Chapter Eleven
Pintu Kaca Lobby
POV: Rey
Aku terbangun pukul sebelas tepat karena Pak Darto mengetuk kaca pintu Lintasraya dengan senter.
Aku tidak ingat kapan aku tertidur. Yang kuingat terakhir adalah membaca draf prosedur penerimaan barang untuk gudang Singapura, halaman empat puluh tiga, lalu sofa ruang tunggu terlihat sangat empuk. Sekarang leherku kaku, kakiku kesemutan, dan ada sesuatu yang hangat dan wangi di atas dadaku.
Blazer. Blazer krem perempuan, berpotongan tegas, dengan label butik di bagian dalam kerahnya. Wanginya teh putih dan buah ara.
Aku duduk, memegang blazer itu, dan menatapnya lama sekali.
“Mbak Nadine yang titip pesan, Mas,” kata Pak Darto dari balik kaca. “Disuruh bangunin jam sebelas. Disuruh pulang.”
“Dia ke sini?”
“Jam sepuluh, Mas.”
“Bapak lihat dia...” Aku mengangkat blazer itu sedikit.
“Saya cuma satpam, Mas,” kata Pak Darto. Lalu, setelah jeda yang sangat pendek: “Tapi blazernya jangan sampai kusut. Itu mahal.”
Malam itu aku menyetir pulang dengan blazer itu terlipat rapi di kursi penumpang Avanza, dan aku tidak berani menyalakan AC terlalu kencang karena takut wanginya hilang.
Jumat sore, Lantai 21 merayakan ulang tahun bersama.
Ini tradisi yang sudah berjalan sejak sebelum aku bekerja di sini. Setiap Jumat terakhir di bulan itu, HTA dan Lintasraya mengadakan perayaan bersama di Pantry Bersama untuk semua karyawan yang berulang tahun bulan itu. Ada kue, ada nasi kuning, dan ada sesi karaoke yang selalu dimulai dengan sopan lalu berakhir dengan seseorang dari tim keuangan HTA menyanyikan lagu dangdut sambil berdiri di atas kursi.
Biasanya aku datang sebentar, makan sepotong kue, lalu kembali bekerja. Tahun ini Dodi menyeretku ke tengah ruangan dan mendudukkanku di kursi paling depan.
“Kenapa aku di depan?”
“Karena lo selebriti, Rey,” kata Dodi. “Pasangan paling viral Lantai 21. Semua orang mau lihat lo.”
Ia tidak bercanda. Pantry penuh sesak. Mungkin lima puluh orang, berdiri sampai ke lorong. Dan setiap beberapa detik, aku merasakan tatapan yang mendarat di punggungku, lalu bergeser ke pintu, menunggu.
Nadine masuk pukul empat lewat lima belas.
Hari ini ia memakai blazer hitam, karena blazer kremnya, tentu saja, ada di kursi penumpang mobilku. Di dalamnya kemeja sutra berwarna merah anggur yang membuat kulitnya terlihat semakin cerah. Rambutnya disanggul rendah seperti biasa, tapi lebih longgar, dengan beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Ia masuk bersama seorang pria tua berbadan besar dengan kemeja batik dan senyum yang lebar sekali, dan kerumunan otomatis terbelah memberi mereka jalan.
Anak-anak magang Lintasraya berbisik-bisik. Dua orang dari kantor notaris lantai 17, yang entah kenapa ikut datang, menyikut satu sama lain. Seseorang di belakangku berkata pelan, “Itu beneran pacarnya Mas Rey? Yang itu?” dan seseorang lain menjawab, “Gue juga masih nggak percaya, sumpah.”
Aku juga masih tidak percaya. Aku sudah tidak percaya selama tiga minggu.
Nadine melihatku di kursi paling depan, dan senyum kecil yang miring itu muncul di bibirnya. Hanya sedetik, lalu hilang lagi di balik wajah Associate Director-nya. Tapi aku melihatnya. Dan aku tahu ia tahu aku melihatnya.
Pria tua berbatik di sebelahnya berjalan langsung ke arahku, tangan terulur.
“Jadi ini dia!” katanya dengan suara yang menggelegar ke seluruh pantry. “Reyhan! Akhirnya saya ketemu juga!”
“Om Benny,” kata Nadine di belakangnya, dengan nada memperingatkan.
“Saya Benny Hartono. Yang punya nama di pintu kaca itu.” Om Benny menjabat tanganku dengan dua tangan dan mengguncangnya sangat keras. “Kamu tahu, saya sudah kenal anak ini dua tahun lebih. Dua tahun! Dan selama itu dia nggak pernah, sekali pun, terlambat masuk kantor, nggak pernah ambil cuti, nggak pernah senyum di rapat. Terus tiga minggu lalu, tiba-tiba, dia telat lima menit. Lima menit! Gara-gara nunggu lift!”
“Om.”
“Saya tanya, ‘Nadine, kamu sakit?’ Dia bilang, ‘Nggak, Om. Saya nunggu Lift Tiga.’ Ada enam lift di gedung ini, Reyhan! Kenapa harus Lift Tiga?”
Seisi pantry tertawa. Telingaku terbakar. Nadine menutup mata dan menarik napas panjang, seperti orang yang sedang menghitung sampai sepuluh supaya tidak melakukan sesuatu yang akan disesalinya.
“Om,” katanya dengan suara yang sangat tenang dan sangat dingin. “Laporan kuartal tiga Wiradinata Land belum Om tanda tangani.”
Om Benny langsung melepaskan tanganku. “Wah, iya. Saya ambil kue dulu.” Lalu ia berjalan menuju meja kue dengan langkah yang sangat cepat untuk pria seukurannya.
Nadine berdiri di depanku. “Maaf.”
“Kamu telat lima menit gara-gara nunggu aku?”
“Om Benny melebih-lebihkan.”
“Jadi nggak telat?”
Ia menatapku. “Tujuh menit,” katanya pelan. “Bukan lima.”
Sesi karaoke dimulai pukul lima. Seperti biasa, dimulai dengan sopan. Bu Tini, sekretaris Pak Haris, menyanyikan lagu Rossa dengan penuh perasaan. Lalu Tari dari HTA menyanyikan lagu Korea, yang membuat semua anak magang histeris. Lalu, seperti biasa, Pak Yanto dari keuangan HTA berdiri di atas kursi dan menyanyikan dangdut.
Lalu Dodi merebut mikrofon.
“Hadirin sekalian!” katanya. “Sebelum lanjut karaoke, kita punya permintaan khusus. Kita semua penasaran. Gimana sih ceritanya Mas Rey bisa jatuh cinta sama Bu Nadine?”
Lima puluh orang bersorak.
Aku menggeleng keras. Dodi mengabaikanku dan menyodorkan mikrofon ke depan wajahku.
“Ayo, Rey. Kapan pertama kali lihat Bu Nadine?”
Aku menatap mikrofon itu. Lalu menatap Nadine, yang berdiri di dekat jendela dengan secangkir teh. Ia mengangkat alis sedikit, menunggu. Tidak membantu sama sekali.
“Dua tahun lalu,” kataku akhirnya ke mikrofon. Suaraku menggema di pantry. “Di lobby.”
“TERUS?”
“Terus... aku nabrak pintu kaca.”
Seisi pantry meledak tertawa.
“Pintu yang mana, Mas?” teriak seseorang dari belakang.
“Yang sebelah kanan. Yang nggak pernah dibuka.”
“WAH!”
“Aku baru pulang dari Surabaya,” kataku, dan sekarang, karena semua sudah tertawa, aku memutuskan untuk sekalian saja. “Bawa koper. Masih bau bandara. Dan aku lihat dia jalan di lobby sambil baca HP, terus dia ngangkat muka, dan dia lihat ke arahku. Dan aku lupa caranya jalan lurus.”
“Terus? Terus?”
“Terus Pak Darto kasih plester gambar beruang. Dan bilang kacanya nggak apa-apa.”
Tawa makin keras. Mbak Sari mengusap air mata. Fikri tertawa sambil merekam. Om Benny tersedak kue.
Dan di dekat jendela, Nadine menutup mulut dengan tangan, bahunya bergetar, dan ia berkata sesuatu. Pelan, tidak ditujukan ke siapa pun, setengah tertawa. Tapi pantry tiba-tiba hening karena semua orang sedang menarik napas di antara tawa, jadi semua orang mendengarnya.
“Aku lihat,” katanya. “Aku ketawa sampai harus masuk toilet.”
Hening.
Lalu ia sadar apa yang baru saja ia katakan.
Aku melihatnya terjadi. Tangannya turun dari mulut. Matanya melebar sedikit. Ekspresi Associate Director-nya runtuh selama setengah detik, dan untuk sesaat aku melihat wajah perempuan yang baru saja ketahuan.
“Kamu lihat?” kataku ke mikrofon. Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. “Dua tahun lalu? Kamu lihat aku nabrak pintu?”
Nadine menegakkan punggung dan meletakkan cangkir tehnya di meja dengan sangat hati-hati.
“Om Benny,” katanya dengan suara jernih, “tolong Pak Yanto naik kursi lagi.”
“Siap!” teriak Pak Yanto, langsung berdiri di atas kursi tanpa diminta dua kali. Musik dangdut menggelegar, lampu pantry dimatikan setengah oleh seseorang yang terlalu bersemangat, dan perhatian lima puluh orang beralih ke Pak Yanto yang bergoyang dengan mikrofon di tangan.
Ketika aku menoleh ke jendela lagi, Nadine sudah tidak ada di sana.
Aku menemukannya di lobby pukul tujuh malam, setelah pesta selesai dan Pantry Bersama hanya berisi piring-piring kertas dan sisa nasi kuning.
Ia berdiri di depan pintu kaca. Bukan pintu yang benar, yang terbuka otomatis. Pintu sebelah kanan. Yang tidak pernah dibuka sejak gedung ini berdiri.
Lobby hampir kosong. Lampu kristal menyala separuh. Pak Darto di meja keamanannya pura-pura sibuk menatap layar CCTV, tapi aku tahu ia mendengarkan, karena ia selalu mendengarkan.
Aku berjalan mendekat dan berdiri di sebelahnya. Ia tidak menoleh. Ia sedang menatap kaca itu, menatap pantulan dirinya dan pantulanku di sebelahnya, samar di atas gelapnya jalan Rasuna Said di luar.
“Blazermu,” kataku, mengulurkannya. “Makasih. Sudah aku jaga biar nggak kusut.”
Ia menerimanya, menyampirkannya di lengan. “Kamu nggak nyalain AC kencang di mobil, kan?”
“Kok kamu tahu?”
“Karena kamu kamu,” katanya, dan aku mengenali kalimatku sendiri dari Car Free Day.
Kami berdiri diam di depan kaca itu.
“Dua tahun lalu,” kataku pelan. “Kamu lihat aku.”
“Iya.”
“Waktu itu kamu kenal aku?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia mengangkat satu tangan dan meletakkan telapaknya di permukaan kaca. Pelan. Seperti menyentuh sesuatu yang berharga.
“Di sini, kan?” katanya. “Tepat di sini kamu nabrak.”
Aku menatap tangannya di kaca. Tingginya pas, kira-kira setinggi dahiku dua tahun lalu.
“Kamu ingat posisinya?”
“Aku ingat semua tentang hari itu, Mas.” Ia menurunkan tangan, dan meninggalkan jejak samar telapak tangan di kaca yang perlahan memudar. “Kamu bawa koper abu-abu. Kemejamu biru muda, kusut di bagian punggung. Kamu bungkuk minta maaf ke pintu. Ke pintu, Mas. Kamu minta maaf ke benda mati.”
Aku tertawa, malu. “Refleks.”
“Aku tahu,” katanya. Suaranya melembut. “Kamu selalu minta maaf duluan. Ke pintu, ke vendor, ke orang di antrean kasir.”
Aku menoleh dan menatapnya. Ia akhirnya menoleh juga, menatapku dari jarak setengah meter. Di bawah lampu lobby yang kekuningan, wajahnya terlihat lembut dan sedikit lelah, dan ada sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang hampir seperti takut.
“Din,” kataku. “Aku nggak ngerti. Kamu lihat aku dua tahun lalu. Kamu tahu soal Pak RT. Kamu tahu pesanan sotoku. Kamu langganan lele di tempatku. Kamu nunggu Lift Tiga sampai telat tujuh menit.” Aku menelan ludah. “Selama ini aku pikir cuma aku yang lihat kamu. Dari jauh. Diam-diam. Kayak orang bodoh.”
“Kamu bukan orang bodoh.”
“Terus kenapa kamu nggak pernah...”
Aku tidak menyelesaikan kalimat itu, karena ia meraih tanganku.
Ia menggenggamnya dengan kedua tangannya, mengangkatnya sedikit, lalu menempelkannya di permukaan kaca. Tepat di tempat tadi ia meletakkan tangannya sendiri. Kacanya dingin. Tangannya hangat di atas tanganku.
“Karena aku nunggu kamu,” katanya pelan. “Aku nunggu kamu yang duluan.”
“Kenapa?”
Ia menatap tangan kami di kaca, lalu menatapku, dan tersenyum. Senyum yang kecil, miring, dan sedikit sedih.
“Karena kamu orang yang selalu mempersilakan orang lain duluan, Mas,” katanya. “Aku cuma mau tahu, apa ada satu hal di dunia ini yang bikin kamu berani maju duluan.”
Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku tersumbat sesuatu.
Di belakang kami, Pak Darto berdeham sangat keras.
Kami menoleh. Ia sedang menatap layar CCTV dengan sangat serius.
“Mohon maaf, Mas, Mbak,” katanya. “Kacanya nanti ada bekas tangan. Petugas kebersihan baru ngelap tadi sore.”
Nadine tertawa. Tawa yang pecah dan lega, seperti udara yang dilepaskan dari balon. Ia melepaskan tanganku dari kaca, tapi tidak melepaskan genggamannya. Ia menarikku ke pintu yang benar, pintu yang terbuka otomatis, dan kami melangkah keluar ke udara malam Kuningan yang hangat dan berbau aspal.
Di trotoar, ia berhenti dan menoleh ke belakang, ke pintu kaca sebelah kanan, di mana jejak dua tangan kami masih terlihat samar di bawah lampu lobby.
“Pak Darto nggak akan ngelap itu,” katanya.
“Kok kamu yakin?”
“Karena Pak Darto mencatat semuanya,” katanya, lalu menggandeng lenganku dan berjalan ke arah parkiran. “Dan beberapa hal, Mas, lebih baik dibiarkan.”
Malam itu, ketika aku sampai di kamar kos dan membuka buku agenda, aku menulis petunjuk nomor sembilan.
9. Dia lihat aku nabrak pintu, dua tahun lalu. Dia nunggu aku duluan. Selama dua tahun.
Lalu, di bawahnya, aku menulis sesuatu yang bukan petunjuk.
Kenapa aku nggak pernah sadar?
Dan, untuk pertama kalinya, aku tidak hanya bertanya kenapa ia mau.
Aku mulai bertanya, sejak kapan.
- 1 Lima Menit
- 2 Iya, Aku Mau
- 3 Makan Siang Jam Dua Belas
- 4 Lift Nomor Tiga
- 5 Pengumuman Lantai 21
- 6 Kencan Pertama Versi Rey
- 7 Pelukan yang Kepanjangan
- 8 Teka-Teki Nadine
- 9 Pipi Kiri
- 10 Dua Tahun Enam Bulan Lalu
- 11 Pintu Kaca Lobby reading
- 12 Giliran Aku Minta Lima Menit
- 13 Back Hug di Dapur
- 14 Pak Haris dan Mantan Kandidat
- 15 Kecup di Kening
- 16 Operasi Gabungan
- 17 Tangga Darurat Lantai 21
- 18 Jawaban Lengkap
- 19 Daftar Lima Puluh Hari
- 20 Interogasi Pak Hakim
- 21 Kenzo Tidak Tahu Diri
- 22 Ibu dan Pak RT
- 23 Hujan di Basement
- 24 Ciuman yang Tidak Sopan
- 25 Fikri Menghitung Peluang LDR
- 26 Tawaran dari Om Benny
- 27 Dua Rahasia, Satu Lift
- 28 Pesta Perpisahan yang Salah Orang
- 29 Kamu Nggak Jadi Berangkat?
- 30 Diam di Lantai 21
- 31 Bukan Vonis
- 32 Pak Haris Belum Tanda Tangan
- 33 Kontrak dan Roti Sobek
- 34 Vonis Pak Hakim
- 35 H-1 Lantai 21
- 36 Changi
- 37 Epilog: Lima Menit Seumur Hidup