Chapter Twenty Five
Fikri Menghitung Peluang LDR
POV: Rey
Senin pagi, Fikri meletakkan laptopnya di mejaku dengan wajah serius seorang dokter yang akan menyampaikan diagnosis.
“Mas,” katanya. “Saya sudah selesai.”
“Selesai apa?”
“Studi.” Ia membuka sebuah file presentasi. Slide pertama berlatar hitam dengan judul berhuruf putih besar: ANALISIS KELANGSUNGAN HUBUNGAN JARAK JAUH — STUDI KASUS JAKARTA–SINGAPURA. Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil: Untuk Mas Rey. Dengan sepenuh hati.
“Fik,” kataku. “Aku nggak minta ini.”
“Saya tahu, Mas. Makanya saya bikin. Mas nggak akan pernah minta.”
Aku menatapnya. Fikri, dua puluh empat tahun, dengan kacamata yang selalu melorot dan kemeja yang selalu salah kancing satu, menatapku balik dengan sangat tulus.
Aku menghela napas. “Oke. Lima menit.”
Lima menit itu menjadi dua puluh tiga menit.
Slide kedua menampilkan diagram lingkaran berwarna-warni. Persentase hubungan jarak jauh yang bertahan lebih dari dua tahun, berdasarkan tiga studi internasional: 37 persen. Slide ketiga menampilkan grafik garis yang menurun tajam: Frekuensi komunikasi pasangan LDR setelah bulan keenam. Slide keempat berisi daftar faktor risiko, ditandai dengan ikon peringatan merah: perbedaan zona waktu (tidak ada, Singapura dan Jakarta beda satu jam, ini bagus), biaya perjalanan (sedang), tekanan pekerjaan (tinggi), godaan lingkungan baru (tidak bisa diprediksi), Kenzo Wiradinata (rendah, sudah dinetralkan secara emosional di banjir).
“Kenapa Kenzo masuk faktor risiko?”
“Untuk kelengkapan, Mas.”
Slide kelima berjudul FAKTOR RISIKO TERBESAR. Isinya hanya satu foto. Fotoku. Foto dari acara ulang tahun kantor tahun lalu, ketika aku sedang memberikan potongan kue terakhirku pada anak magang yang datang terlambat.
“Ini apa?”
“Ini Mas,” kata Fikri. “Mas itu faktor risiko terbesar. Bukan jaraknya. Bukan Kenzo. Mas.”
“Kenapa aku?”
“Karena Mas akan ngalah duluan.” Fikri mendorong kacamatanya ke atas hidung. “Saya sudah analisis lima tahun data perilaku Mas. Tiap ada konflik kepentingan antara yang Mas mau dan yang menurut Mas lebih baik buat orang lain, Mas pilih yang kedua. Seratus persen. Nggak pernah meleset.”
Aku tidak bisa menjawab.
Mbak Sari, yang entah sejak kapan berdiri di belakang kursi Fikri sambil membawa secangkir teh, meletakkan tangannya di bahu Fikri.
“Fik,” katanya pelan. “Itu slide paling jujur yang pernah kamu bikin.”
“Makasih, Mbak.”
“Tapi kamu nggak perlu taruh foto Rey lagi kasih kue.”
“Itu bukti visual, Mbak.”
Dodi menemukanku di Pantry Bersama satu jam kemudian, sedang menatap dispenser seperti dispenser itu bisa memberiku jawaban.
“Gue dengar Fikri presentasi,” katanya.
“Semua orang dengar Fikri presentasi.”
“Tiga puluh tujuh persen, ya?” Dodi bersandar di konter dan menyilangkan tangan. “Rey, dengerin gue. LDR itu gampang.”
“Kamu pernah LDR?”
“Gue LDR sama Jess.”
“Kantor kalian beda tiga puluh meter, Dod.”
“Itu LDR versi Lantai 21,” kata Dodi tanpa sedikit pun rasa malu. “Ada pintu kaca di antara kita. Ada pantry. Kadang ada Pak Yanto nyanyi dangdut. Itu hambatan, Rey. Hambatan nyata.”
Aku tertawa, meskipun aku tidak mau.
Dodi diam sebentar. Lalu ia menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan pantry kosong, dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berlapis beludru biru tua.
Aku menatap kotak itu. Lalu menatap Dodi.
“Dod.”
“Jangan bilang siapa-siapa.”
“Itu...”
“Cincin.” Dodi membuka kotak itu sebentar, cukup lama untuk memperlihatkan sebuah cincin perak sederhana dengan satu batu kecil yang berkilau, lalu menutupnya lagi dengan cepat. “Gue nabung tujuh bulan. Gue mau ngelamar Jess bulan depan.”
“Kamu serius?”
“Gue nggak pernah seserius ini seumur hidup gue, Rey.” Ia memasukkan kotak itu kembali ke saku. “Makanya gue mau bilang sesuatu ke lo, sebagai calon pria berkomitmen.”
“Apa?”
“Kalau lo sayang sama orang,” kata Dodi, menatapku dengan wajah yang tiba-tiba tidak lagi seperti Dodi, “jangan putusin sesuatu buat dia. Putusin sesuatu sama dia.”
Aku menatapnya lama.
“Itu kata-kata siapa?”
“Jess,” kata Dodi. “Jess bilang itu waktu gue mau putus sama dia empat bulan lalu, karena gue pikir dia pantas dapat cowok yang lebih pinter.”
“Kamu mau putus sama Jess?”
“Satu hari. Gue cuma mau satu hari. Terus Jess datang ke kos gue jam dua pagi, gedor pintu, dan bilang itu ke muka gue.” Dodi tertawa kecil. “Terus dia nangis. Terus gue nangis. Terus ibu kos gue bangun dan marahin kami berdua.”
Aku tidak bisa membayangkan Jess menggedor pintu jam dua pagi. Lalu aku bisa membayangkannya, dengan sangat jelas, dan itu membuatku tersenyum.
“Pokoknya,” kata Dodi, menepuk bahuku, “itu nasihat gue. Gratis. Biasanya gue minta bayaran nasi Padang.”
Ia pergi. Aku berdiri sendirian di pantry, menatap dispenser.
Jangan putusin sesuatu buat dia. Putusin sesuatu sama dia.
Aku mendengarnya. Aku benar-benar mendengarnya.
Tapi di kepalaku, ada suara lain yang lebih keras. Suara Nadine di basement, dengan dahi menempel di punggungku.
Siapa bilang aku mau nunggu?
Pukul sebelas, Nadine muncul di pantry.
Ia masuk dengan blazer krem yang sangat kukenal, blazer yang pernah menyelimutiku di sofa kantor. Rambutnya disanggul rendah dengan rapi, dan ia memakai anting mutiara dan lipstik nude kemerahan. Wajah Associate Director-nya terpasang sempurna, sampai pintu pantry tertutup di belakangnya dan ia melihatku.
Lalu senyum kecil yang miring itu muncul, dan seluruh wajahnya berubah.
“Pagi, Mas.”
“Sudah siang.”
“Pagi buat aku. Aku baru keluar ruangan.” Ia berjalan menghampiriku, berdiri sangat dekat, lalu menatap leherku. Lalu tersenyum lebih lebar. “Kancingmu aman hari ini?”
Telingaku langsung terbakar. Sabtu malam. Lorong apartemen. Kancing paling atas yang entah kapan terbuka.
“Din,” bisikku. “Ini kantor.”
“Aku tahu ini kantor.” Ia merapikan kerah kemejaku, seperti biasa, tapi kali ini jari-jarinya bergerak lebih lambat, menelusuri garis kerah sampai ke tengkukku. “Aku cuma nanya soal keamanan kancing. Itu pertanyaan profesional.”
“Itu bukan pertanyaan profesional.”
“Aku konsultan, Mas. Semua pertanyaanku profesional.”
Lalu ia mencium sudut bibirku. Sangat cepat. Sangat ringan. Seperti kupu-kupu yang hinggap sebentar lalu terbang lagi.
Dan ia mundur, mengambil cangkir dari rak, dan menuang kopi hitam dari teko dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa, tepat ketika pintu pantry terbuka dan Pak Yanto dari keuangan HTA masuk sambil bersiul.
“Pagi, Bu Nadine! Pagi, Mas Rey!”
“Pagi, Pak Yanto,” kata Nadine dengan suara Associate Director.
“Pagi, Pak,” kataku, dengan suara orang yang baru tersengat listrik.
Pak Yanto menatap wajahku. “Mas Rey, sakit?”
“Nggak, Pak.”
“Mukanya merah banget.”
“AC-nya, Pak.”
“AC-nya dingin, lho, Mas.”
Nadine menyesap kopinya dan menatap ke luar jendela dengan wajah yang sangat tenang. Tapi aku melihat bahunya bergetar sedikit.
Tapi ada sesuatu yang lain di wajahnya pagi itu.
Aku baru menyadarinya ketika Pak Yanto sudah pergi dan kami berdiri berdua di dekat jendela. Ia tertawa, ia menggoda, ia mencium sudut bibirku dan membuatku hampir pingsan. Tapi di sela-sela semua itu, ada saat-saat ketika ia menatap ke luar jendela, ke arah gedung-gedung Kuningan, dan pikirannya pergi ke suatu tempat yang jauh.
“Kamu capek?” tanyaku.
“Hmm?” Ia menoleh. “Nggak. Kenapa?”
“Kamu kayak lagi mikir sesuatu.”
Ia menatapku sebentar. Lalu tersenyum. Senyum yang sedikit terlalu cepat.
“Aku konsultan pajak, Mas. Aku selalu mikir sesuatu.”
Aku tidak bertanya lagi. Karena aku juga sedang memikirkan sesuatu, dan aku juga tidak siap menceritakannya.
Dua orang di pantry, berdiri bersebelahan di depan jendela, masing-masing menyimpan sesuatu di balik senyum yang terlalu cepat.
Aku seharusnya menyadari itu lebih awal.
Pukul tiga sore, aku mengetuk pintu ruangan Pak Haris.
Aku sudah memutuskannya semalam. Tidak, itu tidak benar. Aku sudah memutuskannya sejak Rabu malam, sejak basement yang banjir, sejak kalimat siapa bilang aku mau nunggu. Aku hanya butuh empat hari untuk mengakuinya pada diriku sendiri.
Logikanya sederhana. Seperti diagram alir di gudang Cikarang.
Ia tidak mau menunggu. Dan aku tidak mau ia menunggu. Ia sudah menunggu dua setengah tahun. Kalau aku pergi, ia akan menunggu lagi, atau tidak menunggu sama sekali. Dua-duanya berakhir dengan ia terluka.
Tapi kalau aku tidak pergi, tidak ada yang perlu menunggu.
Aku tidak butuh Singapura. Aku bisa tetap di Jakarta. Aku sudah lima tahun di Lintasraya, aku tahu setiap gudang, setiap vendor, setiap rute. Pasti ada posisi lain untukku. Dan kalaupun tidak ada, aku masih bisa bekerja di mana saja. Karier bisa dibangun ulang. Dua setengah tahun penantian seseorang tidak bisa.
Pak Haris pasti bisa menemukan orang lain untuk Singapura. Dodi, misalnya. Dodi juga di operasional, sudah enam tahun di sini, dan bahasa Inggrisnya, walaupun terpatah-patah di telepon, sebenarnya cukup bagus kalau ia tidak panik.
Semua orang akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu sedih.
Aku sangat yakin dengan logika itu, sampai aku mengetuk pintu dan tanganku gemetar.
“Masuk.”
Pak Haris sedang membaca dokumen tebal dari HTA. Rekomendasi Nadine, dengan stabilo kuning di mana-mana. Ia mengangkat wajah.
“Rey. Ada apa?”
Aku masuk, menutup pintu, dan berdiri di depan mejanya. Nomor tiga di daftar Fikri dari makan malam di Menteng terlintas di kepalaku: jangan duduk sebelum dipersilakan. Pak Haris tidak mempersilakan. Aku tetap berdiri.
“Pak,” kataku. “Saya mau minta maaf sebelumnya.”
Pak Haris melepas kacamatanya.
“Saya tidak bisa berangkat ke Singapura.”
Hening.
Pak Haris tidak bergerak. Ia tidak marah. Ia tidak kaget. Ia hanya menatapku dengan mata tanpa kacamata, lama sekali, seperti orang yang sedang membaca dokumen yang sudah ia duga isinya tapi tetap ingin membaca sampai halaman terakhir.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya.
Aku sudah menyiapkan jawabannya. Alasan profesional. Ibu di Bogor yang semakin tua. Proyek gudang Cikarang yang belum selesai. Tapi ketika aku membuka mulut, yang keluar bukan itu.
“Karena ada orang yang sudah terlalu lama nunggu, Pak,” kataku. “Dan saya nggak mau dia nunggu lagi.”
Pak Haris diam.
“Saya tahu ini mendadak,” lanjutku cepat. “Saya tahu tiket sudah dipesan, apartemen sudah disiapkan. Saya akan bantu cari pengganti. Dodi bisa, Pak. Dia sudah enam tahun di operasional, dia tahu semua prosedurnya, saya bisa bantu dia transisi. Saya akan selesaikan semua dokumen prosedur sebelum...”
“Rey.”
Aku berhenti.
Pak Haris memasang kembali kacamatanya. Lalu ia menatapku lagi, dan ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat selama lima tahun. Sesuatu yang mirip ekspresi Pak Hendra di pagar rumah di Menteng.
“Dia tahu?” tanyanya.
“Belum, Pak.”
“Kamu belum bilang ke dia.”
“Belum, Pak. Saya mau... saya mau pastiin dulu semuanya beres. Baru saya bilang.”
Pak Haris menatapku lama sekali. Lalu ia membuka laci mejanya, mengeluarkan selembar formulir, dan meletakkannya di meja di depanku. Formulir Pembatalan Penugasan Luar Negeri.
“Isi,” katanya. “Tanda tangan.”
Aku mengisinya. Tanganku gemetar sepanjang menulis. Nama. Jabatan. Alasan pembatalan. Di kolom alasan, aku menulis alasan pribadi, karena aku tidak tahu bagaimana menulis yang sebenarnya di formulir resmi.
Aku menandatanganinya dan menyerahkannya.
Pak Haris menerimanya, membacanya sekali, lalu meletakkannya di atas mejanya. Tidak di map. Tidak di kotak dokumen keluar. Di atas meja, di samping rekomendasi HTA yang penuh stabilo kuning.
“Saya perlu waktu untuk memproses ini,” katanya. “Seminggu. Mungkin dua. Ada banyak yang harus diatur ulang.”
“Iya, Pak. Terima kasih, Pak.”
“Dan Rey.”
Aku berhenti di ambang pintu.
Pak Haris tidak menatapku. Ia menatap formulir di mejanya. “Saya pernah bikin keputusan buat orang lain tanpa nanya mereka dulu,” katanya pelan. “Saya pikir saya tahu yang terbaik.”
Aku menunggu.
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya mengibaskan tangannya, tanda aku boleh pergi.
Aku keluar dan menutup pintu.
Aku tidak memberi tahu siapa pun.
Tidak Dodi, yang akan panik kalau tahu ia calon penggantinya. Tidak Mbak Sari, yang akan memberi tahu seluruh gedung dalam lima menit. Tidak Fikri, yang akan membuat slide berjudul FAKTOR RISIKO TERBESAR TERBUKTI. Tidak Ibu, yang akan bertanya kenapa.
Dan tidak Nadine.
Belum. Aku akan memberitahunya setelah Pak Haris selesai memproses semuanya. Setelah formulir itu ditandatangani resmi, setelah tiket dibatalkan, setelah tidak ada jalan kembali. Supaya ia tidak bisa membujukku untuk berubah pikiran. Supaya ia tidak merasa bersalah. Supaya ketika aku memberitahunya, itu sudah bukan pertanyaan, tapi kabar baik.
Aku nggak jadi pergi, Din. Kamu nggak perlu nunggu.
Aku membayangkan wajahnya. Matanya yang melebar. Senyum kecil yang miring. Mungkin ia akan menangis. Mungkin ia akan memukul lenganku dengan ujung lengan sweter kebesaran itu dan bilang aku bodoh, lalu memelukku.
Aku tersenyum sendiri di mejaku.
Pukul lima sore, ponselku bergetar.
Nadine: Nanti malam ke Pak Kumis? Nomor 12.
Aku: Iya. Jam 7.
Nadine: Kamu kedengaran senang hari ini.
Aku menatap pesan itu. Ia bisa membaca suasana hatiku dari dua kata di layar.
Aku: Aku memang senang.
Nadine: Kenapa?
Aku: Rahasia. Nanti kamu tahu.
Ada jeda panjang. Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Nadine: Kamu belajar dari aku, ya. Teka-teki.
Aku: Aku murid yang baik.
Nadine: Oke. Aku juga punya rahasia. Kita tukeran nanti.
Aku menatap kalimat itu lama. Aku juga punya rahasia. Lalu aku tersenyum lagi, karena aku yakin rahasiaku lebih baik.
Malam itu, di kamar kos, aku berdiri di depan daftar HVS di dinding.
Nomor sebelas masih kosong.
Aku mengambil pulpen. Tidak mencentangnya. Belum. Tapi aku menulis sesuatu yang sangat kecil di sebelahnya, dengan huruf yang hampir tidak terbaca.
Sudah dijawab. Belum diumumkan.
Lalu aku tidur, untuk pertama kalinya dalam empat hari, tanpa memikirkan jam tiga pagi.
Aku tidak tahu bahwa besok malam, di apartemen di Setiabudi, sepuluh menit dari kosku, seseorang akan menulis kalimat yang sama persis di buku biru navy-nya.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR reading
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup