Chapter Thirty Four
Gantian
POV: Ayasha
Aku menyodorkan kertas itu ke Esa di meja nomor empat Warung Dodoy, hari Sabtu, satu minggu setelah tenda Cak Man.
Kertas HVS putih, diketik rapi, dicetak di printer kantor Gendis. Judulnya ditebalkan.
KONTRAK BARU (Versi yang Beneran, Bukan Pura-Pura)
Esa menatap kertas itu. Lalu menatapku.
“Kontrak lagi?”
“Kontrak lagi.”
“Bram udah nyerah.”
“Ini bukan buat Bram.” Aku mengetuk kertas itu dengan ujung jari. “Baca.”
Dia membaca. Pelan. Dengan alis yang bertemu di tengah.
Pasal 1. Pihak Kedua (E) dilarang nyoret, nyelamatin, ngerekomendasiin, atau bantuin karier Pihak Pertama (A) secara diam-diam. Termasuk lewat telepon jam sebelas malam ke Kak Hendra.
Pasal 2. Kalau Pihak Kedua mau bantu Pihak Pertama, Pihak Kedua harus izin dulu. Pihak Pertama boleh nolak. Pihak Kedua nggak boleh ngambek kalau ditolak.
Pasal 3. Pihak Pertama boleh bantuin Pihak Kedua kapan aja, tanpa izin. Pihak Kedua nggak boleh nolak. (Ini nggak adil. Emang sengaja.)
Pasal 4. Pihak Kedua wajib bilang makasih kalau dikasih sesuatu. Dan wajib nerima.
Pasal 5. Pihak Pertama boleh nyium Pihak Kedua kapan aja, di mana aja. Termasuk di depan Mas Dodoy, Ipul, Bu Darsih, Pak Lurah, dan kamera TV.
Pasal 6. Separuh lauk berlaku dua arah.
Pasal 7. Pihak Pertama boleh cemburu. (Pasal ini dari dulu ada. Tulisannya kecil. Di bawah.)
Pasal 8. Kontrak ini nggak ada tanggal kedaluwarsanya.
Di bawahnya, dua garis tanda tangan.
Pihak Pertama: Ayasha Pramesti — sudah kutandatangani, dengan tinta biru.
Pihak Kedua: — kosong.
Esa membaca kontrak itu sekali. Lalu sekali lagi. Lalu dia mengangkat kepala.
“Pasal tiga nggak adil,” katanya.
“Udah kubilang. Sengaja.”
“Pasal lima...”
“Kenapa pasal lima?”
Telinganya mulai memerah. Dari bawah. Pelan-pelan. Seperti termometer.
“Kamera TV,” katanya.
“Kamu udah masuk TV. Bu Darsih udah masuk TV. Pak Lurah udah masuk TV.” Aku menyandarkan dagu di tanganku. “Tinggal kita berdua yang belum ciuman di TV.”
Dodoy, di balik meja kasir, tersedak teh.
Esa menatap kontrak itu lagi. Lalu dia mengulurkan tangan, mengambil pulpen dari kantong celemek Dodoy yang kebetulan lewat (Dodoy menjerit, karena pulpen itu pulpen kesayangannya, hadiah dari Gendis), dan menandatangani kontrak itu.
Bukan dengan satu huruf.
Esa Pradana.
Nama lengkap. Huruf-huruf yang miring dan terburu-buru, tapi lengkap. Untuk pertama kalinya, di kertas mana pun yang pernah kulihat, dia tidak menandatangani dengan E.
Aku menatap tanda tangan itu.
“Kamu nulis nama lengkap,” bisikku.
“Kamu kan bilang ini versi yang beneran.”
Aku mengambil kontrak itu. Melipatnya. Memasukkannya ke saku hoodie, di samping dua kertas sobekan buku tulis yang tidak pernah lepas dari saku apa pun yang kupakai.
Tiga kertas sekarang.
Lalu aku memanfaatkan pasal lima, saat itu juga, di meja nomor empat, di depan Dodoy yang masih memeluk pulpen kesayangannya.
Aku mendapat pekerjaan baru dua minggu kemudian.
Bukan di Bekal. Hendra meneleponku tiga kali, menawari posisi lama, posisi lebih tinggi, posisi apa pun yang kumau. Dia bilang surat resign-ku masih di laci, belum diproses, bisa dia robek kapan saja. Aku bilang terima kasih, Kak. Lalu aku bilang tolong diproses. Hendra menghela napas panjang lewat telepon dan bilang dia akan memprosesnya dengan sangat berat hati, dan dia akan menulis surat rekomendasi tanpa diminta.
Aku memintanya untuk tidak menulis surat rekomendasi.
“Pasal satu,” kataku.
“Pasal satu apa?”
“Kontrak. Pihak Kedua dilarang ngerekomendasiin karier Pihak Pertama diam-diam.”
“Saya bukan Pihak Kedua, Sha.”
“Kakak orangnya Pihak Kedua. Sama aja.”
Hendra tertawa. Pertama kalinya aku mendengar Hendra tertawa tanpa nada panik. Ternyata tawanya bagus.
Aku melamar ke Rumah Belajar Nusantara.
Organisasi nirlaba kecil di daerah Kalibata yang membuat program belajar gratis untuk anak-anak di kampung kota. Kantornya ruko dua lantai dengan kipas angin di setiap sudut dan dinding yang ditempeli gambar-gambar anak-anak. Gajinya sepertiga dari gajiku di Bekal. Posisinya Kepala Komunikasi, dengan tim yang terdiri dari dua orang: aku dan seorang mahasiswa magang.
Aku melamar lewat sistem lamaran buta mereka. Tanpa nama, tanpa foto, tanpa riwayat perusahaan sebelumnya. Hanya portofolio karya dan esai tentang kenapa aku ingin bekerja di sana.
Aku menulis esai itu di lantai ruang tamu apartemenku, dengan hoodie Esa dan kacamata baca, dalam satu malam.
Aku tidak menulis tentang Bekal. Aku tidak menulis tentang beasiswa. Aku tidak menulis tentang founder yang menyelamatkanku tanpa tahu siapa aku.
Aku menulis tentang meja makan panjang di panti, dengan bekas goresan nama anak-anak dari tiga puluh tahun terakhir. Tentang anak-anak yang kalah cepat. Tentang piring kecil. Tentang bagaimana kadang, satu piring kecil berisi separuh tempe bisa menentukan apakah seorang anak berani datang ke meja makan besok pagi.
Saya ingin membuat lebih banyak piring kecil, tulisku di kalimat terakhir. Bukan dari satu orang. Dari banyak orang. Supaya tidak ada anak yang harus bergantung pada satu orang baik untuk bisa makan.
Wawancaranya hari Kamis. Pewawancaranya perempuan berumur lima puluhan bernama Bu Sekar, pendiri organisasi itu, dengan rambut putih dipotong pendek dan kacamata bulat.
Di tengah wawancara, aku tidak tahan.
“Bu,” kataku. “Saya harus jujur. Ibu mungkin pernah liat saya di berita minggu lalu. Soal Bekal. Soal dokumen PHK...”
Bu Sekar menatapku dari balik kacamata bulatnya.
“Saya nggak punya TV, Mbak,” katanya. “Saya juga nggak main Instagram. Saya baca esai Mbak.”
Aku terdiam.
“Esai Mbak yang paling bagus dari tujuh puluh tiga pelamar,” lanjut Bu Sekar. “Saya baca tiga kali. Saya nangis di kalimat terakhir. Saya nggak tau Mbak siapa, dari mana, pernah kerja di mana. Saya cuma tau Mbak ngerti soal piring kecil.”
Dia meletakkan pulpennya.
“Kapan Mbak bisa mulai?”
Aku menelepon Esa dari trotoar di depan ruko Rumah Belajar Nusantara, dengan tangan gemetar.
“Aku dapet,” kataku.
Hening di seberang. Lalu suara yang sangat pelan.
“Selamat.”
“Aku dapet sendiri, Esa. Lamaran buta. Nggak ada nama. Nggak ada Bekal. Nggak ada yang nyoret apa-apa. Pewawancaranya nggak punya TV.”
“Aku tau.”
“Kamu tau?”
“Aku nggak tau apa-apa soal lamaranmu. Aku cuma tau kamu bakal dapet.”
Aku tertawa. Basah. Di trotoar Kalibata yang panas dan berdebu, di depan ruko dengan gambar-gambar anak-anak di jendelanya.
“Pasal satu,” kataku. “Kamu nggak ngapa-ngapain, kan?”
“Nggak.”
“Sumpah?”
“Sumpah. Aku bahkan nggak tau nama organisasinya sampai kamu bilang barusan.”
Aku percaya padanya. Aku sadar, berdiri di trotoar itu, bahwa aku percaya padanya sepenuhnya. Tanpa ragu. Tanpa menghitung.
“Esa.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat apa? Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Justru itu,” kataku. “Makasih udah nggak ngapa-ngapain.”
Hening sebentar di seberang. Lalu aku mendengar dia tertawa. Pelan. Rendah. Tawa yang dulu kudengar pertama kali di KRL, waktu aku meninggalkan noda iler di bahu hoodie-nya.
“Sama-sama,” katanya.
Hari Minggu, kami ke panti.
Esa membawa sembako seperti biasa, diangkut mobil bak Pak Kardi. Tapi kali ini dia tidak menyamar jadi kurir. Kali ini, waktu Ucup berlari keluar pagar dan menabrak perutnya dengan kepala, Ucup berteriak bukan KAK ESAAA tapi:
“KAK FOUNDERRR!”
Esa membeku.
Lala muncul di belakang Ucup dengan buku tulis di tangan. Kacamatanya melorot. Wajahnya serius.
“Kak Esa,” katanya. “Lala udah ganti cita-cita.”
“Jadi apa, La?”
Lala membuka buku tulisnya. Di halaman yang dulu bertuliskan TUKANG KETIK YANG BAYARIN SEKOLAH ANAK LAIN, tulisan itu sudah dicoret dengan krayon merah. Di bawahnya, tulisan baru dengan krayon biru:
CITA-CITAKU: FOUNDER YANG PAKE HOODIE.
Esa menatap tulisan itu. Telinganya memerah.
“Founder itu apa, La?” tanyaku.
Lala menatapku dengan wajah orang yang sangat sabar menjelaskan sesuatu kepada orang dewasa yang lambat.
“Founder itu,” katanya, “tukang ketik yang ketikannya jadi sekolah.”
Bimo, yang berdiri di belakang Lala dengan tangan di saku, mengangguk serius. “Bener, Bang. Gue liat di TV.”
“Kamu nonton TV?”
“Semua nonton, Bang. Bu Ratna nyalain TV di ruang tengah. Kita nonton bareng. Bu Ratna nangis.” Bimo mengangkat bahu, terlihat sangat dewasa dan sangat tidak tertarik, tapi telinganya juga memerah. “Gue juga dikit.”
Setelah makan siang, setelah tradisi separuh lauk di meja makan panjang (Sari sekarang tidak lagi kalah cepat, karena dia duduk di sebelah Bimo dan Bimo selalu memastikan lauknya sampai ke piring Sari duluan), anak-anak berkumpul di ruang tengah.
Mereka menyuruh Esa duduk di kursi kayu di tengah ruangan. Kursi yang biasanya dipakai Bu Ratna untuk membacakan cerita. Mereka menyuruhku duduk di lantai, di samping kursi itu.
Lalu dua puluh tiga anak berbaris di depan Esa.
Ucup paling depan. Dia memegang selembar kertas gambar besar, digulung, diikat dengan pita rafia merah.
“Kak Founder,” kata Ucup dengan suara keras yang sudah jelas dilatih. “Ini hadiah dari kami semua.”
Esa menatap gulungan kertas itu.
Aku melihat tangannya. Di pangkuannya. Terkepal.
Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah menerima hadiah. Sejak umur sembilan. Sejak sepeda merah yang ditinggal di garasi rumah Bintaro, karena itu kan punya rumah ini, Nak.
Ucup menyodorkan gulungan itu lebih dekat. “Kak?”
Esa tidak bergerak.
Aku mengulurkan tangan. Menyentuh tangannya yang terkepal di pangkuannya. Pelan. Membuka jari-jarinya satu per satu, seperti malam hujan di apartemenku, waktu dia tidur dan aku membuka kepalannya dan dia langsung menggenggam tanganku.
Dia menoleh padaku.
“Pasal empat,” bisikku.
Dia menatapku lama.
Lalu dia mengulurkan tangannya yang sudah terbuka ke arah Ucup. Dan mengambil gulungan kertas itu.
Tangannya gemetar.
Dia melepas pita rafia merah. Membuka gulungan kertas itu pelan-pelan.
Gambar krayon. Besar. Memenuhi seluruh kertas.
Sebuah sepeda.
Sepeda merah. Digambar dengan krayon merah yang ditekan keras sampai warnanya mengilap. Rodanya tidak bulat sempurna. Rangkanya miring. Ada stiker petir kuning di tengah rangkanya, digambar dengan krayon kuning yang patah-patah.
Di atas sepeda itu, ada orang. Gambar orang dengan badan persegi panjang abu-abu (hoodie) dan rambut hitam yang dicoret-coret (berantakan). Tersenyum lebar. Sangat lebar. Lebih lebar dari yang pernah Esa tersenyum di dunia nyata.
Di sekeliling sepeda itu, dua puluh tiga gambar anak kecil. Masing-masing digambar oleh anak yang berbeda, dengan gaya yang berbeda. Ada yang hanya lingkaran dan garis. Ada yang memakai kacamata (Lala). Ada yang ompong (Ucup). Ada yang tinggi dan tidak tersenyum (Bimo menggambar dirinya sendiri dengan wajah datar, tapi tangannya melambai).
Di bagian bawah kertas, dengan tulisan tangan dua puluh tiga anak yang bergantian, satu huruf per anak:
BUAT KAK ESA. INI PUNYA KAKAK. NGGAK ADA YANG BOLEH NGAMBIL.
Esa menatap gambar itu.
Ruang tengah panti hening. Dua puluh tiga anak menahan napas. Bu Ratna berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek bermotif ayam, tangannya menutup mulut.
“Bu Ratna yang cerita,” kata Lala pelan. “Soal sepeda Kak Esa. Yang ditinggal.”
“Jadi kami gambarin yang baru,” kata Ucup. “Biar Kakak punya lagi.”
“Yang ini nggak bisa dibalikin,” kata Bimo dari belakang. Suaranya tidak sedatar biasanya. “Soalnya kertas. Kalau Kakak bawa pulang, ya punya Kakak.”
Esa tidak bicara.
Dia menatap gambar sepeda merah itu sangat lama. Tangannya yang memegang kertas gemetar makin hebat, sampai kertas itu berbunyi krek-krek pelan.
Lalu satu tetes jatuh ke kertas. Tepat di roda sepeda yang tidak bulat sempurna. Krayon merah sedikit luntur.
Lalu satu lagi.
Esa menunduk. Bahunya berguncang. Dia menangis tanpa suara, di kursi Bu Ratna, di tengah ruang tengah panti tempat dia dibesarkan, di depan dua puluh tiga anak yang menggambar sepeda untuknya.
Sari, yang paling kecil, berjalan maju dari barisan. Dia memanjat ke pangkuan Esa, di atas gambar sepeda. Lalu dia memeluk leher Esa dengan tangan kecilnya.
“Nggak apa-apa, Kak,” bisik Sari. “Nggak apa-apa.”
Esa memeluk Sari.
Lalu Ucup ikut memeluk. Lalu Lala. Lalu Dede yang baru bisa jalan, menempel di kaki Esa. Lalu semua anak, satu per satu, sampai Esa tenggelam dalam tumpukan anak kecil dan hanya rambutnya yang berantakan yang masih terlihat dari luar.
Bimo yang terakhir. Dia berdiri di pinggir tumpukan itu dengan tangan di saku, wajah datar, menatap ke langit-langit.
Lalu dia mengeluarkan tangan dari saku dan menepuk kepala Esa. Sekali.
“Udah, Bang,” katanya. “Jangan cengeng.”
Lalu dia berbalik dan berjalan cepat ke kamar mandi, dan aku mendengar pintu kamar mandi ditutup, dan aku mendengar Bimo membuang ingus di dalamnya. Keras sekali.
Aku duduk di lantai, di samping kursi kayu, menatap laki-laki yang kucintai menangis di bawah tumpukan dua puluh tiga anak.
Bu Ratna duduk di sebelahku. Dia memegang tanganku.
“Dua puluh tahun, Nak,” bisiknya. “Dua puluh tahun Ibu nunggu dia nerima sesuatu.”
Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Bu Ratna dan menangis juga.
Malam itu, di Warung Dodoy, Gendis memberiku sesuatu.
Kami sedang duduk berdua di meja nomor lima, dekat jendela, sementara Esa dan Dodoy berdebat di dapur soal resep puding baru (puding cokelat dengan sambal matah, yang menurut Esa adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan menurut Dodoy adalah inovasi). Gendis mengeluarkan kotak pensil kecil dari tas anyamannya.
Dia membuka kotak pensil itu. Di dalamnya, satu pensil.
Pensil kayu biasa. Kuning. Merek murah. Ujungnya tumpul. Sangat tumpul. Ujungnya rata, seperti dipakai untuk mengukir batu.
“Pensil itu,” bisikku.
“Kelas sebelas. Ujian matematika.” Gendis tersenyum. “Dua belas tahun nggak pernah aku raut.”
Dia menyodorkan pensil itu padaku.
“Buat kamu,” katanya.
Aku menatap pensil itu. “Gendis, ini punya kamu...”
“Udah bukan.” Gendis menggeleng. “Suratnya udah aku bakar. Pensil ini satu-satunya yang tersisa. Aku pikir mau aku buang juga. Tapi kemudian aku pikir...” Dia menatap ke arah dapur, ke arah Dodoy yang sedang mengacungkan spatula ke wajah Esa sambil berteriak soal sambal matah. “Aku pikir, pensil ini harusnya ada di orang yang bakal ada di sebelah Esa paling lama.”
Dia meletakkan pensil itu di telapak tanganku.
“Dulu aku nyimpen ini karena itu satu-satunya barang yang pernah dia pegang yang ada di aku,” kata Gendis. “Sekarang kamu punya hoodie-nya. Dua. Sama sandal jepitnya. Sama kontrak yang ditandatangani nama lengkap.” Dia tersenyum. “Kamu nggak butuh pensil ini buat inget dia. Tapi aku pengin pensil ini pulang ke tempat yang bener.”
Aku menggenggam pensil tumpul itu.
“Terus kamu?” tanyaku.
Gendis menoleh ke dapur. Dodoy sedang memaksa Esa mencicipi puding sambal matah dengan sendok besar. Esa menolak. Dodoy memaksa. Esa akhirnya mencicipi, lalu batuk, lalu wajahnya berubah bingung, lalu dia mengambil sendok lagi.
“Enak, kan?!” teriak Dodoy. “ENAK, KAN?!”
“...Aneh,” kata Esa. “Tapi enak.”
Dodoy mengangkat kedua tangannya ke udara seperti pemain sepak bola yang baru mencetak gol.
Gendis tertawa. Matanya berbinar dengan cara yang tidak pernah kulihat di malam reuni, waktu dia memegang tas anyamannya terlalu erat.
“Aku,” katanya, “udah punya puding sambal.”
Esa mengantarku pulang jam sepuluh malam. Naik Bubur.
Gambar sepeda merah dari anak-anak panti digulung rapi dan diikat dengan pita rafia merah, dimasukkan ke tas ransel di punggungnya. Dia menolak meninggalkannya di panti. Dia menolak menitipkannya ke Bu Ratna. Dia bilang dia mau membawanya sendiri. Ke mana pun.
Di lampu merah Pancoran, aku memeluknya dari belakang. Daguku di bahunya.
“Esa.”
“Hm?”
“Kamu nerima.”
“Iya.”
“Gambar sepeda. Kamu nerima.”
“Pasal empat.”
Aku tersenyum di bahunya.
“Esa.”
“Hm?”
“Aku pengangguran sekarang,” bisikku di telinganya. “Kerja baru mulai minggu depan. Gajinya sepertiga. Kamu mau nampung pengangguran?”
“Aku dulu pengangguran.”
“Kamu bohong jadi pengangguran.”
“Secara teknis aku nggak punya kantor.”
“Kamu punya kantor di SCBD, Esa.”
“Itu kantornya Hendra.”
Aku tertawa di bahunya. Lalu aku menurunkan suaraku. Lebih pelan. Lebih rendah. Bibirku menyentuh daun telinganya.
“Malam ini,” bisikku, “aku mau nginep di kosmu.”
Bubur oleng.
“Aturan nomor satu,” katanya. Suaranya serak.
“Aku udah ngomong sama Bu Darsih.”
“...Kapan?”
“Tadi sore. Lewat WA.” Aku menempelkan pipiku di punggungnya. “Bu Darsih bilang, kalau aku bayar kos sebulan buat kamar sebelahmu yang kosong, aku dihitung penghuni. Dan penghuni boleh berkunjung ke kamar penghuni lain. Selama nggak berisik setelah jam sepuluh.”
Lampu hijau. Esa tidak bergerak.
“Kamu bayar kos sebulan,” katanya pelan, “buat kamar yang nggak kamu tempatin.”
“Iya.”
“Sembilan ratus ribu.”
“Sembilan ratus lima puluh. Ada uang telat. Bu Darsih bilang aku pasti bakal telat bayar kayak kamu, jadi dibayar di muka.”
Klakson di belakang kami berbunyi.
Esa masih tidak bergerak.
“Sha,” katanya. “Pasal tiga.”
“Kenapa pasal tiga?”
“Pihak Pertama boleh bantuin Pihak Kedua kapan aja tanpa izin. Pihak Kedua nggak boleh nolak.”
“Iya.”
“Ini bukan bantuin.”
“Ini bantuin kamu nggak kesepian.” Aku mengecup bahunya dari balik hoodie. “Pasal tiga berlaku.”
Klakson lagi. Lebih panjang.
Esa menghela napas sangat panjang. Lalu menjalankan Bubur.
Bukan ke arah Pancoran.
Ke arah Tebet.
Aku memeluknya lebih erat, dan tertawa di punggungnya, dan merasakan jantungnya berdetak sangat kencang di bawah telapak tanganku.
Di tas ranselnya, di antara aku dan punggungnya, gambar sepeda merah dari dua puluh tiga anak panti bergoyang pelan setiap kali Bubur melewati lubang di jalan.
Dan di saku hoodie-ku, di samping tiga kertas, ada satu pensil tumpul yang akhirnya pulang.
Dan satu nota pembayaran dari bengkel sepeda di Pasar Rumput, yang belum kuceritakan ke siapa pun.
BMX 20 inci. Merah. Custom stiker petir kuning. Siap diambil hari Kamis.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian reading
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali