← Lima Menit di Lobby

Chapter Nine

Pipi Kiri

POV: Nadine


Selasa malam, pukul delapan, lampu di sisi timur Lantai 21 masih menyala semua.

Aku bisa melihatnya dari ruanganku. Dinding kaca HTA dan dinding kaca Lintasraya dipisahkan Pantry Bersama dan lorong pendek, dan kalau aku memiringkan kursiku sedikit ke kiri, aku bisa melihat ujung meja kerjanya dari celah antara rak dokumen dan pintu pantry. Aku tahu ini kebiasaan yang memalukan. Aku sudah melakukannya selama dua tahun.

Sejak Senin, ia lembur setiap hari. Persiapan Singapura. Pak Haris ingin semua prosedur operasional cabang baru selesai ditulis sebelum Mas Reyhan berangkat, dan itu berarti ratusan halaman dokumen, puluhan rapat daring dengan tim di sana, dan satu orang yang terlalu bertanggung jawab untuk menolak tugas tambahan.

Pesannya sore tadi singkat: Lembur lagi. Maaf nggak bisa antar pulang. Kamu jangan nunggu, ya.

Aku memang tidak menunggu. Aku punya rencana lain.


Pukul delapan lewat sepuluh, aku keluar dari gedung, berjalan dua ratus meter ke warung Pak Kumis, dan memesan enam bungkus.

“Banyak amat, Mbak,” kata Pak Kumis, menggoreng lele dengan gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali. “Biasanya cuma satu.”

“Lagi ada yang lembur, Pak.”

“Mas Rey?”

“Sama timnya.”

Pak Kumis tersenyum di balik kumisnya. “Sambalnya, Mbak? Yang satu sambal terasi dipisah, sambal bawangnya jangan banyak-banyak, ya? Mas Rey nggak kuat.”

“Pak Kumis tahu?”

“Lima tahun dia langganan di sini, Mbak. Saya tahu dia nggak suka pare, minum es jeruk, kalau lagi sedih nambah tempe dua.” Ia membungkus lele dengan kertas cokelat, cekatan. “Mbak juga tahu, kan? Makanya dulu Mbak mulai beli di sini.”

Aku terdiam.

Itu benar, dan aku tidak pernah mengatakannya pada siapa pun, termasuk Jess.

Sekitar dua tahun lalu, suatu malam, aku melihatnya dari jendela taksi yang terjebak macet di depan gedung. Ia duduk sendirian di bawah terpal oranye ini, makan pecel lele dengan wajah paling bahagia yang pernah kulihat pada seseorang yang sedang makan sendirian. Minggu berikutnya, aku turun dari taksi di depan warung ini dan memesan satu bungkus. Aku hanya ingin tahu seperti apa rasa sesuatu yang membuatnya sebahagia itu.

Ternyata rasanya enak. Dan sejak itu, setiap kali lembur dan tidak ada yang menunggu di apartemen, aku membeli satu bungkus dan memakannya di meja makan sendirian, sambil membayangkan ia di sini, di bawah terpal yang bocor di sudut kanan.

Itu kebiasaan yang jauh lebih memalukan dari memiringkan kursi.

“Pak Kumis,” kataku pelan, “jangan bilang Mas Rey, ya.”

“Saya cuma tukang lele, Mbak,” katanya, dan mengedipkan satu mata.

Aku mulai curiga semua orang di sekitar gedung ini pernah ikut kursus dari Pak Darto.


Pukul delapan tiga puluh, aku mendorong pintu kaca Lintasraya dengan enam bungkus lele di kedua tangan.

Meja resepsionis kosong. Lampu ruang kerja terbuka menyala terang. Di tengah-tengahnya, empat orang duduk dikelilingi tumpukan dokumen, gelas-gelas kopi kosong, dan bungkus camilan yang berserakan. Mas Reyhan di meja paling ujung, menatap laptop dengan mata merah dan rambut lebih berantakan dari biasanya. Dodi di sebelahnya, menelepon seseorang dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah. Mbak Sari menyusun map dengan kacamata baca di ujung hidung. Dan Fikri, di meja paling dekat dengan pintu, sedang mengunyah keripik sambil membuat grafik.

Fikri yang pertama melihatku.

Ia berhenti mengunyah. Keripik di tangannya jatuh. Lalu, dalam gerakan yang sepertinya tidak ia rencanakan, sikunya menyenggol laptop, dan laptop itu meluncur dari pinggir meja dan jatuh ke lantai dengan bunyi BRAK yang membuat semua orang menoleh.

“Maaf,” kata Fikri pada laptopnya. Lalu padaku: “Selamat malam, Bu.”

Dodi menurunkan ponselnya. Ia lupa menutup telepon, dan dari speaker terdengar suara samar seseorang berkata, “Hello? Mr. Dodi? Are you still there?”

Mbak Sari melepas kacamata bacanya, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu meletakkan tangan di dada dan berkata dengan nada tulus, “Ya ampun, Mbak. Malam-malam begini masih cantik. Itu gimana caranya?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sudah melepas blazer sejak sore, dan sekarang hanya memakai kemeja satin putih yang lengannya kugulung sampai siku. Rambutku setengah lepas dari sanggul setelah seharian bekerja. Dan aku masih memakai kacamata baca berbingkai tipis yang biasanya kupakai kalau lembur menatap angka, yang lupa kulepas saat keluar ruangan.

Lalu Mas Reyhan mengangkat wajah dari laptop.

Ia menatapku seolah melihat hantu. Hantu yang ia sukai.

“Din?”

“Kalian belum makan, kan?” Aku mengangkat kantong plastik di kedua tanganku. “Pak Kumis. Enam bungkus. Satu buat Pak Udin kalau masih ada.”

Hening sebentar. Lalu Dodi, yang masih memegang ponsel dengan suara orang Singapura di dalamnya, berkata pelan dan penuh perasaan:

“Rey. Kalau lo nggak nikahin dia, gue yang nikahin.”

Dari ponselnya, suara itu bertanya, “Sorry, Mr. Dodi, who are you marrying?”

Dodi buru-buru mematikan telepon.


Tim Lintasraya makan di meja kerja mereka dengan rakus, seperti orang yang belum makan sejak siang, dan memang belum. Mbak Sari menangis sedikit karena lelenya “enak banget, persis kayak lagi butuh”. Fikri makan sambil mengetik sesuatu di ponsel, yang kucurigai adalah pembaruan statistik. Pak Udin muncul dari ruang belakang setelah dipanggil, menerima bungkusnya dengan dua tangan, dan membungkuk dalam-dalam padaku seperti menerima penghargaan.

Aku menarik Mas Reyhan ke Pantry Bersama. Ia butuh lima menit jauh dari laptopnya, dan aku butuh lima menit dengannya tanpa tiga penonton.

Pantry sepi. Hanya ada lampu neon di atas meja bundar dan lampu-lampu Kuningan di balik jendela besar. Kami duduk berhadapan dan membuka bungkus terakhir yang kusisakan untuk kami berdua.

Ia makan pelan-pelan. Lebih pelan dari biasanya. Dan setelah beberapa suap, ia berhenti dan menatap bungkus kertas cokelat itu.

“Sambal bawangnya sedikit,” katanya.

“Kamu nggak kuat.”

“Tempenya dua.”

Aku tidak menjawab.

“Pak Kumis cuma kasih tempe dua kalau...” Ia berhenti, lalu menatapku. “Kalau aku lagi kelihatan capek.”

“Kamu memang kelihatan capek, Mas.”

“Kamu yang pesan tempe dua?”

“Pak Kumis yang inisiatif.”

Ia menatapku lama. Matanya merah karena kurang tidur, ada bayangan gelap di bawahnya, dan helai rambut di belakang kepalanya berdiri lebih tegak dari biasanya karena terlalu sering ia garuk saat berpikir.

“Kamu juga kelihatan capek,” katanya pelan.

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu pakai kacamata.”

Aku menyentuh bingkai kacamataku. Aku benar-benar lupa melepasnya. “Ini cuma buat baca.”

“Aku belum pernah lihat kamu pakai kacamata.” Ia berhenti mengunyah. “Kamu kelihatan... lain.”

“Lain jelek?”

“Lain yang bikin aku lupa ini lele,” katanya, lalu langsung menunduk ke bungkusnya dengan telinga yang memerah, seolah kalimat itu keluar tanpa izin.

Aku tersenyum. Lalu aku melepas kacamata itu pelan-pelan, melipatnya, dan meletakkannya di meja di antara kami.

“Sekarang?” tanyaku.

Ia mengangkat wajah. Menatapku tanpa kacamata, dengan rambut setengah lepas dan kemeja satin yang lengannya tergulung. Ia menelan ludah.

“Sekarang aku lupa ini lantai berapa,” katanya.


Kami makan sambil mengobrol pelan. Ia bercerita tentang dokumen-dokumen Singapura yang menumpuk, tentang Pak Haris yang ingin semuanya sempurna, tentang tim di sana yang membalas email pukul enam pagi waktu setempat dan mengharapkan jawaban pukul enam lewat lima. Ia berusaha membuatnya terdengar lucu, dan sebagian memang lucu. Tapi aku mendengar apa yang ada di balik ceritanya. Ia tidak tidur cukup. Ia mengerjakan tugas tiga orang. Ia tidak menolak satu pun.

“Kenapa nggak bilang ke Pak Haris kalau terlalu banyak?” tanyaku.

“Nanti dia repot cari orang lain.”

“Itu tugas dia, Mas. Dia direktur.”

“Iya, tapi...” Ia mengangkat bahu. “Aku masih bisa.”

Aku masih bisa. Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang sedang menumpuk batu bata di punggungnya sendiri dan menyebutnya olahraga.

Aku mengambil tisu dari meja dan mencondongkan tubuh ke arahnya. Ada sedikit sambal terasi di sudut bibirnya. Aku menyekanya pelan, dan ia membeku seperti biasa, dan aku mengambil waktu lebih lama dari yang diperlukan, seperti biasa.

Lalu aku tidak menarik tanganku kembali.

Aku menatapnya dari jarak sedekat itu. Wajahnya yang lelah. Matanya yang merah. Bibirnya yang sedikit terbuka karena kaget. Dan aku memutuskan sesuatu dalam satu detik, keputusan yang tidak ada di draft mana pun, tidak ada di mitigasi risiko mana pun.

Aku mencondongkan tubuh sedikit lebih jauh, dan mencium pipi kirinya.

Singkat. Lembut. Bibirku menyentuh kulitnya yang hangat dan sedikit kasar karena belum bercukur sejak pagi. Aku mencium aroma sabun cuci di kerahnya dan sedikit wangi kopi.

Lalu aku menarik diri dan duduk kembali di kursiku, merapikan rambutku yang lepas, dan mengambil kacamata dari meja seolah tidak terjadi apa-apa.

Mas Reyhan tidak bergerak sama sekali. Sendok di tangannya masih menggantung di udara, setengah jalan antara bungkus lele dan mulutnya. Matanya menatap lurus ke depan, ke dinding pantry, ke papan pengumuman yang berisi catatan SIAPA YANG AMBIL YOGURT SAYA??

Lalu, sangat pelan, tangannya yang bebas naik dan menyentuh pipi kirinya sendiri.

“Din,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar.

“Mm?”

“Barusan...”

“Itu uang muka,” kataku tenang, mengenakan kacamata dan menatapnya dari balik lensa. “Lunasnya nanti.”

Sendoknya jatuh ke bungkus lele. Butir-butir nasi terpental ke meja.

Dan dari arah pintu pantry, dari balik kaca buram setinggi dada, terdengar suara sesuatu jatuh. Lalu bisikan keras yang panik: “Fik! Ngapain lo nempel di pintu?” “Mas Dodi juga nempel!” “Ssst! Dua-duanya diam, Mbak lagi rekam!”

Mas Reyhan menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku tertawa, berdiri, merapikan bungkus-bungkus kosong ke kantong plastik, lalu berjalan ke pintu. Sebelum membukanya, aku menoleh sekali lagi.

“Pulang sebelum jam sebelas, Mas. Aku cek ke Pak Darto.”

“Kamu bakal cek?”

“Aku selalu cek,” kataku, dan baru menyadari setelah kata-kata itu keluar bahwa itu pengakuan yang lebih besar dari yang seharusnya.

Aku membuka pintu. Tiga orang dewasa langsung melompat mundur dari kaca, berpura-pura sedang memeriksa dispenser, membaca papan pengumuman, dan mengikat tali sepatu yang tidak lepas.

“Selamat malam, semua,” kataku dengan suara Associate Director.

“Selamat malam, Bu!” jawab mereka bertiga serempak, berdiri tegak seperti peserta upacara.


Pukul sepuluh empat puluh tujuh, ponselku bergetar di meja makan apartemen.

Pak Darto: Mas Rey turun 22.45, Mbak. Senyum-senyum sendiri di lift.

Aku tidak pernah memberikan nomorku pada Pak Darto. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu dalam.

Satu menit kemudian, pesan lain masuk.

Mas Lift 3: Sudah turun. Jam 22.45. Kamu boleh cek.

Mas Lift 3: Lunasnya kapan?

Aku tertawa sendirian di apartemen yang sunyi, lalu mengetik.

Nadine: Tergantung.

Mas Lift 3: Tergantung apa?

Nadine: Tergantung kamu nabung berapa.

Ada jeda panjang. Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Lalu:

Mas Lift 3: Aku mau buka rekening baru.

Aku memeluk ponselku ke dada, lalu membuka buku biru navy. Di bawah angka 81 yang sudah kucoret dan diganti 73, aku menulis:

Cium pipinya. Pipi kiri. Dia jatuhin sendok.

Aku nggak ada di rencana mana pun buat ini. Dan ternyata itu bagian terbaiknya.