Chapter Thirteen
Back Hug di Dapur
POV: Rey
“Aku mau belajar masak,” kata Nadine di telepon Jumat malam.
“Masak apa?”
“Satu menu. Sebelum kamu berangkat.” Ada jeda. “Supaya kalau aku kangen, aku bisa masak sendiri.”
Aku tidak langsung menjawab, karena kalimat kalau aku kangen baru saja membuat jantungku melakukan sesuatu yang tidak sehat.
“Menu apa?” tanyaku akhirnya.
“Telur dadar kecap.”
“Telur dadar kecap?”
“Yang kamu bikin tiap Minggu pagi. Pakai daun bawang banyak, kecapnya dituang pas telurnya masih basah, terus pinggirnya dibiarin agak gosong.”
Aku terdiam lagi. “Aku nggak pernah cerita soal itu.”
“Pernah,” katanya. “Kamu pernah cerita ke Mbak Sari, di pantry, setahun lalu. Aku lagi bikin teh di belakangmu.”
“Kamu dengar?”
“Aku dengar semua yang kamu omongin di pantry, Mas. Pantry itu kecil.”
Aku tidak tahu harus merasa malu atau tersentuh. Aku memutuskan untuk merasa keduanya.
“Besok jam sepuluh,” katanya. “Apartemenku. Aku kirim alamatnya.”
“Kamu punya kompor?”
“Tentu aku punya kompor.”
“Pernah dipakai?”
Hening. Lalu: “Sampai besok, Mas.”
Apartemen Nadine di Setiabudi ada di lantai sembilan belas, dan saat pintunya terbuka, aku mengerti satu hal tentang dirinya yang belum kupahami sebelumnya.
Apartemen itu rapi seperti ruang pameran. Sofa abu-abu muda tanpa satu pun bantal yang miring. Rak buku berisi buku-buku pajak dan hukum yang disusun berdasarkan warna sampul. Lantai kayu mengilap. Jendela besar menghadap gedung-gedung Kuningan, dengan tirai putih tipis yang bergerak pelan ditiup AC. Tidak ada piring di bak cuci. Tidak ada sepatu berserakan. Tidak ada satu pun tanda bahwa ada manusia yang benar-benar tinggal di sini.
Kecuali Nadine sendiri, yang berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sama sekali berbeda dari apartemennya.
Ia memakai sweter rajut krem yang terlalu besar untuknya, lengannya menutupi setengah telapak tangan, dan celana piama bergaris biru putih. Rambutnya dicepol asal di puncak kepala dengan jepit plastik kuning, beberapa helai lepas di tengkuk. Tanpa riasan sama sekali, kecuali bibirnya yang sedikit berkilau oleh pelembab. Kacamata baca berbingkai tipis bertengger di hidungnya, sedikit miring. Dan kakinya telanjang, kuku-kukunya dicat merah muda pucat.
Associate Director termuda di HTA. Bidadari Lantai 21. Berdiri di depan pintu dengan sweter kebesaran dan jepit plastik kuning.
Aku berdiri di koridor dengan kantong belanjaan berisi telur, daun bawang, dan kecap manis, dan tidak bisa bergerak.
“Kenapa?” tanyanya, menyipitkan mata di balik kacamata.
“Kamu...”
“Aku belum mandi. Jangan komentar.”
“Aku nggak mau komentar soal mandi.”
“Terus?”
“Kamu lucu banget,” kataku, dan langsung menyesal, karena itu kedengarannya seperti sesuatu yang dikatakan pada anak kucing.
Tapi Nadine tidak marah. Pipinya memerah, sedikit sekali, dan ia menarik lengan sweternya sampai menutupi seluruh tangan, lalu menutup wajahnya dengan ujung lengan itu.
“Masuk, Mas,” katanya dari balik sweter. “Cepat. Sebelum tetangga lihat.”
Dapurnya juga seperti ruang pameran. Kompor induksi yang mengilap tanpa noda. Panci-panci bergantung di rak dengan label harga yang masih menempel. Lemari bumbu berisi toples-toples kaca yang dilabeli dengan rapi: GARAM, MERICA, KETUMBAR, PALA. Semuanya penuh. Tidak satu pun yang pernah dibuka. Segelnya masih utuh.
Aku membuka kulkas. Isinya: delapan botol air soda, enam cup yogurt, satu kotak kurma, dan sebotol saus sambal yang tutupnya masih tersegel.
“Din,” kataku pelan. “Kamu makan apa sehari-hari?”
“Makan di luar. Pesan antar. Pak Kumis.”
“Sarapan?”
“Yogurt.”
“Makan malam?”
“Kalau pulang terlalu malam, kurma.”
Aku menutup kulkas dan menatapnya. Ia duduk di kursi tinggi di meja dapur, kaki menggantung, dagu bertumpu di kedua tangannya yang tenggelam di lengan sweter. Ia menatapku balik dengan wajah tanpa dosa.
“Kamu kenapa lihat aku kayak gitu?” tanyanya.
“Kayak apa?”
“Kayak Pak Kumis lihat kamu kalau kamu kelihatan capek. Kayak mau kasih tempe dua.”
Aku tertawa. Lalu aku menyingsingkan lengan kemejaku dan mengeluarkan telur dari kantong belanjaan.
“Oke. Pelajaran pertama.”
Pelajaran pertama berjalan buruk.
Nadine bisa membongkar laporan pajak sebuah perusahaan baja dalam empat puluh menit, tapi ia tidak bisa memecahkan telur tanpa memasukkan setengah cangkangnya ke dalam mangkuk. Ia memegang telur dengan dua tangan, mengetuknya terlalu pelan di pinggir mangkuk, lalu terlalu keras, dan kuning telurnya pecah di atas meja marmer yang mengilap.
“Telurnya rusak,” katanya, menatap meja dengan wajah tragis.
“Nggak apa-apa. Coba lagi.”
Telur kedua masuk ke mangkuk, utuh, bersama tiga potong cangkang. Telur ketiga meleset sama sekali dan jatuh ke lantai.
“Aku sudah bilang,” katanya, menatap telur di lantai. “Aku nggak bisa masak.”
“Kamu belum masak. Kamu baru mecahin telur.”
“Mecahin telur bagian dari masak.”
“Bagian paling gampang.”
Ia menatapku dengan mata menyipit di balik kacamata. “Mas Reyhan. Kamu lagi ngeledek aku?”
“Nggak.”
“Telingamu merah.”
“Telingaku selalu merah.”
“Telingamu merah karena kamu nahan ketawa.”
Aku menyerah dan tertawa. Ia memukul lenganku dengan ujung lengan sweternya, yang sama sekali tidak sakit karena isinya hanya kain rajut.
Setelah enam telur dan dua puluh menit, akhirnya ada adonan telur yang layak di mangkuk. Daun bawang yang ia potong ukurannya tidak ada yang sama, ada yang sebesar ujung kuku dan ada yang sepanjang jari, tapi aku tidak berkomentar. Ia menuangkan adonan ke wajan dengan wajah konsentrasi penuh, seperti sedang menandatangani kontrak bernilai miliaran.
Lalu ia melupakannya.
Hanya sebentar. Ponselnya berbunyi, pesan dari Jess, dan ia membacanya, tertawa, membalas, dan ketika ia menoleh kembali ke wajan, asap tipis sudah mengepul.
“Mas! Mas, telurnya...”
“Matiin apinya!”
“Gimana caranya? Ini induksi! Nggak ada apinya!”
“Tombol yang itu! Yang ada gambar...”
TIIIT TIIIT TIIIT TIIIT.
Alarm asap di langit-langit dapur meraung. Nadine menjerit kecil, menutup telinga dengan lengan sweternya, lalu panik berlari ke jendela dan membukanya lebar-lebar. Aku mematikan kompor, mengangkat wajan, dan mengipasi alarm asap dengan talenan kayu sampai bunyinya berhenti.
Hening.
Kami berdua berdiri di tengah dapur yang bau gosong, saling menatap. Di wajan, telur dadar kecap kami sudah berubah menjadi sesuatu yang hitam dan keriting di pinggirnya, seperti arang yang menyamar.
“Itu gosong,” kata Nadine pelan.
“Iya.”
“Kamu bilang pinggirnya dibiarin agak gosong.”
“Agak, Din.”
Ia menatap telur itu, lalu menatapku, dan bibir bawahnya mencuat sedikit. Bukan cemberut seorang Associate Director. Cemberut anak kecil yang balon ulang tahunnya meletus.
“Aku lapar, Mas,” katanya. Pelan. Merengek. Sambil menarik-narik ujung kemejaku dengan dua jari yang muncul dari ujung lengan sweter. “Lapar banget. Dari pagi cuma makan yogurt. Masakin.”
Aku menatapnya. Perempuan yang membuat direktur keuangan berumur lima puluh empat tahun hampir menangis. Perempuan yang membuat lima orang berbaris turun tangga darurat dengan satu tatapan. Perempuan itu sekarang berdiri di depanku dengan kacamata miring, jepit plastik kuning, dan wajah cemberut, menarik-narik ujung kemejaku seperti anak yang minta dibelikan es krim.
Aku tidak punya pertahanan apa pun terhadap ini. Tidak satu pun.
“Oke,” kataku. Suaraku keluar terlalu lembut. “Oke. Aku masakin.”
Ia langsung tersenyum lebar dan duduk kembali di kursi tinggi, kakinya mengayun-ayun.
Aku memasak telur dadar kecap yang benar. Lalu satu lagi. Lalu nasi goreng dengan sisa nasi dari pesanan antar semalam yang kutemukan di laci kulkas paling bawah. Nadine makan dengan lahap di meja dapur, langsung dari wajan, karena katanya “piring nanti harus dicuci”.
“Enak,” katanya dengan mulut penuh. “Kenapa enak? Bahannya sama.”
“Karena nggak gosong.”
“Itu bukan alasan ilmiah.”
“Itu alasan yang sangat ilmiah.”
Ia menelan, lalu menatapku. “Ajarin lagi.”
“Sekarang?”
“Iya. Aku mau bisa. Aku nggak mau pas kamu di Singapura, aku kangen, terus aku cuma bisa makan kurma.”
Kalimat itu lagi. Kalau aku kangen. Jantungku melakukan hal tidak sehat itu lagi.
Jadi aku mengajarinya lagi. Kali ini aku berdiri di sampingnya. Aku memegangi mangkuk saat ia memecahkan telur, dan telur itu masuk dengan sempurna, dan ia bersorak kecil seperti baru memenangkan tender. Aku menunjukkan cara memotong daun bawang supaya ukurannya sama. Aku mengingatkannya untuk menaruh ponsel jauh-jauh dari kompor.
Lalu tiba bagian paling sulit: membalik telur dadar.
“Aku takut sobek,” katanya, memegang spatula dengan dua tangan seperti memegang pedang.
“Pegang satu tangan aja.”
“Kayak gini?”
“Bukan. Miringin dikit.”
“Kayak gini?”
“Bukan, Din, tanganmu...”
Aku tidak berpikir. Kalau aku berpikir, aku tidak akan berani. Aku melangkah ke belakangnya, dan dari belakang, aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang memegang spatula. Tangan kiriku memegang pegangan wajan di atas tangan kirinya.
Lalu aku sadar posisi kami.
Dadaku menempel di punggungnya. Daguku hampir menyentuh puncak kepalanya, di dekat jepit plastik kuning. Kedua lenganku melingkupinya dari belakang, seperti memeluk. Bukan seperti. Ini memeluk. Aku sedang memeluk Nadine Valencia dari belakang di dapurnya yang rapi seperti ruang pameran, dan aku bisa mencium wangi sampo di rambutnya, sesuatu yang manis seperti buah persik, berbeda dari parfum kantornya.
Ia membeku di dalam pelukanku.
Aku membeku juga.
Telur di wajan mendesis.
“Mas,” katanya pelan.
“Iya?”
“Ini cara ngajarin balik telur?”
“Ini...” Suaraku serak. “Ini metode praktik langsung.”
“Oh.” Jeda. “Metode yang bagus.”
Lalu, perlahan, aku merasakan tubuhnya melunak. Ia bersandar ke belakang. Ke dadaku. Kepalanya miring sedikit, sehingga pipinya menyentuh rahangku. Tangannya di bawah tanganku berhenti tegang.
Aku melepaskan spatula. Aku tidak peduli lagi pada telur itu. Kedua lenganku turun dan melingkar di pinggangnya, di atas sweter rajut yang lembut, dan aku memeluknya dari belakang dengan sungguh-sungguh. Daguku turun dan bertumpu di bahunya.
Ia menghela napas. Panjang dan pelan. Napas orang yang sudah menunggu lama.
Kami berdiri seperti itu di depan kompor. Jendela masih terbuka, angin siang masuk dan menggerakkan tirai putih tipis. Dari bawah terdengar klakson mobil dan suara tukang bakso yang lewat.
Telur di wajan mulai berasap lagi.
“Mas,” bisiknya. “Telurnya.”
“Iya.”
“Gosong lagi.”
“Iya.”
“Kamu nggak mau matiin?”
Aku tidak bergerak. Ia juga tidak.
“Nggak apa-apa,” katanya akhirnya, sangat pelan, dan aku merasakan ia tersenyum karena pipinya yang menempel di rahangku bergerak naik. “Aku nggak mau pindah.”
Alarm asap mulai berbunyi lagi.
TIIIT TIIIT TIIIT.
Kami tetap tidak bergerak selama tiga detik penuh. Lalu Nadine tertawa, tawa yang bergetar di punggungnya dan langsung terasa di dadaku, dan ia menekan tombol kompor dengan satu tangan tanpa melepaskan diri dari pelukanku, dan aku mengipasi alarm itu dengan talenan sambil tetap memeluknya dengan satu lengan, dan kami berdiri di tengah dapur penuh asap, tertawa seperti dua orang bodoh.
Bel pintu berbunyi.
Kami membeku lagi.
Dari balik pintu terdengar suara laki-laki yang sopan dan cemas. “Permisi, Mbak Nadine? Ini dari pengelola gedung. Alarm asap unit 19-C bunyi dua kali. Ada kebakaran?”
Nadine memejamkan mata. “Bukan kebakaran, Pak,” serunya dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi suara Associate Director, tenang dan berwibawa. “Uji coba sistem.”
“Uji coba, Mbak?”
“Uji coba metode memasak.”
Hening di balik pintu. Lalu: “Baik, Mbak. Mohon hati-hati.”
Langkah kaki menjauh. Nadine membuka mata, menoleh sedikit ke belakang, ke arahku, dan menatapku dari jarak beberapa senti. Kacamatanya miring sekali sekarang. Pipinya merah. Matanya berkilat.
“Uji coba metode memasak,” ulangku.
“Metode praktik langsung,” katanya. “Menurutku perlu diuji lagi.”
“Kapan?”
“Minggu depan,” katanya, lalu, tanpa melepaskan diri, mengambil sepotong telur gosong dari wajan dan menyuapkannya ke mulutku. “Sekarang habisin ini. Kamu yang bikin gosong.”
Rasanya pahit dan terlalu asin dan benar-benar seperti arang.
Itu telur dadar terenak yang pernah kumakan.
Sore itu, sebelum aku pulang, ia mengantarku sampai pintu. Ia masih memakai sweter kebesaran itu, dan kacamata itu, dan jepit plastik kuning itu.
“Mas,” katanya saat aku memakai sepatu. “Soal Jess sama Dodi.”
Aku mendongak. “Kamu sudah interogasi?”
“Sudah. Dia ngaku. Katanya baru pacaran sebentar.”
“Sebentar itu berapa lama?”
Nadine tersenyum tipis, senyum seorang konsultan pajak yang baru saja membaca laporan keuangan yang angkanya tidak cocok. “Dia bilang dua minggu,” katanya. “Tapi waktu dia ngomong, dia nggak bisa lihat mataku. Dan Jess selalu bisa lihat mataku kalau dia jujur.”
“Jadi?”
“Jadi aku belum selesai menyelidiki.” Ia bersandar di kusen pintu. “Kamu juga, kan? Daftarmu sudah sampai nomor berapa?”
Aku berdiri, menatapnya. “Kamu belum jawab yang kemarin. Kok kamu tahu aku punya daftar?”
“Fikri,” katanya. “Dia pikir dia bisa jual informasi ke aku dengan harga satu kotak brownies.”
“Dia jual aku demi brownies?”
“Brownies yang enak, Mas. Aku nggak menyalahkan dia.”
Aku tertawa, menggeleng, lalu, sebelum keberanianku hilang, aku melangkah maju dan memeluknya lagi. Dari depan kali ini. Singkat, erat. Ia membalas dengan kedua lengannya yang tenggelam di sweter, dan wajahnya terbenam di bahuku.
“Makasih sudah masakin aku,” katanya ke kemejaku.
“Makasih sudah mau belajar.”
“Aku belum bisa.”
“Kamu akan bisa,” kataku. “Kita masih punya waktu.”
Aku merasakan ia diam sejenak di dalam pelukanku. Lalu ia mengangguk pelan di bahuku.
“Iya,” katanya. “Masih punya waktu.”
Tapi saat aku melepaskannya dan berjalan ke lift, aku menoleh sekali lagi, dan melihatnya masih berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri di dalam sweter kebesaran itu. Wajahnya tersenyum. Tapi matanya tidak.
Aku tahu angka apa yang sedang ia hitung di kepalanya. Aku juga menghitungnya.
Enam puluh dua.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur reading
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup