← Pacarku Pakai Hoodie

Chapter Thirty Five

Bubur Pensiun?

POV: Esa


Bu Darsih mengetuk pintu kamarku jam enam pagi.

Bukan menggedor. Mengetuk. Tiga kali. Pelan. Dengan sopan yang sangat mencurigakan.

“Sa.”

Aku membuka mata. Peta Kalimantan di langit-langit. Kipas angin batuk di lantai. Dan kepala di bahuku, rambut panjang yang tersebar di lenganku seperti tinta, napas pelan dan teratur di leherku.

“Sa,” panggil Bu Darsih lagi dari balik pintu. “Ibu cuma mau nanya.”

“...Iya, Bu?”

“Sarapannya dua porsi?”

Ayasha tertawa di leherku. Tertahan. Bahunya berguncang.

“Iya, Bu,” kataku. “Dua.”

“Nasi uduk Mak Ijah ya. Ibu udah pesenin. Pake telur balado dua. Nak Ayasha suka telur balado, kan?”

Ayasha mengangkat kepala dari bahuku. Matanya masih setengah terpejam. Rambutnya berantakan. Dia memakai kaos oblong abu-abuku yang melar.

“Suka, Bu,” katanya ke arah pintu. Suaranya serak karena baru bangun.

Hening sebentar di balik pintu.

“...Ya Allah,” gumam Bu Darsih. “Ibu kira Ibu udah siap. Ternyata belum.”

Langkah kakinya menjauh. Lalu terdengar suara pintu kamar dua terbuka, dan suara Rizal bertanya Bu, kenapa Ibu pegang dada, dan Bu Darsih menjawab DIEM KAMU, SIKAT GIGI SANA.

Ayasha jatuh kembali ke bahuku, tertawa sampai menangis.


Mak Ijah sendiri yang mengantar nasi uduk ke depan pintu kamarku. Dua bungkus. Dengan dua gelas teh manis yang tidak dipesan. Dia meletakkannya di keset, mengetuk pintu, lalu pergi tanpa menunggu dibuka.

Waktu aku membuka pintu, ada secarik kertas di atas bungkus nasi uduk. Tulisan Mak Ijah, dengan pulpen yang tintanya hampir habis:

Gratis. Hari ini aja. Jangan bilang siapa-siapa.

Di teras, Rizal, Pak Tono, dan Mas Andre duduk berjejer di kursi plastik dengan cangkir kopi masing-masing. Mereka pura-pura membaca koran. Koran yang sama. Satu koran, dibagi tiga lembar.

Pak Lurah duduk di atas pagar, menatapku dengan mata kuning yang tidak bisa kubaca. Lalu dia menatap Ayasha yang muncul di ambang pintu di belakangku dengan kaos oblong abu-abuku yang melar.

Pak Lurah melompat turun dari pagar, berjalan ke arah Ayasha, dan menggosokkan kepalanya ke betis Ayasha sambil mendengkur keras.

“Pengkhianat,” kataku pada Pak Lurah.

Pak Lurah tidak peduli.


Masalah dimulai jam sembilan.

Dua mobil van dengan logo stasiun televisi berhenti di mulut gang lagi. Kali ini bersama tiga motor dengan pengendara yang membawa kamera berlensa panjang. Mereka bukan wartawan berita. Mereka dari acara gosip selebritas. Seseorang di internet sudah menyebarkan foto Ayasha masuk ke gang kos tadi malam, diambil dari kejauhan, buram, dengan takarir: MANTAN BRAND MANAGER NGINEP DI KOS FOUNDER? 👀🏠

Dalam satu jam, gang kos Bu Darsih berubah jadi pasar malam.

Pedagang cilok datang. Pedagang es teh jumbo datang. Seorang anak muda dengan tongsis melakukan siaran langsung dari depan pagar kos, menunjuk Bubur sambil berteriak INI DIA GUYS, MOTOR LEGENDARIS ITU. Dua ibu-ibu dari gang sebelah menawarkan jasa foto bersama Bubur seharga lima ribu rupiah.

Rizal tidak bisa keluar kamar karena takut masuk TV dengan kaos kutang. Pak Tono tidak bisa mengeluarkan motornya untuk narik ojek karena gangnya macet. Mas Andre terlambat ke kantor karena dia keluar dengan masker wajah hijau dan langsung difoto empat orang.

Bu Darsih berdiri di teras dengan sapu di tangan dan wajah merah padam, berteriak ke arah kerumunan supaya mereka pulang. Tidak ada yang pulang. Malah ada yang memotret Bu Darsih sambil berteriak BU DARSIH! BU DARSIH! ORANG KAYA KOK PELUPA!, karena video Bu Darsih di TV kemarin sudah jadi meme.

Pak Lurah kabur ke atap.

Ayasha berdiri di sampingku di ambang pintu kamar, menatap kekacauan di gang.

“Esa,” katanya pelan. “Ini gara-gara aku nginep.”

“Bukan.”

“Kemarin nggak separah ini.”

Aku menatap gang. Anak muda dengan tongsis. Pedagang cilok. Bu Darsih dengan sapu. Pak Tono yang berdiri di samping motornya dengan wajah putus asa, karena satu hari tidak narik berarti satu hari tidak ada uang untuk kiriman ke anaknya di Purwokerto.

Itu bukan gara-gara Ayasha. Itu gara-gara aku.


Ponselku berbunyi tanpa henti sepanjang pagi.

Hendra Kusuma: Pak. Saya liat livestream dari gang Bapak. Pak, tolong. Rumah Pondok Indah ada pagar dua setengah meter, ada CCTV, ada satpam. Tolong pindah dulu. Sementara aja.

Pak Ujang: Mas. Saya liat di TV. Rumah udah saya bersihin. Kamar utama udah saya ganti seprai. Porsche udah saya cuci. Mas pulang aja ke sini. Saya masak opor.

Dodoy: SA LO DI TV LAGI. GANG LO KAYAK PASAR MALEM. PINDAH KE RUMAH LO YANG DI PONDOK INDAH ITU. GUE BARU TAU LO PUNYA RUMAH. GUE MASIH MARAH SOAL ITU. TAPI PINDAH DULU.

Dodoy: Dan naik Porsche. Bubur kasian. Bubur udah tua. Bubur butuh pensiun.

Gendis Ayu: Esa, aku sama Mas Dodoy setuju. Pindah dulu. Bukan buat kamu. Buat tetangga-tetanggamu.

Kalimat terakhir Gendis yang membuatku diam.

Buat tetangga-tetanggamu.

Aku menatap ke luar pintu kamar. Ke Pak Tono yang sekarang duduk di anak tangga teras, menatap motornya yang terjebak di antara gerobak cilok dan van televisi, dengan wajah orang yang sedang menghitung berapa kerugiannya hari ini.

Selama tujuh tahun, kos ini tempat aku bersembunyi. Tempat tidak ada yang tahu siapa aku. Tempat aku bisa jadi laki-laki berhoodie yang telat bayar kos dan dipanggil pengangguran oleh ibu kosnya.

Sekarang semua orang tahu. Dan tempat persembunyianku jadi tontonan. Dan orang-orang yang tinggal di sini, yang tidak pernah meminta jadi tontonan, harus membayar harganya.


Bu Darsih masuk ke kamarku jam sebelas, setelah akhirnya berhasil mengusir sebagian kerumunan dengan bantuan Pak RT dan dua hansip.

Ayasha sedang di kamar mandi. Aku sedang duduk di kasur, menatap peta Kalimantan.

Bu Darsih tidak mengetuk. Dia masuk, menutup pintu di belakangnya, dan duduk di kursi plastik di samping meja lipat. Pak Lurah, yang sudah turun dari atap, masuk lewat jendela dan duduk di pangkuannya.

“Sa,” katanya.

“Bu.”

“Ibu mau ngomong.”

Aku menunggu.

Bu Darsih menatap kamar itu. Kamar tiga kali tiga meter yang sudah kutempati tujuh tahun. Kipas angin yang batuk. Rak buku dari kardus. Kemeja biru tua yang tergantung rapi di paku. Gambar sepeda merah dari anak-anak panti, yang sekarang ditempel di dinding di atas kasur dengan selotip bening.

“Tujuh tahun,” kata Bu Darsih. “Kamu tinggal di sini tujuh tahun. Penghuni paling lama. Telat bayar paling sering. Paling sering ngasih makan Pak Lurah padahal Pak Lurah lagi diet.”

Aku tersenyum kecil.

“Ibu seneng kamu di sini, Sa.” Suaranya turun. “Ibu nggak punya anak laki-laki. Anak Ibu cewek semua, di Bekasi, jarang pulang. Kamu ini...” dia berhenti. Mengelus kepala Pak Lurah. “Kamu ini kayak anak Ibu yang nggak pernah Ibu punya.”

“Bu...”

“Tapi Ibu mau bilang sesuatu. Dan kamu harus denger.” Bu Darsih menatapku. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tegas. Suara ibu kos yang menagih tiap tanggal satu. “Kamu udah punya orang buat pulang, Sa.”

Aku diam.

“Nak Ayasha,” kata Bu Darsih. “Ibu liat dia semalem. Ibu liat dia tujuh malem duduk di depan pintu kamu. Ibu liat dia nunggu. Ibu liat kamu buka pintu. Ibu liat kalian makan nasi goreng di anak tangga.” Bu Darsih menyeka matanya dengan ujung daster. “Kamar ini, Sa, nggak muat buat dua orang. Bukan cuma karena sempit. Tapi karena kamar ini kamar orang yang sembunyi. Kamar orang sendirian.”

Dia menunjuk peta Kalimantan di langit-langit.

“Tujuh tahun kamu liatin bekas bocor itu tiap malem. Sendirian. Ibu tau. Ibu denger dari dinding.” Dia tersenyum. Sedih. “Sekarang udah waktunya kamu liat langit-langit yang lain. Sama orang lain.”

Aku menatap Bu Darsih.

Perempuan enam puluh tiga tahun dengan daster batik dan rol rambut, yang menagihku tiap tanggal satu, yang memanggilku pengangguran, yang mengawasi dari kursi plastik di teras waktu Ayasha datang memakai hoodie-ku, yang masuk TV dan menyuruhku jangan bikin Ayasha menangis lagi.

Yang ternyata selama tujuh tahun mendengar dari dinding bahwa aku sendirian.

“Bu,” kataku. Suaraku serak. “Aku nggak mau ninggalin kamar ini.”

“Ibu tau.”

“Aku nggak mau ninggalin Ibu.”

Bu Darsih menangis.

Bukan menangis pelan. Menangis seperti ibu-ibu. Keras. Dengan ingus. Pak Lurah melompat dari pangkuannya karena kaget.

“Kamu ini,” katanya di antara tangisnya, “nggak usah ngomong kayak gitu, Ibu jadi nggak kuat...”

Aku berdiri. Berjalan ke arahnya. Berlutut di depan kursi plastik. Lalu aku memeluk Bu Darsih.

Pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Dia memelukku balik. Erat. Bau minyak kayu putih dan rol rambut dan nasi uduk Mak Ijah.

“Kamu jahat,” isaknya di bahuku. “Tujuh tahun nggak pernah meluk Ibu. Sekali meluk, mau pindah.”

“Nggak sekarang, Bu.”

“Kapan?”

“Suatu hari.”

Bu Darsih melepaskan pelukannya. Menatapku dengan mata merah dan bengkak.

“Kalau gitu,” katanya, sambil mengusap ingus dengan punggung tangan, “bayar kos setahun di muka.”

Aku berkedip.

“Setahun?”

“Biar kamar ini tetep punya kamu.” Bu Darsih mengangkat dagu. “Ibu nggak bakal sewain ke siapa-siapa. Kamu boleh pindah. Kamu boleh tinggal di rumah gede di Pondok Indah itu. Tapi kalau kamu kangen liat peta Kalimantan, kamarnya masih ada. Kuncinya masih di kamu.”

Aku menatapnya. Lalu aku tertawa. Basah. Tersedak.

“Berapa, Bu?”

“Sembilan ratus kali dua belas. Sepuluh juta delapan ratus.” Bu Darsih menyipitkan mata. “Ditambah uang telat.”

“Uang telat? Kan bayar di muka.”

“Kamu pasti bakal telat bayar tahun depannya. Ibu udah tau. Jadi dibayar sekarang.”

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi bank.

Bu Darsih menatap layar ponselku waktu aku mengetik nominal. Lalu dia menahan tanganku.

“Sa.”

“Iya, Bu?”

“Itu kebanyakan nolnya.”

Aku menatap layar. Aku mengetik seratus delapan juta. Bukan sepuluh juta delapan ratus.

“Oh,” kataku. “Maaf. Kebiasaan.”

Bu Darsih menatapku. Lalu dia tertawa sampai rol rambutnya jatuh satu ke lantai.

“Orang kaya kok pelupa,” katanya sambil menyeka mata.


Kamis sore, Ayasha mengajakku ke Pondok Indah.

Dia tidak bilang kenapa. Dia hanya mengirim pesan jam tiga sore: Jam lima. Rumahmu. Jangan telat. Jangan nanya.

Aku tidak telat. Aku tidak bertanya.

Waktu aku sampai di depan gerbang besi hitam setinggi dua setengah meter, gerbangnya sudah terbuka. Pak Ujang berdiri di baliknya dengan kemeja batik (bukan celemek sapi, bukan sarung) dan wajah yang berusaha keras untuk tidak tersenyum dan gagal total.

“Mas,” katanya. “Masuk. Langsung ke garasi.”

“Kenapa garasi, Pak?”

“Jangan nanya, Mas. Mbak Ayasha udah bilang Mas nggak boleh nanya.”

Aku menatap Pak Ujang. Kumisnya bergetar.

Aku berjalan ke garasi.

Pintu garasi terbuka. Lampu di dalamnya menyala. Porsche hitam yang mengilap, baru dicuci, terparkir di sisi kiri. Di sisi kanan, ada ruang kosong yang biasanya kosong, karena tidak ada kendaraan lain di rumah ini.

Hari ini, ruang itu tidak kosong.

Ayasha berdiri di sana. Memakai hoodie abu-abu yang lebih belel dan celana jins. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Kedua tangannya di belakang punggung. Wajahnya gugup. Sangat gugup. Lebih gugup dari malam reuni, lebih gugup dari launching.

Di sampingnya, ada sesuatu yang ditutupi kain putih. Tingginya sepinggang. Bentuknya tidak beraturan. Ada pita merah besar di atasnya.

“Esa,” kata Ayasha. Suaranya bergetar. “Pasal tiga.”

“Pihak Pertama boleh bantuin Pihak Kedua kapan aja tanpa izin.”

“Pihak Kedua nggak boleh nolak.”

“...Iya.”

Ayasha menarik napas. Lalu dia menarik kain putih itu.


Sepeda.

BMX dua puluh inci. Merah. Rangkanya mengilap di bawah lampu garasi. Ban hitam yang masih baru, dengan bulu-bulu karet kecil di permukaannya. Setang yang dibungkus busa hitam. Sadel hitam. Pedal yang masih ada stiker harga di bagian bawahnya.

Dan di tengah rangkanya, stiker petir kuning.

Aku tidak bisa bergerak.

Aku tidak bisa bernapas.

Dua puluh tahun. Dua puluh tahun sejak garasi di Bintaro. Sejak sepeda merah yang mengilap di bawah lampu garasi, dengan stiker petir di rangkanya. Sejak Pak Wiryawan bilang itu kan punya rumah ini, Nak. Sejak aku masuk ke mobil dengan tas ransel berisi baju-baju lama dan meninggalkan sepeda itu di sana, di garasi rumah yang bukan rumahku lagi.

Ayasha berdiri di samping sepeda itu. Tangannya gemetar.

“Aku tanya Bu Ratna,” katanya pelan. “Detailnya. Warnanya. Ukurannya. Stikernya. Bu Ratna inget semua. Katanya waktu kamu balik ke panti umur sembilan, kamu gambar sepeda itu di buku tulis tiap malem. Selama sebulan. Terus suatu hari kamu sobek semua gambarnya dan nggak pernah gambar lagi.”

Aku tidak ingat itu. Aku tidak ingat menggambar sepeda.

Tapi tanganku ingat. Tanganku yang sekarang gemetar di sisi tubuhku, ingat.

“Aku pesen di bengkel sepeda di Pasar Rumput,” lanjut Ayasha. “Custom. Bapaknya bingung kenapa ada perempuan dewasa pesen BMX anak-anak dengan stiker petir. Aku bilang buat pacarku. Bapaknya tambah bingung.”

Dia melangkah maju. Satu langkah. Berdiri di depanku.

“Esa,” katanya. “Ini punyamu.”

Aku menatap sepeda itu.

“Bukan punya rumah ini,” katanya. Suaranya pecah di tengah. “Bukan punya Pak Ujang. Bukan punya Bekal. Bukan punyaku. Punyamu. Kalau suatu hari kamu pergi dari rumah ini, sepedanya ikut kamu. Kalau suatu hari kamu pindah ke kos Bu Darsih lagi, sepedanya ikut kamu. Kalau suatu hari...” Dia berhenti. Menelan ludah. “Kalau suatu hari aku pergi, sepedanya tetep punyamu. Nggak ada yang bisa ngambil. Nggak ada yang bisa bilang itu kan punya rumah ini.”

Dia mengambil tanganku. Membuka kepalanku yang ternyata, lagi-lagi, terkepal. Lalu meletakkan tanganku di setang sepeda.

Busa hitam. Lembut. Hangat karena lampu garasi.

“Tapi aku harap,” bisiknya, “aku nggak pergi. Dan kamu juga nggak.”

Aku menatap tanganku di setang sepeda merah itu.

Lalu aku berlutut.

Di lantai garasi rumah Pondok Indah, di samping Porsche yang tidak pernah kupakai dan sepeda merah yang baru diberikan padaku, aku berlutut dan menangis. Seperti anak umur sembilan tahun yang akhirnya boleh membawa pulang sepedanya.

Ayasha berlutut di depanku. Memelukku. Kepalaku di bahunya. Tangannya di punggungku, menepuk pelan, seperti Bu Ratna menepuk punggung anak-anak kecil yang takut gelap.

Di pintu garasi, Pak Ujang berdiri dengan kemeja batik. Dia memegang kumisnya dengan dua tangan, seolah takut kumisnya jatuh. Matanya basah.

“Ya Allah,” gumamnya. “Ya Allah, Mas.”


Aku menaiki sepeda itu satu jam kemudian.

Di jalan depan rumah. Jalan lebar dan sepi di bawah pohon-pohon trembesi, dengan pagar-pagar tinggi di kedua sisinya. Jam enam sore. Langit oranye.

Sepeda itu terlalu kecil untukku. BMX dua puluh inci untuk laki-laki dua puluh sembilan tahun. Lututku hampir menyentuh setang. Tapi aku tidak peduli.

Aku mengayuh. Pelan. Goyang. Aku belum naik sepeda sejak umur sembilan. Tubuhku lupa. Tanganku ingat, tapi tubuhku lupa.

Di ujung jalan, aku jatuh.

Bukan jatuh yang keras. Ban depan menabrak polisi tidur, setang berbelok, dan aku terguling ke rumput di pinggir jalan. Lututku tergores aspal. Celana training-ku robek sedikit. Ada darah.

Ayasha berlari dari depan gerbang. Pak Ujang berlari di belakangnya, membawa kotak obat.

“Esa! Kamu nggak apa-apa?”

Aku duduk di rumput. Menatap lututku yang berdarah. Lalu aku mulai tertawa.

Ayasha berlutut di depanku. Menatap lututku. Lalu menatap wajahku yang tertawa.

“Kok ketawa?”

“Dulu aku jatuh tujuh kali,” kataku. “Pas belajar naik sepeda di Bintaro. Ini baru sekali.”

Ayasha menatapku. Lalu dia mengambil kotak obat dari tangan Pak Ujang. Membukanya. Mengeluarkan botol kecil obat merah dan kapas.

Dia menuang obat merah ke kapas. Lalu dia menempelkannya ke lututku.

Perih.

Lalu dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke lututku, dan meniup lukanya. Pelan. Lembut. Seperti Bu Wiryawan meniup lukaku dua puluh tahun lalu.

Aku berhenti tertawa.

Ayasha mengangkat kepala. Menatapku.

“Kenapa?” tanyanya. “Sakit?”

Aku menggeleng.

Aku tidak bisa menjelaskan. Aku tidak bisa bilang bahwa dua puluh tahun lalu, seseorang meniup lukaku seperti ini, dan tiga bulan kemudian dia mengembalikanku ke panti. Bahwa setiap kali aku mengingat obat merah dan tiupan lembut di lutut, yang kuingat adalah suara pintu mobil yang ditutup di depan pagar panti.

Dan sekarang ada orang lain yang meniup lukaku. Di jalan yang berbeda. Dengan sepeda yang tidak bisa diambil kembali.

Dan ingatan itu berubah.

Tidak hilang. Tidak terhapus. Tapi berubah. Seperti foto lama yang ditimpa foto baru dengan pose yang sama, dan yang baru lebih terang.

“Nggak sakit,” kataku akhirnya.

“Bohong. Pasti perih.”

“Perih,” akuku. “Tapi bukan sakit.”

Ayasha menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Dan dia meniup lukaku sekali lagi, lebih lama, dengan sengaja.

Pak Ujang berdiri di belakang kami dengan tangan di dada, menatap langit oranye di atas pohon trembesi, dan menangis tanpa suara.


Malam itu, kami makan di meja makan marmer yang panjangnya cukup untuk dua belas orang.

Itu pertama kalinya meja itu dipakai untuk makan oleh lebih dari satu orang. Pak Ujang memasak opor. Ayasha memasak sop iga. Aku memasak telur ceplok, dan kali ini tidak gosong, dan cangkangnya tidak ikut masuk, karena Ayasha berdiri di belakangku dengan dagu di bahuku dan memegang tanganku di gagang penggorengan.

Pak Ujang menolak duduk. Dia bilang satpam tidak duduk di meja yang punya rumah. Aku bilang dia bukan satpam. Dia bilang dia satpam komplek. Aku bilang tidak ada satpam komplek yang masak opor dan menangis waktu majikannya jatuh dari sepeda. Pak Ujang menatapku lama, lalu duduk. Di ujung meja. Dengan kemeja batik dan kumis yang bergetar.

Dia makan sambil menangis lagi.

“Dua tahun, Mas,” katanya. “Dua tahun saya jaga rumah ini. Ini pertama kalinya ada yang makan di sini rame-rame.”

“Bertiga, Pak.”

“Bertiga itu rame, Mas. Biasanya saya sendirian. Makan di dapur. Sambil nonton TV kecil.”

Ayasha meletakkan separuh telur ceplok di piring Pak Ujang. Pak Ujang menatap separuh telur itu. Lalu dia menutup wajahnya dengan dua tangan.


Setelah Pak Ujang pulang ke kamarnya di pavilion belakang, Ayasha dan aku duduk di sofa kulit cokelat di ruang tamu. Sofa yang bantalnya tidak pernah kempes karena tidak pernah diduduki.

Lampu kristal di langit-langit menyala untuk pertama kalinya. Pak Ujang yang melepas plastiknya tadi sore. Cahayanya terang, berkilauan, memantul di lantai marmer.

Ayasha duduk di ujung sofa. Aku berbaring dengan kepala di pangkuannya.

Itu ideku. Bukan idenya. Itu yang membuat dia menatapku dengan mata terbelalak waktu aku melakukannya.

“Esa,” katanya pelan, jari-jarinya di rambutku. “Kamu...”

“Malam ini,” kataku, menatap lampu kristal, “aku yang dimanja.”

Jari-jarinya berhenti bergerak di rambutku.

“Aku lagi belajar nerima,” lanjutku. “Jadi malam ini, aku mau kamu manjain aku. Tanpa aku ngitung. Tanpa aku mikir harus bales gimana.”

Hening.

Aku mendongak. Ayasha menatapku dari atas. Matanya basah. Bibirnya gemetar.

Lalu dia menangis. Sambil tertawa. Seperti malam di tenda Cak Man. Seperti malam tumpeng di Warung Dodoy.

“Kamu,” katanya, tersedak, “nggak boleh ngomong kayak gitu. Aku udah nangis empat kali hari ini.”

“Lima.”

“Kamu ngitung?”

“Kebiasaan.”

Dia tertawa lagi. Lalu dia menunduk dan mencium keningku. Lama. Lalu pipiku. Lalu ujung hidungku. Lalu bibirku.

Jari-jarinya kembali bergerak di rambutku. Pelan. Melingkar. Menggaruk lembut kulit kepala.

Aku memejamkan mata.

“Rambutmu kusut banget,” gumamnya. “Kapan terakhir disisir?”

“Pas launching. Hendra yang nyisirin. Di backstage. Sambil nangis.”

“Besok aku sisirin.”

“Oke.”

“Besok aku potongin kukumu. Kukumu panjang.”

“Oke.”

“Besok aku beliin kamu sepatu. Sepatu kets yang putihnya beneran putih.”

“...Oke.”

“Besok aku masakin kamu sarapan. Di sini. Di dapur yang gede itu. Pake panci yang di laci kiri bawah.”

Aku membuka mata. Menatapnya.

“Besok,” kataku, “kamu di sini?”

Ayasha berhenti menyisir rambutku dengan jarinya. Dia menatapku dari atas. Lampu kristal memantul di matanya.

“Kalau boleh,” katanya pelan.

Aku mengangkat tanganku. Menyentuh pipinya.

“Boleh,” kataku. “Selalu boleh.”


Ayasha tertidur jam dua belas, di sofa, dengan kepala bersandar di lengan sofa dan tanganku masih dalam genggamannya.

Aku tidak tidur.

Aku berbaring di pangkuannya, menatap lampu kristal, dan merasakan sesuatu di saku hoodie-ku. Hoodie abu-abu baru. Dengan label Punya E di kerahnya.

Sesuatu yang kecil. Keras. Berbentuk kotak.

Sudah tiga minggu benda itu di saku hoodie-ku. Sejak Rabu sebelum launching, waktu aku pergi sendirian ke Pasar Baru, ke toko emas kecil di sebelah toko kemeja tempat Ayasha dulu menyuruhku mencoba kemeja biru tua. Aku tidak membeli di toko perhiasan mewah di mal. Aku membeli di toko emas kecil yang pemiliknya bapak-bapak tua berkacamata tebal, yang bertanya buat siapa, Mas? dan aku menjawab buat orang yang nyisain separuh lauk buat saya, dan bapak itu menatapku lama lalu memberiku diskon sepuluh persen tanpa diminta.

Cincin emas putih. Sederhana. Tidak ada berlian. Hanya satu batu kecil berwarna abu-abu muda. Batu moonstone. Warnanya hampir sama dengan hoodie.

Tiga minggu. Aku membawanya ke mana-mana. Ke launching. Ke tangga darurat hotel. Ke rumah kontrakan Bram di Cibubur. Ke rapat umum di lantai dua puluh lima. Ke tenda Cak Man. Ke panti. Ke garasi tadi sore, waktu aku berlutut di samping sepeda merah.

Tiga minggu aku membawanya, dan tiga minggu aku tidak berani.

Karena memberikan cincin itu berarti meminta. Dan aku tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun.

Aku menatap Ayasha yang tertidur. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Mulutnya sedikit terbuka. Ada noda basah kecil di lengan sofa kulit cokelat, di bawah sudut bibirnya.

Itu bukan iler. Itu keringat bibir.

Aku tersenyum.

Lalu aku mengeluarkan ponsel dengan tangan yang tidak digenggamnya, dan mengirim satu pesan ke Dodoy.

Aku: Bang. Sabtu malem. Warung. Tutup buat umum. Undang semua.

Balasan datang dalam dua detik. Dodoy juga tidak tidur.

Dodoy: Semua siapa?

Aku: Semua.

Tiga titik muncul. Lama. Hilang. Muncul lagi. Lama sekali.

Dodoy: Sa.

Dodoy: Lo mau ngapain?

Aku menatap cincin di dalam kotak kecil di tanganku. Batu moonstone abu-abu muda berkilau di bawah lampu kristal.

Aku: Mau minta.

Dodoy: Minta apa?

Aku: Seumur hidup.

Hening.

Lalu ponselku bergetar tanpa henti. Dodoy mengirim empat puluh tujuh stiker menangis berturut-turut.

Empat puluh tujuh.

Aku tertawa pelan, menyimpan ponsel, dan memasukkan kotak cincin kembali ke saku hoodie.

Di atas kepalaku, lampu kristal berkilauan. Di garasi, sepeda merah berdiri di samping Porsche dan, sejak tadi sore, Bubur. Pak Ujang memarkir Bubur di sana juga. Katanya Bubur tidak boleh tidur di luar lagi. Katanya Bubur juga sudah punya rumah sekarang.

Dan di pangkuan Ayasha, dengan tangannya menggenggam tanganku bahkan dalam tidur, aku memejamkan mata.

Aku tidur dengan tangan terbuka.

Untuk pertama kalinya, tidak terkepal.