← Lima Menit di Lobby

Chapter Thirty Seven

Epilog: Lima Menit Seumur Hidup

POV: Rey


Empat belas bulan kemudian, aku kembali ke lobby Menara Sentra, dan hampir menabrak pintu kaca lagi.

Bukan pintu yang terbuka otomatis. Pintu sebelah kanan. Yang tidak pernah dibuka sejak gedung ini berdiri.

Aku tidak sedang melihat Nadine kali ini. Ia berjalan di sebelahku, tangannya di lenganku. Aku sedang melihat ke dalam lobby, ke lampu-lampu kristal, ke lantai marmer krem, ke sofa kulit dan pot monstera yang daunnya selebar payung. Semuanya persis sama. Dan aku begitu sibuk menatap semua itu, begitu sibuk merasakan sesuatu yang besar dan hangat naik ke tenggorokanku, sampai kakiku berjalan sendiri ke arah yang salah.

Nadine menarik lenganku satu detik sebelum dahiku menyentuh kaca.

“Mas,” katanya. “Yang kiri.”

Aku menatap pintu kaca sebelah kanan, sepuluh senti dari wajahku. Lalu menatapnya.

Ia menatapku balik dengan wajah datar. Lalu sudut bibirnya bergerak, dan bahunya mulai bergetar.

“Jangan ketawa,” kataku.

“Aku nggak ketawa.”

“Bahumu goyang, Din.”

“Gempa,” katanya, dan langsung menutup mulut dengan tangan dan tertawa sampai matanya berair.

Dari meja keamanan, terdengar suara yang sangat kukenal.

“Kacanya nggak apa-apa, Mas.”

Pak Darto berdiri di balik mejanya dengan seragam biru tua yang sama, termos teh yang sama, dan wajah datar yang sama. Rambutnya sedikit lebih banyak uban. Di atas mejanya, ada buku catatan bersampul hijau tua. Yang baru. Sudah setengah penuh.

“Pak Darto,” kataku.

“Mas Rey. Mbak Nadine.” Ia mengangguk sopan. “Selamat datang kembali.”

“Bapak tahu kami datang malam ini?”

“Saya cuma satpam, Mas,” katanya. Lalu ia menyesap tehnya. “Tapi Mbak Sari sudah kirim jadwal penerbangan kalian ke grup tiga hari lalu.”


Kami pulang ke Jakarta untuk pernikahan Dodi dan Jess.

Akad nikahnya besok pagi, di sebuah gedung di Kebayoran. Resepsinya besok malam. Dan menurut undangan yang kami terima tiga bulan lalu, dicetak di kertas krem dengan tinta emas, katering utama oleh Warung Pecel Lele Pak Kumis.

“Jess yang minta,” kata Dodi di telepon waktu itu. “Gue cuma setuju. Seratus porsi pecel lele. Pak Kumis bawa gerobaknya sendiri.”

“Ibumu setuju?”

“Ibu gue nangis. Tapi nangis bahagia. Katanya baru kali ini ada resepsi yang tamunya rebutan makanan.”

Empat belas bulan di Singapura berlalu lebih cepat dari dua setengah tahun di Lantai 21.

Aku masih tidak bisa berenang. Pelatih renang di apartemen menyerah setelah bulan keempat dan menyarankanku mencoba bersepeda. Nadine dipromosikan menjadi Director bulan lalu, termuda di HTA Singapura, dan Om Benny menelepon sambil menangis dan bernyanyi lagu Bee Gees. Kantor cabang Lintasraya Singapura sudah punya dua puluh enam karyawan, tiga gudang, dan satu kebiasaan baru: martabak setiap Jumat sore, dari tempat nomor tiga di daftar Pak Haris.

Kami menelepon Ibu dan Mama setiap hari Minggu, bergantian, sesuai putusan. Kami pulang setiap Lebaran. Kami mengadakan sidang setiap kali ada keputusan besar, dengan agenda tertulis di kertas HVS, dan mengirim salinannya ke Pak Hendra, yang selalu membalas dengan satu kata: Diterima.

Ada empat sidang dalam empat belas bulan. Soal apakah Nadine boleh mengadopsi kucing (diterima, tapi kucingnya memilih tidur di kasurku). Soal liburan ke Bogor atau ke Bali (Bogor, karena Pak RT sakit dan Ibu khawatir). Soal apakah aku boleh berhenti les renang (diterima dengan catatan “tidak boleh mengeluh kalau suatu hari kita ke pantai”). Dan soal apakah Nadine boleh pindah ke apartemen yang sama denganku.

Sidang terakhir itu belum selesai.

Karena ada satu agenda yang harus dibahas lebih dulu.


Lobby sepi. Lampu kristal menyala setengah.

Aku tahu tanpa perlu bertanya siapa yang meminta lampu itu dinyalakan setengah. Aku sendiri. Aku mengirim pesan ke Pak Darto seminggu lalu dari Singapura: Pak, Jumat malam, jam delapan. Lampu setengah. Pintu samping ditutup. Ia membalas dengan satu kata: Siap.

Lalu aku menambahkan: Dan kalau ada yang di balik pot monstera, Bapak nggak usah pegangin potnya.

Ia membalas: Saya sudah tua, Mas. Saya nggak kuat pegangin pot lagi.

Nadine berjalan ke tengah lobby. Ia berhenti di titik yang sama, di depan pintu Lift Nomor 3, tempat ia keluar malam itu tujuh belas bulan lalu dengan blazer krem dan sanggul rendah dan beberapa helai rambut yang lepas di tengkuk.

Malam ini ia memakai gaun biru tua. Gaun kencan pertama, gaun pesta yang salah orang, gaun Changi. Gaun yang sekarang punya terlalu banyak kenangan untuk disimpan di lemari. Rambutnya digerai, bergelombang, berkilau di bawah lampu kristal. Jepit mutiara di satu sisi. Anting mutiara. Lipstik merah tua yang lembut. Ia tidak memakai heels. Sneakers putih.

Ia lebih cantik dari malam pertama aku melihatnya. Aku tidak tahu bagaimana itu mungkin. Aku sudah melihatnya setiap hari selama empat belas bulan. Saat bangun tidur dengan rambut kusut. Saat marah karena laporan klien terlambat. Saat menangis karena Pak RT sakit. Saat tertawa sampai perutnya sakit karena aku tenggelam di kolam renang untuk kesekian kali. Dan setiap kali, aku tetap lupa caranya berjalan lurus.

Ia menoleh dan menatapku. “Kenapa diam di situ?”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke arahnya.

Satu meter. Aku berhenti satu meter di depannya.

Lalu aku mengeluarkan sesuatu dari saku jas. Dua bungkus roti sobek cokelat. Dari minimarket lobby yang sama, yang buka sampai jam sembilan malam.

Nadine menatap roti itu. Lalu menatapku. Matanya melebar sedikit.

“Permisi,” kataku. “Mbak Nadine?”

Ia membeku.

“Saya Rey,” kataku. “Dari Lintasraya. Kantor sebelah.” Aku menunjuk ke atas, ke langit-langit, seolah lantai 21 ada di sana dan bukan dua puluh satu lantai jauhnya. “Boleh saya minta waktu lima menit?”

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Cuma lima menit,” kataku. Suaraku bergetar, dan aku membiarkannya. “Habis itu...”

Aku berhenti. Menelan ludah.

“Nggak,” kataku. “Bukan cuma lima menit.”

Aku memasukkan tangan ke saku jas yang lain. Dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru biru tua.

Nadine mengeluarkan suara kecil dari balik tangannya. Seperti napas yang tersangkut.

Aku tidak berlutut. Aku tahu aku seharusnya berlutut. Dodi berlutut. Di film-film, semua orang berlutut. Tapi aku tidak berlutut, karena aku ingin menatap matanya dari ketinggian yang sama. Karena aku tidak ingin meminta dari bawah. Karena dua setengah tahun ia menunggu aku berani berdiri di depannya, dan aku ingin berdiri.

Aku membuka kotak itu. Cincin emas tipis dengan satu mutiara kecil. Seperti anting-antingnya. Seperti jepit rambutnya.

“Din,” kataku. “Aku minta lima menit.”

Ia menatapku dengan mata yang sudah basah.

“Sisanya,” kataku, “seumur hidup.”


Hening.

Hening yang sangat panjang. Begitu panjang sampai aku bisa mendengar dengung AC lobby, bunyi termos Pak Darto diletakkan pelan di meja, dan bunyi seseorang di balik pot monstera yang menahan napas.

Lalu ia menurunkan tangannya. Air mata mengalir di kedua pipinya, melewati tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.

“Iya,” katanya. Pelan. Cepat. Tanpa jeda. “Aku mau.”

Dan otakku, yang sudah empat belas bulan belajar, yang sudah empat sidang tertulis, yang sudah berhenti kalah duluan, mendengarnya. Langsung. Tanpa perlu diputar ulang. Tanpa dua langkah.

Tapi kebiasaan lama itu masih ada di suatu tempat di dalam diriku. Jadi aku mengangguk, tersenyum, dan berkata dengan sangat sopan:

“Oke. Terima kasih banyak.”

Lalu aku berbalik.

Nadine menangkap lenganku sebelum aku sempat melangkah satu kali pun.

“Mas Reyhan,” katanya, setengah tertawa, setengah menangis. “Jangan berani-berani.”

Aku berbalik lagi menghadapnya. Tertawa. “Bercanda.”

“Aku tahu kamu bercanda.”

“Aku dengar kok. Langsung. Iya, aku mau.”

“Dua langkah, Mas,” katanya. “Kamu masih utang dua langkah dari malam itu.”

“Aku bayar sekarang,” kataku, dan melangkah dua langkah ke depan, bukan ke belakang, sampai tidak ada jarak lagi di antara kami.

Aku memasangkan cincin itu di jarinya. Tanganku gemetar. Tangannya juga. Cincin itu masuk dengan pas, karena aku mengukurnya diam-diam dari cincin perak tipis yang biasa ia pakai di jari tengah, dengan bantuan Jess yang mengirim fotonya ke grup dengan keterangan UKURAN 6, JANGAN SALAH, REY.

Nadine menatap cincin di jarinya. Lalu menatapku.

Dan aku menanyakannya. Pertanyaan itu. Untuk terakhir kalinya.

“Kok mau?”


Ia tertawa. Tawa yang pecah dan basah, persis seperti malam itu.

Lalu ia membuka tas kulit hitamnya, dan mengeluarkan sesuatu.

Sebuah buku catatan kecil bersampul biru navy. Sudutnya sudah sangat lusuh. Sampulnya sedikit sobek di pinggir. Tebalnya hampir dua kali lipat buku catatan biasa, karena ada halaman-halaman tambahan yang direkatkan di belakangnya. Dari sampul belakangnya, menyembul sedikit, ujung plastik dengan gambar beruang kecil yang tersenyum, setengah luntur.

Ia meletakkannya di tanganku.

“Jawabannya,” katanya. “Yang paling lengkap. Yang paling panjang.”

Aku menatap buku itu. Lalu membuka halaman pertamanya.

Tulisan tangan yang lebih muda, lebih goyah dari tulisannya sekarang. Satu kalimat.

Ditolak itu cuma jawaban, bukan vonis.

Aku tidak bisa bernapas.

Halaman kedua.

Hari ini dia pulang dari Surabaya. Dia nabrak pintu kaca waktu lihat aku. Dia nggak ingat aku. Nggak apa-apa. Aku tunggu.

Aku membalik halaman. Lalu halaman berikutnya. Lalu berikutnya. Tanggal-tanggal. Catatan-catatan kecil. Ratusan.

Dia kasih payung ke ibu-ibu di lobby, terus lari kehujanan ke parkiran.

Dia bantu Pak Udin angkat galon.

Dia suruh orang duluan di antrean kasir. Es krimnya cair.

Dia cerita ke Mbak Sari soal telur dadar kecap tiap Minggu pagi. Pakai daun bawang banyak.

Pak Kumis. Dia makan sendirian di sana dengan wajah paling bahagia yang pernah aku lihat.

Kucing ibunya namanya Pak RT.

Dia telepon ibunya, panggil “Bu Bos”.

Lalu, dengan tanggal tujuh belas bulan lalu:

Malam ini dia nembak duluan. Di lobby. Lima menit, katanya. Dia bawa dua roti. Masih roti yang sama. Dia bilang aku boleh lupa dia pernah ada. Dia masih belum ingat.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Halaman-halaman berikutnya. Pegangan tangan di lift. Pipi kiri. Tangga darurat. Dia ingat. Basement. Bogor. Lift macet. Pesta. Lalu satu halaman yang hanya berisi satu kalimat, ditulis lebih besar dari semua kalimat lain: Besok aku telepon dia lagi.

Lalu Singapura. Catatan-catatan dari empat belas bulan terakhir. Dia tenggelam tujuh kali di kolam renang. Dia bilang pecel lele di sini enam dari sepuluh. Kucing kami tidur di kasurnya, bukan di kasurku. Dia bilang itu karena dia lebih hangat. Kucingnya benar. Sidang ketiga. Bogor. Pak RT sakit. Dia nangis di kereta. Dia sekarang bisa nangis.

Aku sampai di halaman terakhir yang terisi.

Satu kalimat. Tanggalnya kemarin malam. Ditulis di apartemen kami di Singapura, beberapa jam sebelum pesawat ke Jakarta. Seolah ia sudah tahu.

Dia akhirnya berhenti kalah duluan.

Setelahnya, halaman-halaman kosong. Puluhan. Halaman-halaman tambahan yang ia rekatkan di belakang, putih dan bersih, menunggu.

Aku mengangkat wajah. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena mataku penuh air.

“Kenapa kosong?” tanyaku. Suaraku hampir tidak terdengar.

Nadine mengambil pulpen dari tasnya. Lalu ia membuka halaman kosong pertama di buku itu, di atas telapak tanganku, dan menyerahkan pulpen itu padaku.

“Karena sisanya,” katanya, “kita tulis bareng.”


Di balik pot monstera, seseorang menangis keras.

Lalu seseorang lain bersin. Lalu seseorang lain lagi berbisik, “Fik, kamu masih alergi daun?!”

Lalu pot monstera itu roboh.

BRAK.

Tanah dan daun-daun selebar payung berhamburan di lantai marmer krem. Dan di baliknya, terkapar tumpang-tindih seperti adegan kecelakaan dalam film kartun, ada lebih banyak orang dari yang pernah ada di balik pot itu.

Dodi dan Jess, yang seharusnya sedang beristirahat sebelum akad nikah besok pagi. Mbak Sari, dengan ponsel dalam posisi merekam. Fikri, memeluk laptop dan bersin. Tari, dengan kotak tisu yang sudah kosong. Om Benny, yang entah bagaimana muat di balik pot itu dengan tubuhnya yang besar. Niko, dengan kaus band rock yang sama. Mama dan Ibu, berpegangan tangan, sama-sama menangis.

Dan di paling belakang, berdiri tegak karena terlalu tinggi untuk bersembunyi dan terlalu bermartabat untuk jatuh, Pak Hendra Valencia. Dengan kemeja batik dan kacamata di ujung hidung. Wajahnya datar seperti batu.

Telinganya merah.

Pak Darto berjalan pelan dari meja keamanannya, menatap pot yang roboh, menatap tumpukan manusia di lantai, lalu menatap kami.

“Saya sudah bilang saya nggak kuat pegangin pot lagi, Mas,” katanya datar.

Fikri bangkit dari tumpukan, membuka laptopnya, menatap layar, lalu menutupnya lagi.

“Peluang,” katanya dengan suara sengau dan mata berair, “tidak bisa dihitung.”

“Kamu sudah bilang itu tahun lalu, Fik,” kata Mbak Sari.

“Saya bilang lagi, Mbak. Untuk arsip.”

Pak Hendra melangkahi tumpukan istrinya, Ibu, dan Om Benny dengan sangat hati-hati, seperti melangkahi berkas perkara di lantai ruang sidang. Lalu ia berhenti di depan kami. Menatap cincin di jari putrinya. Menatap buku biru navy di tanganku. Menatapku.

“Saudara Reyhan,” katanya.

Aku menegakkan punggung. “Iya...”

Lalu aku berhenti. Putusan nomor tiga. Nanti. Kapan-kapan. Setelah sidang berikutnya.

Aku menarik napas.

“Iya, Pa.”

Hening.

Pak Hendra menatapku lama. Wajahnya tetap datar. Tapi aku melihat sesuatu bergerak di sudut matanya, sesuatu yang berkilat di balik kacamata berbingkai tipis.

Ia mengangguk satu kali.

“Putusan nomor tiga,” katanya, “telah dilaksanakan.”

Lalu ia mengetuk pinggir meja keamanan Pak Darto tiga kali dengan buku jarinya. Tok. Tok. Tok.

Dan ia berbalik dan berjalan ke arah pintu kaca yang benar dengan langkah sedikit lebih cepat dari biasanya, sambil menyeka matanya dengan punggung tangan dan berkata keras ke siapa pun yang mau mendengar, “AC-nya.”


Aku menatap Nadine. Ia sudah menatapku.

Di belakang kami, Lantai 21 bangun dari lantai lobby, bersorak, bertepuk tangan, menangis, bersin. Mbak Sari mengunggah video ke grup. Om Benny mulai menyanyikan lagu Bee Gees. Ibu dan Mama berpelukan sambil berdebat soal rendang siapa yang akan disajikan di pernikahan kami.

Aku tidak mendengar mereka.

Aku hanya melihatnya. Gaun biru tua. Rambut tergerai. Jepit mutiara. Cincin di jarinya. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, basah oleh air mata.

Perempuan yang menungguku dua setengah tahun. Yang menunggu di Lift Nomor 3. Yang menyimpan bungkus roti delapan ribu rupiah seperti barang berharga. Yang memberiku lima menit, lalu memberiku seumur hidup.

Aku mengangkat tangan dan menyentuh wajahnya. Telapak tangan di pipinya. Ibu jari di atas tahi lalat itu.

“Din,” kataku. “Boleh?”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan mata.

Aku menciumnya. Di tengah lobby Menara Sentra, di bawah lampu kristal yang menyala setengah, di depan pintu Lift Nomor 3, di depan lima puluh dua anggota grup WhatsApp yang sedang merekam dari segala sudut, di depan pot monstera yang roboh untuk terakhir kalinya.

Lampu kristal tidak mati. Tidak ada sensor gerak di lobby.

Tapi ketika aku membuka mata, Pak Darto sudah kembali ke meja keamanannya. Ia sedang menulis di buku hijau tuanya yang baru, dengan pulpen, sangat pelan.

Aku tidak perlu melihat untuk tahu apa yang ia tulis.

Tapi ia tetap memutar bukunya ke arah kami, sekali saja, cukup lama untuk kami baca.

20.17 — R minta lima menit. N bilang iya. R dengar langsung. Nggak perlu dua langkah.

Dan di bawahnya, dengan tulisan yang sedikit lebih besar dari biasanya:

Pot roboh. Saya nggak pegangin. Sengaja.


TAMAT