Chapter Thirty Two
Pak Haris Belum Tanda Tangan
POV: Rey
Sabtu pukul enam pagi, aku berdiri di depan pagar rumah Pak Haris di Bintaro dengan dua kotak martabak manis dan tangan yang tidak gemetar.
Aku menyadarinya ketika menekan bel. Tanganku tidak gemetar. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, tanganku tidak dingin dan tidak gemetar, meskipun aku sedang berdiri di depan rumah direkturku tanpa janji, di hari Sabtu, pada jam ketika orang normal masih tidur.
Mungkin karena aku tidak tidur. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk takut.
Atau mungkin karena semalam, di lobby, seseorang meletakkan telapak tangannya di dadaku dan bilang kamu nggak pernah kalah, kamu cuma selalu nyerah sebelum pertandingan dimulai.
Pagar terbuka. Bukan Pak Haris yang membukanya. Seorang perempuan berusia lima puluhan dengan daster batik ungu, rambut digulung handuk, dan wajah ramah yang terkejut.
“Cari siapa, Mas?”
“Pak Haris ada, Bu? Saya Reyhan. Dari Lintasraya.”
Wajah perempuan itu langsung berubah. Matanya melebar, lalu berbinar.
“Reyhan? Yang pacarnya konsultan pajak? Yang Dodi-nya ngelamar di pesta?”
Aku menatapnya. “Ibu tahu?”
“Mbak Sari posting videonya di grup WhatsApp ibu-ibu kompleks kantor. Bapak nonton tiga kali.” Ia membuka pagar lebih lebar. “Masuk, masuk. Bapak lagi di belakang. Saya Bu Haris. Sudah sarapan?”
“Belum, Bu, tapi saya nggak...”
“Saya bikinin bubur.”
Ternyata Bu Haris dan Bu Ratna adalah tipe ibu yang sama. Tipe yang tidak menerima jawaban tidak untuk pertanyaan soal makan.
Pak Haris ada di halaman belakang, memakai sarung kotak-kotak dan kaus oblong putih, menyiram anggrek dengan selang. Di punggungnya, seorang anak perempuan berumur sekitar empat tahun memeluk lehernya dan berteriak “Lagi, Kakek! Lagi!” setiap kali Pak Haris mengayunkan selang dan air memancar membentuk pelangi kecil di udara pagi.
Aku berdiri di pintu belakang dan tidak bisa bergerak.
Lima tahun aku bekerja di bawah Pak Haris. Lima tahun aku melihatnya dengan kemeja yang disetrika rapi dan kacamata berbingkai tebal dan wajah yang tidak pernah tersenyum di rapat. Aku tidak pernah membayangkan ia memakai sarung. Aku tidak pernah membayangkan ia punya cucu yang memanggilnya Kakek sambil bergelantungan di lehernya.
Pak Haris menoleh dan melihatku.
Ia berhenti menyiram. Air dari selang memancar ke rumput dengan bunyi gemericik. Cucunya ikut menoleh, menatapku dengan mata bulat penasaran.
“Rey,” kata Pak Haris. Datar, seperti biasa.
“Selamat pagi, Pak. Maaf, saya datang nggak bilang dulu.”
Pak Haris menatapku lama. Lalu ia menatap martabak di tanganku.
“Kamu bawa martabak jam enam pagi.”
“Iya, Pak.”
“Martabak itu makanan malam, Rey.”
“Saya tahu, Pak. Tukangnya baru tutup jam lima. Saya beli sisa terakhir.”
Pak Haris diam sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya selama lima tahun, aku melihat sudut bibirnya bergerak. Seperti es yang retak.
“Kiara,” katanya pada cucunya, “turun dulu. Kakek mau ngobrol sama om ini.”
“Om ini siapa?”
“Om yang nggak bisa nyanyi,” kata Pak Haris. “Videonya dikirim Tante Sari ke Nenek.”
Kiara menatapku dengan wajah iba yang sangat tulus untuk anak umur empat tahun, lalu turun dari punggung kakeknya dan berlari ke dalam rumah sambil berteriak, “Nenek! Om yang suaranya jelek datang!”
Aku memejamkan mata.
Kami duduk di teras belakang. Bu Haris membawakan dua mangkuk bubur ayam, dua gelas teh manis, dan sepiring martabak yang sudah dipotong-potong, lalu pergi sambil tersenyum dengan cara yang sangat mirip Mbak Sari. Pak Haris makan buburnya pelan-pelan. Aku tidak menyentuh punyaku.
“Pak,” kataku. “Saya mau minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Untuk formulir itu. Untuk minta batal mendadak. Untuk bikin Bapak repot. Untuk Dodi yang...”
“Dodi datang ke ruangan saya Senin pagi,” kata Pak Haris, memotong.
Aku berhenti.
“Dia bilang dia nggak bisa berangkat.” Pak Haris menyuap buburnya. “Katanya dia baru tunangan, dan dia nggak bisa ninggalin Jess. Dan dia nggak bisa ninggalin sambal Pak Kumis.” Ia mengunyah. “Dia bilang itu dengan serius. Sambal Pak Kumis. Di depan direkturnya.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.
“Jadi,” kata Pak Haris, “saya nggak punya pengganti.”
“Pak, saya bisa bantu cari orang lain. Ada beberapa orang di operasional yang...”
“Rey.”
Aku berhenti lagi.
Pak Haris meletakkan sendoknya. Lalu ia berdiri, masuk ke dalam rumah, dan kembali dua menit kemudian dengan tas kerja kulit cokelat yang sudah sangat kukenal. Tas yang ia bawa ke kantor setiap hari selama lima tahun. Ia membukanya di atas meja teras, dan mengeluarkan selembar kertas.
Formulir Pembatalan Penugasan Luar Negeri.
Tanda tanganku ada di sana. Tulisan tanganku yang gemetar. Alasan pribadi.
Dan di kolom persetujuan direktur, di bagian bawah formulir, ada kotak kosong.
Kosong.
Aku menatap kotak itu. Lalu menatap Pak Haris.
“Bapak belum tanda tangan,” kataku.
“Belum.”
“Tapi Bapak umumin di pesta. Bapak bilang penugasannya dialihkan ke Dodi.”
“Saya bilang akan dialihkan.” Pak Haris menyesap tehnya. “Saya nggak pernah tanda tangan SK untuk Dodi. Tiket tanggal empat belas masih atas namamu. Apartemen di Singapura masih atas namamu. Saya belum batalkan apa-apa.”
“Kenapa, Pak?”
Pak Haris tidak langsung menjawab. Ia menatap anggrek-anggreknya yang basah, yang daunnya berkilau terkena matahari pagi. Lalu ia melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya. Gerakan yang sama yang ia lakukan di ruang rapat ketika Nadine membuatnya kalah tiga kali.
“Dua setengah tahun lalu,” katanya, “saya menolak seorang kandidat Head of Tax karena dia terlalu muda.”
Aku diam.
“Saya pikir keputusan saya masuk akal. Saya pikir saya tahu yang terbaik buat timnya. Buat dia juga, mungkin. Saya pikir dia akan kesulitan memimpin bapak-bapak umur empat puluh lima.” Ia memasang kembali kacamatanya. “Saya nggak pernah nanya dia. Saya nggak nanya apa dia mau mencoba. Saya putuskan buat dia.”
Ia menatapku.
“Dua minggu lalu, saya lihat dia di ruang rapat saya, membongkar rencana yang saya buat dengan pengalaman dua puluh lima tahun, dan saya sadar saya bikin kesalahan terbesar dalam karier saya. Bukan karena saya menolak orang yang hebat. Karena saya menolak orang yang hebat atas nama melindungi dia.”
Angin pagi menggoyang dahan pohon jambu di sudut halaman.
“Terus kamu datang,” lanjut Pak Haris. “Dengan formulir itu. Dengan alasan pribadi. Dan saya tahu persis apa yang sedang kamu lakukan, Rey. Kamu sedang menolak dirimu sendiri. Atas nama melindungi dia.”
Aku tidak bisa bicara.
“Saya umumkan di pesta,” kata Pak Haris, “karena saya pikir kalau kamu dengar keputusanmu sendiri dibacakan di depan enam puluh orang, kamu akan sadar kedengarannya seperti apa.” Ia menghela napas. “Saya nggak tahu dia juga tanda tangan sesuatu. Om Benny baru cerita ke saya Minggu malam. Kalau saya tahu...”
Ia berhenti. Untuk pertama kalinya, Pak Haris Mulyono terlihat tidak yakin dengan apa yang harus ia katakan.
“Saya minta maaf soal pesta itu,” katanya akhirnya. “Itu bukan cara yang baik.”
“Pak...”
“Tapi saya nggak minta maaf soal formulir ini.” Ia mendorong formulir itu ke arahku di atas meja. “Saya pernah menolak orang itu sekali, Rey. Atas nama melindunginya. Saya nggak mau jadi orang yang membantu kamu menolaknya untuk kedua kali, dengan alasan yang sama.”
Aku menatap formulir itu. Kotak kosong di bagian bawah.
“Jadi,” kata Pak Haris. “Kamu datang ke sini jam enam pagi bawa martabak. Pasti ada alasannya.”
Aku mengangkat wajah.
“Saya mau ambil Singapura lagi, Pak,” kataku. “Kalau masih boleh.”
Pak Haris menatapku.
“Kenapa?” tanyanya. Pertanyaan yang sama dengan dua minggu lalu.
Kali ini aku tidak menyiapkan jawabannya. Kali ini aku tidak perlu.
“Karena dia mau ikut, Pak,” kataku. “Dan saya mau dia ikut. Dan saya baru sadar, selama ini, nggak ada yang nanya saya mau apa. Termasuk saya sendiri.”
Pak Haris diam lama. Lalu ia mengambil formulir itu, menatapnya sekali lagi, dan merobeknya. Dua kali. Empat bagian. Ia meletakkan potongan-potongannya di samping mangkuk bubur.
“Satu syarat,” katanya.
“Apa, Pak?”
“Kamu bilang dia dulu.” Pak Haris menatapku tajam dari balik kacamata tebalnya. “Bukan setelah semuanya beres. Bukan sebagai kejutan. Bukan di pesta. Kamu duduk sama dia, kamu bilang, dan kamu tanya dia.”
“Itu yang mau saya lakukan, Pak. Besok pagi.” Aku menelan ludah. “Saya cuma nggak mau datang ke dia dengan ‘mungkin’. Saya mau datang dengan kepastian. Supaya kali ini, kami bisa putuskan bareng dengan semua data di atas meja.”
Pak Haris menatapku lama. Lalu ia mengangguk satu kali.
“Kamu belajar dari dia,” katanya. “Semua data di atas meja. Itu kalimat konsultan pajak.”
Bu Haris memaksaku menghabiskan bubur, lalu membungkuskan sisa martabak dalam kotak plastik “untuk pacarnya”, lalu memelukku di depan pintu seperti ia sudah mengenalku bertahun-tahun.
Di pagar, Pak Haris mengantarku dengan sarung kotak-kotaknya dan Kiara di punggungnya lagi.
“Rey,” katanya.
“Iya, Pak?”
“Lima tahun lalu kamu telat sepuluh menit ke wawancara karena bantu ibu-ibu yang motornya mogok.” Ia menatap jalan kompleks yang sepi. “Saya nggak pernah bilang ini. Tapi saya terima kamu justru karena itu. Bukan meskipun.”
Aku menatapnya.
“Orang yang berhenti buat nolong orang lain itu bagus,” kata Pak Haris. “Tapi sesekali, Rey, kamu juga harus berhenti buat nolong dirimu sendiri.”
Kiara menarik telinga kakeknya. “Kakek, om ini mau nangis.”
“Om ini memang cengeng,” kata Pak Haris datar. “Nenek bilang Kakek juga nangis nonton video Om Dodi.”
“Kakek kelilipan pupuk,” kata Kiara, mengulang sesuatu yang jelas sudah ia dengar.
Pak Haris menatap cucunya. Lalu menatapku. Lalu menutup pagar dengan wajah sangat datar, dan aku mendengar Bu Haris tertawa keras dari dalam rumah.
Aku menelepon Dodi dari dalam Avanza, di pinggir jalan Bintaro.
“REY!” Ia mengangkat di dering pertama. “Lo di mana? Gue telepon lo dua puluh kali dari kemarin! Gue mau minta maaf, gue nggak tahu soal Pak Haris, gue sumpah...”
“Dod. Nggak apa-apa.”
“Bukan nggak apa-apa! Gue hampir ambil Singapura lo! Gue...”
“Kamu tolak.”
Hening.
“Lo tahu?”
“Pak Haris cerita. Kamu bilang kamu nggak bisa ninggalin Jess dan sambal Pak Kumis.”
“Itu dua alasan yang sangat sah, Rey.”
Aku tertawa. Tawa yang sungguhan, yang pertama sejak Jumat lalu.
“Dod,” kataku. “Kamu ngelamar Jess di pesta.”
“Gue nggak ngelamar! Gue bocor! Itu beda!” Suaranya terdengar panik dan bahagia sekaligus. “Jess bilang iya di pantry, tapi gue mau ulang yang bener. Besok malam. Pak Kumis. Lampu bohlam dimatiin. Lilin. Lo harus datang.”
“Besok malam?”
“Besok malam. Jam delapan.” Jeda. “Bawa Nadine, Rey. Kalau... kalau kalian udah baikan.”
Aku menatap jalan di depan. Kotak plastik berisi martabak dari Bu Haris di kursi penumpang.
“Aku bawa,” kataku.
“Lo yakin?”
“Belum,” kataku jujur. “Tapi aku mau nanya dia dulu. Besok pagi.”
Dodi diam lama. Lalu, dengan suara yang tidak lagi seperti Dodi, ia berkata: “Lo akhirnya pinter, Rey.”
Aku menelepon Ibu dari depan pagar kos.
Ibu mengangkat di dering kedua. “Rey.”
“Bu.”
Hening. Ibu tidak bertanya apa-apa. Ia menunggu, seperti ia menunggu tiga belas tahun.
Aku menarik napas. Lalu, untuk pertama kalinya sejak umur tujuh belas, aku mengucapkan kalimat yang berbeda.
“Bu, Rey takut.”
Hening lagi. Lalu aku mendengar suara kecil di ujung telepon. Seperti napas yang tersangkut.
“Takut apa, Nak?” Suara Ibu bergetar.
“Takut dia nyesel. Takut Rey nggak cukup. Takut Rey ngecewain dia.” Aku menyandarkan dahi di pagar besi yang dingin. “Tapi Rey mau maju, Bu. Rey nggak mau mundur lagi.”
Ibu menangis. Aku mendengarnya. Tangis yang pelan dan lega, tangis yang sudah ditahan bertahun-tahun.
“Akhirnya,” kata Ibu di sela tangisnya. “Akhirnya kamu ngomong yang bener.”
“Maaf, Bu. Tiga belas tahun Rey bilang nggak apa-apa.”
“Ibu tahu kamu bohong, Nak. Dari hari pertama.” Ibu tertawa basah. “Bapakmu dulu juga gitu. Kamu tahu Bapak bilang apa waktu kamu lahir?”
“Apa, Bu?”
“Bapak lihat kamu di boks bayi, terus bilang, ‘Anak ini nanti kalau suka sama orang, pasti nunggu orangnya duluan.’” Ibu tertawa lagi. “Bapak bilang, ‘Kayak aku. Untung ibumu galak.’”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Ibu dulu yang ngejar Bapak, Rey,” kata Ibu. “Tiga tahun. Bapakmu nggak berani. Ibu yang datang ke rumahnya bawa rendang.”
“Ibu nggak pernah cerita.”
“Kamu nggak pernah nanya.” Ibu menghela napas. “Nak. Nadine itu kayak Ibu. Dia nggak akan nunggu kamu berani. Dia akan datang bawa rendang.”
“Dia bawa roti, Bu,” kataku. “Sama lima menit.”
“Sama aja,” kata Ibu. “Sekarang giliranmu yang datang, Rey. Bawa apa pun yang kamu punya.”
Malam itu, aku duduk di meja kamar kos dengan selembar kertas HVS kosong.
Daftar lama masih menempel di dinding di atasnya. Tiga belas nomor. Sebagian sudah dicentang. Nomor sebelas masih kosong, dengan tulisan kecilku di sebelahnya: Sudah dijawab. Belum diumumkan.
Aku mencoret tulisan kecil itu.
Lalu aku mengambil kertas HVS yang baru, dan menulis judul di bagian atas dengan huruf kapital, karena aku Operations Lead perusahaan logistik dan aku memang orang yang membuat spreadsheet untuk kencan pertama:
AGENDA SIDANG
Di bawahnya, aku menulis poin-poin. Bukan jawaban. Pertanyaan. Semua pertanyaan yang seharusnya kutanyakan sejak basement. Sejak tangga darurat. Sejak nomor sebelas ditulis dengan tulisan yang lebih kecil dari yang lain.
1. Kamu mau ke Singapura karena posisinya, karena aku, atau dua-duanya?
2. Kalau aku ke Singapura juga, kamu masih mau ke sana?
3. Kamu takut apa? (Aku takut kamu nyesel. Kamu boleh ketawain.)
4. Siapa yang kasih tahu Papa? Bareng?
5. Siapa yang kasih tahu Ibu? (Ibu sudah tahu. Ibu selalu tahu.)
6. Apartemen dekat MRT. Dapurnya muat dua orang. Aku sudah cek. Kamu mau lihat fotonya?
7. Kalau suatu hari salah satu dari kita mau mundur, apa yang harus yang satunya lakukan?
Aku menatap nomor tujuh lama. Lalu menulis jawabannya sendiri di bawahnya, dengan tulisan kecil:
(Telepon lagi besoknya. Kayak vendor di Cikarang.)
Aku melipat kertas itu dan menyelipkannya di saku kemeja yang akan kupakai besok.
Lalu aku mengatur alarm. Pukul empat pagi.
Sebelum tidur, aku mengirim satu pesan.
Aku: Besok pagi. Jam lima. Jangan pakai heels.
Balasan datang dalam sepuluh detik. Ia belum tidur juga.
Nadine: Kenapa jangan pakai heels?
Aku: Karena aku mau kita duduk di lantai.
Ada jeda panjang. Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Nadine: Aku tunggu, Mas.
Lalu satu pesan lagi.
Nadine: Kali ini aku nggak keberatan nunggu.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan reading
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup