Chapter Thirty
Founder: E.
POV: Ayasha
Ballroom Hotel Grand Sudirman malam itu terlihat seperti istana.
Lampu gantung kristal yang benar-benar menyala, bukan seperti lampu kristal di rumah Pondok Indah yang plastiknya belum dilepas. Enam puluh meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian bunga anggrek ungu. Layar LED raksasa di belakang panggung, menampilkan logo Bekal: buku terbuka dengan matahari terbit di atasnya. Kamera di tiga sudut. Lampu sorot. Enam ratus tamu dengan jas, gaun, kebaya, dan wajah-wajah yang biasanya hanya kulihat di berita bisnis.
Dan aku berdiri di podium di tengah panggung, memakai gaun panjang biru tua yang dipinjamkan Kak Dewi dari butik langganannya, dengan rambut disanggul rapi oleh penata rias hotel dan anting mutiara kecil yang kubeli sendiri tiga tahun lalu untuk wisuda.
Aku tidak gemetar.
Aku sudah menghafal naskah lima halaman itu tiga belas kali. Sebelas kali untuk bagian lain, dua kali tambahan khusus untuk bagian sambutan Pak Menteri. Aku sudah gladi resik dua kali. Aku sudah berdiri di podium ini jam dua siang, waktu ballroom masih kosong, dan menatap enam puluh meja bundar yang belum ditata, dan membayangkan semuanya penuh.
Sekarang semuanya penuh.
“...dan izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Pendidikan yang telah berkenan hadir malam ini,” kataku ke mikrofon. Suaraku keluar jernih dan tenang lewat pengeras suara. “Silakan, Bapak.”
Tepuk tangan. Pak Menteri naik ke panggung. Aku mundur ke sisi kiri, berdiri di balik podium kecil MC, dan menarik napas untuk pertama kalinya dalam lima belas menit.
Dari sini, aku bisa melihat seluruh ballroom.
Meja nomor satu, paling depan: Kak Hendra, Mr. Lim, dua investor Singapura lainnya, perwakilan kementerian. Kak Hendra terlihat seperti orang yang akan pingsan. Dia sudah berkeringat sejak gladi resik siang tadi, meskipun AC ballroom disetel enam belas derajat.
Meja nomor tiga: manajer-manajer Bekal. Kak Dewi. Kepala divisi Produk. Bram.
Bram memakai jas hitam pinjaman, karena jas hitam miliknya ternyata ikut dijual waktu dia melunasi cicilan mobil lewat program bantuan finansial. Dia duduk tegak, kancing atas kemejanya terpasang, rambutnya tidak berpomade. Malam ini dia akan menerima penghargaan. Kategori baru yang diusulkan Kak Hendra minggu lalu: Best Turnaround. Untuk tim Sales yang berhasil mencapai target Q4 yang sudah direvisi.
Waktu dia melihatku di panggung, dia mengangkat jempol. Aku mengangguk balik.
Di layar ponselku, yang kuletakkan tengkurap di atas podium MC (Kak Dewi bilang matikan, tapi aku tidak bisa), ada pesan dari Tika yang masuk lima menit lalu.
Tika: MBAK CANTIK BANGETTT. Aku nonton livestream di kos. Pacarnya Mbak di mana? Nggak nonton?
Tika: Btw Mas Dodoy bikin nobar di warung, Mbak liat story-nya? Ada proyektor. Ada Bu Kos sama kucing. RAME.
Aku tersenyum ke layar.
Esa bilang dia akan menonton dari tempat yang kelihatan. Mungkin di Warung Dodoy. Mungkin di kosnya. Mungkin di tenda Cak Man, dengan sepiring pecel lele dan teh manis panas, dengan ponsel disandarkan ke botol kecap.
Aku membayangkannya dan merasa hangat.
Pagi tadi dia mengirim pesan: Ada yang harus aku bilang. Penting. Aku tidak sempat membalas dengan benar. Hari ini terlalu gila. Tapi nanti malam, setelah semua ini selesai, setelah aku berterima kasih kepada founder-ku, aku akan menemuinya. Kami akan makan pecel lele. Dan dia akan menceritakan satu hal lagi itu.
Satu-satu. Seperti yang kujanjikan.
Lalu aku bisa menceritakan kepadanya bahwa aku berhasil. Bahwa aku bilang makasih ke orang yang tipenya sama seperti dia. Dan dia akan tersenyum dengan sudut bibir yang naik setengah senti, dan telinganya akan memerah karena aku memujinya, dan semua akan baik-baik saja.
Pak Menteri selesai berpidato. Tepuk tangan.
Aku kembali ke podium tengah.
“Terima kasih, Bapak Menteri.”
Aku melirik naskah. Halaman lima. Bagian terakhir.
“Bapak-Ibu sekalian,” kataku. “Malam ini, untuk pertama kalinya dalam empat tahun sejarah Bekal, kita akan bertemu dengan orang yang memulai semuanya.”
Ballroom hening. Enam ratus kepala menoleh ke panggung. Di meja nomor tiga, Bram menegakkan punggungnya. Di meja nomor satu, Kak Hendra menutup mata.
“Selama empat tahun,” lanjutku, dan suaraku masih tenang, masih jernih, “beliau memilih untuk tidak dikenal. Namanya hanya satu huruf di profil perusahaan kami. Tanda tangannya hanya satu coretan pendek di dokumen-dokumen kami. Banyak dari kami di Bekal bertanya-tanya, siapa beliau. Bapak-bapak umur lima puluhan pakai jas? AI? Alien?”
Tawa kecil di seluruh ballroom. Di meja nomor tiga, aku melihat seseorang menyikut Bram sambil tertawa. Tika pasti sedang tertawa di kosnya, karena itu leluconnya.
“Tapi yang kami tahu,” kataku, dan sekarang aku berhenti membaca naskah. Ini tidak ada di naskah. Aku menambahkannya sendiri, semalam, di lantai ruang tamu apartemenku, dengan kacamata baca dan rambut dicepol. “Yang kami tahu adalah satu kalimat. Kalimat pertama di dokumen visi kami. Kalimat yang membuat saya, secara pribadi, melamar ke perusahaan ini dua tahun lalu.”
Aku menarik napas.
“Tidak ada anak yang boleh berhenti belajar hanya karena tidak ada yang menunjukkan jalan.”
Ballroom hening total.
“Saya dulu salah satu anak itu,” kataku pelan. “Dan ada seseorang yang menunjukkan jalan. Malam ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada orang yang menulis kalimat itu. Karena saya yakin, orang yang bisa menulis kalimat seperti itu, pasti dulu juga pernah tersesat.”
Di meja nomor satu, Kak Hendra menunduk. Bahunya bergetar.
Aku mengambil kartu kecil yang diletakkan di sudut podium. Kartu putih dengan logo Bekal. Kak Hendra menggantinya dua puluh menit lalu, terburu-buru, dengan wajah pucat. Katanya ada perubahan dari founder.
Aku membaliknya.
Di kartu itu hanya ada tiga kata. Tulisan tangan. Bukan cetakan.
Founder: E.
Aku tersenyum ke kartu itu. Tentu saja. Bahkan malam ini, bahkan di depan enam ratus orang, dia tetap memilih satu huruf.
“Bapak-Ibu sekalian,” kataku, mengangkat kepala ke ballroom. “Mari kita sambut...”
Aku menatap kartu itu lagi.
“...Founder Bekal. E.”
Lampu sorot berpindah dari podium ke sisi kanan panggung. Ke tangga kecil yang menghubungkan backstage dengan panggung.
Enam ratus kepala menoleh ke sana.
Aku juga menoleh, dengan senyum yang sudah kusiapkan. Senyum profesional. Senyum yang akan kupertahankan selama lima detik sementara founder naik panggung, lalu aku akan menyerahkan mikrofon dan mundur ke sisi kiri, dan nanti di backstage, setelah pidatonya, aku akan mendekatinya dan mengucapkan tiga kata yang sudah kulatih sebelas kali.
Seseorang naik tangga.
Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Seperti orang yang tidak suka naik tangga di depan orang banyak.
Sandal jepit.
Bukan sepatu kulit. Sandal jepit hitam biasa, yang dijual di minimarket sebelas ribu rupiah.
Celana training hitam.
Hoodie abu-abu. Abu-abu muda yang hampir perak. Kainnya tebal dan lembut. Talinya dua. Ujungnya masih ada plastik.
Rambut agak gondrong, dikuncir rendah.
Wajah.
Senyumku membeku.
Enam ratus orang di ballroom menahan napas. Bisik-bisik mulai terdengar di beberapa meja. Hoodie? Itu founder-nya? Kok pake hoodie? Kamera media berbunyi klik-klik-klik bertubi-tubi. Lampu sorot mengikutinya naik ke panggung.
Dia berhenti di tengah panggung. Tiga meter dariku.
Dia menatapku.
Bukan ke ballroom. Bukan ke kamera. Bukan ke enam ratus orang. Ke aku. Dengan mata yang sudah kukenal sejak umur enam tahun. Mata yang cuek dan setengah mengantuk, yang malam ini sepenuhnya terjaga, dan penuh dengan sesuatu yang kubaca sebagai maaf.
Telinganya merah.
Dari bawah ke atas. Seperti termometer.
Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri di sana.
Satu detik. Mungkin dua. Mungkin satu menit. Ballroom berhenti. Waktu berhenti. Suara bisik-bisik dan klik kamera dan dengung AC enam belas derajat menghilang. Yang tersisa hanya laki-laki berhoodie abu-abu di tengah panggung, tiga meter dariku, dengan label kecil di kerahnya yang kujahit sendiri dengan benang hitam dua malam lalu.
Punya E. Jangan dikasih ke siapa-siapa.
Punya E.
Founder: E.
E.
Kepalaku mulai bekerja. Pelan, lalu cepat. Terlalu cepat. Seperti video yang diputar mundur dengan kecepatan dua kali lipat.
Aku kenal dia dari kerjaan. Bram, sales manager. Esa tahu Bram kerja di Bekal sejak reuni. Esa tahu.
Tanda tangan di berita acara PLN. Coretan pendek dengan huruf E yang besar. Sama dengan coretan di bawah dokumen visi.
— E. Di catatan kotak sop yang dicuci dua kali.
Kak Hendra yang menjatuhkan tumbler di lobi. Yang kabur ke lift. Yang tidak bisa menatapku di rapat. Yang berkeringat di ruangan delapan belas derajat.
Kamu kenal Kak Hendra? Aku tukang wifi, Sha. Aku kenal banyak orang.
Program bantuan finansial. Diumumkan seminggu setelah Esa membayar makan siang Bram. Inisiatif langsung dari founder, didanai dari dana pribadi beliau.
Call investor dengan suara Bu Darsih berteriak dari pacarmu. Mr. Lim yang selalu tertawa. Kak Hendra yang bilang Pak E sangat menghargai privasi.
Halaman empat deck investor. Fotoku.
Kamu suka kerjaanmu? Malam video call. Dia bertanya. Aku menceritakan kalimat pertama dokumen visi, kata demi kata. Dan dia bilang, Kalimat yang bagus.
Suaranya serak waktu itu.
Dia mendengarkan aku mengutip kalimatnya sendiri, dan dia bilang kalimat yang bagus, dan dia tidak bilang apa-apa.
Kamu peduli banget sama aku ketemu founder-ku.
Iya.
Kenapa?
Dia tidak menjawab.
Semalam. Founder-mu itu... Aku memotongnya. Jangan bikin aku tambah gugup. Dia mencoba memberitahuku. Dan aku menyuruhnya diam.
Tidak. Bukan semalam saja. Dua minggu lalu, di depan pagar kos. Ada satu lagi. Aku menempelkan telunjukku di bibirnya. Satu-satu dulu.
Dia mencoba memberitahuku dua kali.
Dan dia membiarkanku menghentikannya dua kali.
Dan selama itu, selama dua minggu, selama hampir dua bulan, sejak minggu-minggu pertama, dia tahu. Dia tahu aku bekerja di perusahaannya. Dia tahu aku ingin berterima kasih kepada founder-ku. Dia tahu aku melamar karena kalimatnya. Dan dia membiarkanku menceritakan semua itu kepadanya, dengan mata berbinar, seperti orang yang menceritakan pahlawan kepada pahlawannya sendiri, dan dia hanya bilang kalimat yang bagus.
Dua minggu lalu, dia duduk di tenda Cak Man dan bertanya apakah aku sayang padanya atau merasa berutang. Karena aku menyembunyikan sesuatu darinya.
Dan selama itu, dia menyembunyikan ini.
Aku tahu paling akhir.
Lagi.
“Sha,” katanya.
Pelan. Hampir tanpa suara. Hanya gerakan bibir. Di tengah panggung, di bawah lampu sorot, di depan enam ratus orang.
Mikrofon di tanganku terasa sangat berat.
Lalu tubuhku melakukan sesuatu yang tidak kuperintahkan. Sesuatu yang sudah dilatih selama dua tahun di kantor, di rapat, di presentasi klien, di peluncuran kampanye. Sesuatu yang profesional.
Aku tersenyum.
Senyum yang sempurna. Senyum Brand Manager. Senyum yang kupakai untuk menolak klien yang minta revisi kesembilan kali.
Aku melangkah maju. Tiga meter. Dua. Satu. Aku berdiri di depannya. Aku menyodorkan mikrofon ke tangannya.
“Silakan, Pak,” kataku. Ke mikrofon yang masih menyala, cukup keras untuk didengar enam ratus orang.
Pak.
Wajahnya hancur. Hanya sebentar. Hanya untuk aku. Lalu dia menerima mikrofon itu, dan jari-jarinya menyentuh jari-jariku, dan aku menarik tanganku seperti menyentuh kompor.
Aku berbalik.
Aku berjalan ke sisi kiri panggung. Melewati podium MC. Mengambil ponselku yang tengkurap. Turun dari tangga kecil di sisi kiri. Ke backstage.
Aku tidak berlari. Aku berjalan dengan langkah yang terukur, dengan punggung tegak, dengan gaun biru tua pinjaman Kak Dewi yang tidak boleh kotor, dengan senyum yang masih menempel di wajahku seperti stiker yang tidak bisa dilepas.
Di belakangku, ballroom masih hening.
Lalu, lewat pengeras suara, aku mendengar suaranya. Serak. Sedikit gemetar.
“Selamat malam.”
Backstage gelap, penuh kabel dan peti peralatan dan kru berbaju hitam yang menatapku dengan wajah bingung. Seorang kru memanggilku, Mbak MC, Mbak, nanti ada segmen penutup. Aku tidak berhenti.
Aku menemukan pintu darurat. Pintu besi abu-abu dengan tanda hijau EXIT. Aku mendorongnya.
Tangga darurat. Beton. Dingin. Lampu neon putih yang berkedip. Bau debu dan cat.
Pintu besi tertutup di belakangku dengan bunyi dum yang berat.
Lalu senyum itu akhirnya jatuh dari wajahku.
Aku duduk di anak tangga. Gaun biru tua Kak Dewi menyentuh beton berdebu. Aku tidak peduli. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Aku tidak menangis.
Aku menunggu air mata itu datang, tapi tidak datang. Yang datang hanya rasa kosong. Kosong yang aneh, seperti rumah yang barangnya diangkut semua dalam satu malam.
Dari balik pintu besi, samar-samar, aku masih bisa mendengar suaranya lewat pengeras suara ballroom. Teredam, seperti suara dari dasar kolam.
“...saya nggak pandai bicara di depan orang banyak. Jadi saya pendek aja.”
Jeda.
“Kalimat yang tadi dibacakan oleh MC kita, saya tulis empat tahun lalu. Jam tiga pagi. Di kamar kos tiga kali tiga meter di Tebet. Ada bekas bocor di langit-langitnya, bentuknya kayak peta Kalimantan.”
Aku menurunkan tanganku dari wajah.
“Waktu itu saya baru baca laporan dari panti asuhan tempat saya dibesarkan. Ada anak yang berhenti sekolah karena nggak bisa bayar ujian. Saya nangis. Terus saya nulis kalimat itu.”
Ballroom hening di balik pintu.
“Saya nggak nulis buat investor. Saya nulis buat anak itu. Dan buat semua anak yang... yang selalu kalah cepet di meja makan.”
Napasku berhenti.
Anak yang selalu kalah cepet di meja makan.
Tanda tanganku. Di surat ketujuh. Yang dia baca di ruang kerja Pondok Indah.
“Malam ini MC kita bilang dia dulu salah satu anak itu,” lanjut suaranya, lebih pelan sekarang, lebih gemetar. “Saya mau bilang...”
Dia berhenti. Lama. Ballroom menunggu.
“Saya mau bilang dia nggak perlu bilang makasih ke saya. Dia udah bilang makasih tujuh kali. Saya aja yang terlalu pengecut buat baca.”
Bisik-bisik di ballroom. Samar. Bingung.
Air mata akhirnya datang.
Bukan menetes. Jatuh. Seperti hujan di Jalan Pakubuwono.
Aku menunduk di anak tangga darurat Hotel Grand Sudirman, dengan gaun pinjaman dan sanggul yang mulai lepas, dan aku menangis sampai napasku tersedak, sampai suara di balik pintu tidak terdengar lagi karena tertutup suara isakanku sendiri.
Bukan karena dia kaya.
Aku tidak peduli dia kaya. Aku sudah tahu dia punya rumah di Pondok Indah. Aku sudah tahu dia punya Porsche. Aku sudah tahu dia membiayai seratus dua belas anak. Kekayaannya tidak pernah membuatku takut.
Aku menangis karena dua hal yang tidak bisa kupisahkan.
Satu: dia menyembunyikannya dariku. Sama seperti aku menyembunyikan Nomor 001 darinya. Dan dia menghukumku di tenda Cak Man karena itu, sementara dia sendiri melakukan hal yang sama. Lebih lama. Lebih besar.
Dua: aku bekerja di perusahaannya. Dua tahun. Brand Manager. Kampanye di halaman empat. Aku pikir aku sampai di sana dengan kakiku sendiri. Dan sekarang aku tidak tahu lagi berapa banyak dari langkah itu yang benar-benar langkahku.
Saya dulu salah satu anak itu. Dan ada seseorang yang menunjukkan jalan.
Aku mengucapkan itu di depan enam ratus orang dengan bangga.
Ternyata jalan yang ditunjukkan pun, jalannya milik dia.
Pintu besi terbuka.
Aku tidak mendongak. Aku tahu langkah itu. Sandal jepit di beton. Pelan. Tidak terburu-buru.
Dia berhenti dua anak tangga di atasku.
“Sha.”
Aku tidak menjawab.
“Sha, aku...”
“Jangan sekarang.”
Suaraku keluar serak, tapi tegas. Aku mengusap pipiku dengan punggung tangan. Maskara luntur ke jariku.
“Aku coba bilang,” katanya. “Tiga kali. Dua minggu ini. Terus pagi ini aku cari kamu seharian di hotel...”
“Aku tau.”
“Kamu tau?”
“Aku inget.” Aku mengangkat kepala. Menatapnya. Dia berdiri di anak tangga dengan hoodie abu-abu yang kubelikan, label Punya E menyembul di kerahnya. Matanya merah. “Di depan pagar kos. Semalem di telepon. Aku yang nyuruh kamu diem. Dua kali.”
Esa diam.
“Tapi kamu bisa maksa,” kataku. Suaraku pecah. “Kamu bisa bilang, Sha, dengerin, ini penting, aku nggak peduli kamu gugup. Kamu bisa nelepon balik semalem. Kamu bisa dateng ke apartemenku. Kamu bisa bilang di Warung Mas Dodoy. Kamu bisa bilang dua bulan lalu, waktu aku cerita founder-ku nulis kalimat yang bikin aku nangis, dan kamu cuma bilang kalimat yang bagus.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu tau aku kerja di sana,” kataku. “Dari kapan?”
Esa menunduk. “Sejak... minggu kedua. Hendra kirim deck investor. Ada fotomu.”
“Dua bulan.”
“Iya.”
“Dua bulan, Esa.” Aku berdiri. Kakiku gemetar. Sepatu hak pinjaman Kak Dewi membuatku hampir sejajar dengan matanya. “Dua minggu lalu kamu duduk di depanku di tenda Cak Man. Kamu taruh suratku di meja. Kamu tanya aku sayang kamu atau utang. Karena aku nyembunyiin sesuatu dari kamu.”
“Sha...”
“Dan selama itu, kamu nyembunyiin ini.”
Esa menatapku. Dia tidak membela diri. Dia tidak bilang itu berbeda. Dia hanya menatapku dengan wajah orang yang sudah tahu jawabannya sejak lama.
“Iya,” katanya pelan.
Itu yang membuatnya lebih buruk. Dia tidak membantah. Dia tahu.
“Aku harus pergi,” kataku.
“Ke mana?”
“Nggak tau. Pulang.” Aku mengambil napas. “Aku harus mikir.”
“Aku anter.”
“Jangan.”
Dia berhenti bergerak.
“Kamu bilang ke aku waktu itu,” kataku, “kamu butuh tau mana yang beneran.”
Aku menatapnya.
“Sekarang aku yang butuh tau,” kataku. “Mana yang beneran punyaku. Kerjaanku. Jabatanku. Kampanyeku. Mana yang aku dapet sendiri, dan mana yang kamu kasih tanpa aku tau.”
Esa membuka mulut. Lalu menutupnya.
Aku melepas sepatu hak pinjaman Kak Dewi. Satu per satu. Meletakkannya di anak tangga. Gaun biru tua menyapu beton berdebu.
Lalu aku berjalan turun. Bertelanjang kaki. Satu anak tangga. Dua. Tiga.
“Sha.”
Aku berhenti. Tidak menoleh.
“Hoodie-nya,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku nggak bakal ngembaliin.”
Aku menutup mataku.
Aku nggak bakal ngembaliin kamu. Kalimatku. Dua minggu lalu. Di anak tangga teras kos Bu Darsih.
Dia mengembalikannya padaku. Dalam bentuk yang berbeda. Di anak tangga yang berbeda.
Aku tidak menjawab.
Aku terus berjalan turun. Lantai satu. Lantai dasar. Pintu keluar ke parkiran belakang hotel, tempat sopir-sopir taksi online menunggu di bawah lampu jalan yang berkedip.
Di belakangku, di tangga darurat lantai dua, aku tahu dia masih berdiri di sana. Di samping sepasang sepatu hak pinjaman. Dengan hoodie abu-abu berlabel Punya E.
Ponselku bergetar di genggamanku. Aku melihat layarnya sebentar.
Tika: MBAK. MBAK. MBAK. MAS HOODIE = FOUNDER???????
Tika: GRUP KANTOR MELEDAK MBAK
Tika: Mas Dodoy jatohin wajan di livestream nobar. Ada di story Mas Ipul. Wajannya kena kaki Bu Kos. Bu Kos teriak. Kucingnya kabur.
Tika: Mbak di mana??? Mbak nggak apa-apa???
Aku mematikan ponsel.
Lalu aku naik taksi pertama yang kutemui, dan menyebutkan satu-satunya alamat yang terpikir olehku.
Bukan apartemenku di Pancoran.
Panti Rumah Pulang. Depok. Di ujung gang sempit, di antara kebun singkong dan bengkel las, dengan papan nama yang hurufnya jatuh satu.
Rumah tidak perlu nama yang sempurna untuk tetap jadi rumah.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E. reading
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali