← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Three

Pacarku, Katanya

POV: Ayasha


Empat puluh tujuh kali.

Itu jumlah latihanku di dalam taksi online, dari kantor di SCBD sampai depan Warung Dodoy di Tebet. Empat puluh tujuh kali aku mengucapkan kalimat yang sama ke kaca jendela, dengan sopir yang melirikku dari spion setiap tiga menit seperti sedang mengangkut pasien.

“Terima kasih, Kak.”

Tiga kata. Gampang. Anak TK pun bisa.

Masalahnya, setiap kali aku mencoba mengucapkannya dengan suara keras, tenggorokanku tercekik di kata kedua. Jadinya, “Terima ka—” lalu berhenti, menarik napas, mengulang. Sopir taksi akhirnya menyalakan radio. Lagu dangdut koplo. Mungkin dia kasihan padaku. Mungkin dia cuma ingin aku berhenti.

Taksi berhenti di depan Warung Dodoy pukul tujuh lewat dua puluh lima. Aku sengaja datang terlambat. Kupikir lebih baik masuk saat semua orang sudah sibuk mengobrol, supaya tidak ada yang memperhatikan. Supaya aku bisa mencari meja nomor empat (Mas Dodoy sudah memberitahuku di telepon), menghampiri laki-laki berhoodie yang duduk di sana, mengucapkan tiga kata itu, menyerahkan kotak kue yang kubawa, lalu pergi.

Lima menit. Paling lama sepuluh.

Itu rencananya.

Aku turun dari taksi, merapikan rok, mengecek lipstik di layar ponsel, lalu berjalan ke pintu kaca restoran.

Dan dari balik kaca itu, aku melihat Bram.


Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang Bram.

Bram Wicaksono adalah Sales Manager di kantorku. Sudah delapan bulan dia berusaha mengajakku makan malam. Setiap Senin, dia mampir ke mejaku dengan kopi yang tidak kupesan. Setiap Jumat, dia menawari tumpangan pulang dengan mobil yang setiap kali disebut-sebutnya “baru lunas DP”. Dia memanggilku “Sha” seolah kami sudah kenal sejak kecil. Dia selalu berdiri sedikit terlalu dekat.

Aku sudah menolak dengan sopan, setengah sopan, lalu tidak sopan sama sekali. Bram menganggap semuanya sebagai “tarik ulur”.

Aku tidak tahu Bram alumni SMA yang sama dengan Kak Esa.

Mas Dodoy tidak menyebutkan itu.

Dan sekarang, dari balik kaca pintu Warung Dodoy, aku melihat Bram berdiri di samping meja nomor empat, dengan tangan meremas bahu seorang laki-laki berhoodie abu-abu. Wajah Bram merah, mulutnya bergerak cepat, dan seluruh ruangan menatap mereka dalam hening yang terasa sampai ke luar kaca.

Aku tidak bisa mendengar kata-katanya. Tapi aku bisa membaca bentuk mulutnya.

Mana ada cewek yang mau sama—

Laki-laki berhoodie itu duduk dengan tenang. Dia tidak terlihat malu. Tidak terlihat marah. Dia hanya duduk di sana dengan senyum kecil yang santai, seperti orang yang sedang mendengarkan ramalan cuaca. Dan entah kenapa, ketenangan itulah yang membuat dadaku panas.

Karena aku tahu siapa laki-laki itu.

Aku tahu apa yang sudah dia lakukan.

Dan aku tahu Bram tidak punya hak, sama sekali tidak punya hak, untuk menyentuh bahunya seperti itu.

Aku tidak ingat memutuskan untuk masuk. Yang kuingat cuma tanganku mendorong pintu, bel di atasnya berdenting, dan seluruh ruangan menoleh.

Lalu kakiku berjalan sendiri.


Aku tahu aku cantik.

Itu bukan sombong. Itu data. Sejak SMP, aku sudah terbiasa dengan kepala yang menoleh waktu aku lewat. Dengan obrolan yang berhenti di tengah kalimat. Dengan laki-laki yang tiba-tiba lupa cara berjalan. Aku belajar memakainya seperti orang belajar memakai pisau: hati-hati, dengan tujuan, dan hanya kalau perlu.

Malam ini, aku merasa perlu.

Aku berjalan melewati meja-meja panjang dengan taplak putih, melewati wajah-wajah asing yang menatapku dengan mulut setengah terbuka, lurus ke meja nomor empat. Aku menyingkirkan tangan Bram dari bahu Kak Esa. Tangan Bram terasa lembap dan dingin. Aku menyelipkan tanganku ke lengan Kak Esa.

Lengannya hangat. Hoodie-nya lembut karena sudah dicuci ratusan kali. Baunya sabun cuci murah dan sesuatu yang mirip kayu.

“Maaf telat, Sayang,” kataku.

Aku tidak merencanakan kata itu. Kata itu keluar begitu saja, dan begitu keluar, tidak bisa ditarik lagi. Jadi aku memutuskan untuk berkomitmen penuh. Aku bertanya apakah dia sudah makan, seperti pacar sungguhan. Lalu kurapikan tali hoodie-nya yang tinggal satu dan miring ke kiri, seperti yang dilakukan pacar sungguhan.

Lalu Kak Esa melakukan sesuatu yang membuat seluruh rencanaku runtuh.

Dia mengambil piring kecil dari samping piringnya. Piring kecil berisi separuh potong rendang, satu sendok nasi, sedikit sayur nangka, dan dua kerupuk. Dia menyodorkannya padaku dengan wajah bingung yang polos.

“...Kerupuk?”

Aku menatap piring kecil itu.

Separuh lauk. Disisihkan ke piring kecil. Disodorkan tanpa berpikir.

Dia masih melakukannya.

Setelah bertahun-tahun, dia masih melakukannya.

Tenggorokanku tercekik persis seperti di taksi. Mataku panas. Selama satu detik, satu detik yang terasa seperti satu jam, aku hampir menangis di tengah reuni SMA orang lain, di depan Bram, di depan puluhan orang asing, dengan blus satin yang kusetrika dua kali tadi pagi.

Aku berkedip. Lama. Kuambil napas lewat hidung. Lalu aku tersenyum, lebih lebar, karena itu satu-satunya cara untuk tidak menangis.

Aku mengambil kerupuk.

“Makasih, Sayang.”


Kekacauan sesudahnya, kalau dipikir lagi, sebenarnya lucu.

Bram menjatuhkan gelas. Seseorang di belakang menjatuhkan nampan. Bunyinya seperti gong, dan aku melirik dari sudut mata: Mas Dodoy berdiri di tengah genangan es teler dengan wajah orang yang baru memenangkan lotre. Dia mengangkat dua jempol ke arahku, cepat sekali, lalu pura-pura sibuk memungut gelas.

Aku memelototinya. Jangan.

Dia langsung menunduk.

Kak Esa membisikkan sesuatu tentang salah orang. Aku menyuruhnya diam dan senyum. Dia menurut. Dia menurut dengan sangat patuh, dengan senyum kaku seperti foto KTP, dan aku harus menggigit pipi bagian dalam supaya tidak tertawa.

Aku menarik kursi di sebelahnya dan duduk. Masih menggandeng lengannya. Tidak kulepas.

Lalu mereka datang.

Satu per satu, lalu bergerombol. Perempuan-perempuan dari meja sebelah dengan senyum ingin tahu. Laki-laki-laki dari meja Bram dengan tatapan yang tidak bisa memutuskan apakah mau iri atau tidak percaya.

“Halo, halo! Pacarnya Esa, ya?”

“Iya,” kataku.

“Kenal di mana?”

Aku melirik Kak Esa. Dia menatapku dengan alis terangkat, menunggu jawabanku sama penasarannya dengan mereka.

“Dia yang nemuin aku duluan,” kataku. “Udah lama banget. Dia aja yang lupa.”

Itu jujur. Semua yang kukatakan malam itu, sebisa mungkin, kubuat jujur. Hanya cara mengatakannya yang sedikit menyesatkan.

Kak Esa mengerutkan kening. Aku bisa melihat otaknya bekerja keras, mencoba mengingat di mana dia pernah menemukanku. Aku menepuk punggung tangannya.

“Udah, nggak usah diinget-inget. Nanti pusing.”

Perempuan-perempuan itu tertawa. Salah satunya, perempuan berjilbab dengan bayi di gendongan, menatapku dengan mata berbinar. “Ya ampun, kalian lucu banget.”

“Makasih, Mbak.”

Bram, yang sejak tadi berdiri membeku di samping meja, akhirnya menemukan suaranya.

“Sha,” katanya. “Kamu... kamu serius?”

“Serius apanya, Mas?”

“Sama dia?” Bram menunjuk Kak Esa dengan dagunya. “Dia nganggur, Sha. Dia ngekos. Dia naik motor yang spionnya—”

“Miring. Iya. Aku tau.” Aku tersenyum ke Bram. Senyum paling manis yang bisa kubuat, yang biasanya kupakai saat menolak klien yang minta revisi kesembilan kali. “Enak, Mas. Dia nganggur, jadi bisa nemenin aku kapan aja. Nggak kayak orang-orang yang sibuk banget sampai cuma sempet nawarin kopi yang nggak dipesen.”

Hening.

Salah satu teman Bram batuk. Satu lagi pura-pura sibuk dengan ponsel.

Wajah Bram memerah lagi, kali ini sampai ke dahi.

“Terus dia kerja apa?” tanya Bram, suaranya naik setengah oktaf. “Kalau dia nganggur, kalian makan apa?”

Aku menoleh ke Kak Esa. Dia masih menatapku dengan alis terangkat, menunggu apa yang akan kukatakan. Ada sesuatu di matanya. Bukan panik. Lebih seperti geli.

“Sayang,” kataku, “kamu kerja apa?”

Kak Esa mengedip. Lalu, dengan wajah sangat serius, menjawab:

“Ngetik.”

Aku menahan tawa sampai perutku sakit. “Tuh, Mas. Ngetik.”

Dan aku melihatnya. Pertama kali malam itu, sudut bibir Kak Esa terangkat. Bukan senyum kaku foto KTP. Senyum yang asli. Kecil, miring sebelah, dan ditujukan padaku.

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak ada di rencana.


Bram akhirnya mundur ke mejanya dan tidak keluar lagi selama sisa acara. Kerumunan perlahan bubar. Kak Esa kembali makan, karena ternyata, meskipun ada perempuan asing yang mengaku pacarnya, dia tetap tidak mau rendangnya dingin.

Aku memperhatikannya dari samping.

Dari dekat, dia lebih tampan dari yang kuingat. Rambutnya agak gondrong, jatuh ke dahi, jelas tidak pernah kenal sisir. Rahangnya tegas. Bulu matanya panjang untuk ukuran laki-laki. Ada bekas luka kecil di alis kiri yang dulu tidak ada. Hoodie-nya memang belel, tapi bahunya lebar dan tangannya, tangan yang memegang sendok, panjang dan kurus dengan buku-buku jari menonjol.

Tangan orang yang mengetik. Seharian. Bertahun-tahun.

Kalau orang-orang di ruangan ini tahu apa yang sudah diketik tangan itu.

“Mbak,” katanya pelan, tanpa menoleh, sambil memotong rendang. “Mbak ngeliatin aku dari tadi.”

“Nggak boleh?”

“Boleh. Cuma aku jadi susah nelen.”

“Kenapa?”

“Grogi.”

Dia mengatakannya dengan nada datar, tanpa ekspresi. Aku tidak bisa menahannya: aku tertawa. Cukup keras sampai dua meja menoleh.

Aku mendekat. Kucondongkan tubuhku sampai bahuku menyentuh bahunya, sampai bibirku cukup dekat dengan telinganya.

“Kalau gitu,” bisikku, “jangan ngeliat aku. Nanti tambah grogi.”

Telinganya memerah.

Aku menyaksikannya terjadi, dari ujung bawah sampai ujung atas, seperti termometer. Kak Esa menatap rendangnya dengan konsentrasi penuh dan tidak menoleh ke arahku lagi selama lima menit.

Ada sambal di sudut bibirnya. Aku mengulurkan tangan dan mengusapnya dengan ibu jari.

Sendok di tangan Kak Esa berhenti di udara.

“Ada sambal,” kataku.

“...Makasih.”

“Sama-sama, Sayang.”

Dia menelan dengan susah payah. Aku menyesap teh manisnya tanpa izin dan merasa, untuk pertama kali malam itu, sangat, sangat menang.


Sekitar jam sembilan, perempuan bergaun hijau zaitun datang ke meja kami.

Aku sudah memperhatikannya sejak masuk. Dia yang setengah berdiri waktu Bram meremas bahu Kak Esa. Dia yang memegang tas kecil terlalu erat. Dia yang menatap Kak Esa dari seberang ruangan dengan cara yang hanya bisa dipahami perempuan lain.

Dia cantik. Cantik yang lembut, tenang, dan anggun, yang tidak perlu berteriak. Matanya cokelat terang. Senyumnya sopan.

“Hai,” katanya padaku. “Aku Gendis. Temen SMA Esa.”

“Ayasha.”

Kami berjabat tangan. Tangannya dingin.

“Esa,” katanya, lalu menoleh ke Kak Esa. Ada sesuatu yang bergetar di suaranya, tipis sekali. “Makasih udah dateng. Aku... seneng kamu dateng.”

“Makasih udah ngundang,” jawab Kak Esa. Datar. Sopan. Sama sekali tidak menyadari apa pun.

Gendis tersenyum. Lalu dia kembali menatapku. Lama. Matanya tidak marah. Tidak sinis. Cuma... sedih. Sedih yang sudah lama sekali, sampai sudah tidak tajam lagi.

“Esa beruntung,” katanya padaku.

Lalu dia pergi.

Aku menatap punggungnya yang menjauh, gaun hijau zaitunnya, rambutnya yang bergelombang, tas kecilnya yang masih dipegang erat. Sesuatu di dadaku terasa berat.

Aku tidak tahu apa yang ada di tas itu. Tapi aku tahu tatapan itu.

Aku tahu persis.

Karena aku pernah melihatnya di cermin, bertahun-tahun, setiap kali memikirkan laki-laki yang sekarang duduk di sebelahku.


Pukul sembilan tiga puluh tepat, Kak Esa meletakkan sendok, mengelap mulut dengan tisu, dan berdiri.

“Aku janji pulang jam setengah sepuluh,” katanya.

“Janji sama siapa?”

“Sama Dodoy.” Dia menatap jam dinding. “Dan sama diriku sendiri.”

Aku ikut berdiri. Kugandeng lagi lengannya. Kami berjalan ke pintu dengan seluruh ruangan masih melirik ke arah kami. Bram tidak berani menoleh. Gendis menunduk. Mas Dodoy, dari balik meja kasir, mengangkat dua jempol lagi. Kali ini aku tidak memelototinya.

Di luar, udara malam Tebet lembap dan berbau knalpot. Lampu jalan berwarna oranye. Di samping trotoar, sebuah Scoopy putih krem dengan spion miring dan jok berlakban terparkir sendirian.

Kak Esa melepaskan lengannya dari genggamanku, pelan, lalu berbalik menghadapku.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia menatapku lurus. Lama. Wajahnya tidak lagi grogi. Tidak lagi geli. Hanya penasaran, tenang, dan sedikit waspada.

“Oke,” katanya. “Mbak Pacar.”

Aku menahan napas.

“Sekarang,” katanya, sambil menyelipkan kedua tangan ke saku hoodie, “jelasin.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang tidak ingat pernah menyisihkan separuh lauk untukku. Laki-laki yang tidak tahu bahwa dalam tujuh tahun terakhir, setiap kuliah yang kuikuti, setiap buku yang kubeli, setiap semester yang kulalui tanpa harus berhenti dibiayai oleh ketikannya.

Tiga kata yang kulatih empat puluh tujuh kali masih ada di tenggorokanku.

Terima kasih, Kak.

Tapi yang keluar dari mulutku malah:

“Ini motormu?”

Kak Esa menoleh ke Scoopy di belakangnya. Lalu menatapku lagi.

“Namanya Bubur.”

Aku menatap motor itu. Lalu menatap Kak Esa. Lalu tertawa sampai harus memegangi perut, di trotoar Tebet, dengan sepatu hak dan blus satin dan maskara yang mulai luntur di ujung mata. Entah karena lucu, entah karena lega, entah karena aku sebenarnya mau menangis dan tertawa adalah satu-satunya cara menyamarkannya.

Kak Esa menungguku selesai tertawa dengan sabar. Kedua tangan masih di saku hoodie.

Aku menyeka sudut mata.

Belum, kataku pada diriku sendiri. Belum sekarang.

Utangku belum lunas.