← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Twenty Five

Cara Membalas yang Salah

POV: Ayasha


Senin pagi, aku datang ke kantor dengan kacamata hitam.

Bukan karena gaya. Karena mataku bengkak seperti habis disengat lebah. Dua malam menangis membuat kelopak mataku tebal dan merah, dan tidak ada concealer di dunia ini yang cukup kuat untuk menyembunyikannya.

Tika melihatku masuk dan langsung berdiri dari kursinya.

“Mbak.”

“Pagi, Tik.”

“Mbak pakai kacamata item di dalem ruangan.”

“Iya.”

“Mbak nangis.”

“Nggak.”

“Mbak, aku punya mata.” Tika mendekat, menatapku dari balik poninya. Lalu suaranya turun jadi bisikan. “Mas Hoodie?”

Aku tidak menjawab.

Tika tidak bertanya lagi. Dia kembali ke mejanya, membuka laci, dan mengeluarkan sebungkus cokelat batangan. Dia meletakkannya di sudut mejaku, di tempat Bram dulu meletakkan kopi. Lalu dia kembali bekerja tanpa sepatah kata.

Aku menatap cokelat itu lama.

Lalu aku membukanya, mematahkannya jadi dua, dan meletakkan separuhnya di meja Tika.

Tika menatap separuh cokelat itu. Lalu menatapku.

“Kenapa dibagi, Mbak?”

“Kebiasaan,” kataku.

Suaraku pecah di kata itu. Aku menunduk ke laptop dan pura-pura membaca email sampai Tika berhenti menatapku.


Rapat mingguan divisi Marketing jam sebelas.

Kak Hendra datang lagi. Dua minggu berturut-turut. Itu belum pernah terjadi. Dia duduk di ujung meja dengan kemeja biru muda yang kusut, tumbler baru warna hitam (bukan yang biasa), dan wajah yang sangat pucat.

Dia tidak menatapku.

Sepanjang rapat, selama satu jam empat puluh menit, Kak Hendra tidak menatapku sekali pun. Setiap kali aku bicara tentang kampanye Desember, dia menatap layar laptopnya. Setiap kali Kak Dewi menyebut namaku, dia menatap jendela. Waktu aku mempresentasikan angka performa kampanye, Kak Hendra menatap tumblernya dengan konsentrasi orang yang sedang membaca kitab suci.

Dan dia berkeringat. Di ruang rapat dengan AC delapan belas derajat, dahi Kak Hendra basah, dan dia terus mengelapnya dengan sapu tangan.

“Kak Hendra nggak apa-apa?” tanya Kak Dewi.

“Nggak apa-apa,” kata Kak Hendra, terlalu cepat. “Panas.”

“AC-nya delapan belas, Kak.”

“Saya... gampang panas.”

Tika, di sebelahku, menulis di buku catatannya dan menyodorkannya padaku diam-diam: Kak Hendra kenapa sih? Dari minggu lalu aneh. Kayak liat setan tiap liat Mbak.

Aku menatap catatan itu. Lalu menatap Kak Hendra.

Minggu lalu, di lobi, dia melihat Esa memelukku. Dia menjatuhkan tumbler dan kabur ke lift. Sejak itu dia tidak bisa menatapku.

Kamu kenal Kak Hendra?

Aku tukang wifi, Sha. Aku kenal banyak orang.

Sesuatu yang kecil dan dingin merambat di tengkukku. Persis seperti di KRL waktu aku menatap tanda tangan E di catatan kotak sop.

Aku mengusirnya.

Aku sudah punya cukup banyak hal yang tidak kumengerti minggu ini. Aku tidak sanggup menambah satu lagi.


Malam itu, aku duduk di lantai ruang tamu apartemenku dengan buku catatan dan pulpen.

Aku memakai hoodie Esa. Yang lebih belel. Aku belum melepasnya sejak Minggu malam. Aku mandi, lalu memakainya lagi. Tidur, memakainya. Bangun, memakainya. Hoodie itu sudah tidak wangi Esa lagi. Sudah wangi aku, dan wangi air mata, dan sedikit wangi sambal terasi dari tenda Cak Man.

Aku tetap tidak mau melepasnya.

Gendis bilang, waktu aku meneleponnya Minggu malam sambil menangis sampai tersedak, bahwa aku harus menulis. Tulis semuanya. Kenapa kamu sayang dia. Jujur. Semuanya. Termasuk yang jelek.

Jadi aku menulis.

Aku menulis judul di halaman pertama: KENAPA AKU SAYANG ESA.

Lalu aku menulis nomor satu.

1. Karena dia bayarin kuliahku.

Aku menatap tulisan itu.

Lalu aku mencoretnya. Satu garis tebal.

Itu bukan alasan aku menyayanginya. Itu alasan aku berutang padanya. Itu dua hal yang berbeda.

Tapi aku menulisnya pertama kali. Tanpa berpikir. Itu hal pertama yang keluar dari pulpenku.

Aku menatap coretan itu sangat lama.

Lalu aku menulis nomor dua.

2. Karena dia nyisain separuh telur buat aku tiap hari selama delapan tahun.

Aku menatapnya. Itu juga utang. Itu juga balas budi. Aku mencoretnya.

3. Karena dia gendong aku ke puskesmas.

Coret.

4. Karena dia pakein aku jaket biru.

Coret.

5. Karena dia...

Pulpenku berhenti.

Empat nomor pertama. Empat-empatnya adalah hal yang dia berikan padaku. Empat-empatnya adalah utang.

Esa benar.

Awalnya.

Awalnya memang utang. Awalnya aku datang ke reuni untuk membayar. Awalnya aku menggandeng lengannya karena aku ingin membalas. Awalnya, setiap kali aku menatapnya, yang kulihat adalah anak laki-laki yang menyisihkan separuh telur. Bukan laki-laki dua puluh sembilan tahun dengan hoodie belel yang duduk di depanku.

Aku meletakkan pulpen. Menutup wajahku dengan lengan hoodie.

Lalu aku mengambil pulpen lagi.

Aku membuka halaman baru. Menulis judul yang sama. KENAPA AKU SAYANG ESA. Tapi kali ini, aku memaksa diriku untuk tidak menulis apa pun yang terjadi sebelum malam reuni.

Aku menunggu. Lama.

Lalu tanganku mulai menulis.

1. Karena telinganya merah dari bawah ke atas kayak termometer kalau dia malu.

2. Karena dia nggak bisa bohong. Udah nyoba berkali-kali dan kalah terus.

3. Karena dia nyetir Bubur dua puluh kilo per jam kalau aku bonceng.

4. Karena dia nyebut pantatnya sendiri tanpa malu di depan Mas Dodoy.

Aku tertawa. Basah. Tersedak.

5. Karena dia bilang “Kayaknya aku nggak bakal kebal” di lantai dansa. Pelan. Kayak ngaku dosa.

6. Karena dia pakein jas hujan ke motornya biar aku nggak duduk di jok basah.

7. Karena dia nggak bisa goreng telur. Dua puluh sembilan tahun. Cangkangnya ikut masuk.

8. Karena alisnya ketemu di tengah kalau dia lagi konsentrasi.

9. Karena dia bilang “Aku belum pernah” dalam gelap, padahal dia bisa pura-pura tau.

10. Karena dia nanya “kamu yakin?” tiga kali. Tiga kali. Waktu semua orang lain cuma ngambil.

11. Karena dia ngubah nama kontakku jadi “Ayasha 🩶”. (Aku liat waktu dia ngecek jam di HP. Dia nggak tau aku liat.)

12. Karena dia bilang “Oke. Beliin.” Padahal aku tau itu susah banget buat dia.

13. Karena dia nggak ngambil hoodie-nya balik. Bahkan waktu dia lagi patah.

Pulpenku terus bergerak. Halaman kedua. Halaman ketiga. Hal-hal kecil. Hal-hal bodoh. Cara dia mengunyah kerupuk. Cara dia menatap Bu Darsih dengan sabar. Cara dia menyebut Pak Lurah seolah Pak Lurah adalah orang sungguhan. Cara dia memeluk dari belakang di depan kompor dengan dagu di atas kepalaku.

Waktu aku berhenti, ada empat puluh tujuh nomor.

Empat puluh tujuh. Sama dengan jumlah latihanku di taksi malam reuni.

Aku menatap empat halaman itu.

Tidak satu pun dari empat puluh tujuh alasan itu adalah utang.

Tidak satu pun dari empat puluh tujuh alasan itu ada hubungannya dengan uang, beasiswa, separuh telur, atau jaket biru.

Semuanya tentang dia. Laki-laki yang kutemui lagi di reuni. Bukan anak laki-laki yang kuingat dari panti.

Aku menyayanginya dua kali. Tapi aku baru menyadarinya sekarang: dua kali itu bukan perasaan yang sama. Yang pertama, waktu umur enam, adalah rasa terima kasih yang tumbuh jadi pemujaan. Yang kedua, waktu umur dua puluh lima, adalah cinta.

Masalahnya, aku membiarkan yang pertama berdiri di depan yang kedua. Menutupinya. Sampai Esa tidak bisa membedakannya.

Sampai aku sendiri hampir tidak bisa membedakannya.


Bel pintu berbunyi jam sembilan malam.

Gendis berdiri di depan pintu dengan seragam guru yang belum diganti, tas anyaman di bahu, dan dua kotak martabak di tangan. Satu manis, satu telur.

“Aku nggak tau kamu suka yang mana,” katanya. “Jadi aku beli dua.”

Aku menatapnya. Lalu aku menangis lagi.

Gendis masuk tanpa menunggu dipersilakan, meletakkan martabak di lantai ruang tamu, dan memelukku. Lama. Seperti guru SD memeluk murid yang jatuh dari ayunan.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia tidak bilang aku udah bilang jangan kelamaan. Dia tidak bilang sekarang jadi gunung, kan. Dia hanya memelukku sampai aku berhenti tersedak, lalu duduk di karpet dan membuka kotak martabak.

Aku menyodorkan buku catatanku padanya.

Dia membaca empat halaman itu sambil makan martabak telur. Pelan. Sesekali tersenyum. Sesekali menutup mulut. Di nomor dua puluh tiga (karena dia diem aja waktu Bram nyengkeram bahunya, tapi langsung pakein aku hoodie waktu aku kedinginan), dia berhenti dan menatap langit-langit sebentar.

Lalu dia menutup buku itu dan menatapku.

“Kamu tau masalahnya di mana?” tanyanya.

“Aku bohong.”

“Itu salah satunya.” Gendis menggeleng. “Tapi bukan masalah utamanya.”

“Terus apa?”

Gendis meletakkan buku itu di karpet. Menepuknya dua kali.

“Kamu nyoba ngelunasin utang,” katanya, “pakai cinta.”

Aku menatapnya.

“Itu yang salah, Ayasha. Bukan cintanya. Cintamu beneran. Empat puluh tujuh nomor ini beneran. Tapi kamu masukin cinta itu ke dalam kotak yang sama dengan utang. Kamu pikir kalau kamu sayang dia cukup banyak, utangmu bakal lunas. Kamu pikir kalau kamu masakin dia, cium dia, bikin dia bahagia, itu semua cicilan.”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Cinta bukan alat bayar,” kata Gendis pelan. “Kalau kamu pakai cinta buat bayar, orang yang kamu cintai nggak bakal pernah tau kamu sayang dia beneran atau cuma lagi nyicil.”

Tenggorokanku tercekik.

Gendis mengambil sepotong martabak manis, memotongnya jadi dua, dan meletakkan separuhnya di depanku.

“Esa nggak pernah minta dibayar,” katanya. “Seumur hidup dia, dia nggak pernah minta apa-apa dari siapa pun.”

“Aku tau.”

“Terus menurutmu dia mau apa?”

Aku diam. Lama.

“Dia mau dipilih,” kata Gendis. “Bukan dibayar. Dipilih. Sama orang yang nggak berutang apa-apa sama dia. Sama orang yang bisa pergi kapan aja, tapi milih tinggal.”

Aku menatap separuh martabak di depanku.

Lalu aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan menangis lebih keras dari sebelumnya. Bukan karena sedih. Karena akhirnya aku mengerti.

Esa tidak marah karena aku bohong.

Esa takut karena dia tidak bisa membedakan apakah aku memilihnya, atau apakah aku cuma tidak bisa pergi.


Ponsel Gendis berdering jam sepuluh. Dia melihat layarnya dan wajahnya langsung memerah.

“Mas Dodoy,” katanya.

“Angkat.”

Dia mengangkatnya dengan loudspeaker. Suara Dodoy langsung memenuhi ruang tamu kecilku.

“MBAK GENDIS! Mbak di mana? Saya bikin puding baru! Rasa jahe gula aren! Pake sambel bawang, bukan terasi! Inovasi! Mbak harus coba! Saya anterin ke rumah Mbak sekarang?”

“Mas,” kata Gendis, “saya lagi di tempat Ayasha.”

Hening di seberang.

“...Ayasha?” Suara Dodoy berubah. Pelan. “Mbak Ayasha nggak apa-apa?”

Gendis menatapku. Aku menggeleng pelan.

“Lagi nggak baik, Mas,” kata Gendis jujur.

Hening lebih lama.

“Esa juga,” kata Dodoy akhirnya. Suaranya kecil. “Dari kemarin dia makan di warung kayak robot. Nggak ngomong. Nggak nambah. Nggak nyisain separuh.” Dodoy berhenti. “Mbak Gendis. Esa nggak nyisain separuh lauk. Dia makan semuanya. Tujuh tahun gue kenal dia, dia nggak pernah nggak nyisain.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Mereka berantem, ya, Mbak?” tanya Dodoy.

“Iya, Mas.”

“Gara-gara apa?”

Gendis menatapku. Aku menatap Gendis. Aku menggeleng lagi. Jangan bilang.

“Itu urusan mereka, Mas,” kata Gendis lembut.

Dodoy diam. Lalu dia menghela napas sangat panjang lewat telepon.

“Oke,” katanya. “Oke. Besok gue yang urus.”

“Mas, jangan...”

Telepon ditutup.

Gendis menatap ponselnya. Lalu menatapku dengan wajah setengah cemas, setengah geli.

“Kayaknya,” katanya, “besok Mas Dodoy bakal marah.”

“Sama siapa?”

“Sama Esa.” Gendis tersenyum kecil. “Mas Dodoy belum pernah marah sama Esa, kan?”

“Kayaknya belum.”

“Nah.” Gendis mengambil martabak manis lagi. “Kita liat besok.”


Gendis pulang jam sebelas.

Aku duduk sendirian di lantai ruang tamu dengan hoodie Esa, buku catatan empat puluh tujuh nomor, dan separuh martabak manis yang tidak kumakan.

Aku membuka ponsel. Membuka percakapan dengan Hoodie 🩶.

Pesan terakhir dariku: Selamat malam, Sayang. 🩶 Sabtu malam. Tidak dibalas.

Sejak itu, tidak ada apa-apa.

Aku mengetik. Esa, aku minta maaf. Hapus.

Esa, aku bisa jelasin. Hapus.

Esa, aku sayang kamu. Bukan karena utang. Aku udah bikin daftar. Empat puluh tujuh alasan. Hapus. Itu terdengar seperti presentasi kampanye.

Esa, tolong. Hapus.

Aku menatap layar kosong itu lama.

Dia mau dipilih. Sama orang yang bisa pergi kapan aja, tapi milih tinggal.

Kalau aku mengirim pesan memohon, aku tidak memilihnya. Aku cuma tidak bisa pergi. Dan dia akan tahu bedanya.

Aku harus menunjukkan bahwa aku bisa pergi.

Lalu memilih untuk tidak pergi.

Setiap hari. Tanpa menghitung.

Aku mengetik pesan terakhir malam itu. Pendek. Aku tidak menghapusnya.

Aku: Aku nggak akan maksa. Aku tunggu.

Centang dua.

Abu-abu.

Lama.

Lalu, jam dua belas lewat empat belas menit, centang itu berubah biru.

Dia membacanya.

Dia tidak membalas.

Tapi dia membacanya.

Aku memeluk lututku di dalam hoodie abu-abu dan, untuk pertama kalinya sejak tenda Cak Man, aku tidur tanpa menangis.

Besok pagi, aku akan bangun jam lima dan memasak.