Chapter Thirty Six
Changi
POV: Nadine
Dua minggu adalah waktu yang sangat lama, ternyata.
Aku sudah menunggu dua setengah tahun. Aku pikir dua minggu tidak akan ada artinya. Aku pikir aku akan sibuk mengemas barang, menyerahkan klien-klien ke Jess dan tim, berpamitan dengan Om Benny, makan malam terakhir dengan Papa dan Mama, dan dua minggu itu akan lewat seperti angin.
Aku salah.
Dua setengah tahun aku menunggu seseorang yang ada di seberang lorong. Yang bisa kulihat dari celah antara rak dokumen dan pintu pantry. Yang naik lift yang sama denganku, kadang-kadang, kalau aku beruntung.
Dua minggu aku menunggu seseorang yang ada di seberang laut.
Dan aku tidak bisa melihatnya di mana pun. Tidak di Lift Nomor 3, yang sekarang dinaiki orang-orang yang tidak kukenal. Tidak di Pantry Bersama, yang sekarang terasa terlalu sepi meskipun penuh orang. Tidak di sofa kulit dekat pot monstera, yang sekarang hanya sofa kulit biasa.
Aku menghabiskan dua minggu itu dengan menatap kursi kosong di ujung meja kerja Lintasraya dari celah yang sama, setiap hari, seperti kebiasaan lama yang tidak bisa berhenti.
Ia menelepon setiap malam. Video call. Pukul sembilan waktu Jakarta, sepuluh waktu Singapura.
Malam pertama, ia menunjukkan apartemennya. Kamar kecil dengan jendela besar menghadap taman, kasur yang belum disprei, dan kardus-kardus yang belum dibuka. Di salah satu kardus, ditulis dengan spidol tebal: RENDANG IBU — JANGAN DIBUKA SEBELUM DIA DATANG.
“Kenapa nggak boleh dibuka?” tanyaku.
“Karena aku mau makan bareng kamu,” katanya. “Di dapur yang muat dua orang.”
Malam ketiga, ia mengirim video. Ia di kolam renang apartemennya, memakai kacamata renang dan topi karet biru, dengan pelatih renang orang Singapura yang terlihat sangat sabar berdiri di sebelahnya. Ia melompat ke air. Ia tenggelam. Pelatihnya menariknya keluar. Ia melompat lagi. Ia tenggelam lagi.
Video itu berdurasi empat menit. Ia tenggelam tujuh kali.
Aku menontonnya sebelas kali dan tertawa sampai menangis di kasur.
Malam kelima, ia melapor dengan wajah sangat serius bahwa ia menemukan warung pecel lele di Singapura. Warung Indonesia di sebuah food court di dekat stasiun MRT.
“Gimana?”
Ia menatap kamera lama. “Enam dari sepuluh.”
“Pak Kumis?”
“Sepuluh dari sepuluh. Tapi Pak Kumis punya keuntungan tidak adil.”
“Apa?”
“Pak Kumis punya kamu di meja seberangku.”
Aku menatapnya di layar ponselku. Wajahnya sedikit lebih gelap karena matahari Singapura. Rambutnya lebih pendek, katanya ia potong di tukang cukur dekat apartemen yang tidak mengerti bahasa Indonesia dan memotong terlalu banyak. Helai di belakang kepalanya masih berdiri.
“Mas,” kataku. “Itu gombal.”
“Itu fakta.”
“Telingamu merah?”
Ia mendekatkan telinganya ke kamera. Merah.
“Itu gombal,” ulangku, dan aku tersenyum ke layar sampai pipiku sakit.
Malam kesembilan, grup Tim Sukses Rey-Nadine, yang sekarang anggotanya lima puluh dua, mengadakan video call massal. Tiga puluh kotak kecil di layar. Mbak Sari dengan latar belakang dapur. Fikri dengan latar belakang kamar penuh poster grafik statistik. Tari dengan latar belakang poster drama Korea. Dodi dan Jess di satu kotak, berdempetan, dengan cincin Jess yang sengaja diangkat ke depan kamera. Om Benny dan istrinya. Mama dan Papa, dengan Papa yang duduk sangat tegak dan menatap kamera seperti menatap terdakwa. Ibu, dengan Pak RT yang menutupi setengah layar. Pak Kumis, dari balik gerobaknya, melambai dengan spatula.
Dan di satu kotak kecil di pojok, dengan latar belakang layar CCTV hitam-putih: Pak Darto.
“Pak Darto ikut?” tanyaku.
“Saya cuma satpam, Mbak,” katanya dari kotak kecilnya. “Tapi Mbak Sari yang tambahin.”
Malam ketiga belas, ia menelepon pukul sebelas, satu jam lebih lambat dari biasanya. Wajahnya lelah, tapi matanya berbinar.
“Besok,” katanya.
“Besok,” kataku.
“Jam sebelas. Terminal tiga.”
“Kamu sudah bilang itu enam kali hari ini.”
“Aku cuma mau pastiin.”
“Mas,” kataku. “Aku yang beli tiketnya. Aku tahu jamnya.”
“Aku tahu,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Aku cuma nggak sabar.”
Aku menatap wajahnya di layar. Laki-laki yang selalu mempersilakan orang lain duluan. Yang menunggu dua tahun di lobby tanpa berani menyapa. Yang menunggu di balik pot monstera empat hari supaya aku tidak tahu ia menunggu.
Laki-laki itu sekarang bilang ia tidak sabar.
“Aku juga,” bisikku.
Pesawat mendarat di Changi pukul sepuluh lima puluh empat. Enam menit lebih awal.
Aku tidak sabar menunggu bagasi. Aku tidak sabar mengantre imigrasi. Aku tidak sabar menunggu pintu kedatangan terbuka. Aku berdiri di depannya dengan troli berisi dua koper besar, satu koper kecil, dan tas kulit hitamku, dengan jantung berdetak terlalu cepat.
Aku memakai gaun biru tua. Gaun kencan pertama. Gaun yang kupakai di pesta perpisahan yang salah orang. Aku memakainya lagi hari ini, karena aku ingin gaun ini punya kenangan yang lebih baik dari pesta itu.
Rambutku digerai, dengan jepit mutiara di satu sisi. Riasan tipis. Lipstik merah tua yang lembut. Sneakers putih, karena aku belajar dari dua setengah bulan terakhir bahwa hal-hal penting dalam hidupku cenderung terjadi saat aku tidak memakai heels.
Pintu kedatangan terbuka.
Dan di sana, di antara kerumunan penjemput yang membawa papan nama dan buket bunga dan balon, berdiri seorang laki-laki dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung dua lipatan. Kulitnya sedikit lebih gelap. Rambutnya terlalu pendek. Helai di belakang kepalanya berdiri.
Ia memegang papan karton putih dengan tulisan tangan spidol hitam yang besar dan sedikit miring:
NADINE VALENCIA
HTA SINGAPORE
(DAN PACAR SAYA)
Dan di tangan yang lain, ia memegang sebungkus roti sobek cokelat dengan gambar beruang kecil yang tersenyum.
Aku berhenti di tengah pintu kedatangan.
Orang-orang di belakangku menabrak trolinya. Seorang bapak-bapak Singapura bilang “Excuse me” dengan nada kesal. Aku tidak mendengarnya. Aku tidak mendengar apa-apa.
Ia melihatku.
Wajahnya berubah. Seperti wajahnya di lobby dua setengah tahun lalu, sebelum ia menabrak pintu kaca. Seperti wajahnya di Pantry Bersama waktu aku meminum kopinya. Seperti wajahnya di dapurku waktu ia memelukku dari belakang dan telurnya gosong. Wajah orang yang melihat sesuatu untuk pertama kalinya, meskipun ia sudah melihatnya ratusan kali.
Ia menjatuhkan papan karton itu.
Ia tidak menjatuhkan rotinya.
Aku meninggalkan troliku di tengah jalur kedatangan. Bapak-bapak Singapura di belakangku mengatakan sesuatu yang lebih kesal lagi. Aku tidak peduli. Aku berlari.
Aku berlari ke pelukannya, dan ia menangkapku, dan ia memelukku begitu erat sampai kakiku terangkat dari lantai bandara. Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan membenamkan wajahku di bahunya, di kemeja biru muda yang wangi sabun cuci yang berbeda dari sabun cuci di Jakarta, dan aku tidak bisa berhenti tertawa dan menangis sekaligus.
“Kamu datang,” katanya ke rambutku. Suaranya bergetar.
“Aku bilang aku datang.”
“Enam menit lebih awal.”
“Pilotnya tahu aku nggak sabar.”
Ia tertawa, dan tawanya bergetar di dadaku. Lalu ia menurunkanku pelan, tidak melepaskan pelukannya, dan menatapku dari jarak sangat dekat. Matanya basah. Senyumnya lebar sampai ke mata, miring ke kiri.
“Gaun kencan pertama,” katanya.
“Kamu ingat?”
“Aku ingat semua tentang hari itu,” katanya, mengulang kalimatku dari depan pintu kaca lobby. “Kamu pakai sepatu bertali tipis. Rambutmu digerai. Kamu bikin aku lupa baris dua.”
Aku tidak bisa bicara. Jadi aku menciumnya. Di tengah Terminal 3 Changi, di depan pintu kedatangan, di depan ratusan orang dan bapak-bapak Singapura yang kesal dan troliku yang ditinggal di tengah jalur.
Ciuman itu singkat dan lembut dan sedikit asin karena air mata.
Ketika aku menarik diri, ia mengangkat roti di tangannya.
“Buat jaga-jaga,” katanya.
Aku mengambilnya dengan dua tangan. “Kamu beli di mana? Ini roti Indonesia.”
“Toko Indonesia di Lucky Plaza. Harganya tiga kali lipat.” Ia tersenyum malu. “Aku beli dua. Satu sudah aku makan tadi pagi karena gugup.”
Aku tertawa sampai harus memegang lengannya.
Seorang petugas bandara menghampiri kami dengan troliku yang tadi kutinggal. “Ma’am, your trolley.”
“Thank you,” kataku, mengusap mata.
Petugas itu menatap papan karton di lantai. Membaca tulisannya. Lalu menatap kami.
“Welcome to Singapore,” katanya, dengan senyum yang sangat lebar. “And congratulations, I think?”
Apartemennya ternyata lebih kecil dari foto. Dapurnya memang muat dua orang, kalau dua orang itu berdiri sangat berdekatan dan salah satunya tidak terlalu banyak bergerak.
Apartemenku sendiri dua lantai di bawahnya. Unit yang disewa HTA untukku, dengan bantuan sepupu Mbak Sari yang ternyata bekerja di agen properti di dekat sana. Mas Reyhan sudah menyiapkannya selama dua minggu terakhir. Ia membeli sprei. Ia menempelkan stiker kecil di kulkasku yang bertuliskan Selamat Datang, Din dengan huruf yang miring. Ia menaruh tiga botol sambal terasi Pak Kumis di lemari dapurku, berjajar rapi, dengan label kertas kecil: Untuk keadaan darurat.
Tapi malam pertama, kami makan di apartemennya. Di dapur yang muat dua orang.
Ia membuka kardus bertuliskan RENDANG IBU — JANGAN DIBUKA SEBELUM DIA DATANG. Di dalamnya ada empat kotak rendang yang divakum, satu toples kerupuk kulit, dan surat kecil dari Ibu yang ditulis dengan pulpen biru: Untuk Nak Nadine. Jangan biarkan dia makan roti terus. Peluk dari Bogor. — Ibu (dan Pak RT).
Aku membaca surat itu dan menangis lagi.
“Kamu nangis terus hari ini,” katanya, menyerahkan tisu.
“Hari ini hari yang bikin nangis.”
“Itu bukan alasan ilmiah.”
“Itu alasan yang sangat ilmiah,” kataku, mengulang kalimatnya dari dapurku berbulan-bulan lalu.
Ia tertawa, lalu menyalakan kompor.
Kami memasak telur dadar kecap bersama. Ia memotong daun bawang, aku memecahkan telur. Satu telur, tanpa cangkang. Ia bersorak kecil. Aku membalik telur dadar itu dengan satu gerakan spatula yang luwes, dan telur itu mendarat sempurna, dan alarm asap di langit-langit dapur yang kecil itu diam.
Kami makan di meja kecil di dekat jendela, dengan rendang Ibu, telur dadar, nasi, dan sambal terasi Pak Kumis dari botol pertama. Di luar jendela, taman di bawah gedung diterangi lampu-lampu kecil, dan di kejauhan, gedung-gedung tinggi Singapura berkilau seperti ribuan cermin kecil yang menyala.
“Gimana rasanya?” tanyanya.
“Enak.”
“Kayak di Jakarta?”
Aku menatap rendang Ibu, sambal Pak Kumis, telur dadar yang kami masak berdua, dan laki-laki di seberang meja dengan rambut terlalu pendek dan telinga yang memerah.
“Lebih enak,” kataku.
Setelah makan, kami berdiri di depan jendela.
Aku berdiri menghadap ke luar, menatap lampu-lampu kota. Lalu aku merasakan ia datang dari belakang. Lengannya melingkar di pinggangku. Dadanya menempel di punggungku. Dagunya bertumpu di bahuku, dan aku merasakan napasnya yang hangat di leherku.
Aku menyandarkan kepala di pipinya.
“Mas,” kataku.
“Hm?”
“Ini back hug yang kelima.”
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu ngitung.”
Ia tertawa pelan ke leherku. Lalu ia diam, dan kami berdiri seperti itu lama sekali, menatap kota yang asing yang mulai sekarang akan menjadi rumah kami. Bersama.
Aku memikirkan tasku. Tas kulit hitam di sofa di belakang kami. Dan di dalamnya, di kantong dalam, terselip di antara dompet dan paspor, sebuah buku catatan kecil bersampul biru navy. Sudutnya lusuh. Halamannya hampir penuh. Di sampul belakangnya terselip bungkus roti sobek cokelat yang sudah kedaluwarsa dua setengah tahun lalu.
Aku ingin memberikannya sekarang. Di sini. Di depan jendela ini, di malam pertama kami di kota baru. Aku ingin ia membaca semuanya. Halaman pertama, dengan kalimatnya. Halaman kedua, dengan pintu kaca. Tujuh ratus lebih catatan tentang seseorang yang tidak tahu ia sedang dicatat.
Aku bergerak sedikit di dalam pelukannya. Ia melonggarkan lengannya.
Aku berjalan ke sofa. Membuka tas. Mengeluarkan buku itu.
Ia menatapku dari depan jendela. Menatap buku biru navy di tanganku. Matanya melebar sedikit.
“Itu...” katanya.
Aku menatap buku itu. Lalu menatapnya.
Lalu, pelan-pelan, aku memasukkan buku itu kembali ke dalam tas.
“Belum waktunya,” kataku.
Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang tidak kecewa sama sekali. Senyum yang sabar.
“Aku jago nunggu,” katanya.
“Aku tahu,” kataku, berjalan kembali ke pelukannya. “Tapi kali ini, kamu nggak akan nunggu lama.”
Ia melingkarkan lengannya di pinggangku lagi, kali ini dari depan, dan aku menyandarkan kepala di dadanya. Jantungnya berdetak cepat. Seperti biasa.
Di luar jendela, lampu-lampu Singapura berkilau. Di belakang kami, di dapur yang muat dua orang, piring-piring kotor menumpuk di bak cuci. Di sofa, di dalam tas kulit hitam, sebuah buku biru navy menunggu waktunya.
Dan di Jakarta, di lobby sebuah gedung di Kuningan, seorang satpam dengan termos teh dan buku hijau yang baru menulis satu baris di halaman pertamanya.
N sampai di Singapura. R jemput. Pakai papan nama. Bawa roti.
Aku tahu karena tiga detik kemudian, ponselku bergetar dengan foto halaman itu, dikirim ke grup lima puluh dua anggota, dengan satu kalimat keterangan:
Saya cuma satpam. Tapi saya tetap mencatat.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi reading
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup