← Lima Menit di Lobby

Chapter Nineteen

Daftar Lima Puluh Hari

POV: Rey


Kamis malam, Nadine datang ke Pantry Bersama dengan selembar kertas HVS kosong dan dua pulpen.

“Kita bikin daftar,” katanya, meletakkan kertas itu di meja bundar di depanku.

“Daftar apa?”

“Hal-hal yang mau kita lakuin sebelum kamu berangkat.” Ia duduk di seberangku, membuka tutup pulpen. “Lima puluh hari lagi. Aku nggak mau lima puluh hari itu habis buat lembur dan nunggu lift.”

Aku menatap kertas itu. Lalu menatap wajahnya. Ia sudah melepas blazer, rambutnya setengah tergerai dengan jepit mutiara, dan ada sedikit noda tinta biru di jari telunjuk kanannya. Ia terlihat sangat serius, seperti sedang menyiapkan rencana kerja tahunan untuk klien besar.

“Kamu bawa kertas HVS,” kataku.

“Kenapa?”

“Kirain kamu bakal bikin di Excel.”

“Ini terlalu penting buat Excel, Mas.” Ia menyodorkan satu pulpen padaku. “Kita gantian. Kamu satu, aku satu.”

Aku mengambil pulpen itu. Aku tidak bilang bahwa di kepalaku, kata lima puluh hari baru saja terdengar seperti bunyi jam pasir yang terbalik.


Daftar itu jadi dalam empat puluh menit.

Aku yang menulis nomor satu: Karaoke. (Nadine nyanyi. Aku dengerin.)

Nadine menulis nomor dua: Naik KRL ke Bogor. Makan rendang Ibu. Kenalan sama Pak RT secara langsung.

Nomor tiga, aku: Nonton film robot yang bersihin sampah.

Nomor empat, Nadine: Nonton film legal drama. Kamu nggak boleh tidur.

Nomor lima, aku: Lihat matahari terbit. Lalu, setelah ragu: Dari tempat yang nggak terlalu tinggi.

Nadine tertawa, lalu menulis nomor enam: Masak telur dadar kecap tanpa alarm asap bunyi.

Nomor tujuh, aku: Foto berdua yang bagus. Bukan rekaman Fikri dari balik pot.

Nomor delapan, Nadine: Ketemu Papa.

Aku berhenti menulis. “Papamu?”

“Papa dan Mama. Dan Niko, adikku.” Ia menatapku dengan tenang. “Mama sudah tanya tiga kali minggu ini. Papa belum tanya. Itu artinya Papa yang paling penasaran.”

“Papamu hakim.”

“Pensiunan hakim.”

“Apa bedanya?”

“Sekarang Papa nggak bisa menjatuhkan hukuman resmi,” kata Nadine. “Cuma hukuman sosial.”

Aku menelan ludah dan menulis nomor sembilan, tanganku sedikit gemetar: Bertahan hidup di nomor delapan.

Nadine tertawa sampai harus menutup mulutnya.

Lalu ia mengambil pulpen dan menulis nomor sepuluh dengan gerakan tenang dan rapi, wajah datar seperti sedang mengisi formulir pajak.

10. Cium Mas di Lift Tiga.

Aku menatap tulisan itu. Lalu menatapnya.

Ia menutup pulpennya dengan bunyi klik yang pelan. “Kenapa?”

“Kamu tulis itu.”

“Iya.”

“Di kertas.”

“Ini daftar, Mas. Fungsinya ditulis.”

“Kalau ada yang lihat...”

“Aku nggak malu.” Ia menatapku dari bawah bulu matanya, dan bibirnya melengkung sedikit. “Kamu yang malu. Telingamu sudah merah dari nomor delapan.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Ia tertawa lagi, dan aku mendengar bunyi pulpen bergerak di kertas.

Ketika aku menurunkan tangan, ia sudah menulis nomor sebelas.

11. Bicara soal nanti.

Aku menatap kalimat itu lama. Tiga kata. Ditulis dengan tulisan yang lebih kecil dari nomor-nomor sebelumnya.

Nadine tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku, menunggu.

Aku mengambil pulpen dan menulis nomor dua belas di bawahnya, cepat, sebelum aku sempat memikirkannya terlalu lama.

12. Makan pecel lele di Pak Kumis tiap Jumat sampai berangkat.

Ia membaca nomor dua belas. Lalu ia menatap nomor sebelas. Lalu menatapku. Dan aku tahu ia tahu aku baru saja melompati sesuatu.

Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya tersenyum, kecil, dan menulis nomor tiga belas: Dodi dan Jess traktir kita, karena mereka bohong delapan bulan.

Fikri lewat di depan pintu pantry, berhenti, membaca daftar itu terbalik dari jarak dua meter, dan berkata tanpa diminta, “Peluang semua nomor selesai sebelum Mas berangkat: dua puluh dua persen.”

“Kenapa cuma dua puluh dua?” tanya Nadine.

“Nomor delapan, Bu. Variabel risikonya tinggi. Saya sudah riset soal Papa Ibu.”

“Kamu riset soal papaku?”

“Pak Darto yang kasih data, Bu.”

Fikri pergi sebelum ada yang sempat bertanya lebih lanjut. Nadine menatap pintu pantry. Aku menatap Nadine.

“Pak Darto punya data soal papamu?” tanyaku.

“Aku mulai curiga Pak Darto punya data soal semua orang di Jakarta,” katanya.


Nomor satu terlaksana Sabtu malam.

Tempat karaoke di Kuningan City, ruangan kecil dengan sofa kulit merah yang lengket, layar besar, dua mikrofon, dan lampu disko yang berputar terlalu cepat. Aku memesan ruangan untuk dua orang. Tentu saja, ketika kami sampai, Dodi dan Jess sudah menunggu di ruangan sebelah, dan pintu mereka “kebetulan” terbuka sedikit.

“Nomor tiga belas,” kata Nadine pada Jess dengan suara datar. “Kalian traktir.”

“Itu bukan nomor satu, Din!”

“Kalian bisa gabungkan.”

Jess dan Dodi saling pandang, lalu menutup pintu ruangan mereka dengan wajah orang yang baru saja ditagih utang.

Di ruangan kami, Nadine mengambil buku daftar lagu dan membalik halamannya dengan serius.

“Kamu duluan,” katanya.

“Nomor satu itu kamu yang nyanyi.”

“Kamu yang tulis ‘Nadine nyanyi’. Tapi kamu nggak bilang kamu nggak nyanyi.”

Ia memilih lagu untukku. Lagu pop lawas yang semua orang Indonesia tahu. Aku mencoba menolak. Ia menatapku dengan wajah cemberut, bibir bawahnya mencuat sedikit seperti di dapur waktu telur gosong, dan aku langsung mengambil mikrofon.

Aku tidak bisa menyanyi. Aku tahu itu. Ibu tahu itu. Seluruh Lintasraya tahu itu sejak ulang tahun kantor tahun lalu, ketika Fikri bilang tawaku terdengar seperti mesin fotokopi macet. Suara nyanyianku lebih buruk dari tawaku.

Aku menyanyi. Sumbang. Nada tinggi pecah. Nada rendah tenggelam. Di reff kedua, aku lupa liriknya dan hanya menggumam hmmm hmmm mengikuti musik.

Nadine tidak menutup telinga. Ia tidak tertawa mengejek. Ia duduk di sofa kulit merah dengan kaki dilipat, memeluk bantal kecil, dan menatapku dengan mata berbinar, seperti menonton konser penyanyi favoritnya. Di reff ketiga, ia ikut bertepuk tangan mengikuti irama. Di akhir lagu, ia berdiri dan bertepuk tangan dengan semangat.

Skor di layar menunjukkan angka 42.

“Empat puluh dua!” kata Nadine, terdengar bangga. “Itu di atas empat puluh!”

“Itu skor paling rendah yang pernah ada, Din.”

“Itu skor paling jujur yang pernah ada,” katanya, lalu mengambil mikrofon dariku. “Sekarang giliranku.”

Ia memilih sebuah lagu balada. Lagu lama dari penyanyi perempuan Indonesia, tentang seseorang yang menunggu terlalu lama dan akhirnya tidak menyesal.

Musik dimulai. Pelan. Hanya piano.

Lalu ia menyanyi.

Aku lupa bahwa ada lampu disko yang berputar terlalu cepat. Aku lupa sofa kulit merah yang lengket. Aku lupa bahwa Dodi dan Jess pasti sedang menempelkan telinga di dinding sebelah.

Suaranya rendah dan jernih, sedikit serak di bagian bawah, seperti suaranya kalau sedang bicara pelan di telepon malam-malam. Ia tidak menyanyi seperti penyanyi profesional. Ia menyanyi seperti seseorang yang sedang bercerita. Dan ia tidak menatap layar. Ia menatapku. Sepanjang lagu. Setiap lirik tentang menunggu, tentang jarak, tentang tidak menyesal, ia nyanyikan sambil menatapku lurus-lurus, dengan rambut setengah tergerai yang berkilau setiap kali lampu disko melintas, dengan bibir merah tua yang sedikit tersenyum di antara bait.

Di bagian akhir, suaranya sedikit bergetar.

Musik berhenti. Ruangan hening.

Skor di layar menunjukkan angka 96.

Dari dinding sebelah, terdengar suara Jess berteriak, “Din, kamu bikin aku nangis, sialan!”

Nadine meletakkan mikrofon di meja, lalu duduk di sebelahku di sofa. Dekat sekali. Bahunya menempel di bahuku.

“Kamu bisa nyanyi,” kataku. Suaraku keluar serak.

“Sedikit.”

“Sembilan puluh enam itu bukan sedikit.”

“Aku latihan,” katanya. “Dulu. Waktu SMA.”

“Kenapa berhenti?”

“Karena nggak ada yang aku mau nyanyiin.” Ia menyandarkan kepala di bahuku. “Sampai sekarang.”

Aku menoleh dan menatap puncak kepalanya. Lalu, karena aku belajar sesuatu dari dua minggu terakhir, aku menunduk dan mencium rambutnya. Di dekat jepit mutiara. Ia bergeser sedikit lebih dekat dan menggenggam tanganku di atas bantal kecil di pangkuannya.

“Nomor satu,” katanya pelan. “Centang.”


Nomor tujuh terlaksana Minggu sore, di Taman Suropati, ketika Nadine menyerahkan ponselnya pada seorang bapak-bapak yang sedang jogging dan minta tolong difotokan.

Bapak itu mengambil dua belas foto. Di sepuluh di antaranya, aku sedang menatap Nadine, bukan kamera. Di satu foto, aku berkedip. Di satu foto terakhir, Nadine mencium pipiku tepat saat bapak itu menekan tombol, dan wajahku membeku dengan ekspresi orang yang baru saja disengat lebah.

“Yang ini,” kata Nadine, menunjukkan foto terakhir itu dengan wajah puas. “Ini yang paling bagus.”

“Mukaku aneh.”

“Mukamu jujur.”

Ia menjadikannya foto profil WhatsApp-nya malam itu. Dalam lima menit, grup Tim Sukses Rey-Nadine meledak dengan seratus dua puluh pesan.


Malam itu, di kamar kos, aku memandangi kertas HVS itu.

Nadine menyerahkannya padaku sebelum pulang. “Kamu yang simpan,” katanya. “Kamu yang centang.”

Dua centang sudah ada. Nomor satu dan nomor tujuh. Tulisan tangannya di sebelah tulisan tanganku, bergantian, seperti dua orang yang bergantian bicara.

Dan di tengah-tengah daftar itu, di antara cium Mas di Lift Tiga dan pecel lele tiap Jumat, ada tiga kata yang ditulis lebih kecil dari yang lain.

11. Bicara soal nanti.

Aku menatapnya lama.

Aku tahu apa yang ia minta. Ia tidak meminta janji. Ia tidak meminta aku membatalkan Singapura. Ia hanya meminta kami bicara. Satu percakapan. Tentang apa yang terjadi setelah tanggal empat belas, setelah aku naik pesawat, setelah lima puluh hari ini habis.

Itu permintaan yang sangat masuk akal. Itu permintaan paling sederhana di seluruh daftar.

Dan aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Karena setiap kali aku memikirkannya, yang muncul di kepalaku bukan rencana LDR, bukan jadwal penerbangan Jakarta–Singapura setiap akhir pekan, bukan video call setiap malam. Yang muncul adalah wajahnya di rapat bersama Pak Haris. Wajahnya di karaoke. Wajahnya di foto profil WhatsApp, mencium pipi laki-laki dengan ekspresi tersengat lebah. Dan pertanyaan yang sama, berulang-ulang, seperti lagu yang tidak bisa berhenti:

Apa adil memintanya menunggu lagi?

Ia sudah menunggu dua setengah tahun. Untuk seseorang yang bahkan tidak ingat padanya. Apa adil kalau aku, yang baru saja ia dapatkan, langsung pergi dan memintanya menunggu dua tahun lagi?

Aku melipat kertas itu dan menyelipkannya di buku agenda, di halaman belakang, di antara daftar petunjuk yang sudah tidak kuperlukan lagi.

Aku akan bicara soal nanti, kataku pada diri sendiri. Nanti.

Ponselku bergetar.

Nadine: Sudah centang?

Aku: Sudah. Dua.

Nadine: Empat puluh delapan hari lagi. Masih ada sebelas nomor.

Aku: Iya.

Ada jeda. Lalu:

Nadine: Termasuk nomor sebelas, Mas.

Aku mengetik balasan. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapusnya lagi. Akhirnya aku hanya mengirim stiker beruang yang sedang tidur, dan aku tahu ia tahu persis apa artinya.

Aku menatap layar ponsel itu sampai meredup.

Lalu aku membalikkannya di atas kasur, seolah dengan begitu aku bisa membalik jam pasir yang sedang berjalan.