← Lima Menit di Lobby

Chapter Seventeen

Tangga Darurat Lantai 21

POV: Rey


Pukul enam lima puluh, Lantai 21 masih kosong.

Lampu-lampu koridor baru menyala setengah. Pintu kaca HTA dan Lintasraya masih terkunci. Pantry Bersama gelap, hanya ada dengung kulkas dan cahaya hijau kecil dari dispenser. Di kejauhan, terdengar bunyi lift yang naik-turun membawa petugas kebersihan pagi.

Aku berdiri di depan pintu besi bertuliskan TANGGA DARURAT.

Aku sudah melewati pintu ini ratusan kali. Mungkin ribuan. Aku pernah kabur ke sini dari rapat Pak Haris. Pernah menelepon Ibu di sini waktu Ibu masuk rumah sakit. Pernah terjebak di sini satu jam karena pintunya terkunci dari luar, dan harus menunggu sampai seorang OB lewat dan mendengar ketukanku.

Tapi pagi ini, tanganku dingin saat memegang gagangnya.

Aku mendorong pintu itu.


Udara di tangga darurat selalu lebih dingin dari udara di koridor. Bau semen dan debu. Dinding abu-abu dengan angka 21 besar berwarna merah. Lampu di langit-langitnya sekarang lampu sensor gerak yang dipasang pengelola gedung tahun lalu, menggantikan lampu neon lama yang selalu berkedip. Begitu aku masuk, lampu itu menyala, putih dan terang.

Lalu aku melihatnya.

Ia duduk di bawah. Tidak di bordes. Tiga anak tangga di bawah bordes.

Ia memakai blazer hitam. Bukan blazer navy kemarin, bukan blazer krem yang pernah menyelimutiku. Blazer hitam dengan potongan sederhana yang sedikit terlalu longgar di bahu, seperti blazer yang dibeli bertahun-tahun lalu, ketika badannya sedikit berbeda. Rambutnya disanggul rendah, tapi sengaja dilonggarkan, dengan banyak helai yang dibiarkan lepas di tengkuk dan pelipis. Ia duduk dengan lutut ditekuk, kedua tangan memeluknya. Di sampingnya, di atas beton, ada sebungkus roti sobek cokelat dengan gambar beruang kecil yang tersenyum.

Ia tidak menoleh ketika pintu menutup di belakangku.

Aku berdiri di bordes. Menatap punggungnya. Menatap sanggulnya yang longgar, bahunya dalam blazer hitam yang terlalu besar, posisinya yang memeluk lutut.

Lalu, tanpa memutuskannya, aku melakukan sesuatu. Aku turun satu anak tangga. Lalu satu lagi.

Dan aku duduk. Dua anak tangga di atasnya.

Begitu aku duduk, sesuatu di kepalaku berderak.

Bukan ingatan yang datang sekaligus. Ingatan yang datang seperti air yang menetes dari keran yang bocor. Satu tetes. Lalu satu lagi.

Bunyi kain di atas beton.

Aku terengah karena berjalan cepat dari ruang rapat.

Lampu neon yang berkedip.

Di bawahku, seseorang menangis.

Aku menatap punggungnya. Ia masih tidak menoleh. Tapi bahunya, di dalam blazer hitam itu, sedikit menegang.

Perempuan. Blazer hitam. Rambut lepas dari sanggul. Ia memeluk lututnya dan menangis dengan suara yang ia coba tahan dan tidak berhasil.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi aku duduk saja. Aku tidak bertanya. Aku hanya duduk, karena kadang orang tidak butuh ditanya, mereka cuma butuh tidak sendirian.

Tanganku mulai gemetar.

Nadine bergerak. Sangat pelan. Ia mengambil roti dari sampingnya, lalu memutar tubuhnya sedikit, dan mengulurkan roti itu ke atas. Ke arahku. Tanpa menoleh sepenuhnya, hanya profil wajahnya yang terlihat dari sudut ini.

Persis seperti dua setengah tahun lalu. Hanya saja, kali ini, tangan yang mengulurkan roti itu bukan tanganku.

Buat jaga-jaga. Saya selalu beli dua.

Aku mendengar suaraku sendiri di dalam kepala. Suara yang lebih muda, lebih terengah, lebih tidak yakin.

Ditolak itu cuma jawaban, Mbak. Bukan vonis.

Aku berhenti bernapas.

Ia tidak menoleh. Ia hanya bilang terima kasih dengan suara parau. Aku tidak pernah melihat wajahnya. Ponselku berbunyi, Pak Haris mencariku. Aku berdiri, dan sebelum keluar, aku ingat pintunya suka terkunci, jadi aku mengganjalnya dengan satu-satunya benda yang kupunya.

Roti kedua.

Aku bahkan tidak sempat makan siang hari itu.

“Itu kamu,” kataku.

Suaraku keluar seperti bisikan. Seperti sesuatu yang retak.

Nadine akhirnya menoleh.

Ia menatapku dari tiga anak tangga di bawah bordes, dengan blazer hitam yang terlalu longgar, dengan rambut yang sengaja dibiarkan lepas, dengan mata yang sudah basah. Ia tidak memakai maskara pagi ini. Aku menyadarinya sekarang. Tidak ada riasan di matanya sama sekali.

“Itu aku,” katanya.


Aku tidak tahu berapa lama kami diam.

Lampu sensor di atas kami masih menyala. Di luar, samar-samar, terdengar bunyi lift. Tapi di dalam tangga darurat itu, rasanya waktu berhenti.

“Kamu keluar dari ruangan Pak Haris,” kataku akhirnya. “Waktu itu. Aku lihat kamu keluar. Aku lagi jalan dari ruang rapat ke toilet, dan aku lihat kamu belok ke pintu ini, bukan ke lift.”

“Lift-nya penuh.”

“Kamu wawancara di Lintasraya.”

“Head of Tax.”

“Dan Pak Haris...” Semuanya mulai tersambung di kepalaku, satu per satu, seperti lampu-lampu yang menyala di sepanjang koridor gelap. Saya pernah bikin kesalahan besar sama pacarmu. “Pak Haris nolak kamu.”

“Karena aku terlalu muda.”

“Dan kamu...” Aku menatapnya. “Kamu kerja di HTA. Di lantai yang sama. Dua bulan kemudian.”

Ia tidak menjawab. Tapi pipinya memerah, dan ia menunduk ke roti di tangannya.

“Din,” kataku pelan. “Kamu pindah ke lantai 21 karena aku?”

“Aku pindah ke lantai 21 karena aku mau bilang terima kasih,” katanya ke roti itu. “Dengan benar. Dengan wajah yang nggak penuh maskara.” Ia tersenyum kecil, sedih. “Tapi kamu di Surabaya. Empat bulan. Dan waktu kamu pulang, kamu lihat aku di lobby, dan kamu nabrak pintu, dan kamu nggak ingat aku sama sekali.”

“Aku nggak pernah lihat wajahmu,” kataku. Suaraku pecah. “Waktu itu. Kamu nunduk terus. Aku cuma lihat punggungmu. Blazermu.”

“Aku tahu.”

“Kalau aku lihat wajahmu...”

“Kalau kamu lihat wajahku waktu itu,” kata Nadine, “kamu cuma akan lihat perempuan dengan maskara luntur sampai dagu. Kamu nggak akan ingat aku juga, Mas. Dan itu nggak apa-apa.” Ia mengangkat wajah, menatapku. “Aku nggak pernah marah kamu nggak ingat. Kamu nolong orang kayak orang lain bernapas. Kamu nggak pernah ingat siapa yang kamu tolong, karena buat kamu itu bukan hal besar.”

“Tapi buat kamu...”

“Buat aku, itu hal paling besar dalam empat tahun.”

Ia merogoh saku dalam blazer hitamnya, dan mengeluarkan sesuatu. Selembar plastik yang dilipat rapi, sudah sangat lusuh, warnanya memudar. Ia membukanya dengan hati-hati di atas lututnya.

Bungkus roti sobek cokelat. Gambar beruang kecil yang tersenyum, setengah luntur. Tanggal kedaluwarsa tercetak di pinggirnya. Dua setengah tahun lalu.

“Roti yang kamu pakai buat ganjal pintu,” katanya. “Aku nggak pernah makan. Aku simpan di laci sampai kedaluwarsa. Bungkusnya aku simpan sampai sekarang.”

Aku menatap bungkus plastik itu. Lalu aku menatapnya.

Dan tiba-tiba semuanya terasa terlalu besar. Dua tahun aku mencuri pandang dari jauh, mengira hanya aku yang melihat. Dua tahun aku menunggu lampu kantornya mati, tidak tahu bahwa ia sengaja pulang lima menit lebih dulu supaya aku tidak menunggu terlalu lama. Dua tahun aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku bukan orang yang gampang diingat.

Dan selama dua setengah tahun, ada seseorang yang menyimpan bungkus roti delapan ribu rupiah milikku seperti barang berharga.

“Din,” kataku. Lalu aku tidak bisa melanjutkan, karena mataku panas.

Aku turun satu anak tangga. Lalu satu lagi. Sampai aku duduk tepat di sebelahnya, di anak tangga ketiga dari bordes, bahu kami bersentuhan.

“Maaf,” kataku. “Maaf aku nggak ingat.”

“Jangan minta maaf.”

“Kamu nunggu dua setengah tahun.”

“Aku yang mau nunggu.”

“Aku bilang di lobby, kamu boleh lupa aku pernah ada.” Aku tertawa, dan tawa itu keluar bersama sesuatu yang basah di pipiku. “Aku bilang itu ke orang yang nyimpen bungkus rotiku dua setengah tahun.”

Nadine mengulurkan tangan dan mengusap pipiku. Dengan ibu jarinya. Persis seperti yang kulakukan padanya kemarin di pantry.

“Kamu nggak perlu ingat aku, Mas,” katanya pelan. “Kamu cuma perlu tahu bahwa kamu orang yang layak diingat. Itu saja. Itu yang aku mau kamu tahu.”

Aku menangkap tangannya di pipiku. Menggenggamnya.

“Aku ingat sekarang,” kataku. “Aku ingat kamu bilang terima kasih tanpa nengok. Suaramu parau. Kamu pegang rotinya pakai dua tangan, kayak takut jatuh.”

Matanya melebar sedikit.

“Aku ingat blazermu,” lanjutku. “Hitam. Kelihatan mahal. Aku sempat mikir, ‘Kasihan, bajunya bagus banget, tapi orangnya sedih banget.’” Aku menatap blazer hitam yang ia pakai sekarang. “Ini blazer yang sama.”

“Ini blazer yang sama,” bisiknya. “Aku sudah nggak muat. Tapi aku mau kamu lihat.”

Aku menatapnya. Perempuan yang dua setengah tahun lalu menangis di tangga ini. Perempuan yang sekarang membuat Pak Haris diam tiga kali. Perempuan yang memilih lantai 21 karena seorang laki-laki yang bahkan tidak ia lihat wajahnya.

Aku mengangkat tangan yang tidak menggenggam tangannya, dan menyentuh wajahnya. Telapak tanganku di pipinya. Ibu jariku di bawah mata kirinya, tepat di atas tahi lalat kecil itu.

Ia berhenti bernapas.

Aku juga.

“Din,” kataku. “Boleh?”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan mata.

Aku menunduk dan menciumnya.


Itu ciuman yang canggung.

Aku tidak tahu harus memiringkan kepala ke mana, dan hidung kami bertabrakan dulu. Ia tertawa kecil, napasnya hangat di bibirku, lalu ia yang memiringkan kepala, dan bibir kami bertemu dengan benar.

Pelan. Lembut. Bibirnya hangat, sedikit asin karena air mata, dan sedikit manis karena pelembab bibir rasa stroberi. Tangannya, yang tadinya kugenggam, naik dan meremas kerah kemejaku. Jari-jarinya gemetar. Atau mungkin jari-jariku yang gemetar di pipinya. Aku tidak bisa membedakannya lagi.

Aku tidak tahu berapa lama. Tiga detik. Sepuluh detik. Selamanya.

Lalu lampu sensor di atas kami mati.

Gelap total. Tidak ada jendela di tangga darurat. Hanya cahaya hijau samar dari tanda KELUAR di atas pintu, terlalu jauh untuk menerangi apa pun.

Kami membeku, bibir masih bersentuhan.

Lalu Nadine tertawa. Tawa yang meledak dari dadanya, bergetar di bibirku, dan aku ikut tertawa, dan kami berdua tertawa di dalam gelap dengan dahi saling menempel, seperti dua orang bodoh yang baru saja mengalami hal paling penting dalam hidup mereka dan dikalahkan oleh lampu hemat energi.

“Lampunya,” kataku di sela tawa.

“Sensor gerak,” katanya. “Kita nggak gerak.”

“Kita gerak.”

“Bibir nggak dihitung, Mas.”

Aku tertawa lagi. Ia melambaikan satu tangan ke atas, ke udara, dan lampu itu menyala kembali, putih dan terang dan sama sekali tidak romantis.

Kami saling menatap dari jarak beberapa senti. Pipinya merah. Matanya basah dan berbinar. Pelembab bibir rasa stroberinya sedikit belepotan di sudut bibir. Aku yakin sebagian ada di bibirku juga.

“Itu...” kataku.

“Ciuman pertamamu?”

“Bukan,” kataku. Lalu, karena aku tidak pernah bisa berbohong padanya: “Ciuman pertama yang penting.”

Ia tersenyum. Senyum kecil yang miring itu. Lalu ia mengusap sudut bibirku dengan ibu jarinya, menghapus sisa pelembab bibirnya.

“Ini pelunasan,” katanya. “Uang muka yang kemarin. Lunas.”

“Itu cuma pipi.”

“Bunganya besar, Mas.”

Aku tertawa, dan menariknya ke pelukanku, dan ia menyandarkan kepalanya di dadaku, di anak tangga ketiga dari bordes, tempat semuanya dimulai.


Pukul tujuh tiga puluh, kami memutuskan untuk keluar.

Aku naik ke bordes dan mendorong pintu besi.

Pintu itu tidak bergerak.

Aku mendorong lagi. Lebih keras. Tetap tidak bergerak.

Aku menoleh ke Nadine, yang berdiri di belakangku sambil merapikan sanggulnya. Wajahnya perlahan berubah dari bahagia menjadi ngeri.

“Mas,” katanya pelan. “Kamu ganjal pintunya nggak tadi?”

Aku menatap pintu. Lalu menatap tanganku yang kosong. Lalu menatap roti sobek cokelat yang masih utuh, tergeletak di anak tangga ketiga.

“Lupa,” kataku.

“Kamu yang bilang ke aku dua setengah tahun lalu pintunya suka kekunci!”

“Aku lagi mikirin hal lain!”

“Hal lain apa?”

“KAMU, Din!”

Ia menatapku, dan aku menatapnya, dan selama satu detik penuh tidak ada yang bicara. Lalu ia menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa lagi, kali ini sampai harus bersandar di dinding.

Aku mengeluarkan ponsel. Sinyalnya satu bar. Aku menelepon nomor pertama yang terlintas di kepalaku.

Pak Darto mengangkat di dering pertama.

“Pak, ini Rey. Maaf, Pak, saya kejebak di tangga darurat lantai 21. Pintunya kekunci. Bisa minta tolong...”

“Saya sudah di depan pintu, Mas.”

Aku menurunkan ponsel. Menatap pintu besi itu.

Ada bunyi kunci diputar dari luar. Pintu terbuka. Dan di sana, di koridor Lantai 21 yang sekarang mulai terang, berdiri Pak Darto dengan seragam biru tua dan termos teh di tangan. Ia seharusnya sudah selesai jaga malam satu jam lalu.

“Pagi, Mas. Pagi, Mbak,” katanya datar.

“Pak Darto,” kata Nadine pelan, “dari jam berapa Bapak di sini?”

“Saya cuma satpam, Mbak.” Ia melirik pintu, lalu melirik kami berdua, lalu melirik roti di anak tangga ketiga yang masih bisa terlihat dari ambang pintu. “Tapi saya tahu pintu ini suka kekunci. Sudah sembilan tahun saya di sini.”

Ia minggir untuk memberi kami jalan keluar.

Saat aku melewatinya, ia bicara pelan, hanya untukku.

“Akhirnya ingat, Mas?”

Aku berhenti. Menatapnya. Pria lima puluh lima tahun dengan termos teh dan buku hijau tua, yang selama dua setengah tahun tahu sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.

“Bapak tahu dari awal?”

“Mbak Nadine nanya ke saya soal Mas, minggu keempat dia kerja di sini,” kata Pak Darto. “Saya lihat mukanya. Saya tahu.” Ia menyesap tehnya. “Dua setengah tahun, Mas. Lama juga.”

“Kenapa Bapak nggak pernah bilang?”

“Saya cuma satpam, Mas,” katanya. Lalu, setelah jeda yang sangat pendek, dengan sesuatu yang hampir seperti senyum di balik wajahnya yang datar: “Lagian, beberapa hal itu harus diingat sendiri.”

Ia berbalik dan berjalan ke arah lift, langkahnya pelan, termosnya bergoyang.

Di belakangku, Nadine turun kembali ke anak tangga ketiga, mengambil roti yang masih utuh, lalu kembali dan menyelipkannya ke tanganku.

“Buat jaga-jaga,” katanya.

Aku menatap roti itu. Lalu menatapnya. Lalu, di koridor Lantai 21 yang sekarang mulai ramai oleh suara lift dan langkah kaki orang-orang yang datang kerja, di depan pintu tangga darurat yang terbuka, aku menunduk dan mencium keningnya.

“Aku selalu beli dua,” kataku.

Ia tersenyum, dan matanya basah lagi.