Chapter Thirty Three
Kontrak dan Roti Sobek
POV: Rey
Pukul empat lewat lima belas pagi, minimarket di lobby Menara Sentra belum buka.
Aku tahu itu. Aku sudah lima tahun membeli roti di sana setiap pagi. Minimarket itu buka pukul enam. Tapi aku tetap menyetir ke sana, karena di kepalaku, roti untuk pagi ini harus dari minimarket yang sama. Harus roti yang sama, dari rak yang sama, dengan gambar beruang kecil yang tersenyum.
Aku berdiri di depan rolling door minimarket yang tertutup, di lobby yang gelap dan sunyi, dengan tangan di saku dan kertas Agenda Sidang terlipat di saku kemeja.
Lalu lampu meja keamanan menyala.
Pak Darto berdiri dari kursinya. Shift malamnya belum selesai. Ia menatapku dari seberang lobby, tidak terkejut sama sekali, seolah ia sudah menungguku sejak jam tiga.
Ia membungkuk ke rak di bawah mejanya. Lalu ia berjalan menghampiriku, pelan, dan menyerahkan sesuatu.
Dua bungkus roti sobek cokelat.
Aku menatap roti itu. Lalu menatap Pak Darto.
“Pak...”
“Saya beli kemarin sore, Mas,” katanya. “Buat jaga-jaga.”
“Bapak tahu saya bakal ke sini?”
“Saya cuma satpam, Mas.” Ia menyesap tehnya. “Tapi saya tahu minimarket buka jam enam. Dan saya tahu Mas selalu beli dua.”
Aku menerima roti itu dengan dua tangan. Seperti Nadine dulu.
“Terima kasih, Pak.”
“Mas,” kata Pak Darto ketika aku sudah berbalik. Aku menoleh. Ia menatapku dengan wajah datar seperti biasa, tapi matanya tidak datar. “Jangan lupa ganjal pintunya.”
Pukul empat lima puluh lima, aku berdiri di depan gedung apartemen Nadine di Setiabudi.
Satpam apartemen, seorang pria muda berkumis tipis, menatapku dari balik meja lobby dengan curiga. Laki-laki tiga puluh tahun dengan kemeja biru muda, membawa dua bungkus roti, datang ke apartemen mewah jam lima kurang lima pagi. Aku juga akan curiga.
“Mau ke unit mana, Mas?”
“19-C. Nadine Valencia.”
Satpam itu menatapku lebih curiga lagi. Lalu ponsel di mejanya berbunyi. Ia mengangkatnya, membaca sesuatu, dan wajahnya langsung berubah.
“Mas Reyhan?”
“Iya.”
“Silakan naik, Mas.” Ia menekan tombol lift untukku. “Pak Darto sudah kabari.”
Aku menatapnya. “Bapak kenal Pak Darto?”
“Semua satpam di Kuningan kenal Pak Darto, Mas,” katanya, dengan nada hormat yang biasanya dipakai orang untuk membicarakan guru silat. “Grup WhatsApp-nya ada tiga ratus anggota.”
Aku masuk lift tanpa berkata apa-apa lagi. Aku sudah berhenti terkejut dengan Pak Darto.
Lantai sembilan belas. Lorong yang sunyi. Unit 19-C di ujung.
Aku berdiri di depan pintunya. Pukul empat lima puluh delapan. Dua menit lebih awal.
Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.
Pintu terbuka sebelum aku sempat menyentuhnya.
Ia berdiri di ambang pintu. Ia tidak memakai heels. Ia tidak memakai apa pun yang kukenal dari kantor. Ia memakai piama satin berwarna krem dengan lengan panjang yang sedikit kebesaran, dan sweter rajut yang sama dengan yang ia pakai waktu belajar memasak, disampirkan di bahu. Rambutnya tergerai, sedikit kusut, seperti orang yang berbaring tapi tidak tidur. Tanpa riasan sama sekali. Matanya sedikit bengkak, dengan bayangan gelap di bawahnya. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya terlihat jelas di pucatnya kulit pagi.
Ia terlihat lelah. Ia terlihat seperti orang yang sudah menangis terlalu banyak minggu ini.
Dan ia tetap perempuan paling cantik yang pernah kulihat.
“Kamu datang,” katanya pelan.
“Aku janji.”
“Dua menit lebih awal.”
“Aku nggak mau telat lagi,” kataku. “Aku sudah telat dua setengah tahun.”
Ia menatapku. Bibirnya bergetar sedikit.
Aku mengangkat dua bungkus roti di tanganku.
“Boleh aku minta waktu lima menit?” tanyaku.
Ia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya langsung basah.
“Mas...”
“Cuma lima menit,” kataku. “Habis itu kamu boleh suruh aku pulang.” Aku berhenti. “Nggak. Itu juga nggak termasuk. Kamu nggak boleh suruh aku pulang. Aku nggak mau pulang.”
Ia tertawa di balik tangannya. Tawa yang pecah dan basah.
Lalu ia menurunkan tangan, menarik napas, dan mundur selangkah dari pintu.
“Silakan,” katanya.
Aku masuk. Lalu, sebelum menutup pintu, aku berhenti. Aku mengeluarkan satu bungkus roti, membungkuk, dan menyelipkannya di antara pintu dan kusen, supaya pintu itu tidak tertutup rapat.
Nadine menatap roti di celah pintu itu. Lalu menatapku.
“Pintu apartemenku nggak bisa kekunci dari luar, Mas.”
“Aku tahu,” kataku. “Tapi aku mau kamu tahu aku nggak lupa lagi.”
Kami duduk di lantai ruang tamunya. Di atas karpet abu-abu yang lembut, di depan jendela besar yang menghadap gedung-gedung Kuningan. Di luar masih gelap. Langit di ujung timur baru mulai berwarna biru tua, sedikit lebih terang dari hitam.
Aku duduk bersila. Ia duduk di depanku, lututnya hampir menyentuh lututku, sweter rajut di bahunya.
Aku mengeluarkan kertas dari saku kemeja dan membukanya di atas karpet di antara kami.
Ia membaca judulnya. Lalu tertawa, pendek dan tidak percaya.
“Agenda Sidang.”
“Aku Operations Lead perusahaan logistik, Din. Aku butuh struktur.”
“Kamu bikin spreadsheet buat kencan pertama.”
“Ini bukan spreadsheet. Ini HVS.”
Ia menatapku dengan mata basah dan bibir yang tersenyum. Lalu ia menatap kertas itu, membaca poin-poinnya satu per satu. Aku melihat matanya bergerak. Nomor satu. Nomor dua. Nomor tiga, dan ia tertawa kecil di bagian kamu boleh ketawain. Nomor enam, dan ia mengangkat wajah dengan cepat.
“Kamu sudah cek dapurnya?”
“Aku telepon pengelola apartemennya kemarin. Mereka kirim foto.” Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya. “Dapurnya muat dua orang. Agak sempit. Tapi muat. Ada jendela ke taman.”
Ia menatap foto di ponselku lama. Lalu menatapku.
“Tapi kamu sudah batalin,” katanya pelan.
“Belum.”
Matanya melebar.
Aku mengeluarkan sesuatu yang lain dari saku belakang celanaku. Map plastik bening, berisi selembar kertas. Surat dari Pak Haris yang ia tulis tangan semalam di atas kertas kop Lintasraya, lalu ia foto dan kirim ke emailku pukul sebelas malam, lalu aku cetak di warnet di dekat kos pukul tiga pagi karena printer kosku rusak.
Dengan ini, penugasan Saudara Reyhan Aditama ke kantor cabang Singapura tetap berlaku sesuai rencana semula. Formulir pembatalan sebelumnya tidak pernah disetujui dan telah dimusnahkan. — Haris Mulyono.
Di bawahnya, dengan tulisan tangan yang lebih kecil:
P.S. Jangan telat ke bandara. Bawa martabak untuk tim di sana.
Nadine membaca surat itu. Lalu membacanya lagi. Tangannya mulai gemetar.
“Pak Haris belum tanda tangan,” bisiknya.
“Dia nggak pernah tanda tangan. Dia simpan formulirnya di tas kerjanya dua minggu. Dia umumin di pesta supaya aku dengar keputusanku sendiri dibacakan di depan orang.” Aku menelan ludah. “Dia bilang dia pernah menolak kamu sekali atas nama melindungi kamu. Dia nggak mau bantu aku menolak kamu untuk kedua kalinya, dengan alasan yang sama.”
Nadine menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar.
Aku menunggu. Aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya duduk di sana, di depannya, seperti dua setengah tahun lalu di tangga darurat. Karena kadang orang tidak butuh ditanya. Mereka cuma butuh tidak sendirian.
Ketika akhirnya ia menurunkan tangan, wajahnya basah, tapi matanya bersinar.
“Jadi,” katanya. “Kamu berangkat.”
“Kalau kamu mau aku berangkat.”
Ia menatapku.
“Itu poin nomor dua,” kataku. Aku menunjuk kertas Agenda Sidang di karpet. “Kalau aku ke Singapura juga, kamu masih mau ke sana?” Aku menatapnya. “Aku nggak mau jawab buat kamu, Din. Aku nggak mau putuskan buat kamu. Aku mau tanya.”
Hening. Di luar jendela, langit di ujung timur mulai berubah dari biru tua menjadi ungu pucat.
“Kamu tanya,” bisiknya.
“Aku tanya.”
“Kamu beneran tanya.”
“Untuk pertama kalinya,” kataku, “aku beneran tanya.”
Ia tidak langsung menjawab.
Ia mengambil pulpen dari meja kopi di belakangnya, lalu menarik kertas Agenda Sidang ke depannya. Di sebelah poin nomor satu, dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas, ia menulis: Dua-duanya. Tapi kamu lebih berat. Dan itu bukan hal yang memalukan.
Di sebelah poin nomor dua, ia menulis: Iya.
Lalu, setelah ragu sebentar, ia menambahkan: Iya, iya, iya.
Di sebelah poin nomor tiga, ia menulis: Aku takut kamu mundur. Aku sudah nggak takut lagi.
Di sebelah poin nomor empat: Bareng. Hari ini. Papa sudah tahu sebagian. Mama sudah tahu semuanya. Niko pasti sudah bocorin.
Di sebelah poin nomor lima: Ibu selalu tahu.
Di sebelah poin nomor enam: Dapurnya muat dua orang kalau salah satunya nggak masak. Aku yang nggak masak.
Lalu ia sampai di poin nomor tujuh. Ia membaca pertanyaanku, lalu jawaban kecil yang sudah kutulis sendiri di bawahnya. (Telepon lagi besoknya. Kayak vendor di Cikarang.)
Ia menatap jawaban itu lama. Lalu ia menulis di bawahnya: Setuju. Berlaku seumur hidup.
Ia meletakkan pulpen. Mengangkat wajah. Menatapku.
“Sidang selesai,” katanya.
“Putusannya?”
“Putusannya,” kata Nadine, dengan suara yang tiba-tiba sangat mirip suara Papa di meja makan di Menteng, “kita berdua berangkat. Bareng. Kamu tanggal empat belas, aku tanggal satu. Kita kasih tahu keluarga bareng. Kita cari tempat makan pecel lele di Singapura bareng. Dan kalau ada yang mundur, yang satunya telepon lagi besoknya.”
Ia berhenti. Matanya basah lagi.
“Putusan ini diambil,” katanya pelan, “setelah sidang. Dengan semua pihak yang terdampak didengar.”
Aku tidak bisa bicara.
Jadi aku mengangkat tangan dan menyentuh wajahnya. Telapak tanganku di pipinya. Ibu jariku di bawah mata kirinya, di atas tahi lalat kecil itu. Persis seperti di tangga darurat, lebih dari sebulan lalu.
“Din,” kataku.
“Mm?”
“Aku nggak mau kalah duluan lagi.”
Ia memejamkan mata dan menyandarkan pipinya di telapak tanganku.
“Kamu nggak pernah kalah, Mas,” bisiknya. “Kamu cuma terlambat datang.”
Aku menciumnya.
Bukan seperti di tangga darurat, dengan hidung yang bertabrakan dan lampu yang mati. Bukan seperti di bawah kanopi, lembut dan hati-hati. Bukan seperti di lorong ini sebulan lalu, ketika ia menarik kerahku dan aku menjatuhkan kunci mobil.
Kali ini aku yang menariknya. Kali ini aku yang tidak meminta izin. Satu tanganku di wajahnya, satu tanganku di pinggangnya, di atas satin piama yang dingin. Aku menariknya ke pangkuanku, dan ia melingkarkan lengannya di leherku, dan sweter rajut di bahunya jatuh ke karpet, dan aku tidak peduli.
Ciuman itu dalam dan lambat dan tidak sopan sama sekali. Ia membalasnya dengan cara yang membuat seluruh tubuhku bergetar, jari-jarinya menyusup ke rambut di belakang kepalaku, ke helai yang selalu berdiri, menggenggamnya erat. Aku merasakan air mata di pipinya, atau mungkin itu air mataku, menyatu di antara kami, asin dan hangat. Aku menciumnya seperti orang yang hampir kehilangan sesuatu dan baru menyadari betapa berharganya itu. Seperti orang yang menahan napas selama tiga belas tahun dan akhirnya diizinkan bernapas.
Ia mengeluarkan suara kecil di tenggorokannya, dan aku menariknya lebih dekat.
Ketika akhirnya kami berhenti, dahi kami menempel. Napas kami terengah, bercampur di udara pagi yang dingin.
“Itu,” bisiknya, “ciuman paling nggak sopan yang pernah ada.”
“Kamu protes?”
“Aku mau ajukan banding,” katanya, “biar diulang.”
Aku tertawa. Ia tertawa. Kami tertawa dengan dahi menempel, di karpet abu-abu di ruang tamunya, dengan kertas Agenda Sidang yang sudah kusut di bawah lututnya.
Di luar jendela, langit berubah.
Ungu pucat menjadi merah muda. Merah muda menjadi oranye. Dan di ujung timur, di antara gedung-gedung Kuningan, sebuah garis emas tipis muncul di cakrawala.
Nadine menoleh ke jendela. Lalu menoleh padaku dengan mata berbinar.
“Mas,” katanya. “Nomor lima.”
Aku menatap jendela. Lantai sembilan belas. Kaca besar dari lantai sampai langit-langit. Kota di bawah sana yang terlihat sangat jauh.
“Lihat matahari terbit,” kataku pelan. “Dari tempat yang nggak terlalu tinggi.”
“Lantai sembilan belas nggak terlalu tinggi.”
“Lantai sembilan belas itu sangat tinggi, Din.”
“Lantai dua puluh satu lebih tinggi, dan kamu kerja di sana lima tahun.”
“Kantorku nggak ada jendela dari lantai sampai langit-langit.”
Ia tertawa. Lalu ia berdiri, mengulurkan tangan padaku.
“Aku pegangin,” katanya.
Aku menatap tangannya. Lalu aku menggenggamnya, dan ia menarikku berdiri, dan kami berjalan pelan, sangat pelan, ke arah jendela. Aku berhenti satu meter dari kaca. Lututku sedikit lemas.
Ia berdiri di depanku. Lalu ia menarik kedua tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri, sehingga aku memeluknya dari belakang. Punggungnya menempel di dadaku. Kepalanya bersandar di bahuku.
“Kalau kamu takut, lihat aku aja,” katanya.
Jadi aku melihatnya. Pipinya yang basah. Rambutnya yang kusut. Bibirnya yang sedikit merah karena ciuman tadi. Bulu matanya yang panjang, yang berkilau terkena cahaya pertama.
Lalu, karena ia di sana, karena tangannya menggenggam tanganku di depan perutnya, aku mengangkat wajah dan melihat ke luar jendela.
Matahari muncul dari balik gedung-gedung. Pelan. Bulat dan oranye dan sangat terang, mewarnai seluruh kota dengan cahaya emas. Jendela-jendela gedung berkilau seperti ribuan cermin kecil. Jalanan di bawah mulai terlihat, dengan lampu-lampu jalan yang padam satu per satu.
Aku tidak merasa takut.
“Nomor lima,” bisikku ke rambutnya. “Centang.”
Ia menggenggam tanganku lebih erat. “Dan nomor sebelas.”
Aku diam sebentar. Lalu tersenyum ke puncak kepalanya.
“Nomor sebelas,” kataku. “Bicara soal nanti.”
“Centang?”
“Centang.”
Ia berbalik di dalam pelukanku, menghadapku, dengan matahari pagi di belakangnya, dan berjinjit dan mencium keningku.
“Selamat pagi, Mas,” katanya.
“Selamat pagi, Din.”
Di belakang kami, di celah pintu apartemen yang terganjal sebungkus roti sobek cokelat, angin pagi masuk dari lorong, pelan, membawa bau kopi dari unit sebelah.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan, aku tidak menghitung hari.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek reading
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup