← Lima Menit di Lobby

Chapter One

Lima Menit

POV: Rey


“Tiga koma dua persen.”

Fikri mengucapkannya seperti dokter yang membacakan hasil lab jelek. Ia memutar laptopnya ke arahku. Di layar ada grafik batang lengkap dengan legenda warna dan judul huruf kapital: PELUANG DITERIMA — STUDI KASUS MAS REY.

“Kamu bikin ini jam berapa?” tanyaku.

“Jam enam pagi, Mas. Sebelum absen.”

“Dan kamu nggak punya kerjaan lain?”

“Ada. Tapi ini lebih menarik.”

Pantry Bersama Lantai 21 jam delapan pagi biasanya cuma berisi bunyi dispenser dan orang-orang setengah sadar yang menunggu kopi sachet larut. Pagi ini lain. Tiga orang mengepungku di meja bundar dekat jendela, seperti tim sukses yang sedang menyusun strategi kampanye untuk calon yang tidak pernah mendaftar.

“Rey.” Dodi menepuk meja. Dodi selalu menepuk meja kalau mau bicara penting, dan baginya semua hal itu penting. “Dengerin gue. Tiga bulan lagi lo di Singapura. Tiga bulan. Lo mau berangkat bawa perasaan setengah jadi kayak gitu? Kayak laporan bulanan yang nggak pernah lo submit?”

“Laporan bulananku selalu aku submit.”

“Itu perumpamaan, Rey. Jangan dibantah.”

Mbak Sari meletakkan sekotak kue lapis di tengah meja, lalu duduk dengan gaya seorang ketua intelijen yang akan membuka berkas rahasia. Mbak Sari sudah sebelas tahun di Lintasraya. Ia tahu siapa yang pacaran dengan siapa, siapa yang baru cerai, dan siapa yang diam-diam melamar ke perusahaan lain. Kalau gedung ini punya CCTV yang bisa bicara, namanya Mbak Sari.

“Mbak Nadine itu jomblo,” katanya. “Sumber terpercaya.”

“Sumbernya siapa, Mbak?”

“Rahasia. Pokoknya terpercaya.” Ia mengangkat jari satu per satu. “Dua tahun nggak pernah dijemput siapa-siapa. Bunga yang dikirim ke resepsionis HTA, ditolak semua. Ajakan makan siang, ditolak semua. Bahkan anak direktur bank lantai tiga puluh, yang mobilnya bisa buat beli rumah, ditolak. Sopan, tapi ditolak.”

Aku menatap mereka bertiga bergantian. “Terus kalian pikir aku punya peluang di tempat anak direktur bank aja ditolak?”

“Makanya tiga koma dua, Mas,” kata Fikri. “Itu udah saya bulatkan ke atas, lho. Karena Mas orangnya baik.”

“Terima kasih, Fik.”

“Sama-sama, Mas.”

Aku memandang ke luar jendela. Dari sini terlihat Kuningan yang masih berkabut tipis, lalu lintas yang merayap, dan pantulan samar kaca gedung seberang. Di ujung lain lantai ini, di balik pintu kaca bertuliskan Hartono Tax Advisory dengan huruf emas, ada seseorang yang sudah dua tahun membuatku memilih Lift Nomor 3 hanya karena lift itu paling dekat dengan pintu kantornya.

Dua tahun.

Aku masih ingat hari pertama aku melihatnya. Aku baru pulang dari tugas empat bulan di Surabaya, masih bawa koper kecil, masih bau bandara. Ia berjalan menyeberangi lobby dengan blazer hitam dan rambut disanggul rendah, sambil membaca sesuatu di ponselnya. Lalu ia mendongak, entah kenapa, tepat ke arahku.

Aku menabrak pintu kaca.

Bukan pintu yang terbuka. Pintu kaca sebelahnya, yang tidak pernah dibuka sejak gedung ini berdiri. Pak Darto, satpam lobby, memberiku plester bergambar beruang dan berkata, “Kacanya nggak apa-apa, Mas.” Seolah yang perlu dikhawatirkan adalah kacanya.

Sejak itu aku tahu namanya dari papan direktori. Tahu ia Associate Director termuda di HTA dari obrolan pantry. Tahu ia suka kopi hitam tanpa gula karena pernah berdiri di belakangnya di antrean kafe lobby. Itu saja. Dua tahun, dan semua yang kutahu tentangnya bisa ditulis di bagian belakang struk belanja.

Dan ia jelas tidak tahu aku ada. Mungkin.

“Rey,” kata Mbak Sari, lebih pelan sekarang. “Kamu tahu kenapa Mbak dukung ini?”

“Karena Mbak suka drama?”

“Itu alasan kedua.” Ia tersenyum. “Alasan pertama, karena Mbak capek lihat kamu tiap malam pulang paling akhir, nungguin lampu kantor sebelah mati dulu baru turun. Kamu kira nggak ada yang perhatiin?”

Telingaku panas. Aku tahu tanpa perlu cermin bahwa telingaku sudah merah. Telingaku selalu mengkhianatiku lebih cepat dari mulutku.

“Itu... kebetulan.”

“Dua tahun kebetulan,” kata Dodi. “Wah, rajin banget kebetulannya.”

Aku menghela napas panjang. Lalu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar memikirkannya.

Tiga bulan lagi aku berangkat. Pak Haris sudah bilang dengan jelas: cabang Singapura butuh orang yang mengerti operasional dari nol, dan itu aku. Kontrak dua tahun, bisa diperpanjang. Kalau aku diam, aku akan pergi dengan perasaan yang menggantung seperti jemuran yang lupa diangkat sebelum hujan. Kalau aku bicara dan ditolak, yah, tiga bulan lagi aku pergi juga. Setidaknya aku tidak perlu bertemu dia di lift setiap pagi sambil pura-pura tidak patah hati.

Ditolak itu pasti. Seratus persen. Tapi ditolak itu jelas. Menggantung itu tidak pernah selesai.

“Oke,” kataku.

Ketiganya berhenti bergerak.

“Oke apa?” tanya Dodi hati-hati.

“Oke. Aku ngomong ke dia.”

Dodi berdiri dan memelukku sampai kursiku bergeser. Mbak Sari bertepuk tangan kecil. Fikri langsung mengetik sesuatu di laptopnya.

“Ngapain kamu, Fik?”

“Update data, Mas. Variabel keberanian naik. Peluang tetap tiga koma dua, tapi sekarang ada datanya.”


Sisa hari itu adalah bencana kecil yang panjang.

Aku membaca ulang email yang sama empat kali tanpa mengerti isinya. Aku menelepon vendor gudang di Cikarang dan lupa kenapa aku menelepon. Jam dua siang, aku mengirim email ke Pak Nanang dari bagian armada yang dibuka dengan kalimat Dengan hormat, Nadine.

Pak Nanang membalas tiga menit kemudian: Siapa Nadine, Pak Rey? Saya Nanang.

Fikri, yang entah bagaimana selalu tahu, muncul di belakang kursiku. “Peluang Mas dipecat sebelum confess: dua belas persen.”

“Kamu bisa kerja nggak, sih?”

“Ini kerja, Mas. Analisis risiko.”

Menurut intel Mbak Sari, Nadine biasanya turun sekitar pukul delapan lewat. Kadang setengah sembilan. Jadi jam tujuh aku sudah di lobby, pura-pura membaca ponsel di sofa kulit dekat pot monstera besar yang daunnya selebar payung. Jam tujuh lewat lima belas, aku ke minimarket di pojok lobby dan membeli dua bungkus roti sobek cokelat. Kebiasaan. Aku selalu beli dua, satu untukku dan satu untuk jaga-jaga. Biasanya yang jaga-jaga itu berakhir di tangan orang lain: OB yang belum makan, kurir yang menunggu tanda tangan, anak magang yang menangis di toilet karena dimarahi atasan.

Aku tidak tahu kenapa aku membelinya malam ini. Mungkin karena tanganku butuh sesuatu untuk dipegang selain keringat.

“Tumben belum pulang, Mas Rey.” Pak Darto berdiri di balik meja keamanannya, seragam biru tuanya rapi seperti biasa.

“Nunggu orang, Pak.”

“Oh.” Pak Darto mengangguk pelan. Terlalu pelan. “Semoga lancar, Mas.”

“Lancar apa, Pak?”

“Nunggunya, Mas.”

Aku menatapnya. Ia menatap layar CCTV. Wajahnya datar seperti tembok lobby.

Jam delapan, lobby sudah hampir kosong. Lampu-lampu gantung kristal menyala separuh, memantul di lantai marmer krem yang baru dipel. Suara langkah petugas kebersihan terdengar jauh. Dari sudut mata, aku melihat sepasang sepatu pantofel cokelat yang sangat kukenal mengintip di balik pot monstera. Itu sepatu Dodi. Di sebelahnya, ujung rok batik Mbak Sari. Dan di sebelahnya lagi, cahaya biru layar laptop.

Fikri bawa laptop. Untuk mengintip. Tentu saja.

Jam delapan empat puluh tujuh, lift berdenting.

Pintu Lift Nomor 3 terbuka, dan ia keluar.

Aku sudah melihatnya ratusan kali dalam dua tahun, dan setiap kali rasanya tetap sama: seperti seseorang mematikan suara di sekitarku. Ia memakai blazer krem dengan potongan tegas yang membuat bahunya terlihat lurus dan percaya diri, celana panjang hitam, dan heels tujuh senti yang bunyinya bergema pelan di marmer. Rambut hitamnya disanggul rendah di tengkuk, tapi setelah seharian bekerja, beberapa helai lepas dan jatuh di sisi lehernya. Kulitnya kuning langsat cerah, bersih di bawah lampu kristal yang kekuningan. Ada anting mutiara kecil di telinganya dan jam tangan emas yang mungil di pergelangan kirinya.

Wajahnya oval dengan garis rahang halus. Matanya berbentuk almond, sedikit sayu, seperti orang yang selalu sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih pintar dari obrolan di sekitarnya. Bibirnya tipis, berwarna nude kemerahan.

Ia bukan cantik yang berisik. Ia cantik yang membuat ruangan menjadi tenang.

Kakiku berdiri sendiri sebelum otakku memberi izin.

“Permisi,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kurencanakan. “Mbak Nadine?”

Ia berhenti. Menoleh. Matanya bergerak dari wajahku, turun ke tanganku yang memegang dua bungkus roti, lalu kembali ke wajahku. Ia memandang roti itu satu detik lebih lama dari yang kuduga.

“Iya?” Suaranya rendah dan tenang.

“Saya Rey. Dari Lintasraya. Kantor sebelah.” Aku menunjuk ke atas, ke langit-langit, seolah lantai 21 ada di sana dan bukan dua puluh satu lantai jauhnya. “Boleh saya minta waktu lima menit? Cuma lima menit. Habis itu Mbak boleh pulang, dan boleh lupa saya pernah ada.”

Ia melirik jam tangannya, lalu kembali menatapku. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Tidak heran, tidak terganggu, tidak bosan. Ekspresi orang yang biasa memimpin rapat dan tidak pernah kaget oleh pertanyaan apa pun.

“Lima menit,” ulangnya.

“Iya.”

“Silakan.”

Aku menarik napas. Kalimat yang sudah kususun sejak siang, yang kulatih di toilet dua kali dan di tangga darurat sekali, menguap begitu saja. Yang tersisa hanya kejujuran, dan kejujuran ternyata tidak punya struktur paragraf yang rapi.

“Saya tahu Mbak nggak kenal saya,” kataku. “Itu wajar. Saya juga bukan orang yang gampang diingat. Tapi saya sudah... dua tahun ini, setiap pagi, saya naik lift yang sama dengan Mbak. Kadang. Kalau beruntung. Dan saya cuma mau bilang, sebelum saya pergi. Tiga bulan lagi saya dipindah ke Singapura, jadi saya nggak akan ganggu lama-lama. Saya cuma nggak mau berangkat dengan perasaan yang nggak pernah saya ucapkan.”

Ia diam. Mendengarkan. Tatapannya tidak beralih sedikit pun.

“Saya suka sama Mbak.” Kata-kata itu terasa aneh di mulutku, terlalu sederhana untuk dua tahun. “Sudah lama. Dan saya tahu ini mendadak, dan saya tahu jawabannya, jadi Mbak nggak perlu merasa nggak enak. Tapi kalau... kalau boleh, saya mau tanya. Mbak mau nggak jadi pacar saya?”

Pacar. Ya Tuhan. Seperti anak SMA. Aku tiga puluh tahun dan aku bilang pacar seperti sedang menembak di depan kantin.

Ia menjawab. Cepat, pelan, dan tanpa jeda.

Tapi otakku sudah memutuskan jawabannya jauh sebelum ia membuka mulut. Otakku sudah menulis naskahnya, menyiapkan wajah tegar, menyusun kalimat penutup yang sopan. Jadi suaranya masuk ke telingaku sebagai bunyi saja, seperti pengumuman bandara dalam bahasa yang tidak kumengerti.

“Oke,” kataku, dan aku tersenyum karena orang yang ditolak dengan sopan sebaiknya tersenyum. “Terima kasih banyak, Mbak. Maaf mengganggu waktunya.”

Aku mengangguk kecil, berbalik, dan berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu kakiku berhenti, karena di kepalaku, suaranya diputar ulang. Pelan-pelan. Kata demi kata, seperti rekaman yang baru selesai di-buffer.

Iya.

Aku.

Mau.

Aku berdiri mematung di tengah lobby. Pak Darto di meja keamanan berhenti menyesap teh. Petugas kebersihan di ujung lorong berhenti mengepel.

Pelan-pelan, sangat pelan, aku berbalik.

Ia masih berdiri di tempat yang sama. Satu tangannya menutup mulut, dan matanya melengkung. Bahunya sedikit bergetar. Ia sedang menahan tawa.

“Tadi,” kataku. Suaraku keluar seperti orang yang baru bangun tidur. “Mbak bilang apa?”

Ia menurunkan tangannya. “Aku bilang iya.”

“Iya... yang artinya iya?”

“Iya yang artinya iya, Mas.”

Di belakangku, terdengar suara BRAK yang sangat keras.

Pot monstera besar itu roboh ke lantai, tanah dan daunnya berhamburan. Di baliknya, tiga orang dewasa terkapar tumpang-tindih seperti adegan kecelakaan dalam film kartun. Dodi di bawah, Mbak Sari di atas Dodi, dan Fikri memeluk laptopnya seperti menyelamatkan bayi dari kebakaran.

Pak Darto berjalan menghampiri dengan tenang dan memungut pot itu. “Hati-hati, Mas Dodi. Itu pot inventaris gedung.”

“Maaf, Pak,” kata Dodi dari lantai. “Saya kepeleset.”

“Bertiga, Mas?”

“Kepelesetnya kompak, Pak.”

Aku menoleh kembali ke Nadine, menunggu wajah kesal, wajah risih, wajah yang berkata jadi ini lelucon kantor kalian. Tapi ia hanya melirik tumpukan manusia di lantai dengan tenang, seperti melihat cuaca, lalu menatapku lagi.

Dan ia tersenyum.

Aku belum pernah melihatnya tersenyum dari sedekat ini. Senyumnya kecil, sedikit miring, dan mengubah seluruh wajahnya. Ketegasan di matanya meleleh menjadi sesuatu yang lembut. Dan saat ia tersenyum, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat selama dua tahun mencuri pandang dari jauh: tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Begitu kecil sampai hanya terlihat dari jarak satu meter.

Satu meter. Aku berada satu meter dari Nadine Valencia, dan ia baru saja bilang mau jadi pacarku.

“Kok mau?” Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa saringan. Pertanyaan paling bodoh yang bisa diajukan seseorang yang baru saja diterima.

Nadine tertawa. Bukan tawa sopan. Tawa betulan, pendek dan renyah, yang membuat Pak Darto ikut tersenyum di balik pot yang sedang ia tegakkan.

Ia tidak menjawab pertanyaanku.

“Besok makan siang, ya,” katanya, sambil merapikan tali tasnya di bahu. “Jam dua belas. Jangan telat.”

“Iya. Siap. Jam dua belas.”

Ia berjalan menuju pintu keluar, heels-nya kembali berbunyi pelan di marmer. Di depan pintu kaca, pintu yang benar, bukan pintu yang pernah kutabrak, ia berhenti dan menoleh ke belakang. Lampu jalan dari luar membuat siluetnya terlihat seperti potongan iklan parfum.

“Selamat malam, Mas Reyhan.”

Lalu ia pergi.

Aku berdiri di sana lama sekali. Dodi bangun, Mbak Sari bangun, Fikri memeriksa laptopnya. Mereka mulai berteriak, menepuk punggungku, memelukku, bicara bersamaan. Fikri bilang ia harus menghitung ulang semua modelnya dari awal.

Tapi aku tidak mendengar mereka.

Karena aku baru menyadari sesuatu.

Tadi aku memperkenalkan diri sebagai Rey.

Aku tidak pernah bilang namaku Reyhan.