← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Four

Kontrak Tanpa Kertas

POV: Esa


Aku menunggu penjelasan.

Perempuan di depanku, Ayasha, kalau kata Bram, tertawa sampai harus memegangi perut, lalu menyeka sudut matanya dengan ujung jari, lalu menatap Bubur lagi dan tertawa lagi.

Aku menunggu dengan sabar. Aku punya banyak kesabaran. Hidup di panti sampai umur delapan belas mengajarkanmu menunggu: antre mandi, antre makan, antre dijemput keluarga yang tidak pernah datang.

Tapi sebelum dia sempat berhenti tertawa, pintu Warung Dodoy terbuka di belakangku.

“Masuk, masuk!” Dodoy menyembulkan kepala. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan seperti agen rahasia di film murahan. “Jangan ngobrol di luar! Itu, lihat itu!”

Aku menoleh. Di balik kaca restoran, tujuh-delapan wajah menempel. Perempuan dengan bayi di gendongan. Dua teman Bram. Seorang laki-laki botak yang kalau tidak salah dulu ketua kelas IPA 2. Begitu kami menoleh, mereka semua pura-pura sibuk melihat ke arah lain. Si laki-laki botak bahkan pura-pura membaca menu yang ditempel di kaca. Dari dalam. Terbalik.

“Lewat belakang,” desis Dodoy. “Dapur. Cepet.”


Dapur Warung Dodoy panas, sempit, dan bau bawang goreng.

Dua kompor besar masih menyala kecil, menghangatkan panci rendang yang tinggal sepertiga. Rak piring kotor menjulang di sudut. Ada kipas angin berdiri yang berputar ke kiri dan kanan dengan bunyi seperti orang mengeluh. Dodoy menarik dua kursi plastik dari balik tumpukan karung beras, meletakkannya berhadapan di tengah dapur, lalu, dengan gaya pelayan restoran bintang lima, mempersilakan kami duduk.

“Silakan. Ngobrol. Gue nggak denger apa-apa.”

Lalu dia berjalan ke wastafel, tiga langkah dari kami, dan mulai mencuci wajan.

Wajan yang sudah bersih.

“Doy,” kataku.

“Hm?”

“Itu wajannya udah bersih.”

“Kotor.”

“Mengkilap, Doy.”

“Kotor di dalem. Kotornya nggak keliatan.” Dodoy menggosok lebih keras. “Lo ngobrol aja. Anggap gue nggak ada.”

Ayasha menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar.

Aku duduk. Dia duduk. Lutut kami hampir bersentuhan karena dapurnya sempit. Di bawah lampu neon dapur yang putih dan jujur, wajahnya terlihat lebih nyata dibanding di bawah lampu bohlam ruang depan. Maskaranya sedikit luntur di ujung mata kanan. Ada keringat tipis di pelipisnya karena dapur ini panasnya seperti sauna. Bibir merah tuanya sudah sedikit pudar di bagian tengah, mungkin karena kerupuk tadi, mungkin karena teh manisku yang dia minum tanpa izin.

Dia tetap cantik. Malah lebih cantik. Cantik yang tidak dibuat-buat.

Itu masalah. Karena aku jadi lupa mau bertanya apa.

“Oke,” kataku, setelah dua detik yang terlalu lama. “Mulai dari awal.”

“Dari awal mana?”

“Dari kenapa aku tiba-tiba punya pacar.”

Ayasha merapikan rambutnya ke balik telinga. Gerakannya pelan, seolah dia sedang mengulur waktu untuk menyusun kalimat.

“Mas Bram,” katanya akhirnya. “Aku kenal dia dari kerjaan. Dia... ganggu aku terus. Udah lama. Ngajak makan, nawarin anter pulang, berdiri kedeketan. Udah kutolak baik-baik, setengah baik, sampai nggak baik sama sekali. Dia nggak ngerti-ngerti.”

Kenal dari kerjaan. Bram kerja di bagian sales. Sales butuh klien. Masuk akal, pikirku. Perempuan secantik ini mungkin bekerja di perusahaan yang pernah didatangi Bram untuk menawarkan paket bimbel, dan sejak itu Bram tidak berhenti mampir.

Kasihan. Bram memang begitu sejak SMA. Dia menganggap penolakan sebagai babak pertama.

“Terus,” lanjut Ayasha, “tadi aku lihat dia dari luar. Lagi nyengkeram bahu kamu. Ngomongin kamu kayak kamu itu... sampah.”

“Dia nawarin aku kerja jadi OB.”

“Aku denger.”

“Gajinya UMR.”

“Aku denger juga.”

“Lumayan sebenernya.”

Ayasha menatapku. Lama. Seolah dia tidak bisa memutuskan apakah aku sedang bercanda.

Aku memang sedang bercanda. Tapi aku juga tidak sedang bercanda. Gaji UMR itu memang lumayan, kalau kamu benar-benar menganggur. Aku pernah benar-benar menganggur. Aku tahu rasanya bersyukur untuk gaji UMR.

“Pokoknya,” Ayasha melanjutkan, menarik napas, “aku kesel. Aku masuk. Aku... spontan.”

“Spontan manggil ‘Sayang’.”

“Iya.”

“Spontan ngerapihin tali hoodie.”

“Iya.”

“Spontan ngelap sambal di bibirku.”

Ayasha menunduk. Ujung telinganya memerah. Aku melihatnya dan, entah kenapa, merasa sedikit lebih baik soal telingaku sendiri yang tadi memerah di depan semua orang.

“Yang itu,” katanya pelan, “nggak terlalu spontan.”

Di wastafel, wajan Dodoy berhenti berbunyi.

“Doy.”

Wajan berbunyi lagi. Lebih keras.


“Terus,” kataku, “kenapa kamu ada di sini? Ini reuni SMA-ku. Kamu bukan alumni Tunas Bangsa. Aku pasti inget.”

Kalimat terakhir itu keluar tanpa kurencanakan. Ayasha mengangkat alis, dan aku menyesalinya.

“Pasti inget?” ulangnya.

“Maksudku—”

“Kenapa pasti inget?”

Aku menatap kipas angin. Kipas angin menatap balik, lalu berputar ke arah lain. Pengkhianat.

“Karena,” kataku hati-hati, “kalau ada siswi kayak kamu di Tunas Bangsa, satu sekolah pasti ngomongin. Dua belas tahun kemudian masih diomongin.”

Ayasha tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Senyum kecil yang lambat, dimulai dari sudut bibir kiri, lalu menyebar sampai matanya ikut menyipit. Senyum orang yang baru saja mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.

Aku langsung tahu aku sudah membuat kesalahan taktis besar.

“Aku dateng karena diundang,” katanya.

“Sama siapa?”

“Rahasia.”

“Kok rahasia?”

“Biar kamu penasaran.”

“Aku udah penasaran.”

“Bagus.” Senyumnya melebar. “Pertahankan.”

Aku melirik Dodoy. Dodoy menggosok wajan seolah hidupnya bergantung pada wajan itu. Punggungnya tegang. Lehernya merah.

Sesuatu yang dingin dan curiga merayap di tengkukku.

Plus satu kejutan.

Tergantung lo.

“Doy,” kataku pelan.

“GUE NGGAK DENGER APA-APA.”


Ayasha mencondongkan badan ke depan, kedua siku di atas lutut, dagu di atas kepalan tangan. Gerakan itu membawa wajahnya lebih dekat, cukup dekat untuk aku bisa melihat ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Sangat kecil. Seperti titik di ujung kalimat.

“Sekarang aku yang mau ngomong,” katanya. “Boleh?”

“Silakan.”

“Tadi itu berhasil, kan? Mas Bram kicep. Temen-temen kamu kicep. Semua orang kicep.”

“Dodoy jatuhin nampan.”

“Itu bonus.” Dia tersenyum. “Masalahnya, besok Senin aku harus ketemu Mas Bram lagi. Dan dia pasti mikir tadi itu bohong. Dia pasti mikir aku cuma iseng. Terus dia bakal ganggu aku lagi, mungkin lebih parah, karena sekarang harga dirinya luka.”

“Harga dirinya memang gampang luka. Dari SMA.”

“Makanya.” Dia mengetuk lututku pelan dengan jari telunjuk. Satu kali. Sentuhan ringan yang entah kenapa terasa sampai ke tulang. “Aku butuh dia percaya. Bukan cuma malam ini. Seterusnya. Sampai dia nyerah.”

“Jadi?”

“Jadi,” dia menegakkan punggung, “aku mau ngajuin kontrak.”

“Kontrak.”

“Pacaran pura-pura. Sampai Mas Bram nyerah.”

Wajan Dodoy jatuh ke wastafel.

Kami berdua menoleh. Dodoy memungutnya cepat-cepat, berkata “Licin!” dengan suara melengking, lalu mulai mencuci wajan lain yang juga sudah bersih.

Aku kembali menatap Ayasha.

“Kenapa aku?”

“Karena kamu udah terlanjur jadi pacarku di depan tiga puluh orang.”

“Itu bukan salahku.”

“Memang bukan. Itu salahku.” Dia mengangguk dengan serius. “Makanya aku tanggung jawab. Aku ngajuin kontrak, bukan maksa.”

“Kontraknya ngapain aja?”

“Gampang. Kalau ada acara yang Mas Bram dateng, kamu dateng sama aku. Atau aku dateng sama kamu.” Dia menghitung dengan jarinya. “Sesekali posting foto berdua. Sesekali aku telepon kamu pas lagi di kantor, pas Mas Bram lewat. Kamu jawab ‘Iya, Sayang.’ Udah. Itu aja.”

“Acara yang Bram dateng... Ada?”

Ayasha mengeluarkan ponselnya, mengusap layar, lalu menunjukkan sesuatu padaku. Undangan digital. Latar belakang bunga-bunga pastel.

The Wedding of Wulan & Fajar Sabtu, 5 Desember — Gedung Graha Sarana, Jakarta Timur

Aku mengenali nama itu. Wulan Sari dan Fajar Hidayat, teman sekelasku waktu kelas dua belas. Mereka pacaran sejak kelas sebelas dan sudah putus-sambung kira-kira empat belas kali.

“Kok kamu punya undangannya?”

“Barusan dikirim. Pas kita di luar.” Ayasha menggulir layar. “Mbak yang gendong bayi tadi itu kakaknya Wulan. Dia minta nomorku. Katanya, ‘Pacarnya Esa wajib dateng ke nikahan adikku, ya. Bawa Esa.’ Mas Bram juga pasti dateng. Dia kan temen SMA kalian.”

“Tiga minggu lagi.”

“Tiga minggu lagi,” ulangnya. “Gimana?”

Aku diam.

Aku tidak suka acara keramaian. Aku tidak suka nikahan. Aku tidak suka harus pakai kemeja, karena aku cuma punya satu dan kancing ketiganya sudah lepas. Aku tidak suka harus berdiri di antara orang-orang yang akan bertanya kerja di mana sekarang dan kapan nyusul.

Dan aku sama sekali tidak tahu siapa perempuan ini.

Tapi ada satu hal yang aku tahu. Tadi, waktu Bram meremas bahuku di depan tiga puluh orang, aku memang tidak peduli. Tapi waktu Ayasha menyingkirkan tangan Bram seperti menyingkirkan daun kering, ada sesuatu di dadaku yang tadinya tidak ada.

Aku tidak tahu itu apa. Mungkin cuma terkejut.

Mungkin bukan.

“Bayarannya apa?” tanyaku.

Ayasha berkedip. “Bayaran?”

“Kontrak kan ada bayarannya.”

Dia menatapku seperti tidak menduga pertanyaan itu. Lalu dia tersenyum lagi, kali ini berbeda. Lebih lembut. Hampir seperti lega.

“Aku masakin kamu,” katanya. “Tiap minggu. Selama kontraknya jalan.”

Aku tidak perlu berpikir.

“Deal.”

Ayasha tertegun. “Secepet itu?”

“Iya.”

“Kamu nggak nanya aku bisa masak atau nggak?”

“Nggak penting.”

“Kok nggak penting?”

“Kalau enak, aku makan. Kalau nggak enak,” aku mengangkat bahu, “aku tetap makan.”

Hening sebentar. Hanya ada bunyi kipas angin dan bunyi air keran yang dibiarkan menyala oleh Dodoy, yang sudah berhenti pura-pura mencuci dan sekarang terang-terangan menatap kami dengan mulut terbuka.

Ayasha menunduk. Rambutnya jatuh ke depan, menutupi sebagian wajahnya. Waktu dia mengangkat kepala lagi, matanya basah. Hanya sedikit. Hanya di ujung.

“Kamu tuh,” katanya pelan, lalu berhenti. Dia tidak melanjutkan kalimatnya.

“Aku apa?”

“Nggak.” Dia menggeleng, tersenyum lagi. “Nggak apa-apa.”


Aku tetap tidak tahu kenapa aku.

Jadi aku bertanya lagi, waktu kami sudah keluar dari dapur dan berdiri di trotoar, menunggu taksi online yang dia pesan. Bubur terparkir di sebelah kami. Sebagian besar alumni sudah pulang. Bram sudah tidak ada. Lampu jalan masih oranye.

“Kamu bisa minta siapa aja,” kataku. “Di dalem tadi ada tiga puluh laki-laki. Separuhnya punya mobil. Beberapa punya jam tangan emas. Kenapa harus yang pakai hoodie?”

Ayasha menatap jalan. Angin malam meniup rambutnya. Dia melipat tangan di depan dada karena blus satinnya terlalu tipis untuk udara malam.

“Karena,” katanya, “dari tiga puluh laki-laki di dalem, cuma kamu yang nggak ngeliatin aku kayak barang lelang.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu malah nawarin aku kerupuk,” lanjutnya. Dia menoleh, menatapku, dan senyumnya kali ini kecil sekali. “Nggak ada yang pernah nawarin aku kerupuk, waktu pertama ketemu.”

Aku membuka resleting hoodie, melepasnya, lalu menyampirkannya ke bahunya.

Ayasha membeku.

“Dingin,” kataku.

Dia menatap hoodie abu-abu di bahunya. Lalu menatapku, yang sekarang berdiri di trotoar Tebet dengan kaos oblong putih tipis yang lehernya sudah melar.

“Kamu yang kedinginan sekarang.”

“Aku udah biasa.”

Ayasha merapatkan hoodie itu di depan dadanya. Pelan. Dia menunduk dan, aku cukup yakin, menghirup napas panjang lewat hidung. Seperti orang yang mencium bau rumah.

Taksi datang. Avanza silver. Ayasha melangkah ke pintu, lalu berhenti dan berbalik.

“HP kamu,” katanya, mengulurkan tangan.

“Buat apa?”

“Kontrak tanpa nomor telepon itu bukan kontrak.”

Aku menyerahkan ponselku. Dia mengetik cepat, lalu mengembalikannya. Aku melihat layarnya.

Kontak baru: Pacar (Kontrak)

“Hoodie-nya?” tanyaku.

“Kubalikin minggu depan,” katanya, sambil masuk ke mobil. “Pas aku masakin kamu.”

Pintu tertutup. Taksi melaju. Aku berdiri di trotoar dengan kaos oblong tipis dan merasakan angin malam Tebet untuk pertama kalinya dalam enam tahun.


Dodoy menungguku di depan pintu warung. Dia sudah mengganti kemeja batiknya dengan kaos kutang dan celemek. Kedua tangannya di pinggang.

“Gimana?” tanyanya. Senyumnya lebar. Terlalu lebar.

“Gimana apanya?”

“Kejutannya. Suka?”

Aku menatapnya.

Dodoy berhenti tersenyum.

“Itu,” kataku pelan, “kejutanmu?”

“Kejutan apa?” Dodoy berbalik cepat ke arah pintu. “Gue nggak ngerti lo ngomong apa. Gue mau beres-beres. Banyak piring. Banyak banget piring. Dadah, Sa!”

Pintu tertutup di depan wajahku. Aku mendengar kunci diputar. Dua kali.

Aku berdiri di depan Warung Dodoy yang terkunci, menatap pantulanku sendiri di kaca: laki-laki dua puluh sembilan tahun dengan kaos oblong melar dan rambut berantakan, yang baru saja punya pacar kontrak dan kehilangan hoodie.

Aku tertawa sendiri. Pelan.

Lalu aku naik ke Bubur dan pulang.


Ponselku bergetar waktu aku sampai di kos. Hampir tengah malam.

Grup WhatsApp ALUMNI TUNAS BANGSA 2014, yang tiga tahun terakhir hanya berisi ucapan selamat ulang tahun dan promosi asuransi, sekarang punya tiga ratus empat puluh tujuh pesan yang belum dibaca. Aku menggulir sekilas.

SIAPA CEWEK ITU

Ya Allah cantik bgt kaya artis

Esa pake pelet apa sih

Bram mukanya kayak abis ditilang wkwkwk

Ada yang fotoin gak???

Seseorang mengirim foto. Diambil dari kejauhan, sedikit buram: aku di meja nomor empat, dengan perempuan berblus putih yang menggandeng lenganku dan tersenyum ke arah kamera. Aku sendiri sedang menyodorkan piring kecil berisi separuh rendang dengan wajah bingung.

Foto itu sudah di-forward sembilan kali.

Aku mematikan notifikasi grup itu.

Lalu ponselku bergetar lagi. Kali ini pesan pribadi.

Pacar (Kontrak): Udah nyampe. Makasih hoodie-nya. Wangi.

Pacar (Kontrak): Btw ini latihan ya. Biar kamu terbiasa.

Pacar (Kontrak): Selamat tidur, Sayang.

Aku membaca tiga pesan itu sambil berbaring di kasur, di bawah peta Kalimantan di langit-langit, dengan kipas angin yang batuk-batuk di lantai.

Aku mengetik Sama-sama. Kuhapus.

Aku mengetik Iya. Kuhapus.

Aku mengetik Selamat tidur juga. Jempolku melayang di atas tombol kirim selama dua menit penuh.

Lalu aku mengirimnya.

Tanda centang dua langsung biru. Dia masih bangun. Dia sedang menatap layar yang sama.

Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit, dan tiba-tiba sadar aku sedang tersenyum seperti orang bodoh, sendirian, di kamar tiga kali tiga meter, jam dua belas malam.

Malam itu aku tidur nyenyak sekali.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali tidur senyenyak itu.