← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Thirty Six

Cicilan Pertama

POV: Esa


Dodoy menulis papan baru di depan Warung Dodoy hari Sabtu sore:

TUTUP — ACARA KELUARGA YANG SANGAT, SANGAT, SANGAT PENTING DAN BERSEJARAH (LEBIH PENTING DARI YANG KEMARIN)

Dia memotretnya untuk Instagram. Lalu menghapusnya, karena Gendis bilang itu terlalu mencurigakan. Lalu memotretnya lagi, karena dia tidak tahan.

Lampu-lampu bohlam kuning dari malam reuni masih tergantung zig-zag di langit-langit. Dodoy tidak pernah mencopotnya. Katanya lampu itu sekarang bagian dari sejarah. Meja-meja disusun panjang lagi, seperti malam reuni, dilapisi taplak putih. Di tengah meja paling panjang, Dodoy meletakkan tumpeng kuning setinggi lima puluh senti. Sepuluh senti lebih tinggi dari tumpeng malam aku menembak Ayasha.

“Standar minimal,” kata Dodoy waktu aku menatap tumpeng itu, “untuk momen yang lebih sakral.”

“Kamu nggak tau ini momen apa.”

“Gue tau.”

“Aku cuma bilang mau minta.”

“Lo bilang mau minta seumur hidup, Sa.” Dodoy menunjukku dengan spatula. “Gue udah kenal lo tujuh tahun. Lo nggak pernah minta apa-apa. Sekali minta, lo minta seumur hidup. Gue nggak bego.”

Dia berbalik ke dapur. Lalu berhenti. Lalu menoleh lagi.

“Cincinnya mana?”

Aku menyentuh saku hoodie.

“Liat dong.”

“Nggak.”

“Sa.”

“Nanti kamu nangis.”

“Gue udah nangis dari Kamis malem!” Dodoy menunjuk matanya yang bengkak. “Gue kirim empat puluh tujuh stiker nangis! Gue nangis sambil bikin tumpeng! Ipul sampe nyuruh gue istirahat!”

Ipul, di ambang pintu dapur, mengangguk dengan wajah lelah.


Mereka datang satu per satu.

Gendis datang pertama, jam enam, dengan gaun hijau zaitun yang sama dengan malam reuni. Dia memeluk Dodoy, lalu memelukku, lalu berbisik di telingaku: “Aku tau. Mas Dodoy nggak bisa nyimpen rahasia. Tapi aku nggak bilang Ayasha. Sumpah.”

Hendra datang jam enam lewat sepuluh, bersama istrinya. Perempuan kecil berjilbab dengan senyum lembut, yang langsung menjabat tanganku dan bilang makasih ya Mas udah gaji suami saya buat panik. Hendra memakai kemeja batik, bukan kemeja biru muda kusut. Dia terlihat sepuluh tahun lebih muda dari minggu lalu.

Aku menyerahkan kotak kecil terbungkus kertas cokelat pada Hendra.

“Apa ini, Pak?”

“Ganti tumbler.”

Hendra membuka kotak itu. Tumbler stainless warna biru tua. Persis seperti yang pecah di lobi. Aku menemukannya setelah mencari di empat toko. Di bagian bawahnya, aku meminta tukang grafir menuliskan satu kalimat kecil:

Buat Hendra, yang panik buat saya empat tahun. Makasih. — Esa

Bukan E. Esa.

Hendra menatap tulisan itu lama. Lalu dia menyerahkan tumbler itu ke istrinya, berbalik, dan berjalan cepat ke toilet Warung Dodoy. Istrinya tersenyum padaku dengan pengertian.

“Dia nangis, Mas,” katanya. “Dia gampang nangis. Nggak pernah keliatan di kantor.”

Bu Darsih datang jam enam lewat lima belas, dengan daster batik motif bunga sepatu (yang terbaik), rol rambut sudah dilepas dan rambut disisir rapi, dan Pak Lurah di dalam keranjang rotan yang ditenteng seperti tas tangan. Di belakangnya, Rizal, Pak Tono, dan Mas Andre, semuanya memakai kemeja. Mas Andre tidak memakai masker hijau.

“Sa,” kata Bu Darsih, menatap tumpeng setinggi lima puluh senti. “Ini acara apa?”

“Makan malam, Bu.”

“Makan malam pake tumpeng segini?”

“Dodoy yang bikin.”

Bu Darsih menyipitkan mata. Menatapku. Menatap Dodoy yang langsung pura-pura sibuk menata kerupuk. Menatap Gendis yang tersenyum terlalu lebar.

“Ibu nggak bawa tisu cukup,” gumamnya, lalu duduk di kursi paling dekat dengan meja nomor empat.

Mak Ijah datang membawa dua termos besar teh manis. “Gratis,” katanya. “Hari ini aja. Jangan bilang siapa-siapa.”

Cak Man datang membawa dua puluh porsi pecel lele dalam kotak styrofoam dan radionya sendiri. Dia memasang radio itu di sudut warung dan menyalakannya. Volume pelan. Lagu dangdut tentang orang yang akhirnya datang.

Pak Ujang datang menyetir Porsche. Sendirian. Dengan kemeja batik. Dia memarkir Porsche di mulut gang, dan dalam sepuluh detik, Porsche itu dikerubungi anak-anak kecil yang minta difoto.

Bram datang jam setengah tujuh. Kemeja biru muda, kancing atas terpasang, tanpa pomade, tanpa jam tangan emas. Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan di saku, tidak yakin dia boleh masuk.

Tika, yang sudah duduk di meja nomor tiga sejak jam enam kurang sepuluh (dia datang paling awal, sebelum Gendis, karena katanya dia tidak mau ketinggalan adegan film), berdiri dan menghampiri Bram. Dia menatap Bram dengan wajah serius. Lalu dia menarik lengan Bram dan menyeretnya duduk di sebelahnya.

“Mas Bram duduk sini,” katanya tegas. “Biar Tika awasin.”

Bram duduk. Wajahnya merah. Tika menyodorkan segelas teh manis dari termos Mak Ijah ke depannya.

Bram menatap teh manis itu. Lalu menatap Tika.

“Tika,” katanya pelan. “Selama delapan bulan, kopi yang gue taruh di meja Ayasha...”

“Aku yang minum,” kata Tika. “Tiap hari. Delapan bulan.”

“...Enak?”

“Kemanisan.” Tika menyesap tehnya. “Tapi aku tetep minum. Sayang dibuang.”

Bram menatap Tika lama. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, dia tersenyum.


Lalu mobil bak Pak Kardi berhenti di mulut gang, di belakang Porsche.

Di bak belakangnya, duduk berdesakan di atas tikar, dua puluh tiga anak Panti Rumah Pulang. Semua memakai baju terbaik mereka. Kemeja putih dan rok biru, seragam SD yang disetrika rapi. Bimo memakai kemeja batik yang kebesaran, mungkin milik Pak Kardi. Lala memakai bando pita merah. Ucup memakai topi ulang tahun kerucut dari kertas, entah kenapa.

Bu Ratna duduk di kursi penumpang depan, di sebelah Pak Kardi, dengan kebaya ungu dan sanggul kecil.

Anak-anak meloncat turun dari bak mobil satu per satu, berteriak, berlari masuk ke Warung Dodoy, menabrak kaki semua orang dewasa yang menghalangi.

“KAK FOUNDER!”

“KAK ESAAA!”

“KAK AYA MANA?”

Ucup menabrak perutku dengan kepala. Lala menarik lengan hoodie-ku. Sari memeluk kakiku.

Bimo berjalan pelan di belakang mereka dengan tangan di saku kemeja batik kebesaran, berhenti dua meter dariku, dan mengangguk seperti bapak-bapak.

“Bang.”

“Bim.”

Bimo melirik saku hoodie-ku. Lalu melirik wajahku. Lalu wajahnya berubah sedikit. Mulutnya bergerak.

“Bang,” bisiknya. “Itu kotak apa di saku?”

“Bukan apa-apa.”

Bimo menatapku dengan mata yang terlalu dewasa untuk anak dua belas tahun. Lalu dia mengangguk pelan, sangat serius.

“Oke, Bang,” katanya. “Gue nggak liat apa-apa.”

Lalu dia berbalik dan berjalan ke arah Ucup, menarik topi kerucut dari kepala Ucup, dan berbisik sesuatu di telinga Ucup. Ucup menutup mulutnya dengan dua tangan dan matanya membelalak.

Dalam tiga menit, semua anak panti tahu.

Dalam lima menit, semua orang di Warung Dodoy tahu, kecuali satu orang.


Ayasha datang jam tujuh tepat.

Dia naik ojek online. Dia turun di mulut gang, melihat Porsche yang dikerubungi anak-anak, melihat mobil bak Pak Kardi, melihat papan TUTUP — ACARA KELUARGA YANG SANGAT, SANGAT, SANGAT PENTING, dan wajahnya berubah dari bingung jadi lebih bingung.

Dia berjalan ke pintu warung. Bel berdenting.

Seluruh warung berhenti bergerak.

Dia memakai gaun selutut warna kuning pucat dengan motif bunga putih kecil. Gaun yang sama dengan malam tumpeng. Kardigan putih tipis. Jepit rambut mutiara di satu sisi. Sepatu flat.

Dan hoodie abu-abu yang lebih belel, diikat di pinggang, di atas gaun itu.

Dia berdiri di ambang pintu dan menatap seluruh ruangan. Dodoy di balik meja kasir. Gendis di sebelahnya. Hendra dan istrinya. Bu Darsih dengan keranjang Pak Lurah. Rizal, Pak Tono, Mas Andre. Mak Ijah. Cak Man dengan radionya. Pak Ujang. Bram dan Tika. Bu Ratna. Dua puluh tiga anak panti yang semuanya menatapnya dengan mata membelalak dan mulut tertutup rapat, seperti orang yang menahan bersin.

“Esa,” katanya pelan. “Ini acara apa?”

“Makan malam.”

“Kenapa semua orang ada?”

“Dodoy yang ngundang.”

Ayasha menatap Dodoy. Dodoy langsung pura-pura menata kerupuk.

Lalu Ayasha menatapku. Lama. Matanya menyipit sedikit.

Aku tidak bisa berbohong. Aku sudah kalah setiap kali.

Tapi dia tidak bertanya lagi. Dia hanya tersenyum. Senyum kecil yang dimulai dari sudut kiri. Lalu berjalan ke meja nomor empat dan duduk di kursi di sebelahku.

Kursi yang sama dengan malam reuni.


Kami makan.

Tumpeng lima puluh senti dipotong oleh Bu Ratna, karena Bu Ratna orang paling tua dan karena Dodoy terlalu gemetar untuk memegang pisau. Pecel lele Cak Man dibagikan ke semua meja. Teh manis Mak Ijah dituang ke gelas-gelas plastik. Anak-anak panti makan dengan kecepatan anak-anak panti: dalam tiga menit, lauk di meja mereka habis.

Lalu, tanpa diminta, Bimo mendorong piring kecil ke depan Sari. Lala mendorong piring kecil ke depan Dede. Ucup mendorong piring kecil berisi separuh perkedel yang sudah digigit ke depan Pak Lurah, yang keluar dari keranjang rotan dan langsung memakannya sebelum Bu Darsih sempat melarang.

“PAK LURAH LAGI DIET!” teriak Bu Darsih.

“Tradisi, Bu!” balas Ucup.

Ayasha tertawa di sebelahku.

Aku menatap piringku. Nasi kuning dari tumpeng. Ayam ingkung. Telur balado. Perkedel. Tempe orek.

Aku mengambil piring kecil.

Tapi sebelum aku sempat memotong lauk, Ayasha sudah meletakkan piring kecil di depanku.

Separuh ayam ingkung. Separuh telur balado. Separuh perkedel. Separuh tempe orek.

Dari piringnya.

“Buat kamu,” katanya pelan.

Aku menatap piring kecil itu.

Seluruh warung menatap piring kecil itu.

Aku tidak mengambil pisau. Aku tidak memotong laukku sendiri untuk diberikan balik. Aku hanya mengambil piring kecil itu, menariknya ke depanku, dan mulai makan.

Separuh ayam. Separuh telur. Separuh perkedel. Separuh tempe.

Sampai habis.

Ayasha menatapku makan. Dagu bertumpu di tangan. Matanya berkaca-kaca.

Di meja sebelah, Bu Ratna mengeluarkan sapu tangan.

Di balik meja kasir, Dodoy mulai menangis, dan Gendis mengusap punggungnya.

Aku meletakkan sendok.

“Makasih,” kataku.

Ayasha tersenyum. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dari tas tangan. Mengetik sesuatu dengan cepat. Lalu meletakkan ponselnya tengkurap di meja.

Tiga detik kemudian, ponselku bergetar.


Notifikasi bank.

[Bank] Dana masuk Rp1,00 — AYASHA PRAMESTI

Aku menatap layar.

Satu rupiah.

Aku menekan notifikasi itu. Layar membuka detail transaksi.

Pengirim: AYASHA PRAMESTI Jumlah: Rp1,00 Berita: Cicilan pertama. Sisanya seumur hidup.

Aku membaca berita transfer itu.

Lalu membacanya lagi.

Cicilan pertama. Sisanya seumur hidup.

Aku mengangkat kepala.

Ayasha sudah berdiri.

Dia berdiri di samping meja nomor empat. Di tempat yang sama dengan malam reuni, waktu dia menyingkirkan tangan Bram dari bahuku seperti menyingkirkan daun kering. Hoodie abu-abu masih terikat di pinggangnya. Tangannya gemetar.

Seluruh warung hening.

Cak Man mematikan radionya.

“Esa,” katanya.

Suaranya bergetar. Lebih bergetar dari malam reuni. Lebih bergetar dari panggung launching. Lebih bergetar dari apa pun yang pernah kudengar.

“Tujuh tahun aku pikir aku utang sama kamu,” katanya. “Terus kamu bilang utangku udah lunas. Terus kamu bilang belum lunas, tapi yang utang itu kamu, bukan aku.”

Dia menarik napas.

“Aku udah mikirin ini seminggu,” katanya. “Siapa yang utang sama siapa. Dan aku sadar, aku nggak peduli.”

Dia menunjuk ponselku di atas meja.

“Itu satu rupiah,” katanya. “Bukan buat bayar utang. Bukan buat ngelunasin apa-apa. Itu cicilan. Cicilan yang nggak bakal pernah lunas. Tiap bulan aku bakal transfer satu rupiah. Seumur hidup. Biar kamu inget, tiap bulan, ada orang yang nyisain sesuatu buat kamu. Dan nggak bakal berhenti.”

Air matanya jatuh. Dia tidak mengusapnya.

Lalu dia berlutut.

Di lantai keramik Warung Dodoy. Di depan kursiku. Dengan gaun kuning pucat dan hoodie belel di pinggang dan sepatu flat. Di depan dua puluh tiga anak panti, Bu Ratna, Bu Darsih, Pak Lurah, Dodoy, Gendis, Hendra, Bram, Tika, Pak Ujang, Mak Ijah, Cak Man, dan semua orang yang pernah menyaksikan kami.

“Esa Pradana,” katanya.

Nama lengkap.

“Mau nikah sama aku?”

Hening.

Hening total.

“Nggak pakai kontrak,” lanjutnya, suaranya pecah. “Aku nggak punya cincin. Aku cuma punya cicilan satu rupiah. Sama empat puluh tujuh alasan. Sama dua hoodie kamu. Sama sandal jepitmu. Sama pensil tumpul yang dulu kamu pinjem dari Gendis.”

Gendis menutup mulutnya dengan dua tangan.

“Aku tau harusnya kamu yang nanya,” kata Ayasha. “Aku tau. Tapi kamu nggak pernah minta apa-apa dari siapa-siapa. Dua puluh sembilan tahun. Aku takut nunggu kamu minta, aku keburu tua.”

Beberapa orang tertawa. Basah.

“Jadi aku duluan,” bisik Ayasha. “Kayak waktu reuni. Kayak waktu di tenda Cak Man. Aku selalu duluan.”

Dia menatapku dari bawah. Mata basah. Bibir gemetar.

“Mau?”


Aku menatapnya.

Perempuan yang berlutut di lantai Warung Dodoy. Perempuan yang dua puluh tahun lalu duduk di ujung meja makan panti dengan boneka kelinci di pangkuan, menatap piring kosong. Perempuan yang kuberi separuh tempe dan separuh telur tanpa tahu namanya. Perempuan yang menulis tujuh surat yang tidak pernah kubaca. Perempuan yang masuk ke reuni SMA-ku dan memanggilku Sayang.

Perempuan yang selalu duluan.

Lalu aku tertawa.

Pelan. Lalu tidak pelan. Aku tertawa sampai mataku berair, di kursi meja nomor empat, dengan semua orang menatapku dengan wajah bingung.

Ayasha menatapku dengan wajah paling bingung.

“Kok ketawa?” bisiknya. “Itu... itu jawaban iya atau nggak?”

Aku berhenti tertawa. Aku menyeka mata dengan lengan hoodie.

Lalu aku memasukkan tangan ke saku hoodie. Hoodie abu-abu baru, dengan label Punya E di kerah.

Aku mengeluarkan kotak kecil. Kotak beludru biru tua, yang sudah tiga minggu kubawa ke mana-mana sampai sudut-sudutnya mulai lecek.

Ayasha membeku.

Aku turun dari kursi. Berlutut di depannya. Di lantai keramik. Lutut kami hampir bersentuhan.

Aku membuka kotak itu.

Cincin emas putih. Sederhana. Satu batu kecil berwarna abu-abu muda. Moonstone. Warna yang hampir sama dengan hoodie.

“Kamu duluan lagi,” kataku.

Ayasha menatap cincin itu. Mulutnya terbuka. Tidak ada suara yang keluar.

“Tiga minggu,” kataku. “Aku bawa ini tiga minggu. Ke launching. Ke tangga darurat. Ke Cibubur. Ke Cak Man. Ke garasi pas kamu kasih sepeda. Tiga minggu aku nggak berani.”

“Kamu...” Ayasha tersedak. “Kamu bawa cincin?”

“Iya.”

“Tiga minggu?”

“Iya.”

“Dan kamu biarin aku...” dia menunjuk dirinya sendiri yang berlutut, lalu menunjuk ponselku di meja, “...aku transfer satu rupiah, aku berlutut, aku ngomong panjang lebar di depan semua orang...”

“Kamu duluan.”

“KAMU BISA BILANG DARI TADI!”

“Kamu nggak nanya.”

Ayasha menatapku. Lalu dia memukul dadaku. Keras. Sambil menangis. Sambil tertawa.

Dari balik meja kasir, Dodoy berteriak:

“GUE TAU! GUE TAU DARI KAMIS! EMPAT PULUH TUJUH STIKER!”

Ayasha menoleh ke Dodoy. “Mas Dodoy TAU?”

“Semua orang tau, Mbak!” teriak Ucup dari meja anak-anak. “Bang Bimo yang bilang!”

Bimo menatap langit-langit.

Ayasha menoleh ke seluruh ruangan. Ke semua wajah yang menatapnya dengan senyum lebar dan mata basah.

“Kalian semua tau?” tanyanya. “Cuma aku yang nggak tau?”

Hening sebentar.

Lalu Gendis tertawa. Lalu Tika. Lalu Bu Darsih. Lalu seluruh warung tertawa.

Ayasha menatap mereka semua. Lalu menatapku. Lalu menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Lagi,” katanya dari balik tangan. “Lagi-lagi aku yang tau paling akhir.”

Aku mengulurkan tangan. Menurunkan tangannya dari wajahnya. Pelan.

“Kali ini,” kataku, “beda.”

“Beda gimana?”

“Kali ini kamu duluan.”

Dia menatapku.

“Kamu yang nanya duluan,” kataku. “Aku cuma bawa jawabannya.”

Air matanya jatuh lagi.

Aku mengambil cincin dari kotak beludru. Mengangkat tangan kirinya. Tangan yang tujuh malam meletakkan separuh lauk di keset depan pintuku. Tangan yang membuka kepalan tanganku waktu aku tidur. Tangan yang meniup lukaku di jalan depan rumah Pondok Indah.

“Ayasha Pramesti,” kataku.

Nama lengkap.

“Iya,” kataku. “Aku mau nikah sama kamu.”

Ayasha tersedak.

“Dan aku juga mau nanya,” lanjutku. “Biar aku juga pernah minta sesuatu. Sekali seumur hidup.”

Aku menatapnya.

“Mau nikah sama aku?”

Ayasha menatapku. Lama. Matanya merah dan basah dan sangat, sangat terang.

“Iya,” bisiknya. “Iya, Esa. Iya. Seumur hidup.”

Aku memasangkan cincin itu di jarinya.

Pas.

Sangat pas. Seperti aku mengukurnya dengan tangan.

Aku memang mengukurnya dengan tangan. Malam hujan di apartemennya, dalam gelap, waktu tangannya menggenggam tanganku.


Warung Dodoy meledak.

Dua puluh tiga anak panti berteriak dan meloncat-loncat. Ucup memakai topi kerucutnya lagi. Lala menangis di balik kacamata yang melorot. Sari memanjat ke kursi untuk melihat lebih jelas.

Bu Ratna menangis di sapu tangan. Pak Ujang menangis di kumisnya. Mak Ijah menuang teh manis ke semua gelas tanpa diminta.

Bu Darsih berdiri, menatap kami berdua yang masih berlutut di lantai, dan berteriak dengan volume penuh:

“BAYAR KOS TANGGAL SATU! DUA-DUANYA!”

Lalu dia duduk lagi dan menangis keras ke dalam keranjang rotan Pak Lurah. Pak Lurah keluar dari keranjang dan kabur ke bawah meja.

Hendra sudah keluar dari toilet. Dia memeluk istrinya dan menangis di bahunya, memegang tumbler biru tua yang baru.

Bram berdiri dari kursinya. Dia mengangkat gelas teh manis. Tangannya gemetar.

“Buat Esa,” katanya. “Dan Ayasha.” Dia menelan ludah. “Yang selalu duluan.”

Semua orang mengangkat gelas.

Tika, di sebelahnya, menarik lengan kemeja Bram dan memaksanya duduk lagi. “Udah, Mas. Jangan ikutan nangis. Nanti kayak Kak Hendra.”

“Gue nggak nangis.”

“Mas nangis.”

“...Dikit.”

Cak Man menyalakan radionya lagi. Volume penuh. Speaker bergetar. Lagu dangdut tentang orang yang akhirnya datang dan tidak pergi lagi.

Dan Dodoy.

Dodoy berdiri di balik meja kasir. Dengan celemek kotor. Dengan wajan di tangan, karena dia sedang menggoreng kerupuk tambahan waktu semua ini dimulai.

Dia menatapku. Matanya merah. Bibirnya bergetar.

Lalu wajan di tangannya jatuh.

Bunyinya seperti gong.

Kerupuk berhamburan ke lantai. Dua puluh tiga anak panti langsung berebut memungutnya. Gendis tertawa sampai harus berpegangan pada meja kasir.

Dodoy tidak memungut wajannya. Dia berjalan keluar dari balik meja kasir, melewati kerupuk yang berserakan, melewati anak-anak yang berebut, dan berhenti di depan kami. Di depanku dan Ayasha yang masih berlutut di lantai.

Dia berlutut juga.

Lalu dia memeluk kami berdua. Sekaligus. Dengan kekuatan beruang. Tulang rusukku berbunyi. Ayasha menjerit kecil, lalu tertawa.

“Adek gue,” isak Dodoy di bahuku. “Adek gue mau nikah.”

“Iya, Bang.”

“Adek gue yang bego.”

“Iya.”

“Yang tujuh tahun makan gratis di warung gue.”

“Iya.”

“Yang punya Porsche tapi naik Scoopy.”

“Iya.”

“Yang...” Dodoy berhenti. Dia melepaskan pelukannya. Menatapku dengan wajah basah dan noda kecap di pipi. “Yang akhirnya minta sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Gue bangga sama lo, Sa,” katanya.


Jam sebelas malam, setelah tumpeng habis, setelah anak-anak panti tertidur di bak mobil Pak Kardi di atas tikar, setelah Bu Darsih membawa Pak Lurah pulang dan Hendra membawa istrinya pulang dan Bram mengantar Tika pulang (Tika yang memaksa, karena katanya Mas Bram nggak boleh pulang sendirian abis nangis), aku dan Ayasha duduk di anak tangga depan Warung Dodoy.

Gang Tebet sepi. Lampu jalan berkedip. Bubur terparkir di depan kami, dengan spion miring.

Ayasha menatap cincin di jarinya. Memutarnya pelan. Batu moonstone abu-abu muda berkilau di bawah lampu jalan.

“Esa.”

“Hm?”

“Kamu tau nggak,” katanya pelan, “pertama kali aku liat kamu di balik kaca warung ini, malam reuni, aku cuma mau bilang makasih.”

“Aku tau.”

“Empat puluh tujuh kali latihan di taksi. Terima kasih, Kak. Tiga kata. Nggak pernah berhasil.”

Dia menatapku.

“Aku belum pernah bilang,” katanya. “Langsung. Di depan mukamu. Tiga kata itu.”

Aku diam.

Dia mengambil napas. Panjang. Seperti orang yang akhirnya berdiri di tepi kolam renang setelah sangat lama, dan siap melompat.

“Terima kasih, Kak,” katanya.

Tiga kata. Pelan. Jernih. Tanpa tersedak.

Aku menatapnya.

Lalu aku tersenyum.

“Sama-sama,” kataku.

Ayasha menatapku lama. Lalu dia tertawa. Basah. Lega. Seperti orang yang meletakkan karung yang sudah dipikulnya dua puluh tahun.

“Akhirnya,” bisiknya. “Akhirnya bisa.”

“Itu yang terakhir,” kataku.

“Apa?”

“Terima kasih, Kak. Itu yang terakhir. Mulai sekarang, kamu nggak boleh panggil aku Kak.”

“Kenapa?”

“Karena Kak itu buat yang kecil di meja makan.” Aku mengangkat tangannya yang bercincin. Mencium punggung tangannya. “Kamu udah bukan yang kecil lagi.”

Ayasha menatapku.

“Terus aku panggil kamu apa?”

Aku memikirkannya.

“Sayang,” kataku. “Kayak di reuni.”

Ayasha tertawa. Lalu dia memeluk lenganku, menyandarkan kepalanya di bahuku, dan menatap Bubur di bawah lampu jalan yang berkedip.

“Sayang,” bisiknya.

“Hm?”

“Bubur pensiun nggak?”

Aku menatap Bubur. Scoopy putih krem tahun 2017. Spion miring. Jok sobek ditambal lakban. Mesin yang batuk seperti kakek-kakek. Motor yang menemaniku hujan-hujanan, macet-macetan, mogok di depan Kota Kasablanka dua kali. Motor yang membawa Ayasha di jok belakang, duduk menyamping, memelukku untuk keselamatan.

“Nggak,” kataku.

“Kamu punya Porsche.”

“Porsche buat Pak Ujang. Biar dia seneng.”

“Kamu punya sepeda BMX merah.”

“Sepeda buat aku. Biar aku seneng.”

“Terus Bubur?”

Aku menoleh. Menatapnya.

“Bubur buat kita,” kataku. “Biar kamu bisa terus meluk aku dari belakang.”

Ayasha menatapku. Lalu tersenyum. Senyum yang dimulai dari sudut kiri dan menyebar sampai matanya menyipit.

“Pasal lima,” katanya.

“Pasal lima apa?”

“Pihak Pertama boleh nyium Pihak Kedua kapan aja, di mana aja.”

“Termasuk di anak tangga warung jam sebelas malem?”

“Terutama di sini.”

Dia menciumku.

Di anak tangga depan Warung Dodoy, di bawah lampu jalan yang berkedip, di depan Bubur yang spionnya miring. Di tempat yang sama di mana semuanya dimulai, dua bulan dan seumur hidup yang lalu.

Nanti, waktu aku pulang ke kos, aku akan membuka ponsel, dan aku akan menyimpan tangkapan layar notifikasi itu di sebuah folder baru di galeri foto. Folder pertama yang pernah kubuat seumur hidupku, karena sebelumnya aku tidak pernah menyimpan apa pun yang diberikan orang padaku.

Aku menamai folder itu Cicilan.

Dan di dalamnya, foto pertama:

[Bank] Dana masuk Rp1,00 — AYASHA PRAMESTI Berita: Cicilan pertama. Sisanya seumur hidup.