Chapter Thirty One
Bukan Vonis
POV: Nadine
Jumat pukul empat sore, aku mengetuk meja keamanan lobby.
Pak Darto mengangkat wajah dari layar CCTV. Ia baru mulai jaga, seragamnya masih rapi, termos tehnya masih penuh. Ia menatapku sebentar, dan aku tahu ia tahu kenapa aku di sini.
“Pak,” kataku. “Saya minta tolong.”
“Saya cuma satpam, Mbak.”
“Saya tahu, Pak. Makanya saya minta tolong ke Bapak.”
Pak Darto meletakkan termosnya. “Apa, Mbak?”
Aku menarik napas. “Malam ini. Lampu kristalnya setengah. Pintu samping ditutup jam delapan. Petugas kebersihan selesai lebih awal.”
Pak Darto menatapku lama sekali. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum. Hampir. Seperti es yang retak di permukaan danau.
“Persis kayak waktu itu, Mbak?”
“Persis kayak waktu itu.”
“Mbak yang minta kali ini.”
“Kali ini saya yang minta, Pak.”
Pak Darto mengangguk satu kali. Lalu ia mengambil buku hijau tuanya dari rak di bawah meja, membukanya di halaman kosong, dan menulis sesuatu. Aku tidak bisa membaca apa yang ia tulis, tapi aku melihat tanggal hari ini di pojok halaman, dan di bawahnya, satu huruf besar: N.
“Satu lagi, Pak,” kataku.
“Mbak?”
“Grup itu. Tim Sukses.”
“Saya nggak punya grup apa-apa, Mbak.”
“Pak Darto.”
Ia menghela napas. “Iya, Mbak?”
“Bilang ke mereka, kalau malam ini ada yang di balik pot monstera, potnya jangan sampai jatuh.”
Pak Darto menatap pot monstera besar di dekat sofa kulit, yang daunnya selebar payung, yang pernah roboh hampir tiga bulan lalu dengan tiga orang dewasa di belakangnya.
“Saya pegangin, Mbak,” katanya.
Aku tahu ia akan turun jam lima. Pak Darto bilang ia selalu turun jam lima minggu ini, lalu duduk di sofa dekat pot monstera, menunggu aku pulang, bersembunyi supaya aku tidak tahu ia menunggu.
Jadi aku turun jam empat lima puluh.
Aku duduk di sofa kulit itu. Di tempatnya. Di balik daun monstera yang lebar, di posisi di mana seseorang bisa melihat pintu lift tanpa terlihat dari pintu lift.
Aku memakai blazer hitam. Bukan blazer longgar dari dua setengah tahun lalu. Blazer hitam yang kubeli tahun lalu, yang potongannya pas dan tegas di bahu, yang biasanya kupakai untuk rapat dengan klien yang paling sulit. Di dalamnya kemeja sutra putih. Rambutku kusanggul rendah, rapi, tanpa satu helai pun yang lepas. Lipstik nude kemerahan. Anting mutiara. Heels hitam tujuh senti.
Aku tidak memakai gaun kencan pertama. Aku tidak sedang mencoba membuatnya terkesan. Aku sedang mencoba membuatnya mendengar.
Pukul lima lewat dua menit, pintu Lift Nomor 3 tidak terbuka.
Yang terbuka adalah pintu besi di ujung lorong lobby. Pintu tangga darurat lantai dasar.
Ia keluar dari sana dengan kemeja biru muda yang basah keringat di punggung dan ketiak, lengan digulung dua lipatan, tas kerja di satu tangan, napas terengah-engah. Ia berhenti sebentar di ambang pintu tangga, membungkuk, tangan di lutut, mengatur napas.
Dua puluh satu lantai. Turun. Fikri bilang ia naik tangga setiap pagi. Fikri tidak bilang ia juga turun tangga setiap sore.
Ia tidak mau naik Lift Nomor 3. Karena Lift Nomor 3 adalah lift kami.
Ia menegakkan badan, menyeka dahinya dengan lengan kemeja, lalu berjalan ke arah sofa kulit dekat pot monstera. Ke tempat biasanya. Kepalanya menunduk ke ponsel, sudah siap untuk berpura-pura membaca.
Lalu ia mengangkat wajah dan melihatku.
Ia berhenti di tengah lobby. Tepat di titik yang sama di mana hampir tiga bulan lalu ia berhenti setelah dua langkah, ketika jawabanku akhirnya sampai ke otaknya.
Aku berdiri dari sofa.
Lobby sepi. Lampu kristal menyala setengah, memantul di lantai marmer krem yang baru dipel. Petugas kebersihan sudah pulang. Pintu samping sudah ditutup. Pak Darto di meja keamanan pura-pura menatap layar CCTV. Dan di balik pot monstera, aku bisa melihat ujung sepatu pantofel cokelat yang sangat kukenal, ujung rok batik, dan cahaya biru samar dari layar laptop. Dan satu tangan berseragam biru tua yang memegang pinggir pot itu erat-erat.
Aku berjalan ke arahnya. Heels-ku bergema di marmer, satu demi satu.
Aku berhenti satu meter di depannya.
“Permisi,” kataku. “Mas Reyhan?”
Ia menatapku. Wajahnya pucat di bawah lampu kristal yang kekuningan, dengan lingkaran gelap di bawah mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rambutnya berantakan karena keringat, dan helai di belakang kepalanya tidak berdiri, karena terlalu basah. Ia terlihat seperti seseorang yang belum tidur dengan benar sejak Jumat lalu.
“Din,” katanya. Suaranya serak.
“Boleh aku minta waktu lima menit?” tanyaku.
Ia membeku.
Aku melihatnya mengenali kalimat itu. Kalimatnya sendiri. Di lobby ini. Di bawah lampu yang sama. Dengan jarak satu meter yang sama.
“Cuma lima menit,” kataku. “Habis itu kamu boleh pulang. Dan boleh...” Aku berhenti. Menelan ludah. “Nggak. Kamu nggak boleh lupa aku pernah ada. Itu nggak termasuk.”
Sesuatu bergerak di wajahnya. Seperti retakan.
“Lima menit,” ulangnya pelan.
“Iya.”
Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk.
“Silakan.”
Aku menarik napas. Semua draft yang kususun sejak semalam, di anak tangga ketiga, di kasur, di kamar mandi, menguap begitu saja. Seperti malam itu. Seperti yang ia rasakan.
Jadi aku bicara dengan apa yang tersisa.
“Dua setengah tahun lalu,” kataku, “di tangga darurat, kamu bilang satu kalimat ke aku. Kamu ingat?”
Ia diam. Lalu, sangat pelan: “Ditolak itu cuma jawaban, bukan vonis.”
“Kamu tahu kenapa kalimat itu penting buat aku?”
Ia menggeleng.
“Papaku hakim, Mas. Aku tumbuh di rumah di mana vonis itu akhir dari segalanya. Vonis menentukan siapa kamu. Nggak bisa dibantah. Nggak bisa diubah.” Suaraku bergetar sedikit, dan aku menahannya. “Hari itu, Pak Haris bilang aku terlalu muda. Dan aku pulang dari ruangannya dengan perasaan bahwa itu vonis. Bahwa aku memang kurang. Bahwa aku nggak akan pernah cukup.”
Aku melangkah sedikit lebih dekat.
“Terus ada orang asing yang duduk dua anak tangga di atasku, kasih aku roti, dan bilang itu bukan vonis. Cuma jawaban. Dari satu orang, di satu ruangan, di satu hari.” Aku menatapnya. “Kamu kasih aku kalimat itu, Mas. Dan aku pakai kalimat itu dua setengah tahun. Setiap kali klien bilang aku terlalu muda. Setiap kali ada yang manggil aku ‘Dik’. Setiap kali aku merasa nggak cukup. Aku ingat kalimatmu.”
Ia tidak bergerak. Tapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Dan sekarang,” kataku, dan suaraku naik sedikit, cukup untuk bergema di lobby yang kosong, “kamu duduk di depanku dan mau aku percaya bahwa kamu nggak pantas buat aku. Bahwa kamu cuma alasan. Bahwa kamu beban. Bahwa yang terbaik buat aku adalah kamu pergi dari hidupku dengan sopan.”
“Din...”
“Ditolak itu cuma jawaban, Mas. Bukan vonis.”
Aku mengucapkannya dengan jelas, kata demi kata, seperti membacakan pasal.
“Kamu yang ngajarin aku. Kenapa kamu terus memvonis dirimu sendiri?”
Hening.
Hening yang sangat panjang. Begitu panjang sampai aku bisa mendengar dengung AC lobby, bunyi termos Pak Darto yang diletakkan pelan di meja, dan bunyi seseorang di balik pot monstera yang menahan napas.
Lalu wajahnya runtuh.
Bukan pelan-pelan. Sekaligus. Seperti tembok kardus yang didorong dari belakang. Bibirnya bergetar, matanya basah, dan ia menunduk, menutupi wajahnya dengan satu tangan.
“Aku takut,” katanya ke telapak tangannya. Suaranya pecah. “Aku takut kamu nyesel.”
“Nyesel apa?”
“Nyesel milih aku. Nyesel ninggalin Jakarta. Nyesel ninggalin Om Benny, Papa, Mama, Jess. Nyesel suatu hari bangun di Singapura dan sadar kamu ninggalin semuanya buat orang yang bahkan...” Ia berhenti. Menarik napas yang bergetar. “...buat orang yang nggak pernah minta apa-apa karena dia nggak pernah merasa pantas dapat apa-apa.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang membuatkan ibunya teh setiap malam. Yang tidak mengambil ITB. Yang bilang Rey nggak apa-apa, Bu selama tiga belas tahun.
“Mas,” kataku pelan. “Aku cuma akan nyesel satu hal.”
Ia mengangkat wajah.
“Aku cuma akan nyesel kalau kamu mundur.”
Aku tidak menunggunya menjawab. Lima menitku belum habis.
“Aku juga salah,” kataku.
Ia menatapku dengan mata basah.
“Aku putuskan sendiri. Aku tanda tangan kontrak tanpa nanya kamu. Aku pikir kalau aku maju diam-diam, kamu nggak punya kesempatan mundur. Papa bilang itu putusan tanpa sidang. Om Benny bilang itu keputusan baik dengan cara yang salah. Jess bilang kita berdua terlalu baik sampai saling nabrak.” Aku tertawa kecil, basah. “Semua orang benar. Aku salah. Aku minta maaf.”
“Din, kamu nggak perlu...”
“Aku perlu.” Aku melangkah lagi, sampai jarak di antara kami tinggal setengah meter. “Aku perlu minta maaf, karena aku melakukan persis hal yang aku takutin kamu lakuin. Aku putuskan sesuatu buat kamu, tanpa kamu.”
Aku mengangkat tangan dan merapikan kerah kemejanya yang basah keringat. Seperti biasa. Jari-jariku gemetar.
“Jadi aku nggak minta kamu pergi,” kataku. “Aku nggak minta kamu tinggal. Aku nggak minta kamu batalin apa pun atau ambil apa pun.”
“Terus kamu minta apa?”
Aku menatapnya. Lurus. Dari setengah meter.
“Aku minta sidang,” kataku. “Kita berdua. Duduk. Bicara. Nggak ada yang putuskan sendiri lagi. Nggak ada putusan tanpa sidang. Nggak ada kejutan. Nggak ada yang mundur duluan, nggak ada yang maju duluan.” Suaraku bergetar. “Kita jalan bareng. Ke mana pun. Tapi bareng.”
Ia menatapku lama sekali.
“Dan satu lagi,” bisikku.
“Apa?”
“Berhenti kalah duluan, Mas.” Aku meletakkan telapak tanganku di dadanya, di atas jantungnya yang berdetak sangat cepat di bawah kemeja basah. “Kamu nggak pernah kalah. Kamu cuma selalu nyerah sebelum pertandingan dimulai.”
Ia memejamkan mata. Air mata jatuh dari kedua matanya sekaligus, mengalir di pipinya, menetes dari dagunya ke kemeja biru muda.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tidak bilang maaf. Tidak bilang nggak apa-apa. Tidak bilang aku masih bisa.
Ia menarikku ke pelukannya.
Erat. Sangat erat. Lengannya melingkar di punggungku seperti orang yang hampir tenggelam dan akhirnya menemukan sesuatu untuk dipegang. Wajahnya terbenam di bahuku, di rambutku yang tersanggul rapi, dan aku merasakan bahunya bergetar, merasakan air matanya membasahi kemeja sutraku, mendengar ia menangis dengan suara tertahan yang terdengar seperti tiga belas tahun yang akhirnya dibiarkan keluar.
Aku memeluknya balik. Tanganku di punggungnya yang basah keringat. Pipiku di lehernya.
“Aku di sini,” bisikku. “Aku di sini, Mas.”
Di balik pot monstera, seseorang bersin.
Keras. HACHUUU.
Kami tidak melepaskan pelukan. Tapi aku membuka mata dan melirik ke sana.
Pot monstera itu bergoyang hebat. Daun-daunnya yang selebar payung bergetar. Tapi pot itu tidak roboh. Satu tangan berseragam biru tua memeganginya erat-erat dari belakang, dan di sebelah tangan itu, sebuah suara berbisik panik:
“Fik! Kenapa bersin?”
“Alergi daun, Mbak!”
“Dari kapan kamu alergi daun?”
“Dari tadi, Mbak! Saya nggak tahu!”
“Ssst! Pak Darto udah pegangin potnya, jangan bikin dia kerja dua kali!”
Mas Reyhan bergetar di pelukanku. Awalnya kupikir ia masih menangis. Lalu aku sadar ia tertawa. Tawa yang pecah di tengah tangis, basah dan putus-putus, di bahuku.
Aku ikut tertawa. Di lobby Menara Sentra, di bawah lampu kristal yang menyala setengah, di depan pot monstera yang dipegangi satpam, dengan blazer hitam rapat-rapatku yang basah oleh air matanya dan kemeja birunya yang basah oleh air mataku.
Ketika akhirnya kami melepaskan pelukan, ia menatapku dengan mata merah dan wajah basah. Tapi untuk pertama kalinya sejak Jumat lalu, matanya tidak kosong.
“Kasih aku waktu,” katanya.
Jantungku berhenti sesaat. Kalimat itu terlalu mirip kalimat orang yang mundur.
Ia melihat wajahku dan menggeleng cepat.
“Bukan buat mundur,” katanya. “Buat maju dengan benar.”
Aku menatapnya.
“Dua hari,” katanya. “Ada yang harus aku beresin dulu. Aku nggak mau datang ke sidang dengan tangan kosong.” Ia menghapus air mata di pipiku dengan ibu jarinya, pelan, persis seperti di pantry dulu. “Minggu pagi. Aku datang. Aku janji.”
“Kalau kamu nggak datang?”
Ia diam sebentar. Lalu tersenyum. Senyum kecil yang miring ke kiri, yang persis seperti senyum Ibu, yang persis seperti senyum Bapak di foto di belakang pagar besi.
“Kamu telepon aku lagi,” katanya. “Kayak vendor di Cikarang.”
Aku tertawa, basah. “Kamu nggak akan angkat.”
“Aku akan angkat,” katanya. “Kali ini aku akan angkat.”
Ia pergi pukul lima lewat dua puluh. Kali ini lewat pintu yang benar. Dan kali ini, sebelum keluar, ia menoleh ke belakang, ke arahku, dan melambai.
Aku berdiri di tengah lobby sampai ia menghilang di tikungan jalan.
Lalu pot monstera bergeser. Lima orang muncul dari baliknya, satu per satu, dengan wajah basah: Mbak Sari dengan ponsel di tangan, Jess dengan maskara luntur, Dodi dengan tangan memegang bahu Jess, Tari dengan kotak tisu yang sudah kosong, dan Fikri dengan hidung merah dan mata berair karena alergi daun yang baru ditemukan.
Pak Darto melepaskan pinggir pot, meluruskan seragamnya, dan kembali ke meja keamanan seolah tidak ada yang terjadi.
“Din,” kata Jess. Ia berjalan menghampiriku dan memelukku tanpa berkata apa-apa lagi.
“Bu,” kata Tari di belakangnya, terisak. “Itu... itu lebih bagus dari drama Korea mana pun.”
“Lebih bagus dari yang Ibu tonton?”
“Lebih bagus dari yang SAYA tonton, Bu. Saya sudah nonton tiga ratus judul.”
Fikri bersin lagi. “Peluang,” katanya dengan suara sengau, “nggak bisa dihitung.”
Aku tertawa di bahu Jess.
Lalu Pak Darto berdeham dari meja keamanan. Kami semua menoleh.
Ia sedang menatap layar CCTV. Tapi di tangannya ada buku hijau tua, terbuka. Dan ia sedang menulis sesuatu dengan pulpen, sangat pelan.
“Pak Darto,” panggilku. “Bapak nulis apa?”
“Saya cuma satpam, Mbak,” katanya tanpa menoleh.
“Pak.”
Ia berhenti menulis. Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun, ia memutar buku itu ke arahku dan memperlihatkan halamannya.
Di halaman itu, di bawah tanggal hari ini, ada satu baris tulisan tangan yang rapi:
17.20 — R pulang lewat pintu yang benar. Nengok ke belakang. Pertama kali.
Aku menatap tulisan itu lama.
Lalu aku menatap Pak Darto. Pria lima puluh lima tahun dengan termos teh dan seragam biru tua, yang mencatat semuanya. Yang tahu sebelum siapa pun tahu.
“Terima kasih, Pak,” kataku. Suaraku pecah lagi.
Pak Darto menutup bukunya dan menyesap tehnya.
“Lampunya saya nyalain penuh lagi, ya, Mbak,” katanya. “Sudah nggak perlu romantis.”
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis reading
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup