← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Twenty One

Menginap karena Hujan, Katanya

POV: Ayasha


Aku tidak percaya pada doa yang meminta cuaca.

Bu Ratna dulu bilang, kalau mau hujan, berdoa. Kalau mau terang, berdoa juga. Tapi Tuhan punya urusan yang lebih penting dari jadwal jemuran anak panti, katanya, jadi jangan kecewa kalau doamu tidak dikabulkan. Jadi sejak kecil, aku tidak pernah meminta cuaca.

Kamis malam, sebelum tidur, aku berdoa minta hujan.

Jumat pagi, langit Jakarta biru bersih tanpa satu awan pun.

Jumat siang, matahari membakar SCBD sampai aspal di depan gedung kantor beruap. Tika mengeluh AC kantor tidak kuat. Aku menatap jendela setiap lima menit seperti petani yang menunggu musim tanam.

Jumat sore, jam empat lewat sepuluh, langit di barat berubah warna jadi ungu gelap.

Jam lima, petir pertama menyambar di atas Kuningan.

Jam lima lewat tujuh menit, hujan turun.

Bukan gerimis. Bukan hujan biasa. Hujan seperti di Jalan Pakubuwono, seperti seseorang membalik ember raksasa di atas kota, sampai air memantul setinggi lutut di trotoar dan semua orang di lobi gedung berhenti berjalan dan menatap ke luar dengan wajah pasrah.

Tika berdiri di sebelahku di depan jendela kantor lantai dua puluh tiga.

“Mbak,” katanya. “Kok Mbak senyum? Kita kejebak hujan.”

“Iya,” kataku.

“Mbak seneng?”

“Iya.”

Tika menatapku dengan curiga. Lalu menatap hujan. Lalu menatapku lagi.

“Mbak,” katanya pelan. “Mbak kayak orang yang doanya baru dikabulin.”

Aku tidak menjawab. Aku mengambil ponsel dan mengetik pesan.

Aku: Hujan.

Balasannya datang dalam tiga detik.

Hoodie 🩶: Aku liat.

Aku: Kamu tau artinya?

Tiga titik muncul. Lama. Hilang. Muncul lagi.

Hoodie 🩶: Jam tujuh. Aku bawa apa?

Aku menatap pesan itu sampai Tika menepuk bahuku dan bertanya apakah aku sakit karena wajahku merah sampai ke leher.


Aku menghabiskan satu jam membersihkan unit apartemenku.

Unitnya kecil. Satu kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu yang menyatu dengan dapur kecil, dan balkon seukuran sajadah yang cuma muat satu kursi plastik dan pot tanaman lidah buaya. Lantai enam. Jendelanya menghadap jalan raya Pancoran dan atap-atap rumah di bawahnya.

Aku sudah tinggal di sini tiga tahun. Unit ini kubayar sendiri, cicilan bulanan dari gajiku, dan setiap kali aku masuk dan menyalakan lampu, aku masih merasa takjub bahwa aku punya tempat yang pintunya bisa kukunci dari dalam.

Tapi malam ini, unit ini menyimpan terlalu banyak.

Aku berdiri di tengah kamar tidur dan melihat sekeliling dengan mata orang lain. Mata Esa.

Di dinding di atas meja rias, ada foto berbingkai. Foto bersama Bu Ratna di dapur panti, waktu aku pulang membawa martabak setahun lalu. Aku melepasnya dan memasukkannya ke laci.

Di rak buku, ada album foto kecil bersampul kain batik. Isinya foto-foto masa kecil di panti. Foto angkatan. Foto ulang tahun bersama. Foto seorang anak laki-laki berambut berantakan yang berdiri paling belakang, paling tinggi, paling tidak tersenyum. Aku memasukkannya ke kotak sepatu, lalu memasukkan kotak sepatu itu ke lemari paling atas.

Di laci meja samping tempat tidur, ada map biru berisi salinan semua surat terima kasih yang kutulis selama tujuh tahun. Aku selalu membuat salinan sebelum mengirim. Aku memindahkannya ke kotak sepatu yang sama.

Lalu aku melihat ke atas tempat tidur.

Di antara bantal-bantal, ada boneka kelinci. Kain krem yang sudah menguning. Satu matanya kancing hitam, satu lagi kancing cokelat karena yang asli hilang waktu aku umur sembilan. Telinga kirinya putus. Dijahit ulang berkali-kali, tapi selalu lepas lagi, sampai akhirnya aku membiarkannya putus.

Boneka kelinci yang kubawa dalam tas plastik waktu tetangga mengantarku ke panti, umur enam tahun.

Aku mengambilnya. Memeluknya sebentar. Lalu aku membuka lemari, memasukkannya ke rak paling atas, di samping kotak sepatu, dan menutup pintu lemari.

Aku berdiri di depan lemari tertutup itu dengan tangan di gagang pintu.

Tiga benda. Tiga batu. Disembunyikan supaya laki-laki yang akan datang malam ini tidak tahu siapa aku.

Aku tahu ini salah.

Aku tahu Gendis benar. Aku tahu setiap hari yang lewat membuat batu ini semakin berat. Aku tahu malam ini, kalau aku membiarkan dia masuk ke kamar ini tanpa memberitahunya, aku akan membuat sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali di atas sesuatu yang belum jujur.

Setelah, kataku pada diriku sendiri. Besok pagi. Pas sarapan. Pas dia masih di sini dan nggak bisa kabur.

Itu argumen yang sangat buruk. Aku tahu itu argumen yang sangat buruk.

Bel pintu berbunyi.


Esa berdiri di depan pintu unitku dengan hoodie basah, rambut basah, helm bogo cokelat di satu tangan, dan kantong plastik di tangan lain.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

“Aku bawa...” dia mengangkat kantong plastik. “Martabak. Sama tumpeng sisa kemarin. Dodoy maksa.”

Aku menatapnya. Air menetes dari ujung rambutnya ke dahinya, mengalir ke alis, ke bulu matanya yang panjang. Hoodie-nya basah kuyup dan menempel di bahunya yang lebar. Dia berdiri di ambang pintuku seperti kucing liar yang kehujanan dan tidak yakin dia diizinkan masuk.

“Kamu basah,” kataku.

“Hujan.”

“Kamu nggak pake jas hujan?”

“Jas hujannya kupakein ke Bubur.”

“Kamu pakein jas hujan ke motor?”

“Joknya sobek. Kalau kena air, busanya basah, nanti kamu duduk basah.”

Aku menatapnya lama.

Lalu aku menarik kerah hoodie-nya yang basah, menyeretnya masuk, dan menutup pintu di belakangnya.


Aku memasak nasi goreng kampung dengan sisa ayam ingkung dari tumpeng Mas Dodoy. Esa duduk di kursi bar dapur kecilku, memakai kaos oblong putihku yang paling besar dan handuk di bahunya, sementara hoodie basahnya kujemur di gantungan kamar mandi. Kaos itu kebesaran di tubuhku, tapi di tubuhnya terlalu ketat. Bahunya meregangkan jahitan. Lengannya tertarik sampai siku.

Aku harus berhenti menatap bahunya tiga kali supaya nasi gorengnya tidak gosong.

“Unitmu rapi,” katanya, menatap sekeliling.

“Makasih.”

“Kecil.”

“Hei.”

“Bagus kecil.” Dia menatap balkon seukuran sajadah. “Kayak kamarku. Gampang dijaga. Nggak ada yang ilang.”

Aku membalik nasi goreng. Diam. Dia benar. Itu persis alasan aku memilih unit ini. Ruangan kecil yang bisa kulihat seluruhnya dari satu titik. Tidak ada sudut tempat sesuatu bisa hilang. Tidak ada kamar kosong yang membuat sepi. Anak panti yang tumbuh di kamar bersama dua puluh orang lain tidak tahu cara tinggal di tempat yang terlalu besar.

Aku tahu itu tentang diriku. Aku tidak tahu dia juga tahu itu tentang dirinya.

Tentu saja dia tahu. Dia tidur di kamar pembantu di rumahnya sendiri.

Kami makan di lantai ruang tamu, bersila di atas karpet, karena meja makanku cuma muat satu orang. Nasi goreng di satu piring besar. Satu piring kecil di tengah. Dia menyisihkan separuh ayamnya ke piring kecil. Aku menyisihkan separuh telur ceplokku ke piring kecil yang sama. Lalu kami saling menatap piring kecil itu, yang sekarang berisi separuh ayam dan separuh telur, dan tidak ada satu pun dari kami yang mau mengambilnya.

“Itu buat kamu,” kataku.

“Itu buat kamu.”

“Aku yang nyisain telur buat kamu.”

“Aku yang nyisain ayam buat kamu.”

Kami saling menatap. Lalu tertawa. Lalu dia mengambil sendok, memotong separuh ayam itu jadi dua lagi, dan menyuapkan satu potong ke mulutku.

“Bagi dua,” katanya.

Aku mengunyah. Menyendok separuh telur, membaginya lagi, dan menyuapkan satu potong ke mulutnya.

“Bagi dua,” kataku.

Kami makan seperti itu sampai piring kecil itu kosong. Saling menyuapi. Separuh dari separuh dari separuh.

Di luar, hujan masih deras. Petir menyambar di atas Pancoran.

Lalu lampu padam.


Gelap total.

Bunyi kulkas berhenti. Bunyi AC berhenti. Yang tersisa cuma suara hujan menghantam jendela dan suara napas kami berdua di lantai ruang tamu.

“Mati lampu,” kata Esa.

“Iya.”

“Gedungmu nggak punya genset?”

“Punya. Cuma buat lift sama lampu tangga.”

“Oh.”

Aku meraba-raba lantai mencari ponsel. Menyalakan senter. Cahaya putihnya menerangi wajah Esa dari bawah, membuatnya terlihat seperti orang yang mau bercerita hantu.

“Lilin,” kataku. “Di laci dapur.”

Aku berdiri, meraba jalan ke dapur, membuka laci, dan mengeluarkan sekotak lilin putih dan korek api. Lilin darurat. Aku selalu punya lilin darurat. Waktu kecil, listrik di panti sering padam, dan Bu Ratna selalu menyalakan lilin di kamar anak-anak kecil dan menyanyikan lagu yang dia karang sendiri supaya kami tidak takut gelap.

Aku menyalakan lilin satu per satu. Satu di meja dapur. Satu di meja kopi. Satu di lantai, di samping piring kosong. Satu di ambang jendela.

Cahaya kuning yang bergoyang memenuhi ruangan kecil itu. Bayangan kami jadi panjang di dinding.

Aku duduk lagi di karpet. Di depan Esa. Lutut kami bersentuhan.

Dia menatapku dalam cahaya lilin. Matanya gelap dan memantulkan nyala api kecil.

“Kamu cantik,” katanya. Pelan. Tanpa basa-basi. Seperti malam di Pondok Indah waktu dia bilang aku cantik kalau lagi bohong. Tapi kali ini tanpa embel-embel.

Aku tidak bohong malam ini.

Aku hanya tidak jujur.

Aku mengusir pikiran itu.


“Hujannya deras,” bisikku.

“Iya.”

“Kayaknya bakal lama.”

“Iya.”

“Bubur basah.”

“Aku udah pakein jas hujan.”

“Jalanan pasti banjir. Pancoran kalau hujan deras pasti banjir.”

Esa menatapku. Ada senyum kecil di sudut bibirnya.

“Sha,” katanya. “Kamu lagi nyusun alasan.”

“Aku lagi nyusun alasan,” akuku.

Aku bergeser lebih dekat. Lutut kami tidak lagi sekadar bersentuhan. Lututku sekarang di antara lututnya. Aku mengangkat tangan dan menyentuh kerah kaos oblong putih yang kupinjamkan padanya. Kaos itu terlalu ketat di lehernya. Aku menarik kerahnya pelan, seolah meregangkannya. Ujung jariku menyentuh kulit lehernya. Hangat. Jakunnya bergerak.

“Hujannya deras,” bisikku lagi, sangat dekat dengan wajahnya. “Aku nggak tega nyuruh kamu pulang.”

Esa tidak bergerak.

“Kamu tega nolak aku?”

Nyala lilin di lantai bergoyang. Petir menyambar, membuat kilatan putih sesaat di jendela.

Esa mengangkat tangannya dan menangkup pipiku. Ibu jarinya menyusuri tulang pipiku. Pelan. Hati-hati. Seperti dia merapikan rambutku di KRL.

“Sha,” katanya.

“Hm?”

“Kamu yakin?”

Aku menatapnya.

Dia bertanya. Dia selalu bertanya. Di tenda pecel lele dia tidak mundur, tapi dia tidak memaksa. Di dapur Pondok Indah dia berhenti dan bilang jangan di sini. Di depan lobi dia bilang aku mau ngelakuin semuanya dengan urutan yang bener. Dan sekarang, dengan aku yang sudah setengah duduk di pangkuannya, dengan tanganku di lehernya dan lututku di antara lututnya, dia masih bertanya.

Laki-laki yang tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun. Bahkan sekarang, dia tidak mengambil. Dia menunggu diberi.

“Aku yakin,” bisikku.

“Kamu nggak harus.”

“Aku tau.”

“Kalau kamu berubah pikiran...”

“Esa.” Aku memotongnya. Aku menempelkan keningku ke keningnya. Napas kami bercampur. “Aku udah nunggu ini lama banget. Lebih lama dari yang kamu tau.”

Sesuatu bergetar di wajahnya. Sesuatu yang bertanya seberapa lama? Tapi dia tidak menanyakannya.

Dan aku tidak menjelaskannya.

Itu batu ketiga. Batu yang paling berat. Aku merasakannya jatuh ke dadaku, keras, tepat di saat bibirku menyentuh bibirnya.

Aku mengabaikannya.


Ciuman itu berbeda dari semua ciuman sebelumnya.

Bukan pelan seperti di tenda pecel lele. Bukan seperti orang yang sudah menahan diri terlalu lama seperti di ambang pintu kos. Ciuman ini dalam, lambat, dan penuh tujuan. Seperti dua orang yang tahu ke mana mereka pergi dan tidak terburu-buru sampai.

Tangannya turun dari pipiku ke leherku. Ke bahuku. Ke punggungku. Menarikku merapat sampai aku benar-benar duduk di pangkuannya, kedua lututku di kedua sisi pinggulnya. Tanganku di rambutnya yang masih setengah basah, menyusup ke helai-helainya, mencengkeram.

Dia menciumku di sudut bibir. Di rahang. Di bawah telinga. Napasnya hangat dan berat di kulit leherku, dan aku terkesiap, dan dia berhenti.

“Sha,” bisiknya di leherku.

“Jangan berhenti.”

“Aku cuma mau bilang sesuatu.”

“Apa?”

Dia mengangkat wajahnya. Dalam cahaya lilin, telinganya merah sampai ke ujung. Matanya menatapku dengan sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan cuek. Bukan grogi. Sesuatu yang telanjang dan rapuh.

“Aku belum pernah,” katanya pelan. “Semua ini.”

Aku membeku.

“Ciuman di tenda Cak Man itu,” lanjutnya, suaranya hampir tenggelam di suara hujan, “yang pertama. Seumur hidupku.”

Aku menatapnya. Laki-laki dua puluh sembilan tahun di bawahku. Laki-laki yang memberi segalanya ke semua orang, yang membiayai seratus dua belas anak sekolah, yang menyisihkan separuh lauk selama dua puluh tahun, dan yang belum pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya.

Mataku panas.

“Kenapa kamu kasih tau aku?” bisikku.

“Karena kamu nanya apa aku yakin.” Dia tersenyum kecil. Gugup. “Aku yakin. Tapi aku nggak tau caranya. Aku cuma nggak mau kamu kira aku tau.”

Aku menutup mataku. Air mata jatuh. Satu. Ke pipinya.

Dia mengusapnya dengan ibu jari.

“Kok kamu yang nangis?”

“Karena,” kataku, membuka mata, “kamu barusan jujur banget.”

Dan aku nggak.

Kalimat itu tidak keluar. Kalimat itu tinggal di tenggorokan, berat, seperti tiga batu yang ditumpuk.

Aku menunduk dan menciumnya lagi. Lebih dalam. Lebih lama. Seolah dengan menciumnya cukup keras, aku bisa membuat batu-batu itu hilang.

Lalu aku berdiri. Kuraih tangannya. Kutarik dia berdiri.

Dia berdiri. Menatapku dalam cahaya lilin. Kaos oblong putihku yang terlalu ketat di tubuhnya. Rambutnya berantakan karena jari-jariku.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya menggenggam tangannya dan berjalan mundur, pelan, menuju pintu kamar tidur.

Dia mengikutiku.

Di ambang pintu kamar, aku berhenti.

Di belakangku, kamar tidur gelap, hanya diterangi kilatan petir sesaat dari jendela. Ranjang dengan seprai biru muda yang kuganti sore tadi. Lemari tertutup. Di rak paling atas lemari itu, di balik pintu kayu, boneka kelinci dengan telinga putus dan kotak sepatu berisi seluruh masa laluku.

Esa menatapku. Tangannya masih di tanganku. Dia menunggu.

“Sha,” katanya, sekali lagi, sangat pelan. “Kamu yakin?”

Aku menatap matanya.

Lalu aku menyentuh lilin terakhir, lilin di meja kecil dekat pintu kamar, satu-satunya yang menerangi wajahnya.

“Aku belum pernah seyakin ini,” bisikku.

Dan aku menariknya masuk.