Chapter Eighteen
Hoodie Ini Sekarang Punyaku
POV: Esa
Kos Bu Darsih punya tujuh aturan. Aturan-aturan itu ditulis tangan dengan spidol hitam di selembar karton kuning, dilaminasi, dan ditempel di dinding dekat tangga sejak tahun 2009.
1. DILARANG MEMBAWA LAWAN JENIS KE KAMAR. 2. TAMU LAWAN JENIS HANYA BOLEH DI TERAS SAMPAI JAM 21.00. 3. BAYAR KOS TANGGAL 1. (ESA, INI BUAT KAMU.) 4. DILARANG MEMASAK DI KAMAR. 5. LAMPU KAMAR MANDI MATIKAN SETELAH DIPAKAI. 6. JANGAN BERISIK SETELAH JAM 22.00. 7. JANGAN MEMBERI MAKAN PAK LURAH. PAK LURAH SEDANG DIET.
Tulisan (ESA, INI BUAT KAMU.) di aturan nomor tiga ditambahkan dengan spidol merah sekitar empat tahun lalu.
Selama tujuh tahun aku tinggal di kos ini, aku melanggar aturan nomor tiga sekitar delapan puluh kali, aturan nomor tujuh sekitar dua ratus kali (Pak Lurah memang sedang diet, tapi Pak Lurah juga sangat persuasif), dan tidak pernah sekali pun melanggar aturan nomor satu dan dua.
Malam itu, jam sembilan lewat lima belas menit, aku melanggar keduanya.
Ayasha datang naik ojek online.
Aku mendengar motornya berhenti di depan pagar. Aku mendengar pintu pagar besi berderit. Aku mendengar langkah kaki di teras, ringan, cepat, dengan bunyi plak plak plak yang sangat kukenal.
Sandal jepit hijau neonku.
Lalu aku mendengar Bu Darsih.
“YA ALLAH.”
Aku membuka pintu kamar.
Ayasha berdiri di tengah teras di bawah lampu neon yang dikerubungi laron. Dia memakai hoodie abu-abuku, hoodie yang dia bawa pulang dari trotoar Tebet malam reuni. Hoodie itu kebesaran di tubuhnya, ujungnya jatuh sampai pertengahan paha. Lengannya menutupi telapak tangan. Tudungnya terpasang di kepala, rambutnya mengintip dari baliknya.
Di bawah hoodie itu, yang terlihat cuma kakinya. Kaki telanjang yang panjang, dari pertengahan paha sampai sandal jepit hijau neon kebesaran tiga nomor.
Bu Darsih berdiri di ambang pintu rumah induk dengan daster batik, rol rambut, dan Pak Lurah di gendongan. Mulutnya terbuka lebar. Pak Lurah juga.
“Malam, Bu,” kata Ayasha manis.
“KAMU NGGAK PAKE CELANA?”
“Pake, Bu.” Ayasha mengangkat ujung hoodie sedikit, cukup untuk memperlihatkan ujung celana pendek katun abu-abu di balik ujung hoodie. “Celananya pendek. Ketutupan hoodie.”
“Pendek BANGET!”
“Ini celana tidur, Bu.”
“KENAPA KAMU PAKE CELANA TIDUR KE KOS COWOK?”
Pintu-pintu kamar lain di lantai dasar terbuka satu per satu. Rizal, mahasiswa semester lima dari kamar dua, keluar dengan kaos kutang dan sikat gigi masih di mulut. Pak Tono, sopir ojek online dari kamar empat, keluar dengan sarung dan peci. Mas Andre, karyawan bank dari kamar lima, keluar dengan masker wajah berwarna hijau.
Mereka berdiri berjejer di teras, menatap Ayasha.
Lalu menatapku.
Rizal menjatuhkan sikat giginya.
“Bang Esa,” katanya pelan, busa pasta gigi menetes di dagunya. “Itu siapa?”
“Pacar,” kataku.
Hening.
Itu pertama kalinya aku mengucapkan kata itu tanpa tambahan pura-pura atau kontrak, bahkan di dalam kepalaku sendiri. Kata itu keluar begitu saja dan langsung menggantung di udara teras yang penuh laron.
Ayasha menoleh ke arahku. Matanya membesar. Lalu dia tersenyum. Senyum yang sangat, sangat lebar.
Pak Tono melepas pecinya, mengelus kepalanya yang botak, lalu memakai pecinya lagi. Mas Andre menyentuh masker hijau di wajahnya, seolah memastikan dia tidak sedang bermimpi.
Bu Darsih menatap Ayasha. Lalu menatapku. Lalu menatap karton kuning berlaminasi di dinding dekat tangga.
“Sa,” katanya. “Aturan nomor satu.”
“Iya, Bu.”
“Aturan nomor dua.”
“Iya, Bu.”
“Sekarang jam sembilan lewat lima belas.”
“Iya, Bu.”
Bu Darsih menarik napas panjang. Sangat panjang. Pak Lurah di gendongannya ikut menghela napas, karena dadanya tertekan.
Lalu Ayasha melangkah maju. Dia mendekati Bu Darsih, menurunkan tudung hoodie, merapikan rambutnya, lalu mencium tangan Bu Darsih dengan sopan sekali.
“Bu,” katanya lembut, “saya cuma mau balikin hoodie Mas Esa. Sepuluh menit. Pintu kamarnya kebuka. Ibu boleh ngawasin dari sini.”
Bu Darsih menatap Ayasha. Lalu menatap hoodie abu-abu yang dipakainya.
“Balikin hoodie,” ulangnya.
“Iya, Bu.”
“Hoodie-nya kamu pake.”
“Iya, Bu. Biar nggak ketinggalan.”
Rizal tersedak busa pasta gigi.
Bu Darsih menatap Ayasha selama lima detik penuh. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya terangkat. Senyum yang sangat kecil. Senyum ibu-ibu yang pernah muda dan pernah melakukan hal-hal bodoh di depan ibu kos.
“Sepuluh menit,” katanya. “Pintu kebuka. Lebar. Ibu duduk di teras.”
“Makasih, Bu.”
“Dan kalian,” Bu Darsih berbalik ke Rizal, Pak Tono, dan Mas Andre, “masuk kamar! Ini bukan tontonan!”
Tidak ada yang masuk kamar.
Bu Darsih menyeret kursi plastik ke tengah teras, persis di depan pintu kamarku, dan duduk di sana dengan Pak Lurah di pangkuan. Rizal, Pak Tono, dan Mas Andre ikut menyeret kursi masing-masing dan duduk berjejer di belakangnya, seperti penonton bioskop di baris kedua.
Ayasha masuk ke kamarku.
Dia berhenti di tengah ruangan tiga kali tiga meter itu dan melihat sekeliling. Kasur di lantai dengan seprai biru tua yang sudah pudar. Kipas angin yang batuk. Meja lipat dengan laptop tua. Rak buku dari kardus berisi buku-buku pemrograman dan beberapa novel bekas. Kemeja biru tua yang tergantung rapi di paku dinding, satu-satunya pakaian yang digantung dengan hati-hati. Galon air tinggal seperempat.
Lalu dia mendongak dan melihat langit-langit.
“Itu...” dia menyipitkan mata. “Peta Kalimantan?”
“Bekas bocor.”
“Mirip banget.”
“Iya. Aku udah tujuh tahun liatin.”
Ayasha menatap peta Kalimantan itu lama. Lalu menunduk dan menatapku. Wajahnya berubah lembut.
“Kamu tidur di sini,” katanya, “padahal klienmu punya kamar segede lapangan futsal.”
“Klienku kan klien.”
“Iya.” Dia tersenyum kecil. “Klienmu.”
Dia berjalan ke dinding dan menyentuh kemeja biru tua yang tergantung di paku. Ujung jarinya mengusap kain di bagian kerah.
“Kamu gantung rapi,” katanya.
“Kamu yang milih.”
Ayasha diam. Tangannya masih di kerah kemeja itu. Lalu dia berbalik menghadapku, dan sesuatu di wajahnya berubah lagi. Bukan lembut. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat suhu kamar tiga kali tiga meter itu naik dua derajat.
“Oke,” katanya pelan. “Aku dateng buat balikin hoodie.”
“Iya.”
Dia meraih resleting hoodie di bawah dagunya. Jari-jarinya memegang kepala resleting.
“Mau kubalikin sekarang?”
Jantungku berhenti.
Dia menarik resleting itu turun. Satu senti. Pelan. Bunyinya zzzt kecil, tapi terdengar sangat keras di kamar yang tiba-tiba sunyi.
Dua senti.
Di balik hoodie, aku melihat kaos tipis warna putih dengan leher bulat.
Tiga senti.
“Sha,” kataku. Suaraku keluar serak.
“Hm?”
“Pintunya kebuka.”
“Aku tau.”
“Bu Darsih di teras.”
“Aku tau.”
“Sama Rizal. Sama Pak Tono. Sama Mas Andre yang pake masker ijo.”
Ayasha berhenti menarik resleting. Dia menoleh ke arah pintu. Di luar, di teras, di bawah lampu neon berlaron, empat orang dan satu kucing duduk berjejer di kursi plastik, menatap ke dalam kamarku dengan wajah serius seperti juri lomba.
Mas Andre melambaikan tangan.
Ayasha menoleh lagi padaku. Lalu dia tertawa. Tawanya pecah, keras, sampai dia harus berpegangan pada rak buku kardus.
“Oke,” katanya, menyeka mata. “Oke. Nggak sekarang.”
Dia menarik resleting hoodie naik lagi sampai ke dagu. Lalu dia berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai berdiri tepat di depanku, di ambang pintu kamar, di garis antara dalam dan luar.
“Hoodie ini,” katanya, sambil memegang kedua sisi kerahnya, “nggak jadi kubalikin.”
“Kenapa?”
“Karena ini sekarang punyaku.” Dia mengangkat dagu. “Udah wangi aku. Bukan wangi kamu lagi. Jadi punyaku.”
“Itu bukan cara kerja kepemilikan.”
“Itu cara kerja kepemilikan di kontrak kita. Pasal sembilan.”
“Nggak ada pasal sembilan.”
“Sekarang ada.”
Aku menatapnya. Perempuan dengan hoodie-ku, sandal jepitku, dan celana pendek abu-abu yang membuat Bu Darsih nyaris pingsan. Perempuan yang berdiri di ambang pintu kamarku jam sembilan malam, melanggar dua aturan kos sekaligus, di depan empat penonton dan satu kucing diet.
Dan aku sadar aku tidak mau dia membalikkan apa pun. Aku tidak mau hoodie itu kembali. Aku tidak mau sandal jepit itu kembali. Aku mau dia memiliki semuanya.
Aku mengangkat tangan dan meraih tali hoodie yang menggantung di dadanya. Satu-satunya tali yang tersisa. Aku menariknya. Pelan.
Ayasha terseret maju setengah langkah. Ujung kakinya menyentuh ujung kakiku.
“Oke,” kataku. “Punyamu.”
Matanya membesar.
Lalu aku menciumnya.
Bukan seperti di tenda pecel lele. Bukan pelan, hati-hati, seperti orang yang baru belajar.
Aku menciumnya seperti orang yang sudah menahan sesuatu terlalu lama.
Tanganku di tengkuknya, di balik tudung hoodie, jari-jariku masuk ke rambutnya. Tangan satunya di pinggangnya, menariknya merapat. Ayasha terkesiap di bibirku, lalu suara kecil itu hilang, berubah menjadi sesuatu yang lain. Tangannya mencengkeram kaos oblongku di dada. Lalu naik. Ke leherku. Ke rahangku. Ke rambutku. Dia membuka bibirnya, dan aku memperdalam ciuman itu, dan dunia di luar ambang pintu kamar tiga kali tiga meter itu menghilang.
Tidak ada teras. Tidak ada lampu neon. Tidak ada laron. Tidak ada Bu Darsih.
Hanya dia. Rasa bibirnya. Napasnya yang tersengal. Jari-jarinya yang mencengkeram rambutku. Punggungnya yang menempel di kusen pintu. Tubuhnya yang merapat ke tubuhku dari dada sampai lutut. Hoodie abu-abu yang dulu milikku, yang sekarang miliknya, di antara kami.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku sudah berhenti menghitung sejak tenda pecel lele.
Yang menghentikan kami bukan Bu Darsih.
Yang menghentikan kami adalah Pak Lurah.
Kucing gendut oranye itu meloncat dari pangkuan Bu Darsih, berjalan ke ambang pintu, dan duduk tepat di antara kaki kami. Lalu dia mengeong. Keras. Panjang. Dengan nada protes yang sangat jelas.
Ayasha melepaskan ciumannya dan menunduk. Napasnya terengah-engah. Bibirnya merah dan sedikit bengkak. Matanya basah dan gelap.
Pak Lurah menatap kami dari bawah dengan mata kuning yang menghakimi.
“...Kayaknya,” bisik Ayasha, terengah, “Pak Lurah nggak setuju.”
“Pak Lurah lagi diet,” bisikku balik. “Dia sensitif sama apa pun yang dia nggak boleh punya.”
Ayasha tertawa. Dahinya jatuh ke dadaku. Bahunya berguncang.
Dari teras, terdengar suara Bu Darsih. Pelan. Gemetar.
“...Tujuh menit.”
Aku mengangkat kepala. Bu Darsih masih duduk di kursi plastiknya. Wajahnya merah padam. Tangannya menutup mulut. Di belakangnya, Rizal menutup matanya dengan dua tangan, tapi jarinya terbuka lebar. Pak Tono menatap langit dan komat-kamit, sepertinya berdoa. Mas Andre melepas masker hijaunya, karena maskernya sudah retak-retak akibat dia ternganga terlalu lama.
“Masih ada tiga menit lagi, Bu,” kata Ayasha dari balik dadaku, tanpa menoleh.
“TIGA MENIT ITU BUAT NGOBROL!” Bu Darsih berdiri. “BUKAN BUAT... BUAT... ITU!”
“Iya, Bu.”
“Ibu ini udah enam puluh tiga tahun! Jantung Ibu nggak kuat!”
“Maaf, Bu.”
Bu Darsih menatap kami. Lalu, tiba-tiba, dia mengipasi wajahnya sendiri dengan tangan dan duduk lagi.
“Ya Allah,” gumamnya. “Bapak dulu nggak pernah begitu.”
Ayasha akhirnya duduk di kasurku, dengan pintu masih terbuka lebar, dan kami makan martabak manis yang dia bawa dari depan gang. Martabak cokelat keju. Dia memotong separuhnya dan mendorong kotak itu ke depanku.
“Separuh,” katanya. “Buat kamu.”
Aku menatap martabak itu. Lalu menatapnya.
“Kamu yang beli.”
“Iya. Dan aku yang nyisain separuh. Buat kamu.” Dia menatapku dengan mata yang tiba-tiba serius. “Kamu boleh nerima, Esa. Ini cuma martabak.”
Aku terdiam.
Lalu aku mengambil sepotong dan memakannya. Ayasha tersenyum dan ikut makan.
Rizal, Pak Tono, dan Mas Andre akhirnya masuk kamar masing-masing setelah Bu Darsih mengancam akan menaikkan uang kos mereka. Bu Darsih sendiri tetap duduk di teras, tapi sekarang membelakangi pintu kamarku, dengan Pak Lurah di pangkuan, mengawasi gerbang depan dan sesekali bergumam sendiri tentang anak muda zaman sekarang.
“Esa,” kata Ayasha pelan, setelah potongan martabak ketiga.
“Hm?”
“Tadi kamu bilang ke Rizal ‘pacar’.”
“Iya.”
“Bukan ‘pacar pura-pura’.”
“...Iya.”
Dia meletakkan martabaknya. Menatapku. Lampu neon kamar membuat wajahnya terlihat pucat, tapi matanya bercahaya.
“Aku pengin kamu,” katanya. Lagi. Pelan. Persis seperti di parkiran kafe Kemang. “Udah aku bilang tadi siang. Tapi aku bilang lagi. Biar kamu inget.”
“Aku inget.”
“Aku pengin kamu,” ulangnya, lebih pelan lagi. “Bukan cuma ciuman di pintu. Bukan cuma pelukan di motor. Aku pengin kamu semuanya.”
Aku menatapnya. Tenggorokanku kering.
“Sha.”
“Hm?”
“Aku juga.”
Ayasha menahan napas.
“Aku juga pengin kamu,” kataku, dan suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, karena aku belum pernah mengucapkan kalimat itu kepada siapa pun. “Semuanya.”
Dia menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Kecil. Gemetar.
“Terus kontraknya gimana?”
Aku memikirkan kontrak itu. Pasal satu sampai sembilan. Pasal yang kutulis dan kuhapus di aplikasi catatan jam sebelas malam. Pasal yang dia buat sendiri dengan tulisan kecil di bawah.
“Kontraknya buat Bram,” kataku. “Selama Bram belum nyerah, kontraknya jalan.”
“Kalau Bram udah nyerah?”
Aku tidak tahu jawabannya.
Ayasha juga tidak menunggu jawabannya. Dia hanya menyandarkan kepalanya ke bahuku, di atas kasur di lantai, di bawah peta Kalimantan, dengan pintu terbuka lebar dan ibu kos yang membelakangi kami di teras.
“Sepuluh menit udah lewat dari tadi,” bisiknya.
“Iya.”
“Bu Darsih nggak negur.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menoleh ke arah teras. Bu Darsih masih duduk membelakangi pintu. Bahunya bergerak pelan, naik turun. Dia sedang mengelus Pak Lurah. Dan dia bersenandung. Pelan. Lagu dangdut lama tentang cinta yang tidak jadi pergi.
“Kayaknya,” kataku, “Bu Darsih lagi inget sesuatu.”
Ayasha tersenyum di bahuku.
Jam sepuluh tepat, Bu Darsih berdiri, berbalik, dan mengetuk kusen pintu kamarku dengan sangat sopan.
“Nak Ayasha,” katanya. “Udah jam sepuluh. Esa anterin pulang. Pakai helm.”
“Iya, Bu.”
“Dan Sa.”
“Ya, Bu?”
Bu Darsih menatapku. Wajahnya tegas. Tapi matanya berkaca-kaca.
“Bulan depan bayar kos tanggal satu,” katanya. “Kamu sekarang punya alasan buat nggak lupa.”
Lalu dia berbalik dan masuk ke rumah induk, menggendong Pak Lurah yang mengeong protes karena harus pergi sebelum melihat bagaimana cerita ini berakhir.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku reading
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali