← Lima Menit di Lobby

Chapter Fourteen

Pak Haris dan Mantan Kandidat

POV: Nadine


Om Benny memanggilku ke ruangannya Selasa pagi dengan wajah orang yang baru memenangkan undian.

“Nadine! Duduk, duduk.” Ia mendorong sepiring kue bolu pandan ke arahku, tanda bahwa ia akan meminta sesuatu yang besar. Om Benny selalu menyuguhkan kue sebelum meminta sesuatu yang besar. “Kita dapat klien baru.”

“Siapa, Om?”

“Tetangga kita.” Ia menunjuk dinding di belakangku, ke arah timur. “Lintasraya. Mereka buka entitas di Singapura, dan mereka butuh konsultan untuk struktur pajaknya. Transfer pricing, perjanjian penghindaran pajak berganda, semuanya. Kontraknya bagus. Bagus sekali.”

Aku meletakkan kue bolu pandan yang sudah setengah kuangkat.

“Lintasraya,” ulangku.

“Iya.” Om Benny tersenyum lebar. “Dan saya mau kamu yang pegang.”

“Om.”

“Kamu yang terbaik untuk transaksi lintas negara. Kamu tahu itu.”

“Om, Om tahu kenapa saya nggak bisa pegang klien itu.”

“Karena pacarmu kerja di sana?” Om Benny melambaikan tangan. “Dia di operasional, kamu di pajak. Nggak ada konflik kepentingan. Saya sudah cek ke tim kepatuhan.”

“Bukan itu, Om.”

Om Benny berhenti tersenyum. Ia menatapku lama, dan untuk sesaat, ia bukan lagi pria tua jovial yang suka menyanyikan lagu Bee Gees di acara kantor. Ia Managing Partner yang mendirikan firma ini dari nol pada umur dua puluh tujuh.

“Haris Mulyono,” katanya pelan.

Aku tidak menjawab.

“Kamu ingat wawancara kita? Dua setengah tahun lalu? Kamu bilang kamu baru ditolak untuk posisi Head of Tax di sebuah perusahaan logistik karena terlalu muda. Kamu nggak sebut namanya. Tapi saya tahu siapa yang buka lowongan Head of Tax di gedung ini waktu itu.” Om Benny menyandarkan punggung ke kursinya. “Saya juga pernah ditolak orang seperti dia. Berkali-kali. Umur dua puluh lima, dua puluh enam, dua puluh tujuh. Tahu apa yang saya lakukan?”

“Om bikin firma sendiri.”

“Saya bikin firma sendiri. Lalu, sepuluh tahun kemudian, salah satu orang yang dulu menolak saya datang ke kantor saya untuk minta tolong.” Ia tersenyum lagi, kali ini senyum yang sedikit nakal. “Rasanya sangat menyenangkan, Nadine.”

“Saya nggak mau balas dendam, Om.”

“Saya tahu. Makanya saya pilih kamu.” Ia mendorong kue bolu itu lebih dekat. “Orang yang mau balas dendam akan kerja buruk supaya mereka rugi. Kamu akan kerja sangat bagus sampai mereka malu sendiri. Itu jauh lebih kejam.”

Aku menatap kue bolu pandan itu. Lalu aku mengambilnya.

“Kapan rapat pertamanya, Om?”

“Kamis. Jam sepuluh. Di ruangan mereka.”


Kamis pagi, aku memilih pakaian selama empat puluh menit.

Bukan karena aku tidak tahu harus memakai apa. Karena aku tahu persis, dan aku ingin semuanya sempurna. Akhirnya aku memakai setelan blazer dan celana panjang berwarna abu-abu gelap dengan potongan yang tegas di bahu, kemeja sutra putih gading, anting mutiara, dan jam tangan emas kecil. Rambutku kusanggul rendah dengan sangat rapi, tanpa satu helai pun yang lepas. Lipstik nude kemerahan. Heels hitam tujuh senti.

Setelan ini kubeli setahun lalu, saat dipromosikan menjadi Associate Director. Aku belum pernah memakainya. Aku menyimpannya untuk rapat yang benar-benar penting.

Di depan cermin, aku tidak melihat perempuan dua puluh enam tahun dengan maskara luntur. Aku melihat seseorang yang sudah belajar dari tangga darurat.

Jess menungguku di depan lift dengan dua map tebal dan tablet. Begitu melihatku, ia bersiul pelan.

“Ya Tuhan, Din,” katanya. “Kamu mau rapat atau mau perang?”

“Rapat.”

“Kamu kelihatan kayak mau ngambil alih perusahaan.”

“Bagus,” kataku, lalu masuk ke lift.


Ruang rapat besar Lintasraya ada di ujung sisi timur, berdinding kaca dengan meja kayu panjang untuk dua belas orang. Ketika aku dan Jess masuk pukul sepuluh kurang lima, sebagian besar kursi sudah terisi. CFO mereka, dua orang dari tim keuangan, seorang pengacara perusahaan, dan, di ujung meja paling jauh dekat jendela, Mas Reyhan.

Aku tidak tahu ia akan ada di sini.

Ia sedang membaca dokumen dengan dahi berkerut. Lalu ia mengangkat wajah, melihatku masuk, dan dokumen di tangannya merosot ke meja.

Aku melihat matanya bergerak dari wajahku ke setelan abu-abu gelap itu, ke heels, lalu kembali ke wajahku. Mulutnya sedikit terbuka. Lalu, dengan sangat cepat, ia menunduk ke dokumennya lagi, tapi aku melihat telinganya. Merah. Tentu saja.

Aku tidak tersenyum padanya. Aku tidak boleh. Tapi aku membiarkan mataku bertemu matanya selama satu detik penuh, dan aku tahu ia mengerti.

Lalu pintu terbuka lagi, dan Pak Haris Mulyono masuk.

Ia lebih tua dari yang kuingat. Uban di pelipisnya sudah menjalar ke seluruh kepala. Kacamatanya masih berbingkai tebal. Ia berjalan ke kursi di kepala meja, duduk, membuka map, dan menatap kami dengan ekspresi orang yang sibuk dan ingin rapat ini cepat selesai.

Ia tidak mengenaliku.

Aku sudah menduganya. Dua setengah tahun lalu, aku hanya satu dari puluhan kandidat. Satu wajah dari sekian banyak wajah. Sama seperti aku hanya satu dari sekian banyak orang yang menerima roti dari Mas Reyhan.

Tapi kali ini, aku tidak keberatan tidak dikenali.

“Selamat pagi,” kata Pak Haris. “Dari HTA, siapa yang akan memimpin?”

“Saya, Pak.” Aku menyerahkan kartu namaku di atas meja. “Nadine Valencia, Associate Director.”

Pak Haris melirik kartu itu, lalu wajahku, lalu kembali ke kartu itu. Alisnya terangkat sedikit.

“Associate Director,” ulangnya. “Muda sekali.”

Di ujung meja, aku melihat Mas Reyhan mengangkat wajah dengan cepat.

Aku tersenyum. Senyum tipis dan sopan yang tidak sampai ke mata.

“Terima kasih, Pak,” kataku. “Mari kita mulai dari struktur entitas yang Bapak usulkan. Halaman tiga.”


Rapat itu berlangsung satu setengah jam.

Selama satu setengah jam itu, aku tidak meninggikan suara sekali pun. Aku tidak perlu. Aku hanya membuka dokumen-dokumen yang sudah kupelajari selama tiga malam, dan menunjukkan, dengan tenang, satu demi satu, di mana rencana Lintasraya akan membuat mereka kehilangan uang.

Struktur entitas yang diusulkan Pak Haris akan membuat mereka kena pajak berganda di dua negara. Aku menunjukkan pasal dalam perjanjian pajak Indonesia–Singapura yang bisa mereka gunakan, dan bagaimana mereka seharusnya menyusun ulang kepemilikan saham supaya bisa memanfaatkannya.

“Kami sudah konsultasi dengan pengacara,” kata Pak Haris.

“Pengacara Bapak benar soal hukum perusahaannya, Pak,” kataku. “Tapi bukan soal pajaknya. Halaman tujuh, paragraf dua. Mereka menggunakan tarif yang sudah tidak berlaku sejak tahun lalu.”

Pengacara itu membuka halaman tujuh, membaca, lalu diam-diam mencoret sesuatu dengan pulpen.

Skema harga transfer antara kantor Jakarta dan Singapura yang mereka rancang tidak didukung dokumentasi yang cukup. Kalau diperiksa, mereka bisa kena koreksi besar.

“Ini skema standar,” kata Pak Haris. “Semua perusahaan pakai skema ini.”

“Semua perusahaan yang pakai skema ini tanpa dokumentasi, Pak, akhirnya jadi klien kami di tahap pemeriksaan,” kataku. “Biayanya tiga kali lipat lebih mahal dari kalau dikerjakan benar sejak awal.”

CFO Lintasraya berdeham dan menulis sesuatu dengan cepat.

Lalu rencana penempatan karyawan Indonesia di Singapura, termasuk Operations Lead mereka, yang akan membuat status pajak orang-orang itu tidak jelas di kedua negara.

“Itu urusan HR,” kata Pak Haris, sedikit kurang yakin dari sebelumnya.

“Itu urusan pajak penghasilan karyawan Bapak, Pak,” kataku. “Kalau status mereka tidak jelas, mereka bisa kena pajak di dua negara sekaligus. Saya yakin Bapak tidak ingin Operations Lead Bapak menerima tagihan pajak ganda di tahun pertamanya.”

Aku tidak melirik ke ujung meja. Tapi aku merasakan seseorang di sana menegakkan punggung.

Tiga kali Pak Haris mencoba membantah. Tiga kali aku menjawab dengan pasal, angka, dan halaman. Di kali ketiga, ia berhenti membantah. Ia melepas kacamatanya, memijit pangkal hidungnya, persis seperti dua setengah tahun lalu, dan berkata, “Oke. Oke. Kirimkan rekomendasi lengkapnya ke saya.”

“Senin pagi, Pak.”

“Senin pagi.”

Rapat selesai. Orang-orang mulai membereskan dokumen. Jess menyikutku di bawah meja dengan sangat keras, yang dalam bahasa Jess berarti kamu gila dan aku bangga.

Aku mengangkat wajah, dan akhirnya aku membiarkan diriku melirik ke ujung meja.

Mas Reyhan sedang menatapku.

Ia tidak berusaha menyembunyikannya. Ia hanya duduk di sana, tangannya di atas dokumen yang tidak ia baca sama sekali selama satu setengah jam, dan menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bukan malu. Bukan gugup. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlihat seperti kekaguman yang begitu besar sampai ia lupa harus malu.

Aku merasakan pipiku menghangat untuk pertama kalinya sepanjang rapat.


Pak Haris memintaku tinggal.

“Mbak Nadine. Sebentar.”

Jess melirikku. Aku mengangguk kecil, dan ia keluar membawa map-map kami. Orang-orang lain menyusul. Mas Reyhan berjalan paling akhir, menoleh ke arahku di ambang pintu dengan wajah bertanya, dan aku memberinya senyum kecil yang berarti tidak apa-apa. Ia ragu sebentar, lalu keluar dan menutup pintu.

Tinggal kami berdua di ruang rapat berdinding kaca.

Pak Haris tidak langsung bicara. Ia memasang kembali kacamatanya, lalu menatapku. Lama. Dengan cara yang berbeda dari tadi. Seperti orang yang sedang membongkar laci ingatan.

“Kita pernah ketemu,” katanya. Itu bukan pertanyaan.

“Pernah, Pak.”

“Di ruangan saya.” Ia mengerutkan kening. “Dua... tiga tahun lalu?”

“Dua setengah tahun, Pak.”

“Head of Tax.”

“Iya, Pak.”

Wajahnya berubah. Pelan-pelan, seperti orang yang baru menyadari bahwa tagihan yang ia abaikan selama ini ternyata sudah berbunga.

“Saya bilang kamu terlalu muda,” katanya.

“Bapak bilang tim keuangan Bapak isinya bapak-bapak berumur empat puluh lima ke atas, dan mereka nggak akan dengar saya.”

Pak Haris diam. Lalu ia tertawa, pendek dan pahit. “Hari ini mereka dengar.”

“Hari ini mereka dengar, Pak.”

Ia menatap meja, ke tumpukan dokumen yang penuh coretanku. “Kandidat yang saya pilih waktu itu,” katanya pelan, “keluar setelah delapan bulan. Dia nggak bisa membangun departemen dari nol. Sekarang kami masih pakai konsultan untuk semuanya.” Ia mengangkat wajah. “Termasuk kamu, rupanya.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Saya nggak akan minta maaf,” katanya. “Saya pikir keputusan saya waktu itu masuk akal.”

“Saya mengerti, Pak.”

“Tapi saya salah.”

Aku menatapnya. Pria lima puluhan dengan uban di seluruh kepala dan kacamata berbingkai tebal, yang mengatakan saya salah pada perempuan yang dulu ia tolak, di ruang rapat perusahaannya sendiri. Aku tahu itu tidak mudah. Papa juga tidak pernah mudah mengatakannya.

“Terima kasih, Pak,” kataku. Dan aku benar-benar bermaksud mengucapkannya.

Aku berdiri, merapikan blazer, dan berjalan ke pintu. Saat tanganku sudah di gagang, Pak Haris bicara lagi.

“Mbak Nadine.”

Aku menoleh.

“Reyhan,” katanya. “Dia tahu?”

“Tahu apa, Pak?”

“Bahwa kamu pernah wawancara di sini.”

Aku terdiam. “Belum, Pak.”

Pak Haris mengangguk pelan. Lalu ia melakukan sesuatu yang aneh. Ia tersenyum. Senyum kecil yang lelah, seperti orang tua yang melihat anak muda melakukan kesalahan yang sama yang pernah ia lakukan.

“Anak itu,” katanya, “dulu suka kabur dari rapat saya. Lima menit. Katanya ke toilet.” Ia menggeleng. “Saya nggak pernah tahu dia ke mana.”

Jantungku berhenti sesaat.

“Saya permisi, Pak,” kataku, dan keluar sebelum wajahku sempat mengkhianatiku.


Om Benny menungguku di ruanganku dengan dua gelas kopi dan senyum selebar pintu.

“Jess sudah cerita semuanya,” katanya. “Tiga kali Haris kalah argumen! Tiga kali! Saya mau rekamannya.”

“Nggak ada rekaman, Om.”

“Fikri dari Lintasraya katanya punya.”

Tentu saja Fikri punya.

Om Benny menyerahkan satu gelas kopi padaku dan duduk di kursi tamu. Lalu senyumnya berubah sedikit lebih serius.

“Ngomong-ngomong,” katanya, “ada satu hal lagi. Belum resmi, jadi jangan bilang siapa-siapa dulu.”

“Apa, Om?”

“Kantor kita di Singapura. Associate Director mereka resign bulan lalu. Mereka butuh pengganti, dan mereka butuh orang yang ngerti transaksi Indonesia–Singapura.” Om Benny menyesap kopinya. “Partner di sana sudah nanya ke saya, siapa yang saya rekomendasikan.”

Aku diam. Kopi di tanganku tiba-tiba terasa sangat berat.

“Saya belum jawab,” kata Om Benny. “Saya cuma mau kamu tahu posisinya ada. Mulainya kira-kira dua bulan lagi.”

Dua bulan lagi.

Aku menghitung di kepala tanpa bisa kucegah. Angka itu terlalu dekat dengan angka lain yang kutulis setiap pagi di pojok kanan atas buku biru navy.

“Saya nggak tertarik, Om,” kataku. Terlalu cepat.

Om Benny menatapku lama, dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak orang muda mengucapkan kalimat itu terlalu cepat.

“Oke,” katanya, berdiri. “Saya nggak akan maksa. Tapi pikirkan.”

Ia berjalan keluar. Di ambang pintu, ia menoleh.

“Dan Nadine? Kamu tadi luar biasa. Saya bangga.”

Pintu tertutup.

Aku duduk sendirian di ruanganku, memegang kopi yang mulai dingin, menatap dinding kaca yang menghadap ke timur. Dari celah antara rak dokumen dan pintu pantry, aku bisa melihat ujung meja kerjanya.

Ponselku bergetar.

Mas Lift 3: Aku nggak tahu kamu bisa kayak gitu.

Mas Lift 3: Pak Haris diam. Pak Haris NGGAK PERNAH diam.

Mas Lift 3: Kamu keren banget, Din. Aku nggak bisa konsen kerja dari tadi.

Lalu satu pesan lagi, dua menit kemudian.

Mas Lift 3: Tadi Pak Haris minta kamu tinggal. Kamu nggak apa-apa?

Aku menatap pesan terakhir itu lama. Di tengah semua kekagumannya, ia masih sempat bertanya apakah aku baik-baik saja.

Nadine: Aku baik-baik saja, Mas.

Nadine: Pak Haris cuma bilang dulu kamu suka kabur dari rapatnya. Lima menit. Katanya ke toilet.

Ada jeda panjang.

Mas Lift 3: Kok dia bilang itu ke kamu?

Aku tersenyum dan tidak menjawab.

Aku membuka laci meja, mengambil buku biru navy, dan menulis di bawah angka 57:

Hari ini aku duduk di ruang rapat Pak Haris lagi. Kali ini aku yang bicara, dia yang mendengar.

Mas Reyhan lihat aku dari ujung meja. Tatapannya kayak waktu dia nabrak pintu.

Aku berhenti. Lalu, setelah ragu lama, aku menambahkan satu baris dengan tulisan yang lebih kecil.

Om Benny bilang ada posisi di Singapura.

Aku menatap kalimat itu, lalu menutup buku itu cepat-cepat, seperti menutup pintu dari sesuatu yang belum siap kuhadapi.