Chapter Twenty Eight
Pesta Perpisahan yang Salah Orang
POV: Nadine
Aku memilih gaun itu tiga minggu sebelumnya.
Gaun biru tua yang sama dengan yang kupakai di kencan pertama kami, sepanjang betis, lengan pendek, bahan jatuh lembut. Aku ingin ia melihatku memakai gaun yang sama ketika aku membacakan putusanku. Seperti tanda kurung. Kencan pertama di awal, dan hari ini, di awal yang baru.
Aku memakai blazer krem di atasnya untuk jam kantor. Rambutku kugerai dengan jepit mutiara di satu sisi. Lipstik merah tua yang lembut. Anting mutiara. Dan di dalam tas kulit hitamku, terselip di antara dompet dan buku biru navy, ada map cokelat berisi kontrak yang sudah ditandatangani dan dicap resmi oleh HTA Singapura kemarin sore.
Tanggal mulai efektif: 1 bulan depan.
Dua minggu setelah ia berangkat, aku akan menyusul.
Aku sudah merencanakan semuanya. Setelah Pak Haris memberi sambutan, setelah semua orang bersalaman dan berfoto dan makan nasi kuning, aku akan menarik Mas Reyhan ke dekat jendela pantry. Aku akan mengeluarkan map itu dan memberikannya padanya. Dan aku akan bilang: Ini rahasiaku, Mas. Kamu nggak perlu milih. Kamu nggak perlu minta aku nunggu. Aku ikut.
Lalu ia akan membaca, dan wajahnya akan berubah, dan mungkin ia akan marah sedikit karena aku tidak bilang dulu. Lalu mungkin ia akan menangis. Lalu ia akan memelukku di depan semua orang.
Aku sudah membayangkannya ratusan kali. Di setiap versi, akhirnya sama.
Jess menungguku di depan ruangan pukul empat kurang sepuluh. Ia menatap gaunku dan menghela napas.
“Gaun kencan pertama,” katanya.
“Kamu ingat?”
“Kamu kirim foto ke aku tiga kali malam itu, Din.” Jess merapikan jepit mutiara di rambutku yang sedikit miring. “Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Kamu masih bisa bilang dia sebelum pesta. Lima menit. Di tangga.”
“Aku sudah nunggu dua setengah tahun, Jess,” kataku. “Dua jam lagi nggak akan bikin bedanya.”
Jess menatapku dengan mata yang aneh. Lalu ia memelukku sebentar dan berkata, “Dodi juga bilang dia punya kejutan hari ini. Aku takut, Din. Hari ini kayaknya terlalu banyak kejutan.”
Pantry Bersama sudah penuh ketika kami masuk.
Seseorang dari Lintasraya, mungkin Mbak Sari, sudah menghias ruangan dengan balon biru putih dan spanduk kertas bertuliskan SELAMAT JALAN & SUKSES DI SINGAPURA! Ada tumpeng nasi kuning di meja tengah, dikelilingi ayam goreng, perkedel, dan sambal goreng ati. Ada kue tart dengan gambar bendera Singapura dari krim yang sedikit miring. Ada sekitar enam puluh orang, dari Lintasraya dan HTA, berdesakan sampai ke lorong.
Mas Reyhan berdiri di dekat jendela dengan kemeja batik yang sama dengan yang ia pakai di rumah Papa. Ia melihatku masuk, dan wajahnya berubah. Ia tersenyum, lebar dan sungguh-sungguh, senyum yang sampai ke matanya. Ia melambai kecil.
Aku melambai balik. Jantungku berdetak sangat cepat.
Ia terlihat bahagia. Sangat bahagia. Terlalu bahagia untuk seseorang yang akan pergi dua minggu lagi. Dan aku ingat Fikri bilang, bahagia yang kayak gini biasanya ada sebabnya. Dan aku ingat ia bilang rahasiaku besar banget. Dan untuk sesaat, sangat singkat, ada sesuatu yang dingin merayap di tengkukku.
Tapi aku mengabaikannya. Ia bahagia karena rahasianya. Dan rahasianya pasti sesuatu yang manis. Mungkin ia sudah menyiapkan jadwal pulang setiap bulan. Mungkin ia sudah membeli tiket untukku ke Singapura sebagai kejutan. Mungkin...
Pak Haris masuk.
Ruangan langsung hening. Pak Haris berjalan ke depan, ke dekat tumpeng, dengan secarik kertas di tangan dan kacamata berbingkai tebal. Ia mengetuk gelas plastik dengan sendok, meskipun semua orang sudah diam.
“Terima kasih sudah datang,” katanya. “Saya tidak akan lama. Saya tahu kalian semua lebih tertarik ke tumpeng daripada ke saya.”
Tawa kecil di ruangan.
“Lima tahun lalu,” kata Pak Haris, “seorang anak muda dari Bogor datang ke kantor ini untuk wawancara posisi staf operasional. Dia datang terlambat sepuluh menit. Saya tanya kenapa, dan dia bilang dia berhenti di jalan untuk bantu ibu-ibu yang motornya mogok.” Pak Haris menatap Mas Reyhan di dekat jendela. “Saya hampir tidak menerimanya. Saya pikir orang yang datang terlambat ke wawancara tidak serius.”
Mas Reyhan menunduk, telinganya memerah.
“Saya senang saya salah,” kata Pak Haris. “Kadang-kadang saya salah. Tidak sering. Tapi kadang-kadang.”
Ia melirik ke arahku. Hanya sebentar. Aku menahan napas.
“Lima tahun, Reyhan sudah membangun hampir semua gudang kita di Jawa. Dia orang yang paling tahu operasional perusahaan ini. Karena itu, waktu kami membuka cabang Singapura, dia pilihan pertama dan satu-satunya.”
Tepuk tangan. Aku ikut bertepuk tangan. Mas Reyhan menatap lantai.
“Namun,” kata Pak Haris.
Satu kata itu jatuh ke ruangan seperti batu.
“Dua minggu lalu, Reyhan datang ke ruangan saya dan meminta untuk tidak berangkat.”
Hening.
Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak.
“Dia meminta tetap di Jakarta karena alasan pribadi,” lanjut Pak Haris, dengan suara datar yang sama yang ia gunakan untuk membacakan laporan kuartalan. “Saya menghormati keputusannya. Oleh karena itu, penugasan Singapura akan dialihkan kepada...”
Ia membaca kertas di tangannya.
“...Dodi Prasetyo.”
Ruangan meledak.
Bukan tepuk tangan. Bukan sorakan. Bunyi yang lebih mirip enam puluh orang yang menarik napas bersamaan, lalu bicara bersamaan, lalu menoleh ke tiga arah sekaligus: ke Mas Reyhan di dekat jendela, ke Dodi di dekat pintu, dan ke aku.
Aku tidak mendengar apa-apa.
Aku hanya melihat Mas Reyhan. Ia sedang menatapku dari seberang ruangan. Wajahnya bersinar. Ia tersenyum lebar, senyum seorang laki-laki yang baru saja memberikan hadiah terbaik dalam hidupnya dan sedang menunggu melihat orang yang menerimanya membuka bungkusnya.
Aku nggak jadi pergi, Din. Aku bisa membaca kalimat itu di wajahnya, sejelas jika ia mengucapkannya keras-keras. Kamu nggak perlu nunggu.
Dan di dalam tas kulit hitamku, terselip di antara dompet dan buku biru navy, ada sebuah map cokelat yang tiba-tiba terasa seberat batu.
“SAYA, PAK?”
Suara Dodi memecah kekacauan. Ia berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat pasi, mulut terbuka, satu tangan memegang piring berisi perkedel yang belum sempat ia makan.
“SAYA? SINGAPURA? PAK, SAYA NGGAK TAHU...”
“Saya baru mau bicara dengan kamu setelah ini, Dodi,” kata Pak Haris tenang.
“PAK, SAYA BARU BELI CINCIN!”
Hening. Total. Enam puluh orang berhenti bicara sekaligus.
Dodi membeku. Ia menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya berubah dari pucat menjadi merah menjadi pucat lagi dalam tiga detik.
Di sebelahku, aku mendengar suara kecil. Seperti napas yang tersangkut.
Jess. Ia menatap Dodi dengan mata lebar, tangan menutup mulut.
“Cincin?” bisiknya.
Dodi menatap Jess. Lalu menatap Pak Haris. Lalu menatap enam puluh orang yang menatapnya. Lalu ia merogoh saku celananya dengan tangan gemetar, mengeluarkan kotak beludru biru tua, dan menatapnya seperti menatap bom yang baru saja meledak di tangannya.
“Ini harusnya bulan depan,” katanya dengan suara kecil. “Harusnya di Pak Kumis. Ada lilin. Pak Kumis udah setuju matiin lampu bohlam.”
Jess mulai menangis.
Mbak Sari mulai menangis. Tari, yang memegang kotak tisu sejak awal pesta untuk alasan yang tidak kuketahui, mulai menangis dan membagikan tisu ke kiri dan ke kanan. Fikri menatap laptopnya dengan wajah orang yang modelnya baru saja runtuh total. Om Benny, di dekat tumpeng, menutup wajah dengan kedua tangan dan bahunya bergetar, entah karena tertawa atau menangis.
Pak Haris menatap Dodi dengan ekspresi yang sangat datar. Lalu ia melipat kertas di tangannya dan memasukkannya ke saku.
“Kita bicara di ruangan saya, Dodi,” katanya. “Setelah kamu... selesaikan urusan itu.”
Lalu ia berjalan keluar dari pantry.
Aku tidak tahu bagaimana aku sampai di dekat jendela.
Aku tidak ingat berjalan. Aku hanya tahu bahwa tiba-tiba aku berdiri di sana, di depan Mas Reyhan, dan kerumunan di sekitar kami sudah bergeser ke arah Dodi dan Jess, yang sekarang berpelukan di tengah ruangan sambil menangis dan tertawa, dengan kotak beludru biru tua di antara mereka.
Mas Reyhan menatapku. Senyumnya masih ada, tapi sekarang ada kebingungan di matanya. Ia menunggu reaksiku, dan reaksiku tidak datang.
“Din,” katanya pelan, di bawah kebisingan ruangan. “Itu rahasiaku.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku nggak jadi pergi,” katanya. Dan ia tersenyum lagi, lebih lebar, matanya berkaca-kaca. “Aku tinggal. Di sini. Kamu nggak perlu nunggu. Kamu bilang kamu nggak mau nunggu, kan? Sekarang kamu nggak perlu.”
Siapa bilang aku mau nunggu?
Kalimatku sendiri. Di basement. Dengan dahi menempel di punggungnya. Aku bermaksud aku nggak mau nunggu karena aku mau ikut. Dan ia mendengarnya sebagai aku nggak mau nunggu kamu.
Dan ia membatalkan Singapura.
Karierku. Posisi yang dibangun untuknya. Lima tahun kerja keras. Gudang-gudang di Jawa. Pak Haris yang bilang pilihan pertama dan satu-satunya.
Ia membatalkan semua itu. Untukku. Tanpa bertanya padaku.
Persis seperti yang kulakukan.
“Din?” Senyumnya mulai goyah. “Kamu nggak senang?”
Aku membuka tasku.
Tanganku gemetar. Aku harus mencoba dua kali sebelum bisa membuka resletingnya. Aku mengeluarkan map cokelat itu. Map yang sudah kubayangkan akan kuberikan padanya di dekat jendela ini, dengan gaun kencan pertama, di bawah spanduk SELAMAT JALAN & SUKSES DI SINGAPURA!
Aku menyerahkannya padanya.
“Ini rahasiaku,” kataku. Suaraku keluar hampir tanpa bunyi.
Ia menatapku. Lalu menatap map itu. Lalu, pelan, ia membukanya.
Aku melihat matanya bergerak di atas kertas. Kop surat. Hartono Tax Advisory, Singapore Office. Posisi. Gaji. Tunjangan. Tanda tangan. Tanda tanganku. Cap resmi.
Tanggal mulai efektif: 1 bulan depan.
Aku melihat wajahnya berubah.
Bukan sekaligus. Pelan-pelan, seperti lampu-lampu yang dimatikan satu per satu di koridor panjang. Senyumnya menghilang lebih dulu. Lalu cahaya di matanya. Lalu warna di wajahnya. Sampai yang tersisa hanya laki-laki yang memegang selembar kertas dengan tangan gemetar, menatapnya seolah tidak bisa membaca bahasa yang tertulis di sana.
“Kamu,” katanya. Suaranya pecah. “Kamu mau ke Singapura?”
“Aku mau ikut kamu,” bisikku.
Ia mengangkat wajah dari kertas itu. Menatapku.
Dan aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu. Tidak di tangga darurat, tidak di basement, tidak di malam ketika ia bilang aku takut. Wajah orang yang baru saja menyadari bahwa hadiah yang ia berikan dan hadiah yang ia terima saling menghapus satu sama lain, dan yang tersisa hanya dua tangan kosong.
Di belakang kami, enam puluh orang masih bersorak untuk Dodi dan Jess. Seseorang menyalakan musik dari speaker ponsel. Seseorang memotong tumpeng. Balon biru putih bergoyang ditiup AC. Spanduk kertas di dinding masih bertuliskan SELAMAT JALAN & SUKSES DI SINGAPURA!
Tapi di dekat jendela, di sudut kecil Pantry Bersama, ruangan itu sunyi.
“Kapan kamu tanda tangan?” tanyanya.
“Selasa. Dua minggu lalu.”
Ia menutup matanya. “Aku tanda tangan Senin.”
Satu hari. Satu hari terpisah. Dua formulir, di dua ruangan, di dua sisi lantai yang sama, ditandatangani dengan tangan yang sama-sama gemetar dan hati yang sama-sama yakin.
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyanya.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Ia membuka mata. Kami saling menatap.
Lalu ia menutup map itu, pelan, dan mengembalikannya ke tanganku.
“Tangga,” katanya. Hanya satu kata. Suaranya datar. Bukan datar seperti Pak Haris. Datar seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang sangat berat supaya tidak jatuh di depan enam puluh orang.
Ia berjalan melewatiku, menuju pintu pantry, dan aku melihat punggungnya. Kemeja batik yang sama dengan yang ia pakai di rumah Papa. Bahunya tegang. Helai rambut di belakang kepalanya berdiri.
Aku berdiri sendirian di dekat jendela dengan map cokelat di tangan dan gaun kencan pertama di badan.
Jess menoleh dari tengah ruangan, dari pelukan Dodi, dengan wajah basah dan bahagia. Lalu ia melihat wajahku, dan kebahagiaan di wajahnya membeku.
“Din?” panggilnya.
Aku tidak menjawab. Aku berjalan keluar dari pantry, mengikuti punggung kemeja batik itu, ke arah pintu besi bertuliskan TANGGA DARURAT.
Di belakangku, Fikri berbisik pada seseorang dengan suara yang hampir tidak terdengar:
“Ini nggak ada di model mana pun.”
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang reading
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup