Chapter Twenty Two
Lampu yang Kumatikan Sendiri
POV: Esa
Lilin terakhir aku yang meniup.
Aku ingat itu dengan jelas. Lebih jelas dari apa pun malam itu. Lilin putih kecil di meja dekat pintu kamar, yang nyalanya bergoyang setiap kali petir menyambar. Ayasha sudah di dalam kamar, di tepi ranjang, menatapku dengan mata gelap dan bibir yang masih merah karena ciuman di ruang tamu. Tangannya terulur. Menunggu.
Aku menoleh ke lilin itu.
Selama dua puluh sembilan tahun, aku selalu jadi orang yang menyalakan lampu untuk orang lain. Menyalakan lampu kamar anak-anak kecil di panti waktu mereka takut. Menyalakan senter ponsel waktu Dodoy terjatuh di gang gelap. Menyalakan lampu di rumah Pondok Indah yang tidak pernah kutinggali, hanya supaya Pak Ujang tidak kesepian.
Aku tidak pernah mematikan lampu untuk diriku sendiri. Tidak pernah membiarkan gelap datang dan memercayai bahwa seseorang akan tetap di sana waktu aku tidak bisa melihatnya.
Aku membungkuk dan meniup lilin itu.
Gelap.
Lalu tangannya menemukan tanganku dalam gelap. Hangat. Pasti. Menarikku pelan.
“Aku di sini,” bisiknya.
Aku tidak akan menceritakan sisanya.
Bukan karena malu. Tapi karena ada hal-hal yang terlalu berharga untuk diceritakan, seperti surat yang terlalu berharga untuk dibuka. Yang bisa kukatakan hanya ini: dia sabar. Aku canggung. Dia tertawa sekali, pelan, di leherku, waktu aku meminta maaf karena menyikut lengannya, dan tawa itu membuat semuanya lebih mudah. Hujan tidak berhenti. Petir sesekali menyambar dan membuat wajahnya terlihat sekilas dalam cahaya putih, dan setiap kali itu terjadi, dia sedang menatapku.
Dan di suatu titik, di tengah gelap dan hujan dan suara napasnya, aku sadar bahwa aku tidak sedang menghitung apa pun.
Tidak menghitung jarak. Tidak menghitung detik. Tidak menghitung apa yang sudah kuberikan dan apa yang sudah kuterima.
Aku hanya ada.
Di sana. Dengan dia.
Untuk pertama kalinya, seseorang memberiku sesuatu, dan aku menerimanya tanpa memikirkan bagaimana cara membayarnya kembali.
Aku terbangun karena bunyi kulkas.
Bunyi dengung panjang, lalu klik, lalu bunyi AC yang menyala kembali dengan desisan pelan. Listrik sudah kembali. Di luar jendela, langit Pancoran berwarna abu-abu pucat, sisa hujan menetes dari pinggiran atap.
Aku tidak langsung membuka mata.
Ada kepala di dadaku. Rambut panjang yang tersebar di lenganku seperti tinta. Napas pelan dan teratur di kulitku. Satu tangan di perutku, jari-jarinya melingkar lemah, seperti orang yang memegang sesuatu bahkan dalam tidur supaya tidak hilang.
Aku membuka mata.
Langit-langit kamar Ayasha putih bersih. Tidak ada retak. Tidak ada peta Kalimantan. Hanya putih, dan bayangan tirai tipis yang bergoyang karena angin AC.
Aku menatap langit-langit itu lama.
Lalu aku menunduk dan menatap perempuan di dadaku.
Dia masih tidur. Wajahnya setengah tertutup rambut. Mulutnya sedikit terbuka. Ada bekas maskara luntur di bawah matanya. Ada noda basah kecil di dadaku, di bawah sudut bibirnya.
Aku menatap noda itu. Lalu tersenyum.
Itu bukan iler, dia akan bilang. Itu keringat bibir.
Aku menyingkirkan rambut dari wajahnya. Pelan. Menyelipkannya ke balik telinga, seperti di KRL. Ujung jariku menyentuh pelipisnya.
Dia bergerak. Mengerutkan hidung. Membuka mata setengah.
“Hm,” gumamnya.
“Pagi.”
Dia menatapku dengan mata setengah terpejam selama tiga detik. Lalu matanya terbuka penuh. Lalu dia menyadari di mana dia, dengan siapa, dan dalam keadaan apa. Pipinya memerah pelan, dari tulang pipi ke telinga, persis seperti di depan gerbang Pondok Indah.
Lalu dia menyembunyikan wajahnya di dadaku.
“Jangan liatin,” katanya, teredam.
“Kenapa?”
“Mukaku jelek kalau baru bangun.”
“Nggak.”
“Ada maskara luntur.”
“Ada.”
“Ada iler.”
“Keringat bibir.”
Dia mengangkat kepala. Menatapku dengan mata menyipit. Lalu tertawa. Tawanya serak karena baru bangun, dan bergetar di dadaku.
“Kamu inget,” katanya.
“Aku inget semuanya.”
Tawanya berhenti. Dia menatapku. Matanya berubah lembut, lalu sesuatu yang lain lewat di sana. Cepat. Seperti bayangan awan di atas air. Sesuatu yang sedih.
Lalu hilang.
“Aku laper,” katanya.
Aku menawarkan diri membuat sarapan.
Itu kesalahan.
Ayasha keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan memakai hoodie abu-abuku. Hoodie yang semalam kujemur di kamar mandi, yang sekarang sudah setengah kering. Ujungnya jatuh sampai paha. Lengannya menutupi tangannya. Di bawahnya, kakinya telanjang.
Dia berdiri di ambang pintu dapur dan menatap penggorengan di tanganku.
Penggorengan itu mengeluarkan asap hitam.
“Esa,” katanya pelan.
“Hm?”
“Itu telur?”
Aku menatap isi penggorengan. Sesuatu yang dulunya telur. Sekarang bentuknya seperti batu bara kecil yang hitam di pinggir dan masih cair di tengah, karena aku menyalakan api terlalu besar dan lupa menuang minyak.
“Tadinya,” kataku.
“Kamu bisa masak?”
“Bisa masak mi.”
“Mi instan?”
“Mi instan bisa.”
“Telur?”
“Telur nggak bisa.”
Ayasha berjalan ke arahku. Mengambil penggorengan dari tanganku. Mematikan kompor. Membuang batu bara telur itu ke tempat sampah. Lalu, dengan gerakan yang sama santainya, dia berbalik, berdiri di depanku, dan mengalungkan kedua lengannya di leherku.
Hoodie-ku di tubuhnya. Rambutnya basah, menetes ke kaos oblong putih yang kupakai.
“Dua puluh sembilan tahun,” katanya, “kamu nggak pernah belajar goreng telur?”
“Di panti telurnya digoreng Bu Ratna. Di kos, beli di Mak Ijah.”
“Di rumah klienmu?”
Aku terdiam.
Ayasha tersenyum. Senyum kecil yang dimulai dari sudut kiri.
“Sini,” katanya, melepaskan leherku dan menarik tanganku ke kompor. “Aku ajarin.”
Dia berdiri di depan kompor. Aku berdiri di belakangnya.
“Pegang penggorengannya,” katanya.
Aku memegang gagang penggorengan dari belakangnya. Tanganku di atas tangannya. Dadaku menempel di punggungnya. Daguku di atas kepalanya.
“Nyalain apinya. Kecil. Kecil, Esa. Itu gede. Itu bakal bakar dapur lagi.”
Aku mengecilkan api.
“Minyak. Satu sendok. Tunggu sampai panas.”
Kami menunggu. Minyak mulai berkilat. Ayasha bersandar ke dadaku dengan seluruh berat badannya. Rambutnya yang basah wangi sampo melati.
“Sekarang pecahin telurnya,” katanya. “Pelan-pelan.”
Aku memecahkan telur di pinggir penggorengan. Cangkangnya ikut masuk.
“Esa.”
“Maaf.”
Dia mengambil cangkang itu dengan ujung spatula, sambil tertawa. Tawanya bergetar di dadaku. Lalu dia menoleh dari balik bahunya. Wajahnya sangat dekat. Bibirnya hampir menyentuh rahangku.
“Kamu tau nggak,” bisiknya, “kamu kalau lagi konsentrasi, alisnya ketemu di tengah.”
“Masa?”
“Kayak gini.” Dia mengangkat jari dan menekan pelan di antara kedua alisku. “Lucu.”
Aku menunduk dan menciumnya. Di pipi. Lalu di sudut bibir. Lalu di bibir. Pelan. Lama.
Telurnya gosong lagi.
Kali ini kami berdua tidak peduli.
Akhirnya Ayasha yang menggoreng telur, sementara aku duduk di kursi bar dan menonton. Telur ceplok setengah matang dengan pinggiran renyah, ditaburi lada dan sedikit kecap. Dia meletakkan satu piring di depanku dan satu piring di depannya.
Aku menatap telurku. Lalu aku mengambil piring kecil.
Tapi sebelum aku sempat memotong telurku, Ayasha sudah memotong telurnya jadi dua dan meletakkan separuhnya di piring kecil, lalu mendorongnya ke depanku.
“Separuh,” katanya. “Buat kamu.”
Aku menatap piring kecil itu.
Tanganku masih memegang pisau di atas telurku sendiri, siap memotong.
“Esa,” katanya pelan. “Kamu boleh nerima.”
Aku meletakkan pisauku.
Aku makan telurku sendiri. Utuh. Lalu aku makan separuh telurnya juga.
Dia menonton aku makan dengan dagu bertumpu di tangan, tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Gitu,” katanya. “Gampang, kan?”
Tidak gampang.
Tapi lebih gampang dari yang kukira.
Aku pulang jam sepuluh pagi.
Dia mengantarku sampai pintu unit. Masih memakai hoodie-ku. Dia berdiri di ambang pintu dengan kaki telanjang, rambut setengah kering, dan senyum yang tidak mau hilang.
“Hoodie-nya?” tanyaku.
“Punyaku.”
“Itu yang lebih belel. Yang satunya udah kamu ambil duluan.”
“Sekarang dua-duanya punyaku.” Dia mengangkat dagu. “Kamu harus beli hoodie baru.”
“Aku nggak suka beli baju.”
“Ya udah. Nanti aku yang beliin.”
Aku membuka mulut untuk menolak. Refleks. Sebelas tahun kebiasaan.
Lalu aku menutup mulutku.
“...Oke,” kataku.
Ayasha berkedip. Lalu senyumnya melebar sampai matanya hampir hilang.
“Oke?”
“Oke. Beliin.”
Dia menarik kerah kaos oblongnya, yang masih kupakai, dan menciumku di ambang pintu. Lama. Sampai pintu unit di seberang terbuka dan seorang ibu-ibu dengan rol rambut dan kantong sampah menatap kami, lalu menutup pintunya lagi pelan-pelan seolah tidak melihat apa-apa.
Di lobi, satpam yang biasa tertidur sedang tidak tertidur. Dia sedang menyapu lantai lobi, dan begitu melihatku keluar dari lift dengan kaos oblong putih yang terlalu ketat, rambut berantakan, dan helm bogo cokelat di tangan, dia berhenti menyapu.
Dia menatapku. Lalu menatap jam di dinding lobi. Jam sepuluh pagi. Lalu menatapku lagi.
“Mas,” katanya.
“Pak.”
“Mas nginep?”
Aku tidak menjawab.
Satpam itu tersenyum. Senyum yang lebar, bangga, seperti bapak yang anaknya baru lulus ujian. Dia meletakkan sapunya, menghampiriku, dan menepuk bahuku dua kali.
“Mbak Ayasha belum pernah ada yang dibawa sampai lobi, Mas,” katanya. “Apalagi sampai nginep.”
“Iya, Pak.”
“Jagain, ya.”
“Iya, Pak.”
Dia kembali menyapu, sambil bersiul lagu dangdut.
Aku menyetir Bubur pulang ke Tebet lewat jalan yang biasa. Jalanan basah sisa hujan semalam. Matahari pagi memantul di genangan air.
Aku menyadari sesuatu di lampu merah Pancoran.
Biasanya, setiap kali pulang ke kos, aku merasa lega. Seperti kembali ke tempat yang aman. Kamar tiga kali tiga meter, peta Kalimantan, kipas angin batuk. Tempat kecil yang bisa kulihat seluruhnya dari satu titik.
Pagi ini, aku tidak merasa lega.
Pagi ini, aku merasa seperti meninggalkan sesuatu.
Aku menoleh ke belakang. Ke arah gedung apartemen delapan lantai bercat krem di ujung jalan. Lantai enam. Jendela dengan tirai tipis. Di balik tirai itu, seorang perempuan dengan hoodie abu-abuku sedang mencuci dua piring dan satu piring kecil.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh sembilan tahun, aku merasa seperti punya tempat untuk pulang yang bukan tempat aku tidur.
Lampu hijau.
Aku menjalankan Bubur. Pelan.
Di saku celana training-ku, ponselku bergetar.
Bu Ratna: Mas Esa. Laporan tahunannya udah dibaca belum? Ibu nggak bisa tidur. Mas tolong baca. Ibu nggak bisa bilang sendiri. Ibu udah janji. Tapi Mas harus tau sebelum terlambat.
Aku membaca pesan itu di lampu merah berikutnya.
Lalu aku menatap ke depan, ke jalan Pancoran yang basah dan berkilau.
Sebelum terlambat.
Terlambat untuk apa?
Aku tidak tahu.
Tapi untuk pertama kalinya, aku ingin tahu.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri reading
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali