← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Twenty Three

Laporan Tahunan Beasiswa

POV: Esa


Pak Ujang membukakan gerbang sebelum aku sempat menyentuh panel kunci.

Dia berdiri di balik gerbang yang bergeser dengan dengung halus, memakai kaos oblong putih dan sarung kotak-kotak, tanpa celemek sapi. Dia menatapku turun dari Bubur, dan wajahnya tidak menyapa seperti biasa. Tidak ada Mas Esa masih hidup. Tidak ada senyum kumis sikat sepatu.

“Bu Ratna telepon saya tadi pagi, Mas,” katanya pelan. “Katanya Mas pasti dateng hari ini.”

“Bu Ratna bilang apa lagi?”

“Katanya, kalau Mas dateng, saya disuruh masak opor. Terus disuruh jangan ganggu.” Pak Ujang menatapku dengan mata yang tiba-tiba basah di sudutnya. “Terus katanya, kalau Mas nangis, saya disuruh pura-pura nggak liat.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Saya nggak tau ada apa, Mas,” lanjut Pak Ujang. “Tapi map hijaunya masih di meja. Saya nggak pernah sentuh.”


Ruang kerja itu berbau kertas dan debu.

Map hijau itu masih di tengah meja. Persis di tempat yang sama dengan terakhir kali aku melihatnya, berbulan-bulan lalu, waktu Pak Ujang mengirim foto via WhatsApp dan aku membalas taruh aja di meja.

LAPORAN TAHUNAN BEASISWA RUMAH PULANG Untuk: Donatur Utama

Aku duduk di kursi kerja yang tidak pernah kududuki. Kursinya kulit, empuk, masih ada plastik tipis di bagian sandaran kepala.

Di bawah map itu, menyembul sedikit, ada selembar kertas. Aku menariknya keluar.

Foto wisuda. Perempuan dengan toga hitam dan senyum yang terlalu lebar untuk ukuran foto resmi. Rambut panjang disanggul rapi di bawah topi toga. Mata besar. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri. Sangat kecil. Seperti titik di ujung kalimat.

Penerima No. 001 — Ayasha Pramesti. Lulus S1 Ilmu Komunikasi, cum laude. Saat ini: Brand Manager.

Aku menatap foto itu.

Aku tidak merasakan apa pun. Itu yang paling aneh. Aku tidak kaget. Tidak marah. Tidak sedih. Aku hanya menatap foto itu dengan kepala kosong, seperti server yang menerima terlalu banyak data sekaligus dan berhenti merespons.

Lalu aku membuka laci meja.


Tujuh amplop. Diikat karet gelang yang sudah getas.

Amplop putih polos. Di sudut kanan atas masing-masing, tulisan tangan yang rapi dan miring ke kanan:

Untuk Kakak Donatur. Dari 001.

Aku melepaskan karet gelangnya. Karet itu putus di tanganku.

Aku menyusun amplop-amplop itu berjajar di atas meja, dari yang paling kuning sampai yang paling putih. Dari yang paling lama sampai yang paling baru. Tujuh tahun. Tujuh surat yang tidak pernah kubuka karena aku takut. Takut pada rasa terima kasih. Takut pada utang yang akan tercipta kalau aku membiarkan seseorang mengucapkannya.

Aku membuka yang pertama.


Untuk Kakak Donatur,

Aku nggak tau Kakak siapa. Bu Ratna bilang rahasia. Jadi aku panggil Kakak aja, ya, soalnya Bu Ratna bilang Kakak masih muda.

Hari ini hari pertama kuliah. Kampusnya gede banget, Kak. Kayak kota. Aku nyasar tiga kali. Terus aku nangis di toilet gedung rektorat, soalnya aku takut. Takut nggak cocok di sini. Takut semua orang pinter dan kaya dan aku cuma anak panti yang kebetulan dapet beasiswa.

Terus aku inget Kakak. Orang yang nggak kenal aku tapi mau bayarin semua ini. Aku pikir, kalau Kakak percaya aku bisa, masa aku sendiri nggak percaya.

Jadi aku keluar dari toilet. Aku cari kelasnya. Ketemu. Telat lima menit, tapi ketemu.

Makasih, Kak.

Dari 001. (Namaku Ayasha. Tapi Bu Ratna bilang aku nggak boleh kasih tau nama. Jadi pura-pura nggak baca, ya.)


Aku meletakkan surat itu.

Tanganku gemetar sedikit. Aku membuka surat kedua. Ketiga. Aku membacanya satu per satu, pelan, dengan cahaya sore yang masuk lewat jendela ruang kerja.

Surat kedua tentang nilai A pertamanya. Mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Dosennya galak. Dia belajar sampai jam dua pagi di perpustakaan, dan waktu nilainya keluar, dia lari ke halaman kampus dan melompat-lompat seperti orang gila.

Surat ketiga tentang hujan.

Kak, hari ini hujan deres banget. Aku kehujanan pulang kuliah, basah semua. Terus aku inget sesuatu. Dulu, waktu aku umur sembilan, aku juga kehujanan pulang SD. Aku nangis di pinggir jalan karena takut sepatuku rusak, soalnya cuma punya satu. Terus ada anak SMP dari panti yang lewat. Kakak-kakak panti yang paling tinggi. Dia lepas jaket birunya, pakein ke aku, terus gendong aku pulang. Dia sendiri basah kuyup. Besoknya dia demam. Aku nggak pernah bilang makasih ke dia.

Aku nggak tau kenapa aku cerita ini ke Kakak. Mungkin karena Kakak juga ngasih aku sesuatu waktu aku basah kuyup, dan Kakak juga nggak mau dibilangin makasih.

Kayaknya orang baik emang suka gitu, ya, Kak.

Aku berhenti membaca.

Jaket biru.

Aku ingat jaket biru itu. Jaket parasut murah dari toko loak, warna biru tua, satu-satunya jaket yang kupunya waktu SMP. Aku ingat hujan itu. Aku ingat anak perempuan kecil di pinggir jalan dekat SD Negeri 3, duduk di trotoar dengan sepatu di pelukan dan menangis tanpa suara. Aku ingat menggendongnya pulang. Aku ingat dia ringan sekali. Aku ingat besoknya aku demam tiga hari dan Bu Ratna memarahiku karena memberikan satu-satunya jaketku.

Aku tidak ingat wajahnya.

Aku tidak pernah ingat wajah siapa pun yang kutolong. Aku sengaja tidak mengingat. Kalau aku ingat wajah mereka, mereka jadi nyata, dan kalau mereka nyata, mereka bisa pergi.

Kamu nggak pernah berubah. Selalu ngasih hoodie.

Baru dua kali.

Tiga kali.

Aku sudah memberinya sesuatu untuk dipakai tiga kali.


Surat keempat, kelima, keenam.

Tifus di semester lima, ujian dengan infus di tangan. Wisuda, dengan foto yang sama di lembar profil. Pekerjaan pertama di sebuah startup pendidikan yang dia temukan di LinkedIn, karena kalimat pertama di halaman visi perusahaannya membuatnya menangis di KRL.

Kak, kantorku namanya Bekal. Founder-nya misterius. Nggak ada yang pernah liat. Tapi dia nulis satu kalimat yang bikin aku langsung ngelamar: “Tidak ada anak yang boleh berhenti belajar hanya karena tidak ada yang menunjukkan jalan.” Aku baca kalimat itu dan aku langsung inget Kakak. Kayaknya founder-ku sama Kakak itu tipe orang yang sama.

Aku meletakkan surat keenam di atas meja.

Lalu aku menatap jendela untuk waktu yang sangat lama.

Pak Ujang mengetuk pintu ruang kerja. Pelan. Dia membawa nampan berisi sepiring opor, segelas teh manis, dan sepiring kecil berisi separuh telur. Dia meletakkannya di ujung meja, tidak menatap mataku, lalu keluar lagi tanpa sepatah kata.

Separuh telur.

Bu Ratna pasti yang menyuruhnya.


Surat ketujuh adalah yang paling tebal.

Amplopnya paling putih. Tanggal di pojok kiri atas, ditulis dengan tulisan tangan yang sama: Juli, tahun lalu.

Setahun lalu.

Empat bulan sebelum reuni.

Aku membukanya.


Kak Esa,

Bu Ratna keceplosan.

Jangan marah sama Bu Ratna. Dia nggak sengaja. Aku pulang ke panti bawa martabak, terus Bu Ratna meluk aku di dapur, terus dia bilang “Mas Esa pasti bangga.” Terus dia pucat. Terus dia nangis. Terus dia cerita semuanya.

Jadi sekarang aku tau.

Kakak yang bayarin kuliahku. Kakak yang bayarin kos, buku, makan, semuanya, selama empat tahun. Kakak yang nggak pernah bales satu pun suratku. Kakak yang minta namanya dirahasiakan dari aku.

Kakak juga yang dulu nyisain separuh telur di piring kecil. Tiap hari. Delapan tahun.

Kakak mungkin nggak inget aku. Aku yang dateng ke panti umur enam tahun, bawa tas plastik sama boneka kelinci yang telinganya putus. Hari pertama aku nggak mau makan. Pas aku akhirnya mau makan, lauknya udah habis. Terus ada piring kecil didorong ke depanku. Separuh tempe, separuh telur dadar. Dari anak laki-laki yang duduk dua kursi dari situ, yang makan nasi pakai kuah doang.

Itu Kakak.

Aku juga anak SD yang Kakak gendong pulang waktu hujan. Yang Kakak pakein jaket biru.

Aku juga anak yang demam tinggi waktu umur sepuluh, waktu Bu Ratna lagi ke Jakarta, terus Kakak gendong ke puskesmas jalan kaki dua kilo.

Aku juga anak yang sembunyi di kamar mandi dua jam waktu Kakak keluar panti, karena aku nggak mau liat Kakak pergi.

Kak Esa. Semua yang aku punya sekarang, Kakak yang kasih. Dari umur enam tahun sampai sekarang.

Aku nggak tau gimana cara bales semua itu.

Mungkin nggak bisa dibales.

Tapi aku janji, suatu hari, aku bakal bilang makasih langsung. Di depan muka Kakak. Bukan lewat surat yang nggak Kakak baca.

Itu janjiku.

Dari 001, Ayasha Pramesti (Anak yang selalu kalah cepet di meja makan)


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.

Cahaya sore di jendela berubah oranye, lalu merah, lalu ungu, lalu gelap. Opor di ujung meja dingin. Teh manis dingin. Separuh telur di piring kecil tidak tersentuh.

Aku menatap surat ketujuh di tanganku, dan semua hal yang selama ini tidak masuk akal tiba-tiba masuk akal sekaligus.

Seperti kode yang selama ini error di setiap baris, lalu seseorang menunjukkan satu titik koma yang hilang, dan semuanya langsung berjalan.

Dia yang nemuin aku duluan. Udah lama banget. Dia aja yang lupa.

Reuni. Dia datang karena Dodoy. Dia datang untuk berterima kasih. Dia membawa kotak kue yang tidak pernah dia berikan.

Kak— Esa. Di dapur Dodoy. Dia hampir memanggilku Kak.

Piring kecil di reuni. Dia menatapnya terlalu lama. Matanya berkedip terlalu lama.

Kamu makan kayak orang yang takut piringnya diambil. Dia tahu dari mana aku belajar makan seperti itu.

Lagu Bu Ratna. Lagu anak-anak. Banyak yang tau. Bukan banyak yang tahu. Hanya anak-anak yang tidur di kamar kecil panti waktu listrik mati.

Bimo. Kak A—

Lala. Kak Aya.

Bu Ratna yang pucat. Bu Ratna yang melipat handuk empat kali. Bu Ratna yang menyumpal mulut Lala dengan pisang yang belum dikupas.

Bingkai foto yang terbalik di lorong panti.

Dede yang harus digendong miring.

Kantor Bekal. Brand Manager. Kampanye di halaman empat deck investor. Dia tidak bekerja di Bekal secara kebetulan. Dia melamar karena kalimat yang kutulis jam tiga pagi. Kalimat yang membuatnya inget Kakak.

Dan PIN gerbang.

0107.

Aku membuka aplikasi bank di ponsel. Menggulir riwayat transfer. Jauh ke belakang. Tujuh tahun ke belakang. Sampai ke transfer pertama ke rekening Yayasan Rumah Pulang, dengan keterangan yang kuketik sendiri waktu umur dua puluh dua, di kamar kos tiga ratus ribu, setelah menerima pembayaran dollar pertamaku:

01/07 — Beasiswa 001. Semangat.

Satu Juli.

Aku memilih tanggal itu untuk PIN rumah ini, dua tahun lalu, karena itu tanggal paling penting dalam hidupku. Hari pertama aku memberikan sesuatu yang besar kepada seseorang tanpa takut kehilangan. Aku lupa alasannya. Aku tidak lupa tanggalnya.

Dan dia mengetiknya dengan satu jari.

Asal tebak. Ulang tahun kucingku. Kerupuk.

Dia tidak menebak. Dia tahu. Dia tahu tanggal itu karena tanggal itu juga hari paling penting dalam hidupnya.

Dia tahu semuanya.

Sejak sebelum reuni. Sejak sebelum dia menggandeng lenganku. Sejak sebelum dia memanggilku Sayang.

Sejak sebelum dia menciumku di tenda pecel lele dan bilang utangku belum lunas.

Utangku belum lunas.

Aku menutup mata.


Ponselku bergetar jam sembilan malam.

Ayasha 🩶: Esa.

Ayasha 🩶: Aku belum mandi lagi dari tadi pagi. Hoodie-mu masih wangi kamu. Nggak mau kucuci.

Ayasha 🩶: Kamu lagi apa?

Aku menatap layar.

Hoodie-ku. Wangi aku. Tadi pagi, di dapurnya, dia memotong telurnya jadi dua dan bilang kamu boleh nerima. Semalam, dalam gelap, dia bilang aku di sini. Sebelum itu, di ambang pintu kamar, dia bilang aku udah nunggu ini lama banget, lebih lama dari yang kamu tau.

Lebih lama dari yang aku tahu.

Dua puluh tahun. Sejak meja makan panti.

Dan aku tidak tahu. Aku tidak tahu karena dia memutuskan aku tidak boleh tahu.

Ayasha 🩶: Esa?

Ayasha 🩶: Kok nggak bales? Kamu tidur?

Ayasha 🩶: Selamat malam, Sayang. 🩶

Aku tidak membalas.

Bukan karena marah. Aku masih belum tahu apakah aku marah. Aku tidak membalas karena aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu.

Perempuan yang mencintaiku?

Atau anak kecil yang selalu kalah cepat di meja makan, yang tumbuh besar dengan janji untuk membalas utang yang tidak bisa dibalas, dan menemukan cara membayarnya?

Aku meletakkan ponsel tengkurap di atas surat ketujuh.


Pak Ujang masuk ke ruang kerja jam sebelas malam. Dia tidak mengetuk. Dia membawa piring opor yang baru dihangatkan, dan duduk di kursi di seberang meja kerja.

Itu pertama kalinya Pak Ujang duduk di depanku. Dua tahun dia menjaga rumah ini, dan dia tidak pernah duduk di kursi mana pun di dalamnya.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya mendorong piring opor ke depanku. Lalu, setelah ragu sebentar, dia mengambil piring kecil berisi separuh telur yang sudah dingin, memindahkannya ke samping piring opor, dan mendorongnya juga.

“Makan, Mas,” katanya pelan. “Bu Ratna bilang Mas pasti belum makan.”

Aku menatap opor itu. Menatap separuh telur itu.

“Pak,” kataku.

“Iya, Mas?”

“Kalau ada orang ngasih Bapak sesuatu karena Bapak dulu pernah ngasih dia sesuatu,” tanyaku, “itu namanya apa?”

Pak Ujang memikirkannya. Lama. Kumisnya bergerak.

“Tergantung, Mas,” katanya akhirnya.

“Tergantung apa?”

“Tergantung dia ngasihnya sambil ngitung, atau nggak.” Pak Ujang menatap separuh telur di piring kecil. “Kalau ngitung, namanya bayar utang. Kalau nggak ngitung, namanya sayang.”

Aku menatapnya.

“Gimana cara tau dia ngitung atau nggak?”

Pak Ujang tersenyum kecil. Senyum orang tua yang sudah lama tidak ditanyai apa pun oleh siapa pun.

“Ya ditanya, Mas,” katanya. “Masa ditebak.”


Aku tidak tidur malam itu.

Aku duduk di kursi kerja dengan plastik di sandaran kepala, di ruang kerja di rumah yang bukan rumahku, dengan tujuh surat berjajar di atas meja dan satu foto wisuda di tengahnya.

Jam tiga pagi, aku membuka ponsel. Membuka catatan.

Cari tau: kenapa 0107.

Aku menghapus baris itu.

Lalu aku mengetik baris baru:

Tanya: ngitung atau nggak.

Aku menatap baris itu sampai layar meredup.

Di luar jendela, langit Pondok Indah mulai abu-abu. Burung-burung mulai bersuara di pohon trembesi.

Aku mengambil separuh telur yang dingin dari piring kecil.

Dan aku memakannya.

Karena untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah aku masih boleh menerima apa pun dari siapa pun.