Chapter Sixteen
Operasi Gabungan
POV: Rey
Semuanya terbongkar karena Dodi lupa mengunci layar ponselnya.
Senin pagi, pukul delapan lewat lima belas. Dodi meletakkan ponselnya di mejaku, layar menghadap ke atas, lalu pergi ke pantry untuk mengisi botol minum. Ia selalu melakukan itu. Ia selalu meletakkan barang-barangnya di mejaku seolah mejaku adalah loker umum.
Ponsel itu bergetar. Layarnya menyala. Notifikasi WhatsApp muncul di bagian atas.
Aku tidak bermaksud membaca. Sungguh. Tapi nama grupnya tertulis dengan huruf yang cukup besar, dan nama grup itu membuatku berhenti bernapas.
PROYEK LANTAI 21 🔒
Jess: Din curiga. Dia interogasi aku Sabtu. Aku bilang baru 2 minggu.
Jess: Dia nggak percaya.
Jess: Dodi tolong jangan panggil aku Yang di depan umum lagi 😭
Aku menatap layar itu. Ponsel itu bergetar lagi.
Pak Darto: Mas Dodi, mobil Mas Rey sudah diambil bengkel. Akinya baru. Saya yang bayar dulu, nanti diganti.
Mbak Sari: Pak Darto baik banget 🥹
Tari: Laporan: Bu Nadine pagi ini pakai blazer navy, anting mutiara, rambut setengah digerai. Senyum di lift 2x. Data terlampir.
Aku tidak menyentuh ponsel itu. Tapi aku juga tidak bisa berhenti menatapnya. Layar meredup, lalu menyala lagi.
Pak Kumis: Mbak Nadine kemarin bungkus 2. Biasanya 1. Apa Mas Rey sakit?
Pak Kumis. Pak Kumis ada di grup itu.
Dodi kembali dari pantry dengan botol minum penuh, bersiul. Ia melihat wajahku. Lalu melihat ponselnya di meja, layar menyala, dengan notifikasi yang masih terpampang.
Siulannya berhenti.
“Rey,” katanya pelan.
“Proyek Lantai 21,” kataku.
“Rey, gue bisa jelasin.”
“Pak Kumis, Dod.”
“Pak Kumis itu anggota kehormatan.”
“Kenapa tukang lele jadi anggota kehormatan grup rahasia tentang aku?”
Dodi menatap langit-langit, seolah berharap langit-langit akan memberinya jawaban. Langit-langit tidak menjawab.
“Pantry,” katanya akhirnya. “Jam dua belas. Gue kumpulin semua.”
Pukul dua belas tepat, Pantry Bersama berisi tujuh orang dan suasana sidang pengadilan.
Aku duduk di satu sisi meja bundar dengan tangan terlipat. Di seberangku, berjajar seperti terdakwa: Dodi, Jess, Mbak Sari, Tari, dan Fikri. Pak Darto tidak hadir karena masih tidur setelah jaga malam, tapi Dodi bersumpah ia sudah minta izin untuk “diwakili”. Pak Kumis tidak hadir karena sedang menggoreng.
Dan di sebelahku, dengan blazer navy, anting mutiara, dan rambut setengah digerai persis seperti laporan Tari, duduk Nadine. Wajahnya sedingin AC ruang server. Ia belum mengucapkan satu kata pun sejak masuk.
Aku melirik Jess. Jess sedang berkeringat.
“Oke,” kataku. “Dari awal.”
Semua orang menatap Dodi. Dodi menatap Jess. Jess menatap meja.
“Dari awal,” ulang Nadine. Suaranya pelan. Pelan sekali. Fikri menggigil.
Jess menarik napas panjang. “Oke. Oke. Sepuluh bulan lalu...”
“Sepuluh bulan,” ulang Nadine.
“...sepuluh bulan lalu, aku nemu buku biru di meja kamu, Din. Aku nggak baca! Aku cuma lihat sampulnya. Terus kamu panik banget masukin ke laci, dan aku jadi curiga. Terus aku perhatiin kamu. Dan aku sadar kamu selalu, selalu, lihat ke arah kantor Lintasraya kalau lagi mikir.”
Nadine tidak bereaksi. Tapi aku melihat jari-jarinya di atas meja mengepal sedikit.
“Terus aku ke pantry,” lanjut Jess, “dan aku lihat Dodi.”
“Dan gue,” sambung Dodi cepat, “lagi ngeluh ke Mbak Sari soal lo, Rey. Soal lo yang tiap malam pulang paling akhir, nunggu lampu kantor sebelah mati. Dan Jess dengar.”
“Dan aku tanya Dodi, ‘Lampu kantor sebelah? Maksudnya lampu ruangan siapa?’” kata Jess. “Dan Dodi bilang, ‘Ruangan paling ujung. Yang Associate Director itu.’”
“Terus kami lihat-lihatan,” kata Dodi.
“Lama,” kata Jess.
“Terus kami bikin grup,” kata Dodi.
“Terus kami makan siang bareng buat koordinasi,” kata Jess.
“Terus makan malam,” kata Dodi.
“Terus...” Jess berhenti. Wajahnya memerah.
“Terus kalian pacaran,” kata Nadine.
Hening.
“Delapan bulan,” kata Dodi akhirnya, dengan suara kecil yang belum pernah kudengar keluar dari mulutnya. “Kami pacaran delapan bulan.”
“Kamu bilang dua minggu, Jess.”
“Aku panik, Din!”
“Delapan bulan,” kata Nadine, menoleh ke sahabatnya, “dan kamu nggak bilang apa-apa ke aku.”
“Kamu juga nggak bilang apa-apa ke aku soal buku biru itu selama dua tahun!” balas Jess. “Aku tahu dari Pak Darto!”
Nadine membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Mbak Sari menyela dengan tenang, seperti hakim yang mengambil alih sidang yang mulai kacau. “Intinya begini, Rey. Kami semua lihat kalian berdua. Kamu yang nunggu lampu kantornya mati. Dia yang selalu pulang lima menit sebelum kamu, supaya kamu nggak nunggu terlalu lama. Kamu yang selalu naik Lift Tiga. Dia yang selalu atur jadwal biar kadang-kadang satu lift sama kamu. Kalian berdua kayak dua orang yang berdiri di dua sisi pintu, sama-sama nunggu yang lain buka duluan.”
Aku menatap Nadine. Nadine menatap meja.
Dia yang selalu pulang lima menit sebelum kamu, supaya kamu nggak nunggu terlalu lama.
Buku hijau Pak Darto. N — 21.05. R — 21.12. Selalu N lebih dulu.
“Jadi kami bikin rencana,” kata Fikri, mengangkat laptopnya sedikit, seperti mengangkat barang bukti. “Saya bikin modelnya. Variabelnya banyak, Mas. Jam pulang, jadwal lift, pola pantry...”
“Kamu yang bikin grafik tiga koma dua persen itu.”
“Itu untuk motivasi, Mas,” kata Fikri. “Angka aslinya delapan puluh tujuh.”
Aku menatapnya. “Delapan puluh tujuh?”
“Saya nggak bisa kasih tahu Mas angka itu. Nanti Mas nggak berani. Mas itu kebalikan dari orang normal. Makin kecil peluangnya, Mas makin berani, karena Mas sudah siap ditolak.”
Ia benar. Aku membencinya karena ia benar.
“Lobby malam itu,” kataku pelan. “Lobby yang sepi. Itu juga...”
“Pak Darto minta petugas kebersihan selesai lebih awal,” kata Mbak Sari. “Pintu samping ditutup jam delapan. Lampu kristal dinyalain setengah, biar suasananya romantis. Itu ide Tari.”
“Saya nonton banyak drama Korea, Mas,” kata Tari, dengan bangga yang aneh.
“Dan aku,” kata Jess pelan, akhirnya mengangkat wajah dan menatap Nadine langsung, “jam tiga sore masuk ke ruanganmu dan bilang dia mau nembak malam itu. Supaya kamu nggak pulang jam tujuh kayak biasanya kalau Jumat.”
Nadine menoleh perlahan ke arah sahabatnya.
“Kamu yang suruh Dodi suruh dia nembak,” katanya. Itu bukan pertanyaan.
Jess menelan ludah. Lalu, dengan keberanian yang tiba-tiba, ia mencondongkan tubuh ke depan.
“Iya. Aku yang suruh,” katanya. “Karena kamu, Din, mau nunggu sampai hari terakhirnya. H-1. Di tangga darurat. Aku tahu rencanamu. Kamu tulis di notes, empat belas draft, dan aku lihat waktu kamu lupa logout dari laptop kantor.” Suara Jess bergetar. “Kamu mau ngaku di hari terakhir, terus biarin dia pergi besoknya. Kamu mau kasih dia satu hari, Din. Satu hari, setelah dua tahun. Aku nggak tega.”
Pantry hening sepenuhnya. Dispenser bahkan tidak berbunyi.
Aku menatap Nadine.
Ia tidak menatap siapa pun. Ia duduk tegak, wajahnya tenang, tapi matanya berkaca-kaca, dan rahangnya terkatup sangat rapat, seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak jatuh.
Di tangga darurat. H-1.
Ada sesuatu yang bergerak samar di belakang kepalaku. Seperti bayangan di balik kaca buram. Tangga darurat. Aku tidak tahu kenapa kata itu terasa seperti kunci.
“Semua keluar,” kata Nadine akhirnya. Suaranya serak.
Kelima terdakwa berdiri secepat kilat. Jess ragu di ambang pintu, menoleh ke sahabatnya dengan wajah cemas.
“Din...”
“Nanti, Jess.” Nadine tidak menoleh. Lalu, lebih pelan: “Aku nggak marah.”
Jess menatapnya lama. Lalu ia mengangguk dan keluar, dan Dodi menggenggam tangannya di koridor, terang-terangan, tidak lagi bersembunyi.
Pintu pantry tertutup. Tinggal kami berdua.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku bilang hal pertama yang muncul di kepalaku.
“Jadi aku nggak berani.”
Nadine menoleh.
“Aku pikir,” kataku, “malam itu, di lobby, itu hal paling berani yang pernah aku lakuin seumur hidup. Ternyata...” Aku tertawa kecil, pahit. “Ternyata itu operasi. Ada grafik. Ada petugas kebersihan yang disuruh pulang cepat. Ada lampu yang disetel romantis. Aku cuma bidak. Aku didorong.”
“Mas.”
“Dan kamu,” lanjutku, tidak bisa berhenti. “Kamu sudah tahu dari jam tiga sore. Kamu nunggu di ruanganmu sampai jam delapan empat puluh tujuh. Kamu sudah tahu aku mau ngomong apa sebelum aku buka mulut.”
“Aku nggak tahu kamu mau ngomong apa.”
“Kamu tahu aku mau nembak.”
“Aku tahu kamu mungkin mau nembak. Jess bilang mungkin. Jess selalu bilang mungkin.” Nadine menghadapku sepenuhnya sekarang. “Mas, aku turun lift dengan lutut gemetar. Aku ganti lipstik tiga kali. Aku nggak tahu kamu bakal benar-benar ngomong atau cuma berdiri di situ terus pulang, kayak dua tahun ini.”
“Tapi semuanya sudah diatur.”
“Lobby-nya yang diatur,” kata Nadine. Suaranya naik sedikit. Untuk pertama kalinya, aku mendengar Nadine meninggikan suara. “Lampunya. Petugas kebersihannya. Pintu sampingnya. Itu semua diatur. Tapi kaki kamu yang jalan ke depan lift, Mas. Mulut kamu yang minta lima menit. Kamu yang bilang suka. Kamu yang bilang dua tahun.” Ia menarik napas. “Mereka cuma buka pintu. Kamu yang masuk.”
Aku menatapnya.
“Dan kamu tahu apa yang paling bikin aku kesal?” lanjutnya, lebih pelan sekarang, tapi tidak kurang tajam.
“Apa?”
“Kamu ngerusak rencanaku.”
Aku mengerjap. “Rencana...”
“Tiga bulan, Mas.” Ia menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca, tapi bibirnya mulai bergetar dengan cara lain. Bukan sedih. Hampir seperti tawa yang tertahan. “Aku nyusun rencana itu tiga bulan. Empat belas draft. Aku mau nunggu kamu di tangga darurat di hari terakhirmu. Aku sudah tentuin mau pakai baju apa. Aku sudah beli roti. Aku sudah latihan di depan cermin. Aku bahkan sudah bikin mitigasi risiko kalau kamu nolak.”
“Mitigasi risiko?”
“Jangan diledek.”
“Aku nggak...”
“Telingamu merah.”
“Telingaku selalu merah, Din!”
Ia tertawa. Setengah isak, setengah tawa, persis seperti seseorang yang sudah menahan terlalu banyak hal terlalu lama. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jatuh, satu, di pipi kirinya, tepat melewati tahi lalat kecil itu.
“Lalu tiba-tiba,” katanya, mengusap air mata itu dengan punggung tangan, “jam tiga sore, Jess masuk ruanganku dan bilang kamu mau nembak malam itu. Tiga bulan rencanaku hangus dalam satu kalimat. Dan aku turun ke lobby, dan kamu berdiri di sana bawa dua roti, dan aku...” Ia berhenti. Menelan ludah. “Aku nggak pernah sebahagia itu, Mas. Rencanaku hancur, dan aku nggak pernah sebahagia itu.”
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengulurkan tangan dan mengusap air mata kedua yang jatuh di pipinya. Pelan. Dengan ibu jari.
Ia memejamkan mata dan menyandarkan pipinya ke telapak tanganku.
“Kenapa tangga darurat?” tanyaku pelan.
Ia membuka mata.
“Rencanamu,” kataku. “Kenapa di tangga darurat? Ada rooftop. Ada lobby. Ada pantry. Kenapa tangga darurat?”
Ia menatapku lama sekali. Dan di matanya, aku melihat sesuatu yang sedang memutuskan, menimbang, menghitung risiko.
Lalu ia mengambil tanganku dari pipinya dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
“Besok pagi,” katanya. “Jam tujuh. Sebelum semua orang datang.”
“Di mana?”
“Tangga darurat Lantai 21.”
Bayangan di balik kaca buram di kepalaku bergerak lagi. Sedikit lebih jelas.
“Kenapa?”
“Karena aku mau tunjukin sesuatu, Mas,” katanya. “Dan kali ini, aku nggak mau ada grup WhatsApp, nggak mau ada grafik, nggak mau ada lampu yang disetel romantis.”
Ia berdiri, merapikan blazer navy-nya, mengusap pipinya sekali lagi, dan dalam setengah detik wajahnya kembali menjadi wajah Associate Director. Tenang. Tegas. Hanya matanya yang masih sedikit merah.
Di ambang pintu, ia menoleh.
“Dan Mas,” katanya. “Tolong bilang ke Dodi, kalau besok pagi ada satu orang pun dari grup itu di dekat tangga darurat, aku akan pastikan Jess tahu soal semua mantan Dodi. Satu per satu. Aku punya datanya.”
“Kamu punya data mantan Dodi?”
“Pak Darto mencatat semuanya, Mas.”
Pintu tertutup.
Aku duduk sendirian di pantry, menatap tanganku yang masih hangat oleh genggamannya, dan oleh air matanya.
Ponselku bergetar. Grup Tim Sukses Lantai 21, yang sekarang anggotanya tiga puluh dua.
Dodi: GUYS. Besok pagi JANGAN ADA YANG KE TANGGA DARURAT. Ini serius. Nyawa gue taruhannya.
Fikri: Kenapa Mas?
Dodi: Bu Nadine punya data mantan gue.
Mbak Sari: Oh. Iya, itu bahaya.
Tari: Mas Dodi punya mantan berapa?
Dodi: ITU BUKAN INTINYA, TARI.
Aku tertawa sendirian di pantry. Lalu aku berhenti tertawa, karena kata-kata itu muncul lagi di kepalaku. Tangga darurat. Anak tangga yang dingin. Lampu neon yang berkedip.
Aku sudah ratusan kali ke tangga itu. Tapi entah kenapa, malam ini aku tidak bisa tidur memikirkannya.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan reading
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup