← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Thirty Seven

Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali

POV: Ayasha


Pagi hari pernikahanku, Esa memanjat papan nama panti.

Aku melihatnya dari jendela kamar anak-anak kecil, tempat Bu Ratna dan Gendis sedang menyanggul rambutku sejak subuh. Dia memakai kemeja putih. Bukan hoodie. Kemeja putih dari lemari Pondok Indah, yang dulu masih berlabel harga, yang dulu kupakai di dapur marmer waktu dia bilang ini bukan rumahku. Lengannya digulung sampai siku. Dua kancing atasnya terbuka.

Dia berdiri di atas tangga kayu yang dipegangi Bimo dan Dodoy, di depan pagar panti, dengan palu di satu tangan dan sesuatu di tangan lain.

Huruf L.

Huruf kayu yang dicat putih. Baru. Ukurannya sama dengan huruf-huruf lain di papan nama yang ditulis tangan itu.

Dia memakunya di tempat yang kosong sejak dia umur dua belas tahun. Satu paku. Dua paku. Tiga.

Lalu dia turun dari tangga, mundur tiga langkah ke tengah gang, dan menatap papan nama itu.

RUMAH PULANG

Lengkap.

Bimo berdiri di sampingnya, menatap papan nama itu juga. Lalu dia bilang sesuatu yang tidak bisa kudengar dari jendela. Esa menjawab sesuatu. Bimo mengangguk serius, seperti bapak-bapak.

Belakangan aku tanya Bimo, dia bilang apa.

Bimo bilang, Bang, kata Bu Ratna rumah nggak perlu nama yang sempurna buat tetep jadi rumah.

Dan Esa menjawab, Iya. Tapi hari ini ada yang pulang. Rumahnya pengin lengkap.


Pernikahan kami di halaman belakang panti.

Bukan di hotel. Bukan di gedung dengan lampu kristal dan pelaminan setinggi dua meter. Di halaman belakang, di antara jemuran yang dipindahkan sementara, ayunan tua yang rantainya berkarat, dan pohon jambu air yang daunnya berguguran di atas tikar-tikar pandan yang digelar untuk tamu.

Tamunya sedikit. Lima puluh orang. Semuanya orang yang pernah menyaksikan kami.

Dua puluh tiga anak panti jadi pengiring. Mereka berbaris dari pintu dapur sampai ke bawah pohon jambu air, memegang kelopak bunga melati yang dipetik dari halaman tetangga dengan izin (kata Bu Ratna) dan tanpa izin (kata Ucup). Waktu aku berjalan di antara mereka dengan kebaya putih sederhana yang dijahit Bu Ratna sendiri selama tiga bulan, mereka melemparkan kelopak melati ke udara. Sebagian besar jatuh ke kepalaku. Sebagian masuk ke mulut Dede, yang langsung mengunyahnya.

Sari berjalan paling depan. Dia membawa bantal kecil berisi cincin. Dia berjalan sangat pelan dan sangat serius, dengan lidah terjulur di sudut bibir karena konsentrasi, dan waktu dia sampai di depan Esa, dia mengangkat bantal itu tinggi-tinggi dan berkata dengan suara keras:

“KAK FOUNDER! INI CINCINNYA! JANGAN DIILANGIN!”

Seluruh tamu tertawa.

Esa berlutut di depan Sari, mengambil cincin dari bantal itu, dan berkata dengan sangat serius:

“Nggak bakal diilangin. Janji.”

Sari mengangguk puas. Lalu dia memeluk leher Esa dan berbisik sesuatu di telinganya. Esa menatap Sari lama, lalu memeluknya balik.

Belakangan aku tanya Sari, dia bisik apa.

Sari bilang, Sari bilang ke Kak Founder, jangan nyisain separuh lagi, sekarang udah ada yang nyisain buat Kak Founder.


Dodoy jadi saksi dari pihak Esa. Dia memakai jas. Jas pertama yang pernah dia punya, dibelikan Gendis di Pasar Baru, di toko yang sama tempat aku dulu membelikan Esa kemeja biru tua. Jasnya pas. Kancing perutnya tidak lepas. Gendis memastikannya dengan menjahit ulang semua kancing dua kali.

Dia menangis sejak pagi. Sejak Esa memanjat papan nama. Sejak Sari membawa bantal cincin. Sejak penghulu membacakan doa. Waktu Esa mengucapkan ijab kabul dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun, dalam satu tarikan napas, Dodoy menangis begitu keras sampai penghulu harus berhenti dan bertanya apakah saksinya baik-baik saja.

“Saya baik-baik aja, Pak,” kata Dodoy di antara isakannya. “Saya cuma... adek saya... nikah...”

Gendis mengusap punggungnya. Di jari manis kiri Gendis, ada cincin baru. Emas kuning dengan batu kecil warna merah. Seperti sambal.

Dodoy melamarnya dua minggu setelah Esa melamarku. Di Warung Dodoy. Dengan puding. Cincinnya disembunyikan di dalam puding cokelat dengan sambal matah. Gendis hampir menelannya.


Bu Darsih duduk di barisan depan dengan daster batik motif bunga sepatu dan Pak Lurah di keranjang rotan. Pak Lurah memakai pita merah di lehernya. Pak Lurah tidak suka pita itu. Pak Lurah menatap semua orang dengan mata kuning yang menyatakan bahwa dia akan membalas dendam.

Waktu ijab kabul selesai, Bu Darsih berdiri dan berteriak, seperti yang sudah kuduga:

“TANGGAL SATU! DUA-DUANYA!”

Lalu dia duduk dan menangis.

Kamar kos Esa masih ada. Dia membayarnya setahun di muka, plus uang telat. Kunci kamarnya tergantung di gantungan kunci yang sama dengan kunci rumah Pondok Indah dan kunci Bubur. Setiap tanggal satu, kami datang ke kos Bu Darsih bersama-sama. Bukan untuk bayar, karena sudah dibayar. Untuk makan nasi uduk Mak Ijah di teras dan mendengarkan Bu Darsih mengomel soal Rizal yang lupa mematikan lampu kamar mandi.

Kami selalu datang tanggal dua.

Bu Darsih bilang kami sengaja. Kami bilang kami lupa.

Pak Lurah sudah tidak diet. Dokter hewan bilang Pak Lurah kelebihan berat badan tujuh ratus gram, tapi Bu Darsih bilang Pak Lurah sedih ditinggal Esa, dan kucing yang sedih boleh makan.


Hendra datang dengan istrinya. Dia membawa tumbler biru tua yang tulisannya Buat Hendra, yang panik buat saya empat tahun. Dia meletakkan tumbler itu di atas meja hadiah, di samping kado-kado lain, dan aku melihatnya dua jam kemudian mengambilnya lagi karena tidak tahan berpisah dengan tumbler itu.

Bekal tumbuh. Seri C cair. Valuasi naik. Hendra masih CEO, masih panik, masih mengirim pesan dengan huruf kapital jam lima pagi. Tapi sekarang dia mengirim pesan itu bukan ke Pak E. Dia mengirimnya ke Pak Esa. Esa masih tidak mau datang ke kantor. Tapi dia datang ke rapat umum bulanan, pakai hoodie, duduk di lantai bersama karyawan, dan menjawab pertanyaan apa pun selama dua jam.

Dua puluh tujuh dari tiga puluh sembilan orang yang di-PHK dua tahun lalu kembali bekerja di Bekal. Sisanya menerima kompensasi dan beasiswa untuk anak-anak mereka. Mbak Rara dari Customer Service kembali. Dia membawa kue buatannya ke kantor setiap Jumat. Dia selalu menyisihkan satu kotak untuk Bram.

Bram duduk di barisan ketiga di pernikahan kami. Di sebelah Tika.

Mereka belum pacaran. Kata Tika. Kata Bram juga. Mereka cuma sering makan siang bersama, karena Tika masih mengawasi Bram, dan karena Bram selalu membawakan Tika kopi yang tidak terlalu manis. Bram sekarang tahu Tika suka kopi yang tidak terlalu manis. Dia bertanya. Dia tidak menebak.

Utang pinjol Bram tinggal sembilan bulan lagi. Dia sudah membantu tiga belas karyawan Bekal keluar dari jeratan pinjol lewat divisi Kemitraan Sosial. Dia menangis setiap kali ada yang lunas. Tika bilang Bram cengeng. Bram tidak membantah.


Pak Ujang tidak menangis.

Pak Ujang memakai kemeja batik baru, kumisnya dirapikan oleh tukang cukur di Pondok Indah, dan dia berdiri di belakang semua tamu dengan tangan di belakang punggung, seperti satpam. Dia tidak menangis waktu ijab kabul. Tidak menangis waktu Sari membawa bantal cincin. Tidak menangis waktu Bu Darsih berteriak soal tanggal satu.

Dia menangis waktu Esa menghampirinya setelah acara, memeluknya, dan bilang:

“Pak. Mulai besok, Bapak masak buat dua orang.”

Pak Ujang menangis begitu keras sampai kumisnya basah.

“Tiga, Mas,” katanya. “Saya juga makan.”

“Iya, Pak. Tiga.”


Malam pertama kami sebagai suami istri, kami tidak tidur di kamar utama rumah Pondok Indah.

Kami tidur di sana. Tapi tidak tidur. Esa bilang dia sudah dua puluh sembilan tahun tidur di ruangan kecil, dan dia tidak tahu caranya tidur di kamar sebesar lapangan futsal. Jadi kami tidak tidur. Kami berbaring di ranjang yang terlalu besar dengan lampu menyala, dan Esa menatap langit-langit kamar utama yang putih bersih tanpa retak, tanpa bekas bocor, tanpa peta Kalimantan.

“Aneh,” katanya.

“Apa?”

“Nggak ada Kalimantan.”

Aku tertawa. Lalu aku naik ke atasnya, duduk di perutnya, dan menatapnya dari atas.

“Liat aku aja,” kataku. “Jangan liat langit-langit.”

Dia menatapku. Telinganya memerah. Dari bawah ke atas. Seperti termometer.

Lalu dia mengangkat tangan dan menarikku turun.

Lampunya aku yang matikan.

Bukan dia.

Aku.


Pagi pertama, aku bangun duluan.

Esa masih tidur. Berbaring telentang di ranjang yang terlalu besar, dengan rambut berantakan di bantal putih. Mulutnya sedikit terbuka. Ada noda basah kecil di bantal, di bawah sudut bibirnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa soal noda itu.

Tangannya terbuka di samping kepalanya. Telapak tangan menghadap ke atas. Jari-jarinya rileks.

Tidak terkepal.

Aku menatap tangan itu lama.

Lalu aku turun dari ranjang, mengambil hoodie abu-abu dari kursi di sudut kamar, dan memakainya.

Bukan hoodie yang baru, dengan label Punya E. Itu milik Esa sekarang, dan dia memakainya setiap hari, termasuk di bawah kemeja putih saat pernikahan kemarin. Aku melihatnya waktu dia membuka kancing kemeja malam tadi. Dia memakai hoodie di bawah kemeja pernikahannya. Katanya biar ada yang dia kenal di hari yang dia tidak kenal.

Hoodie yang kupakai pagi ini adalah hoodie yang paling belel. Yang lengannya berbulu dan talinya tinggal satu dengan ujung plastik. Yang dia sampirkan ke bahuku di trotoar Tebet malam reuni, dan tidak pernah kukembalikan.

Hoodie itu sudah tidak wangi dia. Sudah tidak wangi aku. Sudah dicuci ratusan kali. Sekarang hoodie itu wangi sesuatu yang lain. Sabun cuci yang sama yang kami pakai berdua. Rumah.

Aku turun ke dapur.

Dapur marmer yang dulu tidak pernah dipakai. Sekarang ada bekas cangkir kopi di wastafel. Ada sisa sambal di toples kaca. Ada daftar belanja di pintu kulkas, ditulis dengan dua tulisan tangan yang berbeda. Tulisan tanganku yang rapi dan miring ke kanan. Tulisan tangan Esa yang miring dan terburu-buru.

Telur (yang gede) Kecap Bawang merah Makanan Pak Lurah (buat tanggal 2) Plester (buat kalau jatuh dari sepeda lagi)

Dan di bawahnya, satu baris dengan tulisan Esa yang ditulis dengan spidol:

Telur jangan diambil semua. Sisain buat yang kecil. — E

Aku menatap catatan itu sangat lama.

Lalu aku membuka laci kiri bawah. Mengambil panci kecil. Panci yang dulu masih terbungkus plastik.


Esa turun ke dapur jam tujuh. Rambut berantakan. Kaos oblong abu-abu. Celana training. Hoodie baru dengan label Punya E.

Dia berhenti di ambang pintu dapur dan menatapku.

Aku berdiri di depan kompor dengan hoodie paling belel, rambut dicepol asal, kaki telanjang di lantai marmer. Menggoreng telur ceplok.

“Pagi,” katanya.

“Pagi, Sayang.”

Dia berjalan ke arahku. Berdiri di belakangku. Melingkarkan lengannya di pinggangku. Dagunya di atas kepalaku.

“Kamu pake yang belel,” gumamnya di rambutku.

“Punyaku.”

“Iya. Punyamu.”

Aku membalik telur. Pinggirannya renyah, tengahnya setengah matang. Lada dan sedikit kecap.

Aku meletakkan telur itu di piring. Lalu aku memotongnya jadi dua. Meletakkan separuhnya di piring kecil.

Aku menyodorkan piring kecil itu ke belakang, ke arahnya, tanpa menoleh.

Dia mengambilnya.

Tanpa ragu. Tanpa jeda. Tanpa menghitung.

“Makasih,” katanya.


Setelah sarapan, kami pergi ke garasi.

Pak Ujang sedang mencuci Porsche. Dia mencucinya setiap pagi sekarang, bukan hanya hari Minggu. Katanya Porsche juga butuh disayang kalau sudah punya majikan beneran. Porsche itu masih jarang dipakai. Tapi Pak Ujang memakainya setiap Jumat untuk mengantar sembako ke panti, dan anak-anak panti menyambutnya seperti menyambut mobil Batman.

Di sebelah Porsche, BMX merah dengan stiker petir kuning. Ada goresan baru di rangkanya. Esa jatuh lagi minggu lalu, di polisi tidur yang sama. Lututnya diplester. Aku yang meniup lukanya.

Di sebelah BMX, Bubur.

Scoopy putih krem tahun 2017. Spion yang miring. Jok yang ditambal lakban hitam. Pak Ujang menawarkan untuk mengganti joknya dengan yang baru. Esa menolak. Katanya lakban itu bagian dari Bubur.

Esa mengambil helm bogo cokelat dari setang Bubur dan memakaikannya di kepalaku. Mengaitkan talinya di bawah daguku. Pengaitnya macet. Benar-benar macet kali ini. Dia butuh tiga kali mencoba.

Klik.

“Mau ke mana?” tanya Pak Ujang, menatap kami dengan selang air di tangan.

“Tebet,” kata Esa. “Hari ini tanggal satu.”

Pak Ujang tersenyum di balik kumisnya. “Mas mau bayar kos tepat waktu?”

Esa menatapku. Aku menatap Esa.

“Nggak, Pak,” kata Esa. “Kami mau telat. Kayak biasa. Biar Bu Darsih bisa marah.”


Aku duduk di jok belakang Bubur. Menyamping. Hoodie paling belel di tubuhku, kebaya pernikahan sudah dilipat di lemari.

Kedua lenganku melingkar di pinggang Esa.

“Pegangan,” katanya, dengan suara yang dibuat-buat serius. “Biar aman.”

“Pasal lima.”

“Itu pasal ciuman.”

“Pasal lima versi lama.”

Dia tertawa. Tawa yang rendah dan hangat, yang bergetar sampai ke tulang punggungnya, sampai ke pipiku yang menempel di punggungnya.

Bubur melaju keluar dari gerbang rumah Pondok Indah. Gerbang yang PIN-nya nol-satu-nol-tujuh. Pak Ujang melambai dengan selang air.

Ponselku bergetar di saku hoodie. Pengingat yang kuatur sejak malam di Warung Dodoy. Setiap tanggal satu. Jam delapan pagi.

Cicilan.

Aku membuka aplikasi bank dengan satu tangan, karena tangan yang lain melingkar di pinggang Esa. Aku mengetik nominal. 1. Aku mengetik berita transfer.

Setiap bulan beritanya berbeda.

Bulan pertama: Cicilan pertama. Sisanya seumur hidup.

Bulan kedua: Cicilan kedua. Kamu masih belum bisa goreng telur tanpa diawasin.

Bulan ketiga: Cicilan ketiga. Besok nikah. Jangan kabur.

Bulan ini:

Cicilan keempat. Pertama kali sebagai istrimu. Masih nggak bakal lunas.

Aku menekan kirim.

Di depanku, di saku hoodie Punya E, ponsel Esa bergetar sekali.

Dia tidak mengambilnya. Dia sedang menyetir. Tapi aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit. Bahunya turun. Rileks. Seperti orang yang tahu ada yang menunggunya di rumah.

Nanti, di lampu merah, dia akan membuka ponselnya. Dia akan membaca berita transfer itu. Dia akan tersenyum dengan sudut bibir yang naik setengah senti. Telinganya akan memerah dari bawah ke atas.

Lalu dia akan mengambil tangkapan layar, dan menyimpannya di folder bernama Cicilan.

Folder yang sekarang berisi empat foto.

Dan akan terus bertambah.

Satu setiap bulan.

Seumur hidup.


Di lampu merah Pancoran, Bubur berhenti. Mesinnya batuk seperti kakek-kakek. Setia.

Esa membuka ponselnya. Membaca. Tersenyum.

Telinganya memerah.

Lalu dia menoleh ke belakang, ke arahku, dari balik bahunya.

“Sayang,” katanya.

“Hm?”

“Aku sisain separuh buat kamu.”

“Separuh apa?”

Dia menatapku. Lama. Di bawah langit Jakarta yang biru bersih, di tengah lampu merah, dengan klakson yang mulai berbunyi di belakang kami.

“Separuh hidupku,” katanya.

Lampu hijau.

Klakson.

Aku menariknya kembali menghadap ke depan dan memeluknya dari belakang lebih erat dari sebelumnya, dengan pipi menempel di punggungnya dan air mata membasahi hoodie yang bertuliskan Punya E.

“Jalan, Sayang,” bisikku. “Kamu udah diklakson.”

Dia menjalankan Bubur.

Pelan.

Sangat pelan.

Seperti orang yang membawa sesuatu yang sangat berharga di jok belakang, dan tidak ingin perjalanan pulang ini cepat selesai.


TAMAT