Chapter Six
Kencan Pertama Versi Rey
POV: Rey
File itu bernama KENCAN_JUMAT_FINAL_v3.xlsx.
Ada tiga versi karena versi pertama terlalu ambisius (termasuk naik helikopter wisata yang ternyata harganya setara gajiku tiga bulan), dan versi kedua terhapus waktu aku tidak sengaja menekan Ctrl+Z dua puluh kali karena panik melihat Pak Haris lewat di belakang kursiku.
Versi ketiga punya empat belas baris, enam kolom, dan pewarnaan bersyarat.
18.30 — Jemput di lobby. Catatan: JANGAN tabrak pintu kaca.
18.45 — Jalan ke restoran rooftop. Cadangan: jalan kaki kalau macet. Catatan: pastikan payung.
19.00 — Makan malam di rooftop “Langit Senja”, estimasi 800 ribu. Cadangan: restoran Italia lantai 3.
20.30 — Nonton di Kuningan City. Cadangan: kafe dessert. Catatan: film romantis (BUKAN horor).
Dan seterusnya, sampai baris keempat belas: 22.30 — Antar pulang. Jangan lupa bilang terima kasih.
Dodi membaca seluruh file itu di layarku, lalu menepuk bahuku dengan tatapan iba.
“Rey,” katanya. “Ini kencan, bukan delivery order.”
“Ini terstruktur.”
“Ada kolom estimasi biaya.”
“Supaya aku nggak kaget.”
“Dan baris satu, catatannya: jangan tabrak pintu kaca.”
“Itu penting.”
Fikri, di meja seberang, mengangkat tangan. “Mas, saya mau kasih masukan. Prakiraan cuaca Jumat malam, peluang hujan delapan puluh persen.”
“Restorannya punya atap retractable,” kataku. “Aku sudah cek di website-nya.”
Fikri menatapku lama. “Oke, Mas. Saya catat.”
Jumat pukul enam dua puluh lima, aku sudah berdiri di lobby, lima menit lebih awal dari baris pertama.
Pukul enam dua puluh delapan, Pak Darto mengangkat wajah dari meja keamanan, menatap pintu kaca, lalu menatapku. “Mas Rey. Hati-hati.”
“Saya hati-hati, Pak.”
“Bukan pintunya, Mas,” kata Pak Darto pelan. “Napasnya.”
Aku tidak mengerti maksudnya, sampai pintu Lift Nomor 3 terbuka pukul enam tiga puluh tepat.
Ia sudah berganti pakaian. Blazer dan rok pensil kerjanya sudah tidak ada. Sebagai gantinya ia memakai gaun biru tua sederhana sepanjang betis, berlengan pendek dengan bahan jatuh lembut yang bergerak setiap kali ia melangkah. Rambutnya digerai sepenuhnya, bergelombang dan hitam mengilap sampai punggung, satu sisi diselipkan ke belakang telinga dengan jepit mutiara kecil. Lipstiknya sedikit lebih gelap dari biasanya, merah tua yang lembut. Dan ia memakai sepatu bertali tipis, bukan heels kantor, sehingga untuk pertama kalinya ia sedikit lebih pendek dari biasanya. Puncak kepalanya kira-kira sejajar dengan daguku.
Aku lupa bernapas. Ternyata itu maksud Pak Darto.
“Hai,” katanya.
“Kamu...” kataku, lalu berhenti, karena tidak ada satu pun kata di kepalaku yang cukup.
“Aku?” Ia memiringkan kepala, menunggu.
“Kamu bikin aku lupa baris dua.”
Ia tertawa, lalu menggandeng lenganku. “Baris dua apa?”
“Rahasia.”
“Kamu bikin spreadsheet, ya.”
“...Siapa yang bilang?”
“Telingamu,” katanya, tersenyum ke arah telingaku yang, tentu saja, sudah merah.
Hujan turun pukul enam empat puluh, tepat ketika kami keluar dari gedung.
Bukan gerimis. Hujan Jakarta yang sungguhan, yang datang tanpa basa-basi dan langsung mengubah trotoar Rasuna Said menjadi sungai kecil. Aku membuka payung yang sudah kusiapkan sesuai catatan baris dua, dan payung itu terbalik ditiup angin dalam tiga detik.
Kami berlari kembali ke kanopi gedung, setengah basah. Nadine tertawa sampai harus memegang lenganku untuk berdiri.
“Rencana cadangan baris dua,” kataku, terengah, “naik taksi.”
Taksi online yang kupesan dibatalkan dua kali. Yang ketiga datang dua puluh menit kemudian, dan sopirnya membahas harga cabai sepanjang perjalanan.
Pukul tujuh dua puluh, kami sampai di restoran rooftop Langit Senja. Pintunya tertutup. Ada papan kecil di depannya: MOHON MAAF, MALAM INI KAMI TUTUP UNTUK ACARA PRIVAT.
Aku menatap papan itu. Lalu menatap ponselku, di mana email konfirmasi reservasiku masih tersimpan rapi.
Seorang petugas restoran keluar dengan wajah bersalah. “Mas Reyhan, ya? Mohon maaf sekali, Mas. Ada acara lamaran mendadak. Kami sudah coba telepon Mas tiga kali.”
Aku memeriksa ponsel. Tiga panggilan tak terjawab, tertimbun di bawah sembilan puluh dua notifikasi dari grup Tim Sukses Lantai 21, yang sejak tadi mengirim stiker semangat, foto Nadine yang diambil diam-diam dari kejauhan di lobby, dan satu pesan dari Fikri: Mas, hujan. Udah saya bilang.
“Restoran Italia lantai tiga,” kataku pada Nadine dengan suara yang sudah mulai putus asa. “Rencana cadangan baris tiga.”
Restoran Italia lantai tiga penuh. Antreannya empat puluh lima menit.
Bioskop Kuningan City, baris empat, semua jadwal film romantis habis. Yang tersisa hanya film horor tentang kuntilanak di pabrik tekstil, dan kolom catatan di spreadsheet-ku dengan jelas berbunyi BUKAN HOROR dalam huruf kapital.
Pukul delapan lewat sepuluh, kami berdiri di depan bioskop, gaun Nadine sedikit basah di bagian bawah, rambutku lepek, dan empat belas baris rencanaku tinggal puing-puing.
“Maaf,” kataku. Rasanya aku ingin tenggelam ke lantai mal. “Aku sudah rencanain semuanya. Ada kolom cadangan. Ada pewarnaan bersyarat. Dan semuanya...”
“Mas.”
“...gagal. Semuanya gagal. Kamu nolak chef dari Lyon buat ini, dan aku bahkan nggak bisa...”
“Mas Reyhan.”
Aku berhenti.
Nadine menatapku dengan wajah serius, lalu bertanya satu hal yang sama sekali tidak kuduga.
“Kamu lapar nggak?”
Warung pecel lele Pak Kumis terletak di trotoar lebar dua ratus meter dari Menara Sentra, di bawah tenda terpal oranye yang selalu bocor di sudut kanan. Ada enam meja kayu panjang, kursi-kursi plastik merah, satu gerobak dengan wajan raksasa, dan Pak Kumis sendiri, yang kumisnya begitu tebal sampai orang-orang menamai warungnya dengan kumis itu.
Aku makan di sini setidaknya dua kali seminggu selama lima tahun. Tim Lintasraya menyebutnya “kantor cabang”. Ini juga tempat yang paling tidak masuk akal untuk kencan pertama dengan Bidadari Lantai 21.
Tapi Nadine yang memilihnya. Begitu kami keluar dari mal, ia menarik tanganku ke arah sini tanpa ragu sedikit pun, seolah sudah tahu jalannya.
Dan sekarang ia duduk di kursi plastik merah dengan gaun biru tua dan jepit mutiara, di bawah terpal yang meneteskan air hujan, dan seluruh warung berhenti makan untuk memandanginya.
Aku tidak melebih-lebihkan. Dua mahasiswa di meja sebelah berhenti mengunyah dengan nasi masih di mulut. Seorang bapak ojek online yang sedang menunggu pesanan menurunkan ponselnya pelan-pelan. Tukang parkir di pinggir jalan, yang biasanya meniup peluit setiap tiga detik, berdiri mematung dengan peluit menempel di bibir tanpa bunyi apa pun, sementara sebuah mobil mundur sendiri tanpa arahan dan hampir menabrak gerobak es dawet.
Di bawah lampu bohlam kuning yang tergantung dari tiang terpal, wajahnya terlihat seperti lukisan yang salah dipajang di tempat yang terlalu biasa. Kulitnya cerah dan sedikit lembap karena udara hujan, beberapa helai rambut menempel di pelipisnya, dan bibirnya yang merah tua tersenyum melihat daftar menu yang ditulis tangan di karton.
Pak Kumis menghampiri meja kami dengan buku pesanan, menatap Nadine, lalu mengerutkan kening.
“Lho,” katanya. “Mbak yang biasa bungkus lele jam sembilan malem itu, kan? Sambal terasinya dipisah?”
Aku menoleh ke Nadine.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ekspresinya goyah. Hanya sedetik. Matanya melebar sedikit, lalu langsung kembali tenang.
“Iya, Pak,” katanya. “Enak, sih.”
“Wah, tumben makan di sini, Mbak. Biasanya cuma bungkus terus langsung pergi.” Pak Kumis lalu menoleh padaku dan menyeringai, kumisnya terangkat. “Sama Mas Rey, toh. Pantesan.”
“Pantesan apa, Pak?”
“Nggak, Mas. Pesan apa?”
Nadine memesan dengan lancar: lele goreng kering dua, tempe penyet satu, sambal terasi dipisah dan sambal bawang satu, lalapan lengkap, es jeruk dua. Itu pesananku. Lagi. Persis pesananku.
Begitu Pak Kumis pergi, aku menatapnya.
“Kamu sering ke sini?”
“Kadang-kadang.”
“Jam sembilan malam?”
“Kalau lembur.”
“Kantormu ada di sebelah kantor yang punya katering sendiri, Din. Ada lima puluh restoran di gedung kita. Kenapa jauh-jauh ke sini?”
Nadine menyesap es jeruk yang baru datang, menatapku dari balik gelas, dan berkata dengan tenang, “Karena lelenya enak.”
Aku tahu itu bukan jawaban yang lengkap. Aku juga tahu aku tidak akan dapat jawaban yang lebih lengkap malam ini.
Nadine makan dengan tangan.
Bukan dengan canggung, bukan dengan ujung jari seperti orang yang takut kotor. Ia mencuci tangan di kobokan, menggulung lengan gaunnya sedikit, lalu menyuwir daging lele dengan cekatan, mencocolnya ke sambal terasi, dan makan dengan nikmat seperti orang yang sudah melakukannya ratusan kali. Gaun biru tua, jepit mutiara, dan jari-jari bersambal. Aku tidak tahu kenapa kombinasi itu terasa lebih memikat dari apa pun yang pernah kulihat.
“Kenapa?” tanyanya, menyadari aku menatap.
“Nggak. Kamu... makannya hebat.”
“Itu pujian?”
“Itu kekaguman.”
Ia tersenyum, lalu mengambil sejumput daging lele, mencocolnya banyak-banyak ke sambal bawang yang paling pedas, dan mengulurkannya ke depan mulutku.
“Buka,” katanya.
“Itu sambal bawang. Itu yang paling pedas.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak kuat sambal bawang, Din.”
“Aku tahu,” katanya lagi, lebih pelan, matanya berkilat nakal. “Makanya. Aku mau lihat.”
“Lihat apa?”
“Lihat kamu tahan atau nggak. Kalau kamu tahan nggak minum sampai hitungan sepuluh...” Ia memiringkan kepala, rambutnya jatuh ke satu sisi. “...aku kasih hadiah.”
“Hadiah apa?”
“Rahasia.”
Mahasiswa di meja sebelah sudah benar-benar berhenti makan dan menonton kami seperti menonton sinetron. Tukang parkir masih memegang peluitnya. Pak Kumis pura-pura menggoreng tapi menghadap ke arah kami.
Aku membuka mulut.
Jarinya menyentuh bibirku sekilas ketika ia menyuapkan lele itu. Rasa sambal bawangnya meledak di lidahku seperti kembang api, panas dan tajam sampai ke ubun-ubun. Mataku berair dalam hitungan dua. Keringat muncul di dahiku dalam hitungan empat. Di hitungan tujuh, aku memukul-mukul meja dengan telapak tangan, dan seluruh warung mulai menghitung bersama, termasuk dua mahasiswa, bapak ojek online, dan Pak Kumis.
“DELAPAN! SEMBILAN! SEPULUH!”
Aku menyambar es jeruk dan menghabiskannya dalam satu tarikan. Warung bertepuk tangan. Tukang parkir akhirnya meniup peluitnya, panjang dan nyaring, seperti wasit yang mengakhiri pertandingan.
Nadine tertawa sampai menutupi wajah dengan punggung tangannya yang bersih. Bahunya bergetar, matanya berair, dan wajahnya memerah sampai ke leher. Aku belum pernah melihatnya tertawa selepas itu. Aku yakin tidak ada satu pun orang di Lantai 21 yang pernah melihatnya tertawa seperti itu.
“Hadiahnya,” kataku, masih kepedasan, lidah masih terbakar. “Mana hadiahnya?”
Ia berhenti tertawa. Menatapku. Lalu mengambil tisu dan, dengan gerakan pelan dan hati-hati, menyeka keringat di dahiku. Lalu di pelipisku. Lalu, sangat lambat, di sudut bibirku yang masih ada sisa sambal.
“Ini hadiahnya,” katanya pelan.
Pedasnya hilang. Atau mungkin aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Hujan sudah reda ketika kami selesai. Aku memaksa membayar, karena kemarin ia bilang kamu bayar yang besok, dan Pak Kumis memberi kami diskon lima ribu “untuk pasangan baru”, yang sama sekali tidak kuminta dan membuat telingaku merah lagi.
Kami berjalan pelan di trotoar yang basah, kembali ke arah gedung tempat taksinya akan menjemput. Udara malam terasa sejuk dan bersih seperti baru dicuci. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air.
Aku melepas jaketku dan menyampirkannya di bahunya. Ia tidak menolak. Ia hanya menariknya lebih rapat, lalu menggandeng lenganku dan menyandarkan sedikit kepalanya di bahuku.
“Maaf,” kataku lagi. “Spreadsheet-nya gagal total.”
“Mas,” katanya. “Kamu tahu kenapa ini kencan terbaikku?”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak perlu pura-pura kenyang,” katanya. “Karena aku bisa makan pakai tangan. Karena aku lihat kamu nangis kepedasan di depan dua belas orang dan kamu tetap nggak lepasin es jeruknya sampai habis.” Ia terdiam sebentar. “Dan karena ini tempat yang kamu suka.”
Aku menoleh ke arahnya. “Kok kamu tahu aku suka tempat ini?”
Ia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu mempererat genggamannya di lenganku.
Taksinya datang. Sebelum masuk, ia mengembalikan jaketku, berdiri berjinjit sedikit, dan merapikan helai rambutku yang berdiri sendiri. Helai itu berdiri lagi. Ia tertawa.
“Terima kasih, Mas. Kencannya bikin aku kagum.”
Pintu taksi tertutup. Aku berdiri di trotoar sampai mobil itu hilang di tikungan.
Ponselku bergetar. Bukan dari grup, bukan dari Nadine. Sebuah email masuk, dari alamat yang membuat perutku terasa seperti baru menelan sambal bawang lagi.
Dari: Haris Mulyono, Direktur
Perihal: Jadwal Keberangkatan Singapura
Rey, Senin pagi ke ruangan saya. Tanggal sudah fix.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey reading
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup