Chapter Five
Pengumuman Lantai 21
POV: Rey
Lift Nomor 3 pagi itu sepi. Hanya ada kami berdua dan seorang bapak kurir yang turun di lantai sembilan.
Begitu pintu tertutup dan lift kembali bergerak, Nadine bergeser satu langkah ke arahku. Lalu satu langkah lagi. Sampai bahunya menyentuh lenganku dan aku bisa mencium wangi parfumnya, sesuatu yang lembut dan bersih, seperti teh putih dan buah ara, yang selama dua tahun hanya bisa kucium samar-samar setiap kali ia lewat di lobby.
Ia mendongak. Dari jarak sedekat ini, aku bisa menghitung bulu matanya. Panjang, lentik, dan sama sekali tidak kelihatan palsu. Matanya cokelat gelap, sedikit sayu, dan menatapku dengan cara yang membuat lantai lift terasa bergoyang padahal liftnya bergerak mulus.
“Gimana,” katanya pelan. “Sudah kagum dari dekat?”
“Aku...” Aku menelan ludah. “Aku lupa caranya ngomong.”
“Itu artinya iya?”
“Itu artinya iya.”
Ia tersenyum puas, lalu kembali menghadap ke depan dan berdiri tegak dengan wajah datar, persis ketika pintu lift terbuka di lantai 21 dan dua orang HTA masuk untuk turun. Transformasinya terjadi dalam setengah detik, dari perempuan yang baru saja menggodaku sampai aku lupa bahasa Indonesia, menjadi Associate Director yang memandang dunia dengan kalem dan sedikit bosan.
“Selamat pagi, Bu Nadine,” kata dua orang HTA itu bersamaan, sedikit membungkuk.
“Pagi,” jawabnya, lalu keluar lift dengan langkah yang bergema.
Aku menyusul keluar, tersandung sedikit di celah antara lift dan lantai.
Gosip di Lantai 21 menyebar lebih cepat dari jaringan 5G.
Pukul delapan lewat sepuluh, ketika aku sampai di mejaku, sudah ada tiga sticky note di layar komputerku. Yang pertama dari anak-anak sales: SELAMAT MAS REY!!!, lengkap dengan gambar hati yang miring. Yang kedua dari tim keuangan: Traktiran kapan, Mas? Yang ketiga, ditulis dengan huruf yang sangat rapi, dari Pak Udin office boy: Mas Rey, kemarin fotokopi faktur 50 lembar itu dibuang atau disimpan?
Pukul sembilan, Mbak Sari mengumumkan dengan bangga bahwa grup WhatsApp “Operasi Tembak” telah diganti namanya menjadi “Tim Sukses Lantai 21”, dan anggotanya sudah bertambah dari empat menjadi dua puluh tujuh.
“Dua puluh tujuh?” Aku menatap ponselku. “Siapa aja?”
“Semua yang peduli sama kamu, Rey.”
“Itu termasuk Pak Haris?”
“Pak Haris belum,” kata Mbak Sari. “Tapi Bu Tini sekretarisnya udah masuk.”
Pukul sepuluh, Fikri mempresentasikan model statistik terbarunya di depan mejaku, tanpa diminta, dengan laptop yang ia sandarkan di atas tumpukan dokumen pengiriman.
“Setelah memasukkan variabel baru,” katanya serius, “yaitu, satu, Bu Nadine menjemput Mas ke kantor, dua, Bu Nadine pegangan tangan di lift di depan saksi, dan tiga, Bu Nadine memesankan soto kuah susu yang emping dipisah...”
“Kok kamu tahu soal soto?”
“Mbak Sari, Mas.”
“Mbak Sari ada di restoran itu?”
“Sepupunya pelayan di sana, Mas.”
Tentu saja.
“...maka peluang hubungan ini nyata,” Fikri melanjutkan, “dan bukan halusinasi massal, naik menjadi enam puluh satu persen.”
“Kenapa nggak seratus?”
Fikri menatapku dengan iba. “Karena tiga puluh sembilan persennya saya masih nggak ngerti kenapa Bu Nadine mau, Mas.”
Aku tidak bisa membantah. Aku juga tidak mengerti.
Pukul sebelas, aku pergi ke Pantry Bersama dengan segelas kopi susu gula aren dari kafe lobby. Aku sebenarnya tidak terlalu butuh kopi. Aku cuma butuh lima menit jauh dari dua puluh tujuh anggota tim sukses yang terus mengirim stiker.
Tapi pantry tidak memberiku ketenangan. Pantry penuh.
Ada sekitar sepuluh orang di dalamnya, setengah dari Lintasraya dan setengah dari HTA, semuanya tiba-tiba sangat sibuk mencuci gelas yang sudah bersih atau membaca brosur katering yang sudah kedaluwarsa. Dan di dekat jendela, Nadine berdiri dengan secangkir kopi hitam, berbicara dengan seorang laki-laki yang belum pernah kulihat.
Laki-laki itu tinggi, mungkin lebih tinggi dariku, dengan jas abu gelap yang potongannya pas sempurna di bahu, seperti dijahit langsung di badannya. Jam tangannya besar dan berkilau. Rambutnya disisir rapi ke belakang dengan pomade yang mengilap. Ketika ia tersenyum, giginya putih dan rata seperti iklan pasta gigi.
“...jadi Jumat ini,” katanya pada Nadine dengan suara yang cukup keras untuk didengar seisi pantry, “saya sudah reservasi di restoran Prancis di Senopati. Chef-nya dari Lyon. Kamu pasti suka, Nadine.”
Ia memanggilnya Nadine. Bukan Bu Nadine. Bukan Mbak.
Aku berdiri di ambang pintu dengan gelas kopi susu, tiba-tiba merasa seperti anak magang yang salah masuk ruangan.
“Itu siapa?” bisikku pada Mbak Sari, yang entah bagaimana sudah berdiri di sebelahku.
“Kenzo Wiradinata,” bisiknya balik, tanpa perlu berpikir. “CEO Wiradinata Land. Startup properti. Klien HTA dari tahun lalu. Umur tiga puluh dua. Lulusan Melbourne. Belum nikah. Mobilnya Porsche putih, biasa parkir di basement B2 sebelah pilar tiga.”
“Mbak, kok tahu semua?”
“Mbak tahu semua yang naksir Nadine di gedung ini, Rey. Dia urutan pertama. Paling gigih.”
Aku menatap Kenzo Wiradinata dan jas abu-abunya yang sempurna. Lalu aku menunduk dan menatap kemejaku sendiri. Kemeja putih dari pusat grosir di Tanah Abang, yang kemarin terkena cipratan kuah soto dan sudah kucuci tapi nodanya masih samar di dekat saku.
Di dalam kepalaku, Fikri berbisik: tiga puluh sembilan persen.
Lalu Nadine menoleh dan melihatku.
Ekspresinya tidak banyak berubah. Orang lain mungkin tidak akan menyadarinya. Tapi aku sudah dua tahun mempelajari wajahnya dari jauh, dan aku melihatnya: sudut bibirnya yang terangkat sedikit sekali, dan matanya yang sesaat menjadi lebih terang.
Kenzo mengikuti arah pandangnya dan melihatku juga. Ia memindaiku dari atas ke bawah dalam satu detik, seperti petugas bea cukai yang memeriksa koper murah.
“Oh,” katanya ramah. “Staf Lintasraya, ya? Mau ke dispenser? Silakan, silakan.”
Ia bergeser sedikit untuk memberiku jalan menuju dispenser. Gerakan yang sopan dan murah hati, yang entah bagaimana terasa seperti tamparan.
Aku membuka mulut, tidak yakin apa yang akan kukatakan.
Tapi Nadine sudah bergerak.
Ia meletakkan cangkir kopi hitamnya di meja. Berjalan ke arahku, tiga langkah, heels-nya mengetuk lantai pantry yang tiba-tiba sangat sunyi. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia mengambil gelas kopi susu gula aren dari tanganku.
Ia menatap sedotannya sebentar. Lalu ia meminumnya. Dari sedotan yang sama yang baru saja kupakai.
Seisi pantry berhenti bernapas. Aku tidak melebih-lebihkan. Sepuluh orang dewasa berhenti bernapas bersamaan. Seseorang dari tim keuangan HTA menjatuhkan brosur katering. Dispenser berbunyi blup dan tidak ada yang berani bergerak untuk mematikannya.
Nadine menurunkan gelas itu, menjilat bibir bawahnya pelan, dan menatapku dari bawah bulu matanya.
“Manis,” katanya.
Lalu ia menoleh ke Kenzo, dan wajahnya kembali menjadi wajah Associate Director: tenang, sopan, dan sedingin AC di ruang server.
“Pak Kenzo, rapatnya di ruang tiga. Tim saya sudah siap. Saya menyusul lima menit lagi.”
“Oh.” Kenzo menatap gelas di tangan Nadine, lalu menatapku, lalu kembali ke Nadine. Senyum pasta giginya sedikit goyah. “Oke. Oke. Saya tunggu. Dan soal Jumat...”
“Saya ada acara, Pak.”
“Acara apa?”
Nadine tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum tipis dan sopan yang tidak sampai ke mata. Kenzo mengerti, atau setidaknya pura-pura mengerti, dan keluar dari pantry dengan langkah sedikit lebih cepat dari langkah orang yang benar-benar percaya diri.
Pintu tertutup.
Sepuluh orang di pantry pelan-pelan kembali bernapas. Lalu, seolah ada aba-aba, semuanya buru-buru keluar, berdesakan di pintu, dan aku mendengar mereka langsung mengetik di ponsel sebelum pintu sempat menutup sepenuhnya. Dua puluh tujuh anggota Tim Sukses Lantai 21 akan tahu dalam lima detik. Mungkin sekarang sudah tiga puluh.
Tinggal kami berdua.
Nadine masih memegang gelas kopi susuku.
“Kamu kan minum kopi hitam,” kataku. Itu satu-satunya kalimat yang berhasil dirakit otakku.
“Biasanya.”
“Terus?”
“Hari ini aku lagi pengen yang manis.” Ia menyesap lagi, pelan, matanya tidak lepas dariku. Lalu ia mengembalikan gelas itu ke tanganku, dan jari-jarinya sengaja menyentuh jariku lebih lama dari yang diperlukan. “Habisin, Mas. Jangan dibuang.”
Aku menatap sedotan itu. Sedotan yang sekarang punya jejak tipis lipstik nude kemerahan.
Aku tidak yakin aku sanggup meminumnya. Aku juga tidak yakin aku sanggup membuangnya.
“Dia CEO,” kataku akhirnya.
“Iya.”
“Dia punya Porsche.”
“Putih,” kata Nadine. “Parkirnya di B2, pilar tiga. Dia suka menyebutkan itu kalau ada yang nanya, dan juga kalau nggak ada yang nanya.”
“Dia reservasi restoran Prancis. Chef-nya dari Lyon.”
“Aku nggak suka makanan Prancis. Porsinya kecil, aku keburu lapar di jalan pulang.”
Aku menatapnya. Ia menatapku dengan sabar, seperti guru yang menunggu muridnya sampai sendiri di jawaban yang benar.
Bab dua puluh tiga. Huruf kapital. Aku sudah tahu aku akan melanggarnya lagi.
“Kok mau?” tanyaku. “Sama aku. Kok mau?”
Nadine menghela napas, tapi bibirnya tersenyum.
“Aku kasih petunjuk,” katanya. “Bukan karena kamu ganteng.”
Aku memegang dadaku. “Itu menyakitkan.”
“Kamu ganteng, Mas.” Ia melangkah lebih dekat, mengangkat tangan, dan merapikan helai rambut di belakang kepalaku yang selalu berdiri sendiri. Jarinya menyisir pelan, dan helai itu langsung berdiri lagi begitu ia melepaskannya. Ia tertawa kecil. “Tapi bukan itu alasannya.”
“Terus apa?”
Ia mundur selangkah, mengambil cangkir kopi hitamnya dari meja, dan berjalan ke pintu.
“Rapatku tinggal empat menit,” katanya, lalu menoleh dari ambang pintu. “Dan Mas. Jumat malam aku ada acara.”
“Acara apa?”
“Kencan pertama,” katanya. “Sama orang yang nggak punya Porsche. Dia yang atur semuanya. Aku nggak mau tahu, pokoknya harus bikin kagum.”
Pintu tertutup di belakangnya.
Aku berdiri sendirian di Pantry Bersama dengan segelas kopi susu bersedotan lipstik, jantung yang berdebar seperti mesin fotokopi macet, dan satu kesadaran yang menakutkan.
Aku punya tiga hari untuk merencanakan kencan pertama dengan perempuan yang baru saja menolak chef dari Lyon.
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi spreadsheet.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21 reading
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup