← Lima Menit di Lobby

Chapter Thirty

Diam di Lantai 21

POV: Nadine


Senin pagi, aku naik Lift Nomor 5.

Aku tidak pernah naik Lift Nomor 5. Lift itu paling jauh dari pintu HTA, selalu bau pengharum ruangan rasa jeruk yang terlalu kuat, dan pintunya menutup terlalu cepat. Tapi Senin pagi aku berdiri di depannya pukul tujuh empat puluh, sepuluh menit lebih awal dari biasanya, dan masuk sebelum aku sempat melirik ke arah Lift Nomor 3.

Aku tidak tahu apakah ia menunggu di sana. Aku tidak mau tahu.

Selama dua setengah tahun, aku mengatur jadwal pagiku supaya sesekali satu lift dengannya. Sekarang aku mengaturnya supaya tidak pernah.

Di lantai 21, aku berjalan lurus ke ruanganku tanpa melirik ke kiri. Tanpa melirik ke celah antara rak dokumen dan pintu pantry. Aku duduk, menyalakan laptop, membuka email, dan mulai bekerja.

Aku bekerja seperti mesin.


Pada hari Senin, aku menyelesaikan tiga laporan review pajak yang tenggatnya minggu depan. Aku memimpin dua rapat klien. Di rapat pertama, direktur keuangan sebuah perusahaan tekstil dari Bandung mencoba membantah temuanku soal biaya yang tidak bisa dikurangkan. Aku membalasnya dengan satu kalimat dan satu halaman dokumen. Ia diam selama sisa rapat dan menjabat tanganku dengan kedua tangan ketika pamit.

Di rapat kedua, salah satu staf klien berbisik pada temannya, “Ibunya hari ini serem banget.” Aku tidak menoleh. Aku tidak bilang saya dengar, Mas. Aku hanya melanjutkan ke halaman berikutnya, dan staf itu memucat sampai akhir rapat.

Pada hari Selasa, timku mulai takut padaku.

Aku tahu karena Tari masuk ke ruanganku pukul sepuluh dengan secangkir kopi hitam di atas tatakan, berjalan dengan sangat hati-hati seperti membawa bahan peledak, lalu meletakkannya di sudut mejaku tanpa bersuara dan mundur keluar tanpa membalikkan badan.

Aku tidak memesan kopi.

“Tari,” panggilku.

Ia berhenti di ambang pintu dengan tubuh gemetar. “I-iya, Bu?”

“Terima kasih kopinya.”

Tari menatapku. Matanya melebar. Lalu, untuk alasan yang tidak kumengerti, ia mulai menangis.

“Maaf, Bu,” isaknya. “Saya cuma... Ibu nggak senyum dari Senin. Ibu nggak pakai jepit mutiara. Ibu pakai blazer abu-abu tua tiga hari berturut-turut. Ibu nggak pernah pakai blazer yang sama dua hari berturut-turut. Saya sudah catat dua tahun.”

Aku menatap blazer abu-abu tuaku. Aku tidak menyadarinya.

“Saya baik-baik saja, Tari.”

“Ibu bohong, Bu,” kata Tari, lalu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyadari ia baru saja menuduh atasannya berbohong. Ia kabur sebelum aku sempat menjawab.

Aku menatap kopi itu lama. Lalu aku meminumnya. Rasanya pahit, seperti biasa. Tapi kali ini aku tidak membutuhkan manisnya.


Pada hari Rabu, Lantai 21 mulai mengirimiku makanan.

Pukul sembilan, Mbak Sari meletakkan sekotak kue lapis di meja resepsionis HTA dengan catatan tempel: Untuk Bu Nadine. Jangan lupa makan. — Sari (Lintasraya).

Pukul sebelas, Om Benny masuk ke ruanganku tanpa mengetuk, meletakkan sepiring kue bolu pandan di mejaku, menatapku sebentar, lalu keluar lagi tanpa bicara.

Pukul dua belas, seorang pengemudi ojek online muncul di resepsionis dengan bungkusan kertas cokelat. Dewi membawanya ke ruanganku. Di dalamnya ada sepotong lele goreng kering, nasi, dan tempe. Banyak sekali tempe. Ada kertas kecil terselip di dalamnya, ditulis dengan pulpen yang hampir habis:

Porsi orang patah hati. Gratis. — Pak Kumis.

Aku menatap tempe itu. Tujuh potong.

Aku tidak tahu Pak Kumis punya porsi untuk orang patah hati. Aku tidak tahu bahwa ternyata porsinya tujuh potong tempe.

Pukul dua, Fikri muncul di pintu ruanganku dengan laptop terbuka.

“Bu,” katanya, berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk. “Saya bikin presentasi.”

“Fikri, saya sedang sibuk.”

“Satu slide aja, Bu. Satu.”

Aku menghela napas. “Satu.”

Ia memutar laptopnya ke arahku. Slide berlatar putih dengan tulisan hitam besar di tengahnya.

ANALISIS DATA MENUNJUKKAN: KALIAN BERDUA BODOH.

Di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil: Dengan hormat. Mohon maaf. Ini untuk kebaikan bersama.

Aku menatap slide itu lama.

Fikri menelan ludah. “Bu, saya siap dipecat.”

“Kamu bukan karyawan HTA, Fikri.”

“Saya siap dipecat secara moral, Bu.”

Untuk pertama kalinya sejak Jumat, sesuatu di dadaku bergerak. Bukan tawa. Hampir. Seperti seseorang yang mengetuk pintu yang sudah lama tertutup.

“Kamu bikin satu slide yang sama untuk dia?”

“Sudah, Bu. Kemarin.” Fikri menunduk. “Mas Rey lihat slide-nya lama. Terus bilang ‘makasih, Fik’, terus balik kerja.”

“Itu saja?”

“Itu saja, Bu.” Fikri menutup laptopnya. “Mas Rey kerja kayak mesin juga, Bu. Kayak Ibu. Dia selesaikan semua dokumen Singapura buat Mas Dodi. Seratus delapan puluh halaman. Dalam tiga hari.”

Aku tidak menjawab.

Fikri ragu sebentar di ambang pintu. Lalu ia berkata, sangat pelan, seperti orang yang menyerahkan data terakhir yang ia punya:

“Bu, Mas Rey nggak naik Lift Tiga lagi. Dia naik tangga. Dua puluh satu lantai. Tiap pagi.”

Ia pergi sebelum aku bisa bertanya apa-apa.


Pada hari Rabu malam, aku membuka buku biru navy untuk pertama kalinya sejak Jumat.

Halaman terakhir yang kutulis masih ada di sana. Sudah dijawab. Belum diumumkan. Dan tiga kalimat dari Papa, Jess, dan Om Benny di bawahnya. Peringatan-peringatan yang kudengar dan kuabaikan.

Di pojok kanan atas, angka 32.

Aku menatap angka itu. Lalu aku menghitung di kepala. Hari ini Rabu. Ia berangkat tanggal empat belas. Tidak. Ia tidak berangkat. Dodi yang berangkat. Ia tinggal di sini.

Dan aku yang berangkat. Tanggal satu.

Untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun, angka di pojok halaman tidak lagi menghitung mundur sesuatu yang berarti. Tidak ada yang perlu kuhitung. Tidak ada hari keberangkatannya. Hanya hari keberangkatanku, ke negara di mana ia tidak akan ada.

Aku mencoba menulis sesuatu. Pulpen menyentuh kertas, lalu berhenti.

Aku tidak tahu harus menulis apa. Selama dua setengah tahun, buku ini berisi dia. Apa yang ia lakukan. Apa yang ia katakan. Apa yang ia makan, ia pakai, ia berikan pada orang lain. Tujuh ratus lebih catatan. Dua isi ulang.

Sekarang ia tidak ada di lift. Tidak ada di pantry. Tidak ada di celah antara rak dokumen dan pintu pantry, karena aku tidak berani melirik ke sana.

Aku menutup buku itu tanpa menulis apa-apa.


Pada hari Kamis, pukul sembilan malam, aku pergi ke tangga darurat.

Aku tidak merencanakannya. Aku sedang membereskan meja, bersiap pulang, dan kakiku membawaku ke pintu besi itu tanpa bertanya.

Lampu sensor menyala. Putih. Terang.

Aku turun tiga anak tangga dari bordes dan duduk.

Anak tangga ketiga. Di sinilah semuanya dimulai. Di sinilah aku menangis dua setengah tahun lalu dengan maskara luntur dan blazer seharga setengah gaji. Di sinilah ia duduk dua anak tangga di atasku dan memberiku roti dan lima menit dan satu kalimat yang mengubah hidupku. Di sinilah ia mengingatku, dan kami berciuman, dan lampu mati, dan kami tertawa dalam gelap.

Di sinilah, enam hari lalu, ia berkata kamu berangkat aja.

Aku memeluk lututku.

Aku tidak berniat menangis. Aku sudah tidak menangis sejak Jumat malam, ketika aku menangis di taksi, di lift apartemen, di kamar mandi, di kasur, sampai pukul empat pagi. Aku pikir air mataku sudah habis.

Ternyata belum.

Tangis itu datang pelan. Lalu tidak pelan. Lalu seperti dua setengah tahun lalu, tangis yang jelek dan memalukan, yang datang dari tempat yang sudah lama tertutup. Karena dua setengah tahun lalu aku menangis karena ditolak oleh orang asing. Sekarang aku menangis karena dilepaskan oleh orang yang paling kukenal di dunia.

Kamu berangkat aja.

Mungkin memang ini jawabannya.

Ia tidak berteriak. Ia tidak marah. Ia hanya melepaskanku dengan sopan, dengan sangat baik, dengan suara yang tenang, seperti orang yang mempersilakan ibu-ibu di belakangnya duluan di antrean kasir. Dan itu yang paling menyakitkan. Ia melepaskanku seolah itu hadiah.

Dan aku tahu, aku tahu dengan pasti, bahwa ia sedang duduk di suatu tempat sekarang, di kamar kosnya, di depan daftar HVS di dinding, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini yang terbaik untukku.

Lampu sensor mati.

Aku tidak bergerak. Aku membiarkan gelap itu.


Pintu besi terbuka.

Lampu sensor menyala. Aku buru-buru mengusap wajah dengan punggung tangan, menegakkan punggung, menyiapkan wajah Associate Director.

Pak Darto berdiri di bordes dengan seragam biru tua dan termos teh di tangan. Di tangannya yang lain, ada sebungkus roti sobek cokelat dengan gambar beruang kecil yang tersenyum.

Ia tidak bilang apa-apa. Ia turun dua anak tangga, pelan, dengan lutut yang sedikit berbunyi. Lalu ia duduk.

Dua anak tangga di atasku.

Aku menatapnya dari bawah. Ia menatap dinding di depannya.

Lama. Ia tidak bertanya. Ia hanya duduk.

Lalu ia mengulurkan roti itu ke bawah, ke arahku. Tanpa menoleh.

“Buat jaga-jaga, Mbak,” katanya.

Aku menatap roti itu. Lalu aku mengambilnya, dengan dua tangan, seperti dulu. Dan tangisku pecah lagi, lebih keras dari tadi, dan Pak Darto tetap duduk di sana tanpa bicara, menyesap tehnya pelan-pelan, menunggu.

Ketika akhirnya aku bisa bernapas lagi, ia bicara.

“Mbak tahu,” katanya pelan, “dua tahun ini, Mas Rey selalu nunggu lampu kantor Mbak mati, baru dia turun.”

“Saya tahu, Pak.”

“Minggu ini, Mas Rey turun duluan.”

Aku menatapnya.

“Jam lima. Jam lima lewat sepuluh paling lambat. Senin, Selasa, Rabu, hari ini.” Pak Darto menyesap tehnya. “Di buku saya, dua tahun ini, R selalu setelah N. Minggu ini, pertama kalinya, R duluan.”

Aku menunduk ke roti di tanganku.

“Tapi,” kata Pak Darto.

Aku mengangkat wajah.

“Mas Rey nggak pulang, Mbak.” Ia menatap dinding di depannya. “Dia turun jam lima. Terus dia duduk di sofa lobby. Dekat pot monstera. Pura-pura baca HP. Sampai Mbak turun. Jam delapan, jam sembilan, jam sepuluh. Mbak lewat, Mbak nggak lihat ke kanan. Mas Rey nunduk di belakang pot. Terus setelah Mbak masuk taksi, baru Mas Rey pulang.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Empat hari, Mbak,” kata Pak Darto. “Empat hari dia nunggu di balik pot, supaya Mbak nggak lihat dia nunggu.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Pak Darto menyesap tehnya lagi. Lalu ia berkata sesuatu yang tidak kuduga.

“Saya dulu juga begitu, Mbak.”

Aku menatapnya.

“Istri saya dulu dapat kerja di Batam. Gajinya bagus. Lebih bagus dari gaji satpam.” Pak Darto menatap termosnya. “Saya pikir, saya nggak boleh jadi beban. Saya bilang ke dia, ‘Kamu berangkat aja. Saya di sini.’ Saya pikir itu kalimat paling baik yang pernah saya bilang.”

“Terus, Pak?”

“Terus istri saya tampar saya,” kata Pak Darto datar. “Di depan rumah. Tetangga pada lihat.”

Di tengah tangisku, aku tertawa. Pendek, basah, tidak terkontrol.

“Dia bilang,” lanjut Pak Darto, “‘Kamu pikir kamu baik? Kamu nggak baik. Kamu penakut. Kamu nggak mau milih, jadi kamu suruh aku milih sendirian.’” Ia menyesap tehnya. “Dia nggak jadi ke Batam. Saya juga nggak jadi ke mana-mana. Kami bicara tiga hari tiga malam. Terus kami putuskan bareng. Dua puluh enam tahun, Mbak. Sampai sekarang dia masih suka ungkit soal itu kalau saya lupa buang sampah.”

Aku menatap pria lima puluh lima tahun di dua anak tangga di atasku, dengan termos tehnya dan buku hijau tuanya dan sembilan tahun menjaga gedung ini. Yang mencatat semuanya. Yang mengganjal pintu ketika orang lain lupa.

“Kenapa Bapak cerita ini ke saya?” tanyaku.

Pak Darto akhirnya menoleh dan menatapku. Wajahnya datar seperti biasa. Tapi matanya tidak.

“Mbak ingat apa yang Mas Rey bilang di sini? Dua setengah tahun lalu?”

“Ditolak itu cuma jawaban. Bukan vonis.”

“Terus dia cerita soal vendor, kan? Yang nutup telepon?”

Aku mengangguk. Terus besoknya saya telepon lagi. Dan dia angkat.

“Mas Rey itu,” kata Pak Darto, “kalau ditolak orang lain, besoknya dia telepon lagi. Selalu. Saya sudah lihat dia begitu lima tahun. Vendor, klien, bagian keuangan, siapa aja.” Ia berdiri, pelan, dengan lutut yang berbunyi lagi. “Tapi kalau yang nolak dia itu dirinya sendiri, Mbak...”

Ia menaiki dua anak tangga ke bordes, lalu menoleh dari atas.

“...nggak ada yang telepon dia lagi besoknya.”

Ia mendorong pintu besi. Lalu, sebelum keluar, ia mengambil sesuatu dari saku seragamnya dan menyelipkannya di antara pintu dan kusen. Sebuah buku kecil. Bukan buku hijaunya. Buku catatan saku biasa, yang tipis.

“Pintunya suka kekunci, Mbak,” katanya. “Saya ganjal.”

Pintu menutup separuh, tertahan buku catatan itu. Cahaya dari koridor masuk lewat celahnya, tipis, seperti garis emas di lantai beton.

Aku duduk sendirian di anak tangga ketiga dengan roti di tangan.

Kalau yang nolak dia itu dirinya sendiri, nggak ada yang telepon dia lagi besoknya.

Aku menatap roti itu lama. Lalu aku membuka bungkusnya, dan memakannya. Rasanya manis, sedikit terlalu manis. Sama seperti dua setengah tahun lalu.

Lalu aku mengeluarkan buku biru navy dari tas, membukanya di atas lutut, dan menulis untuk pertama kalinya sejak Jumat.

Aku tidak menulis angka di pojok kanan atas. Tidak ada lagi yang perlu dihitung mundur.

Aku menulis:

Dia nunggu di balik pot monstera. Empat hari. Supaya aku nggak lihat dia nunggu.

Dia nggak mundur karena dia nggak sayang. Dia mundur karena dia pikir itu cara sayang yang paling baik.

Dan aku maju diam-diam karena aku pikir itu cara sayang yang paling baik.

Kami berdua salah dengan cara yang sama.

Aku berhenti. Menatap halaman itu.

Lalu aku menulis satu baris lagi, dengan tulisan yang lebih besar dari semua tulisan lain di buku itu, besar dan tegas seperti putusan yang dibacakan di ruang sidang.

Besok aku telepon dia lagi.