Chapter Two
Iya, Aku Mau
POV: Nadine
Aku berhasil menahan semuanya sampai pintu taksi tertutup.
Sepanjang lobby, aku berjalan dengan langkah yang sama seperti setiap malam. Punggung lurus, dagu sedikit terangkat, ekspresi yang sudah kulatih selama enam tahun bekerja di dunia di mana perempuan muda yang tersenyum terlalu banyak dianggap tidak serius. Aku mengucapkan selamat malam pada Pak Darto. Aku mendorong pintu kaca yang benar. Aku masuk ke taksi online yang sudah menunggu dan menyebut alamat apartemenku di Setiabudi dengan suara datar.
Lalu pintu tertutup, mobil bergerak, dan aku menutup wajah dengan kedua tangan dan menjerit tanpa suara ke telapak tanganku sendiri.
Lama.
“Mbak?” Sopir taksi melirik dari kaca spion. “Mbak sehat?”
Aku menurunkan tangan. Merapikan rambut yang lepas dari sanggul. Menegakkan punggung.
“Sehat, Pak. Terima kasih.”
“Soalnya tadi Mbak kayak...” Ia menggerakkan tangannya, menirukan sesuatu yang sepertinya mirip orang tersedak.
“Saya baru dapat kabar baik, Pak.”
“Oh. Naik jabatan, Mbak?”
Aku memandang ke luar jendela. Lampu-lampu Kuningan bergeser seperti untaian manik-manik. Di kepalaku, suaranya masih terdengar. Saya suka sama Mbak. Sudah lama.
“Lebih baik dari itu, Pak.”
Sopir itu mengangguk-angguk, tidak mengerti, dan memutar radio. Lagu cinta lawas mengalun. Aku tidak memprotes.
Ponselku bergetar sebelum taksi keluar dari Jalan Rasuna Said. Nama di layar: JESS. Aku tahu apa yang akan terjadi, jadi aku menjauhkan ponsel dari telinga sebelum mengangkatnya.
“NADINE VALENCIA.”
Benar dugaanku.
“Aku dengar, Jess.”
“KAMU BILANG IYA?”
“Kok kamu sudah tahu?”
“Itu nggak penting! Aku punya sumber!” Di latar belakang terdengar suara panci jatuh. Jess pasti sedang memasak mi instan di apartemennya, yang berarti ia menyalakan kompor dan lupa mematikannya karena terlalu sibuk menelepon. “Kamu bilang iya. Langsung. Tanpa mikir. Tanpa jual mahal sedikit pun.”
“Aku sudah mikir, Jess.”
“Kapan?”
“Dua tahun enam bulan.”
Jess terdiam. Itu langka. Jess Wiraatmadja tidak pernah diam, bahkan saat tidur ia mengigau tentang laporan pajak.
“Oke,” katanya akhirnya, lebih pelan. “Oke, itu valid. Tapi tetap aja. Rencanamu gimana? Rencana besar? Rencana yang kamu tulis di notes sampai empat belas draft itu?”
Aku memejamkan mata.
Rencanaku.
Hari terakhirnya di Jakarta. Pagi-pagi, sebelum ia turun ke lobby untuk terakhir kali, aku akan menunggunya di tangga darurat. Di anak tangga ketiga. Aku akan membawa roti, dan aku akan mengatakan semuanya, dari awal. Lalu, apa pun jawabannya, setidaknya ia akan berangkat ke Singapura dengan tahu bahwa ada seseorang di Jakarta yang sudah lama sekali memperhatikannya.
Draft keempat belas kalimat pembukaku tersimpan di aplikasi catatan dengan judul JANGAN DIBUKA DI KANTOR. Draft itu kurevisi tadi pagi. Kata “terima kasih” muncul tiga kali di paragraf pertama dan aku masih belum puas.
“Rencanaku hangus,” kataku. “Dia duluan.”
“Kamu kesal?”
Aku memikirkannya dengan jujur. “Sedikit.”
Jess tertawa sampai terbatuk. “Ya ampun. Laki-laki itu nembak kamu, dan kamu kesal karena dia nggak ngikutin timeline-mu.”
“Aku sudah menyusunnya tiga bulan, Jess. Lengkap. Ada mitigasi risikonya.”
“Mitigasi risiko. Untuk confession. Kamu dengar dirimu sendiri?”
“Itu profesionalisme.”
“Itu sakit jiwa, Din. Sakit jiwa yang lucu, tapi tetap.” Jeda. Lalu, lebih lembut, “Kamu senang?”
Taksi berhenti di lampu merah. Di jendela, aku melihat pantulan wajahku sendiri, samar di atas lampu kota. Wajah itu tersenyum, padahal aku tidak menyuruhnya.
“Senang banget, Jess.”
Sore tadi bahkan lebih kacau dari yang Jess tahu.
Pukul tiga, Jess masuk ke ruanganku tanpa mengetuk, menutup pintu, lalu berbisik seperti agen rahasia, “Malam ini. Dia mau ngomong malam ini. Di lobby.”
Aku tidak bertanya bagaimana Jess tahu. Jess punya caranya sendiri, dan aku sudah lama belajar untuk tidak menanyakan detailnya. Yang aku tahu, setelah kalimat itu, aku menjadi orang yang sama sekali tidak kukenal.
Aku membatalkan rapat pukul empat dengan alasan “ada yang harus saya tinjau ulang”. Aku masuk ke toilet tiga kali untuk memperbaiki lipstik. Yang pertama terlalu merah. Yang kedua terlalu pucat. Yang ketiga kuhapus total, lalu kupakai lagi warna yang sama persis dengan yang pertama.
Tari, juniorku yang mencatat setiap pakaianku di sebuah folder yang ia kira tidak kuketahui, berdiri di depan wastafel ketika aku keluar dari bilik untuk ketiga kalinya.
“Bu Nadine,” katanya, menatapku dengan mata besar. “Ibu nggak apa-apa?”
“Saya baik, Tari.”
“Ibu sudah tiga kali ke sini. Biasanya Ibu nggak pernah ke toilet sebelum jam enam. Saya pernah hitung.”
“Kenapa kamu menghitung jam saya ke toilet, Tari?”
Tari memucat. “Untuk... penelitian, Bu.”
“Penelitian apa?”
“Penelitian... produktivitas wanita karier yang menginspirasi, Bu.”
Aku menatapnya. Ia menatapku. Lalu ia kabur sebelum aku sempat bertanya lagi.
Pukul delapan, aku duduk di ruanganku dengan lampu yang hampir semua sudah kumatikan, memandangi laptop yang tidak kubaca. Pukul delapan empat puluh, aku merapikan rambut untuk keempat kalinya. Pukul delapan empat puluh lima, aku berdiri, memakai blazer, mematikan lampu terakhir, dan berjalan menuju lift.
Lift Nomor 3. Tentu saja.
Turun dua puluh satu lantai rasanya lebih lama dari perjalanan Jakarta–Surabaya.
Lalu pintunya terbuka, dan ia ada di sana. Berdiri dari sofa dekat pot monstera, dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung dua lipatan, seperti biasa. Rambutnya sedikit berantakan di belakang, seperti biasa, ada satu helai yang berdiri sendiri dan menolak diatur. Dan di tangannya ada dua bungkus roti sobek cokelat.
Dua bungkus. Masih sama.
Aku harus memandang roti itu cukup lama supaya tidak memandang wajahnya. Kalau aku memandang wajahnya terlalu cepat, aku tidak yakin bisa mempertahankan ekspresiku.
Lalu ia bicara, dan aku nyaris kehilangan ekspresiku juga.
Habis itu Mbak boleh pulang, dan boleh lupa saya pernah ada.
Lupa.
Mas Reyhan Aditama, Operations Lead PT Lintasraya Logistik, yang selalu naik Lift Nomor 3, yang selalu beli dua roti, yang selalu pulang setelah lampu kantorku mati, yang tidak pernah minum kopi setelah jam tiga sore karena takut tidak bisa tidur, yang menyebut ibunya “Bu Bos” di telepon, dan yang punya kucing di Bogor bernama Pak RT.
Aku punya satu buku penuh tentang kamu. Bagaimana caranya aku lupa?
Aku tidak mengatakannya, tentu saja. Aku hanya berdiri dan mendengarkan, dan berusaha keras supaya wajahku tidak runtuh.
Ia bilang suka. Ia bilang sudah lama. Ia bilang tahu jawabannya. Dan ketika ia bertanya, Mbak mau nggak jadi pacar saya?, dengan telinga yang sudah merah seperti saus sambal, kata “pacar” keluar dari mulutnya dengan canggung dan manis, seperti anak SMA yang menembak di depan kantin.
Aku menjawab sebelum ia selesai bernapas.
Dan ia mengucapkan terima kasih, lalu pergi.
Aku tidak percaya. Aku benar-benar tidak percaya. Laki-laki ini menyatakan perasaannya, menerima jawaban iya, lalu membungkuk sopan dan berjalan pergi seperti kurir yang baru selesai menyerahkan paket.
Satu langkah. Dua langkah.
Aku harus menutup mulutku dengan tangan supaya tidak tertawa sekeras-kerasnya di tengah lobby. Karena aku tahu persis apa yang terjadi di kepalanya. Ia sudah memutuskan ditolak bahkan sebelum bertanya. Ia tidak mendengar jawabanku karena di kepalanya, jawaban itu tidak pernah ada.
Itu sangat Mas Reyhan.
Dan itu, entah kenapa, membuatku jatuh cinta sedikit lebih dalam.
Apartemenku sunyi ketika aku masuk. Aku melepas heels di depan pintu, menyalakan lampu ruang tengah yang kekuningan, dan berdiri sebentar di depan cermin besar di lorong.
Jess menelepon lagi, kali ini video call.
“Coba lihat mukamu,” katanya begitu wajahku muncul di layarnya. Ia sudah berganti piama bergambar kucing dan memegang semangkuk mi yang sepertinya agak gosong. “Gila.”
“Kenapa?”
“Kamu belum lihat dirimu sendiri?”
Aku menatap cermin. Melepas jepit rambut satu per satu. Rambutku jatuh tergerai, bergelombang lembut sampai melewati bahu. Pipiku sedikit memerah, dan bibirku, masih dengan warna lipstik yang sama dengan yang pertama kali kupakai tadi sore, tidak bisa berhenti melengkung.
“Kalau kamu senyum kayak gitu di kantor,” kata Jess, “satu lantai bisa resign massal. Semua klien Om Benny bakal tanda tangan kontrak tanpa baca.”
“Aku tidak akan senyum kayak gini di kantor.”
“Tahu. Itu sebabnya mereka semua manggil kamu Bidadari Lantai 21. Bidadari yang nggak bisa didekati.” Jess menyendok mi. “Tapi barusan ada yang berhasil mendekati.”
“Aku yang membiarkan dia mendekati.”
“Iya, iya, Bu Direktur.” Ia memutar matanya. “Besok makan siang?”
“Jam dua belas.”
“Pakai baju apa?”
“Belum tahu.”
“Nadine Valencia belum tahu mau pakai baju apa.” Jess menatap kamera dengan serius. “Aku harus mencatat ini dalam sejarah.”
Aku menutup telepon setelah Jess mengancam akan datang pagi-pagi untuk memilihkan pakaian. Lalu aku duduk di sofa, menarik tas kerjaku ke pangkuan, dan mengeluarkan sesuatu dari kantong dalamnya.
Sebuah buku catatan kecil bersampul biru navy. Sudutnya sudah sedikit lusuh. Di halaman depan ada tulisan tanganku sendiri, tulisan yang lebih muda dan lebih goyah dari tulisanku sekarang.
Aku tidak membuka halaman pertama. Aku membuka halaman terakhir yang terisi, lalu halaman kosong di sebelahnya, dan menulis dengan pulpen:
Malam ini dia nembak duluan. Di lobby. Lima menit, katanya.
Dia bawa dua roti. Masih roti yang sama.
Dia bilang aku boleh lupa dia pernah ada.
Aku berhenti. Menatap kalimat terakhir itu. Lalu menambahkan satu baris di bawahnya:
Dia masih belum ingat.
Aku menutup buku itu dan memeluknya di dada, lalu bersandar ke sofa, memandangi langit-langit.
Ia memanggilku Mbak. Ia memperkenalkan diri sebagai Rey dari kantor sebelah, seolah aku orang asing yang perlu diberi peta. Ia mengira dua tahun itu hanya miliknya.
Dua tahun enam bulan, Mas.
Dan kamu pikir aku tidak tahu namamu.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau reading
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup