← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Eight

Founder Misterius Nggak Pernah Nongol

POV: Esa


Email dari Hendra masuk jam sebelas malam, Senin.

Aku sedang duduk bersila di kasur dengan laptop di pangkuan, menyelesaikan pembaruan sistem pelacakan kontainer untuk klien di Norwegia sambil makan kerupuk sisa dari warung Mak Ijah. Kipas angin batuk-batuk di lantai. Peta Kalimantan di langit-langit masih di tempatnya.

Dari: Hendra Kusuma Subjek: [RAHASIA] Draft Deck Investor Seri C — mohon review Pak E 🙏🙏🙏

Pak E, mohon maaf mengganggu malam-malam. Terlampir draft deck untuk Seri C. Halaman 3–6 profil tim inti. Foto sementara pakai foto dari HR dulu, nanti diganti foto profesional Jumat. Mohon koreksinya Pak. Tolong. Saya mohon. Investor minta besok jam 9 call lagi.

Tiga emoji tangan berdoa di subjek. Hendra sedang dalam fase panik tingkat sedang.

Aku membuka lampirannya.

Halaman satu: logo Bekal. Halaman dua: angka-angka pertumbuhan yang sebagian besar sudah kuhafal. Halaman tiga: Hendra sendiri, dengan senyum terlatih dan jas abu-abu. Dia selalu memasang foto yang sama sejak empat tahun lalu, waktu rambutnya masih lebih banyak.

Halaman empat.

Divisi Marketing — Pencapaian Unggulan Kampanye “Bekal untuk Semua” (Q2–Q3): +340% pendaftar beasiswa, disebut investor sebagai kampanye edukasi paling berdampak tahun ini.

Di bawahnya, foto seorang perempuan.

Rambut panjang bergelombang. Blazer krem. Senyum profesional yang sedikit kaku, seperti senyum orang yang difoto untuk kartu identitas karyawan dan tidak terlalu suka difoto. Ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Sangat kecil. Seperti titik di ujung kalimat.

Ayasha Pramesti — Brand Manager

Aku sedang menyesap kopi sachet waktu membacanya.

Kopi itu masuk ke saluran yang salah.

Aku batuk. Keras. Batuk sampai laptop hampir jatuh dari pangkuan, sampai kerupuk di tanganku remuk, sampai kopi menyembur sebagian ke layar dan menetes ke keyboard, sampai Bu Darsih menggedor dinding dari kamar sebelah dan berteriak, “SA! KAMU KESELEK APA KESURUPAN?!”

“Keselek, Bu!”

“MINUM AIR!”

Aku minum air. Aku mengelap layar dengan ujung hoodie. Lalu aku menatap halaman empat lagi, seolah dengan menatapnya lebih lama, foto dan nama itu akan berubah jadi orang lain.

Tidak berubah.

Ayasha Pramesti. Brand Manager. Bekal.

Aku kenal dia dari kerjaan.

Bram kerja di Bekal. Ayasha kerja di Bekal. Bram sudah delapan bulan menggodanya. Bukan sebagai klien. Sebagai rekan sekantor. Setiap Senin, setiap Jumat, di lantai dua puluh tiga gedung yang sewanya aku tanda tangani empat tahun lalu dengan coretan satu huruf.

Pacar kontrakku adalah karyawanku.

Perempuan yang kemarin menyuruhku mengikat tali celemeknya, yang bilang pantatku bagus, yang memelukku di atas Bubur dan meraba perutku di jalan Saharjo, yang tadi pagi menyuruhku merekam suara bangun tidurku untuk alarmnya, yang sore tadi bertanya apakah aku lapar makanan atau lapar dia...

Bekerja untuk perusahaan yang aku dirikan.

Aku menutup laptop. Membukanya lagi. Menutupnya lagi.

Lalu aku berbaring telentang di kasur dan menatap peta Kalimantan selama empat puluh menit.


Ada beberapa hal yang aku tahu tentang orang-orang yang tiba-tiba tahu kamu kaya.

Pertama, mereka berubah. Tidak selalu jadi jahat. Kadang malah jadi terlalu baik. Terlalu sopan. Terlalu hati-hati. Seolah kamu barang pecah belah yang harganya mahal.

Kedua, mereka mulai menghitung. Bukan uangmu. Diri mereka sendiri. Apa yang aku punya yang dia butuhkan? Apa yang bisa aku berikan sebagai balasan? Dan begitu orang mulai menghitung, mereka tidak pernah berhenti.

Ketiga, dan ini yang paling buruk: kamu tidak akan pernah tahu lagi apakah mereka tersenyum padamu, atau pada sesuatu di belakangmu.

Aku tahu semua itu karena aku pernah mengalaminya. Satu kali. Waktu Bekal pertama kali masuk berita dan namaku hampir tercantum di artikel majalah bisnis. Hendra yang menyelamatkan. Dia menelepon redaksi jam dua pagi dan meminta inisial saja. Sejak itu aku jadi Founder: E, dan aku tidak pernah menyesalinya.

Sekarang ada perempuan yang memanggilku Sayang di depan Bram.

Perempuan yang tidak tahu siapa aku.

Kalau dia tahu aku bosnya, dia akan berubah. Mungkin dia akan malu. Mungkin dia akan merasa harus sopan. Mungkin dia akan berhenti memanggilku Sayang dengan nada setengah meledek itu. Mungkin dia akan berhenti menyuapiku sop iga dengan mata yang menatap bibirku.

Aku tidak mau dia berhenti.

Itu pertama kalinya aku menyadari bahwa aku tidak mau dia berhenti.

Aku membuka laptop lagi dan membalas email Hendra.

Deck oke. Halaman 4 jangan diubah. Call besok jam 9, kamera mati.

Satu lagi. Mulai sekarang, jangan pernah sebut apa pun tentang saya di depan tim Marketing. Terutama Brand Manager.

Tiga detik kemudian, Hendra membalas. Dia memang tidak pernah tidur.

Siap Pak. Boleh tau kenapa Pak?

Aku menatap layar.

Pokoknya.


Call investor dimulai jam sembilan pagi.

Aku duduk di kasur dengan laptop, kamera mati, mikrofon menyala, hoodie yang lebih belel, rambut belum disisir. Di layar ada enam kotak: Hendra di ruang rapat kantor dengan wajah pucat, CFO Bekal, dua perwakilan investor dari Singapura, satu dari Jakarta, dan kotak hitam bertuliskan E.

“Selamat pagi, semuanya,” kata Hendra. “Pak E sudah bergabung.”

“Pagi,” kataku.

Salah satu investor Singapura, laki-laki beruban dengan kacamata tipis bernama Mr. Lim, tersenyum ke kamera. “Good morning, Mr. E. Always a pleasure to hear your voice. Someday I hope to see your face.”

“Someday,” kataku.

Diskusi berjalan lancar selama tiga puluh dua menit. Angka pertumbuhan. Proyeksi tiga tahun. Rencana ekspansi ke Sumatera. Mr. Lim bertanya soal arsitektur sistem, dan aku menjelaskan tanpa jeda selama delapan menit, karena itu satu-satunya bagian dari Bekal yang benar-benar aku pahami lebih baik dari siapa pun.

“Excellent,” kata Mr. Lim. “And the marketing team. Page four. The ‘Bekal untuk Semua’ campaign. Very impressive. Who leads it?”

Hendra melirik ke kotak hitamku.

“Brand Manager kami,” kata Hendra hati-hati. “Ayasha Pramesti. Salah satu talenta terbaik kami.”

“I’d like to meet her,” kata Mr. Lim. “In person. At the launch event, perhaps.”

“Tentu, Pak.”

Dan tepat saat itu, pintu kamarku digedor.

DUG. DUG. DUG.

“ESAAA!”

Aku membeku. Mikrofonku menyala.

“ESA! BUKA! ADA KIRIMAN!”

Enam wajah di layar membeku bersamaan. Hendra, di kotak paling kiri, perlahan menutup wajahnya dengan satu tangan.

“KIRIMAN MAKANAN, SA! DARI PACARMU!”

Aku menekan tombol mute. Terlambat dua detik. Dua detik yang cukup untuk tiga investor, satu CFO, dan satu CEO mendengar suara ibu kos Tebet berteriak dari pacarmu dengan volume penuh.

Hening di layar.

Lalu Mr. Lim berdeham.

“Mr. E,” katanya, dengan sopan yang luar biasa, “is everything alright?”

Aku membuka mute. “Ya. Maaf. Sebentar.”

“Itu,” kata Hendra cepat, terlalu cepat, “itu... suara... tetangga, Pak. Tetangga Pak E. Lingkungan rumah Pak E sangat... guyub.”

“I see,” kata Mr. Lim. Di bawah kacamatanya, sudut bibirnya bergerak. “And the girlfriend?”

Hendra menatap kamera dengan mata seperti rusa disorot lampu mobil.

“...Pak E sangat menghargai privasi, Pak,” katanya akhirnya.

Mr. Lim tertawa. Tawa yang hangat dan dalam. “Of course. Of course. Please, Mr. E. Go get your food. We’ll take five minutes.”

Aku mematikan mikrofon, berdiri, dan membuka pintu.

Bu Darsih berdiri di sana dengan Pak Lurah di satu tangan dan sebuah kantong kertas cokelat di tangan lain. Wajahnya berseri-seri seperti orang yang baru memenangkan arisan.

“Gojek,” katanya. “Tadi. Dari Nak Ayasha. Ibu yang nerima, kamu belum bangun.”

“Saya udah bangun, Bu. Saya lagi rapat.”

“Rapat apa? Rapat sama kasur?”

Aku mengambil kantong itu. Bu Darsih tidak pergi. Dia menunggu, seperti penonton yang menunggu adegan berikutnya.

Aku membuka kantongnya. Di dalamnya ada styrofoam berisi bubur ayam lengkap: cakwe, kacang kedelai, kerupuk, sambal terpisah, dan telur rebus. Ada secarik kertas dilipat dua, ditulis dengan pulpen biru dan huruf yang rapi:

Sarapan. Biar suaramu nggak bahaya lagi pagi-pagi. Aku nggak bisa konsentrasi kerja.

Bubur buat yang punya Bubur.

— A 🩶

Aku menatap kertas itu lama sekali.

Bu Darsih mengintip dari bahuku. “Ya Allah. Romantis banget. Bapak dulu ngirimin Ibu surat cuma pas minta duit.”

“Bu.”

“Iya, iya. Ibu pergi.” Dia berbalik, lalu berhenti. “Sa.”

“Ya, Bu?”

Bu Darsih menatapku dengan wajah yang tiba-tiba serius. Wajah yang jarang dia tunjukkan. Wajah ibu-ibu yang pernah muda dan pernah ditinggal.

“Jangan sampai dia lepas,” katanya. “Perempuan yang inget kamu belum sarapan itu jarang.”

Lalu dia pergi, membawa Pak Lurah, sebelum aku sempat menjawab.


Sisa call investor berjalan normal. Aku makan bubur ayam dengan mikrofon mati sambil mendengarkan Hendra menjelaskan proyeksi pendapatan. Buburnya enak. Telurnya kupotong dua.

Separuhnya kusisihkan di tutup styrofoam.

Aku tidak tahu untuk siapa.

Begitu call selesai dan para investor keluar satu per satu, ponselku langsung berdering. Hendra.

“Pak,” katanya. Suaranya tegang seperti tali jemuran. “Pak. Saya mau nanya satu hal. Bapak boleh nggak jawab. Tapi saya harus nanya, karena kalau nggak nanya saya nggak bisa tidur lagi seumur hidup.”

“Tanya aja.”

“Pacar?”

Aku diam.

“Pak E punya pacar?”

“...Kontrak.”

“Kontrak?”

“Panjang ceritanya.”

“Saya punya waktu, Pak. Saya punya waktu seumur hidup.”

Aku menghela napas. Menatap separuh telur di tutup styrofoam.

“Hendra,” kataku. “Brand Manager kita.”

Hening di seberang. Satu detik. Dua detik. Lima detik.

“...Pak,” kata Hendra pelan.

“Iya.”

“Pak.”

“Iya, Hendra.”

“PAK.”

“Jangan teriak.”

“Pak, saya nggak teriak, saya cuma...” Bunyi kursi bergeser keras. Bunyi pintu ditutup. Hendra pasti pindah ke ruangannya. “Ayasha Pramesti? Brand Manager? Yang kampanyenya di halaman empat? Yang barusan Mr. Lim mau ketemu?”

“Iya.”

“Dia tahu?”

“Nggak.”

“Dia tahu Bapak itu... Bapak?”

“Nggak. Dan nggak boleh tahu.”

Hendra diam lama sekali. Lalu, dengan suara yang sangat berbeda (lebih pelan, lebih hati-hati), dia berkata:

“Pak. Kemarin di rapat Marketing, dia bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Tika, staf baru yang suka ngomong itu, nanya founder kita siapa. Semua orang ketawa. Terus Ayasha bilang, kalau suatu hari dia ketemu founder, dia pengin bilang makasih.”

Aku berhenti bernapas sebentar.

“Kenapa?”

“Karena kalimat pertama di dokumen visi.” Hendra mengutip pelan, seperti orang membaca doa. “’Tidak ada anak yang boleh berhenti belajar hanya karena tidak ada yang menunjukkan jalan.’ Katanya kalimat itu yang bikin dia ngelamar ke Bekal.”

Aku tidak bisa menjawab.

Aku menulis kalimat itu empat tahun lalu, jam tiga pagi, di kamar kos ini, di bawah peta Kalimantan yang sama, setelah membaca laporan Bu Ratna tentang anak panti yang terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada biaya ujian. Aku menulisnya sambil menangis, dan aku tidak pernah menceritakan itu ke siapa pun.

“Saya bilang nanti saya sampaikan,” kata Hendra. “Jadi... saya sampaikan, Pak.”

“Makasih, Hendra.”

“Pak.”

“Hm?”

“Hati-hati, ya.” Suaranya lembut. Hendra jarang lembut. “Bapak orang baik. Saya cuma nggak mau Bapak... ya, Bapak tau maksud saya.”

Telepon ditutup.

Aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan dan separuh telur di tutup styrofoam, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku tidak tahu harus menyembunyikan diriku dari siapa.


Malamnya, jam sepuluh, ponselku berdering. Panggilan video.

Pacar (Kontrak)

Aku belum mengganti nama kontaknya.

Aku mengangkat.

Wajah Ayasha muncul di layar, diterangi lampu kuning temaram. Dia sedang berbaring di ranjang, rambutnya terurai berantakan di bantal putih. Tanpa riasan sama sekali. Matanya agak sayu, mengantuk. Dan dia memakai hoodie abu-abu.

Hoodie-ku.

Lengannya kebesaran sampai menutupi setengah telapak tangannya. Kerahnya melorot ke satu sisi, memperlihatkan tulang selangka dan sedikit bahu.

“Hai,” katanya pelan.

“Hai.”

“Buburnya habis?”

“Habis.”

“Telurnya?”

Aku melirik tutup styrofoam yang masih kuletakkan di atas meja lipat. Separuh telur masih di sana, sudah dingin.

“Separuh.”

Ayasha diam sebentar. Sesuatu melintas di wajahnya, cepat sekali, lalu hilang.

“Kenapa separuh?”

“Kebiasaan.”

“Kebiasaan nyisain separuh buat siapa?”

“Nggak tau. Buat siapa aja.”

Dia menatapku lewat layar. Lama. Lalu dia tersenyum, kecil, dan menarik hoodie itu lebih erat ke tubuhnya.

“Tau nggak,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba turun setengah oktaf, rendah dan malas, “aku lagi cuma pakai hoodie kamu.”

Aku tidak menjawab.

“Cuma ini,” lanjutnya, menarik ujung lengan hoodie ke dagunya. “Nggak ada yang lain.”

Otakku berhenti bekerja.

Benar-benar berhenti. Seperti server yang kehabisan memori. Semua proses dihentikan paksa. Layar biru.

Ayasha menatap wajahku di layar. Tiga detik. Lalu dia tertawa terbahak-bahak, sampai bantalnya bergetar, lalu mengarahkan kamera ke bawah sebentar, cukup untuk memperlihatkan celana piyama panjang bermotif semangka merah-hijau.

“Bercanda!” katanya, masih tertawa. “Ya ampun, mukamu! Kamu mikir apa barusan?”

“Nggak mikir apa-apa.”

“Bohong. Telingamu merah. Kelihatan di kamera.”

“Lampunya kuning.”

“Lampumu putih, Esa. Lampu neon kos.” Dia menyeka air mata di sudut matanya. “Ya ampun. Aku harus rekam ini.”

“Jangan.”

“Udah kuscreenshot.”

Aku menutup wajahku dengan bantal. Dari balik bantal, aku mendengarnya tertawa lagi. Tawanya renyah, lepas, dan entah kenapa membuat kamar tiga kali tiga meterku terasa lebih hangat dari biasanya.

Waktu aku menurunkan bantal, dia sudah berhenti tertawa. Dia menatapku dengan wajah yang lebih lembut sekarang. Masih mengantuk. Masih tersenyum sedikit.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

“Kenapa apanya?”

“Suaramu beda dari tadi pagi. Kayak lagi mikirin sesuatu.”

Aku menatapnya. Perempuan di layar yang memakai hoodie-ku, yang kampanyenya disebut investor, yang ingin berterima kasih pada laki-laki yang menulis satu kalimat jam tiga pagi di kamar ini.

Aku ingin bilang. Satu kalimat saja. Sha, aku—

“Kamu suka kerjaanmu?” tanyaku.

Ayasha berkedip. Lalu wajahnya berubah. Matanya berbinar dengan cara yang belum pernah kulihat, bukan genit, bukan menggoda. Tulus.

“Suka banget,” katanya. “Kantorku itu bikin aplikasi belajar buat anak-anak yang nggak mampu. Setiap seribu yang bayar, sepuluh anak bisa belajar gratis. Aku yang bikin kampanyenya. Kemarin investor nyebut kampanyeku, tau.” Dia tersenyum lebar, bangga, seperti anak kecil yang menunjukkan nilai seratus. “Terus founder-nya misterius banget. Nggak ada yang pernah ketemu. Tapi dia nulis satu kalimat di dokumen visi yang bikin aku nangis waktu pertama baca.”

“Kalimat apa?”

Dia mengucapkannya. Kata demi kata. Tanpa salah satu huruf pun.

Aku mendengarkan kalimatku sendiri, ditulis empat tahun lalu, diucapkan kembali oleh perempuan yang memakai hoodie-ku, di layar ponsel, jam sepuluh malam.

“Kalimat yang bagus,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kumau.

“Kan?” Ayasha tersenyum. “Aku pengin ketemu dia suatu hari. Bilang makasih.”

“Mungkin dia nggak butuh diucapin makasih.”

“Semua orang butuh diucapin makasih.” Dia menguap, menutup mulutnya dengan lengan hoodie yang kebesaran. “Udah ah. Aku ngantuk. Besok kerja.”

“Tidur.”

“Kamu juga.”

“Iya.”

Dia menatapku sebentar lagi, mata setengah terpejam, pipi menempel di bantal.

“Esa.”

“Hm?”

“Mimpiin aku, ya,” bisiknya. Lalu, setelah jeda yang sangat sengaja: “Yang sopan.”

Layar mati.

Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit.

Aku tidak mimpi apa-apa malam itu, karena aku tidak tidur sama sekali.

Jam tiga pagi, aku membuka laptop dan membuka dokumen visi Bekal yang kutulis empat tahun lalu. Aku membaca kalimat pertamanya berulang-ulang, sampai huruf-hurufnya terasa asing.

Lalu aku menutup laptop dan membuat keputusan.

Rahasia ini harus dijaga dua kali lebih ketat.

Bukan karena aku takut dia tahu aku kaya.

Karena untuk pertama kalinya, aku takut kehilangan cara dia menatapku sekarang. Seperti aku cuma laki-laki biasa yang pantas dibelikan bubur.