Chapter Seven
Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
POV: Ayasha
Senin pagi, kantor Bekal di lantai dua puluh tiga gedung SCBD itu terasa seperti biasa: AC terlalu dingin, kopi di pantry terlalu encer, dan Tika terlalu bersemangat.
“MBAK SHA.”
Tika Wulandari, staf marketing termuda di timku, dua puluh tiga tahun, poni lurus dan energi seperti tupai minum kopi tiga gelas, berlari dari lift ke mejaku sambil memegang ponsel dengan dua tangan.
“Mbak. Mbak. Mbak.”
“Pagi, Tik.”
“Ini bener?” Tika menyodorkan layar ponselnya ke depan wajahku. “INI BENER?”
Di layar, ada foto yang sudah kulihat sebelas kali sejak Sabtu malam: aku di meja nomor empat Warung Dodoy, menggandeng lengan Kak Esa, sementara dia menyodorkan piring kecil berisi separuh rendang dengan wajah bingung. Foto itu ternyata sudah keluar dari grup alumni Tunas Bangsa. Seseorang mengunggahnya ke akun gosip kantor-kantoran di Instagram dengan caption: Ketika cewek secantik ini milih cowok berhoodie. Apa rahasianya, bestie?
Seribu dua ratus suka. Tiga ratus komentar.
“Itu kamu dapet dari mana?” tanyaku.
“Dari grup WA divisi Sales! Mas Bram nggak ada di grup itu, tapi temen-temennya ada. Mereka udah ngomongin dari Sabtu malem!” Tika memeluk ponselnya ke dada. “Mbak Sha. Mbak Sha yang nolak Mas Bram delapan bulan. Mbak Sha yang nolak anak direktur keuangan. Mbak Sha yang nolak mas-mas dari agensi yang ngirim bunga tiap Jumat. Mbak Sha pacaran sama... sama...”
“Sama?”
Tika menatap foto itu lagi. “Mas Hoodie.”
“Namanya Esa.”
“Mas Esa.” Tika mengucapkan nama itu seperti mengeja kata asing. “Mas Esa kerja apa, Mbak?”
Aku menyalakan laptop. Membuka email. Menyesap kopi encer.
“Ngetik,” kataku.
Bram muncul di depan mejaku jam sepuluh lewat lima belas, dengan kopi yang tidak kupesan.
Ini ritual Senin pagi kami selama delapan bulan terakhir. Dia datang, meletakkan kopi di sudut mejaku, berdiri sedikit terlalu dekat, dan mengatakan sesuatu yang menurutnya lucu. Aku mengucapkan terima kasih tanpa menoleh dari layar, tidak menyentuh kopinya, dan dia pergi. Kopi itu nanti diminum Tika.
Pagi ini, Bram meletakkan kopinya dengan sedikit lebih keras.
“Pagi, Sha.”
“Pagi, Mas.”
“Weekend seru?”
“Seru.”
Dia bersandar di partisi mejaku. Wangi parfumnya kuat sekali, parfum yang menurutku mahal tapi dipakai terlalu banyak, seperti orang yang mengira semakin banyak semakin mahal.
“Gue nggak nyangka,” katanya. “Sumpah. Dari semua cowok, lo milih Esa.”
Aku terus mengetik email ke vendor.
“Lo tau dia kayak gimana waktu SMA? Anak panti. Sepatunya bolong. Tiap istirahat makan nasi bungkus doang di pojok kelas. Pendiem. Aneh.” Bram terkekeh. “Dan sekarang masih sama. Dua belas tahun nggak berubah.”
Jariku berhenti di atas keyboard.
Anak panti.
Nasi bungkus doang di pojok kelas.
Aku tahu soal itu. Aku tahu, karena nasi bungkus itu berasal dari dapur panti yang sama tempat aku makan setiap hari. Nasi bungkus yang dibungkus Bu Ratna setiap subuh untuk anak-anak yang sudah SMA. Isinya nasi, tempe goreng, dan sambal, kadang telur kalau ada donatur bulan itu. Kak Esa selalu mendapat telur, karena dia satu-satunya anak panti yang lolos SMA negeri favorit, dan Bu Ratna bilang otak yang bagus butuh protein.
Dan setiap pagi, sebelum berangkat, Kak Esa memotong telur itu jadi dua dan meninggalkan separuhnya di piring kecil di meja makan.
Untuk siapa saja yang kalah cepat.
Aku hampir selalu kalah cepat.
“Pacar kamu kerja apa sih, Sha?” lanjut Bram, tidak menyadari apa pun. “Serius. Lo nggak malu bawa dia ke acara kantor? Gathering akhir tahun nanti, lo mau dateng sama dia pakai hoodie?”
Aku memutar kursiku menghadap Bram.
Pelan.
Aku tersenyum. Senyum yang paling manis, paling lembut, paling berbahaya.
“Kerja bikin aku senyum,” kataku. “Kamu?”
Bram terdiam.
Di belakangnya, Tika menutup mulut dengan dua tangan.
Sebelum Bram sempat menjawab, ponselku berbunyi. Nama di layar: Hoodie 🩶. Aku sudah mengganti nama kontaknya hari Minggu malam, setelah dia mengantarku pulang dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam.
Kak Esa tidak pernah meneleponku duluan. Ini pertama kalinya.
Waktu yang sempurna.
Aku mengangkatnya dengan loudspeaker. Tidak sengaja. Sengaja sekali.
“Halo, Sayang?”
Hening dua detik di seberang. Lalu suara serak, berat, dan sangat jelas baru bangun tidur:
“...Sha. Kotak sop-nya.”
“Kenapa kotak sop-nya?”
“Ketinggalan di kosku. Kotak birumu. Mau kubalikin kapan?”
Aku melirik jam di laptop. Sepuluh lewat dua puluh. Laki-laki ini baru bangun jam sepuluh lewat dua puluh, dan hal pertama yang dia pikirkan adalah mengembalikan kotak sop-ku.
“Kamu baru bangun?”
“Hm.”
“Suaramu,” kataku, cukup keras untuk didengar Bram, Tika, dan tiga meja di sekeliling kami, “kalau baru bangun kayak gitu bahaya, tau.”
Hening di seberang.
“...Bahaya gimana?”
“Bikin orang pengin dibangunin tiap pagi.” Aku memutar-mutar pulpen di jariku. “Rekam dong. Buat alarm aku.”
Hening lebih lama. Aku bisa membayangkan wajahnya: rambut berantakan, hoodie yang lebih belel, telinga yang pelan-pelan memerah dari bawah ke atas seperti termometer.
“Sha,” katanya akhirnya. “Kamu di kantor?”
“Iya.”
“Ada orang?”
“Banyak.”
“Kamu loudspeaker?”
“Iya.”
Bunyi seperti orang menutup wajahnya dengan bantal.
“Kotaknya nanti aku ambil,” kataku, mengasihaninya. “Kamu cuci dulu, ya. Terus tidur lagi. Mimpiin aku.”
“...Iya, Sayang.”
Telepon ditutup.
Kata terakhir itu, Sayang, dia ucapkan dengan sangat pelan, sangat kaku, seperti orang yang baru pertama kali mengucapkan kata dalam bahasa asing. Tapi dia mengucapkannya. Tanpa disuruh.
Aku meletakkan ponsel di meja. Jantungku berdetak terlalu kencang untuk jam sepuluh pagi hari Senin.
Bram masih berdiri di sana. Wajahnya merah dari leher sampai dahi. Kopinya masih di sudut mejaku.
“Mas,” kataku. “Kopinya buat Tika aja, ya. Aku udah ada yang bikinin.”
Bram pergi tanpa sepatah kata.
Tika menghampiri dan berbisik dengan mata berkaca-kaca: “Mbak. Itu tadi. Itu tadi adegan film.”
Rapat mingguan divisi Marketing dimulai jam sebelas.
Kak Hendra, CEO kami, ikut rapat. Itu jarang. Biasanya dia hanya muncul di rapat besar. Tapi pagi ini dia duduk di ujung meja dengan kemeja biru muda yang kusut di bagian siku dan wajah orang yang tidur tiga jam. Ponselnya diletakkan tengkurap di depannya, dan setiap lima menit ponsel itu bergetar, dan setiap kali bergetar, Kak Hendra membaliknya, membaca, lalu memejamkan mata seperti sedang berdoa.
“Oke, teman-teman,” katanya, setelah Kak Dewi, kepala divisi kami, selesai membahas kampanye Desember. “Saya mau kasih info penting. Seri C kita sudah masuk tahap akhir. Investor utama minta materi lengkap. Termasuk profil tim inti tiap divisi. Foto, nama, jabatan, pencapaian.”
Semua orang di ruangan menegakkan punggung.
“Brand Manager,” Kak Hendra menunjukku, “kamu masuk. Kampanye ‘Bekal untuk Semua’ kemarin itu yang paling banyak disebut investor. Siapkan foto profesional dan ringkasan pencapaian, ya. Jumat.”
“Baik, Kak.”
Rasa bangga meletup kecil di dadaku. Kampanye itu kugarap enam bulan. Tidurku berantakan. Aku menulis setiap kata di naskahnya sendiri. Investor menyebutnya. Investor menyebutnya.
Ponsel Kak Hendra bergetar lagi.
Dia membaliknya, membaca, lalu menghela napas yang sangat panjang dan sangat dalam.
“Maaf,” katanya pada ruangan. “Founder.”
Seluruh ruangan langsung hening.
Founder.
Di Bekal, kata itu punya bobot yang aneh, seperti nama tokoh legenda. Tidak ada yang pernah bertemu founder kami. Tidak ada yang tahu namanya. Di profil perusahaan cuma tertulis Founder: E. Satu huruf. Di dokumen-dokumen resmi, tanda tangannya hanya berupa coretan pendek dengan inisial yang sama. Kak Hendra menyebutnya “Pak E” di telepon, dengan nada setengah hormat setengah takut, seperti murid yang menelepon kepala sekolah.
“Kak,” kata Tika, yang memang tidak punya rem di mulutnya, “founder kita itu sebenernya siapa, sih?”
Kak Hendra menatap Tika seolah Tika baru menanyakan kode nuklir.
“Founder kita,” katanya pelan, “orang yang sangat... privat.”
“Bapak-bapak, ya, Kak? Umur lima puluhan? Pakai jas?”
Kak Hendra membuka mulut. Menutupnya. Lalu tertawa dengan nada aneh, seperti orang yang menahan sesuatu.
“Saya nggak bisa komentar.”
“Atau jangan-jangan bukan manusia?” Tika menyipitkan mata. “Jangan-jangan AI?”
“Tika,” tegur Kak Dewi.
“Atau alien, Kak?”
“TIKA.”
Ruangan tertawa. Kak Hendra ikut tertawa, tapi ponselnya bergetar lagi, dan tawanya langsung mati.
Aku memperhatikannya dari seberang meja. Dan sejujurnya, aku juga penasaran. Selama dua tahun bekerja di Bekal, aku sudah membaca setiap dokumen visi perusahaan. Visi Bekal ditulis oleh founder sendiri, empat tahun lalu, dan kalimat pertamanya selalu membuatku berhenti setiap kali membacanya:
Tidak ada anak yang boleh berhenti belajar hanya karena tidak ada yang menunjukkan jalan.
Kalimat itu membuatku melamar ke sini. Kalimat itu membuatku bertahan di sini waktu gaji pertamaku masih kecil dan aku harus naik KRL dua jam sehari.
Siapa pun Pak E, dia pasti orang yang pernah tersesat.
“Kalau suatu hari ketemu,” gumamku, lebih kepada diriku sendiri, “aku pengin bilang makasih.”
Kak Hendra menoleh ke arahku. Tatapannya aneh. Lama.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena dia nulis kalimat pertama di dokumen visi.” Aku mengangkat bahu. “Kalimat itu yang bikin aku ngelamar ke sini.”
Kak Hendra menatapku beberapa detik lagi. Lalu dia tersenyum. Senyum kecil, lelah, dan entah kenapa sedikit sedih.
“Nanti saya sampaikan,” katanya.
Jam empat sore, aku sedang menyusun ringkasan pencapaian untuk materi investor waktu ponselku bergetar.
Hoodie 🩶: [Foto]
Foto kotak plastik biru milikku. Sudah dicuci bersih, dikeringkan, dan diletakkan di atas kasur di samping helm bogo cokelat. Di sebelahnya ada secarik kertas sobekan buku tulis dengan tulisan tangan miring:
Udah dicuci. Pake sabun dua kali. — E
Aku menatap foto itu lama.
Tulisan tangan itu. Huruf E-nya. Garis miring yang terburu-buru. Aku pernah melihatnya. Di surat-surat yang tidak pernah dikirim balik. Di catatan kecil yang ditempel di pintu kulkas panti bertahun-tahun lalu: Telur jangan diambil semua. Sisain buat yang kecil. — E.
Aku menelan ludah dan membalas.
Aku: Makasih. Rajin banget.
Hoodie 🩶: Biar kamu masak lagi.
Aku: Kamu laper?
Hoodie 🩶: Selalu.
Aku tersenyum ke layar. Tika, di meja sebelah, melirikku dengan curiga.
Aku mengetik pelan. Menghapus. Mengetik lagi. Lalu mengirimnya sebelum keberanianku hilang.
Aku: Laper makanan, atau laper aku?
Centang dua. Biru.
Tidak ada balasan.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Aku pura-pura mengerjakan ringkasan pencapaian, tapi sudah tiga kali mengetik kata “kampanye” dengan ejaan salah.
Delapan menit.
Sepuluh menit.
Aku mulai menyesal. Mungkin terlalu jauh. Mungkin dia kaget. Mungkin dia, dengan hoodie dan telinga merahnya dan kebiasaannya menyisihkan separuh lauk untuk orang lain, bukan laki-laki yang bisa diajak bercanda seperti itu. Mungkin...
Sebelas menit.
Ponselku bergetar.
Hoodie 🩶: Nggak usah nanya kalau udah tau jawabannya.
Aku menatap layar.
Lalu meletakkan ponsel tengkurap di meja, menutup wajahku dengan kedua tangan, dan menjerit tanpa suara ke telapak tanganku sendiri.
“Mbak Sha?” Tika memanggil dengan cemas. “Mbak Sha kenapa?”
“Nggak apa-apa,” kataku dari balik tangan. “Aku cuma butuh semenit.”
Malam itu, aku pulang naik KRL. Gerbong perempuan penuh seperti biasa. Aku berdiri berpegangan pada tali di langit-langit, terhimpit di antara ibu-ibu berseragam bank dan mahasiswi yang tertidur sambil berdiri.
Aku membuka foto kotak plastik biru itu lagi. Memperbesarnya. Menatap tulisan tangan miring di secarik kertas sobekan.
— E
Dia masih menandatangani semuanya dengan satu huruf. Seperti dulu. Seperti di catatan kulkas panti. Seperti di...
Aku berhenti.
Sesuatu yang kecil dan dingin merambat di tengkukku.
Founder: E.
Aku menggeleng pelan. Lalu tertawa sendiri, cukup keras sampai ibu berseragam bank di sebelahku melirik.
Tidak mungkin. Kak Esa memang jenius. Kak Esa memang mengirim beasiswa untukku selama tujuh tahun, dari hasil kerja freelance yang entah apa. Tapi founder startup hampir satu triliun yang punya kantor di SCBD dan CEO yang ketakutan setiap kali ponselnya bergetar?
Laki-laki yang ngekos sembilan ratus ribu, yang motornya diberi nama Bubur, yang baru bangun jam sepuluh lewat dua puluh, dan yang butuh sebelas menit untuk membalas satu pesan genit?
Tidak mungkin.
Di dunia ini ada jutaan nama yang dimulai dengan huruf E.
Aku menyimpan ponsel ke tas, memejamkan mata, dan membiarkan KRL membawaku pulang.
Aku tidak tahu bahwa di kantor yang baru kutinggalkan, Kak Hendra sedang mengirim draf materi investor ke satu alamat email yang hanya dia yang tahu.
Lengkap dengan fotoku di halaman empat.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain reading
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali