Chapter One
Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang
POV: Esa
Ada dua hal yang pasti terjadi setiap tanggal satu di gang kosku.
Pertama, matahari terbit.
Kedua, Bu Darsih menggedor pintu.
“ESAAA! Tanggal berapa sekarang?!”
Aku membuka mata. Langit-langit kamar tiga kali tiga meter itu masih sama: retak di pojok kiri, bekas bocor berbentuk peta Kalimantan di tengah. Kipas angin di lantai berputar malas, bunyinya seperti orang tua yang batuk.
“Tanggal satu, Bu,” jawabku sambil menguap.
“Tanggal EMPAT!”
Oh.
Aku melirik ponsel. Benar. Tanggal empat. Pukul enam lewat dua belas pagi. Tiga hari aku hidup tanpa sadar bulan sudah berganti.
“Bentar, Bu. Saya pakai celana dulu.”
“Kamu pikir Ibu mau lihat kamu nggak pakai celana?!”
Aku mengambil celana training abu-abu yang tergantung di paku, memakainya, lalu menyambar hoodie abu-abu di kursi plastik. Hoodie ini umurnya sudah enam tahun. Lengannya mulai berbulu, tali kerudungnya tinggal satu yang ujungnya masih ada plastiknya. Tapi dia hangat, dia setia, dan dia tidak pernah protes. Lebih dari yang bisa kukatakan soal kebanyakan manusia.
Kubuka pintu.
Bu Darsih berdiri di depanku dengan daster batik, rol rambut warna-warni, dan kucing oranye gendut di gendongannya. Kucing itu namanya Pak Lurah. Pak Lurah menatapku dengan wajah yang sama persis dengan majikannya. Kecewa, tapi tidak kaget.
“Sembilan ratus ribu,” kata Bu Darsih.
“Iya, Bu.”
“Telat empat hari.”
“Iya, Bu.”
“Bulan lalu telat enam hari.”
“Iya, Bu. Kemajuan, kan?”
Bu Darsih menyipitkan mata. Pak Lurah juga. Kurasa mereka berlatih bersama.
Aku membuka aplikasi bank, mengetik nominal, lalu menyodorkan layarnya. “Udah, Bu. Sembilan ratus. Sama sepuluh ribu buat uang telat.”
“Uang telat itu lima puluh ribu.”
“Sejak kapan?”
“Sejak barusan.”
Aku menambah empat puluh ribu. Bu Darsih mengecek notifikasi di ponselnya sendiri dengan kacamata baca yang diturunkan ke ujung hidung, mengangguk puas, lalu mengelus kepala Pak Lurah.
“Kamu itu, Sa,” katanya, suaranya turun satu oktaf, nada yang biasa dipakai ibu-ibu sebelum ceramah. “Umur udah dua puluh sembilan. Kerjaan nggak jelas. Bajunya itu-itu aja. Kapan mau nikah?”
“Kalau Pak Lurah udah nikah duluan, Bu.”
“Pak Lurah itu kucing jantan steril!”
“Nah. Berarti kami senasib.”
Bu Darsih menepuk lenganku, setengah marah setengah geli, lalu pergi sambil menggerutu soal anak muda zaman sekarang. Pak Lurah menoleh ke arahku dari balik bahunya. Aku mengedip. Dia tidak membalas. Kucing itu memang punya harga diri.
Kututup pintu. Kuambil gelas, kutuang air dari galon yang tinggal seperempat, lalu duduk di kasur dengan ponsel di tangan.
Notifikasi pagi itu, seperti biasa, berantakan.
[Bank] Dana masuk USD 9.200,00 — HALVORSEN LOGISTICS AS
[Bank] Transfer terjadwal berhasil — Yayasan Rumah Pulang — Program Beasiswa
[Bank] Transfer terjadwal berhasil — Yayasan Rumah Pulang — Operasional Panti
[WhatsApp — Hendra Kusuma] Pak E, maaf pagi-pagi. Soal Seri C, investor minta call jam 10. PENTING. Tolong angkat kali ini.
[WhatsApp — Hendra Kusuma] Pak E?
[WhatsApp — Hendra Kusuma] Pak E saya mohon
[WhatsApp — Pak Ujang] Mas, PIN gerbang mau diganti nggak? Udah 2 tahun nggak diganti. Kata satpam komplek sebelah bahaya.
Aku membaca semuanya sambil minum air.
Gaji dari Norwegia: masuk. Bagus.
Beasiswa dan operasional panti: terkirim. Bagus. Itu yang paling penting.
Hendra: panik. Normal. Hendra selalu panik. Dia CEO paling cemas yang pernah kukenal, dan aku yang menggajinya untuk cemas. Kalau suatu hari dia mengirim pesan tanpa tanda seru, aku justru bakal khawatir.
Pak Ujang: PIN gerbang.
Aku diam sebentar.
PIN gerbang rumahku berapa, ya?
Aku mencoba mengingat. Empat angka. Aku yang membuatnya, dua tahun lalu, waktu terakhir ke sana. Aku ingat waktu itu aku memilih tanggal yang penting. Tapi tanggal apa? Ulang tahunku? Aku bahkan tidak yakin tanggal ulang tahunku benar. Panti yang menentukan tanggal itu karena aku ditemukan tanpa akta.
Kubalas pesan Pak Ujang.
Aku: Pak, PIN-nya berapa ya sekarang?
Pak Ujang: Lho, Mas lupa?
Aku: Lupa, Pak.
Pak Ujang: Saya juga nggak tau Mas. Kan Mas yang bikin. Saya lewat pintu samping pake kunci.
Aku: Ya udah, biarin aja Pak. Nggak ada yang bisa masuk kan berarti. Aman.
Pak Ujang: Mas sendiri juga nggak bisa masuk dong.
Aku: Saya juga jarang ke sana kok Pak.
Pak Ujang: Iya Mas. Saya tau. Porsche-nya saya panasin tiap Minggu. Akinya mulai soak. Mas masih hidup kan?
Aku: Masih Pak. Makasih udah nanya.
Kuletakkan ponsel di kasur.
Rumah di Pondok Indah itu kubeli tiga tahun lalu karena konsultan keuanganku bilang aku harus punya aset properti. Katanya, uang yang cuma diam di rekening itu seperti kucing yang cuma tidur. Tidak berguna. Kubilang Pak Lurah juga cuma tidur tapi tetap dicintai. Konsultanku tidak tertawa. Akhirnya aku beli rumah itu, sekalian Porsche-nya karena satu paket diskon dari developer, lalu aku tinggal di sana persis tujuh malam.
Rumahnya terlalu besar. Terlalu sepi. Ada empat kamar, dan setiap malam aku tidur di kamar paling kecil yang sebenarnya kamar pembantu, karena kamar utama rasanya seperti lapangan futsal. Hari kedelapan, aku pulang ke kos ini. Kamar tiga kali tiga meter dengan peta Kalimantan di langit-langit.
Di sini aku bisa tidur.
Aku tidak pernah menjelaskan itu ke siapa pun. Tidak ada juga yang bertanya, karena tidak ada yang tahu rumah itu ada.
Ponselku bergetar lagi. Hendra.
Hendra: Pak E, call jam 10 ya. Kamera boleh mati. Suara saja. Tapi tolong hadir.
Aku mengetik: Oke. Kamera mati.
Tiga detik kemudian:
Hendra: TERIMA KASIH PAK E. YA ALLAH.
Lihat. Tanda seru dan huruf kapital. Hendra baik-baik saja.
Hendra adalah CEO Bekal.
Bekal adalah startup yang kudirikan empat tahun lalu, waktu aku sadar ada ribuan anak seperti aku dulu: pintar, lapar, dan tidak punya siapa-siapa untuk menunjukkan jalan. Bekal dimulai sebagai aplikasi bimbel murah dengan sistem beasiswa silang. Setiap seribu siswa yang membayar, sepuluh anak tidak mampu bisa belajar gratis. Sekarang Bekal punya kantor di SCBD, tiga ratus karyawan, dan valuasi yang kata media “mendekati satu triliun”.
Aku pemegang saham individu terbesarnya. Delapan belas persen.
Di profil perusahaan, namaku cuma tertulis satu huruf: Founder: E.
Hendra yang mengurus semuanya. Dia yang tampil di seminar, diwawancara majalah, memakai jas dan senyum yang dilatih. Aku yang menulis arsitektur sistemnya di tahun pertama, menutup lubang-lubang teknisnya di tahun kedua, lalu pelan-pelan menghilang ke belakang layar sambil mengerjakan proyek freelance untuk perusahaan logistik di Norwegia, platform kesehatan di Belanda, dan satu startup aneh di Estonia yang membuat aplikasi untuk menghitung jumlah domba.
Kalau kalian bingung kenapa orang dengan aset dua ratus tujuh puluh lima miliar memilih tinggal di kos sembilan ratus ribu, jawabannya sederhana.
Aku tidak suka ribet.
Dan menjadi kaya, ternyata, sangat ribet.
Jam sembilan, aku turun ke warung depan gang untuk sarapan. Nasi uduk Mak Ijah, delapan ribu, pakai bihun, telur balado, dan kerupuk yang kalau dikunyah bunyinya seperti kayu patah.
Bubur menunggu di depan pagar kos. Bubur adalah Scoopy putih krem tahun 2017 yang kubeli bekas dengan uang hasil proyek pertamaku waktu kuliah. Spionnya miring sebelah. Joknya sobek sedikit dan kututup lakban hitam. Bannya baru kuganti bulan lalu. Dia satu-satunya kendaraan yang aku pakai. Porsche di Pondok Indah mungkin menangis tiap Minggu waktu dipanaskan Pak Ujang, tapi Bubur yang menemaniku hujan-hujanan, macet-macetan, dan mogok di depan Mall Kota Kasablanka dua kali.
Kesetiaan dibayar kesetiaan.
Aku duduk di bangku kayu warung Mak Ijah. Belum sempat suapan kedua, sebuah suara yang sangat kukenal menggelegar dari ujung gang.
“ESAAA! LO DI MANA? GUE TAU LO UDAH BANGUN!”
Mak Ijah mendongak dari panci. “Si Dodoy, tuh.”
“Iya, Mak. Saya tau.”
Doni Prasetyo, yang sejak semester satu dipanggil Dodoy karena alasan yang tidak pernah bisa ia jelaskan, muncul dengan kemeja flanel kotak-kotak merah, celana jins sobek di lutut, dan wajah orang yang punya rencana jahat. Badannya besar, perutnya sedikit maju karena kebanyakan mencicipi masakannya sendiri, dan senyumnya terlalu lebar untuk jam sembilan pagi.
Dia sahabatku sejak kuliah. Satu-satunya.
Dodoy punya restoran kecil di Tebet, dua gang dari sini, namanya Warung Dodoy. Masakan rumahan: sayur asem, ayam goreng, rendang, sambal terasi yang bisa membuat orang menangis dan bersyukur sekaligus. Restorannya sederhana, tapi selalu ramai saat jam makan siang. Selama tujuh tahun, Dodoy selalu memberiku makan gratis karena ia yakin aku miskin.
Aku tidak pernah meluruskannya.
Sebagian karena aku suka makan gratis.
Sebagian lagi karena setiap kali Dodoy menyendokkan nasi tambahan ke piringku sambil berkata, “Udah, makan aja, nanti kalau lo sukses baru bayar,” aku merasa seperti punya kakak.
Dodoy duduk di sebelahku tanpa permisi, memesan nasi uduk ke Mak Ijah, lalu menepuk meja dengan amplop berwarna krem.
“Nih.”
Aku melirik amplop itu. Ada logo yang sangat kukenal: perisai biru dengan pena dan obor. Logo SMA-ku.
Reuni Akbar Angkatan 2014 — SMA Tunas Bangsa Jakarta Sabtu, 14 November — 18.30 WIB Tempat: Warung Dodoy, Tebet
Aku membaca dua kali.
“Kenapa reuni SMA-ku di restoranmu?”
“Nah! Itu dia!” Dodoy memukul meja lagi. Mak Ijah melotot. Dodoy minta maaf ke Mak Ijah, lalu berbisik dengan semangat yang sama sekali tidak berkurang. “Panitianya booking restoran gue! Seratus dua puluh porsi! Gue dapat order paling gede tahun ini, Sa! Lo tau nggak, itu bisa nutup sewa ruko dua bulan!”
“Selamat.”
“Dan yang booking,” Dodoy memajukan wajahnya, “namanya Gendis. Gendis Ayu Larasati. Lo kenal?”
Aku mengingat-ingat.
Gendis. Rambut panjang. Selalu duduk di barisan kedua. Ketua OSIS dua periode. Gadis paling cantik di sekolah, versi semua orang. Senyumnya bisa membuat anak-anak cowok lupa jalan pulang. Dia pernah meminjamiku pensil waktu ujian matematika kelas sebelas karena pensilku patah. Aku mengembalikannya sudah tumpul. Dia tidak protes.
Itu saja yang kuingat.
“Kenal,” kataku. “Dikit.”
“Dikit gimana? Dia nanyain lo, Sa!”
“Nanyain aku?”
“Iya! Dia nanya, ‘Mas Dodoy, katanya Mas sahabatan sama Esa Pradana ya? Esa bakal datang, kan?’ Gue bilang pasti datang. Gue janji.”
Aku meletakkan sendok. “Kamu janji atas nama aku?”
“Iya.”
“Tanpa nanya aku?”
“Kalau gue nanya, lo pasti bilang nggak.”
“Aku memang bilang nggak.”
“Nah, kan.”
Dodoy tersenyum puas seperti orang yang baru memenangkan debat. Padahal dia tidak memenangkan apa pun.
Aku mengambil amplop itu, melipatnya dua kali, dan melemparnya ke tempat sampah plastik di samping gerobak Mak Ijah. Masuk. Tanpa menyentuh pinggiran.
Dodoy menatap tempat sampah. Lalu menatapku.
“Sa.”
“Nggak.”
“Sa, dengerin dulu.”
“Aku nggak suka reuni, Doy. Kamu tau.”
Aku memang tidak suka reuni. Bukan karena aku malu. Aku hampir tidak pernah malu soal apa pun. Aku tidak suka reuni karena reuni adalah tempat orang-orang membandingkan hidup. Siapa yang sudah menikah, siapa yang sudah punya mobil, siapa yang kerja di BUMN, siapa yang anaknya sudah dua. Di SMA dulu, aku anak beasiswa dari panti yang selalu memakai sepatu yang sama dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Aku tahu persis bagaimana teman-temanku melihatku. Dan aku tahu persis bagaimana mereka akan melihatku sekarang: laki-laki dua puluh sembilan tahun dengan hoodie belel, celana training, dan Scoopy berlakban.
Bukan masalah buatku.
Tapi kenapa aku harus menghabiskan Sabtu malam untuk itu?
“Sa,” kata Dodoy, suaranya tiba-tiba serius. Dia tidak pernah serius. Aku langsung waspada. “Gue butuh lo di sana.”
“Kenapa?”
“Karena...” Dodoy berhenti, menggaruk tengkuk, matanya melirik ke kiri. Itu tanda dia sedang menyembunyikan sesuatu. Tujuh tahun bersahabat, aku hafal semua tandanya. “Karena gue butuh orang buat bantu angkat-angkat galon.”
“Kamu punya tiga karyawan.”
“Mereka... sibuk.”
“Sibuk ngapain?”
“Sibuk... angkat galon yang lain.”
Aku menatapnya. Dodoy menatap nasi uduk yang baru datang seolah nasi uduk itu tiba-tiba sangat menarik.
“Doy.”
“Oke, oke!” Dodoy mengangkat tangan. “Gue bikin penawaran. Lo datang ke reuni, lo duduk manis tiga jam, dan lo boleh makan gratis sepuasnya. Semua menu. Rendang. Ayam bakar madu. Gurame asam manis. Es teler. Semuanya.”
Aku diam.
Bukan karena tergoda. Aku sudah makan gratis di tempat Dodoy setiap minggu selama tujuh tahun. Tawaran itu tidak ada bedanya dengan hari biasa.
Tapi Dodoy belum selesai.
“Plus,” katanya, dan matanya berbinar dengan cara yang sangat mencurigakan, “satu kejutan.”
“Kejutan apa?”
“Kalau gue kasih tau, namanya bukan kejutan.”
“Kejutan baik atau kejutan buruk?”
Dodoy berpikir. Lama. Terlalu lama.
“Tergantung lo,” katanya akhirnya.
“Itu jawaban paling nggak meyakinkan yang pernah kudengar.”
“Pokoknya lo dateng!” Dodoy menunjuk dadaku dengan sendok yang masih ada butir nasinya. “Lo nggak perlu ngomong sama siapa-siapa. Lo nggak perlu ganti baju. Lo boleh pakai hoodie butut lo itu. Gue cuma minta lo ada di sana. Itu aja. Demi gue. Demi sahabat lo yang udah ngasih lo makan tujuh tahun.”
Dia mengucapkan kalimat terakhir itu dengan tangan di dada dan wajah memelas seperti pemeran sinetron jam tujuh malam.
Aku menghela napas.
Masalahnya, dia benar. Dia memang sudah memberiku makan tujuh tahun. Waktu aku masih benar-benar miskin di semester satu dan dua, sebelum proyek freelance pertama datang, Dodoy yang membagi bekal nasi kotaknya denganku. Waktu aku tifus di semester empat, Dodoy yang mengantarku ke puskesmas naik motor bututnya dan menungguiku di ruang tunggu sambil tidur di kursi plastik. Dia tidak pernah minta apa-apa.
Ini pertama kalinya dia minta sesuatu.
“Tiga jam,” kataku.
Dodoy langsung tegak. “Serius?”
“Tiga jam. Lewat jam setengah sepuluh, aku pulang.”
“DEAL!” Dodoy berdiri dan memelukku dari samping dengan kekuatan beruang. Kerupuk di tanganku patah. Mak Ijah berteriak menyuruh kami jangan berisik. Dodoy meminta maaf, membayar nasi uduknya dan nasi udukku, lalu berlari ke ujung gang sambil berteriak, “SABTU! JAM ENAM SETENGAH! JANGAN LUPA!”
Aku duduk sendirian lagi di bangku kayu, menatap tempat sampah tempat undangan itu tergeletak.
Mak Ijah menyodorkan segelas teh manis yang tidak kupesan.
“Gratis,” katanya. “Kayaknya kamu butuh.”
“Makasih, Mak.”
“Reuni ya?”
“Iya.”
“Pakai baju yang bener, Sa.”
“Ini bener, Mak.”
Mak Ijah menatap hoodie abu-abuku dari atas sampai bawah. Lalu menggeleng pelan, kembali ke pancinya, dan tidak berkata apa-apa lagi.
Itu jawaban yang cukup jelas.
Malam harinya, setelah call dengan investor Seri C yang berlangsung satu setengah jam dengan kamera mati dan Hendra yang terdengar seperti orang mau pingsan, aku berbaring di kasur sambil menatap peta Kalimantan di langit-langit.
Ponselku bergetar. Email dari Bu Ratna, pengurus Panti Rumah Pulang.
Mas Esa, laporan tahunan beasiswa sudah jadi. Ibu kirim lewat Pak Ujang ke rumah ya, sekalian surat-surat terima kasih dari anak-anak. Tahun ini Nomor 001 sudah kerja lho Mas. Sudah naik jabatan malah. Mas nggak mau ketemu? Dia sering nanya-nanya Mas.
Aku membaca email itu dua kali, lalu menutupnya tanpa membalas.
Nomor 001.
Penerima beasiswa pertama. Tujuh tahun lalu, waktu proyek freelance pertamaku dibayar dalam dollar dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengan uang sebanyak itu, aku menelepon Bu Ratna dan bilang aku ingin membiayai kuliah satu anak panti. Siapa saja yang paling butuh. Aku tidak mau tahu namanya. Aku tidak mau tahu wajahnya. Aku tidak mau dia tahu siapa aku.
Bu Ratna waktu itu bertanya kenapa.
Aku tidak bisa menjawab. Sampai sekarang pun tidak.
Mungkin karena kalau dia tahu, dia akan merasa berutang. Dan aku tahu persis rasanya berutang pada orang yang memberimu sesuatu. Rasanya seperti hidup dengan pintu yang sewaktu-waktu bisa ditutup dari luar.
Tujuh tahun kemudian, beasiswa itu sudah membiayai seratus dua belas anak. Aku tidak tahu nama satu pun dari mereka. Surat-surat terima kasih yang dikirim Bu Ratna tiap tahun kusimpan di laci meja kerja di rumah Pondok Indah. Tidak pernah kubuka. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa. Rasanya seperti membuka kado yang tidak pantas kuterima.
Kuletakkan ponsel di dada.
Sabtu. Reuni. Tiga jam.
Gendis Ayu Larasati yang menanyakanku. Dodoy dengan kejutannya yang “tergantung lo”.
Aku memejamkan mata dan memutuskan untuk tidak memikirkannya.
Rencanaku sederhana: datang, makan rendang, senyum kalau ada yang menyindir, pulang jam setengah sepuluh, tidur.
Itu rencana yang bagus.
Sayangnya, aku belum pernah ketemu dengan kejutan yang disiapkan Dodoy.
- 1 Hoodie Abu-Abu dan Undangan yang Kubuang reading
- 2 Maaf Telat, Sayang
- 3 Pacarku, Katanya
- 4 Kontrak Tanpa Kertas
- 5 Kejutan dari Dodoy
- 6 Bubur Nggak Kuat Bonceng Dua Orang yang Saling Gengsi
- 7 Kantor Hampir Triliun Milik Orang Lain
- 8 Founder Misterius Nggak Pernah Nongol
- 9 Nomor 001
- 10 Nikahan Teman, Pacar Pura-Pura
- 11 Cium Pipi Itu Bukan Bagian Kontrak
- 12 Rumah Pulang
- 13 PIN Gerbang Rumah Sendiri
- 14 Porsche yang Akinya Soak
- 15 Utangku Belum Lunas
- 16 Bram Ngajak Bisnis
- 17 Surat yang Tidak Pernah Dikirim
- 18 Hoodie Ini Sekarang Punyaku
- 19 Pura-Puranya Udah Kedaluwarsa
- 20 Resmi, Tanpa Kontrak
- 21 Menginap karena Hujan, Katanya
- 22 Lampu yang Kumatikan Sendiri
- 23 Laporan Tahunan Beasiswa
- 24 Jadi Selama Ini, Kamu Tahu
- 25 Cara Membalas yang Salah
- 26 Dodoy Marah
- 27 Separuh Lauk
- 28 Aku yang Takut Menerima
- 29 Seri C Butuh Wajah
- 30 Founder: E.
- 31 Viral
- 32 Dia Naik Jabatan Karena Siapa?
- 33 Bram Bicara
- 34 Gantian
- 35 Bubur Pensiun?
- 36 Cicilan Pertama
- 37 Epilog: Rumah yang Akhirnya Ditinggali