Chapter Twelve
Rumah Pulang
POV: Esa
Panti Rumah Pulang terletak di ujung gang sempit di pinggiran Depok, di antara kebun singkong dan bengkel las. Bangunannya dua lantai, catnya hijau muda yang sudah pudar jadi hijau keabu-abuan. Ada papan nama kayu di atas pagar yang hurufnya ditulis tangan, dan huruf L di kata Pulang sudah jatuh sejak aku umur dua belas, sehingga dari jauh tulisannya terbaca RUMAH PU ANG.
Tidak ada yang pernah memperbaikinya. Kata Bu Ratna, rumah tidak perlu nama yang sempurna untuk tetap jadi rumah.
Aku memarkir Bubur di bawah pohon jambu air di depan pagar. Mobil bak toko grosir langganan sudah datang lebih dulu dan sedang menurunkan karung beras, kardus minyak goreng, dan tumpukan mi instan. Sopirnya, Pak Kardi, melambaikan tangan padaku.
“Pagi, Mas Esa!”
“Pagi, Pak.”
Pak Kardi menatap perempuan yang turun dari boncenganku. Lalu menatapku. Lalu menjatuhkan satu kardus mi instan.
Ayasha memakai kaos putih polos, celana jins panjang, sepatu kets, dan rambut dikuncir ekor kuda. Tidak ada riasan selain bibir merah muda tipis. Dia membawa dua kantong plastik besar berisi kue dan susu kotak yang dia beli sendiri di minimarket tadi, tanpa izinku, waktu aku sedang mengisi bensin.
Dia berdiri di depan pagar dan menatap papan nama yang hurufnya jatuh satu itu.
Lama.
Terlalu lama untuk ukuran orang yang pertama kali datang.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia berkedip. “Nggak. Hurufnya ilang.”
“Udah lama. Dari aku kecil.”
Ayasha menoleh padaku. Ada sesuatu di wajahnya yang tidak bisa kubaca.
“Dari kamu kecil?”
Aku belum memberitahunya. Aku tidak pernah memberitahu siapa pun selain Dodoy. Tapi kami sudah berdiri di depan pagar ini, dan Ayasha sudah menatap papan nama itu terlalu lama, dan aku tidak punya alasan bagus untuk berbohong.
“Aku besar di sini,” kataku. “Dari bayi sampai delapan belas.”
Ayasha tidak menjawab. Dia hanya menatapku. Matanya berkaca-kaca sebentar, lalu dia mengerjap dan tersenyum.
“Oh,” katanya. Pelan sekali. “Pantes.”
“Pantes apa?”
“Pantes kamu nyisain separuh lauk.”
Sebelum aku sempat bertanya bagaimana dia bisa menghubungkan dua hal itu secepat itu, pintu depan panti terbuka dengan keras, dan tiga anak berlari keluar sambil berteriak.
“KAK ESAAA!”
Ucup sampai duluan, karena Ucup selalu sampai duluan. Delapan tahun, gigi depan ompong, ingus mengering di bawah hidung, dan kecepatan lari seperti anak kambing. Dia menabrak perutku dengan kepalanya dan memeluk pinggangku.
Lala sampai kedua. Sepuluh tahun, rambut dikepang dua, kacamata tebal yang selalu melorot. Dia tidak menabrak. Dia berdiri di depanku dengan tangan di pinggang seperti mandor.
“Kak Esa telat tiga hari,” katanya.
“Selasa minggu kedua, La. Ini Selasa minggu kedua.”
“Kemarin Lala nungguin.”
“Kemarin Senin.”
“Lala nungguin dari Sabtu.”
Bimo sampai terakhir. Dua belas tahun, kurus, tinggi untuk umurnya, dan sedang dalam fase merasa terlalu dewasa untuk berlari menyambut siapa pun. Dia berjalan pelan dengan tangan di saku, lalu berhenti dua meter dariku dan mengangguk seperti bapak-bapak.
“Bang.”
“Bim.”
Lalu Bimo melihat Ayasha.
Dia berhenti. Wajahnya berubah. Mulutnya terbuka.
“Kak A—”
“Halo!” Ayasha melangkah maju dengan cepat, memotong Bimo, dan menyodorkan kantong plastik ke arahnya. “Kakak bawa kue! Bantuin bawa ke dalem, ya?”
Bimo menatap Ayasha. Ayasha menatap Bimo dengan senyum lebar dan mata yang melotot sangat sedikit, hampir tidak terlihat.
Bimo menutup mulutnya. Mengambil kantong plastik. Lalu menatapku dengan wajah orang yang baru saja diberi teka-teki terlalu sulit.
“Kamu kenal dia?” tanyaku pada Bimo.
“...Nggak, Bang,” kata Bimo, terlalu cepat.
“Tadi kayak mau manggil.”
“Mau manggil ‘Kak Asli Cantik’,” kata Bimo dengan suara datar, lalu berbalik dan berjalan masuk membawa kantong plastik itu.
Ayasha tertawa. Agak terlalu keras.
Ucup, yang masih memeluk pinggangku, mendongak menatap Ayasha dengan mata membulat.
“Kak Esa,” bisiknya keras, “itu pacar Kak Esa?”
“Bukan.”
“Iya,” kata Ayasha di saat yang sama.
Ucup menatap kami bergantian. Lalu dia melepaskan pinggangku, berlari ke dalam, dan berteriak sekeras-kerasnya:
“BU RATNAAA! KAK ESA BAWA PACAAAR!”
Bu Ratna keluar dari dapur dengan celemek bermotif ayam dan tangan masih basah.
Dia sudah enam puluh satu tahun. Rambutnya hampir putih semua, disanggul kecil di belakang. Badannya kecil, punggungnya mulai bungkuk, dan wajahnya bulat ramah seperti nenek di iklan kecap. Dia orang yang membesarkanku. Orang yang menamaiku. Orang yang mengajariku mengikat tali celemek, menyisihkan lauk untuk yang kecil, dan tidak pernah berhenti belajar.
“Mas Esa,” katanya, tersenyum, mengelap tangan di celemek. “Udah dateng. Pacar? Ucup ngomong apa sih, masa Mas Esa bawa...”
Lalu dia melihat Ayasha.
Bu Ratna berhenti melangkah.
Wajahnya pucat. Pucat sekali, seperti orang yang melihat hantu. Tangannya yang tadi mengelap celemek membeku. Mulutnya terbuka.
“A—”
“Bu Ratna, ya?” Ayasha melangkah maju dengan senyum lebar, menyalami tangan Bu Ratna yang masih basah, dan menciumnya dengan sopan. “Saya Ayasha. Temennya Mas Esa. Saya relawan, Bu. Sering ke panti-panti. Hari ini ikut Mas Esa.”
Bu Ratna menatap Ayasha. Lalu menatapku. Lalu menatap Ayasha lagi. Matanya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan seperti orang yang sedang menghitung sesuatu yang sangat rumit di kepalanya.
“Relawan,” ulang Bu Ratna pelan.
“Iya, Bu.”
“Sering ke panti-panti.”
“Iya, Bu.”
“...Temennya Mas Esa.”
“Pacarnya, Bu,” koreksi Ayasha dengan manis. “Tapi masih pura-pura.”
Bu Ratna mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya. Seperti teko yang airnya mendidih.
“Bu?” tanyaku. “Ibu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa!” Suara Bu Ratna naik satu oktaf. “Ibu nggak apa-apa! Ibu cuma... kaget! Mas Esa nggak pernah bawa siapa-siapa! Ibu kaget! Ya Allah, panas sekali hari ini, ya? Ibu masuk dulu! Kompor!”
Dia berbalik dan berjalan cepat ke dapur. Sangat cepat untuk ukuran perempuan enam puluh satu tahun dengan punggung bungkuk.
Aku menatap punggungnya. Lalu menatap Ayasha.
Ayasha menatap langit. “Panas ya,” katanya.
Langitnya mendung.
Satu jam berikutnya berjalan seperti biasa, dengan pengecualian bahwa semua orang bertingkah aneh.
Aku menurunkan sembako bersama Pak Kardi dan menyusunnya di gudang belakang. Ayasha membagikan kue dan susu kotak ke dua puluh tiga anak panti dengan cara yang terlalu terampil untuk orang yang mengaku relawan: dia tahu Ucup alergi kacang tanpa diberi tahu, tahu Lala tidak suka susu cokelat, dan tahu bayi berumur dua tahun bernama Dede harus digendong dengan posisi tertentu supaya tidak menangis.
“Kamu sering ke sini?” tanyaku waktu kami berpapasan di lorong.
“Ke panti-panti,” jawabnya. “Panti mana-mana.”
“Tapi kamu tau Dede harus digendong miring.”
“Semua bayi suka digendong miring.”
“Itu nggak bener.”
“Bayi yang aku kenal, suka.” Dia mengedip, lalu berlalu sambil menggendong Dede yang tertidur pulas di bahunya.
Bu Ratna menghindariku. Setiap kali aku masuk dapur, dia keluar lewat pintu belakang. Setiap kali aku mencarinya di kantor, dia sedang “ke warung”. Waktu akhirnya aku menemukannya di ruang cuci, dia sedang melipat handuk yang sudah terlipat.
“Bu.”
“Ya, Mas?” Dia tidak menoleh. Handuknya dilipat lagi. Jadi lebih kecil.
“Ibu kenapa?”
“Ibu nggak kenapa-kenapa.”
“Ibu ngelipat handuk yang sama empat kali.”
Bu Ratna menatap handuk di tangannya. Handuk itu sekarang berukuran sebesar sapu tangan.
“Ibu lagi... olahraga jari,” katanya.
Aku tidak sempat bertanya lagi, karena Lala muncul di pintu ruang cuci.
“Bu Ratna! Kak Esa! Makan siang udah siap! Kak Aya udah...”
Lala berhenti. Menutup mulutnya dengan dua tangan.
“Kak Aya?” ulangku.
Lala menatap Bu Ratna. Bu Ratna menatap Lala. Ada sesuatu yang lewat di antara mereka. Semacam komunikasi rahasia antara nenek dan cucu yang sudah dilatih bertahun-tahun.
“Kak Ayasha,” kata Lala pelan. “Lala singkat. Biar cepet.”
“Oh.”
“Kak Ayasha udah nyiapin piring.” Lala menatapku dengan mata di balik kacamata tebalnya. “Kak Esa duduk di tempat biasa ya. Kak Esa kan Kak Do—”
Bu Ratna menyambar pisang dari keranjang buah di atas mesin cuci dan memasukkannya ke mulut Lala.
Utuh. Belum dikupas.
Lala membeku dengan pisang menyumpal mulutnya.
“Lala belum makan pisang dari pagi,” kata Bu Ratna sangat cepat. “Kurang kalium. Bahaya. Ayo, Mas, makan. Ayo, ayo.”
Dia mendorongku keluar dari ruang cuci. Di belakangku, aku mendengar Lala mengeluarkan pisang dari mulutnya dan berbisik keras, “Bu, pisangnya belum dikupas!”
“Ssst!”
Meja makan panti masih sama. Panjang, kayu jati, dengan bekas goresan nama-nama anak dari tiga puluh tahun terakhir. Namaku ada di ujung kanan, diukir dengan paku waktu umur sembilan: ESA. Huruf S-nya terbalik.
Dua puluh tiga anak duduk berdesakan di bangku panjang. Bu Ratna di ujung. Aku di tempat biasa, kursi kayu di sebelah kanan Bu Ratna. Ayasha duduk di seberangku, di antara Ucup dan Dede yang sudah bangun dan sekarang sedang mengunyah sendok plastik.
Lauknya sederhana. Sayur sop, tempe goreng, dan telur dadar yang dipotong kecil-kecil supaya semua kebagian.
Doa makan. Lalu kekacauan.
Seperti dulu, anak-anak yang besar dan cepat langsung menyerbu piring lauk di tengah. Dalam dua menit, tempe dan telur habis. Seperti dulu, ada anak kecil yang kalah cepat. Hari ini namanya Sari, tujuh tahun, baru masuk panti tiga bulan lalu. Dia menatap piringnya yang hanya berisi nasi dan kuah sop, dan bibir bawahnya mulai bergetar.
Aku mengambil piring kecil.
Tapi sebelum aku sempat memotong tempeku, Bimo, yang duduk tiga kursi dari Sari, sudah mendorong piring kecil ke depan Sari. Isinya separuh tempe dan separuh telur.
Lalu Lala, yang duduk di sebelah Bimo, juga mendorong piring kecil ke depan Sari. Separuh tempe.
Lalu Ucup. Separuh telur, yang sudah digigit sedikit.
Sari menatap tiga piring kecil di depannya dengan mata membulat.
Aku menatap Bimo.
Bimo mengangkat bahu, malu. “Tradisi, Bang,” gumamnya.
“Tradisi apa?”
“Tradisi Kak Esa,” jawab Lala, dengan mulut penuh nasi. “Bu Ratna bilang, dulu Kak Esa selalu nyisain separuh lauk buat yang kalah cepet. Jadi sekarang semua yang udah gede harus nyisain juga. Itu aturan.”
Aku menoleh ke Bu Ratna. Bu Ratna sedang menunduk ke piringnya, tersenyum kecil.
“Ibu nggak pernah bilang,” kataku.
“Mas Esa nggak pernah nanya.”
Aku menatap tiga piring kecil di depan Sari. Lalu aku menatap seberang meja, ke arah Ayasha.
Ayasha tidak makan. Dia menatap piring-piring kecil itu dengan wajah yang belum pernah kulihat. Air mata mengalir pelan di pipinya. Tanpa suara. Tanpa isakan. Hanya mengalir.
Ucup menarik lengan bajunya. “Kak Aya kenapa nangis?”
Ayasha mengusap pipinya cepat dengan punggung tangan dan tersenyum.
“Sambalnya pedes,” katanya.
Ucup menatap meja. “Kan nggak ada sambal, Kak.”
“Pedes di hati.”
Ucup mengangguk serius, seolah itu masuk akal, lalu kembali makan.
Aku terus menatap Ayasha di seberang meja. Dia membalas tatapanku. Matanya merah, basah, dan dia tersenyum padaku dengan cara yang membuat dadaku sesak. Bukan senyum menggoda. Bukan senyum puas. Senyum orang yang baru saja pulang dan menemukan rumahnya masih ada.
Aku tidak mengerti kenapa dia menangis.
Tapi untuk alasan yang juga tidak kumengerti, aku memotong tempeku jadi dua, meletakkan separuhnya di piring kecil, dan mendorongnya ke seberang meja.
Ke depan Ayasha.
Dia menatap piring kecil itu. Lalu menutup mulutnya dengan tangan.
Lalu dia mengambil tempe itu dan memakannya pelan-pelan, sambil menangis dan tertawa di saat yang sama, sementara Bu Ratna pura-pura batuk sangat keras di ujung meja dan Lala berbisik ke Bimo, “Kok Kak Aya nangis lagi?” dan Bimo berbisik balik, “Diem. Orang dewasa emang aneh.”
Setelah makan, aku mencuci piring di dapur belakang. Ini juga tradisi. Siapa pun yang datang ke panti dan makan di meja itu harus mencuci piring. Bahkan donatur. Terutama donatur.
Ayasha masuk ke dapur dan berdiri di sampingku di depan bak cuci.
“Aku bantuin,” katanya.
“Kamu tamu.”
“Relawan.”
“Relawan juga tamu.”
Dia mengambil spons dari tanganku. Tanpa izin. Lalu mulai menyabuni piring. Kami berdiri bersisian, lengan kami bersentuhan, tangan kami bergantian masuk ke air sabun. Dia menyabuni, aku membilas.
Di luar jendela dapur, anak-anak bermain kejar-kejaran di halaman. Suara mereka teredam oleh dinding.
“Kamu tadi gendong Dede bagus banget,” kata Ayasha tiba-tiba.
“Kamu yang gendong Dede.”
“Sebelumnya. Waktu dia nangis di teras. Kamu gendong dia di bahu sambil nyanyi.” Dia menyerahkan piring bersabun padaku tanpa menoleh. “Aku liat.”
“Itu cuma lagu.”
“Lagu apa?”
“Lagu yang dulu Bu Ratna nyanyiin. Aku lupa judulnya.”
Ayasha diam sebentar. Lalu dia bersenandung. Pelan. Tiga baris pertama dari lagu yang sama. Lagu yang dinyanyikan Bu Ratna setiap malam di kamar anak-anak kecil waktu listrik mati dan semua orang takut gelap.
Aku berhenti membilas.
“Kamu tau lagu itu?”
Ayasha berhenti bersenandung. Spons di tangannya berhenti bergerak.
“Lagu anak-anak,” katanya. “Banyak yang tau.”
Aku tidak yakin. Aku cukup yakin lagu itu dikarang sendiri oleh Bu Ratna. Tapi sebelum aku sempat bertanya, Ayasha tiba-tiba mencipratkan air sabun ke wajahku.
“Hei.”
“Ups.”
“Itu sengaja.”
“Itu kecelakaan.” Dia mencipratkannya lagi. “Ini juga kecelakaan.”
Aku menyipratkan air bilasan ke arahnya. Dia menjerit, tertawa, lalu bergerak ke belakangku dengan cepat, seperti mau kabur, tapi tidak kabur. Dia berhenti di belakangku. Sangat dekat. Lalu kedua tangannya melingkar ke depan pinggangku, menyusup di antara lenganku, dan mengambil sabun cuci piring dari pinggir bak di depanku.
Dadanya menempel di punggungku. Dagunya di bahuku. Kedua tangannya melingkupi pinggangku.
“Sabunnya di sini,” katanya pelan, di dekat telingaku. “Aku nggak sampai.”
“Kamu bisa minta.”
“Bisa.”
“Terus kenapa—”
“Esa.” Suaranya turun. Hangat. Menempel di kulit leherku. “Kamu tau nggak, cowok yang jago gendong anak kecil itu bahaya.”
Aku menatap air sabun di bak cuci. Gelembung-gelembung kecil pecah satu per satu.
“Bahaya kenapa?”
“Bikin cewek mikir yang nggak-nggak.”
“Mikir apa?”
Dia tidak langsung menjawab. Tangannya yang memegang botol sabun tidak bergerak. Dagunya masih di bahuku. Aku bisa merasakan napasnya di bawah telingaku, pelan dan teratur, lalu tiba-tiba tidak teratur.
“Mikir,” bisiknya, “gimana rasanya kalau suatu hari dia gendong anak kita.”
Botol sabun jatuh ke bak cuci.
Plung.
“KAK ESA PACARAN DI DAPUR!”
Ucup berdiri di ambang pintu dapur dengan mulut terbuka lebar, menunjuk kami dengan jari telunjuk. Di belakangnya, Lala menutup matanya dengan dua tangan tapi membuka jari-jarinya lebar-lebar untuk mengintip. Bimo berdiri paling belakang, menatap langit-langit dengan wajah orang dewasa yang lelah.
Ayasha melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah. Pipinya merah. Merah sekali. Pertama kalinya aku melihatnya semerah itu.
“Kakak cuma ambil sabun,” katanya ke Ucup.
“Ambil sabunnya pakai peluk?”
“Sabunnya jauh.”
“Sabunnya di depan Kak Esa!”
“Iya. Jauh.”
Ucup menatap Ayasha dengan curiga, lalu berbalik dan berlari keluar sambil berteriak ke seluruh halaman: “KAK ESA SAMA KAK AYA PELUKAN DI DAPUUUR!”
Teriakan itu disambut sorakan dua puluh anak.
Aku memungut botol sabun dari bak cuci. Telingaku terbakar.
Ayasha menutup wajahnya dengan dua tangan yang masih penuh busa sabun, dan tertawa di baliknya.
Kami pulang jam tiga sore.
Sebelum pergi, Ayasha pamit ke kamar mandi. Aku menunggunya di lorong depan, di dekat dinding yang penuh bingkai foto. Foto-foto angkatan anak panti dari tahun ke tahun, sebagian sudah pudar dan menguning.
Aku melihat foto angkatanku. Aku umur empat belas, berdiri paling belakang, paling tinggi, paling tidak tersenyum.
Lalu aku melihat sesuatu yang aneh.
Bingkai foto di sebelah fotoku, yang biasanya menghadap ke depan, sekarang terbalik menghadap dinding. Aku tidak ingat bingkai itu pernah terbalik. Aku mengulurkan tangan untuk membaliknya.
“Mas Esa.”
Bu Ratna berdiri di belakangku. Wajahnya serius. Dia menarik lenganku pelan, menjauh dari dinding foto.
“Mas,” bisiknya. “Laporan tahunan udah sampai di rumah Mas?”
“Udah, Bu. Kata Pak Ujang udah.”
“Mas udah baca?”
“Belum.”
Bu Ratna menghela napas panjang. Dia memegang lenganku dengan dua tangan kecilnya yang keriput. Tangan yang sama yang dulu memasangkan kancing seragam SD-ku.
“Baca, Mas,” katanya. “Ibu mohon. Baca. Terutama surat yang paling atas.”
“Kenapa, Bu?”
Bu Ratna membuka mulut. Lalu menutupnya. Matanya melirik ke arah kamar mandi, tempat Ayasha belum keluar. Lalu kembali menatapku.
“Ibu nggak bisa bilang,” katanya pelan. “Ibu udah janji. Ibu udah salah ngomong sekali. Ibu nggak mau salah lagi.”
“Janji sama siapa?”
Pintu kamar mandi terbuka. Ayasha keluar, menyeka tangan di celana jins, dan tersenyum pada kami berdua.
“Udah. Yuk.”
Bu Ratna melepaskan lenganku. Tersenyum ke Ayasha. Senyum yang sangat, sangat lebar. Terlalu lebar.
“Hati-hati di jalan, Nak... Relawan.”
“Makasih, Bu Ratna.”
Ayasha memeluk Bu Ratna. Pelukan yang lama. Terlalu lama untuk relawan yang baru pertama kali bertemu. Aku melihat tangan Bu Ratna menepuk-nepuk punggung Ayasha dengan cara yang sama persis seperti dia menepuk punggungku waktu aku pamit keluar panti di umur delapan belas.
Lalu mereka berpisah. Bu Ratna mengusap matanya dengan ujung celemek bermotif ayam.
“Debu,” katanya padaku.
“Iya, Bu.”
Kami berjalan ke Bubur. Ayasha memakai helm bogo cokelat, naik ke jok, dan melingkarkan tangannya di pinggangku seperti biasa.
Aku menoleh sekali ke arah panti. Ke papan nama yang hurufnya jatuh satu. Ke dinding lorong yang tidak terlihat dari sini, dengan satu bingkai foto yang terbalik.
Lalu aku menyalakan Bubur dan pergi.
Malam itu, aku tidak membuka laporan tahunan beasiswa.
Aku belum tahu bahwa aku seharusnya membukanya.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang reading
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali