Chapter Three
Makan Siang Jam Dua Belas
POV: Rey
Aku tidur dua jam, dan itu pun bohong.
Sebagian besar malam kuhabiskan dengan menatap langit-langit kamar kos dan memutar ulang adegan di lobby. Iya yang artinya iya, Mas. Setiap kali sampai di bagian itu, aku menarik bantal ke wajah dan menendang-nendang kasur seperti remaja. Sekitar jam tiga pagi, tetangga kamar sebelah mengetuk dinding.
Jam setengah delapan aku sudah di kantor. Dan rupanya aku bukan yang paling awal.
Di ruang rapat kecil Lintasraya, ruangan kaca yang biasa dipakai untuk presentasi vendor, Dodi, Mbak Sari, dan Fikri sudah menunggu. Di layar proyektor terpampang slide berlatar biru dengan judul besar:
PANDUAN KENCAN MAKAN SIANG — EDISI DARURAT
Disusun oleh: Tim Sukses Lantai 21
“Kalian bikin slide,” kataku.
“Dua puluh tiga halaman,” kata Fikri bangga.
“Kapan?”
“Semalam, Mas. Habis dari lobby, kita lanjut ke warung Pak Kumis, terus brainstorming sampai jam satu.”
Dodi menunjuk kursi di tengah ruangan. “Duduk, Rey. Waktumu sedikit. Kita mulai dari bab satu: Jangan Bahas Kerjaan.”
“Aku bahkan belum tahu mau makan di mana.”
“Bab dua,” kata Mbak Sari, mengklik ke slide berikutnya. “Lokasi.”
Slide kedua berisi peta Kuningan dengan lingkaran-lingkaran merah dan keterangan seperti Restoran Jepang (mahal, kesan serius), Kafe lobby (terlalu dekat, banyak saksi), dan Warteg Bu Ningsih (JANGAN).
Aku menutup wajah dengan tangan. “Kenapa warteg Bu Ningsih jangan?”
“Karena kamu pernah keracunan di sana, Rey.”
“Itu cuma sekali.”
“Sekali itu cukup buat bikin kamu pingsan di toilet kantor.”
Selama empat puluh menit berikutnya, aku belajar banyak hal yang tidak kuminta. Bab empat membahas topik pembicaraan yang aman (hobi, makanan, film) dan yang berbahaya (mantan, gaji, politik, dan “Pak Haris”). Bab tujuh berjudul Cara Tertawa yang Tidak Menakutkan, lengkap dengan contoh video yang ternyata rekaman tawaku di acara ulang tahun kantor tahun lalu, yang kata Fikri “kedengarannya seperti mesin fotokopi macet”. Bab sebelas membahas siapa yang membayar, dan Dodi dan Mbak Sari bertengkar sepuluh menit soal itu tanpa mencapai kesepakatan.
Bab dua puluh tiga hanya berisi satu kalimat dalam huruf besar:
JANGAN TANYA “KOK MAU?” LAGI.
“Itu penting,” kata Dodi, menatapku tajam. “Semalam itu momen terbaik dalam hidup lo, dan lo malah nanya kayak orang nggak percaya diskon.”
“Aku memang nggak percaya.”
“Justru itu! Jangan kelihatan nggak percaya. Kelihatan percaya. Kayak orang yang emang pantas diterima.”
Aku tidak menjawab. Masalahnya, aku memang tidak merasa pantas. Aku sudah membolak-balik kejadian semalam dari segala arah, dan tetap tidak menemukan jawaban yang masuk akal. Nadine Valencia, perempuan yang menolak anak direktur bank lantai tiga puluh, menerima laki-laki yang memperkenalkan diri sambil menunjuk langit-langit. Itu bukan kejadian. Itu anomali statistik.
Dan ia tahu nama lengkapku.
Aku belum menceritakan bagian itu pada siapa pun.
Masalah pertama baru kusadari jam sebelas lewat empat puluh: aku tidak punya nomor teleponnya.
Kami sepakat makan siang jam dua belas, tapi tidak sepakat di mana. Atau bagaimana bertemu. Atau apa pun. Aku terlalu sibuk tidak percaya untuk menanyakan detail logistik, padahal aku Operations Lead di perusahaan logistik.
“Telepon resepsionis HTA,” usul Mbak Sari.
“Terus bilang apa? ‘Halo, saya pacarnya Bu Nadine, tapi saya nggak punya nomornya’?”
“Kedengarannya seperti penguntit,” kata Fikri.
“Terima kasih, Fik.”
“Peluang Mas dilaporkan ke satpam: tujuh persen.”
Jam sebelas lima puluh delapan, aku masih berdiri di dekat meja kerjaku, menimbang antara menunggu di lobby atau pura-pura ke pantry. Lalu suasana di kantor berubah.
Aku menyadarinya karena bunyi-bunyian berhenti. Ketikan keyboard berhenti. Obrolan anak-anak sales di pojok berhenti. Mesin fotokopi masih berbunyi, tapi hanya karena Pak Udin, office boy kami, lupa menekan tombol stop dan sekarang mesin itu mengeluarkan lima puluh salinan faktur yang tidak diminta siapa pun.
Nadine berdiri di meja resepsionis Lintasraya.
Hari ini ia memakai blazer abu-abu muda dengan kemeja putih berkerah lembut di dalamnya, rok pensil sepanjang lutut, dan heels hitam yang sederhana. Rambutnya tidak disanggul seperti biasa, tapi diikat setengah di belakang dengan jepit mutiara, sementara sisanya tergerai bergelombang sampai punggung. Cahaya siang dari jendela besar jatuh di sisi wajahnya dan membuat kulitnya seperti bersinar.
Mira, resepsionis kami, berdiri begitu cepat sampai kursinya terguling.
“S-selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Siang,” kata Nadine, dengan suara rendah dan tenang yang membuat Mira berdiri lebih tegak lagi. “Mas Reyhan ada?”
Tiga puluh kepala menoleh ke arahku bersamaan, seperti adegan film horor.
Aku berjalan ke depan dengan kesadaran penuh bahwa setiap langkahku sedang diawasi. Di sudut mataku, Dodi pura-pura membaca dokumen terbalik. Mbak Sari terang-terangan berdiri sambil memegang dadanya. Fikri merekam dengan ponsel yang ia sembunyikan di balik map.
“Hai,” kataku pada Nadine.
“Hai.” Ia melihat jam tangannya. “Jam dua belas kurang satu. Kamu nggak telat.”
“Kamu yang datang duluan.”
“Aku nggak punya nomormu,” katanya, seperti itu hal paling biasa di dunia. “Jadi aku jemput.”
Ia memilih restoran soto Betawi di lantai dasar gedung sebelah, tempat yang tidak ada di slide Fikri. Restorannya kecil, ramai, dan berisik, dengan meja kayu panjang dan kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Aku makan di sini hampir setiap Kamis. Aku tidak tahu ia juga suka tempat ini.
Seorang pelayan menghampiri meja kami dengan buku pesanan. Sebelum aku sempat membuka mulut, Nadine sudah bicara.
“Soto Betawi dua. Satu kuahnya pakai susu saja, jangan dicampur santan. Emping dipisah. Satu es teh tawar, satu air putih hangat.”
Pelayan itu mencatat dan pergi.
Aku menatapnya. “Soto kuah susu. Emping dipisah. Es teh tawar.”
“Iya?”
“Itu pesananku.”
“Oh, ya?” Ia membuka bungkus sendok dan garpu dengan tenang. “Kebetulan.”
“Nadine.”
“Mm?”
“Itu bukan kebetulan.”
Ia mengangkat wajah, menatapku. Dan dari jarak sedekat ini, di bawah lampu restoran yang kekuningan, aku kembali melihat tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Aku berusaha keras tidak menatapnya terus, tapi gagal.
“Kok kamu tahu?” tanyaku. Lalu, karena mulutku memang tidak bisa dipercaya: “Dan kemarin. Kok kamu mau?”
Bab dua puluh tiga. Huruf kapital. Aku melanggarnya kurang dari dua puluh empat jam setelah slide itu dipresentasikan.
Nadine tersenyum, senyum kecil yang miring itu, dan menyandarkan dagunya di satu tangan.
“Nanti kamu tahu sendiri,” katanya.
“Kapan?”
“Kalau kamu sudah ingat.”
“Ingat apa?”
Ia tidak menjawab. Soto datang, uapnya mengepul di antara kami, dan Nadine mendorong mangkuk berkuah susu ke arahku lalu meniup sendoknya sendiri dengan tenang, seolah ia tidak baru saja menjatuhkan bom kecil di atas meja.
Kami makan, dan anehnya, rasanya mudah.
Aku sudah menyiapkan diri untuk kecanggungan, untuk jeda-jeda panjang dan topik-topik dari bab empat. Tapi Nadine bertanya tentang pekerjaanku dengan cara yang membuatku lupa bahwa bab satu melarangku membahas kerjaan. Ia mendengarkan dengan serius ketika aku menjelaskan masalah gudang di Cikarang, mengangguk, lalu bertanya satu pertanyaan yang langsung menunjuk ke inti masalahnya, sesuatu yang tim manajemen kami butuh tiga rapat untuk menyadarinya.
Lalu ia tertawa ketika aku bercerita tentang email untuk Pak Nanang.
“Dengan hormat, Nadine,” ulangnya, matanya berair. “Kamu kirim itu ke kepala armada.”
“Dia balas, ‘Siapa Nadine, Pak Rey?’”
“Terus kamu jawab apa?”
“Aku belum jawab. Aku belum tahu harus jawab apa.”
Nadine meletakkan sendoknya dan menatapku. Ekspresinya berubah, tidak lagi wajah kalem orang yang memimpin rapat, tapi sesuatu yang lebih lembut dan lebih nakal.
“Jawab saja,” katanya pelan, “‘pacar saya, Pak.’”
Sendok di tanganku jatuh ke mangkuk dan memercikkan kuah ke kemejaku.
Nadine mengambil tisu dan menyerahkannya tanpa berkedip. “Mas, kalau kamu terus melihat aku kayak gitu, sotonya keburu dingin.”
“Aku nggak...”
“Kamu dari tadi lihat ke sini.” Ia menyentuh bawah mata kirinya dengan ujung jari. Tepat di tahi lalat itu. “Terus.”
Telingaku terbakar. Aku bisa merasakannya. Aku menunduk ke soto, yang ternyata sudah benar-benar dingin.
“Satu lagi,” katanya, mengambil ponselku dari meja tanpa minta izin dan mengetik sesuatu dengan cepat. “Jangan panggil aku ‘Mbak’ lagi.”
“Terus panggil apa?”
“Nadine. Atau Din.” Ia mengembalikan ponselku. “Aku pacar kamu, bukan kasir minimarket.”
Aku melihat layar ponselku. Ia sudah menyimpan nomornya sendiri di kontakku dengan nama Nadine, lalu, setelah kuperhatikan lagi, ia menambahkan emoji bulan sabit kecil di belakangnya.
Ponselnya sendiri tergeletak di meja, layarnya masih menyala. Sekilas aku melihat kontak baru di sana dan nama yang ia berikan untukku. Mas Lift 3.
“Lift Tiga?” tanyaku.
Ia membalik ponselnya cepat. “Karena kamu selalu naik Lift Tiga.”
“Kok kamu tahu?”
“Semua orang tahu, Mas,” katanya, terlalu cepat dan terlalu tenang, lalu memanggil pelayan untuk minta bon.
Aku tidak sempat bertanya lagi, karena kami langsung bertengkar soal siapa yang membayar. Bab sebelas memang tidak pernah mencapai kesepakatan. Nadine menang, tentu saja. Ia menyelesaikannya dengan satu kalimat: “Kamu bayar yang besok.”
Yang besok. Ada besok.
Lift Nomor 3 penuh saat jam istirahat berakhir.
Kami masuk paling akhir dan berdiri berdempetan di dekat pintu. Di depan kami ada dua bapak-bapak dari kantor notaris lantai 17 yang sedang membicarakan sertifikat tanah. Di belakang kami, aku bisa merasakan, tanpa perlu menoleh, kehadiran Mbak Sari, yang entah bagaimana selalu muncul di lift yang sama denganku setiap kali aku tidak ingin ada saksi. Di sudut, Tari dari HTA memegang kopi susu dan menatap punggung Nadine dengan mata berbinar seperti fans di konser.
Lift bergerak naik.
Lantai lima. Lantai enam.
Lalu aku merasakannya. Sesuatu yang dingin dan halus menyentuh punggung tanganku yang tergantung di sisi badan. Jemari. Bergerak pelan, ragu, lalu menyelinap di antara jari-jariku dan menggenggam.
Aku membeku.
Aku menunduk. Tangan Nadine di dalam tanganku. Jari-jarinya ramping, kukunya dipotong rapi tanpa cat, cincin tipis berwarna perak di jari tengahnya. Ia menggenggam tanganku dengan erat, tapi wajahnya, ketika aku meliriknya, menatap lurus ke depan, ke angka-angka di atas pintu lift yang menyala satu per satu. Datar. Tenang. Ekspresi seorang Associate Director yang sedang memikirkan laporan pajak kuartal tiga.
Lantai sebelas. Lantai dua belas.
Darah naik ke wajahku, ke leherku, ke telingaku. Bapak notaris di depan menoleh sekilas, melihat wajahku, dan bertanya, “Mas, sakit?”
“Nggak, Pak. Panas.”
“AC-nya nyala, lho, Mas.”
“Iya, Pak. Saya memang... orangnya panas.”
Di belakangku, aku mendengar Mbak Sari menahan napas dengan cara yang sangat dramatis.
Ibu jari Nadine bergerak pelan di punggung tanganku. Sekali. Dua kali. Seperti menenangkan, atau mungkin menggoda. Aku tidak bisa membedakannya, dan aku curiga memang itu tujuannya.
Lantai dua puluh. Lantai dua puluh satu.
Pintu terbuka. Nadine melepaskan tanganku begitu saja, keluar dari lift, lalu berbalik dan menatapku dengan wajah paling profesional yang pernah kulihat.
“Terima kasih makan siangnya, Pak Reyhan,” katanya dengan suara jelas, cukup keras untuk didengar semua orang di lift. “Sampai jumpa.”
Lalu ia berjalan menuju pintu kaca HTA dengan langkah yang tegak dan bergema, Tari mengekor di belakangnya seperti anak bebek.
Aku berdiri di depan lift yang menutup kembali, dengan tangan kanan yang masih terasa hangat dan wajah yang, menurut Mbak Sari kemudian, “warnanya kayak udang rebus”.
Ponselku bergetar di saku.
Satu pesan. Dari Nadine dengan emoji bulan sabit kecil.
Tanganmu dingin, Mas.
Lalu satu lagi, sepuluh detik kemudian.
Besok aku hangatkan lagi.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas reading
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup