Chapter Twenty Four
Ciuman yang Tidak Sopan
POV: Nadine
Sejak Rabu malam, Mas Reyhan menjadi sedikit lebih pendiam.
Orang lain tidak akan menyadarinya. Ia masih mengirim stiker beruang setiap pagi pukul tujuh tiga puluh. Ia masih menunggu di depan Lift Nomor 3. Ia masih membawakan roti sobek cokelat ke pantry setiap sore dan masih memerah telinganya setiap kali aku merapikan kerah kemejanya.
Tapi ada sesuatu yang berubah. Jeda sebelum ia membalas pesan sedikit lebih panjang. Tawanya datang sedetik lebih lambat. Dan beberapa kali, di pantry, aku menangkapnya menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Bukan sedih. Bukan bahagia. Seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya dan tidak suka hasilnya.
“Dia mikir,” kata Jess Jumat siang, ketika aku menceritakannya. “Laki-laki kalau mikir keras, jadi pendiam. Dodi juga gitu.”
“Dodi pernah mikir keras?”
“Sekali. Waktu milih nama kucing.” Jess menyesap jus jeruknya. “Butuh tiga minggu.”
“Mas Reyhan bukan Dodi, Jess.”
“Iya, iya.” Jess menatapku. “Tapi kamu juga lagi mikir keras, Din. Aku bisa lihat. Email Singapura itu.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu belum bilang dia,” kata Jess. Itu bukan pertanyaan.
“Belum ada yang perlu dibilang. Aku belum mutusin apa-apa.”
“Din.” Jess meletakkan gelasnya. “Aku sahabatmu enam tahun. Kamu sudah mutusin. Kamu cuma belum ngumumin.”
Aku menatap sahabatku. Ia menatapku balik dengan mata yang sangat mirip mata Papa waktu sedang membaca terdakwa.
“Besok aku masak buat dia,” kataku, mengganti topik.
Jess mengedip. “Masak? Kamu? Pakai kompor?”
“Telur dadar kecap. Nomor enam di daftar.”
“Aku telepon pemadam kebakaran sekarang, ya,” kata Jess, lalu menghindar dari sendok plastik yang kulempar ke arahnya.
Aku latihan sejak jam delapan pagi hari Sabtu.
Telur pertama masuk ke mangkuk dengan dua potong cangkang. Telur kedua sempurna. Telur ketiga jatuh ke lantai, dan aku menatapnya lama, lalu membersihkannya dalam diam. Adonan pertama gosong karena aku lupa mengecilkan api. Adonan kedua terlalu asin karena kecapnya tumpah. Adonan ketiga sobek waktu dibalik, menjadi dua bagian tidak sama besar yang mengambang di wajan seperti benua.
Adonan keempat, kelima, dan keenam, lumayan. Bisa dimakan. Tidak membuat alarm asap berbunyi.
Adonan ketujuh, pukul sebelas siang, sempurna.
Pinggirnya sedikit gosong, sesuai instruksi. Bagian tengahnya lembut. Kecapnya meresap merata, daun bawangnya terpotong dengan ukuran yang hampir sama. Aku menatapnya di piring dengan perasaan yang mirip perasaanku waktu pertama kali menandatangani kontrak klien sendirian.
Aku memotretnya. Lalu aku tidak mengirim foto itu ke siapa pun. Itu kejutan.
Lalu aku memakannya sendiri, berdiri di depan kompor, dan rasanya enak, dan aku menangis sedikit, dan aku tidak tahu kenapa.
Mungkin karena aku tahu kenapa aku belajar membuatnya. Supaya kalau aku kangen, aku bisa masak sendiri. Aku mengucapkan kalimat itu pada Mas Reyhan hampir sebulan lalu dengan nada bercanda. Tapi sekarang, berdiri sendirian di dapur dengan telur dadar yang sempurna, aku menyadari bahwa aku belajar membuatnya untuk masa depan yang tidak ingin kujalani. Masa depan di mana ia di Singapura dan aku di sini, makan telur dadar kecap sendirian sambil membayangkannya.
Kecuali aku tidak di sini.
Kamar tamu di apartemenku terbuka, dan dari dalamnya terdengar suara dengkuran.
Niko menginap di sini sejak Rabu malam. Kos-kosannya di dekat kampus kebanjiran setinggi lutut, dan Mama, dengan logika Mama yang tidak bisa dibantah, memutuskan bahwa adikku yang berumur dua puluh dua tahun lebih aman tinggal di apartemen kakaknya yang tidak bisa memasak daripada di rumah orang tuanya di Menteng yang punya tiga kamar kosong.
“Supaya kamu ada temannya,” kata Mama di telepon.
“Aku nggak butuh teman, Ma.”
“Supaya ada yang makan masakanmu,” kata Mama.
Mama benar. Niko sudah menghabiskan adonan keempat, kelima, dan keenam pagi ini, lalu kembali tidur.
Mas Reyhan datang pukul tujuh malam membawa sebungkus martabak manis dan sebungkus roti sobek cokelat.
“Buat jaga-jaga,” katanya, mengulurkan roti itu di depan pintu. “Kalau masakanmu...”
“Kalau masakanku apa?”
“...kalau masakanmu terlalu enak dan kita masih lapar.”
“Bohong.”
“Telingaku merah, ya?”
“Merah banget, Mas.”
Ia tertawa dan masuk. Lalu ia berhenti di tengah ruang tamu, menatapku.
Aku sudah berganti pakaian untuk malam ini. Bukan blazer, bukan sweter kebesaran. Gaun rumah berbahan satin berwarna merah anggur yang jatuh lembut sampai betis, dengan tali tipis di bahu dan kardigan rajut tipis berwarna krem yang kusampirkan di atasnya. Rambutku digerai sepenuhnya, bergelombang, dan masih sedikit wangi persik dari sampo sore tadi. Riasan tipis. Lipstik merah tua yang lembut.
Kakiku telanjang di lantai kayu.
Mas Reyhan menatapku lama. Lalu ia menatap martabak di tangannya, seolah lupa kenapa ia membawanya.
“Mas?”
“Aku...” Ia berdeham. “Aku lupa mau ngomong apa.”
“Kamu mau bilang aku cantik?”
“Itu... iya. Itu salah satunya.”
“Salah satunya? Ada yang lain?”
“Banyak,” katanya, lalu buru-buru berjalan ke dapur dengan martabaknya, telinganya merah sampai ke leher.
Aku tersenyum ke punggungnya.
Aku memasakkannya telur dadar kecap di depan matanya.
Ia duduk di kursi tinggi di meja dapur, tempat aku duduk waktu ia memasak untukku beberapa minggu lalu, dan menonton setiap gerakanku dengan tegang, seperti menonton seseorang menjinakkan bom. Telur pertama masuk ke mangkuk tanpa cangkang. Ia menghela napas lega. Daun bawang terpotong rapi. Ia mengangguk. Adonan masuk ke wajan dengan api sedang. Ia mencondongkan tubuh ke depan.
Aku membalik telur dadar itu dengan satu gerakan spatula yang luwes.
Telur itu mendarat di wajan dengan sempurna, utuh, pinggirnya kecokelatan, uapnya mengepul wangi kecap dan daun bawang.
Alarm asap di langit-langit diam.
Mas Reyhan menatap telur dadar itu. Lalu menatap alarm asap. Lalu menatapku.
“Din,” katanya pelan.
“Nomor enam,” kataku, meletakkan telur itu di piring di depannya. “Centang.”
Ia tidak langsung makan. Ia menatap telur dadar itu lama, dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
“Mas? Kenapa?”
“Kamu latihan,” katanya.
“Sedikit.”
“Berapa telur?”
“Dua belas.”
Ia menatapku. “Dua belas telur.”
“Tiga jatuh ke lantai. Niko makan tiga. Sisanya...” Aku mengangkat bahu. “Sisanya pengalaman.”
Ia mengambil garpu dan memotong sudut telur dadar itu. Memakannya. Mengunyah pelan-pelan, dengan mata terpejam.
“Enak?” tanyaku. Aku tidak sadar aku menahan napas.
Ia membuka mata. Menatapku.
“Ini enak banget, Din,” katanya, dan suaranya serak. “Ini lebih enak dari punyaku.”
“Bohong.”
“Telingaku nggak merah.”
Aku menatap telinganya. Ia benar. Telinganya tidak merah. Ia tidak berbohong.
Aku berbalik ke kompor supaya ia tidak melihat wajahku, karena aku tiba-tiba ingin menangis lagi dan aku tidak tahu kenapa.
Kami makan malam di meja makan dengan telur dadar kecap, nasi, rendang Ibu yang masih tersisa, dan martabak manis sebagai pencuci mulut. Niko keluar dari kamar tamu pukul delapan, mengambil sepiring nasi dengan rendang, menyapa Mas Reyhan dengan “Halo, Mas Lift Tiga”, dan kembali ke kamarnya dengan headphone, berjanji tidak akan keluar lagi “kecuali ada kebakaran beneran”.
Kami bicara tentang banyak hal. Tentang Kenzo, yang ternyata mengirim email terima kasih resmi ke HTA untuk “bantuan transportasi darurat dari staf Lintasraya”, yang membuat Om Benny tertawa sepuluh menit. Tentang Pak RT, yang menurut Ibu sekarang tidur di kardigan yang kutinggalkan di sofa. Tentang Dodi yang katanya sedang menabung untuk sesuatu dan tidak mau bilang untuk apa, dan Jess yang curiga.
Tapi kami tidak bicara tentang nomor sebelas.
Aku menunggu. Aku memberinya ruang. Beberapa kali, aku melihat ia membuka mulut, seperti hendak mengatakan sesuatu yang penting, lalu menutupnya lagi dan bertanya apakah aku mau martabak lagi.
Aku tidak memaksa. Aku sudah menulis putusanku sendiri. Aku hanya belum siap membacakannya.
Pukul sepuluh lewat lima belas, ia pamit.
Aku mengantarnya ke pintu. Ia memakai sepatu sambil duduk di bangku kecil di dekat rak sepatu, lalu berdiri, mengambil kunci mobil dari saku, dan berbalik menghadapku.
“Makasih,” katanya. “Buat telur dadarnya.”
“Makasih udah datang.”
“Dua belas telur, Din.”
“Jangan ingetin.”
Ia tersenyum. Lalu ia menunduk dan mencium keningku. Pelan, seperti biasa. Seperti yang ia lakukan setiap kali berpamitan sekarang.
Lalu ia berbalik ke pintu.
Dan aku tidak tahu kenapa, tapi saat itu, melihat punggungnya, melihat bahunya yang sedikit lebih tegang dari biasanya, melihat ia memegang gagang pintu seperti orang yang sedang memegang keputusan yang berat, aku tidak sanggup membiarkannya pergi begitu saja.
Aku meraih kerah kemejanya dari belakang.
Ia berhenti. Menoleh.
Aku menarik kerah itu pelan, memutarnya menghadapku. Lalu aku menarik lebih keras, sampai ia terpaksa menunduk, sampai wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku.
“Din?”
“Kamu belum bayar tagihan malam ini,” kataku.
“Tadi kening...”
“Kening itu biaya administrasi, Mas.”
Matanya melebar. Lalu, pelan-pelan, sesuatu di matanya berubah. Bukan malu. Bukan gugup. Sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap.
Aku menciumnya.
Awalnya pelan. Seperti di tangga darurat. Seperti di bawah kanopi. Bibirku di bibirnya, lembut, hati-hati.
Lalu ia membalas.
Tangannya, yang tadi memegang kunci mobil, menjatuhkan kunci itu ke lantai dengan bunyi gemerincing yang tidak kami pedulikan. Satu tangannya melingkar di pinggangku, di atas satin merah anggur, menarikku lebih dekat. Tangan yang lain naik ke tengkukku, ke bawah rambutku yang tergerai, jari-jarinya menyusup di antara helai-helai bergelombang. Punggungku menyentuh kusen pintu.
Dan ciuman itu berubah.
Lebih dalam. Lebih lambat. Lebih berani. Bibirnya membuka bibirku dengan cara yang membuat lututku melemas, dan aku harus berpegangan erat pada kerah kemejanya supaya tidak jatuh. Ia menciumku seperti orang yang sudah menahan sesuatu terlalu lama, terlalu sopan, terlalu hati-hati, dan akhirnya membiarkan dirinya tidak sopan. Napasnya hangat dan tidak teratur. Napasku juga. Aku bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat di bawah tanganku yang menempel di dadanya. Seperti biasa. Tapi kali ini, jantungku berdetak sama cepatnya.
Ia menarik diri sedikit. Hanya satu senti. Dahinya menempel di dahiku, napas kami bercampur.
“Din,” bisiknya. Suaranya parau, hampir tidak terdengar.
Aku tidak menjawab. Aku menarik kerahnya lagi.
Ia menciumku lagi, dan kali ini aku yang membalas lebih dalam, jari-jariku naik ke rambutnya, ke helai di belakang kepala yang selalu berdiri, menggenggamnya. Ia mengeluarkan bunyi pelan dari tenggorokannya yang membuat seluruh tubuhku merinding. Tangannya di pinggangku mengencang. Kardigan krem tipis di bahuku merosot setengah, dan ia tidak menyadarinya, dan aku tidak peduli.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku kehilangan hitungan. Untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun, aku tidak menghitung apa pun.
KREK.
Pintu kamar tamu terbuka.
Kami membeku. Bibir masih menempel.
“Kak, ada air dingin di kulkas, ng...”
Hening.
Aku membuka mata. Dari balik bahu Mas Reyhan, aku melihat adikku berdiri di ambang pintu kamar tamu. Kaus band rock yang pudar. Celana pendek bergambar Spongebob. Rambut gondrong yang berantakan. Headphone menggantung di lehernya. Gelas kosong di tangannya.
Ekspresinya berubah sangat lambat. Dari mengantuk, menjadi bingung, menjadi sadar, menjadi ngeri.
Mas Reyhan melepaskanku secepat kilat dan mundur satu langkah, lalu menginjak kunci mobilnya sendiri, lalu tersandung, lalu berpegangan pada rak sepatu, yang bergoyang dan menjatuhkan tiga pasang heels-ku ke lantai.
“AKU NGGAK LIHAT APA-APA,” teriak Niko.
Ia berbalik dengan sangat cepat untuk kembali ke kamar tamu, dan menabrak kusen pintu dengan dahinya. DUK.
“AKU NGGAK LIHAT APA-APA DAN AKU NGGAK NABRAK APA-APA,” teriaknya lagi, sambil memegangi dahinya, lalu masuk ke kamar dan membanting pintu.
Hening.
Aku menatap Mas Reyhan. Mas Reyhan menatapku. Wajahnya merah. Bukan hanya telinganya. Seluruh wajahnya, sampai ke leher, sampai ke tulang selangka yang terlihat dari kancing kemeja paling atas yang entah sejak kapan terbuka. Rambutnya berantakan di tempat aku menggenggamnya. Bibirnya sedikit merah karena lipstikku.
Aku menatap bayangan diriku di cermin lorong. Rambutku kusut. Kardiganku merosot sampai siku. Lipstikku hilang separuh.
Lalu aku tertawa.
Aku tertawa sampai harus bersandar di kusen pintu. Mas Reyhan menatapku dengan wajah tidak percaya, lalu ia mulai tertawa juga, tawa yang tertahan dan malu dan sedikit histeris. Kami berdiri di lorong apartemen dengan tiga pasang heels berserakan di lantai, kunci mobil yang terinjak, dan suara Niko dari balik pintu kamar tamu yang berteriak, “AKU MAU PULANG KE MENTENG. AKU LEBIH MILIH BANJIR.”
“Dia nabrak kusen,” kata Mas Reyhan di sela tawa.
“Itu keturunan,” kataku. “Kamu nabrak pintu kaca. Dia nabrak kusen.”
“Aku bukan keluarganya.”
Aku berhenti tertawa. Menatapnya. Lalu tersenyum, kecil dan miring.
“Belum,” kataku.
Ia berhenti tertawa juga. Telinganya, yang sudah merah, entah bagaimana menjadi lebih merah lagi.
Aku membungkuk, mengambil kunci mobilnya dari lantai, dan menyerahkannya. Lalu aku merapikan kerah kemejanya yang kusut, mengancingkan kancing paling atas yang terbuka, dan menyisir rambutnya dengan jari-jariku, pelan, sampai helai di belakang kepalanya kembali berdiri seperti biasa.
“Hati-hati di jalan,” kataku. “Jangan nabrak apa-apa.”
“Aku nggak janji.”
“Itu ciuman yang tidak sopan, Mas,” bisikku.
Ia menatapku dari ambang pintu. “Kamu yang mulai.”
“Aku tahu,” kataku. “Itu sebabnya aku bilang begitu dengan bangga.”
Ia tertawa, pendek, lalu pergi. Aku menutup pintu dan bersandar di baliknya, dan tidak bergerak selama lima menit.
Pukul sebelas malam, Niko mengetuk pintu kamarku.
“Kak,” katanya dari balik pintu. “Aku nggak lihat apa-apa.”
“Aku tahu, Nik.”
“Aku cuma mau bilang.” Jeda. “Mas Rey kelihatan kayak orang yang beneran sayang sama Kakak. Kayak... beneran.”
Aku menatap pintu.
“Makasih, Nik.”
“Tapi aku tetap mau pulang ke Menteng besok.”
“Silakan.”
Langkah kakinya menjauh. Pintu kamar tamu tertutup.
Aku membuka laptop di atas kasur.
Draf email untuk kantor Singapura masih tersimpan di sana. Satu kalimat. Sudah delapan hari.
Terima kasih atas tawarannya. Saya tertarik untuk mendiskusikannya lebih lanjut.
Aku memikirkan wajahnya di dapur tadi, matanya yang berkaca-kaca menatap telur dadar dua belas telur. Aku memikirkan ciumannya di depan pintu, yang tidak sopan dan tidak hati-hati dan untuk pertama kalinya tidak meminta izin. Aku memikirkan jeda-jeda panjang sejak Rabu malam. Aku memikirkan kata-kata Ibu di Bogor. Kalau dia mundur, jangan ikut mundur.
Aku memikirkan Papa. Dia akan memutuskan sesuatu sendiri, diam-diam, dengan sangat teliti.
Papa benar. Aku memang begitu. Dan aku tahu itu bukan sifat yang selalu baik. Tapi kali ini, aku meyakinkan diriku, kali ini berbeda. Kali ini aku memutuskan sendiri supaya ia tidak perlu memutuskan apa-apa. Supaya ia tidak perlu memilih antara karier dan aku. Supaya ia tidak punya alasan untuk mundur.
Aku menekan tombol kirim.
Email itu terkirim pukul sebelas lewat delapan belas malam.
Aku menutup laptop, mematikan lampu, dan berbaring menatap langit-langit dalam gelap. Bibirku masih terasa hangat. Jantungku masih berdetak terlalu cepat.
Di buku biru navy di meja samping kasur, angka di pojok kanan atas menunjukkan 35.
Aku tidak menulis apa-apa malam itu. Untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun, aku tidak menulis apa-apa.
Karena untuk pertama kalinya, aku menyimpan sesuatu yang bahkan tidak berani kutulis.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan reading
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup