Chapter Ten
Dua Tahun Enam Bulan Lalu
POV: Nadine
Hari itu aku memakai blazer hitam terbaik yang kupunya.
Blazer itu kubeli tiga minggu sebelumnya dengan setengah gaji bulananku, di butik di Senayan yang pegawainya memandangiku dari atas ke bawah sebelum memutuskan aku layak dilayani. Aku membelinya khusus untuk wawancara akhir. Aku juga membeli sepatu baru, anting mutiara pertamaku, dan maskara tahan air yang kata iklannya tahan dalam segala situasi.
Iklan itu bohong. Tapi itu nanti.
Umurku dua puluh enam. Aku Senior Tax Manager di salah satu kantor akuntan besar di Sudirman, tempat aku sudah bekerja empat tahun sejak lulus. Aku bekerja dari jam delapan pagi sampai jam sebelas malam hampir setiap hari, menangani klien-klien yang tidak tahu namaku tapi tahu nama atasanku. Aku pintar, dan aku tahu aku pintar, dan aku lelah dianggap sebagai anak yang pintar.
Lalu aku melihat lowongan itu. Head of Tax — PT Lintasraya Logistik. Perusahaan logistik yang sedang tumbuh cepat, punya rencana ekspansi regional, dan membutuhkan seseorang untuk membangun departemen pajaknya dari awal.
Membangun dari awal. Itu yang aku mau. Bukan menjadi bagian dari mesin besar milik orang lain, tapi membangun sesuatu yang bisa kusebut milikku.
Aku melewati tiga tahap wawancara. Tes tertulis, wawancara dengan HR, wawancara dengan CFO. Semuanya lancar. CFO-nya bahkan bilang, Kamu yang terbaik dari semua kandidat. Aku pulang malam itu dan menelepon Mama, dan Mama menangis senang di telepon, dan Papa, dari belakang, berkata dengan suara sidangnya yang khas, Jangan senang dulu sebelum putusan dibacakan.
Papa memang selalu benar soal hal-hal seperti itu.
Wawancara akhir dengan direktur, Pak Haris Mulyono, berlangsung tiga puluh menit di ruangannya di Lantai 21 sisi timur.
Ia pria berusia akhir empat puluhan, rambutnya mulai beruban di pelipis, kacamatanya berbingkai tebal, dan ia membaca CV-ku dengan sangat teliti. Ia bertanya hal-hal yang tajam, dan aku menjawabnya dengan tajam. Di menit kedua puluh, ia meletakkan CV-ku di meja dan menatapku lama.
“Kualifikasimu sangat bagus, Mbak Nadine,” katanya. “Jujur, lebih bagus dari yang saya harapkan.”
Aku menahan napas.
“Tapi kamu dua puluh enam tahun.”
Aku tidak mengerti. “Maaf, Pak?”
“Tim keuangan kami isinya bapak-bapak umur empat puluh lima ke atas. Mereka sudah bekerja di sini sejak perusahaan ini masih punya tiga truk.” Ia melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya, seperti orang yang sedang menyampaikan sesuatu yang tidak enak dan ingin cepat selesai. “Kalau saya taruh kamu di atas mereka, mereka nggak akan dengar kamu. Bukan karena kamu nggak mampu. Karena mereka bapak-bapak, dan kamu...” Ia mencari kata yang tepat. “...masih muda sekali.”
“Saya bisa membuktikan...”
“Saya tahu kamu bisa. Masalahnya, saya nggak punya waktu buat nunggu kamu membuktikan.” Ia memasang kembali kacamatanya. “Maaf, Mbak. Kami akan cari kandidat yang lebih senior.”
Aku menjabat tangannya. Aku bilang terima kasih. Aku bilang semoga sukses. Aku berjalan keluar dari ruangannya dengan punggung lurus dan dagu sedikit terangkat, persis seperti yang selalu diajarkan Papa: jangan pernah biarkan mereka lihat kamu jatuh.
Aku berjalan ke lift. Lift penuh. Delapan orang di dalamnya, tertawa, membicarakan makan siang.
Aku tidak sanggup masuk ke sana.
Jadi aku berbelok, mendorong pintu besi berat bertuliskan TANGGA DARURAT, dan membiarkannya menutup di belakangku.
Tangga darurat Lantai 21 dingin, sempit, dan bau semen. Lampunya neon putih yang berkedip setiap beberapa detik, dan dindingnya dicat abu-abu dengan nomor lantai yang ditulis besar dengan cat merah.
Aku turun beberapa anak tangga sampai bordes pertama, lalu turun lagi tiga anak tangga, dan duduk.
Anak tangga ketiga dari bordes. Aku tidak memilihnya. Kakiku saja yang berhenti di situ.
Lalu aku menangis.
Bukan tangis yang anggun. Tangis yang jelek dan memalukan, yang datang dari tempat yang sudah lama tertutup. Bukan hanya karena hari itu. Karena empat tahun lembur sampai jam sebelas. Karena klien-klien yang memanggil atasanku Pak dan memanggilku Dik. Karena setiap rapat di mana aku harus bicara dua kali lebih keras supaya didengar satu kali. Karena kalimat kamu masih muda sekali yang selalu terdengar seperti pujian tapi selalu berakhir sebagai penolakan.
Maskara tahan airku luntur dalam dua menit. Sanggulku lepas. Aku memeluk lututku dalam blazer hitam yang harganya setengah gaji, dan aku menangis seperti anak kecil yang hilang di pasar.
Aku tidak mendengar pintu di atas terbuka.
Aku baru sadar ada orang lain di sana ketika mendengar seseorang duduk. Bunyi kain di atas beton. Sangat dekat, dua anak tangga di atasku.
Aku membeku dan menunduk lebih dalam, menyembunyikan wajahku di lutut. Jangan lihat. Jangan bicara. Pergi saja.
Orang itu tidak bicara.
Ia hanya duduk di sana. Aku mendengar napasnya, sedikit terengah, seperti orang yang baru saja berjalan cepat. Aku mendengar ia menghela napas panjang, napas orang yang lelah. Lalu bunyi plastik diremas. Lalu hening.
Satu menit. Dua menit. Ia tidak pergi, dan ia tidak bertanya apa-apa.
Anehnya, tangisku pelan-pelan mereda. Mungkin karena malu. Mungkin karena kehadiran orang lain yang diam membuat tangis terasa kurang sendirian dan karena itu kurang mendesak. Aku mulai bisa bernapas. Aku mengusap mataku dengan punggung tangan, dan melihat jari-jariku hitam oleh maskara.
Lalu sesuatu muncul di sudut pandanganku. Sebuah tangan, terulur dari atas, menyodorkan sebungkus roti.
Roti sobek cokelat. Bungkus plastik dengan gambar beruang kecil yang tersenyum.
“Buat jaga-jaga,” kata sebuah suara laki-laki. Pelan dan sedikit serak. “Saya selalu beli dua.”
Aku menatap roti itu. Lalu, tanpa bisa kucegah, aku tertawa. Tawa yang setengah isak dan setengah tidak percaya, karena di tengah hari terburuk dalam kariernya, seorang perempuan dua puluh enam tahun dengan blazer seharga setengah gaji ditawari roti delapan ribu oleh orang asing di tangga darurat.
Aku mengambil roti itu.
“Terima kasih,” kataku, tanpa menoleh. Suaraku parau dan jelek.
“Sama-sama.”
Hening lagi. Aku membuka bungkus roti itu dan menggigitnya. Rasanya manis, sedikit terlalu manis, dan entah kenapa itu persis yang kubutuhkan.
“Saya nggak tahu Mbak kenapa,” kata suara itu setelah beberapa lama. “Dan Mbak nggak perlu cerita. Saya cuma... tadi lihat Mbak keluar dari ruangan Pak Haris.”
Aku menegang.
“Jadi saya tebak,” lanjutnya, hati-hati, “Mbak baru ditolak.”
Aku tidak menjawab. Aku menggigit roti lagi.
“Saya juga sering ditolak,” katanya. “Vendor, terutama. Hampir tiap minggu. Kemarin ada vendor gudang di Cikarang yang nutup telepon waktu saya baru ngomong ‘selamat pagi’.”
Tanpa sadar, aku mendengus. Setengah tawa.
“Terus besoknya saya telepon lagi,” katanya. “Dan dia angkat. Dan sekarang kami kerja sama.”
Aku masih tidak menoleh. Tapi aku mendengarkan.
Ia diam sebentar, seolah memilih kata-kata. Lalu ia berkata, dengan suara yang tiba-tiba sangat lembut, seperti mengatakan sesuatu yang ia sendiri butuh dengar:
“Ditolak itu cuma jawaban, Mbak. Bukan vonis.”
Aku berhenti mengunyah.
Papaku hakim. Aku tumbuh di rumah di mana kata vonis diucapkan di meja makan seperti kata nasi. Aku tahu apa artinya vonis. Vonis adalah keputusan akhir. Tidak bisa diubah. Tidak bisa dibantah. Vonis menentukan siapa dirimu.
Dan laki-laki asing ini, di tangga darurat, baru saja mengatakan bahwa yang terjadi padaku tadi bukan itu.
Cuma jawaban. Dari satu orang, di satu ruangan, di satu hari. Bukan keputusan tentang siapa aku.
Aku menggenggam roti itu lebih erat dan, untuk pertama kalinya hari itu, merasa bisa bernapas sampai ke dasar paru-paru.
Di atas, ponselnya berbunyi. Ia mengumpat pelan, lalu buru-buru minta maaf atas umpatannya. Aku mendengarnya berdiri.
“Saya harus balik rapat,” katanya. “Tadi saya kabur. Cuma minta izin lima menit.”
Lima menit. Ia memberikan lima menitnya pada orang asing yang menangis di tangga.
“Oh, satu lagi, Mbak,” katanya dari atas. “Pintunya jangan ditutup rapat kalau Mbak keluar nanti. Kadang suka kekunci dari luar. Saya pernah kejebak di sini satu jam.”
Aku akhirnya menoleh.
Ia sudah berbalik, menaiki anak tangga menuju pintu. Aku hanya melihat punggungnya. Kemeja biru muda, lengan digulung dua lipatan. Rambut hitam pendek dengan satu helai di belakang kepala yang berdiri sendiri, menolak diatur. Dan di pinggangnya, terayun-ayun di tali lanyard yang ia sampirkan sembarangan di saku celana, sebuah kartu identitas karyawan.
Kartu itu berputar ketika ia melangkah. Untuk sepersekian detik, aku melihat tulisan di sana.
REYHAN A. — Operations. PT Lintasraya Logistik.
Pintu besi terbuka, cahaya dari lorong masuk, dan ia menghilang. Pintunya ia biarkan sedikit terbuka, diganjal sesuatu. Ketika aku naik untuk keluar sepuluh menit kemudian, aku melihat apa yang ia pakai untuk mengganjalnya.
Bungkus roti sobek cokelat yang satunya. Masih utuh. Masih tersegel.
Ia meninggalkan roti keduanya untuk mengganjal pintu supaya aku tidak terkunci.
Aku mengambil roti itu. Aku tidak memakannya. Roti itu kusimpan di laci meja kerjaku sampai kedaluwarsa, dan bungkus plastiknya masih kusimpan sampai sekarang, terselip di sampul belakang sebuah buku catatan bersampul biru navy.
Ia tidak pernah menanyakan namaku. Ia tidak pernah melihat wajahku dengan jelas. Bagi dia, aku hanya perempuan dengan maskara luntur di tangga darurat. Satu dari sekian banyak orang yang pernah menerima roti jaga-jaganya.
Tapi bagiku, ia orang pertama dalam empat tahun yang membuatku merasa bahwa ditolak tidak berarti aku kurang.
Dua bulan kemudian, aku melihat lowongan lain.
Senior Manager, Corporate Tax — Hartono Tax Advisory. Menara Sentra, Lantai 21.
Lantai 21.
Aku membaca lowongan itu dua kali. Lalu aku melamar.
Aku ingin bilang itu kebetulan. Aku ingin bilang aku melamar karena HTA firma konsultan pajak yang bagus, dengan Managing Partner yang terkenal suka memberi kesempatan pada orang muda. Itu semua benar. Om Benny menerimaku setelah satu kali wawancara dan berkata, Kamu dua puluh enam? Bagus. Saya mulai firma ini umur dua puluh tujuh.
Tapi aku tidak akan berbohong pada diriku sendiri. Aku melamar karena lantai 21. Aku melamar karena aku ingin tahu siapa laki-laki itu. Aku ingin berterima kasih dengan benar, dengan wajah yang tidak penuh maskara.
Hari pertamaku di HTA, aku berdiri di depan lift dan menunggu. Aku menunggu setiap pagi selama satu minggu. Aku memperhatikan setiap laki-laki berkemeja biru yang keluar dari pintu Lintasraya. Aku makan siang di Pantry Bersama, pura-pura membaca, menunggu helai rambut yang berdiri sendiri itu muncul.
Ia tidak pernah muncul.
Di minggu ketiga, aku mulai panik. Mungkin ia sudah resign. Mungkin ia dipindah. Mungkin aku menukar pekerjaan di firma terbesar di Sudirman demi seseorang yang bahkan tidak ada di sini lagi.
Di minggu keempat, malam-malam, aku berhenti di meja keamanan lobby dan memberanikan diri bertanya pada satpam yang selalu duduk di sana dengan termos tehnya.
“Pak, maaf. Bapak kenal karyawan Lintasraya yang namanya Reyhan? Operations?”
Satpam itu mengangkat wajah dari layar CCTV dan menatapku lama. Lama sekali. Dengan cara yang membuatku merasa ia sedang membaca sesuatu yang tertulis di wajahku.
“Saya cuma satpam, Mbak,” katanya.
Aku mengangguk, malu, dan berbalik pergi.
“Mas Rey lagi tugas di Surabaya, Mbak,” katanya di belakangku. “Buka gudang baru. Empat bulan. Pulangnya bulan depannya lagi.”
Aku menoleh. Ia sudah kembali menatap layar CCTV, menyesap teh, seolah tidak mengatakan apa-apa.
Begitulah aku mengenal Pak Darto.
Empat bulan kemudian, ia kembali.
Pukul delapan pagi, aku sedang menyeberangi lobby sambil membaca email di ponsel. Lalu sesuatu, insting atau entah apa, membuatku mengangkat wajah. Dan di sana, di dekat pintu masuk, dengan koper kecil di satu tangan dan kemeja biru muda yang kusut setelah perjalanan, berdiri laki-laki dengan satu helai rambut yang berdiri sendiri di belakang kepalanya.
Ia sedang menatapku.
Tidak menatap seperti orang yang mengenaliku. Menatap seperti orang yang baru saja melihat sesuatu untuk pertama kali. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya lebar. Dan kakinya terus berjalan, tanpa arah, tanpa melihat ke depan.
Ia berjalan tepat ke pintu kaca yang tidak pernah dibuka sejak gedung ini berdiri.
BUK.
Seluruh lobby menoleh. Ia memegangi dahinya, membungkuk minta maaf pada pintu kaca itu, sungguh, ia membungkuk pada pintu, lalu buru-buru ke meja keamanan, tempat Pak Darto sudah menyiapkan plester bergambar beruang.
Aku berjalan sangat cepat ke toilet lobby, masuk ke bilik paling ujung, menutup mulut dengan kedua tangan, dan tertawa sampai perutku sakit dan air mataku keluar. Lalu, di tengah tawa itu, aku menyadari sesuatu.
Ia tidak mengenaliku. Ia tidak ingat perempuan di tangga darurat. Tapi barusan, ketika ia melihatku, ia melihatku seperti itu.
Dan aku memutuskan untuk menunggu.
Bukan karena aku pemalu. Aku tidak pernah pemalu. Aku menunggu karena aku ingin ia mengenalku sebagai aku. Bukan sebagai perempuan menangis yang harus dikasihani, bukan sebagai utang budi yang harus dibayar. Aku ingin ia mendekatiku karena ia mau, bukan karena aku datang padanya membawa ucapan terima kasih yang membuatnya merasa wajib.
Malam itu, aku membeli buku catatan kecil bersampul biru navy di toko alat tulis di lantai dasar. Di halaman pertamanya, aku menulis satu kalimat.
Ditolak itu cuma jawaban, bukan vonis.
Di halaman kedua:
Hari ini dia pulang dari Surabaya. Dia nabrak pintu kaca waktu lihat aku. Dia nggak ingat aku.
Nggak apa-apa. Aku tunggu.
Aku tidak tahu waktu itu bahwa menunggu akan berlangsung dua tahun. Bahwa ia akan mencuri pandang setiap hari dan tidak pernah berani menyapa. Bahwa aku akan mengatur jadwal pagiku supaya kami sesekali berada di lift yang sama. Bahwa aku akan mulai membeli lele di warung yang ia sukai. Bahwa buku itu akan penuh, dan aku akan membeli isi ulangnya dua kali.
Aku juga tidak tahu bahwa suatu hari ia akan berdiri di lobby yang sama, dengan dua roti di tangan, dan meminta waktu lima menit.
Kamis malam, pukul sepuluh, aku mengecek Lintasraya sebelum pulang.
Lampu ruang kerja mereka sudah dimatikan sebagian. Yang tersisa hanya lampu di ruang tunggu kecil dekat resepsionis, tempat ada sofa abu-abu panjang untuk tamu.
Ia tertidur di sana.
Masih dengan kemeja kerjanya, sepatu masih terpasang, satu kaki menjuntai dari ujung sofa yang terlalu pendek untuknya. Laptopnya terbuka di meja kopi dengan layar yang sudah redup. Ia tidur dengan satu tangan di atas dada, mulut sedikit terbuka, dan helai rambut di belakang kepalanya tertekan bantal sofa sampai, untuk pertama kalinya, tidak berdiri.
Aku berdiri di ambang pintu lama sekali.
Lalu aku melepas blazerku dan menyelimutkannya di atas dadanya, pelan, supaya ia tidak bangun. Ia bergerak sedikit, bergumam sesuatu yang tidak jelas, lalu kembali tenang.
Aku berjongkok di samping sofa, menatap wajahnya dari dekat. Wajah yang dulu hanya kulihat dari belakang, dari pantulan dinding lift, dari jendela taksi. Wajah yang sekarang boleh kutatap selama yang aku mau.
Ia memberiku lima menit dua setengah tahun lalu, tanpa tahu namaku. Ia memberiku roti keduanya untuk mengganjal pintu. Dan ia bahkan tidak ingat.
“Mas,” bisikku, sangat pelan, supaya ia tidak terbangun. “Ingat, dong.”
Ia tidak bangun. Tentu saja tidak.
Aku tersenyum, merapikan blazer di dadanya, lalu berdiri dan berjalan keluar. Di meja keamanan lobby, aku berhenti.
“Pak Darto, Mas Rey ketiduran di sofa kantornya. Tolong bangunkan jam sebelas, ya. Suruh pulang.”
Pak Darto mengangguk, lalu membuka buku hijau tuanya dan menulis sesuatu.
“Mbak,” katanya, tanpa mengangkat wajah. “Sudah dua tahun enam bulan, ya?”
Aku berhenti di depan pintu kaca yang benar.
“Bapak menghitung?”
“Saya cuma satpam, Mbak,” kata Pak Darto. “Tapi satpam yang baik itu mencatat.”
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu reading
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup