← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Two

Maaf Telat, Sayang

POV: Esa


Sabtu sore, aku berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di balik pintu kamar kos dan menimbang-nimbang.

Hoodie abu-abu, atau hoodie abu-abu yang satunya?

Aku punya dua. Yang satu belel, yang satu lebih belel. Aku memilih yang belel, karena yang lebih belel sedang dijemur dan masih basah. Celana training hitam. Sandal jepit? Tidak. Ini reuni. Aku menghormati acara ini. Aku pakai sepatu kets putih yang sudah tidak putih.

Sudah. Rapi.

Bu Darsih sedang menyapu teras waktu aku keluar. Dia berhenti menyapu, menatapku dari kepala sampai kaki, lalu menatap Pak Lurah yang sedang berjemur di atas pot bunga.

“Mau ke mana, Sa?”

“Reuni SMA, Bu.”

Bu Darsih diam. Lalu menghela napas yang sangat panjang.

“Ya Allah,” katanya pelan, ke arah langit. “Kuatkan anak ini.”


Warung Dodoy malam itu sudah tidak terlihat seperti Warung Dodoy.

Dodoy menyewa lampu gantung bohlam kuning yang dipasang zig-zag di langit-langit. Meja-meja disusun panjang dan dilapisi taplak putih. Ada spanduk di dinding: REUNI AKBAR SMA TUNAS BANGSA — 12 TAHUN, MASIH SATU HATI. Di sudut, dua karyawan Dodoy berdiri dengan seragam hitam dan wajah tegang seperti mau ujian nasional.

Dodoy sendiri berdiri di depan pintu memakai kemeja batik yang kancing perutnya tegang. Begitu melihatku turun dari Bubur, matanya langsung berkaca-kaca.

“Lo dateng.”

“Aku janji.”

“Lo dateng pakai hoodie.”

“Kamu bilang boleh.”

“Gue bilang boleh, tapi gue nggak nyangka lo beneran.” Dodoy menarik napas, lalu menepuk bahuku. “Nggak apa-apa. Nggak apa-apa. Rendangnya udah siap. Lo duduk di meja nomor empat. Pojok. Deket dapur. Biar gampang nambah.”

Dia memang sahabatku.

Aku masuk.

Ruangan itu sudah setengah penuh. Wajah-wajah yang familier tapi lebih tua dua belas tahun. Ada yang menggendong bayi. Ada yang memakai kemeja slim fit dengan jam tangan yang sengaja dipamerkan. Ada yang perutnya sudah mirip Dodoy. Ada yang rambutnya sudah mundur beberapa senti dari garis aslinya.

Aku berjalan ke meja nomor empat.

Beberapa kepala menoleh. Aku bisa merasakan tatapan yang berhenti sejenak di hoodie-ku, lalu di celana training, lalu di sepatu kets yang tidak putih. Satu-dua alis terangkat. Satu-dua bisikan.

Aku tidak peduli. Aku duduk, menuang teh manis dari teko, dan menunggu rendang.

“Lho? ESA?”

Suara itu datang dari meja sebelah. Suara laki-laki, keras, dengan nada yang sengaja dibuat terkejut.

Aku menoleh.

Bram Wicaksono.

Di SMA, Bram adalah kapten tim basket yang selalu menyembunyikan sepatu orang di loker toilet. Termasuk sepatuku, tiga kali, di kelas sepuluh. Sekarang dia memakai kemeja biru muda slim fit yang kancing atasnya dibuka dua, jam tangan besar berwarna emas, dan rambut yang diberi pomade sampai bisa memantulkan cahaya bohlam. Di sebelahnya duduk tiga orang yang dulu juga anggota tim basket, kini dengan perut yang sudah pensiun dari olahraga.

“Bram,” kataku. “Apa kabar?”

“Kabar baik, kabar baik!” Bram berdiri, menghampiri mejaku dengan gelas es jeruk di tangan, lalu menatapku dari atas sampai bawah. Lama. Senyumnya lebar. “Wah, wah. Esa. Esa Pradana. Lo... nggak berubah sama sekali, ya.”

“Makasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Oh.” Aku mengangguk. “Tetap makasih.”

Teman-teman Bram tertawa. Bram ikut tertawa, menepuk bahuku dua kali agak terlalu keras.

“Sekarang kerja di mana, Sa?”

“Di rumah.”

“Di rumah? Kerja di rumah? Ngapain?”

“Ngetik.”

“Ngetik apaan?”

“Macem-macem.”

Bram melirik teman-temannya dengan ekspresi yang jelas sekali artinya: Kalian dengar itu? Lalu dia kembali menatapku dengan wajah prihatin yang palsu.

“Jadi... masih nganggur, ya?”

Aku memikirkan pertanyaan itu sebentar. Secara teknis, aku tidak punya kantor. Tidak punya jam kerja. Tidak punya atasan, kecuali kalau dihitung klien Norwegia yang mengirim email sopan sekali sebulan. Aku bangun jam berapa pun aku mau, dan kadang bekerja sambil tiduran.

“Kayaknya bisa dibilang gitu,” kataku.

“Ya ampun.” Bram menggeleng-geleng. “Udah dua puluh sembilan lho, Sa. Masih nganggur. Masih pakai hoodie yang sama kayak waktu SMA.”

“Ini beda hoodie.”

“Masa?”

“Yang SMA warnanya biru.”

Teman-teman Bram tertawa lagi, kali ini lebih keras. Bram ikut tertawa, tapi aku melihat matanya sedikit menyipit. Dia tidak suka kalau orang yang dia ejek tidak terlihat terluka.

“Doain ya, Bram,” kataku sambil tersenyum. “Kamu kan udah sukses. Pasti doanya manjur.”

Senyum Bram sedikit goyah. Hanya sedikit. Lalu dia tertawa lagi, lebih keras dari sebelumnya.

“Pasti, pasti! Gue doain!” Dia menepuk bahuku lagi, lalu kembali ke mejanya sambil menggeleng-geleng dengan ekspresi kasihan sekali anak ini untuk semua orang yang menonton.

Aku kembali ke teh manisku.

Tidak lama kemudian rendang datang, dibawa sendiri oleh Dodoy yang menatap meja Bram dengan mata berapi-api.

“Mau gue kasih garam sekilo di piringnya?” bisiknya.

“Jangan. Sayang garamnya.”

Dodoy mendengus, lalu meletakkan sepiring nasi putih, dua potong rendang, sayur nangka, dan kerupuk di depanku. Porsinya cukup untuk dua orang.

Aku mengambil sendok. Lalu, tanpa berpikir, aku mengambil piring kecil kosong di tengah meja, memotong satu potong rendang jadi dua, dan meletakkan separuhnya di piring kecil itu bersama satu sendok nasi dan sedikit sayur nangka. Kusisihkan piring kecil itu ke samping.

Dodoy menatap piring kecil itu.

“Lo masih aja, ya.”

“Masih apa?”

“Itu.” Dia menunjuk piring kecil dengan dagunya. “Nyisihin separuh. Dari zaman kuliah.”

Aku menatap piring kecil itu juga. Aku bahkan tidak sadar sedang melakukannya.

Kebiasaan dari panti. Di panti, meja makan adalah medan perang. Anak-anak yang besar dan cepat selalu mendapat lauk duluan. Yang kecil dan lambat sering cuma kebagian kuah. Waktu aku sudah cukup besar untuk selalu menang, aku mulai menyisihkan separuh lauk ke piring kecil, untuk siapa saja yang kalah cepat malam itu. Lama-lama jadi kebiasaan. Bahkan setelah keluar panti, bahkan setelah tidak ada lagi anak kecil yang kalah cepat, tanganku tetap melakukannya sendiri.

“Nanti aku makan juga,” kataku.

“Iya. Lo selalu bilang gitu. Terus lo kasih ke kucing.”

“Kucingnya kelaparan.”

Dodoy menggeleng dan kembali ke dapur.


Satu jam berlalu.

Aku makan rendang. Aku menambah rendang. Aku makan ayam bakar madu. Aku mengobrol dengan Hasan, teman sebangku waktu kelas sebelas yang sekarang jadi guru honorer di Bekasi. Dia satu-satunya orang di ruangan itu yang memelukku waktu bertemu dan tidak bertanya soal pekerjaan. Kami membahas guru fisika yang dulu suka melempar kapur, lalu Hasan pamit karena anaknya demam.

Lalu aku sendirian lagi di meja nomor empat.

Dari seberang ruangan, aku merasakan tatapan.

Gendis Ayu Larasati duduk di meja panitia, dekat spanduk, bersama tiga perempuan lain. Dia masih cantik. Bahkan lebih cantik dari yang kuingat. Rambutnya sekarang sebahu, gelombang lembut. Dia memakai gaun hijau zaitun sederhana yang membuat kulitnya terlihat bercahaya di bawah lampu bohlam. Waktu mata kami bertemu, dia tidak berpaling. Dia tersenyum kecil, lalu mengangguk.

Aku mengangguk balik.

Lalu dia berpaling, memegang tas kecil di pangkuannya dengan dua tangan. Terlalu erat. Seperti orang yang memegang sesuatu yang takut jatuh.

Aku tidak terlalu memikirkannya.

Masalahnya, Bram juga melihat pertukaran anggukan itu.

Dan Bram, sejak SMA, tidak pernah bisa menerima kalau Gendis melihat orang lain selain dia.

“Eh, eh, semuanya!” Bram berdiri, mengetuk gelasnya dengan sendok. Ruangan perlahan hening. Dia tersenyum lebar ke seluruh ruangan seperti pembawa acara. “Gue mau ngomong sebentar. Nggak apa-apa ya, panitia?”

Gendis tidak menjawab. Salah satu temannya mengangkat bahu.

“Jadi gini,” lanjut Bram. “Gue seneng banget bisa ketemu kalian semua lagi. Dua belas tahun! Banyak yang udah sukses. Banyak yang udah nikah. Banyak yang udah punya anak.” Dia mengangkat gelas ke arah beberapa meja. Beberapa orang tertawa dan bertepuk tangan. “Gue sendiri sekarang Sales Manager di Bekal. Tau Bekal, kan? Startup pendidikan itu. Valuasinya hampir triliun. Kantor di SCBD.”

Beberapa orang bersiul. Bram mengangguk dengan rendah hati yang dibuat-buat.

Aku tersedak teh manis.

Dodoy, yang sedang menyajikan es teler di meja sebelah, menoleh kaget ke arahku. Aku melambai: Nggak apa-apa. Aku batuk dua kali, mengelap mulut dengan tisu, dan menatap Bram dengan perasaan yang sangat aneh.

Bram kerja di Bekal.

Bram, yang menyembunyikan sepatuku di loker toilet tiga kali, adalah Sales Manager di perusahaanku.

Dunia ini memang punya selera humor.

“Nah,” lanjut Bram, dan aku langsung tahu ke mana arahnya karena dia berjalan pelan menuju mejaku. “Tapi gue juga sadar, nggak semua orang seberuntung kita. Ada temen kita yang... masih berjuang.”

Dia berhenti di samping mejaku dan meletakkan tangannya di bahuku. Ruangan menjadi lebih hening.

“Esa, misalnya,” kata Bram, suaranya dibuat lembut, seperti orang yang menjenguk teman di rumah sakit. “Esa ini temen kita yang hebat banget waktu SMA. Juara olimpiade komputer. Inget, kan? Tapi sekarang...” Dia menghela napas dramatis. “Sekarang masih nganggur. Masih ngekos. Masih naik motor yang spionnya miring.”

Beberapa orang tertawa kecil, canggung. Beberapa lain menunduk, tidak nyaman. Hasan sudah pulang. Dodoy berdiri di dekat dapur dengan nampan es teler, wajahnya memerah.

“Makanya,” Bram melanjutkan sambil meremas bahuku, “sebagai temen yang peduli, gue mau ngasih tawaran. Di kantor gue lagi butuh OB. Office boy. Gajinya UMR, Sa. Lumayan lho. Daripada nganggur. Gimana? Gue bisa rekomendasiin.”

Ruangan itu hening total.

Aku menatap tangan Bram di bahuku. Lalu menatap wajahnya. Dia tersenyum, menunggu. Menunggu aku tersinggung, malu, atau marah. Menunggu aku menjadi lelucon yang bisa ia ceritakan ke teman-temannya nanti.

Aku memikirkan jawabannya dengan serius.

Aku bisa bilang, Bram, aku yang gaji kamu. Tapi itu ribet, dan aku tidak suka ribet.

Aku bisa diam. Tapi itu membuang kesempatan.

“Wah,” kataku akhirnya. “Makasih, Bram. Serius. Tapi aku mau nanya satu hal dulu.”

“Apa?”

“Kalau aku jadi OB di kantor kamu, aku boleh bikinin kamu kopi tiap pagi?”

Bram mengerutkan kening. “Ya... boleh. Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Aku tersenyum. “Pengin aja.”

Hening sedetik. Lalu Dodoy, dari dekat dapur, tertawa keras sekali sampai nampan es telernya oleng. Dua-tiga orang lain ikut tertawa. Bram tidak tertawa. Wajahnya memerah dari leher ke telinga, dan tangannya di bahuku meremas lebih keras.

“Lo pikir gue bercanda, ya?” katanya, suaranya tidak lagi lembut. “Gue serius nawarin. Gue kasihan sama lo. Lo pikir dengan gaya kayak gini lo bisa dapet apa? Kerjaan? Cewek? Mana ada cewek yang mau sama—”

“Bram.”

Suara Gendis. Dia sudah setengah berdiri dari kursinya, satu tangan di meja, wajahnya tegang. “Bram, cukup—”

Dan tepat saat itu, pintu Warung Dodoy terbuka.

Bel di atas pintu berdenting.

Seluruh ruangan menoleh.

Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.

Aku ingin menjelaskan dengan cara yang lebih baik, tapi satu-satunya kata yang muncul di kepalaku saat itu adalah: cantik. Bukan cantik yang biasa. Cantik yang membuat ruangan penuh orang tiba-tiba lupa sedang membicarakan apa. Rambutnya panjang, hitam, bergelombang sampai punggung. Matanya besar dengan bulu mata panjang, dan bibirnya merah tua. Dia memakai blus putih berbahan satin yang jatuh lembut di bahunya, rok hitam selutut, dan sepatu hak yang bunyinya terdengar jelas di lantai keramik waktu dia melangkah masuk.

Dia menyapu ruangan dengan pandangannya. Pelan. Percaya diri. Seperti orang yang mencari sesuatu yang sudah ia tahu pasti ada di sana.

Lalu matanya berhenti padaku.

Dan dia tersenyum.

Gendis masih setengah berdiri. Bram masih memegang bahuku. Dodoy masih memegang nampan es teler yang oleng.

Perempuan itu berjalan lurus ke mejaku. Setiap kepala di ruangan mengikuti langkahnya. Dia berhenti tepat di sampingku, lalu, dengan gerakan yang sangat santai, menyingkirkan tangan Bram dari bahuku seperti menyingkirkan daun kering. Kemudian dia menyelipkan tangannya ke lenganku dan menggandengnya.

Aroma parfumnya lembut. Melati, dan sesuatu yang manis.

“Maaf telat, Sayang,” katanya. Suaranya rendah, hangat, dan cukup keras untuk didengar seluruh ruangan. “Jalanan macet banget. Kamu udah makan?”

Lalu dia mengulurkan tangan dan merapikan tali hoodie-ku yang tinggal satu, menariknya pelan supaya lurus, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Aku tidak bisa bergerak.

Aku juga tidak bisa bicara.

Yang bisa kulakukan hanya satu hal, dan itu kulakukan karena refleks: aku mengambil piring kecil berisi separuh rendang yang tadi kusisihkan, lalu menyodorkannya ke arahnya.

“...Kerupuk?” kataku.

Perempuan itu menatap piring kecil itu.

Sesuatu melintas di wajahnya. Cepat sekali, hampir tidak terlihat. Matanya berkedip, terlalu lama untuk ukuran kedipan biasa. Lalu senyumnya kembali, lebih lebar, dan dia mengambil kerupuk dari piring itu.

“Makasih, Sayang.”

Ruangan itu hening total.

Lalu terdengar suara gelas jatuh. Gelas es jeruk Bram, tergelincir dari tangannya, menggelinding di lantai tanpa pecah.

“A... Ayasha?” Suara Bram serak. “Kamu... kamu ngapain di sini?”

Perempuan yang dipanggil Ayasha itu menoleh ke Bram, seolah baru menyadari keberadaannya.

“Oh,” katanya. “Mas Bram. Kenal sama pacarku?”

Bram membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

Di belakangku, Dodoy menjatuhkan nampan es teler.

Di meja panitia, Gendis perlahan duduk kembali. Tangannya masih memegang tas kecil di pangkuannya. Masih terlalu erat. Dia menatap perempuan di sampingku, lalu menatapku, dan aku melihat sesuatu di matanya yang tidak bisa kuartikan.

Aku menunduk sedikit ke arah perempuan yang masih menggandeng lenganku. Kurendahkan suaraku sampai hanya dia yang bisa mendengar.

“Mbak,” bisikku. “Kayaknya salah orang.”

Dia tidak menoleh. Dia tetap tersenyum ke arah ruangan, ke arah Bram yang masih membeku, ke arah semua wajah yang menatap kami dengan mulut setengah terbuka.

Tapi bibirnya bergerak, pelan, nyaris tanpa suara.

“Diam,” bisiknya. “Senyum. Nanti kujelasin.”

Lalu tangannya di lenganku meremas pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh sembilan tahun hidupku, aku tidak punya satu pun jawaban usil yang bisa kukatakan.