← Lima Menit di Lobby

Chapter Seven

Pelukan yang Kepanjangan

POV: Nadine


Aku sudah tahu tanggalnya sejak Sabtu sore.

Pak Darto yang memberitahuku. Ia tidak menelepon atau mengirim pesan, karena Pak Darto tidak pernah melakukan hal semencolok itu. Sabtu siang aku mampir ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal, dan ketika aku melewati meja keamanan, ia mengangguk sopan seperti biasa, lalu berkata dengan suara datar tanpa mengangkat wajah dari layar CCTV:

“Tanggal empat belas, Mbak. Bulan depannya lagi.”

Aku berhenti. “Pak Darto tahu dari mana?”

“Saya cuma satpam, Mbak.”

Itu jawaban yang selalu ia berikan untuk semua pertanyaan yang tidak ingin ia jawab. Selama dua tahun, aku sudah mendengarnya sedikitnya tiga puluh kali, dan aku tidak pernah berhasil menembusnya.

Tanggal empat belas. Kuhitung di kepala sambil menunggu lift, mulai dari Senin. Delapan puluh satu hari.

Malam itu aku menulis angka 81 di pojok kanan atas halaman baru buku biru navy, lalu menutupnya cepat-cepat karena tanganku gemetar.


Senin pagi, Mas Reyhan tidak ada di depan Lift Nomor 3.

Aku menunggu sampai pukul delapan lewat sepuluh, lalu naik sendirian. Ponselku diam. Tidak ada selamat pagi, tidak ada stiker beruang yang biasa ia kirim setiap pukul tujuh tiga puluh, yang kubalas dengan satu titik saja karena aku tahu ia akan menganggap titik itu sebagai teka-teki dan memikirkannya sampai siang.

Pukul sembilan, Jess masuk ke ruanganku dan duduk di kursi tamu tanpa diundang.

“Dia lagi di ruangan Pak Haris,” katanya.

“Aku tahu.”

“Tentu saja kamu tahu.” Jess memandangiku. “Kamu sudah ngapain aja dari jam delapan?”

“Kerja.”

Jess menunjuk laptopku. Layarnya menampilkan dokumen kosong dengan judul Draft Memo Klien Sentosa Baja dan kursor yang berkedip di baris pertama. Sudah satu jam berkedip di sana.

“Kerja apa?”

“Sedang menyusun struktur berpikir.”

“Struktur berpikirmu kosong, Din.”

Aku menutup laptop. Jess benar, dan aku benci kalau ia benar sepagi ini.

“Dia belum ngabarin,” kataku akhirnya.

“Dia baru masuk ruangan jam setengah sembilan. Kasih dia waktu.”

“Aku tahu apa yang akan dibilang Pak Haris, Jess. Aku tahu tanggalnya. Aku tahu jumlah harinya. Yang aku nggak tahu...” Aku berhenti, karena suaraku mulai keluar dengan nada yang tidak kusukai. “Yang aku nggak tahu, gimana dia akan bilang ke aku.”

Jess terdiam sebentar. Lalu ia berdiri, berjalan memutari meja, dan memelukku dari samping, dagunya bertumpu di puncak kepalaku. Jess selalu wangi sabun bayi. Ia bersumpah itu bukan sabun bayi, tapi aku pernah melihat botolnya di kamar mandinya.

“Kamu tahu gimana dia akan bilang,” kata Jess pelan. “Dia akan bercanda. Laki-laki kayak dia selalu bercanda kalau lagi sedih.”

Pintu diketuk. Tari menyembulkan kepala.

“Bu, Om Benny nanya Ibu sudah...” Ia melihat Jess memelukku dan matanya melebar. “Maaf, Bu, saya ganggu momen.”

“Ini bukan momen, Tari.”

“Baik, Bu.” Tari mundur pelan-pelan. Lalu, dari balik pintu yang hampir tertutup: “Tapi Ibu cantik banget hari ini. Saya cuma mau bilang itu. Blazer krem sama anting mutiara, saya catat.”


Pesannya datang pukul tiga belas lewat dua puluh.

Mas Lift 3: Kabar baik! Aku dapat jatah bagasi 30 kilo. Bisa bawa rendang Ibu banyak.

Lalu, satu menit kemudian:

Mas Lift 3: Tanggal 14 bulan depannya. Pak Haris bilang kantor Singapura sudah siap. Aku dapat apartemen dekat stasiun MRT, katanya pemandangannya ke taman. Lumayan kan.

Lalu, tiga menit kemudian:

Mas Lift 3: Kamu sibuk ya? Nggak apa-apa. Nanti aja.

Aku membaca ketiga pesan itu berulang-ulang. Rendang. Bagasi. Pemandangan taman. Semua kalimatnya ringan, rapi, dan diberi tanda seru di tempat yang tepat. Tidak ada satu kata pun yang bilang ia sedih.

Jess benar. Ia bercanda.

Aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi, menghapusnya lagi. Semua yang kutulis terdengar salah. Aku sudah tahu terdengar menakutkan. Selamat terdengar seperti bos yang mengucapkan selamat atas mutasi karyawan. Jangan pergi terdengar egois dan tidak adil, dan itu bukan hakku.

Akhirnya aku hanya mengetik:

Nadine: Pulang jam berapa?

Mas Lift 3: Jam enam, kayaknya.

Nadine: Basement B2. Tunggu aku di mobilmu.


Mobilnya adalah Avanza abu-abu tahun 2014 yang catnya mulai kusam di bagian kap dan punya stiker Ibu Selalu Di Hati di kaca belakang, yang menurut pengakuannya ditempel ibunya sendiri sebagai “pengingat”. Mobil itu parkir di B2, di bawah lampu neon yang sedikit berkedip, tepat di sebelah Porsche putih yang mengilap seperti baru dikeluarkan dari dus.

Pilar tiga. Tentu saja.

Mas Reyhan bersandar di pintu mobilnya, kemeja birunya sudah kusut setelah seharian, lengan masih digulung dua lipatan. Ia sedang menatap ponselnya. Ketika mendengar langkah heels-ku menggema di lantai beton basement, ia mengangkat wajah dan langsung tersenyum.

Senyum yang terlalu lebar. Senyum yang terlalu cepat.

“Hai!” katanya. “Kamu sudah baca pesanku? Tiga puluh kilo, Din. Tiga puluh. Aku bisa bawa rice cooker kalau mau.”

“Aku sudah baca.”

“Apartemennya juga lumayan. Ada kolam renang. Aku nggak bisa renang, sih, tapi...”

“Mas.”

“...tapi kata Pak Haris, kalau mau belajar, ada pelatih di gedungnya. Bayangin, umur tiga puluh belajar renang. Nanti aku kirim videonya ke kamu, pasti lucu, kayak kucing kecemplung...”

“Mas Reyhan.”

Ia berhenti.

Di bawah lampu neon yang berkedip, wajahnya terlihat lelah. Bukan lelah karena kerja. Lelah yang lain, yang tinggal di bawah mata dan di sudut bibir yang tetap tersenyum padahal sudah tidak punya alasan untuk tersenyum.

“Delapan puluh satu hari,” kataku.

Senyumnya membeku. “Kamu ngitung?”

“Aku jago matematika.”

“Itu... iya. Kamu konsultan pajak.” Ia tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mana-mana. “Delapan puluh satu hari. Lumayan lama, kan? Hampir tiga bulan. Banyak yang bisa...”

Aku tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat itu.

Aku melangkah maju, melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya, dan memeluknya.

Ia tersentak. Seluruh tubuhnya kaku, seperti papan. Kedua tangannya terangkat di udara, tidak tahu harus ke mana, persis orang yang ditodong pistol. Aku menyandarkan pipiku di dadanya, di kain kemejanya yang wangi sabun cuci dan sedikit wangi kopi dari pantry, dan aku bisa mendengar jantungnya berdetak sangat cepat di bawah telingaku. Sangat cepat. Seperti orang yang baru saja berlari dari lantai dasar ke lantai dua puluh satu lewat tangga.

“Din,” bisiknya. Suaranya serak.

“Diam.”

“Ini basement. Ada CCTV.”

“Pak Darto nggak akan bilang siapa-siapa.”

“Pak Darto bilang ke semua orang.”

“Pak Darto cuma bilang ke orang yang perlu tahu, Mas,” kataku ke dalam kemejanya. “Diam. Peluk balik.”

Pelan-pelan, sangat pelan, kedua tangannya turun dari udara. Satu tangan menyentuh punggungku dengan ragu, seolah takut menyentuh sesuatu yang bisa pecah. Lalu tangan yang lain. Lalu, setelah satu tarikan napas panjang yang bergetar, ia memelukku balik. Sungguh-sungguh. Lengannya melingkar penuh, menarikku lebih rapat, dagunya turun dan bertumpu di puncak kepalaku.

Dan seluruh tubuhnya yang kaku tadi tiba-tiba melunak, seperti orang yang sudah menahan napas terlalu lama dan akhirnya diizinkan bernapas.

Kami berdiri seperti itu di basement B2, di bawah lampu neon yang berkedip, di antara Avanza bertuliskan Ibu Selalu Di Hati dan Porsche putih seharga sebuah rumah.

“Aku nggak sedih,” katanya ke rambutku, sangat pelan.

“Aku tahu.”

“Beneran. Ini kesempatan bagus. Karierku. Ibu bangga. Aku nggak sedih sama sekali.”

“Aku tahu, Mas.”

“Cuma...” Ia berhenti. Aku merasakan dadanya naik turun di bawah pipiku. “Cuma aku baru dapat kamu sembilan hari. Dan delapan puluh satu hari itu tiba-tiba kedengaran pendek banget.”

Aku memejamkan mata. Ada sesuatu yang panas naik ke tenggorokanku, dan aku menahannya dengan memeluknya lebih erat.

Ia mengira ia baru mendapatkanku sembilan hari. Ia tidak tahu aku sudah menunggunya dua tahun enam bulan. Ia tidak tahu bahwa delapan puluh satu hari bagiku adalah waktu terlama yang pernah kumiliki bersamanya.

Setelah beberapa lama, mungkin dua menit, mungkin lima, ia bergerak sedikit, seperti hendak melepaskan pelukan.

Aku tidak melepaskannya.

“Din?”

“Belum.”

“Sudah lama, lho.”

“Aku belum mau lepas, Mas.” Aku menengadah sedikit, cukup untuk melihat dagunya dan sebagian wajahnya yang merah. “Kalau mau protes, ajukan ke direksi.”

“Direksinya siapa?”

“Aku.”

Ia tertawa. Tawa yang betulan kali ini, yang dalam dan bergetar di dadanya, langsung terasa di pipiku. Lalu ia menyerah, mengeratkan pelukannya, dan bersandar ke belakang supaya lebih nyaman.

Ia bersandar terlalu jauh ke belakang. Bahunya menyentuh spion Porsche putih di sebelah Avanza.

WIIIUU WIIIUU WIIIUU.

Alarm mobil itu meraung di basement seperti sirene ambulans, memantul di dinding-dinding beton, berlipat-lipat. Lampu sein Porsche berkedip kuning-kuning. Kami melompat terpisah. Mas Reyhan menatap mobil itu dengan wajah ngeri, seperti orang yang baru saja membangunkan naga.

“Aku nggak sengaja!” katanya pada mobil itu, seolah mobil itu bisa mendengar.

Dari arah lift basement, terdengar langkah tergesa-gesa. Lalu suara laki-laki yang sangat kukenal, suara yang kemarin menawarkan restoran Prancis dengan chef dari Lyon: “Hei! Hei, itu mobil saya!”

Mas Reyhan menatapku dengan panik.

Aku menatapnya balik dengan tenang, lalu menarik tangannya.

“Masuk mobil, Mas. Sekarang.”

Kami masuk ke Avanza. Mas Reyhan menyalakan mesin dengan tangan gemetar, dan mobil tua itu terbatuk dua kali sebelum hidup. Ketika kami keluar dari slot parkir, aku melihat Kenzo Wiradinata berlari dari arah lift dengan jas abu-abu yang berkibar dan remote kunci di tangan, wajahnya merah karena marah dan karena berlari.

Lalu ia melihat kami. Melihatku di kursi penumpang Avanza abu-abu. Dan ia berhenti berlari, mulutnya terbuka.

Aku melambai kecil padanya dari balik kaca. Sopan, seperti biasa.

Mas Reyhan menginjak gas sedikit terlalu dalam. Avanza itu meluncur ke jalur keluar basement dengan bunyi ban yang sedikit berdecit, stiker Ibu Selalu Di Hati berkilau terkena lampu neon, dan alarm Porsche masih meraung di belakang kami seperti lagu pengiring yang dramatis.

Kami tidak bicara sampai keluar dari gedung. Lalu, di lampu merah pertama di Rasuna Said, kami saling pandang.

Dan kami tertawa. Tertawa sampai aku harus memegangi perut dan ia harus menyandarkan dahinya di setir. Tertawa sampai mobil di belakang kami membunyikan klakson karena lampu sudah hijau dan kami tidak bergerak.

Ketika tawa kami mereda, ia menatap jalan di depan dan berkata pelan, “Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Pelukannya.”

Aku menatap profilnya dari samping. Garis rahangnya, telinganya yang masih merah, helai rambut di belakang kepalanya yang berdiri sendiri. Lalu aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangan kirinya yang bertumpu di tuas persneling.

“Itu baru yang pertama, Mas,” kataku. “Masih ada delapan puluh satu hari.”

Ia tidak menjawab. Tapi tangannya membalik di bawah tanganku, dan jari-jarinya menyelinap di antara jari-jariku, dan ia menyetir sepanjang Rasuna Said dengan satu tangan dan tidak melepaskanku sampai lampu merah berikutnya.