Chapter Fourteen
Porsche yang Akinya Soak
POV: Ayasha
Ada tiga hal yang langsung kuketahui begitu aku melangkah masuk ke rumah itu.
Pertama, rumah itu besar. Lebih besar dari panti. Langit-langit ruang tamunya setinggi dua lantai, dengan lampu gantung kristal yang belum pernah dinyalakan, karena plastik pembungkusnya masih menempel di salah satu lengannya.
Kedua, rumah itu kosong. Bukan kosong barang. Barangnya banyak. Sofa kulit cokelat panjang, meja kopi kaca, rak buku setinggi dinding, televisi lebih lebar dari kasur kos Esa. Tapi semuanya terlihat baru. Terlalu baru. Bantal sofa masih tegak sempurna tanpa satu lekukan pun, seperti tidak pernah ada yang bersandar. Rak bukunya penuh, tapi aku melihat label harga toko buku masih menempel di punggung tiga buku yang kuambil acak.
Ketiga, rumah itu milik Esa.
Aku sudah tahu sejak Pak Ujang muncul membawa sendok sayur dan menyapanya dengan Mas Esa masih hidup. Sebenarnya aku sudah tahu sejak tanganku mengetik nol-satu-nol-tujuh di panel gerbang tanpa ragu. Tanggal itu hidup di kepalaku seperti nomor ponsel ibuku yang sudah meninggal: tidak pernah dipakai, tidak pernah dilupakan. Satu Juli. Hari uang pertama masuk ke rekening yang dibukakan Bu Ratna untukku, tujuh tahun lalu, dengan berita transfer: Beasiswa 001. Semangat.
Aku tidak tahu dia memakai tanggal itu untuk PIN rumahnya. Aku hanya menebak. Tebakan dengan peluang nol koma nol satu persen, kata Esa. Tapi aku tidak menebak secara acak. Aku menebak tanggal yang paling mungkin berarti untuk laki-laki yang menyimpan semua hal pentingnya dalam diam.
Dan tebakanku benar.
Itu yang membuatku nyaris menangis di depan gerbang, sebelum dia membuatku nyaris pingsan dengan kamu cantik banget kalau lagi bohong.
Petugas PLN datang tepat waktu. Laki-laki muda berseragam biru dengan helm putih yang wajahnya penuh tanda tanya begitu melihat orang yang menandatangani berita acara: laki-laki berhoodie belel dan celana training, dengan rambut dikuncir asal, yang mengaku tukang wifi tapi tanda tangannya cocok dengan nama di sertifikat.
“Masnya... perwakilan pemilik?” tanya petugas PLN, menatap formulir.
“Iya,” kata Esa.
“Nama di sertifikat Esa Pradana. Masnya namanya siapa?”
Hening.
Pak Ujang, yang berdiri di belakang petugas PLN dengan celemek sapi, berdeham sangat keras.
“Itu,” kata Pak Ujang, “nama klien, Pak. Kebetulan sama. Nama pasaran.”
“Nama pasaran?”
“Esa itu kan banyak, Pak. Esa Pradana juga banyak. Di komplek ini aja ada tiga.”
Petugas PLN menatap Pak Ujang. Lalu menatap Esa. Lalu menatapku, yang berdiri di dekat rak buku dan berusaha sangat keras untuk tidak tertawa sampai aku harus pura-pura membaca judul buku dengan wajah serius. Judul bukunya Manajemen Portofolio Investasi Tingkat Lanjut. Masih terbungkus plastik.
“Oke,” kata petugas PLN akhirnya, dengan wajah orang yang memutuskan bahwa gajinya tidak cukup besar untuk mencari tahu. “Tanda tangan di sini, Mas.”
Esa tanda tangan.
Aku melihat tanda tangannya dari seberang ruangan. Coretan pendek dengan huruf E yang besar di awal.
Sama persis dengan coretan di bagian bawah dokumen visi Bekal.
Aku mengalihkan pandangan ke buku di tanganku sebelum pikiranku sempat menghubungkan dua titik itu.
Tidak mungkin. Huruf E. Jutaan orang. Aku sudah memutuskan itu di KRL minggu lalu.
Opor Pak Ujang luar biasa enak.
Kuahnya kental, santannya gurih, dan ayamnya empuk sampai lepas dari tulang. Ada telur rebus yang direndam di kuah opor sampai cokelat. Ada sambal goreng ati. Ada ketupat yang Pak Ujang beli di pasar subuh tadi. Kami makan di meja makan marmer yang panjangnya cukup untuk dua belas orang. Esa di satu ujung, aku di sebelahnya, Pak Ujang berdiri di samping meja dengan celemek sapi seperti pelayan restoran.
“Pak Ujang nggak ikut makan?” tanyaku.
“Saya satpam, Mbak. Satpam nggak makan di meja yang punya rumah.”
“Kan yang punya rumah nggak ada.”
Pak Ujang melirik Esa. Esa sedang mengunyah ketupat dengan konsentrasi penuh.
“Iya, Mbak,” kata Pak Ujang. “Yang punya rumah nggak ada. Nggak pernah ada.” Dia berhenti sebentar. Suaranya tiba-tiba turun. “Dua tahun saya jaga rumah ini. Yang punya cuma dateng tujuh kali. Tidurnya di kamar pembantu. Kamar utama nggak pernah dipakai.”
Esa berhenti mengunyah.
“Saya sering mikir,” lanjut Pak Ujang pelan, sambil menuangkan air ke gelas Esa yang belum kosong, “buat apa punya rumah segede ini kalau nggak dipulangin. Rumah kan buat dipulangin, Mbak. Bukan buat disimpen.”
“Pak,” kata Esa.
“Iya, Mas Tukang Wifi?”
“Opornya enak.”
Pak Ujang menatapnya. Lalu tersenyum. Kumisnya bergerak seperti sikat sepatu yang ikut tersenyum.
“Makasih, Mas. Tambah lagi. Telurnya dua. Mas kan suka telurnya dipot... eh.” Pak Ujang membeku. “Maksud saya, tukang wifi biasanya suka telur. Banyak protein. Buat... manjat tiang.”
“Tukang wifi nggak manjat tiang, Pak,” kataku.
“Tukang wifi komplek sini manjat tiang, Mbak. Tiangnya tinggi-tinggi.”
Aku tertawa sampai kuah opor menetes dari sendokku ke kaos krem tanpa lenganku. Noda kuning besar di bagian dada.
“Yah,” kataku, menatap noda itu.
Esa langsung berdiri. Mengambil tisu. Lalu berhenti, menyadari noda itu ada di dada, dan tidak tahu harus berbuat apa dengan tisu di tangannya. Dia mengulurkan tisu itu padaku dengan lengan direntangkan sejauh mungkin, seperti orang yang menyodorkan makanan ke kucing galak.
“Ganti baju aja,” katanya. “Di lemari atas ada... baju klien. Pakai aja. Klien nggak bakal marah.”
“Klien nggak bakal marah?”
“Klien nggak pernah pakai bajunya.”
Pak Ujang mengangguk serius. “Betul, Mbak. Klien nggak pernah pakai apa-apa di rumah ini.”
Kamar utama ada di lantai dua.
Pintunya berat, kayu jati, dengan pegangan kuningan. Di dalamnya ada ranjang selebar kasur Bu Ratna dikali tiga, dengan seprai putih yang dilipat rapi seperti di hotel. Ada jendela besar menghadap taman belakang. Ada kamar mandi dengan bak berendam. Ada walk-in closet.
Aku membuka pintu lemarinya.
Penuh. Kemeja putih, kemeja biru, kemeja abu-abu. Jas hitam. Celana bahan. Sweater wol. Dasi digantung berjajar. Sepatu kulit di rak bawah. Semuanya ukuran L. Semuanya masih ada label harganya.
Aku menyentuh salah satu kemeja putih. Kainnya lembut, katun Mesir. Harganya di label membuatku menelan ludah.
Laki-laki yang memiliki lemari ini menolak dibelikan kemeja seratus delapan puluh lima ribu di Pasar Baru minggu lalu.
Aku mengambil kemeja putih itu. Lalu, setelah ragu sebentar, aku juga mengambil satu kemeja biru muda dan memasukkannya ke tas. Itu tidak sopan. Itu mencuri. Tapi kemeja-kemeja ini tidak pernah dipakai, dan suatu hari aku ingin melihat Esa memakai sesuatu yang bukan hoodie dan bukan pemberian siapa pun yang dia tolak.
Aku melepas kaos krem yang bernoda opor. Memakai kemeja putih. Kemeja itu kebesaran, jatuh sampai paha, lengannya menutupi tanganku. Aku menggulung lengannya sampai siku. Aku mengancingkan hanya tiga kancing di tengah, membiarkan dua kancing atas terbuka, lalu mengikat ujung bawah kemeja di pinggang, di atas rok bunga-bunga.
Aku menatap cermin di pintu lemari.
Aku terlihat seperti perempuan yang baru bangun pagi di rumah laki-lakinya.
Aku tersenyum ke cermin. Lalu turun ke bawah.
Esa sedang di dapur waktu aku turun. Dia sedang mengisi teko listrik dengan air untuk membuat teh. Dia mendengar langkahku di tangga dan menoleh.
Teko listriknya tumpah.
Air menyembur ke meja marmer, ke lantai, ke celana training-nya. Esa tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana dengan teko di tangan yang masih menuangkan air ke mana-mana, menatapku.
Aku berhenti di ujung tangga. Satu tangan di pegangan.
“Kenapa?” tanyaku dengan polos.
Esa menatapku dari atas sampai bawah. Lambat. Dari dua kancing yang terbuka di leher. Ke lengan yang digulung. Ke ujung kemeja yang diikat di pinggang. Ke rok bunga-bunga. Ke sandal jepit hijau neonnya yang masih kupakai.
“Airnya,” kataku.
Dia menunduk. Teko listrik sudah kosong. Celananya basah sampai lutut.
“...Oh.”
Aku berjalan ke dapur. Mengambil lap dari gantungan. Berlutut dan mulai mengelap lantai di sekitar kakinya. Dari posisiku, aku bisa merasakan dia menatap ke bawah, ke arahku, ke kerah kemeja yang terbuka. Aku tidak mendongak. Aku membiarkannya menatap.
“Klienmu,” kataku sambil mengelap, “punya banyak kemeja bagus.”
“Iya.”
“Masih ada labelnya semua.”
“Iya.”
“Mahal-mahal.”
“...Iya.”
“Kamu tau dari mana lap ditaruh di gantungan sebelah kiri kompor?”
Hening.
Aku mendongak. Esa menatapku dengan wajah orang yang baru tertangkap mencuri. Lalu dia berdeham.
“Semua dapur naruh lap di situ.”
“Dapur Mas Dodoy naruh lap di bawah wastafel.”
“Dapur orang kaya naruh lap di sebelah kompor.”
“Oh, gitu.” Aku berdiri. Melempar lap ke wastafel. “Terus, panci kecil di mana? Aku mau bikin es teh. Tehnya kan gagal.”
“Laci kiri bawah,” jawab Esa tanpa berpikir.
Lalu dia membeku.
Aku menatapnya. Dia menatap laci kiri bawah seolah laci itu baru saja mengkhianatinya.
“Laci kiri bawah,” ulangku pelan.
“Aku sering...” dia mencari kata. “Benerin wifi. Di dapur. Routernya. Di laci.”
“Router wifi di laci panci?”
“Klien aneh.”
Aku membuka laci kiri bawah. Ada tiga panci kecil bertumpuk, masih dibungkus plastik. Tidak ada router.
Aku mengambil satu panci, membuka plastiknya, lalu berbalik menghadap Esa. Aku melompat duduk di atas meja dapur marmer, di antara kompor dan wastafel. Kakiku menjuntai. Sandal jepit hijau neon hampir jatuh dari ujung kakiku.
“Sini,” kataku.
Esa tidak bergerak.
Aku meraih tali hoodie-nya, satu-satunya yang tersisa, dan menariknya pelan. Dia terseret maju satu langkah. Dua langkah. Sampai berdiri tepat di depanku, di antara kedua lututku yang menjuntai dari meja.
Dari posisi ini, wajah kami hampir sejajar. Aku sedikit lebih tinggi, karena duduk di meja.
“Tukang wifi,” bisikku.
“Hm.”
“Klienmu nggak ada di rumah.”
“Iya.”
“Satpamnya lagi di taman belakang. Nyiram kamboja.”
“...Iya.”
Aku masih memegang tali hoodie-nya. Melilitkannya di jari telunjuk. Pelan. Satu putaran. Dua putaran. Menariknya sedikit lebih dekat lagi.
“Kamu nggak mau nagih utang dua senti?”
Esa menatapku. Matanya gelap. Napasnya pelan dan dalam, seperti orang yang menahan sesuatu dengan sekuat tenaga. Tangannya terangkat, perlahan, dan bertumpu di meja marmer di kedua sisi pinggulku. Mengurungku.
Jantungku melompat ke tenggorokan.
Wajahnya turun. Satu senti. Aku bisa merasakan napasnya di bibirku. Aku memejamkan mata.
Lalu dia berhenti.
Aku membuka mata. Wajahnya masih di sana, dekat sekali, tapi tidak bergerak lagi. Dia menatapku dengan ekspresi yang aneh. Bukan ragu. Bukan takut. Sesuatu yang lebih sedih.
“Jangan di sini,” katanya pelan.
“Kenapa?”
Dia diam lama. Lalu dia menegakkan punggungnya, mengangkat tangannya dari meja, dan melepaskan tali hoodie dari jariku dengan sangat lembut.
“Ini bukan rumahku,” katanya.
Aku tahu itu bohong. Aku tahu ini rumahnya. Sertifikatnya atas nama dia. PIN gerbangnya tanggal beasiswaku. Satpamnya memasakkan opor untuknya.
Tapi waktu aku menatap wajahnya, waktu aku melihat cara dia menatap dapur marmer yang tidak pernah dia pakai, lampu kristal yang plastiknya belum dilepas, dan kemeja-kemeja berlabel yang tidak pernah dia kenakan, aku mengerti bahwa dia tidak sedang berbohong.
Ini memang bukan rumahnya.
Rumah ini cuma bangunan yang dia beli. Rumahnya adalah kamar tiga kali tiga meter di gang Tebet, dengan ibu kos yang menggedor pintu dan kucing bernama Pak Lurah.
Dan dia tidak mau ciuman pertama kami terjadi di tempat yang bukan rumahnya.
Aku menunduk. Mataku panas.
“Oke,” bisikku. “Nggak di sini.”
Esa menatapku. Lalu dia mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemeja putih yang kupakai. Kerah yang terbuka dua kancing. Dia tidak menutupnya. Dia hanya merapikannya, menegakkan lipatannya, seperti aku merapikan kerahnya di Pasar Baru minggu lalu.
“Kamu cocok pakai ini,” katanya.
“Ini punya klienmu.”
“Klienku nggak bakal keberatan.”
“Kalau aku bawa pulang?”
“Bawa aja.”
“Kamu yakin klienmu nggak marah?”
Sudut bibirnya naik. “Klienku,” katanya, “kayaknya bakal seneng.”
Setelah es teh jadi, Esa pergi ke garasi dengan Pak Ujang untuk “mengecek CCTV”. Aku tahu sebenarnya mereka mau mencoba menghidupkan Porsche.
Aku sendirian di lantai bawah. Aku berjalan pelan menyusuri lorong. Ada pintu setengah terbuka di ujung lorong, dan dari celahnya aku melihat meja kerja kayu dan rak berisi map-map.
Ruang kerja.
Aku tidak berniat masuk. Aku sungguh tidak berniat. Tapi kakiku membawaku ke sana, dan tanganku mendorong pintunya, dan aku berdiri di ambang ruangan yang berbau kertas dan debu.
Mejanya bersih. Hanya ada satu laptop tua yang tertutup, satu gelas berisi pulpen, dan satu map tebal berwarna hijau yang diletakkan tepat di tengah meja.
Di sampul map itu ada label yang dicetak:
LAPORAN TAHUNAN BEASISWA RUMAH PULANG Untuk: Donatur Utama
Segelnya belum dibuka.
Di bawahnya, menyembul sedikit, ada lembar profil yang dijepit di luar map. Fotoku. Foto wisuda, dengan toga hitam dan senyum yang terlalu lebar. Di bawahnya tertulis:
Penerima No. 001 — Ayasha Pramesti. Lulus S1 Ilmu Komunikasi, cum laude. Saat ini: Brand Manager.
Aku berdiri di depan meja itu sangat lama.
Lalu aku melihat laci meja yang terbuka sedikit. Hanya dua senti. Cukup untuk melihat isinya.
Tumpukan amplop. Diikat karet gelang. Tujuh amplop.
Aku tidak perlu mengambilnya untuk tahu apa itu. Aku mengenali amplopnya. Amplop putih polos yang kubeli di koperasi kampus, satu pak isi lima puluh, yang kupakai setiap tahun untuk menulis surat terima kasih. Di sudut kanan atas setiap amplop ada tulisan tanganku: Untuk Kakak Donatur. Dari 001.
Tujuh surat. Tujuh tahun.
Semuanya masih tertutup. Segelnya utuh. Tidak satu pun dibuka.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Dia tidak pernah membacanya.
Tujuh tahun aku menulis surat-surat itu. Aku menulis tentang hari pertama kuliah, waktu aku tersesat di kampus sebesar kota dan menangis di toilet gedung rektorat. Tentang nilai A pertamaku. Tentang semester waktu aku kena tifus dan tetap ujian. Tentang wisuda. Tentang pekerjaan pertama. Aku menulis semuanya untuk orang asing yang tidak pernah menjawab, dan aku pikir orang asing itu membacanya. Aku pikir dia tahu.
Dia tidak pernah membacanya.
Tapi dia menyimpan semuanya.
Diikat karet gelang. Di laci meja kerja yang tidak pernah dia pakai. Di rumah yang tidak pernah dia pulangi.
Aku tidak tahu harus merasa apa. Sakit, karena dia tidak pernah tahu siapa aku. Hangat, karena dia menyimpan semuanya seperti barang yang terlalu berharga untuk dibuka dan terlalu berharga untuk dibuang.
Aku menutup laci itu pelan sampai rapat. Lalu aku membukanya lagi dua senti, persis seperti tadi, supaya dia tidak tahu ada yang menyentuhnya. Aku menyelipkan lembar profil fotoku kembali ke bawah map hijau, menyisakan sudutnya menyembul dengan sudut yang sama.
Lalu aku keluar dari ruang kerja dan menutup pintunya setengah, seperti semula.
Aku berdiri di lorong dan menarik napas panjang tiga kali.
Waktu aku sampai di garasi, Esa dan Pak Ujang sedang berdiri di depan sebuah mobil SUV hitam mengilap dengan kap terbuka. Pak Ujang memegang kabel jumper. Esa memegang kunci. Mobil itu tidak mau menyala.
“Coba sekali lagi, Mas,” kata Pak Ujang.
Esa memutar kunci. Mesin mengeluarkan bunyi klek-klek-klek yang lemah, seperti orang tua yang batuk, lalu diam.
“Akinya soak,” kata Pak Ujang sedih. “Kasihan. Mobil sebagus ini. Nggak pernah dipakai. Cuma dipanasin. Kayak ayam yang dipelihara di kandang emas tapi nggak pernah dilepas.”
Esa menatap mobil itu. Lalu menatap Bubur yang terparkir di luar gerbang, kecil dan putih krem dengan spion miring.
“Pulang naik Bubur aja,” katanya.
Pak Ujang menghela napas panjang seperti orang tua yang kecewa pada anaknya, tapi juga sudah menyerah.
Aku berdiri di ambang pintu garasi. Masih memakai kemeja putih yang terlalu besar. Masih menahan sesuatu di dada.
Esa menoleh dan melihatku. Wajahnya melembut.
“Kenapa?” tanyanya. “Matamu merah.”
“Debu,” kataku.
“Iya,” katanya. “Rumah ini banyak debunya.”
Dia tidak bertanya lagi.
Kami pulang naik Bubur. Langit di atas Pondok Indah sudah mulai gelap. Awan hitam menggumpal di barat.
Aku memeluk pinggangnya lebih erat dari biasanya. Pipiku menempel di punggungnya. Aku memejamkan mata dan memikirkan tujuh amplop yang diikat karet gelang.
Tujuh tahun aku ngerasa berutang sama dia, pikirku.
Tapi mungkin dia nggak pernah sekali pun nganggap aku berutang.
Setetes air hujan jatuh di punggung tanganku.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak reading
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali