← Lima Menit di Lobby

Chapter Twenty Nine

Kamu Nggak Jadi Berangkat?

POV: Rey


Lampu sensor di tangga darurat menyala begitu aku mendorong pintu.

Putih. Terang. Tidak berkedip seperti lampu neon dua setengah tahun lalu. Aku berdiri di bordes dan menatap anak-anak tangga yang turun ke bawah, ke anak tangga ketiga, tempat semuanya dimulai.

Aku tidak turun. Aku tidak bisa.

Aku berdiri di bordes dengan punggung menempel ke dinding dingin bercat abu-abu, dengan angka 21 berwarna merah di atas kepalaku, dan menatap tanganku sendiri. Tangan yang tadi memegang map cokelat itu. Tangan yang dua minggu lalu menandatangani formulir pembatalan dengan gemetar dan yakin.

Tanggal mulai efektif: 1 bulan depan.

Pintu besi terbuka di belakangku.

Aku tidak perlu menoleh. Aku mengenali langkahnya. Bukan heels kali ini. Ia memakai sepatu datar, yang ia simpan di laci untuk acara-acara yang mengharuskannya berdiri lama. Gaun biru tua itu bergerak pelan di sudut mataku. Gaun kencan pertama. Ia memakainya hari ini.

Ia memakai gaun kencan pertama untuk memberitahuku bahwa ia akan meninggalkan seluruh hidupnya di Jakarta demi aku.

Pintu menutup di belakangnya. Kali ini, tidak ada yang mengganjalnya. Aku tidak peduli.

Kami berdiri di bordes yang sempit itu, berjarak satu meter, dan tidak ada yang bicara.

Dari balik pintu, samar-samar, terdengar musik dari pesta. Lagu dangdut. Pak Yanto pasti sudah naik kursi.


“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyaku akhirnya. Suaraku keluar lebih tenang dari yang kuduga.

“Kamu duluan yang jawab,” katanya. “Kenapa kamu nggak bilang?”

“Karena kamu bakal bujuk aku.”

“Bujuk apa?”

“Bujuk aku buat tetap pergi.” Aku menatap anak tangga di bawah. “Kamu bakal bilang karierku lebih penting. Kamu bakal bilang aku nggak boleh ngorbanin Singapura buat kamu. Kamu bakal bilang aku nggak perlu begitu. Dan kamu bakal terus ngomong sampai aku nyerah.”

Nadine diam.

“Karena aku selalu kalah lawan kamu, Din,” kataku. “Selalu.”

“Itu persis,” katanya pelan, “alasanku nggak bilang ke kamu.”

Aku menoleh.

Ia berdiri di depan pintu besi dengan map cokelat yang masih di tangannya, dipeluk di dada seperti perisai. Wajahnya pucat di bawah lampu sensor yang terang. Lipstik merah tua di bibirnya terlihat terlalu gelap. Matanya basah, tapi ia belum menangis.

“Kalau aku bilang,” katanya, “kamu bakal bilang karierku di sini lebih penting. Kamu bakal bilang aku nggak boleh ninggalin HTA, Om Benny, Papa, Mama. Kamu bakal bilang kamu nggak pantas aku ikut. Dan kamu bakal terus ngomong sampai aku nyerah.” Ia tertawa kecil. Pahit. “Kita ngomong kalimat yang sama, Mas. Persis sama.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu bilang di basement kamu takut minta aku nunggu,” lanjutnya. “Aku dengar itu. Aku pikir: oke, kalau dia nggak mau aku nunggu, aku nggak akan nunggu. Aku ikut. Dia nggak perlu minta apa-apa. Aku putuskan sendiri, supaya dia nggak perlu milih.”

“Dan kamu bilang ‘siapa bilang aku mau nunggu’,” kataku. “Aku pikir kamu nggak mau nunggu aku. Aku pikir kamu sudah capek. Dua setengah tahun, terus aku pergi lagi. Wajar kalau kamu capek.”

“Aku nggak capek.”

“Aku nggak tahu itu.”

“Kamu nggak nanya, Mas!”

Suaranya pecah di kata terakhir. Bergema di dinding beton tangga darurat, naik dan turun, berlipat-lipat, sampai terdengar seperti tiga orang yang berteriak bersamaan.

Hening.

Lalu, pelan, aku berkata: “Kamu juga nggak nanya.”

Ia menatapku. Air mata pertama jatuh dari mata kirinya, melewati tahi lalat kecil itu.


Aku seharusnya berhenti di sana.

Aku seharusnya melangkah maju, satu meter saja, dan memeluknya. Aku seharusnya bilang kita bodoh, kita berdua bodoh, ayo kita perbaiki. Itu yang akan dikatakan Dodi. Itu yang akan dikatakan Ibu. Itu yang akan dikatakan Pak Hendra di pagar rumah di Menteng.

Tapi aku tidak melakukannya.

Karena di kepalaku, ada suara lain. Suara yang sangat tua, yang sudah tinggal di sana sejak umur tujuh belas, sejak teh setiap malam untuk Ibu yang menangis. Suara yang selalu muncul ketika ada dua jalan, dan yang satu membuatku bahagia dan yang lain membuat orang lain tidak perlu berkorban.

Kamu tahu jawabannya, Rey. Kamu selalu tahu.

Aku menatap map cokelat di pelukannya. Kop surat HTA Singapura. Gaji yang lebih besar dari gajiku. Posisi yang dibangun untuknya. Partner yang bilang kandidat pertama dalam lima tahun yang mengerti transaksi dari dua sisi. Om Benny yang pasti sudah merekomendasikannya dengan sepenuh hati.

Ini kesempatannya. Kesempatan yang nyata, yang bagus, yang akan membuat kariernya melompat.

Dan ia mengambilnya karena aku.

“Kamu ambil Singapura karena aku,” kataku pelan.

“Aku ambil karena posisinya bagus. Dan karena kamu.”

“Lebih berat yang mana?”

Ia tidak menjawab.

Itu jawaban.

“Din.” Aku menarik napas panjang. “Kalau aku nggak ke Singapura, kamu ke sana buat apa?”

Ia membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Kamu bakal sendirian di sana,” kataku. “Di negara lain. Tanpa Jess. Tanpa Om Benny. Tanpa Papa, Mama, Niko. Tanpa Pak Kumis. Karena aku.”

“Aku bisa batalin,” katanya cepat. “Aku bisa ngomong ke Om Benny, aku bisa...”

“Jangan.”

Ia berhenti.

“Jangan batalin,” kataku. Dan suaraku keluar dengan ketenangan yang menakutkan, ketenangan yang kukenal dari setiap kali aku mempersilakan orang lain duluan di antrean kasir. “Jangan batalin hidupmu buat aku lagi, Din.”

“Lagi?”

“Kamu sudah dua setengah tahun ngatur hidupmu di sekitar aku.” Aku menatapnya. “Kamu pindah kantor ke lantai ini karena aku. Kamu atur jadwal pagimu supaya bisa satu lift sama aku. Kamu pulang lima menit sebelum aku supaya aku nggak nunggu lama. Kamu langganan lele di warung yang aku suka. Kamu belajar masak telur dadar dua belas kali. Kamu tanda tangan kontrak di negara lain.” Suaraku mulai pecah, dan aku menahannya dengan paksa. “Semua hidupmu, Din. Semua keputusanmu. Muter-muter di sekitar orang yang bahkan nggak ingat kamu selama dua setengah tahun.”

“Itu pilihanku.”

“Dan ini pilihanku.” Aku menatap anak tangga ketiga di bawah sana. “Aku nggak mau jadi alasan kamu nolak kesempatan. Aku nggak mau jadi alasan kamu ambil kesempatan. Aku nggak mau jadi alasan apa pun lagi buat kamu.”

“Mas...”

“Kamu berangkat aja,” kataku.

Kalimat itu keluar. Dan begitu keluar, aku tahu tidak bisa ditarik kembali.

Nadine menatapku. Air mata kedua jatuh. Ketiga. Ia tidak mengusapnya.

“Kamu bilang apa?”

“Kamu berangkat,” ulangku. Lebih pelan. “Posisinya bagus. Kariermu. Kamu pantas dapat itu. Bukan karena aku. Karena kamu.”

“Dan kamu?”

“Aku di sini.”

“Dan kita?”

Aku tidak menjawab.

Aku menatap dinding abu-abu di depanku. Angka 21 berwarna merah. Lampu sensor putih yang terang.

“Mungkin...” Suaraku hampir tidak terdengar. “Mungkin memang ini jawabannya.”


Hening.

Hening yang sangat panjang. Begitu panjang sampai lampu sensor di atas kami mati, karena tidak ada yang bergerak.

Gelap total. Hanya cahaya hijau samar dari tanda KELUAR di atas pintu.

Lima minggu lalu, di tangga yang sama, lampu ini mati ketika kami berciuman untuk pertama kalinya. Kami tertawa di dalam gelap dengan dahi saling menempel.

Sekarang tidak ada yang tertawa.

Dalam gelap, aku mendengar napasnya. Tidak teratur. Bergetar. Lalu suaranya, sangat pelan, sangat dekat, padahal ia tidak bergerak dari tempatnya.

“Kamu mundur.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu mundur, Mas,” ulangnya. Dan suaranya tidak marah. Itu yang paling menyakitkan. Suaranya tidak marah sama sekali. Suaranya terdengar seperti orang yang sudah tahu sesuatu akan terjadi, sudah menyiapkan diri untuk itu, sudah menulis mitigasi risikonya, dan tetap tidak siap ketika itu benar-benar terjadi. “Ibu bilang kamu bakal begini. Papa bilang. Jess bilang. Fikri bikin slide-nya. Semua orang bilang. Dan aku pikir... aku pikir kalau aku maju duluan, kamu nggak punya kesempatan buat mundur.”

Aku memejamkan mata dalam gelap.

“Ternyata kamu mundur duluan,” bisiknya. “Bahkan sebelum aku sempat maju.”

Ia bergerak. Aku mendengar langkahnya. Lampu sensor menyala lagi, putih dan terang, dan aku melihat wajahnya. Basah. Merah di sekitar mata. Bibir bergetar. Tapi dagunya terangkat. Punggungnya lurus. Seperti perempuan dua puluh enam tahun yang keluar dari ruangan Pak Haris dua setengah tahun lalu, sebelum ia sampai di tangga ini dan runtuh.

“Kamu bilang di lobby,” katanya, “kamu bukan orang yang gampang diingat.”

Aku menatapnya.

“Kamu salah soal itu,” katanya. “Tapi kamu benar soal satu hal.”

“Apa?”

“Kamu memang orang yang gampang pergi.”

Ia berbalik dan mendorong pintu besi.

Pintu itu terbuka. Tidak terkunci. Musik dangdut dari pantry langsung masuk, keras dan ceria, seperti ejekan.

Ia keluar. Pintu menutup di belakangnya.


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di bordes itu.

Lampu sensor mati lagi. Aku tidak bergerak. Aku membiarkan gelap itu.

Di dalam gelap, aku turun. Satu anak tangga. Dua. Tiga.

Aku duduk di anak tangga ketiga dari bordes. Tempat ia duduk dua setengah tahun lalu. Tempat ia duduk dua bulan lalu dengan blazer hitam yang terlalu longgar dan bungkus roti yang sudah kedaluwarsa. Tempat semuanya dimulai.

Aku memeluk lututku. Seperti ia dulu.

Aku tidak menangis. Aku tidak pernah menangis. Tidak di pemakaman Bapak. Tidak di rumah sesudahnya. Tidak di malam-malam ketika Ibu menangis dan aku membuatkannya teh.

Aku hanya duduk di sana, di dalam gelap, dengan suara musik dangdut yang samar dari balik pintu, dan mengulang satu kalimat di kepalaku.

Ini yang terbaik buat dia.

Ini yang terbaik buat dia.

Ini yang terbaik buat dia.

Aku mengulangnya sampai kalimat itu kehilangan maknanya, sampai bunyinya terdengar seperti bunyi mesin fotokopi macet. Sampai aku tidak tahu lagi apakah aku sedang meyakinkan diriku sendiri atau sedang menghukum diriku sendiri.

Lalu ponselku bergetar di saku. Layarnya menyala di dalam gelap, menerangi tanganku.

Ibu: Rey, tadi Jess telepon Ibu. Kamu di mana, Nak?

Jess menelepon Ibu. Tentu saja. Grup itu tidak pernah benar-benar bubar.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku mengetik balasan dengan jari yang tiba-tiba sangat kaku.

Aku: Rey nggak apa-apa, Bu.

Aku menekan kirim.

Dan saat itu, di anak tangga ketiga, di dalam gelap yang hanya diterangi layar ponsel, untuk pertama kalinya sejak umur tujuh belas, aku merasakan sesuatu yang panas dan basah jatuh di punggung tanganku.

Aku menatapnya. Setetes. Lalu satu lagi.

Aku tidak tahu kapan aku mulai. Aku hanya tahu aku tidak bisa berhenti.

Ponselku bergetar lagi.

Ibu: Rey. Ibu sudah bilang. Jangan bodoh.

Lalu satu lagi, beberapa detik kemudian.

Ibu: Dan jangan bilang “Rey nggak apa-apa” ke Ibu. Ibu sudah dengar kalimat itu tiga belas tahun. Ibu tahu artinya apa.

Aku menutup layar ponsel, memeluk lututku lebih erat, dan menangis di anak tangga ketiga sampai lampu sensor menyala sendiri karena tubuhku bergetar terlalu keras.