikatakan dan ditelan kembali.

Lalu dia tersenyum. Senyum yang basah dan bergetar.

“Iya,” bisiknya. “Di reuni.”

Dia mengambil kertas sobekan buku tulis itu. Melipatnya pelan. Menyimpannya di saku kardigan, di dekat dada. Lalu dia mengambil sendok, menyendok separuh perkedel dari piring kecil, dan memakannya.

“Iya,” katanya dengan mulut penuh perkedel. “Iya, Esa. Mau.”

Di dapur, Dodoy menjerit.

Bukan teriakan. Jeritan. Nada tinggi, panjang, seperti peluit kereta api. Lalu dia memeluk Gendis. Lalu dia sadar dia memeluk Gendis, dan melepaskannya, dan meminta maaf, dan Gendis tertawa dan memeluknya balik, dan Dodoy menjerit lagi dengan nada yang berbeda.

Ipul menyalakan lilin-lilin kecil di meja sambil menangis.

Ayasha menelan perkedelnya. Lalu dia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, dan duduk di pangkuanku.

Begitu saja. Di depan Dodoy, Gendis, Ipul, dan ayam ingkung.

Dia melingkarkan kedua lengannya di leherku. Wajahnya sangat dekat. Ada sisa perkedel di sudut bibirnya.

“Pacar,” bisiknya. “Yang beneran.”

“Iya.”

“Bukan kontrak.”

“Bukan.”

“Nggak ada pasal-pasalan lagi.”

“Nggak ada.”

“Jadi aku boleh nyium kamu kapan aja, di mana aja, tanpa alasan Bram?”

“...Boleh.”

Dia tersenyum. Lalu dia menciumku. Rasanya nasi kuning dan perkedel dan air mata.

Di belakangnya, Dodoy menutup mata Ipul lagi.

“Mas, saya udah dua puluh lima tahun, Mas!”

“Ini momen sakral, Pul! Bukan tontonan!”


Kami tidak menghabiskan tumpeng. Tidak ada yang bisa menghabiskan tumpeng setinggi empat puluh senti, bahkan aku. Dodoy membungkus sisanya ke dalam dua belas kotak dan memaksa kami membawa enam.

Jam sepuluh malam, aku mengantar Ayasha pulang.

Di lampu merah Pancoran, dia memelukku dari belakang lebih erat dari biasanya. Dagunya di bahuku. Napasnya di telingaku.

“Esa.”

“Hm?”

“Pacar beneran,” bisiknya, “boleh nginep nggak?”

Bubur oleng sedikit.

“Bu Darsih nggak bolehin,” kataku. “Aturan nomor satu.”

“Kalau di tempatku?”

Lampu masih merah. Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Aku menatap lampu merah itu seperti lampu merah itu bisa memberiku jawaban.

Ayasha menyandarkan dagunya lebih berat di bahuku.

“Jumat,” bisiknya. “Kalau hujan.”

“Kalau nggak hujan?”

“Aku doain hujan.”

Lampu hijau. Aku tidak bergerak. Klakson di belakang kami berbunyi. Ayasha tertawa di telingaku dan menepuk perutku.

“Jalan, Sayang. Kamu udah diklakson.”

Aku menjalankan Bubur.


Di kos, aku berbaring di bawah peta Kalimantan dan membuka WhatsApp.

Kontak di urutan teratas: Pacar (Kontrak).

Aku menekan namanya. Menekan Edit. Menghapus kata (Kontrak).

Lalu aku menatap layar. Kontak itu sekarang hanya bernama Pacar.

Tidak terasa cukup.

Aku menghapusnya lagi. Mengetik ulang.

Ayasha 🩶

Emoji hati abu-abu. Warna hoodie. Warna yang dia pakai di namanya sendiri untuk kontakku, yang kuketahui waktu tidak sengaja melihat layar ponselnya di KRL.

Aku menyimpannya.

Lalu ponselku bergetar.

Ayasha 🩶: Esa.

Ayasha 🩶: Makasih.

Ayasha 🩶: Kertasnya aku simpen. Selamanya.

Ayasha 🩶: Selamat tidur, Pacar.

Aku membaca empat pesan itu. Lalu membacanya lagi.

Makasih.

Aneh. Kata itu membuat sesuatu di dadaku bergeser. Tidak sakit. Tapi tidak nyaman juga. Seperti ada yang mengetuk pintu dari dalam, pintu yang selama ini kukunci.

Aku tidak tahu kenapa satu kata makasih dari dia terasa seperti sesuatu yang lebih besar dari tumpeng, separuh lauk, dan secarik kertas sobekan buku tulis.

Aku tidak tahu, malam itu, bahwa dia sudah mengucapkan kata itu padaku tujuh kali sebelumnya.

Dalam tujuh amplop yang diikat karet gelang di laci meja kerja yang tidak pernah kubuka.