Chapter Fifteen
Kecup di Kening
POV: Rey
Aku tidak bisa berhenti memikirkan rapat hari Kamis.
Bukan karena isinya. Sejujurnya, aku hanya mengerti sekitar enam puluh persen dari yang dibahas, dan itu pun sebagian besar bagian yang menyangkut namaku. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya karena wajah Nadine selama satu setengah jam itu. Tenang, jernih, tajam seperti pisau bedah. Pak Haris, yang biasanya bisa membuat seluruh ruangan diam dengan satu helaan napas, terdiam tiga kali. Pengacara perusahaan yang dibayar mahal itu mencoret dokumennya sendiri.
Dan di tengah semua itu, ia menyebut namaku. Tidak langsung. Operations Lead Bapak. Tagihan pajak ganda di tahun pertama. Ia membela aku di depan Pak Haris, dengan bahasa pasal-pasal yang tidak kupahami, untuk masalah yang bahkan belum kuketahui ada.
Jumat pagi, Fikri memutar rekaman rapat itu di laptopnya untuk ketiga kalinya, dengan volume keras, dikelilingi enam orang dari tim keuangan Lintasraya yang menonton seperti menonton final sepak bola.
“Semua perusahaan yang pakai skema ini tanpa dokumentasi, Pak, akhirnya jadi klien kami di tahap pemeriksaan,” suara Nadine terdengar dari speaker laptop.
“UUUUH,” kata tim keuangan serempak.
“Fik, kamu dapat rekaman itu dari mana?” tanyaku.
“Saya duduk di luar ruang rapat, Mas. Pura-pura benerin printer.”
“Printernya rusak?”
“Sekarang iya, Mas. Saya kebanyakan pencet tombol.”
Mbak Sari menepuk bahuku dari belakang. “Rey. Kamu tahu artinya ini?”
“Apa, Mbak?”
“Artinya kamu pacaran sama orang paling menakutkan di gedung ini.” Ia menyeringai. “Dan dia baik banget sama kamu. Itu kombinasi paling beruntung di dunia.”
Aku tersenyum. Tapi ada sesuatu yang menusuk di bawah senyum itu, dan aku tidak tahu persis apa.
Siangnya, aku mengetuk pintu ruangan Pak Haris.
Aku tidak tahu persis kenapa aku ke sana. Mungkin karena pesan Nadine semalam. Pak Haris cuma bilang dulu kamu suka kabur dari rapatnya. Lima menit. Katanya ke toilet. Aku sudah membaca kalimat itu dua puluh kali. Kenapa Pak Haris membicarakan aku dengan Nadine? Dan kenapa soal kabur dari rapat?
Memang benar, aku dulu sering kabur. Kebiasaan lama dari tahun-tahun pertamaku, ketika rapat Pak Haris bisa berlangsung tiga jam dan aku butuh lima menit untuk bernapas. Aku biasanya ke tangga darurat, atau ke pantry, atau berdiri saja di depan lift. Aku sudah lama berhenti. Sejak kembali dari Surabaya, kurasa.
“Masuk.”
Pak Haris sedang membaca dokumen tebal. Rekomendasi HTA, aku mengenali sampulnya. Ada banyak coretan stabilo kuning di halaman yang terbuka.
“Pak, maaf ganggu. Saya cuma mau tanya soal kemarin.”
“Soal rapat?”
“Soal...” Aku berdeham. “Bapak minta Nadine tinggal setelah rapat.”
Pak Haris meletakkan dokumennya. Menatapku dari balik kacamata tebalnya. Lalu, untuk pertama kalinya selama lima tahun aku bekerja di bawahnya, ia terlihat tidak nyaman.
“Itu urusan saya dengan konsultan, Rey.”
“Iya, Pak. Saya cuma...” Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimat itu.
Pak Haris menghela napas panjang. Ia melepas kacamatanya, memijit pangkal hidung.
“Saya pernah bikin kesalahan besar sama pacarmu,” katanya.
Aku membeku. “Kesalahan apa, Pak?”
“Tanya dia sendiri.”
“Pak...”
“Itu bukan urusan operasional, Rey.” Ia memasang kembali kacamatanya dan mengambil dokumen itu lagi, tanda percakapan sudah selesai. Tapi saat aku sudah di ambang pintu, ia bicara lagi, tanpa mengangkat wajah.
“Dan Rey. Jaga dia baik-baik.”
Aku menoleh, tapi ia sudah kembali membaca.
Aku berjalan ke mejaku dengan kepala penuh. Di halaman belakang buku agenda, aku menulis petunjuk nomor sepuluh.
10. Pak Haris pernah bikin kesalahan besar sama Nadine. Kapan? Kenapa? Pak Haris bahkan bilang “jaga dia”. Pak Haris NGGAK PERNAH bilang hal kayak gitu.
Lalu, di bawahnya:
Sebelum Surabaya. Dia bilang kami ketemu sebelum Surabaya. Di gedung ini. Aku kasih dia sesuatu.
Aku menatap tulisan itu lama. Lalu aku menulis daftar semua hal yang pernah kuberikan pada orang asing di gedung ini sebelum aku berangkat ke Surabaya. Charger. Payung, tiga kali. Jaket. Air mineral untuk bapak kurir. Uang parkir untuk ibu-ibu yang dompetnya ketinggalan. Roti. Banyak roti.
Daftarnya terlalu panjang. Dan tidak ada satu pun wajah yang muncul di ingatanku.
Jumat sore, tim HTA dan Lintasraya mengadakan sesi kerja bersama untuk dokumen Singapura. Ruang rapat besar penuh kertas, laptop, dan gelas kopi. Nadine memimpin dari satu sisi meja, Pak Haris dari sisi lain, dan selama empat jam, aku belajar lebih banyak tentang pajak internasional daripada seumur hidupku.
Sesi itu selesai pukul sembilan malam. Semua orang keluar dengan wajah lelah dan mata merah. Nadine yang terakhir membereskan dokumen, dan ketika ia akhirnya berdiri, ia sedikit limbung.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Capek,” katanya. Satu kata saja. Tidak ada teka-teki, tidak ada godaan. Hanya capek.
“Aku antar pulang.”
Kami turun ke basement B2. Avanza-ku menunggu di tempat biasa, di bawah lampu neon yang berkedip, di sebelah pilar tiga yang kosong karena Porsche putih itu sudah pergi.
Aku memutar kunci. Mesinnya batuk sekali. Dua kali. Lalu mati.
Aku memutar lagi. Hanya bunyi klik klik klik yang menyedihkan.
“Mas,” kata Nadine pelan dari kursi penumpang. “Mobilmu kenapa?”
“Aki,” kataku, menyandarkan dahi ke setir. “Akinya soak. Sudah dua minggu aku mau ganti.”
“Kenapa nggak diganti?”
“Uangnya kepakai buat restoran rooftop yang tutup.”
Nadine menatapku. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang lelah tapi tulus. “Itu nggak lucu, Mas.”
“Kamu ketawa.”
“Aku ketawa karena capek.”
Pak Darto muncul lima menit kemudian dengan senter dan kabel jumper. Ia mencoba menyalakan mobilku dengan aki mobil satpam, mencoba mendorong bersama dua petugas parkir, lalu akhirnya menyerah.
“Besok pagi saya panggil bengkel, Mas,” katanya. “Malam ini naik taksi aja.”
“Maaf, Pak, jadi repot.”
“Saya cuma satpam, Mas.” Pak Darto menyeka keringat di dahinya. Lalu ia melirik Nadine, yang berdiri bersandar di pilar dengan mata setengah terpejam. “Tapi Mbak-nya antar sampai rumah, ya, Mas. Jangan dibiarin pulang sendiri. Sudah kecapekan begitu.”
Taksi online itu Toyota hitam dengan pengharum mobil rasa vanila yang terlalu kuat dan sopir berusia empat puluhan yang memutar lagu-lagu pop lawas dengan volume pelan.
Aku memberikan alamat Nadine dulu, lalu alamat kosku. Nadine duduk di sebelahku di kursi belakang, kepalanya bersandar di jendela. Lampu-lampu jalan Kuningan bergeser di wajahnya. Ia sudah melepas blazer abu-abunya dan memeluknya di pangkuan. Sanggulnya yang sejak pagi rapi sempurna sekarang mulai longgar, dan beberapa helai rambut jatuh di pipinya.
Ia terlihat sangat lelah. Dan, entah bagaimana, tetap sangat cantik. Bulu matanya yang panjang menyentuh pipi setiap kali ia berkedip lambat. Bibirnya, yang lipstiknya sudah memudar setelah empat jam rapat, sedikit terbuka. Di bawah mata kirinya, tahi lalat kecil itu terlihat jelas setiap kali lampu jalan melintas.
Di lampu merah pertama, kepalanya bergeser dari jendela.
Di lampu merah kedua, kepalanya jatuh pelan ke bahuku.
Aku membeku. Seperti biasa.
Ia tidak bangun. Napasnya pelan dan teratur. Satu tangannya, yang tadinya memeluk blazer, merosot dan mendarat di atas tanganku di jok mobil. Jari-jarinya hangat dan lemas.
Aku tidak bergerak sama sekali. Aku bahkan berusaha bernapas sepelan mungkin supaya bahuku tidak naik-turun terlalu banyak. Sopir taksi melirik lewat kaca spion, melihat kami, lalu dengan sangat pengertian mengecilkan volume radio.
Rambutnya wangi persik, sama seperti di dapur Sabtu kemarin. Kepalanya terasa ringan di bahuku, dan entah bagaimana sekaligus sangat berat, seperti sesuatu yang sangat berharga yang dititipkan padaku tanpa aku memintanya.
Aku menunduk dan menatap wajahnya.
Hari ini ia membongkar rencana yang dibuat direktur dengan pengalaman dua puluh lima tahun. Kemarin ia membuat Pak Haris mengakui sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Minggu lalu ia membuat lima orang turun sebelas lantai lewat tangga dengan satu tatapan. Ia Associate Director termuda di firmanya. Ia bisa memilih siapa pun di gedung ini. Ia menolak CEO dengan Porsche putih, anak direktur bank di lantai tiga puluh, dan entah berapa banyak lagi yang tidak kuketahui.
Dan sekarang ia tertidur di bahu laki-laki dengan Avanza yang akinya soak.
Pikiran itu datang pelan, seperti air yang merembes dari celah dinding.
Dia akan baik-baik saja tanpa aku.
Orang seperti dia selalu baik-baik saja. Ia sudah baik-baik saja sebelum aku menyatakan perasaan di lobby. Ia akan baik-baik saja setelah aku naik pesawat ke Singapura. Ia punya karier yang bersinar, sahabat yang menyayanginya, bos yang bangga padanya, dan, kalau ia mau, antrean panjang laki-laki yang jauh lebih pantas dari aku.
Aku hanya lima puluh enam hari dalam hidupnya.
Lima puluh enam hari, lalu ia akan kembali ke kehidupan yang sudah ia bangun dengan sangat baik sebelum aku datang. Dan mungkin, itu lebih baik. Mungkin aku tidak seharusnya menjadi alasan ia menunggu. Ia sudah terlalu lama menunggu sesuatu yang, sampai sekarang, aku bahkan tidak bisa ingat.
Tanganku bergerak sendiri. Aku menyingkirkan helai rambut yang jatuh di pipinya, pelan sekali, menyelipkannya ke belakang telinga. Ia bergumam sesuatu dalam tidurnya, lalu bergeser sedikit lebih dekat, wajahnya hampir terbenam di leherku.
Lalu, sebelum aku sempat berpikir, sebelum aku sempat takut, aku menunduk dan mencium keningnya.
Pelan. Ringan. Hanya sebentar. Bibirku menyentuh kulitnya yang hangat di bawah garis rambut, dan aku mencium wangi persik dan sedikit wangi kertas dari empat jam di ruang rapat.
Aku menarik diri. Ia tidak bangun. Napasnya tetap teratur.
Tapi tangannya di atas tanganku bergerak. Jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku dan menggenggam. Lemah, setengah sadar.
“Mas,” gumamnya. Sangat pelan. Matanya masih terpejam.
“Iya?”
“Jangan ke mana-mana.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Tenggorokanku tersumbat sesuatu yang besar.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Napasnya kembali teratur. Ia tertidur lagi, atau mungkin memang tidak pernah bangun.
Aku menatap jalanan di depan, lampu-lampu yang bergeser, dan menggenggam tangannya kembali.
Jangan ke mana-mana.
Lima puluh enam hari lagi aku akan pergi. Dan ia tahu itu. Ia selalu tahu angkanya.
Taksi berhenti di depan apartemennya pukul sepuluh lewat dua puluh. Aku membangunkannya pelan. Ia membuka mata, bingung, lalu sadar di mana kepalanya bersandar, dan langsung duduk tegak dengan pipi memerah.
“Aku ketiduran?”
“Sedikit.”
“Berapa lama?”
“Dua puluh menit.”
Ia menyentuh rambutnya yang berantakan, lalu menatap bahu kemejaku. Ada sedikit bekas lipstik yang memudar di sana. Ia menatapnya, lalu menatapku, dan wajahnya memerah lebih dalam.
“Maaf. Kemejamu.”
“Nggak apa-apa.”
“Itu bekas lipstik, Mas.”
“Aku tahu,” kataku. “Nggak akan aku cuci.”
Ia tertawa, pendek dan malu, lalu mendorong bahuku pelan. Ia membuka pintu taksi, keluar, lalu menunduk ke jendela sebelum menutupnya.
“Mas.”
“Iya?”
“Tadi aku ngomong sesuatu waktu tidur?”
Aku menatapnya. Lampu lobi apartemennya menyinari wajahnya dari belakang, dan rambutnya yang setengah lepas bergerak ditiup angin malam.
“Nggak,” kataku. “Kamu nggak ngomong apa-apa.”
Ia menatapku sebentar, seperti sedang membaca sesuatu di wajahku. Lalu ia tersenyum, kecil dan lelah.
“Oke. Selamat malam, Mas.”
“Selamat malam, Din.”
Pintu taksi tertutup. Aku melihatnya berjalan ke lobi apartemen, menoleh sekali dan melambai, lalu menghilang ke dalam lift.
Sopir taksi melirik ke kaca spion. “Pacarnya, Mas?”
“Iya, Pak.”
“Cantik banget, Mas.”
“Iya, Pak.”
“Mas beruntung.”
Aku memandang ke luar jendela. “Iya, Pak. Saya tahu.”
Taksi bergerak. Sepuluh menit kemudian, di depan kosku, aplikasi taksi di ponselku berbunyi. Sebuah notifikasi kecil.
Pengemudi telah memberi Anda rating ★★★★★. Komentar: “Romantis. Semoga langgeng, Mas.”
Aku menatap layar ponsel itu lama sekali di depan pagar kos.
Lalu aku membuka buku agenda dan menulis sesuatu di bawah petunjuk nomor sepuluh. Bukan petunjuk. Sesuatu yang lain.
Dia bilang “jangan ke mana-mana” waktu tidur.
Aku bilang dia nggak ngomong apa-apa.
Aku tidak tahu kenapa aku berbohong padanya. Mungkin karena aku tidak punya jawaban yang bisa kuberikan. Mungkin karena aku tidak ingin ia ingat bahwa ia pernah memintanya, kalau nanti aku tetap harus pergi.
Atau mungkin, sebagian kecil dari diriku yang selalu mempersilakan orang lain duluan sudah mulai berpikir bahwa yang terbaik untuknya adalah tidak terlalu bergantung pada sesuatu yang akan berakhir.
Aku menutup buku agenda itu, dan tidak mau memikirkannya lebih jauh.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening reading
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup