← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Fifteen

Utangku Belum Lunas

POV: Esa


Hujan turun di Jalan Pakubuwono seperti seseorang membalik ember raksasa di atas Jakarta Selatan.

Tidak ada gerimis sebagai pemanasan. Tidak ada aba-aba. Satu detik langit masih abu-abu gelap, detik berikutnya air tumpah dari segala arah, menghantam aspal sampai memantul setinggi lutut, menghantam helm sampai bunyinya seperti orang menabuh panci.

Dalam sepuluh detik, kami basah kuyup.

“PINGGIR!” teriak Ayasha di telingaku, nyaris tertelan suara hujan.

Aku sudah meminggirkan Bubur. Di depan, di sudut perempatan, ada tenda biru dengan spanduk kain bertuliskan PECEL LELE CAK MAN — LAMONGAN ASLI. Lampu neon menyala di bawah terpal. Ada dua meja panjang dengan bangku plastik, gerobak penggorengan, dan seorang laki-laki berkaos oblong yang sedang menggoreng ayam sambil mendengarkan radio.

Aku memarkir Bubur di samping tenda. Ayasha melompat turun dan berlari ke bawah terpal. Aku menyusul.

Kami berdiri di bawah tenda, basah sampai ke tulang, menetes di lantai tanah, terengah-engah.

Lalu Ayasha tertawa.

Dia tertawa sampai membungkuk, sampai harus berpegangan pada tiang tenda. Rambutnya menempel di pipi dan leher. Maskaranya luntur membentuk garis hitam tipis di bawah mata. Sandal jepit hijau neonku masih di kakinya, berlumur lumpur. Kemeja putih dari lemari yang katanya milik klienku basah dan menempel di tubuhnya.

Aku segera membuka resleting hoodie. Hoodie-ku juga basah, tapi setidaknya tidak transparan. Aku menyampirkannya ke bahunya dan menarik kedua sisinya menutup di depan dada.

Ayasha berhenti tertawa. Dia menatap hoodie basah di bahunya, lalu menatapku, yang sekarang berdiri dengan kaos oblong abu-abu yang juga basah kuyup.

“Kamu nggak pernah berubah,” katanya pelan.

“Berubah gimana?”

“Selalu ngasih hoodie.”

“Baru dua kali.”

“Iya,” katanya. Sesuatu melintas di wajahnya, cepat sekali. “Baru dua kali.”


“Mas, Mbak, mau makan?” tanya Cak Man dari balik gerobak. Laki-laki paruh baya dengan kumis tipis dan handuk kecil di bahu. Dia menatap kami dengan senyum yang sangat paham. “Hujannya bakal lama. Satu jam paling cepet.”

Kami duduk di bangku plastik paling pojok, di bawah bagian terpal yang paling jauh dari cipratan air. Aku memesan dua porsi pecel lele, dua ayam goreng, sambal ekstra, dan dua teh manis panas. Cak Man mulai menggoreng. Minyak berdesis. Bau ayam dan lele goreng bercampur dengan bau tanah basah.

Ayasha duduk di sebelahku, merapat, menggigil sedikit. Hoodie basah di bahunya. Kedua tangannya memeluk lutut.

“Dingin?” tanyaku.

“Dikit.”

Aku bergeser lebih dekat. Bahu kami menempel. Dia menyandarkan kepala ke bahuku tanpa bertanya.

Kami duduk seperti itu, mendengarkan hujan menghantam terpal di atas kepala. Radio Cak Man memutar lagu dangdut lama tentang cinta yang ditinggal pergi. Seekor kucing belang tiga keluar dari bawah gerobak, menatap kami, lalu duduk di samping kaki Ayasha dan mulai menjilati bulunya yang basah.

“Esa,” kata Ayasha tiba-tiba.

“Hm?”

“Tadi di rumah klienmu.”

Aku menunggu.

“Kamu bilang ‘jangan di sini’, karena itu bukan rumahmu.”

“Iya.”

Dia mengangkat kepala dari bahuku. Menatapku dari samping. Matanya sangat dekat. Ada tetesan air di bulu matanya.

“Terus rumahmu di mana?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Rumah di Pondok Indah dengan lampu kristal yang plastiknya belum dilepas: bukan rumah. Kamar tiga kali tiga meter di Tebet dengan peta Kalimantan di langit-langit: tempat tidur. Panti Rumah Pulang dengan huruf yang jatuh satu: rumah, dulu. Tapi aku sudah keluar dari sana sebelas tahun lalu, dan rumah yang ditinggalkan bukan lagi rumah. Cuma kenangan.

“Nggak tau,” kataku jujur.

Ayasha menatapku lama.

Lalu dia melihat sekeliling. Tenda biru. Terpal yang bocor di satu sudut. Lampu neon yang berkedip. Cak Man yang bersenandung mengikuti radio sambil membalik lele. Kucing belang tiga yang sekarang berbaring di atas sandal jepit hijau neon. Hujan yang membuat dunia di luar tenda jadi abu-abu dan buram, seolah tidak ada apa-apa lagi di luar sana kecuali tempat kecil ini.

“Kalau di sini?” tanyanya.

“Ini tenda pecel lele.”

“Iya. Tapi kamu ngerasa di rumah, nggak? Di sini? Sekarang?”

Aku menatap tenda itu. Lalu menatapnya. Perempuan dengan maskara luntur, rambut basah menempel di pipi, hoodie basahku di bahunya, dan sandal jepitku di kakinya. Perempuan yang mengetik PIN rumahku dengan satu jari. Perempuan yang menangis di meja makan panti waktu aku menyodorkan separuh tempe. Perempuan yang sampai sekarang tidak kuketahui kenapa ada di hidupku.

“Iya,” kataku.

Ayasha tersenyum. Kecil. Matanya berkaca-kaca.

“Oke,” bisiknya.


Pecel lele datang. Kami makan dengan tangan, karena Cak Man bilang pecel lele harus dimakan dengan tangan atau lelenya tersinggung. Sambal terasinya pedas sampai Ayasha berkeringat di tengah udara dingin. Dia meniup-niup bibirnya yang memerah karena sambal, dan aku harus berhenti menatap bibirnya karena aku sudah ketahuan terlalu sering.

Waktu aku selesai makan, aku menyisihkan separuh paha ayamku ke piring kecil dan mendorongnya ke depan Ayasha.

Dia menatap piring kecil itu. Lalu menatapku.

“Lagi?” tanyanya.

“Kamu kurus.”

“Kamu yang kurus.”

“Kamu kurus juga.”

Dia mengambil paha ayam itu dan memakannya. Pelan. Sambil menatap piring kecil yang sekarang kosong.

Hujan masih deras waktu Cak Man datang membawa tagihan di secarik kertas. Ayasha langsung mengeluarkan dompet dari tasnya yang setengah basah. Aku sudah lebih dulu menyerahkan selembar lima puluh ribu.

“Esa.”

“Udah.”

“Aku yang bayar.”

“Udah aku bayar.”

“Kamu bayarin terus.” Ayasha menatapku dengan mata menyipit. “Pecel lele. Bubur ayam. Bensin. Tiket KRL. Kamu nggak pernah biarin aku bayar apa-apa.”

“Kamu masakin aku.”

“Itu bayaran kontrak.”

“Ya udah. Impas.”

“Nggak impas.”

“Ini cuma pecel lele, Sha. Dua puluh ribuan.”

“Bukan cuma pecel lele,” katanya. Suaranya tiba-tiba berubah. Lebih pelan. Lebih berat. Matanya turun ke piring kecil kosong di depannya. “Utangku belum lunas.”

Aku menatapnya.

“Utang apa?” tanyaku. “Kamu nggak utang apa-apa.”

“Ada.”

“Traktiran?” Aku mengangkat bahu. “Ya udah. Minggu depan kamu masakin aku lagi. Sop iga. Anggap lunas.”

Ayasha tertawa kecil. Tawa yang sedih, seperti orang yang mendengar lelucon yang tidak lucu tapi tahu orang yang mengucapkannya tidak berniat jahat.

“Bukan itu, Esa,” katanya.

“Terus apa?”

Dia mengangkat wajahnya dan menatapku. Lama. Hujan menghantam terpal. Radio Cak Man berganti lagu. Kucing belang tiga mendengkur di atas sandal jepit.

Dia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

Aku melihatnya berjuang. Seperti orang yang berdiri di tepi kolam renang dan tidak bisa memutuskan apakah mau melompat. Ada sesuatu yang ingin dia katakan. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang membuat tangannya mengepal di pangkuan dan bibirnya bergetar.

Lalu dia berhenti berjuang.

Dia tidak mengatakannya.

Dia menciumku.


Aku tidak siap.

Tidak ada peringatan. Tidak ada jarak dua senti yang bisa kuhitung. Satu detik dia menatapku dengan mata berkaca-kaca, detik berikutnya kedua tangannya sudah memegang wajahku dan bibirnya sudah menempel di bibirku.

Bibirnya dingin karena hujan. Lalu hangat. Lalu sangat hangat. Rasanya seperti teh manis panas dan sedikit sambal terasi.

Aku membeku. Seluruh tubuhku. Tanganku menggantung di udara, tidak tahu harus ke mana. Mataku masih terbuka, dan aku bisa melihat bulu matanya yang basah, yang terpejam rapat, dan setetes air, entah hujan, entah bukan, yang meluncur dari sudut matanya ke pipi.

Lalu dia mulai mundur. Pelan. Bibirnya mulai terlepas.

Dan tanganku, tanpa kusuruh, bergerak.

Tanganku naik ke pipinya. Telapak tanganku menangkup sisi wajahnya, ibu jari di tulang pipi, jari-jari di balik telinga, di rambutnya yang basah. Aku menahannya. Tidak membiarkannya mundur.

Lalu aku yang menciumnya.

Ayasha terkesiap pelan di bibirku. Tangannya, yang tadi memegang wajahku, turun dan mencengkeram kaos oblongku di bagian dada. Mencengkeram erat. Seperti orang yang takut jatuh.

Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung apa pun. Yang kutahu hanya hujan di atas terpal, dan bibirnya yang hangat, dan napasnya yang terputus-putus, dan jemarinya yang meremas kaosku, dan suara jantungku sendiri yang terdengar lebih keras dari hujan.

Di balik gerobak, Cak Man membesarkan volume radio. Lagu dangdut tentang cinta yang ditinggal pergi bergema di seluruh tenda. Volume penuh. Speaker bergetar.

Aku tidak peduli.

Ayasha juga tidak peduli.


Waktu akhirnya kami berhenti, kening kami bersandar satu sama lain. Napas kami bercampur di udara dingin. Aku bisa merasakan napasnya di bibirku, pendek dan cepat.

Matanya masih terpejam.

“Esa,” bisiknya.

“Hm.”

“Kamu nggak mundur.”

“Kamu yang mulai.”

“Tapi kamu yang nggak lepasin.”

“...Iya.”

Dia membuka mata. Dari jarak sedekat ini, matanya terlihat sangat besar, sangat basah, dan sangat cokelat. Dia tertawa kecil, napasnya hangat di bibirku.

“Itu yang dua senti,” bisiknya. “Udah lunas.”

“Yang lainnya?”

“Yang lainnya,” katanya, menarik napas panjang dengan bibir yang masih gemetar, “belum.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Aku tidak tahu utang apa yang belum lunas. Tapi aku tidak bertanya, karena dia menyandarkan kepalanya ke bahuku lagi, dan tangannya masih mencengkeram kaosku, dan aku tidak mau dia melepaskannya.

“Dari tadi,” gumamnya di bahuku, “aku pengin nyium kamu.”

“Dari kapan?”

“Dari Pasar Baru. Pas kamu keluar dari bilik ganti pakai kemeja biru.”

“Itu seminggu lalu.”

“Aku tau.” Dia mengangkat kepala sedikit, menatapku dari bawah, dengan senyum yang mulai kembali, senyum nakal yang kukenal. “Kamu pikir gampang nahan diri seminggu? Liatin kamu nunduk ngiketin tali celemek, nyuapin aku tempe, gendong bayi sambil nyanyi?”

“Kamu nggak kelihatan nahan diri.”

“Itu aku udah nahan diri, Esa.” Matanya turun ke bibirku lagi. Dengan sengaja. Lambat. “Kamu belum liat aku yang nggak nahan diri.”

Telingaku terbakar di udara dingin.

Cak Man berdeham keras dari balik gerobak.

“Mas, Mbak,” katanya, tanpa menoleh, sambil membalik lele yang sudah gosong karena dia lupa membaliknya dari tadi. “Hujannya udah reda.”

Kami menoleh. Dia benar. Hujan sudah berubah jadi gerimis tipis. Langit di barat mulai terang sedikit, oranye pucat di balik awan.

“Makasih, Cak,” kataku.

“Sama-sama, Mas.” Cak Man menyeringai di balik kumisnya. “Lelenya gosong, nggak apa-apa. Saya juga dulu pernah muda.”


Kami pulang naik Bubur di bawah gerimis.

Ayasha duduk menyamping lagi. Memelukku dari belakang lagi. Tapi kali ini berbeda. Kali ini dia tidak memelukku untuk keselamatan, dan dia tidak berpura-pura soal itu. Pipinya menempel di punggungku. Tangannya terkunci di perutku. Sesekali, di lampu merah, dia mengecup bahuku dari balik kaos basah. Pelan. Tanpa kata.

Di lampu merah Mampang, dia berbisik ke telingaku:

“Esa.”

“Hm?”

“Yang tadi itu bukan latihan.”

“Aku tau.”

“Kamu yakin tau?”

“Latihan nggak pakai nangis, Sha.”

Dia diam. Lalu tertawa pelan di punggungku. Tawa yang bergetar sampai ke tulang belakang.

“Itu air hujan.”

“Iya.”

“Beneran air hujan.”

“Iya, Sha.”

Lampu hijau. Aku menjalankan Bubur. Pelan sekali. Lebih pelan dari Bubur pernah berjalan. Pelan seperti orang yang tidak ingin perjalanan pulang ini selesai.

Di belakangku, Ayasha menggumamkan lagu Bu Ratna. Lagu yang dinyanyikan di kamar anak-anak kecil waktu listrik mati. Lagu yang katanya lagu anak-anak yang banyak orang tahu.

Aku masih tidak percaya banyak orang tahu lagu itu.

Tapi malam itu, dengan gerimis di helm dan pipinya di punggungku dan rasa bibirnya yang masih tertinggal, aku memutuskan untuk tidak bertanya.

Aku takut jawabannya akan membuat perjalanan ini selesai.