Chapter Five
Kejutan dari Dodoy
POV: Esa
Dodoy bertahan enam hari.
Enam hari dia menghindariku. Setiap kali aku datang ke Warung Dodoy untuk makan siang, dia mendadak sibuk di gudang, sibuk di pasar, atau sibuk “nganterin katering ke Cibubur” yang aku tahu pasti tidak ada, karena Warung Dodoy tidak pernah punya pelanggan di Cibubur. Karyawannya, Ipul, yang melayaniku. Ipul juga tidak berani menatap mataku.
Hari ketujuh, Sabtu pagi, aku menunggunya di depan pintu dapur jam lima subuh.
Dodoy keluar membawa dua karung bawang merah. Dia melihatku duduk di atas ember terbalik, lalu menjatuhkan kedua karung itu.
“Astaghfirullah.”
“Pagi, Doy.”
“Lo ngapain jam segini di sini?”
“Nungguin kamu.”
“Kayak setan aja lo. Duduk di ember, gelap-gelapan, pake hoodie.” Dodoy memungut karung bawang dengan tangan gemetar. “Kalau gue jantungan, siapa yang masak buat lo?”
“Doy.”
Dia diam.
“Siapa Ayasha?”
Dodoy menatap karung bawang di tangannya selama lima detik penuh, seperti karung itu bisa memberinya jawaban. Lalu dia menghela napas panjang, meletakkan karungnya, dan duduk di ember terbalik yang lain di sebelahku.
“Oke,” katanya. “Oke. Gue ngaku.”
Ceritanya begini.
Tiga minggu sebelum reuni, akun Instagram Warung Dodoy (yang isinya cuma foto rendang dengan filter terlalu kuning dan caption “MONGGO MAMPIR GAN”) menerima pesan langsung dari akun bernama ayashapramesti.
Halo Mas, maaf ganggu. Ini benar Mas Doni, sahabatnya Mas Esa Pradana? Saya ingin bertemu Mas Esa. Ada urusan lama yang ingin saya selesaikan. Apakah Mas bisa bantu?
“Gue kira lo punya utang pinjol,” kata Dodoy.
“Hah?”
“Urusan lama. Ingin diselesaikan. Bahasa formal. Itu kan bahasa debt collector, Sa!” Dodoy menepuk lututnya. “Gue langsung panik. Gue pikir lo kepepet, pinjem ke aplikasi, terus nggak bayar, terus mereka nyari lo lewat temen-temen lo. Gue udah siap mau bilang lo udah meninggal.”
“Kamu mau bilang aku udah meninggal?”
“Demi lo! Biar mereka berhenti nyari!”
Aku memijit pangkal hidungku.
“Terus gue liat fotonya,” lanjut Dodoy. Suaranya berubah. Pelan. Hampir khusyuk. “Sa. Lo udah liat sendiri, kan. Nggak ada debt collector yang mukanya kayak gitu.”
“Terus?”
“Terus gue bales. Gue tanya urusan apa. Dia bilang mau ngucapin terima kasih langsung. Gue tanya terima kasih soal apa. Dia bilang,” Dodoy menirukan dengan suara dibuat-buat halus, “’Nanti saya jelaskan sendiri ke Mas Esa, Mas. Ini pribadi.’”
“Itu doang?”
“Itu doang. Terus gue inget reuni lo. Gendis udah booking. Gue mikir, wah, ini momen. Lo nggak bakal dateng kalau nggak dipaksa. Cewek ini butuh ketemu lo. Gue jadi mak comblang. Win-win.” Dodoy merentangkan tangan. “Gue kasih tau dia tempat sama jamnya. Gue bilang lo duduk di meja nomor empat. Udah. Gue nggak tau dia bakal masuk terus manggil lo ‘Sayang’. Sumpah, Sa. Gue sama kagetnya. Nampan es teler gue jadi korban.”
Aku menatap langit subuh yang masih ungu di atas atap seng dapur Dodoy.
Mau ngucapin terima kasih.
Terima kasih untuk apa?
Aku mengingat semua orang yang pernah kutolong. Daftarnya tidak panjang. Aku jarang menolong orang secara langsung, karena menolong secara langsung berarti orangnya tahu, dan kalau orangnya tahu, mereka merasa berutang. Aku pernah mendorong mobil mogok di Casablanca. Pernah mengantar nenek-nenek yang tersesat ke halte TransJakarta. Pernah mengembalikan dompet yang jatuh di KRL. Dompetnya punya bapak-bapak berkumis, bukan perempuan cantik dengan tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
“Dia bilang ‘urusan lama’,” kataku. “Lama itu berapa lama?”
“Mana gue tau. Tanya sendiri sana.” Dodoy berdiri, mengangkat karung bawangnya lagi. “Besok dia ke sini, kan?”
“Besok?”
“Hari Minggu. Dia nge-DM gue lagi tadi malem. Minta izin pinjem dapur gue buat masakin lo. Katanya kos lo nggak ada dapur yang layak.” Dodoy menyeringai. “Gue bilang boleh. Syaratnya gue ikut makan.”
“Kamu ngejual dapurmu buat sepiring makanan?”
“Bukan sepiring. Gue minta dua.” Dia mengangkat dagu dengan bangga. “Gue juga punya harga diri.”
Minggu siang, Warung Dodoy tutup.
Papan di pintu dibalik: TUTUP — PEMILIK SEDANG MENYAKSIKAN SEJARAH. Dodoy yang menulis tulisan itu sendiri, dengan spidol, lalu memotretnya untuk Instagram.
Ayasha datang jam sebelas dengan dua kantong belanja besar dan rambut diikat tinggi.
Dia memakai kaos putih ketat dengan leher lebar yang turun sedikit di satu bahu, celana jins pendek, dan sandal. Tanpa riasan berlebihan, cuma bibir yang diberi warna merah muda tipis. Kulit bahunya terbuka. Leher jenjangnya terlihat jelas karena rambutnya diikat. Kalau malam reuni dia terlihat seperti pemeran utama film, siang ini dia terlihat seperti tetangga yang membuat seluruh komplek tiba-tiba rajin menyiram tanaman.
Aku membuka pintu untuknya.
Dia berhenti di ambang pintu dan menatapku dari kepala sampai kaki. Hoodie abu-abu yang lebih belel, karena yang belel masih di tangannya. Celana training. Sandal jepit.
“Kamu pakai yang satunya,” katanya.
“Yang satunya kamu bawa.”
“Oh iya.” Dia tersenyum. Lambat. “Masih kupakai tidur.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mengambil kantong belanjanya.
“Nggak kamu balikin?”
“Nanti.”
“Kapan?”
“Kalau udah nggak wangi kamu lagi.”
Dia melewatiku masuk ke dalam. Bahunya menyerempet dadaku karena pintunya sempit. Aroma melati lagi. Aku berdiri di ambang pintu dengan dua kantong belanja dan butuh tiga detik untuk ingat cara berjalan.
Dapur Dodoy di hari Minggu terasa lebih luas karena tidak ada karyawan. Dodoy duduk di kursi plastik di pojok dengan segelas kopi dan wajah orang yang membeli tiket VIP konser.
“Anggap gue nggak ada,” katanya.
“Kamu bilang gitu terus,” kataku.
“Dan gue konsisten.”
Ayasha mengeluarkan isi kantong belanjanya satu per satu: iga sapi, kentang, wortel, daun bawang, seledri, pala, cengkih, bawang merah, bawang putih. Lalu sebungkus cabai rawit dan terasi.
“Sop iga,” katanya. “Sama perkedel. Sama sambal terasi.”
Dodoy bersiul pelan.
“Kenapa sop iga?” tanyaku.
“Karena kamu kurus.” Dia menatapku sekilas. “Bahumu lebar, tapi pinggangmu kayak orang lupa makan seminggu.”
“Aku nggak pernah lupa makan.”
“Iya. Kamu cuma makan yang gratis.”
Dodoy tersedak kopi.
Ayasha mengambil celemek hijau Dodoy dari gantungan, mengalungkannya ke leher, lalu berbalik memunggungiku.
“Talinya,” katanya. “Iketin.”
Aku menatap tali celemek yang menggantung di sisi pinggangnya.
“Kamu nggak bisa ngiket sendiri?”
“Bisa.”
“Terus?”
Dia menoleh dari balik bahu. Rambut ikatnya berayun. “Aku pengin kamu yang ngiket.”
Dodoy pura-pura sangat tertarik pada kalender di dinding.
Aku mengambil kedua ujung tali itu. Pinggang Ayasha kecil. Waktu tanganku melingkarkan tali dari kedua sisinya, ujung jariku menyentuh kaos di atas perutnya, tipis, hangat. Aku merasakan dia menahan napas. Hanya sebentar. Aku menarik kedua ujung tali ke belakang dan mengikatnya dengan simpul pita yang rapi, persis seperti yang diajarkan Bu Ratna di panti waktu aku sepuluh tahun dan harus mengikat celemek anak-anak kecil sebelum mereka bantu masak.
“Udah.”
Ayasha tidak langsung bergerak. Dia berdiri diam, punggungnya hanya sejengkal dari dadaku.
“Rapi banget,” katanya pelan. “Kamu sering ngiketin celemek cewek?”
“Celemek anak kecil.”
“Oh ya?”
“Dulu.”
Dia diam sebentar. Lalu dia berbalik, dan tiba-tiba wajahnya sangat dekat. Dia menatapku dari bawah, karena dia lebih pendek setengah kepala.
“Kamu orang baik, ya,” katanya. Bukan pertanyaan.
Sebelum aku sempat menjawab, dia berbalik ke kompor dan mulai memotong bawang.
Ayasha memasak seperti orang yang sudah memasak seumur hidupnya.
Tangannya cepat dan yakin. Bawang dipotong tipis tanpa melirik pisau. Iga direbus sekali, airnya dibuang, direbus lagi dengan cengkih dan pala. Kentang dikukus untuk perkedel. Dia bergerak di antara dua kompor seperti orang menari, dan sesekali bersenandung lagu yang tidak kukenal.
Aku duduk di karung beras dan memperhatikan.
Aku tidak bermaksud memperhatikan. Tapi tidak ada hal lain yang lebih layak diperhatikan di dapur itu. Dodoy sudah tidur di kursi plastiknya, mulut terbuka, kopi di tangan yang miring berbahaya. Kipas angin berputar. Dan Ayasha, dengan kaos yang turun di satu bahu, dengan helai rambut yang lepas dari ikatan dan menempel di tengkuknya karena keringat, berdiri di depan panci sop yang mengepul.
Dia mengambil sendok, mencicipi kuah sop, meniupnya pelan. Bibirnya mengerucut. Lalu dia menyesap kuah dari sendok, memejamkan mata sebentar, dan menjilat sudut bibirnya.
“Kurang garam,” gumamnya.
Lalu dia membuka mata, menoleh, dan menangkapku.
Aku sedang menatap bibirnya. Aku tahu aku sedang menatap bibirnya. Dia tahu aku sedang menatap bibirnya. Kami berdua tahu, dan tidak ada yang bisa pura-pura tidak tahu.
Ayasha meletakkan sendoknya di pinggir panci. Senyumnya muncul pelan, mulai dari sudut kiri.
“Ngapain liatin bibir aku?” katanya. “Kamu minta dicium?”
Aku tersedak udara.
Benar-benar tersedak. Tidak ada makanan, tidak ada minuman, hanya udara biasa di dapur Dodoy. Aku batuk tiga kali sampai mataku berair.
Ayasha menonton dengan tangan di pinggang, sangat puas.
“Aku—” aku berdeham. “Aku liatin sendoknya.”
“Sendoknya di tangan aku. Bukan di bibir.”
“Tadi di bibir.”
“Jadi kamu ngaku liatin bibir.”
Aku membuka mulut. Menutupnya. Kalah dalam dua langkah. Dua belas tahun lalu aku juara olimpiade komputer tingkat provinsi, dan sekarang aku kalah debat soal sendok sop.
Ayasha mengambil sendok bersih, menyendok kuah sop, meniupnya, lalu berjalan ke arahku. Dia berdiri di depanku yang masih duduk di atas karung beras, dan karena aku duduk, untuk pertama kalinya wajahnya lebih tinggi dari wajahku. Dia menyodorkan sendok itu ke depan mulutku.
“Coba,” katanya. “Kurang garam nggak?”
Aku membuka mulut. Dia menyuapiku. Pelan. Matanya tidak lepas dari bibirku, dan aku sadar dia melakukannya dengan sengaja: membalas tatapanku tadi, tepat di tempat yang sama.
Kuahnya gurih, hangat, harum pala.
“Pas,” kataku. Suaraku serak.
“Bohong. Masih kurang garam.”
“Pas buatku.”
“Kamu pasti bilang pas. Kamu bilang kalau nggak enak pun kamu tetep makan.”
“Ini enak.”
Dia menurunkan sendok. Tapi dia tidak mundur. Dia berdiri di sana, sejengkal dari lututku, menatapku dengan kepala sedikit miring.
“Kak—” Dia berhenti. Mengoreksi. “Esa.”
“Hm?”
“Telingamu merah lagi.”
“Dapurnya panas.”
“Iya,” katanya, sambil berbalik kembali ke kompor. “Panas banget.”
Aku menunduk dan menatap lantai keramik dapur Dodoy, dan baru sadar satu hal kecil yang aneh.
Dia hampir memanggilku Kak.
Aku menanyakan cerita Dodoy waktu perkedel sedang digoreng.
“Dodoy bilang kamu nge-DM dia. Tiga minggu sebelum reuni. Mau ketemu aku soal urusan lama.”
Spatula Ayasha berhenti satu detik, lalu bergerak lagi.
“Mas Dodoy ember, ya.”
“Dia kira aku punya utang pinjol.”
Ayasha tertawa sampai harus mematikan kompor sebentar.
“Jadi,” kataku. “Urusan lama apa?”
Dia membalik perkedel satu per satu. Lama. Lalu dia menoleh ke arahku, dengan senyum yang terlalu manis untuk dipercaya.
“Aku liat fotomu di IG Mas Dodoy,” katanya. “Ada foto kamu lagi makan rendang di sini. Pakai hoodie. Rambut berantakan. Pipi penuh nasi.” Dia mengangkat bahu. “Aku naksir. Salah?”
Aku menatapnya.
Itu bohong. Aku tahu itu bohong. Akun Instagram Dodoy cuma berisi foto makanan, dan satu-satunya fotoku di sana diambil empat tahun lalu dari belakang, waktu aku sedang memperbaiki kipas angin warungnya. Yang terlihat cuma punggung dan pantat celana training.
“Kamu naksir pantatku?” kataku.
Ayasha berkedip. “Hah?”
“Satu-satunya fotoku di IG Dodoy itu foto dari belakang. Lagi benerin kipas angin.”
Hening.
Dodoy, yang ternyata sudah bangun sejak entah kapan, mengeluarkan suara seperti balon kempes, lalu menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya bergetar hebat.
Ayasha menatapku. Pipinya memerah. Untuk pertama kalinya sejak reuni, aku melihat dia kehilangan kata-kata.
Lalu dia mengangkat dagu.
“Iya,” katanya. “Pantat kamu bagus.”
Sekarang giliranku yang kehilangan kata-kata.
“Ada lagi yang mau ditanyain?” tanyanya, sambil mengangkat perkedel ke piring.
“...Nggak.”
“Bagus. Makan.”
Aku makan dua piring.
Sop iganya empuk sampai tulangnya lepas sendiri. Perkedelnya renyah di luar, lembut di dalam. Sambal terasinya pedas sampai Dodoy berkeringat dan bilang ini lebih enak dari sambal buatannya, lalu langsung menyesal mengatakannya dan meminta kami pura-pura tidak dengar.
Ayasha duduk di seberangku. Dia tidak banyak makan. Dia lebih banyak menatapku makan, dagu bertumpu di tangan.
“Kamu makan kayak orang yang takut piringnya diambil,” katanya.
Sendokku berhenti.
Aku menatap piringku. Lengan kiriku melingkar di sekelilingnya. Kebiasaan lama. Kebiasaan meja makan panti, di mana kalau kamu lengah sedetik, perkedelmu bisa pindah ke piring orang lain.
Aku melepaskan lenganku pelan-pelan dari piring.
Ayasha tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengambil satu perkedel dari piring saji dan meletakkannya di piringku.
“Nggak ada yang ngambil,” katanya pelan. “Di sini.”
Sesuatu di dadaku terasa aneh. Bukan sakit. Lebih seperti ada yang mengetuk dari dalam.
Aku menunduk dan makan perkedel itu.
Waktu aku mengangkat kepala, Ayasha sedang memalingkan wajah ke arah jendela, dan mengusap sudut matanya dengan punggung jari, cepat sekali, seolah ada debu yang masuk.
Tidak ada debu di dapur Dodoy. Dodoy menyapu tiga kali sehari.
Aku tidak bertanya.
Tapi aku mulai memperhatikan. Dan semakin aku memperhatikan, semakin banyak yang tidak masuk akal tentang perempuan ini.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy reading
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali