← Lima Menit di Lobby

Chapter Thirty Four

Vonis Pak Hakim

POV: Nadine


Pukul delapan pagi, setelah matahari terbit dan dua roti sobek cokelat habis kami makan di karpet ruang tamu, aku menelepon Mama.

“Ma. Siang ini Nadine sama Mas Reyhan ke rumah. Makan siang.”

“Mama sudah tahu,” kata Mama.

“Mama tahu dari mana?”

“Niko. Niko tahu dari Jess. Jess tahu dari Dodi. Dodi tahu dari Pak Darto.” Mama berhenti sebentar. “Mama juga sudah masuk grup itu, Nak. Tim Sukses. Yang anggotanya empat puluh tujuh.”

Aku memejamkan mata. Di sebelahku, Mas Reyhan, yang masih duduk di karpet dengan kemeja biru muda yang kusut dan rambut berantakan, menahan tawa sampai bahunya bergetar.

“Ma,” kataku. “Satu lagi.”

“Ibunya Nak Reyhan diundang juga, kan? Sudah. Mama telepon tadi subuh. Niko yang jemput di stasiun Gondangdia jam dua belas.” Mama terdengar sangat puas dengan dirinya sendiri. “Mama sudah masak rendang. Ibunya Nak Reyhan juga bawa rendang. Kita lihat rendang siapa yang habis duluan.”

“Ma, itu bukan kompetisi.”

“Semua yang melibatkan rendang itu kompetisi, Nak.”

Telepon ditutup. Aku menatap Mas Reyhan. Ia sudah tertawa terbaring di karpet, memegangi perutnya.

“Ibumu,” katanya di sela tawa, “dan ibuku. Rendang. Di satu meja.”

“Ini lebih menakutkan dari sidang mana pun,” kataku.

“Papamu?”

Aku diam sebentar. “Papa belum telepon.”

Tawanya berhenti. Ia duduk, menatapku. “Itu bagus atau jelek?”

“Papa nggak pernah telepon sebelum sidang,” kataku. “Papa bilang hakim yang bicara sebelum sidang itu hakim yang sudah memutuskan. Dan hakim yang sudah memutuskan sebelum sidang itu...”

“Hakim yang buruk,” sambungnya pelan.

Aku menatapnya. “Kok kamu tahu?”

“Papamu bilang sesuatu yang mirip ke aku. Di pagar. Waktu itu.” Ia meraih tanganku di atas karpet. “Aku nggak cerita ke kamu.”

“Kenapa?”

“Karena aku belum ngerti waktu itu.” Ia tersenyum, kecil dan miring. “Sekarang aku ngerti.”


Rumah di Menteng siang itu penuh suara.

Ibu datang pukul dua belas lewat dua puluh, dijemput Niko dari stasiun, membawa dua kotak rendang dalam tas kain dan sekantong cabai rawit dari pot di teras rumahnya. Mama menyambutnya di pagar dan mereka berpelukan seperti dua sahabat lama yang baru bertemu setelah sepuluh tahun, padahal mereka baru bicara pertama kali di telepon tadi subuh. Dalam lima menit, mereka sudah di dapur bersama, membandingkan rendang, saling mencicipi dari sendok yang sama, dan berdebat soal berapa lama santan harus diaduk.

“Tiga jam,” kata Ibu.

“Empat,” kata Mama.

“Tiga, Bu Ratna. Kalau empat, dagingnya kering.”

“Kalau tiga, bumbunya belum meresap, Bu Wati.”

Niko berdiri di ambang pintu dapur, menatap kedua ibu itu dengan wajah ngeri. “Kak,” bisiknya padaku. “Ini bakal berakhir kayak sinetron.”

“Ini bakal berakhir dengan dua kali lebih banyak rendang,” kataku.

Mas Reyhan berdiri di ruang tamu dengan kemeja batik cokelat, kemeja batik yang lain dari yang dua kali dipakai sebelumnya, karena katanya ia tidak mau Papa mengira ia hanya punya satu batik. Ia menatap foto-foto berbingkai perak di dinding dengan punggung tegak, seperti murid yang menunggu dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Aku berdiri di sebelahnya dan menggenggam tangannya. Dingin. Seperti biasa.

“Papa nggak gigit,” bisikku.

“Batu juga nggak gigit,” bisiknya balik. “Tapi batu bisa jatuh ke kaki.”

Lalu Papa masuk.

Papa memakai kemeja batik biru tua dan kacamata berbingkai tipis yang ia turunkan sedikit di ujung hidung. Ia berjalan pelan, tanpa terburu-buru, dan ruang tamu yang tadinya penuh suara dari dapur tiba-tiba terasa sunyi. Bahkan Mama dan Ibu di dapur berhenti berdebat.

Papa menatap Mas Reyhan. Lalu menatap tangan kami yang saling menggenggam. Ia tidak berkata apa-apa soal itu.

“Saudara Reyhan,” katanya.

“Selamat siang, Om.”

“Silakan duduk.”


Kami makan siang di meja makan panjang dengan dua jenis rendang, sayur nangka, perkedel, sambal ijo, kerupuk kulit, dan sayur asem. Mama dan Ibu duduk bersebelahan dan terus mengisi piring semua orang tanpa bertanya. Niko makan dari kedua rendang bergantian dengan wajah serius seperti juri lomba masak.

“Rendang Bu Wati lebih pedas,” katanya akhirnya. “Rendang Mama lebih gurih.”

“Jadi yang mana yang lebih enak?” tanya Mama.

Niko menatap Mama. Lalu menatap Ibu. Lalu menatap Papa, seperti meminta bantuan hukum.

“Saya mengambil hak untuk diam,” kata Niko.

Papa, di ujung meja, menutup mulut dengan serbet. Bahunya bergetar sedikit.

“Papa ketawa,” bisik Niko.

“Saya batuk,” kata Papa dari balik serbet.

Ibu, yang duduk di seberang Papa, menatapnya dengan mata berbinar. “Bapak hakim yang katanya nggak pernah senyum itu, ya? Rey cerita di telepon. Dia bilang Bapak paling serem sejagad.”

Hening.

Mas Reyhan menatap ibunya dengan wajah orang yang baru saja dikhianati di depan umum.

“Bu...”

“Kenapa? Kamu kan memang bilang begitu.”

Papa menurunkan serbetnya. Menatap Ibu. Lalu menatap Mas Reyhan, yang wajahnya sudah merah sampai ke leher. Lalu kembali ke Ibu.

“Ibu Wati,” kata Papa. “Saudara Reyhan benar.”

Ibu tertawa terbahak. Mama ikut tertawa. Niko tersedak kerupuk. Dan Papa, dengan wajah yang tetap datar seperti batu, menyendok rendang Ibu ke piringnya dan berkata, “Rendang Ibu memang lebih pedas. Saya suka yang pedas.”

Mama menatap suaminya dengan mata menyipit. “Pa.”

“Tapi rendang Mama lebih gurih,” tambah Papa cepat. “Saya juga suka yang gurih.”

“Papa ambil hak untuk diam juga?” tanya Niko.

“Papa mengambil hak untuk hidup damai,” kata Papa.


Setelah makan, Papa memanggil kami berdua ke ruang kerjanya.

Ruang kerja Papa adalah ruangan kecil di ujung lorong dengan rak buku dari lantai sampai langit-langit, meja kayu jati yang besar, dan dua kursi kayu berukir di depannya. Ini ruangan di mana aku dimarahi waktu SMA karena pulang terlambat, di mana Papa membacakan pasal-pasal untukku sebelum ujian hukum pajak, di mana aku duduk dengan Papa setelah ditolak Pak Haris dua setengah tahun lalu dan tidak bilang apa-apa, dan Papa tidak bertanya apa-apa, dan kami hanya duduk.

Papa duduk di belakang mejanya. Kami duduk di dua kursi kayu berukir di depannya. Seperti terdakwa.

Papa membuka laci, mengeluarkan buku catatan kecil yang ia gunakan di makan malam pertama, dan membukanya. Ia membaca halaman-halamannya dalam diam. Lama.

Mas Reyhan menggenggam tanganku di antara dua kursi. Tangannya dingin dan basah.

Lalu Papa melepas kacamatanya, meletakkannya di meja, dan menatap kami berdua bergantian dengan mata almond yang sama dengan mataku.

“Nadine,” katanya. “Om Benny cerita kamu tanda tangan kontrak Singapura tanpa bilang Saudara Reyhan.”

“Iya, Pa.”

“Saudara Reyhan,” kata Papa. “Pak Haris cerita Saudara minta batal Singapura tanpa bilang putri saya.”

Mas Reyhan menelan ludah. “Iya, Om.”

Aku menatap Papa. “Pak Haris cerita ke Papa?”

“Haris Mulyono itu adik kelas saya waktu kuliah,” kata Papa datar. “Dia datang ke sini tadi malam. Bawa martabak.”

Aku menatap Mas Reyhan. Mas Reyhan menatapku. Kami berdua tidak bisa bicara.

“Jadi,” kata Papa, memasang kembali kacamatanya, “kalian berdua mengambil putusan tanpa sidang. Masing-masing. Pada hari yang berbeda. Dengan alasan yang sama.”

“Iya, Pa,” kataku.

“Iya, Om,” kata Mas Reyhan.

“Dan kemudian?”

Aku mengeluarkan sesuatu dari tas. Kertas HVS yang sudah kusut, terlipat empat. Agenda Sidang. Aku meletakkannya di meja di depan Papa.

Papa menatap kertas itu. Membuka lipatannya. Membaca judulnya.

Lalu ia membaca setiap poin. Pertanyaan-pertanyaan dengan tulisan tangan Mas Reyhan. Jawaban-jawaban dengan tulisan tanganku. Ia membaca lambat sekali, seperti membaca berkas perkara, sampai ke poin nomor tujuh. Telepon lagi besoknya. Kayak vendor di Cikarang. Setuju. Berlaku seumur hidup.

Papa diam lama.

Lalu ia meletakkan kertas itu di meja, merapikannya, dan mengambil pulpen.

“Sidang ini,” katanya, “dibuka.”

Mas Reyhan menegakkan punggung.

“Menimbang,” kata Papa, dengan suara yang tiba-tiba berubah. Suara ruang sidang. Suara yang kudengar dari bangku pengunjung paling belakang ketika umurku sembilan tahun. Dalam, pelan, setiap suku kata diucapkan dengan jelas. “Bahwa kedua pihak telah mengakui kesalahan masing-masing, yaitu mengambil keputusan sepihak atas nama kebaikan pihak lain.”

Aku menggenggam tangan Mas Reyhan lebih erat.

“Menimbang, bahwa kedua pihak telah mengadakan sidang secara mandiri pada pukul lima pagi hari ini, dengan agenda tertulis, dengan seluruh data di atas meja, dan dengan hasil yang dituangkan secara tertulis dan ditandatangani bersama.”

“Kami belum tanda tangan, Pa,” bisikku.

Papa menatapku dari atas kacamatanya. Lalu ia menyerahkan pulpennya. Aku menandatangani kertas itu di bagian bawah. Lalu Mas Reyhan, dengan tangan gemetar, menandatangani di sebelahku.

Papa menarik kertas itu kembali. “Menimbang, bahwa kedua pihak telah menandatangani hasil sidang.”

Mas Reyhan menahan napas. Aku juga.

“Menimbang,” lanjut Papa, “bahwa Saudara Reyhan jujur soal stiker Ibu Selalu Di Hati. Bahwa Saudara Reyhan memberikan tumpangan kepada pihak yang mengirim seratus satu mawar kepada putri saya. Bahwa Saudara Reyhan menunggu di balik pot monstera selama empat hari supaya putri saya tidak tahu dia ditunggu.”

Aku menoleh ke Mas Reyhan. Ia menatap Papa dengan mulut terbuka.

“Om tahu soal pot?”

“Saya anggota grup itu, Saudara,” kata Papa datar. “Istri saya yang memasukkan.”

Mas Reyhan menutup wajahnya dengan satu tangan.

“Menimbang,” lanjut Papa, tanpa terpengaruh, “bahwa putri saya membagikan seratus satu mawar kepada seluruh karyawan perempuan di lantai dua puluh satu. Bahwa putri saya belajar memasak telur dadar dengan dua belas butir telur. Bahwa putri saya meminta waktu lima menit di lobby, dan mengembalikan kalimat yang ia terima dua setengah tahun lalu, kepada orang yang memberikannya.”

Mataku panas.

Papa meletakkan pulpennya. Melepas kacamatanya. Dan menatap kami berdua.

“Mengadili,” katanya.

Ruang kerja itu sunyi. Di luar pintu, aku bisa mendengar napas tertahan. Mama, Ibu, dan Niko, pasti menempelkan telinga di pintu.

“Satu. Menerima permohonan kedua pihak untuk berangkat bersama ke Singapura.”

Mas Reyhan menghembuskan napas yang ia tahan.

“Dua. Dengan syarat: kedua pihak pulang setiap Lebaran. Kedua pihak menelepon kedua ibu setiap hari Minggu, bergantian. Kedua pihak tidak boleh mengambil keputusan besar tanpa sidang, dan hasil sidang dikirim salinannya ke saya.”

“Iya, Pa.”

“Iya, Om.”

“Tiga.” Papa berhenti sebentar. Lalu ia menatap Mas Reyhan, lama, dengan sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat. “Saudara Reyhan berhenti memanggil saya ‘Om’.”

Hening.

Mas Reyhan menatap Papa. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

“Nanti,” kata Papa. “Tidak sekarang. Kapan-kapan. Setelah sidang berikutnya.” Ia memasang kembali kacamatanya. “Saya hanya mencatatnya di putusan supaya tidak ada yang lupa.”

Lalu Papa mengetuk meja kayu jati itu tiga kali dengan buku jarinya. Tok. Tok. Tok. Seperti palu hakim.

“Sidang ditutup.”


Pintu ruang kerja terbuka seketika. Mama, Ibu, dan Niko jatuh ke dalam, tumpang-tindih, karena mereka memang menempel di pintu.

“Ya Allah,” kata Ibu dari bawah Niko. “Bapak bacain putusan beneran!”

“Papa selalu begitu kalau terharu,” kata Mama dari bawah Ibu. “Tiga puluh tahun, Bu Wati. Lamaran Papa ke Mama juga pakai menimbang.”

“MA.”

“Kenapa, Pa? Itu romantis.”

Papa berdiri dari kursinya dengan wajah yang tetap datar seperti batu. Tapi telinganya, aku baru menyadarinya untuk pertama kali seumur hidupku, telinganya merah.

Aku menoleh ke Mas Reyhan. Ia sudah menatapku. Matanya basah. Senyumnya lebar sampai ke mata.

Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Mungkin putusan Papa. Mungkin dua kotak rendang. Mungkin kenyataan bahwa telinga Papa ternyata juga bisa merah. Aku berjinjit dan mencium pipinya. Di depan Papa, Mama, Ibu, dan Niko.

Papa batuk. Sangat keras.

“Papa batuk lagi,” kata Niko.

“Saya batuk.”

“Papa telinganya merah.”

“AC-nya,” kata Papa, dan berjalan keluar dari ruang kerjanya sendiri dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya.


Malam itu, pukul delapan, warung Pak Kumis mematikan semua lampu bohlamnya.

Ratusan lilin kecil dalam gelas plastik berjajar di atas enam meja kayu panjang, di trotoar, di atas gerobak, bahkan di atas helm-helm ojek online yang diparkir di dekat warung. Terpal oranye dihiasi lampu kelap-kelip yang dipinjam Mbak Sari dari rumahnya. Pak Kumis berdiri di balik gerobak dengan kemeja batik, kumisnya disisir rapi.

Semua orang ada di sana. Tim Lintasraya. Tim HTA. Pak Darto dengan seragam dan termos teh. Om Benny dan istrinya. Pak Haris dan Bu Haris, dengan Kiara di gendongan. Mama, Papa, Niko, dan Ibu, yang memutuskan menginap di Menteng malam ini. Bahkan Kenzo Wiradinata, yang entah bagaimana masuk ke grup itu, berdiri canggung di pinggir dengan sebuket mawar kecil, yang kali ini ia berikan kepada Jess.

Dodi berlutut di depan Jess, di tengah trotoar, di bawah lampu kelap-kelip, dengan kotak beludru biru tua di tangan yang gemetar.

“Jessica Wiraatmadja,” katanya. Suaranya pecah. “Gue udah bocorin ini di depan enam puluh orang. Gue udah nolak Singapura demi lo dan sambal Pak Kumis. Gue udah nabung tujuh bulan. Gue...” Ia berhenti, menelan ludah. “Gue nggak pinter ngomong. Lo tahu itu. Jadi gue cuma mau nanya satu hal.”

Jess menutup mulut dengan kedua tangan, maskaranya sudah luntur.

“Mau nggak...”

“IYA,” teriak Jess sebelum ia selesai. “IYA, BODOH. IYA DARI DELAPAN BULAN LALU.”

Warung Pak Kumis meledak. Tepuk tangan, sorakan, peluit tukang parkir yang ditiup panjang. Fikri merekam dengan dua ponsel sekaligus. Tari menangis sambil membagikan tisu. Mbak Sari memeluk Pak Darto, yang berdiri kaku dan tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya.

Di tengah semua itu, aku berdiri di samping Mas Reyhan di dekat gerobak, dan merasakan tangannya menemukan tanganku.

Ia menunduk dan berbisik di telingaku: “Pak Kumis matiin lampu bohlam buat Dodi.”

“Aku tahu.”

“Pak Kumis nggak pernah matiin lampu bohlam.”

Aku menoleh dan menatapnya. Di bawah cahaya ratusan lilin, wajahnya terlihat hangat dan sedikit keemasan. Helai rambut di belakang kepalanya berdiri.

“Kamu iri?” tanyaku.

“Sedikit,” katanya jujur. Telinganya merah.

Aku tersenyum. Lalu aku menyandarkan kepala di bahunya dan menatap Dodi yang masih berlutut, sekarang dipeluk Jess yang menangis sampai mereka berdua hampir jatuh ke trotoar.

“Kamu masih punya waktu, Mas,” bisikku.

“Waktu buat apa?”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menggenggam tangannya lebih erat.

Malam itu, di apartemen, aku membuka buku biru navy. Di pojok kanan atas, aku tidak menulis angka hitung mundur. Aku menulis tanggal hari ini.

Papa membacakan putusan. Menerima. Dengan syarat. Telinga Papa merah. Aku baru tahu telinga Papa bisa merah.

Ibu dan Mama berdebat rendang. Seri.

Dodi melamar Jess. Pak Kumis mematikan lampu bohlam.

Mas Reyhan bilang dia iri sedikit.

Aku berhenti. Lalu menulis satu baris lagi, kecil, di sudut halaman.

Belum waktunya. Tapi nanti.